Bab 5: Hari Pertama di Tingkat Paling Bawah

Kamar itu lebih tepat disebut kotak penyimpanan yang kebetulan punya pintu dan jendela saking sempitnya.

Dindingnya dari kayu tua yang sudah lama tidak diperbarui. Lantainya terasa kasar di telapak kaki, penuh dengan lapisan kotoran yang sudah mengeras setelah berbulan-bulan tidak disentuh sapu. Jendela satu-satunya menghadap ke arah gudang penyimpanan, sehingga setiap pagi suara kayu bergesekan dan langkah berat orang berlalu-lalang sudah menjadi pengganti lonceng.

Zhao Fei mengambil kain yang diberikan penanggung jawab murid baru dan mulai bersih-bersih dari sudut paling jauh.

Hebatnya dia tidak mengeluh saat menyapu kotoran ke satu arah, membersihkan satu bidang sebelum pindah ke bidang berikutnya. Dia sendiri membandingkan kamar ini dengan ruang pribadinya di Alam Dewa yang luasnya cukup untuk menampung seratus orang, dihiasi batu giok dan kain sutra pilihan.

Masih lebih baik dari tanah Hutan Terlarang, simpulnya.

Perbandingan itu cukup untuk membuat dia merasa baik-baik saja.

Setelah kamar selesai, daftar tugas sudah menunggu di depan pintu.

Tertulis rapi dengan tinta hitam: aula utama harus dipel sebelum sekte berkegiatan pagi, kayu untuk dapur harus sudah terpotong sebelum waktu makan siang, dan dua ember air harus diantarkan ke pavilion timur sebelum sore.

Zhao Fei melirik daftar itu sekali, lalu melipat kertasnya dan menyimpannya di saku.

Aula utama berukuran besar. Membungkuk selama hampir dua jam sambil mendorong kain pel di atas lantai batu yang panjangnya dua kali lipat ruang perguruannya dulu ternyata memberikan sensasi tersendiri pada punggungnya. Punggung itu tidak terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. Tapi Zhao Fei tidak meluruskan tubuhnya sampai seluruh lantai selesai.

Sedangkan halaman belakang berbau segar dari tumpukan kayu yang sudah dipotong sebagian. Kapak yang disediakan terasa berat di tangan, tapi cukup seimbang untuk dipakai.

Zhao Fei baru mengayunkan kapak beberapa kali ketika suara berisik datang dari samping, diikuti dengan kata seru dan bunyi benda jatuh.

Seorang pemuda dengan tubuh seperti kurang susu itu melompat mundur dengan wajah kaget, setelah serpihan kayu dari ayunannya sendiri hampir mengenai betisnya. Kapaknya terpental dan jatuh ke tanah dengan bunyi nyaring.

"Oh, Astaga!" serunya. Lalu dia melihat ke sekelilingnya dengan cepat, memastikan tidak ada yang menyaksikan kehebohan itu, dan langsung menemukan bahwa ada seseorang yang jelas-jelas sudah menyaksikannya.

Pemuda itu tersenyum lebar seperti tidak ada yang perlu dibuat malu.

"Zhao Fei?" tanyanya dengan nada yang terdengar seperti sudah mengenal Zhao Fei lama. "Kau yang baru masuk kemarin? Aku Zhang Xiaopang. Sudah setahun di sini." Dia mengulurkan tangan, lalu menariknya kembali setelah melihat tangannya penuh serpihan kayu. Dia lap di celana, baru diulurkan lagi sambil meringis. "Selamat datang di tingkat paling bawah."

Zhao Fei menerima uluran tangan itu. "Terima kasih."

"Kau aneh." Xiaopang mengangkat kapaknya dari tanah. "Biasanya orang baru masuk dengan muka yang lebih... sedih, atau marah. Tapi kau kelihatan santai sekali."

"Mengeluh tidak akan mengubah apa pun."

Xiaopang menatapnya sebentar dengan ekspresi tidak yakin, lalu memutuskan bahwa itu jawaban yang cukup masuk akal dan langsung berpindah topik. Dalam waktu yang sangat singkat, dia sudah menjelaskan di mana letak kantin, siapa penanggung jawab yang baik hati dan siapa yang tidak, tugas mana yang paling berat dan bagaimana cara menghindarinya, serta mengapa memotong kayu di sisi kiri halaman lebih mudah dari sisi kanan karena anginnya membantu.

Adapun Zhao Fei mendengarkan semua itu sambil terus memotong kayu. Xiaopang mengingatkannya pada murid-murid junior di Alam Dewa yang selalu bersemangat bercerita meski tidak selalu punya sesuatu yang penting untuk diceritakan. Ada ketulusan di dalam kata-kata yang meluncur cepat itu, sesuatu yang terasa berbeda dari semua interaksi yang dia alami di sekte ini sejak kemarin.

Sore harinya, dua ember air penuh di kedua tangan, Zhao Fei berjalan menuju pavilion timur.

Jarak yang cukup jauh. Talinya seolah memotong telapak tangannya yang sudah melepuh dari pagi. Namun dia tidak memperlambat langkahnya.

Hingga tiga orang muncul di persimpangan jalan sebelum dia sempai. Pakaian mereka lebih rapi dari pakaian murid rendahan, ada lencana perak kecil di dada mereka yang menunjukkan tingkatan. Cara mereka berdiri menghalangi jalan, dengan dada yang sengaja diangkat, sudah mengatakan lebih banyak dari kata-kata.

Xiaopang, yang mengikutinya dari jarak beberapa langkah, menarik lengannya pelan dan berbisik cepat di telinganya, "Itu murid senior dari pavilion barat. Yang paling kiri namanya... ah, aku lupa. Tapi yang tengah yang paling berbahaya. Mereka suka memeras murid baru. Sekedar berpura-pura tidak tahu apa-apa biasanya lebih aman."

Masalahnya Zhao Fei tidak menjawab saat menatap ketiga orang di depannya dengan ekspresi yang sama seperti saat dia menghadap ke lapangan seleksi kemarin. Datar. Tidak menghindar. Tidak juga memancing.

"Murid baru ya?" Yang di tengah melangkah satu langkah ke depan. "Aturan di sini berbeda dengan di luar. Kau harus belajar banyak kalau mau bertahan."

Zhao Fei malah tetap mengunci mulutnya.

"Tidak menjawab? Atau tidak mengerti bahasa manusia?"

Xiaopang di belakangnya menelan ludah.

Sementara Zhao Fei tidak berkedip, tidak menunjukkan rasa gentar, tapi juga tidak menantang.

Ketiga murid senior itu menunggu reaksi yang tidak kunjung datang. Senyuman yang tadinya sinis mulai terlihat kurang nyaman. Mengancam seseorang yang tidak menunjukkan reaksi apa pun terasa seperti berteriak ke dalam sumur.

"Jaga sikapmu, anak baru," kata yang di tengah, lalu berbalik pergi bersama kedua temannya.

Lantas Xiaopang menghela napas panjang. "Kau tidak takut?"

"Tidak terlalu."

"Bagaimana caranya?"

Zhao Fei mulai berjalan lagi ke arah pavilion timur. "Mungkin karena aku pernah menghadapi hal yang jauh lebih menakutkan dari itu."

Xiaopang berlari kecil menyejajarkan langkahnya, menatap Zhao Fei dengan ekspresi yang mencampurkan antara kagum dan penasaran. Tapi dia tidak bertanya lebih jauh. Ada sesuatu di cara Zhao Fei berbicara yang membuat pertanyaan tambahan terasa tidak pada tempatnya.

Malam menjangkau seluruh sekte ketika Zhao Fei akhirnya kembali ke kamarnya.

Punggungnya terasa kaku dari pinggang sampai bahu. Telapak tangannya melepuh di beberapa titik. Kaki-kaki ini tidak terbiasa dengan perjalanan sepanjang hari yang dipenuhi pekerjaan fisik. Tapi Zhao Fei duduk bersila di lantai kamarnya tanpa membaringkan tubuhnya terlebih dahulu karena masih ada satu hal yang harus dilakukan.

Dia menutup matanya. Napasnya diatur perlahan, mengalir masuk dan keluar dengan irama yang sudah menjadi kebiasaannya selama ribuan tahun. Kemudian dia mulai mengarahkan perhatiannya ke dalam, mencari jalur meridian yang seharusnya ada di setiap tubuh yang memiliki potensi kultivasi.

Meridian itu ada. Dia bisa merasakannya. Tapi tertutup rapat, seperti sungai yang tersumbat oleh lapisan tanah yang sudah mengeras selama bertahun-tahun. Setiap kali dia mencoba mendorong qi dari luar untuk membukanya, hasilnya seperti mendorong tembok.

Akhirnya dia mencoba teknik yang berbeda. Mengalirkan kesadaran lebih dalam, menekan dari titik yang berbeda, mengubah sudut pendekatannya.

Sialnya tidak berhasil.

Zhao Fei tidak membuka matanya, dan tetap mengatur ulang napasnya sebelum mencoba lagi dengan metode ketiga, metode yang dulu dia gunakan untuk membantu murid-muridnya di Alam Dewa yang meridiannya terlambat terbuka. Sementara perbedaannya adalah karena dulu dia mendorong dari luar dengan qi-nya sendiri, sekarang dia harus melakukannya dari dalam, tanpa qi yang cukup untuk mendorong apa pun.

Lama kelamaan, sesuatu yang sangat tipis akhirnya bergerak seperti getaran kecil di salah satu titik meridian, layaknya benang yang ditarik sangat pelan dan baru saja mulai memberikan tanggapan. Zhao Fei pun menahan napasnya agar tidak mendorong lebih keras, membiarkan getaran itu tetap ada, merasakannya, mencatat di mana tepatnya.

Di sana, pikirnya. Itu titik yang pertama harus dibuka.

Tubuhnya mulai terasa hangat dari dalam. Sangat lemah, hampir tidak terasa. Untuk tubuh yang meridiannya tertutup selama dua puluh tahun, itu sudah merupakan respons yang berarti.

Kemudian rasa lelah hari itu menagih semua yang tertunda. Zhao Fei membuka matanya dan membaringkan tubuhnya di lantai kamar yang sudah lebih bersih dari pagi tadi. Langit-langit kayu di atasnya gelap dan polos. Tiada bintang, tiada bulan, tiada apa pun yang indah untuk dipandang.

Ini akan memakan waktu, pikirnya. Tapi setidaknya aku sudah tahu di mana pintunya.

Matanya terpejam.

Besok akan kucoba lagi.

Terpopuler

Comments

Dhika Ahmad

Dhika Ahmad

kurang iklan nih novel , padahal sangat bagus.

2026-08-17

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Ajal di Puncak Kejayaan
2 Bab 2: Banjir Memori dan Janji Seorang Dewa
3 Bab 3: Menuju Sekte Garuda Putih
4 Bab 4: Ujian Kedua
5 Bab 5: Hari Pertama di Tingkat Paling Bawah
6 Bab 6: Perpustakaan dan Keputusan
7 Bab 7: Mengambil Tugas Berat
8 Bab 8: Tabib Wen
9 Bab 9: Jurus Tabib Seribu Rahasia
10 Bab 10: Panggilan Tetua dan Sebuah Kejutan
11 Bab 11: Keraguan
12 Bab 12: Teguran Seorang Ibu
13 Bab 13: Misteri Cincin
14 Bab 14: Pedang yang Kembali
15 Bab 15: Tabib Dadakan
16 Bab 16: Malu Di Bawah Rembulan
17 Bab 17: Kejutan di Tengah Kecanggungan
18 Bab 18: Para Pencari Masalah
19 Bab 19: Satu Lawan Tiga
20 Bab 20: Penjelajah Dua Alam
21 Bab 21: Kembalinya Keseimbangan
22 Bab 22: Kembali ke Sekte
23 Bab 23: Divisi Legendaris
24 Bab 24: Sungai Naga Hijau
25 Bab 25: Di Balik Air Terjun Atau?
26 Bab 26: Tiga Penjaga Perbatasan
27 Bab 27: Komando Sekte Naga Hitam
28 Bab 28: Pesan Darurat dari Alam Dewa
29 Bab 29: Ratu di Alam Dewa
30 Bab 30: Pil
31 Bab 31: Keraguan di Tengah Malam
32 Bab 32: Terjebak di Masa Lalu
33 Bab 33: Kebangkitan di Domain Mimpi
34 Bab 34: Salah Tangkap
35 Bab 35: Tawaran di Alam Dewa
36 Bab 36: Utusan Siapa? Salah Siapa?
37 Bab 37: Dua Api
38 Bab 38: Kembalinya Diriku
39 Bab 39: Menuju Puncak
40 Bab 40: Jejak Naga
41 Bab 41: Kamar yang Sama
42 Bab 42: Tak Terlihat, Tapi Cinta
43 Bab 43: Naga Giok Biru
44 Bab 44: Kombinasi Baru
45 Bab 45: Tiga di Perbatasan
46 Bab 46: Terobosan Dengan Inti
47 Bab 47: Domain Itu Lagi
48 Bab 48: Tameng Terakhir
49 Bab 49: Gerbang Terakhir
50 Bab 50: Danau Haitian
51 Bab 51: Pemberi Kabar
52 Bab 52: Guci Giok
53 Bab 53: Luka Lama dan Perban Masa Lalu
54 Bab 54: Matahari Terbit di Alam Dewa
55 Bab 55: Kejutan Maut
56 Bab 56: Makhluk Baru, Musuh Baru
57 Bab 57: Tuan Huang dan Namir Jazi
58 Bab 58: Kolam Terlarang
59 Bab 59 : Kau Bukan Kekasihku, Tapi Aku Peduli Denganmu
60 Bab 60: Kebangkitan atau Kemunduran?
61 Bab 61: Kau Memang Peduli, Tapi Jangan Bodoh
62 Bab 62: Lari atau Mati
63 Bab 63: Keterlambatan yang Masuk Akal
64 Bab 64: Latihan dan Kabar Baik
65 Bab 65: Selir yang Setia
66 Bab 66: Xiao Ling
67 Bab 67: Semua Milik Zhao Fei?
68 Bab 68: Tragedi Long Dian
69 Bab 69: Puncak Awan dan Kecemasan Seorang Selir
70 Bab 70: Keputusan di Perbatasan
71 Bab 71: Di Balik Benteng
72 Bab 72: Orang Yang Dijanjikan
73 Bab 73: Membangun Kebencian
74 Bab 74: Topeng Palsu Klan Zhao
75 Bab 75: Jebolnya Bendungan Hati
76 Bab 76: Kembalinya Pawang Singa Betina
77 Bab 77: Ujian di Keluarga Sendiri
78 Bab 78: Pembuktian di Arena Bawah Tanah
79 Bab 79: Tahun Penantian
80 Bab 80: Naga di Gerbang, Petir yang Merunduk
81 Bab 81: Meja Bundar dan Kain Perca
82 Bab 82: Lamaran yang Tak Bisa Menunggu
83 Bab 83: Tuduhan Baru, Jalan Baru
84 Bab 84: Rumah di Puncak Tebing
85 Bab 85: Bisikan di Kegelapan
86 Bab 86: Kebusukan yang Terkoyak
87 Bab 87: Tamparan, Pisau, dan Sehelai Sayap Putih
88 Bab 88 : Panah Terakhir
89 Bab 89: Segel Terakhir
90 Bab 90: Pagi Setelah Prahara
91 Bab 91: Percikan Pertama
92 Bab 92: Sisa Terakhir Klan Li
93 Bab 93: Neraka yang Padam
94 Bab 94: Dongeng yang Ditulis dengan Darah
95 Bab 95: Jauh di Mata, Dekat di Hati
96 Bab 96: Jangkar yang Hilang
97 Bab 97: Iring-iringan di Tepi Tebing
98 Bab 98: Cermin Kematian
99 Bab 99: Cincin Kedua
100 Bab 100: Babak yang Baru
101 Bab 101: Silsilah yang Terkubur
102 Bab 102: Cermin yang Tidak Memantulkan Apa Pun
103 Bab 103: Tunggangan dan Luka Lama
104 Bab 104: Tipuan di Atas Air
105 Bab 105: Kembali ke Gunung Cemara
106 Bab 106: Catatan Takdir
107 Bab 107: Yin dan Yang
108 Bab 108: Tugas adalah Tugas
109 Bab 109: Tidak Ada Lagi yang Namanya Nanti
110 Bab 110: Guzheng di Tepi Tebing
111 Bab 111: Lompatan Iman
112 Bab 112: Naga Penelan Langit dan Cermin yang Menyala
113 Bab 113: Api Pembalasan
114 Bab 114: Hantu di Kandang Singa
115 Bab 115: Tawaran dan Darah
116 Bab 116: Serigala yang Terkhianati
117 Bab 117: Angin dari Timur
118 Bab 118: Hujan Penghibur Jiwa
119 Bab 119: Serigala di Kegelapan
120 Bab 120: Pulang dengan Selamat
121 Bab 121: Buah Tangan atau Dendam?
122 Bab 122: Jembatan Yin-Yang
123 Bab 123: Toko Sejarawan
124 Bab 124: Koin Roh
125 Bab 125: Segel dan Kecurigaan
126 Bab 126: Kepala yang Menggelinding
127 Bab 127: Kebenaran di Bawah Hujan
128 Bab 128: Yang Menunggu dan Yang Terlambat
129 Bab 129: Usai Gerimis
130 Bab 130: Lampion dan Bunga Kematian
131 Bab 131: Ombak Bunga Kematian
132 Bab 132: Tarian Penyesalan
133 Bab 133: Tragedi di Ladang Bunga
134 Bab 134: Langit Mendung
135 Bab 135: Klan yang Menyerahkan Diri
136 Bab 136: Rahasia yang Terbongkar
137 Bab 137: Ratu Cermin Petir Abadi
138 Bab 138: Kejujuran di Bawah Cahaya Lilin
139 Bab 139: Dari Tebing Kosong
140 Bab 140: Janji di Bawah Sakura
141 Bab 141: Singgasana Perkenalan
142 Bab 142: Domainku, Domain Kegelapan
143 Bab 143: Ilusi Berduri
144 Bab 144: Pembebasan Saudara Beda Kasta
145 Bab 145: Pengorbanan di Altar Kegelapan
146 Bab 146: Apa Itu Keluarga?
147 Bab 147: Lautan Kerangka
148 Bab 148: Dua Ambisi Satu Ending
149 Bab 149: Pedang Jeongyun
150 Bab 150: Aura yang Berbeda
151 Bab 151: Perguruan Bulan Darah
152 Bab 152 : Menuju Bulan Darah
153 Bab 153: Bisikan yang Terungkap
154 Bab 154: Konsolidasi
155 Bab 155: Mata yang Mengawasi
156 Bab 156: Bukan Senior
157 Bab 157: Jarak dan Keyakinan
158 Bab 158: Kejutan
159 Bab 159: Perkembangan Cermin Takdir
160 Bab 160: Diizinkan Hidup
161 Bab 161: Negosiator
162 Bab 162: Sebelum Api Membakar Semuanya
163 Bab 163: Yue Rong dan Masa Lalu
164 Bab 164: Pedang Phoenix
165 Bab 165: Rencana di Atas Rencana
166 Bab 166: Zhao Fei tetaplah Zhao Fei
167 Bab 167: Perang Telah Dimulai
168 Bab 168: Pertemuan di Antara Dua Kekuatan
169 Bab 169: Di Kandang Harimau
170 Bab 170: Kalah Jumlah
171 Bab 171: Pentingnya Pengorbanan
172 Bab 172: Hujan Petir Penghabisan
173 Bab 173: Transformasi dan Pengkhianatan
174 Bab 174: Di Tengah Kekacauan
175 Bab 175: Feng
176 Bab 176: Kehidupan Setelah Badai
177 Bab 177: Yang Paling Spesial
178 Bab 178: Kontras Dua Keluarga
179 Bab 179: Perjalanan Demi Sang Putri
180 Bab 180: Mencari Petunjuk dari Pedagang
181 Bab 181: Klan Tang
182 Bab 182: Duel Bambu
183 Bab 183: Perjalanan Penuh Tanggung Jawab
Episodes

Updated 183 Episodes

1
Bab 1: Ajal di Puncak Kejayaan
2
Bab 2: Banjir Memori dan Janji Seorang Dewa
3
Bab 3: Menuju Sekte Garuda Putih
4
Bab 4: Ujian Kedua
5
Bab 5: Hari Pertama di Tingkat Paling Bawah
6
Bab 6: Perpustakaan dan Keputusan
7
Bab 7: Mengambil Tugas Berat
8
Bab 8: Tabib Wen
9
Bab 9: Jurus Tabib Seribu Rahasia
10
Bab 10: Panggilan Tetua dan Sebuah Kejutan
11
Bab 11: Keraguan
12
Bab 12: Teguran Seorang Ibu
13
Bab 13: Misteri Cincin
14
Bab 14: Pedang yang Kembali
15
Bab 15: Tabib Dadakan
16
Bab 16: Malu Di Bawah Rembulan
17
Bab 17: Kejutan di Tengah Kecanggungan
18
Bab 18: Para Pencari Masalah
19
Bab 19: Satu Lawan Tiga
20
Bab 20: Penjelajah Dua Alam
21
Bab 21: Kembalinya Keseimbangan
22
Bab 22: Kembali ke Sekte
23
Bab 23: Divisi Legendaris
24
Bab 24: Sungai Naga Hijau
25
Bab 25: Di Balik Air Terjun Atau?
26
Bab 26: Tiga Penjaga Perbatasan
27
Bab 27: Komando Sekte Naga Hitam
28
Bab 28: Pesan Darurat dari Alam Dewa
29
Bab 29: Ratu di Alam Dewa
30
Bab 30: Pil
31
Bab 31: Keraguan di Tengah Malam
32
Bab 32: Terjebak di Masa Lalu
33
Bab 33: Kebangkitan di Domain Mimpi
34
Bab 34: Salah Tangkap
35
Bab 35: Tawaran di Alam Dewa
36
Bab 36: Utusan Siapa? Salah Siapa?
37
Bab 37: Dua Api
38
Bab 38: Kembalinya Diriku
39
Bab 39: Menuju Puncak
40
Bab 40: Jejak Naga
41
Bab 41: Kamar yang Sama
42
Bab 42: Tak Terlihat, Tapi Cinta
43
Bab 43: Naga Giok Biru
44
Bab 44: Kombinasi Baru
45
Bab 45: Tiga di Perbatasan
46
Bab 46: Terobosan Dengan Inti
47
Bab 47: Domain Itu Lagi
48
Bab 48: Tameng Terakhir
49
Bab 49: Gerbang Terakhir
50
Bab 50: Danau Haitian
51
Bab 51: Pemberi Kabar
52
Bab 52: Guci Giok
53
Bab 53: Luka Lama dan Perban Masa Lalu
54
Bab 54: Matahari Terbit di Alam Dewa
55
Bab 55: Kejutan Maut
56
Bab 56: Makhluk Baru, Musuh Baru
57
Bab 57: Tuan Huang dan Namir Jazi
58
Bab 58: Kolam Terlarang
59
Bab 59 : Kau Bukan Kekasihku, Tapi Aku Peduli Denganmu
60
Bab 60: Kebangkitan atau Kemunduran?
61
Bab 61: Kau Memang Peduli, Tapi Jangan Bodoh
62
Bab 62: Lari atau Mati
63
Bab 63: Keterlambatan yang Masuk Akal
64
Bab 64: Latihan dan Kabar Baik
65
Bab 65: Selir yang Setia
66
Bab 66: Xiao Ling
67
Bab 67: Semua Milik Zhao Fei?
68
Bab 68: Tragedi Long Dian
69
Bab 69: Puncak Awan dan Kecemasan Seorang Selir
70
Bab 70: Keputusan di Perbatasan
71
Bab 71: Di Balik Benteng
72
Bab 72: Orang Yang Dijanjikan
73
Bab 73: Membangun Kebencian
74
Bab 74: Topeng Palsu Klan Zhao
75
Bab 75: Jebolnya Bendungan Hati
76
Bab 76: Kembalinya Pawang Singa Betina
77
Bab 77: Ujian di Keluarga Sendiri
78
Bab 78: Pembuktian di Arena Bawah Tanah
79
Bab 79: Tahun Penantian
80
Bab 80: Naga di Gerbang, Petir yang Merunduk
81
Bab 81: Meja Bundar dan Kain Perca
82
Bab 82: Lamaran yang Tak Bisa Menunggu
83
Bab 83: Tuduhan Baru, Jalan Baru
84
Bab 84: Rumah di Puncak Tebing
85
Bab 85: Bisikan di Kegelapan
86
Bab 86: Kebusukan yang Terkoyak
87
Bab 87: Tamparan, Pisau, dan Sehelai Sayap Putih
88
Bab 88 : Panah Terakhir
89
Bab 89: Segel Terakhir
90
Bab 90: Pagi Setelah Prahara
91
Bab 91: Percikan Pertama
92
Bab 92: Sisa Terakhir Klan Li
93
Bab 93: Neraka yang Padam
94
Bab 94: Dongeng yang Ditulis dengan Darah
95
Bab 95: Jauh di Mata, Dekat di Hati
96
Bab 96: Jangkar yang Hilang
97
Bab 97: Iring-iringan di Tepi Tebing
98
Bab 98: Cermin Kematian
99
Bab 99: Cincin Kedua
100
Bab 100: Babak yang Baru
101
Bab 101: Silsilah yang Terkubur
102
Bab 102: Cermin yang Tidak Memantulkan Apa Pun
103
Bab 103: Tunggangan dan Luka Lama
104
Bab 104: Tipuan di Atas Air
105
Bab 105: Kembali ke Gunung Cemara
106
Bab 106: Catatan Takdir
107
Bab 107: Yin dan Yang
108
Bab 108: Tugas adalah Tugas
109
Bab 109: Tidak Ada Lagi yang Namanya Nanti
110
Bab 110: Guzheng di Tepi Tebing
111
Bab 111: Lompatan Iman
112
Bab 112: Naga Penelan Langit dan Cermin yang Menyala
113
Bab 113: Api Pembalasan
114
Bab 114: Hantu di Kandang Singa
115
Bab 115: Tawaran dan Darah
116
Bab 116: Serigala yang Terkhianati
117
Bab 117: Angin dari Timur
118
Bab 118: Hujan Penghibur Jiwa
119
Bab 119: Serigala di Kegelapan
120
Bab 120: Pulang dengan Selamat
121
Bab 121: Buah Tangan atau Dendam?
122
Bab 122: Jembatan Yin-Yang
123
Bab 123: Toko Sejarawan
124
Bab 124: Koin Roh
125
Bab 125: Segel dan Kecurigaan
126
Bab 126: Kepala yang Menggelinding
127
Bab 127: Kebenaran di Bawah Hujan
128
Bab 128: Yang Menunggu dan Yang Terlambat
129
Bab 129: Usai Gerimis
130
Bab 130: Lampion dan Bunga Kematian
131
Bab 131: Ombak Bunga Kematian
132
Bab 132: Tarian Penyesalan
133
Bab 133: Tragedi di Ladang Bunga
134
Bab 134: Langit Mendung
135
Bab 135: Klan yang Menyerahkan Diri
136
Bab 136: Rahasia yang Terbongkar
137
Bab 137: Ratu Cermin Petir Abadi
138
Bab 138: Kejujuran di Bawah Cahaya Lilin
139
Bab 139: Dari Tebing Kosong
140
Bab 140: Janji di Bawah Sakura
141
Bab 141: Singgasana Perkenalan
142
Bab 142: Domainku, Domain Kegelapan
143
Bab 143: Ilusi Berduri
144
Bab 144: Pembebasan Saudara Beda Kasta
145
Bab 145: Pengorbanan di Altar Kegelapan
146
Bab 146: Apa Itu Keluarga?
147
Bab 147: Lautan Kerangka
148
Bab 148: Dua Ambisi Satu Ending
149
Bab 149: Pedang Jeongyun
150
Bab 150: Aura yang Berbeda
151
Bab 151: Perguruan Bulan Darah
152
Bab 152 : Menuju Bulan Darah
153
Bab 153: Bisikan yang Terungkap
154
Bab 154: Konsolidasi
155
Bab 155: Mata yang Mengawasi
156
Bab 156: Bukan Senior
157
Bab 157: Jarak dan Keyakinan
158
Bab 158: Kejutan
159
Bab 159: Perkembangan Cermin Takdir
160
Bab 160: Diizinkan Hidup
161
Bab 161: Negosiator
162
Bab 162: Sebelum Api Membakar Semuanya
163
Bab 163: Yue Rong dan Masa Lalu
164
Bab 164: Pedang Phoenix
165
Bab 165: Rencana di Atas Rencana
166
Bab 166: Zhao Fei tetaplah Zhao Fei
167
Bab 167: Perang Telah Dimulai
168
Bab 168: Pertemuan di Antara Dua Kekuatan
169
Bab 169: Di Kandang Harimau
170
Bab 170: Kalah Jumlah
171
Bab 171: Pentingnya Pengorbanan
172
Bab 172: Hujan Petir Penghabisan
173
Bab 173: Transformasi dan Pengkhianatan
174
Bab 174: Di Tengah Kekacauan
175
Bab 175: Feng
176
Bab 176: Kehidupan Setelah Badai
177
Bab 177: Yang Paling Spesial
178
Bab 178: Kontras Dua Keluarga
179
Bab 179: Perjalanan Demi Sang Putri
180
Bab 180: Mencari Petunjuk dari Pedagang
181
Bab 181: Klan Tang
182
Bab 182: Duel Bambu
183
Bab 183: Perjalanan Penuh Tanggung Jawab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!