Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Bab 1: Ajal di Puncak Kejayaan

Di antara ribuan dewa dan dewi yang menghuni Alam Dewa, ada satu nama yang tidak pernah diucapkan sembarangan. Tapi sayangnya itu bukanlah karena tabu, melainkan karena rasa hormat yang terlalu dalam untuk diungkapkan dengan nada biasa. Nama itu adalah Zhao Fei, Yang Mulia Petir Abadi.

Selama sepuluh ribu tahun, langit Alam Dewa menjadi miliknya. Petir biru yang memancar dari telapak tangannya mampu membelah awan sejauh mata memandang, menghancurkan benteng dalam satu denyutan. Ketika dia berjalan melewati aula besar perguruan, para murid yang berjumlah ratusan itu kompak menunduk, dan ketika namanya disebut dalam pertemuan para dewa, tidak ada yang berani merespons dengan nada datar. Bahkan dewa-dewi yang usianya hampir setara pun memilih memperhalus suara mereka.

Perguruan yang dia pimpin adalah yang terbesar. Ratusan murid tingkat atas menganggapnya langit kedua mereka. Ratusan selir yang tinggal di pavilion timur tak pernah berhenti bersyukur atas nasib mereka. Hidupnya, dari sudut pandang siapa pun, adalah kesempurnaan yang tidak perlu ditambah apa-apa lagi.

Kendati demikian, dari semua yang ada di sekelilingnya, hanya satu yang benar-benar dia percaya, dan namanya adalah Li Tianming.

Murid itu datang ketika masih kecil, hampir tak punya apa-apa. Zhao Fei yang membesarkannya, membimbingnya, mengajarkan setiap teknik kultivasi yang dimilikinya. Selama ribuan tahun, Li Tianming tumbuh menjadi murid paling berbakat dan paling setia yang pernah ada. Jika Zhao Fei adalah langit, maka Li Tianming adalah bintang yang paling dekat dengannya, yang selalu ada setiap kali matanya memandang ke atas.

Hari itu tidak ada yang istimewa.

Zhao Fei sedang duduk bersila di ruang pribadinya, tenggelam dalam kultivasi sore yang sudah menjadi rutinitas sejak berabad-abad lalu. Tidak ada pertempuran, ancaman, atau firasat apa pun yang mengganggu ketenangan pikirannya. Angin di luar jendela bertiup seperti biasa. Suara gemerisik daun bambu di taman terdengar seperti bisikan yang menenangkan.

Li Tianming masuk tanpa mengetuk pintu, seperti yang selalu dia lakukan karena memang sudah diberi izin bertahun-tahun lalu. Zhao Fei tidak membuka matanya saat berkata dengan tenang, "Duduk saja dulu. Aku hampir selesai."

Meski tidak ada jawaban, Zhao Fei tetap menganggap itu hal biasa. Li Tianming memang bukan orang yang banyak bicara.

Sampai sesuatu yang dingin menembus punggungnya.

Rasa sakitnya bukan seperti ditusuk benda biasa. Rasanya seperti ribuan serpihan es yang menerobos masuk ke dalam rongga dadanya sekaligus, menghancurkan apa pun yang mereka sentuh. Zhao Fei membuka matanya untuk menatap ke depan, ke arah dinding ruangan yang tiba-tiba tampak asing, seolah baru pertama kali dia melihatnya.

Perlahan, dia menoleh ke belakang.

Li Tianming berdiri di sana dengan ekspresi hampa. Sementara belati di tangannya masih menancap kuat.

"Ke-kenapa?" Suara Zhao Fei keluar lebih pelan dari yang dia inginkan.

Lalu Li Tianming menarik belatinya. Darah mengalir. Matanya menatap gurunya dengan sesuatu yang menyerupai permohonan, tapi tanpa air mata.

"Maafkan aku, Guru."

Hanya itu. Dua kata. Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan. Seperti seseorang yang menutup buku setelah selesai membacanya, dingin dan tuntas.

Akhirnya Zhao Fei tumbang. Sepuluh ribu tahun berkultivasi, sepuluh ribu tahun berdiri di puncak, berakhir di sini. Di ruang pribadinya sendiri. Di tangan murid yang paling dia sayangi.

Kegelapan pun menyambutnya tanpa ada langit, bumi, tanpa adanya arah, selain genangan air tipis di bawah kakinya yang terasa nyata, memantulkan tidak ada apa pun. Zhao Fei berdiri di sana dengan napas yang entah masih ada entah tidak.

Lalu sebuah suara hadir dari mana-mana sekaligus, seperti udara yang tiba-tiba memutuskan untuk berbicara.

"Zhao Fei. Yang Mulia Petir Abadi."

Zhao Fei tidak menjawab segera. Dia menatap kegelapan di hadapannya dengan ekspresi yang selalu menjadi cirinya, tenang seperti danau sebelum badai yang tidak pernah benar-benar datang. "Apa yang terjadi padaku?"

"Hukum karma tidak buta," kata suara itu. "Pengkhianatan telah terjadi. Hutang darah telah tercatat. Kau mati dalam kondisi yang tidak sewajarnya."

"Lalu… apa maksudnya semua itu?"

"Maka kau diberi pilihan. Bukan karena kau layak dikasihani, melainkan karena keseimbangan menghendakinya." Suara itu berhenti beberapa hitungan jari. "Ada tubuh di dunia bawah. Seorang pemuda bernama Zhao Fei juga. Dia akan mati malam ini, dan rohmu bisa mengisinya."

Zhao Fei memejamkan matanya sebentar. "Bagaimana jika aku menolak?"

"Kau lenyap selamanya. Bahkan namamu tidak akan tersisa."

Tidak ada nada ancaman dalam kalimat itu selain pernyataan polos. Tapi justru karena itulah Zhao Fei tahu bahwa suara ini tidak sedang berbohong.

"Aku tidak punya pilihan lain," katanya setelah menimbang-nimbang. "Tidak."

Zhao Fei menghela napas. Sepuluh ribu tahun hidup telah mengajarinya satu hal, bahwa ada saatnya bertahan bukan berarti menang, melainkan hanya memastikan kau masih ada untuk bertarung di hari berikutnya.

"Baiklah kalau begitu."

Kesadarannya mulai pudar. Tapi sebelum sepenuhnya lenyap, suara itu menyampaikan satu kalimat terakhir yang terdengar seperti gema dari kedalaman yang tak terhingga.

"Jangan sia-siakan kesempatan ini."

Di pinggiran wilayah Klan Zhao, hidup seorang pemuda yang namanya hanya disebut orang-orang ketika ingin mencibir.

Zhao Fei berusia dua puluh tahun, tidak punya bakat kultivasi, tidak punya uang, tidak punya wajah yang membuat orang berpaling dua kali. Dia tumbuh besar di antara saudara-saudaranya yang menikah lebih dulu, sementara dia hanya bisa duduk di sudut pesta pernikahan mereka sambil mencoba sekeras mungkin agar tidak terlihat. Bahkan janda termiskin di kampung pun pernah menolaknya dengan alasan yang cukup untuk membuatnya tidak tidur seminggu.

Satu-satunya yang tidak memperlakukannya seperti sampah adalah ibunya yang bernama Ming Lianhua. Wanita empat puluh tujuh tahun yang sudah lama sakit-sakitan itu selalu menyiapkan nasi untuknya meski tubuhnya sendiri sering tidak kuat berdiri lama.

Ketika Ming Lianhua jatuh sakit lebih parah dari biasanya, Zhao Kun dan Zhao Jie datang menemui adik bungsu mereka dengan senyuman yang tidak pernah terlihat ramah.

"Sudah saatnya kau berguna untuk keluarga ini," kata Zhao Kun, menyerahkan selembar peta dengan tampilan seperti orang yang sedang beramal. "Di Hutan Terlarang ada bunga yang bisa menyembuhkan ibu. Lokasinya sudah kami tandai di kertas itu."

Zhao Jie menambahkan dengan nada yang terdengar tulus tapi terasa seperti menampar, "Masa iya kau mau biarkan ibu terus menderita?"

Zhao Fei yang bodoh dan polos itu mengambil peta tersebut tanpa curiga. Ditatapnya nama-nama tempat yang tertulis di sana. Lalu dia berangkat, karena baginya, tidak ada alasan lain yang lebih besar dari kesembuhan ibunya.

Tanpa sekalipun berpikiran jika peta itu palsu.

Di dalam Hutan Terlarang, tidak ada bunga. Yang ada hanya pohon-pohon gelap yang rapatnya seperti tembok penjara, dan aroma tanah basah yang menempel di setiap Langkah itu membuat dirinya tersesat dalam hitungan jam. Langkah kakinya makin berat, makin tidak yakin.

Hingga kemudian datanglah seekor makhluk rendahan yang bahkan tidak punya nama khusus di dalam naskah kultivasi mana pun. Tapi cukup untuk mengakhiri hidup seorang pemuda yang tidak punya pertahanan apa pun. Cakar beruang berkulit batu itu menembus dada Zhao Fei dengan mudah, seperti menembus kertas.

Zhao Fei jatuh ke tanah, diikuti darah yang mengalir hangat di bawah punggungnya. Sementara langit di atas Hutan Terlarang terlihat jauh sekali, saat napasnya makin pendek.

"Ibu… maafkan aku," bisiknya kepada langit yang tidak menjawab. "Anakmu telah gagal."

Matanya terpejam.

Tepat pada saat jantungnya berhenti, sesuatu menyambar dari langit.

Cahaya petir emas yang tidak seharusnya ada di tempat ini, tidak ada awan, apalagi hujan, turun lurus menghantam tubuh yang sudah tak bernyawa itu.

Kemudian mata Zhao Fei terbelalak.

Tapi bukan mata pemuda bodoh yang dulu. Yang ada di dalam mata itu sekarang adalah kedalaman sepuluh ribu tahun, ketenangan seorang dewa yang sudah melihat terlalu banyak untuk merasa takut pada hal-hal kecil.

Dadanya berlubang. Tubuh ini sakit luar biasa, seperti mengenakan baju yang tiga ukuran terlalu kecil. Tapi dia masih hidup.

Zhao Fei memandang tangannya sendiri dengan perasaan asing yang aneh. Kurus. Kotor. Penuh luka. Tangan seorang pemuda miskin yang tidak pernah menyentuh teknik kultivasi apa pun, alih-alih tangan dewa.

Jadi ini dunia bawah. Pikirannya bekerja untuk menyesuaikan diri. Dan tubuh ini rupanya baru saja mati.

Monster di depannya masih berdiri, bingung melihat mangsanya bangkit.

Zhao Fei menatap makhluk itu dengan tatapan datar. Lalu dia mengepalkan tangan kanannya. Kekuatannya tidak ada seperempat dari yang dulu. Bahkan seperseribu pun belum tentu. Tapi di ujung jarinya, petir biru menyala, berkedip seperti nyala lilin di tengah angin dan meledakkan binatang buas itu dalam satu kali serangan.

"Aku tidak tahu di mana aku berada," katanya kepada dirinya sendiri, suaranya serak karena tubuh ini belum terbiasa dengan penghuninya yang baru. "Aku tidak tahu apa yang menanti. Tapi satu hal yang sudah pasti..."

Petir di ujung jarinya makin terang.

"...aku tidak akan mati untuk kedua kali."

Terpopuler

Comments

🔴༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐

🔴༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐

Awal cerita sudah bagus 👍

2026-07-08

2

𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠

𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠

maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏

2026-06-03

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Ajal di Puncak Kejayaan
2 Bab 2: Banjir Memori dan Janji Seorang Dewa
3 Bab 3: Menuju Sekte Garuda Putih
4 Bab 4: Ujian Kedua
5 Bab 5: Hari Pertama di Tingkat Paling Bawah
6 Bab 6: Perpustakaan dan Keputusan
7 Bab 7: Mengambil Tugas Berat
8 Bab 8: Tabib Wen
9 Bab 9: Jurus Tabib Seribu Rahasia
10 Bab 10: Panggilan Tetua dan Sebuah Kejutan
11 Bab 11: Keraguan
12 Bab 12: Teguran Seorang Ibu
13 Bab 13: Misteri Cincin
14 Bab 14: Pedang yang Kembali
15 Bab 15: Tabib Dadakan
16 Bab 16: Malu Di Bawah Rembulan
17 Bab 17: Kejutan di Tengah Kecanggungan
18 Bab 18: Para Pencari Masalah
19 Bab 19: Satu Lawan Tiga
20 Bab 20: Penjelajah Dua Alam
21 Bab 21: Kembalinya Keseimbangan
22 Bab 22: Kembali ke Sekte
23 Bab 23: Divisi Legendaris
24 Bab 24: Sungai Naga Hijau
25 Bab 25: Di Balik Air Terjun Atau?
26 Bab 26: Tiga Penjaga Perbatasan
27 Bab 27: Komando Sekte Naga Hitam
28 Bab 28: Pesan Darurat dari Alam Dewa
29 Bab 29: Ratu di Alam Dewa
30 Bab 30: Pil
31 Bab 31: Keraguan di Tengah Malam
32 Bab 32: Terjebak di Masa Lalu
33 Bab 33: Kebangkitan di Domain Mimpi
34 Bab 34: Salah Tangkap
35 Bab 35: Tawaran di Alam Dewa
36 Bab 36: Utusan Siapa? Salah Siapa?
37 Bab 37: Dua Api
38 Bab 38: Kembalinya Diriku
39 Bab 39: Menuju Puncak
40 Bab 40: Jejak Naga
41 Bab 41: Kamar yang Sama
42 Bab 42: Tak Terlihat, Tapi Cinta
43 Bab 43: Naga Giok Biru
44 Bab 44: Kombinasi Baru
45 Bab 45: Tiga di Perbatasan
46 Bab 46: Terobosan Dengan Inti
47 Bab 47: Domain Itu Lagi
48 Bab 48: Tameng Terakhir
49 Bab 49: Gerbang Terakhir
50 Bab 50: Danau Haitian
51 Bab 51: Pemberi Kabar
52 Bab 52: Guci Giok
53 Bab 53: Luka Lama dan Perban Masa Lalu
54 Bab 54: Matahari Terbit di Alam Dewa
55 Bab 55: Kejutan Maut
56 Bab 56: Makhluk Baru, Musuh Baru
57 Bab 57: Tuan Huang dan Namir Jazi
58 Bab 58: Kolam Terlarang
59 Bab 59 : Kau Bukan Kekasihku, Tapi Aku Peduli Denganmu
60 Bab 60: Kebangkitan atau Kemunduran?
61 Bab 61: Kau Memang Peduli, Tapi Jangan Bodoh
62 Bab 62: Lari atau Mati
63 Bab 63: Keterlambatan yang Masuk Akal
64 Bab 64: Latihan dan Kabar Baik
65 Bab 65: Selir yang Setia
66 Bab 66: Xiao Ling
67 Bab 67: Semua Milik Zhao Fei?
68 Bab 68: Tragedi Long Dian
69 Bab 69: Puncak Awan dan Kecemasan Seorang Selir
70 Bab 70: Keputusan di Perbatasan
71 Bab 71: Di Balik Benteng
72 Bab 72: Orang Yang Dijanjikan
73 Bab 73: Membangun Kebencian
74 Bab 74: Topeng Palsu Klan Zhao
75 Bab 75: Jebolnya Bendungan Hati
76 Bab 76: Kembalinya Pawang Singa Betina
77 Bab 77: Ujian di Keluarga Sendiri
78 Bab 78: Pembuktian di Arena Bawah Tanah
79 Bab 79: Tahun Penantian
80 Bab 80: Naga di Gerbang, Petir yang Merunduk
81 Bab 81: Meja Bundar dan Kain Perca
82 Bab 82: Lamaran yang Tak Bisa Menunggu
83 Bab 83: Tuduhan Baru, Jalan Baru
84 Bab 84: Rumah di Puncak Tebing
85 Bab 85: Bisikan di Kegelapan
86 Bab 86: Kebusukan yang Terkoyak
87 Bab 87: Tamparan, Pisau, dan Sehelai Sayap Putih
88 Bab 88 : Panah Terakhir
89 Bab 89: Segel Terakhir
90 Bab 90: Pagi Setelah Prahara
91 Bab 91: Percikan Pertama
92 Bab 92: Sisa Terakhir Klan Li
93 Bab 93: Neraka yang Padam
94 Bab 94: Dongeng yang Ditulis dengan Darah
95 Bab 95: Jauh di Mata, Dekat di Hati
96 Bab 96: Jangkar yang Hilang
97 Bab 97: Iring-iringan di Tepi Tebing
98 Bab 98: Cermin Kematian
99 Bab 99: Cincin Kedua
100 Bab 100: Babak yang Baru
101 Bab 101: Silsilah yang Terkubur
102 Bab 102: Cermin yang Tidak Memantulkan Apa Pun
103 Bab 103: Tunggangan dan Luka Lama
104 Bab 104: Tipuan di Atas Air
105 Bab 105: Kembali ke Gunung Cemara
106 Bab 106: Catatan Takdir
107 Bab 107: Yin dan Yang
108 Bab 108: Tugas adalah Tugas
109 Bab 109: Tidak Ada Lagi yang Namanya Nanti
110 Bab 110: Guzheng di Tepi Tebing
111 Bab 111: Lompatan Iman
112 Bab 112: Naga Penelan Langit dan Cermin yang Menyala
113 Bab 113: Api Pembalasan
114 Bab 114: Hantu di Kandang Singa
115 Bab 115: Tawaran dan Darah
116 Bab 116: Serigala yang Terkhianati
117 Bab 117: Angin dari Timur
118 Bab 118: Hujan Penghibur Jiwa
119 Bab 119: Serigala di Kegelapan
120 Bab 120: Pulang dengan Selamat
121 Bab 121: Buah Tangan atau Dendam?
122 Bab 122: Jembatan Yin-Yang
123 Bab 123: Toko Sejarawan
124 Bab 124: Koin Roh
125 Bab 125: Segel dan Kecurigaan
126 Bab 126: Kepala yang Menggelinding
127 Bab 127: Kebenaran di Bawah Hujan
128 Bab 128: Yang Menunggu dan Yang Terlambat
129 Bab 129: Usai Gerimis
130 Bab 130: Lampion dan Bunga Kematian
131 Bab 131: Ombak Bunga Kematian
132 Bab 132: Tarian Penyesalan
133 Bab 133: Tragedi di Ladang Bunga
134 Bab 134: Langit Mendung
135 Bab 135: Klan yang Menyerahkan Diri
136 Bab 136: Rahasia yang Terbongkar
137 Bab 137: Ratu Cermin Petir Abadi
138 Bab 138: Kejujuran di Bawah Cahaya Lilin
139 Bab 139: Dari Tebing Kosong
140 Bab 140: Janji di Bawah Sakura
141 Bab 141: Singgasana Perkenalan
142 Bab 142: Domainku, Domain Kegelapan
143 Bab 143: Ilusi Berduri
144 Bab 144: Pembebasan Saudara Beda Kasta
145 Bab 145: Pengorbanan di Altar Kegelapan
146 Bab 146: Apa Itu Keluarga?
147 Bab 147: Lautan Kerangka
148 Bab 148: Dua Ambisi Satu Ending
149 Bab 149: Pedang Jeongyun
150 Bab 150: Aura yang Berbeda
151 Bab 151: Perguruan Bulan Darah
152 Bab 152 : Menuju Bulan Darah
153 Bab 153: Bisikan yang Terungkap
154 Bab 154: Konsolidasi
155 Bab 155: Mata yang Mengawasi
156 Bab 156: Bukan Senior
157 Bab 157: Jarak dan Keyakinan
158 Bab 158: Kejutan
159 Bab 159: Perkembangan Cermin Takdir
160 Bab 160: Diizinkan Hidup
161 Bab 161: Negosiator
162 Bab 162: Sebelum Api Membakar Semuanya
163 Bab 163: Yue Rong dan Masa Lalu
164 Bab 164: Pedang Phoenix
165 Bab 165: Rencana di Atas Rencana
166 Bab 166: Zhao Fei tetaplah Zhao Fei
167 Bab 167: Perang Telah Dimulai
168 Bab 168: Pertemuan di Antara Dua Kekuatan
169 Bab 169: Di Kandang Harimau
170 Bab 170: Kalah Jumlah
171 Bab 171: Pentingnya Pengorbanan
172 Bab 172: Hujan Petir Penghabisan
173 Bab 173: Transformasi dan Pengkhianatan
174 Bab 174: Di Tengah Kekacauan
175 Bab 175: Feng
176 Bab 176: Kehidupan Setelah Badai
177 Bab 177: Yang Paling Spesial
178 Bab 178: Kontras Dua Keluarga
179 Bab 179: Perjalanan Demi Sang Putri
180 Bab 180: Mencari Petunjuk dari Pedagang
181 Bab 181: Klan Tang
182 Bab 182: Duel Bambu
183 Bab 183: Perjalanan Penuh Tanggung Jawab
Episodes

Updated 183 Episodes

1
Bab 1: Ajal di Puncak Kejayaan
2
Bab 2: Banjir Memori dan Janji Seorang Dewa
3
Bab 3: Menuju Sekte Garuda Putih
4
Bab 4: Ujian Kedua
5
Bab 5: Hari Pertama di Tingkat Paling Bawah
6
Bab 6: Perpustakaan dan Keputusan
7
Bab 7: Mengambil Tugas Berat
8
Bab 8: Tabib Wen
9
Bab 9: Jurus Tabib Seribu Rahasia
10
Bab 10: Panggilan Tetua dan Sebuah Kejutan
11
Bab 11: Keraguan
12
Bab 12: Teguran Seorang Ibu
13
Bab 13: Misteri Cincin
14
Bab 14: Pedang yang Kembali
15
Bab 15: Tabib Dadakan
16
Bab 16: Malu Di Bawah Rembulan
17
Bab 17: Kejutan di Tengah Kecanggungan
18
Bab 18: Para Pencari Masalah
19
Bab 19: Satu Lawan Tiga
20
Bab 20: Penjelajah Dua Alam
21
Bab 21: Kembalinya Keseimbangan
22
Bab 22: Kembali ke Sekte
23
Bab 23: Divisi Legendaris
24
Bab 24: Sungai Naga Hijau
25
Bab 25: Di Balik Air Terjun Atau?
26
Bab 26: Tiga Penjaga Perbatasan
27
Bab 27: Komando Sekte Naga Hitam
28
Bab 28: Pesan Darurat dari Alam Dewa
29
Bab 29: Ratu di Alam Dewa
30
Bab 30: Pil
31
Bab 31: Keraguan di Tengah Malam
32
Bab 32: Terjebak di Masa Lalu
33
Bab 33: Kebangkitan di Domain Mimpi
34
Bab 34: Salah Tangkap
35
Bab 35: Tawaran di Alam Dewa
36
Bab 36: Utusan Siapa? Salah Siapa?
37
Bab 37: Dua Api
38
Bab 38: Kembalinya Diriku
39
Bab 39: Menuju Puncak
40
Bab 40: Jejak Naga
41
Bab 41: Kamar yang Sama
42
Bab 42: Tak Terlihat, Tapi Cinta
43
Bab 43: Naga Giok Biru
44
Bab 44: Kombinasi Baru
45
Bab 45: Tiga di Perbatasan
46
Bab 46: Terobosan Dengan Inti
47
Bab 47: Domain Itu Lagi
48
Bab 48: Tameng Terakhir
49
Bab 49: Gerbang Terakhir
50
Bab 50: Danau Haitian
51
Bab 51: Pemberi Kabar
52
Bab 52: Guci Giok
53
Bab 53: Luka Lama dan Perban Masa Lalu
54
Bab 54: Matahari Terbit di Alam Dewa
55
Bab 55: Kejutan Maut
56
Bab 56: Makhluk Baru, Musuh Baru
57
Bab 57: Tuan Huang dan Namir Jazi
58
Bab 58: Kolam Terlarang
59
Bab 59 : Kau Bukan Kekasihku, Tapi Aku Peduli Denganmu
60
Bab 60: Kebangkitan atau Kemunduran?
61
Bab 61: Kau Memang Peduli, Tapi Jangan Bodoh
62
Bab 62: Lari atau Mati
63
Bab 63: Keterlambatan yang Masuk Akal
64
Bab 64: Latihan dan Kabar Baik
65
Bab 65: Selir yang Setia
66
Bab 66: Xiao Ling
67
Bab 67: Semua Milik Zhao Fei?
68
Bab 68: Tragedi Long Dian
69
Bab 69: Puncak Awan dan Kecemasan Seorang Selir
70
Bab 70: Keputusan di Perbatasan
71
Bab 71: Di Balik Benteng
72
Bab 72: Orang Yang Dijanjikan
73
Bab 73: Membangun Kebencian
74
Bab 74: Topeng Palsu Klan Zhao
75
Bab 75: Jebolnya Bendungan Hati
76
Bab 76: Kembalinya Pawang Singa Betina
77
Bab 77: Ujian di Keluarga Sendiri
78
Bab 78: Pembuktian di Arena Bawah Tanah
79
Bab 79: Tahun Penantian
80
Bab 80: Naga di Gerbang, Petir yang Merunduk
81
Bab 81: Meja Bundar dan Kain Perca
82
Bab 82: Lamaran yang Tak Bisa Menunggu
83
Bab 83: Tuduhan Baru, Jalan Baru
84
Bab 84: Rumah di Puncak Tebing
85
Bab 85: Bisikan di Kegelapan
86
Bab 86: Kebusukan yang Terkoyak
87
Bab 87: Tamparan, Pisau, dan Sehelai Sayap Putih
88
Bab 88 : Panah Terakhir
89
Bab 89: Segel Terakhir
90
Bab 90: Pagi Setelah Prahara
91
Bab 91: Percikan Pertama
92
Bab 92: Sisa Terakhir Klan Li
93
Bab 93: Neraka yang Padam
94
Bab 94: Dongeng yang Ditulis dengan Darah
95
Bab 95: Jauh di Mata, Dekat di Hati
96
Bab 96: Jangkar yang Hilang
97
Bab 97: Iring-iringan di Tepi Tebing
98
Bab 98: Cermin Kematian
99
Bab 99: Cincin Kedua
100
Bab 100: Babak yang Baru
101
Bab 101: Silsilah yang Terkubur
102
Bab 102: Cermin yang Tidak Memantulkan Apa Pun
103
Bab 103: Tunggangan dan Luka Lama
104
Bab 104: Tipuan di Atas Air
105
Bab 105: Kembali ke Gunung Cemara
106
Bab 106: Catatan Takdir
107
Bab 107: Yin dan Yang
108
Bab 108: Tugas adalah Tugas
109
Bab 109: Tidak Ada Lagi yang Namanya Nanti
110
Bab 110: Guzheng di Tepi Tebing
111
Bab 111: Lompatan Iman
112
Bab 112: Naga Penelan Langit dan Cermin yang Menyala
113
Bab 113: Api Pembalasan
114
Bab 114: Hantu di Kandang Singa
115
Bab 115: Tawaran dan Darah
116
Bab 116: Serigala yang Terkhianati
117
Bab 117: Angin dari Timur
118
Bab 118: Hujan Penghibur Jiwa
119
Bab 119: Serigala di Kegelapan
120
Bab 120: Pulang dengan Selamat
121
Bab 121: Buah Tangan atau Dendam?
122
Bab 122: Jembatan Yin-Yang
123
Bab 123: Toko Sejarawan
124
Bab 124: Koin Roh
125
Bab 125: Segel dan Kecurigaan
126
Bab 126: Kepala yang Menggelinding
127
Bab 127: Kebenaran di Bawah Hujan
128
Bab 128: Yang Menunggu dan Yang Terlambat
129
Bab 129: Usai Gerimis
130
Bab 130: Lampion dan Bunga Kematian
131
Bab 131: Ombak Bunga Kematian
132
Bab 132: Tarian Penyesalan
133
Bab 133: Tragedi di Ladang Bunga
134
Bab 134: Langit Mendung
135
Bab 135: Klan yang Menyerahkan Diri
136
Bab 136: Rahasia yang Terbongkar
137
Bab 137: Ratu Cermin Petir Abadi
138
Bab 138: Kejujuran di Bawah Cahaya Lilin
139
Bab 139: Dari Tebing Kosong
140
Bab 140: Janji di Bawah Sakura
141
Bab 141: Singgasana Perkenalan
142
Bab 142: Domainku, Domain Kegelapan
143
Bab 143: Ilusi Berduri
144
Bab 144: Pembebasan Saudara Beda Kasta
145
Bab 145: Pengorbanan di Altar Kegelapan
146
Bab 146: Apa Itu Keluarga?
147
Bab 147: Lautan Kerangka
148
Bab 148: Dua Ambisi Satu Ending
149
Bab 149: Pedang Jeongyun
150
Bab 150: Aura yang Berbeda
151
Bab 151: Perguruan Bulan Darah
152
Bab 152 : Menuju Bulan Darah
153
Bab 153: Bisikan yang Terungkap
154
Bab 154: Konsolidasi
155
Bab 155: Mata yang Mengawasi
156
Bab 156: Bukan Senior
157
Bab 157: Jarak dan Keyakinan
158
Bab 158: Kejutan
159
Bab 159: Perkembangan Cermin Takdir
160
Bab 160: Diizinkan Hidup
161
Bab 161: Negosiator
162
Bab 162: Sebelum Api Membakar Semuanya
163
Bab 163: Yue Rong dan Masa Lalu
164
Bab 164: Pedang Phoenix
165
Bab 165: Rencana di Atas Rencana
166
Bab 166: Zhao Fei tetaplah Zhao Fei
167
Bab 167: Perang Telah Dimulai
168
Bab 168: Pertemuan di Antara Dua Kekuatan
169
Bab 169: Di Kandang Harimau
170
Bab 170: Kalah Jumlah
171
Bab 171: Pentingnya Pengorbanan
172
Bab 172: Hujan Petir Penghabisan
173
Bab 173: Transformasi dan Pengkhianatan
174
Bab 174: Di Tengah Kekacauan
175
Bab 175: Feng
176
Bab 176: Kehidupan Setelah Badai
177
Bab 177: Yang Paling Spesial
178
Bab 178: Kontras Dua Keluarga
179
Bab 179: Perjalanan Demi Sang Putri
180
Bab 180: Mencari Petunjuk dari Pedagang
181
Bab 181: Klan Tang
182
Bab 182: Duel Bambu
183
Bab 183: Perjalanan Penuh Tanggung Jawab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!