Bab 4: Ujian Kedua

Aneh sekali bagaimana bola emas itu tidak mati. Tapi juga tidak menyala seperti yang diharapkan siapa pun.

Cahayanya berkedip-kedip tidak karuan di antara telapak tangan Zhao Fei. Sebentar redup hampir seperti bara yang hampir padam, sebentar menyala dengan terang yang terlalu murni untuk ukuran tubuh manusia biasa, lalu kembali berkedip seolah tidak bisa memutuskan harus mengukur apa. Tentu saja semua orang di lapangan menatap bola itu dengan ekspresi kebingungan.

Bisikan demi bisikan pun mulai bersahutan dari barisan calon murid.

"Bahkan bola ujiannya saja bingung mengukurnya."

"Sudah jelas tidak ada qi. Bola itu tidak merasakan qi sama sekali."

"Pulangkan saja dia, buang-buang waktu."

Tetua yang memegang posisi di depan tidak ikut berbisik. Kerutan di dahinya dalam, matanya tidak beranjak dari bola emas itu. Dia sudah menjadi penguji seleksi ini selama lebih dari tiga puluh tahun. Ribuan calon murid sudah melewati tangannya. Bola ini pernah mati total untuk orang yang benar-benar tidak berbakat, pernah menyala putih untuk jenius sejati, tapi tidak pernah sekalipun berkedip seperti ini.

Seperti ada sesuatu di dalam tubuh pemuda itu yang terlalu besar untuk diukur, tapi tidak punya wadah yang cukup untuk menampungnya.

"Zhao Fei," katanya setelah sekian lama, "kau tidak langsung gugur. Tapi kau harus membuktikan diri di ujian berikutnya."

Beberapa calon murid yang gagal total di ujian pertama dipulangkan dengan satu kalimat singkat. Mereka pergi dengan kepala tertunduk. Sementara yang tersisa hanya mereka yang lolos, ditambah Zhao Fei yang berdiri di antara keduanya, bukan di sini bukan di sana.

Tetua pun mengangkat tangannya sekali lagi.

"Ujian kedua," katanya, "adalah pertarungan satu lawan satu. Tanpa qi. Hanya mengandalkan fisik dan teknik bela diri murni." Dia menyapu kerumunan dengan pandangannya. "Undian akan menentukan pasangan. Satu kemenangan, satu tiket ke ujian ketiga."

Belum selesai kalimat itu membanjiri lapangan, para calon murid sudah saling mendorong menuju tempat undian. Masalahnya itu bukan karena mereka bersemangat bertarung. Zhao Fei bisa melihat dengan jelas mengapa mereka bergegas setelah tatapan mereka semua tertuju padanya, diikuti senyuman yang tidak perlu diperjelas maknanya.

Semua orang ingin mendapat lawan yang paling lemah, dan di mata semua orang, Zhao Fei adalah lawan paling lemah di lapangan ini.

Namun Yang Mulia Petir Abadi justru membiarkan mereka berebut. Dalam hati, dia hanya memikirkan bahwa mereka mengingatkannya pada murid-murid junior di Alam Dewa yang berebut posisi latihan dekat altar qi terbaik. Sama saja. Manusia di mana pun cara berpikirnya tidak jauh berbeda.

Kemudian seseorang masuk ke area duel dari arah gerbang sekte, dan seluruh lapangan berubah.

Langkah wanita itu tidak terburu-buru. Punggungnya lurus seperti bilah pedang. Rambut hitam panjangnya dikucir tinggi di belakang kepala, rapi dan tidak satu helai pun yang jatuh ke tempatnya masing-masing. Seragam putih sekte itu tergantung di tubuhnya dengan cara yang membuat pakaian itu terlihat seperti sudah dibuat khusus untuknya, bukan sebaliknya. Wajahnya tidak tersenyum. Matanya datar seperti permukaan batu giok di bawah cahaya yang sama sekali tidak bergerak.

Beberapa calon murid di dekatnya langsung menjauhi undian dan menundukkan kepala. Sementara yang lain terkesiap.

"Senior Liu Xue," bisik seseorang di sebelah Zhao Fei.

Zhao Fei menoleh ke arah suara itu sebentar. Lalu menoleh kembali ke arah wanita itu.

Dan matanya tidak bergerak lagi.

Mustahil.

Bukan kata yang sering muncul dalam kamus seorang dewa yang sudah hidup sepuluh ribu tahun. Tapi kata itu muncul begitu saja, tanpa diundang. Zhao Fei berdiri di tempatnya dengan ekspresi yang untuk pertama kalinya sejak dia memasuki tubuh ini, kehilangan sedikit dari ketenangannya yang biasa.

Ada sesuatu di mata wanita itu. Meski kecantikan itu sendiri sudah cukup untuk membuat sebagian besar orang di lapangan ini lupa cara bernapas. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dia terjemahkan dengan pengetahuannya sebagai dewa.

Lalu dia menyadari dari mana perasaan itu berasal.

Dari memori yang bukan miliknya, muncul satu gambar yang tersimpan lebih dalam dari yang lain. Bertahun-tahun lalu, dari jarak yang sangat jauh. Pemuda pemilik asli tubuh ini pernah melihat wanita ini sekali, hanya sekali, dan menyimpan gambaran itu di tempat paling dalam dalam kepalanya tanpa pernah berani melakukan apa pun dengan perasaan itu.

Jadi ini yang kau sembunyikan, pikir Zhao Fei, berbicara pada arwah yang sudah pergi. Kau menyukai seseorang yang bahkan tidak tahu jika dirimu ada.

Perasaan itu aneh di dalam dadanya. Tidak sepenuhnya miliknya, tapi juga tidak sepenuhnya asing. Jika digambarkan seperti sedang memakai pakaian yang ukurannya sedikit berbeda tapi masih cukup untuk dikenakan.

"Jaga pandanganmu."

Suara itu datang dari samping, tajam dan tidak mau repot menyembunyikan nada merendahkannya. Seorang pemuda dengan bahu lebar dan senyuman yang terlihat sudah dilatih untuk terlihat sinis menatap Zhao Fei dari samping. "Orang sepertimu tidak pantas menatap Senior Liu Xue seperti itu."

Beberapa orang lantas tertawa pelan.

Sementara Zhao Fei lekas-lekas mengalihkan pandangannya. Perlahan. Tenang. Dia menatap pemuda itu sebentar dengan tatapan yang tidak memiliki emosi apa pun di dalamnya, lalu kembali menatap ke depan.

Dalam hatinya, dia mencatat nama pemuda itu untuk keperluan yang mungkin diperlukan di kemudian hari.

Hingga namanya akhirnya dipanggil.

Zhao Fei berjalan ke area duel. Lawannya sudah menunggu di sana, seorang pemuda kekar yang memperkuat kuda-kudanya dengan gerakan penuh seperti seseorang yang sedang memastikan semua orang menyaksikan betapa siapnya dia. Kakinya dibuka lebar, lengannya diangkat ke posisi bertarung, kepalanya sedikit dimiringkan dengan ekspresi yang mengundang.

Sedangkan Zhao Fei berdiri di seberangnya dengan kedua tangannya di samping tubuh. Tidak ada kuda-kuda ataupun persiapan yang terlihat.

Lagi-lagi, bisikan demi bisikan dari kerumunan langsung mengalir.

"Tidak ada kuda-kuda? Bahkan teknik dasar pun tidak dia tahu."

"Hmm... aku berani bertaruh jika pertarungan ini akan cepat."

Salah satu anggota dewan sekte mencondongkan tubuh ke arah tetua utama. "Apakah perlu kita teruskan ini, Tetua? Sepertinya hanya membuang-buang waktu kita."

Tetua utama tidak menjawab. Matanya tidak beranjak dari Zhao Fei.

Sementara dari sudut lapangan, Liu Xue berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pandangannya juga tertuju pada pemuda berpakaian sederhana itu. Ada sesuatu di matanya yang seperti sedang menghitung sesuatu yang belum bisa dikonfirmasi.

Sebelum pengawas arena berteriak, mata Zhao Fei dan mata Liu Xue sempat bertemu.Meski hanya sepersekian detik, tapi setidaknya wanita itu tidak mengalihkan pandangannya terlebih dahulu.

Kemudian tanda “mulai” diberikan.

Zhao Fei melangkah setengah langkah ke kanan. Kepalan lawan yang datang dengan cepat melewati bahunya tanpa menyentuh apa pun. Dalam satu gerakan yang berlanjut dari langkah itu, siku Zhao Fei mendarat tepat di ulu hati lawannya, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk memutus keseimbangan sepenuhnya.

Pemuda kekar itu pun jatuh ke tanah diikuti matanya yang melotot ke langit.

Tidak ada yang bergerak selama beberapa saat. Bahkan tidak ada suara satu pun.

"Ini tidak masuk akal."

Suara dari bangku dewan mencairkan kebekuan. Beberapa anggota dewan saling berbisik dengan suara yang sudah tidak lagi rendah.

"Tidak ada qi. Aku yakin tidak ada qi."

"Tapi pergerakannya... teknik menghindari seperti itu butuh ribuan jam latihan."

"Dari mana anak kampung ini belajar?"

Salah satu dewan mengusulkan dengan keras agar Zhao Fei diuji lebih lanjut melawan calon murid yang sudah lolos ujian pertama. Hanya untuk memastikan, agar tidak ada keraguan.

Namun Liu Xue mengangkat tangannya. "Aturan sudah jelas. Satu duel, satu pemenang."

"Jika para dewan mengizinkan," ucapan Zhao Fei keluar tenang dari area duel, "saya tidak keberatan."

Semua orang lantas menoleh padanya. Ekspresi di wajah para calon murid yang lain berubah menjadi sesuatu yang sulit diberi nama.

Sementara Liu Xue menatapnya lama. Tidak ada ekspresi yang bisa dibaca di wajahnya, tapi matanya sedang mengerjakan sesuatu di balik permukaannya yang tenang. "Baiklah," katanya. "Tapi ini di luar aturan resmi."

Satu per satu mereka maju.

Ada yang datang dengan senyuman penuh percaya diri. Ada yang datang dengan ekspresi serius seperti ini adalah pertarungan hidup dan mati. Ada yang mencoba bertaktik, mencoba membaca gerakan Zhao Fei lebih dulu, berdiri di tempatnya lama sebelum menyerang.

Namun sayangnya mereka semua tumbang dalam waktu yang hampir sama.

Zhao Fei tidak menggunakan qi. Dia tidak perlu. Selama sepuluh ribu tahun, dia menyempurnakan teknik bela diri hingga ke tingkat di mana setiap gerakan menjadi se-efisien mungkin. Tidak ada yang terbuang. Bagi seorang dewa, melawan kultivator pemula yang bahkan tidak boleh menggunakan qi terasa seperti seorang guru kaligrafi yang diminta menulis huruf paling dasar.

Dia tidak melukai mereka lebih dari yang perlu.

Sampai dua puluh orang terbaring di tanah di sekelilingnya, dan tidak ada lagi yang mau maju.

Tetua utama akhirnya berdiri dan lapangan itu terdiam total.

"Liu Xue," katanya, "apa kesimpulanmu?"

Wanita itu berjalan mendekati Zhao Fei. Jarak mereka menyusut menjadi beberapa langkah saja. Matanya menatap lurus ke mata Zhao Fei. Tidak ada pertanyaan di sana, apalagi penilaian yang tampak selain pengamatan yang sangat cermat.

Zhao Fei menatap balik, tidak menghindar.

Beberapa anggota dewan mulai gelisah di kursinya. Terdiam seperti itu terasa terlalu panjang untuk sebuah penilaian sederhana.

Liu Xue pun berbalik ke arah tetua. "Dia aneh," suaranya sama datar seperti biasa. "Tidak ada qi yang terdeteksi di tubuhnya. Tapi teknik bela dirinya terlalu presisi untuk pemula. Seperti seseorang yang sudah berlatih jauh lebih lama dari usianya."

Tetua itu menatap cucunya. "Lalu apa kesimpulanmu?"

"Diterima. Tapi ditempatkan di tingkat paling bawah sampai ada kejelasan lebih lanjut tentang kondisi qi-nya."

Tetua itu menghela napas panjang, lalu menoleh ke Zhao Fei. "Kau lulus ujian kedua. Mulai besok, kau adalah murid tingkat paling bawah di Sekte Garuda Putih. Jika dalam tiga bulan tidak ada kemajuan dalam kultivasi, kau akan dikeluarkan."

Zhao Fei menundukkan kepalanya. "Terima kasih, Tetua."

Tidak ada senyuman ataupun sorakan selain ketenangan yang sama seperti saat dirinya pertama kali mengangkat tangan dari barisan paling belakang.

Episodes
1 Bab 1: Ajal di Puncak Kejayaan
2 Bab 2: Banjir Memori dan Janji Seorang Dewa
3 Bab 3: Menuju Sekte Garuda Putih
4 Bab 4: Ujian Kedua
5 Bab 5: Hari Pertama di Tingkat Paling Bawah
6 Bab 6: Perpustakaan dan Keputusan
7 Bab 7: Mengambil Tugas Berat
8 Bab 8: Tabib Wen
9 Bab 9: Jurus Tabib Seribu Rahasia
10 Bab 10: Panggilan Tetua dan Sebuah Kejutan
11 Bab 11: Keraguan
12 Bab 12: Teguran Seorang Ibu
13 Bab 13: Misteri Cincin
14 Bab 14: Pedang yang Kembali
15 Bab 15: Tabib Dadakan
16 Bab 16: Malu Di Bawah Rembulan
17 Bab 17: Kejutan di Tengah Kecanggungan
18 Bab 18: Para Pencari Masalah
19 Bab 19: Satu Lawan Tiga
20 Bab 20: Penjelajah Dua Alam
21 Bab 21: Kembalinya Keseimbangan
22 Bab 22: Kembali ke Sekte
23 Bab 23: Divisi Legendaris
24 Bab 24: Sungai Naga Hijau
25 Bab 25: Di Balik Air Terjun Atau?
26 Bab 26: Tiga Penjaga Perbatasan
27 Bab 27: Komando Sekte Naga Hitam
28 Bab 28: Pesan Darurat dari Alam Dewa
29 Bab 29: Ratu di Alam Dewa
30 Bab 30: Pil
31 Bab 31: Keraguan di Tengah Malam
32 Bab 32: Terjebak di Masa Lalu
33 Bab 33: Kebangkitan di Domain Mimpi
34 Bab 34: Salah Tangkap
35 Bab 35: Tawaran di Alam Dewa
36 Bab 36: Utusan Siapa? Salah Siapa?
37 Bab 37: Dua Api
38 Bab 38: Kembalinya Diriku
39 Bab 39: Menuju Puncak
40 Bab 40: Jejak Naga
41 Bab 41: Kamar yang Sama
42 Bab 42: Tak Terlihat, Tapi Cinta
43 Bab 43: Naga Giok Biru
44 Bab 44: Kombinasi Baru
45 Bab 45: Tiga di Perbatasan
46 Bab 46: Terobosan Dengan Inti
47 Bab 47: Domain Itu Lagi
48 Bab 48: Tameng Terakhir
49 Bab 49: Gerbang Terakhir
50 Bab 50: Danau Haitian
51 Bab 51: Pemberi Kabar
52 Bab 52: Guci Giok
53 Bab 53: Luka Lama dan Perban Masa Lalu
54 Bab 54: Matahari Terbit di Alam Dewa
55 Bab 55: Kejutan Maut
56 Bab 56: Makhluk Baru, Musuh Baru
57 Bab 57: Tuan Huang dan Namir Jazi
58 Bab 58: Kolam Terlarang
59 Bab 59 : Kau Bukan Kekasihku, Tapi Aku Peduli Denganmu
60 Bab 60: Kebangkitan atau Kemunduran?
61 Bab 61: Kau Memang Peduli, Tapi Jangan Bodoh
62 Bab 62: Lari atau Mati
63 Bab 63: Keterlambatan yang Masuk Akal
64 Bab 64: Latihan dan Kabar Baik
65 Bab 65: Selir yang Setia
66 Bab 66: Xiao Ling
67 Bab 67: Semua Milik Zhao Fei?
68 Bab 68: Tragedi Long Dian
69 Bab 69: Puncak Awan dan Kecemasan Seorang Selir
70 Bab 70: Keputusan di Perbatasan
71 Bab 71: Di Balik Benteng
72 Bab 72: Orang Yang Dijanjikan
73 Bab 73: Membangun Kebencian
74 Bab 74: Topeng Palsu Klan Zhao
75 Bab 75: Jebolnya Bendungan Hati
76 Bab 76: Kembalinya Pawang Singa Betina
77 Bab 77: Ujian di Keluarga Sendiri
78 Bab 78: Pembuktian di Arena Bawah Tanah
79 Bab 79: Tahun Penantian
80 Bab 80: Naga di Gerbang, Petir yang Merunduk
81 Bab 81: Meja Bundar dan Kain Perca
82 Bab 82: Lamaran yang Tak Bisa Menunggu
83 Bab 83: Tuduhan Baru, Jalan Baru
84 Bab 84: Rumah di Puncak Tebing
85 Bab 85: Bisikan di Kegelapan
86 Bab 86: Kebusukan yang Terkoyak
87 Bab 87: Tamparan, Pisau, dan Sehelai Sayap Putih
88 Bab 88 : Panah Terakhir
89 Bab 89: Segel Terakhir
90 Bab 90: Pagi Setelah Prahara
91 Bab 91: Percikan Pertama
92 Bab 92: Sisa Terakhir Klan Li
93 Bab 93: Neraka yang Padam
94 Bab 94: Dongeng yang Ditulis dengan Darah
95 Bab 95: Jauh di Mata, Dekat di Hati
96 Bab 96: Jangkar yang Hilang
97 Bab 97: Iring-iringan di Tepi Tebing
98 Bab 98: Cermin Kematian
99 Bab 99: Cincin Kedua
100 Bab 100: Babak yang Baru
101 Bab 101: Silsilah yang Terkubur
102 Bab 102: Cermin yang Tidak Memantulkan Apa Pun
103 Bab 103: Tunggangan dan Luka Lama
104 Bab 104: Tipuan di Atas Air
105 Bab 105: Kembali ke Gunung Cemara
106 Bab 106: Catatan Takdir
107 Bab 107: Yin dan Yang
108 Bab 108: Tugas adalah Tugas
109 Bab 109: Tidak Ada Lagi yang Namanya Nanti
110 Bab 110: Guzheng di Tepi Tebing
111 Bab 111: Lompatan Iman
112 Bab 112: Naga Penelan Langit dan Cermin yang Menyala
113 Bab 113: Api Pembalasan
114 Bab 114: Hantu di Kandang Singa
115 Bab 115: Tawaran dan Darah
116 Bab 116: Serigala yang Terkhianati
117 Bab 117: Angin dari Timur
118 Bab 118: Hujan Penghibur Jiwa
119 Bab 119: Serigala di Kegelapan
120 Bab 120: Pulang dengan Selamat
121 Bab 121: Buah Tangan atau Dendam?
122 Bab 122: Jembatan Yin-Yang
123 Bab 123: Toko Sejarawan
124 Bab 124: Koin Roh
125 Bab 125: Segel dan Kecurigaan
126 Bab 126: Kepala yang Menggelinding
127 Bab 127: Kebenaran di Bawah Hujan
128 Bab 128: Yang Menunggu dan Yang Terlambat
129 Bab 129: Usai Gerimis
130 Bab 130: Lampion dan Bunga Kematian
131 Bab 131: Ombak Bunga Kematian
132 Bab 132: Tarian Penyesalan
133 Bab 133: Tragedi di Ladang Bunga
134 Bab 134: Langit Mendung
135 Bab 135: Klan yang Menyerahkan Diri
136 Bab 136: Rahasia yang Terbongkar
137 Bab 137: Ratu Cermin Petir Abadi
138 Bab 138: Kejujuran di Bawah Cahaya Lilin
139 Bab 139: Dari Tebing Kosong
140 Bab 140: Janji di Bawah Sakura
141 Bab 141: Singgasana Perkenalan
142 Bab 142: Domainku, Domain Kegelapan
143 Bab 143: Ilusi Berduri
144 Bab 144: Pembebasan Saudara Beda Kasta
145 Bab 145: Pengorbanan di Altar Kegelapan
146 Bab 146: Apa Itu Keluarga?
147 Bab 147: Lautan Kerangka
148 Bab 148: Dua Ambisi Satu Ending
149 Bab 149: Pedang Jeongyun
150 Bab 150: Aura yang Berbeda
151 Bab 151: Perguruan Bulan Darah
152 Bab 152 : Menuju Bulan Darah
153 Bab 153: Bisikan yang Terungkap
154 Bab 154: Konsolidasi
155 Bab 155: Mata yang Mengawasi
156 Bab 156: Bukan Senior
157 Bab 157: Jarak dan Keyakinan
158 Bab 158: Kejutan
159 Bab 159: Perkembangan Cermin Takdir
160 Bab 160: Diizinkan Hidup
161 Bab 161: Negosiator
162 Bab 162: Sebelum Api Membakar Semuanya
163 Bab 163: Yue Rong dan Masa Lalu
164 Bab 164: Pedang Phoenix
165 Bab 165: Rencana di Atas Rencana
166 Bab 166: Zhao Fei tetaplah Zhao Fei
167 Bab 167: Perang Telah Dimulai
168 Bab 168: Pertemuan di Antara Dua Kekuatan
169 Bab 169: Di Kandang Harimau
170 Bab 170: Kalah Jumlah
171 Bab 171: Pentingnya Pengorbanan
172 Bab 172: Hujan Petir Penghabisan
173 Bab 173: Transformasi dan Pengkhianatan
174 Bab 174: Di Tengah Kekacauan
175 Bab 175: Feng
176 Bab 176: Kehidupan Setelah Badai
177 Bab 177: Yang Paling Spesial
178 Bab 178: Kontras Dua Keluarga
179 Bab 179: Perjalanan Demi Sang Putri
180 Bab 180: Mencari Petunjuk dari Pedagang
181 Bab 181: Klan Tang
182 Bab 182: Duel Bambu
183 Bab 183: Perjalanan Penuh Tanggung Jawab
Episodes

Updated 183 Episodes

1
Bab 1: Ajal di Puncak Kejayaan
2
Bab 2: Banjir Memori dan Janji Seorang Dewa
3
Bab 3: Menuju Sekte Garuda Putih
4
Bab 4: Ujian Kedua
5
Bab 5: Hari Pertama di Tingkat Paling Bawah
6
Bab 6: Perpustakaan dan Keputusan
7
Bab 7: Mengambil Tugas Berat
8
Bab 8: Tabib Wen
9
Bab 9: Jurus Tabib Seribu Rahasia
10
Bab 10: Panggilan Tetua dan Sebuah Kejutan
11
Bab 11: Keraguan
12
Bab 12: Teguran Seorang Ibu
13
Bab 13: Misteri Cincin
14
Bab 14: Pedang yang Kembali
15
Bab 15: Tabib Dadakan
16
Bab 16: Malu Di Bawah Rembulan
17
Bab 17: Kejutan di Tengah Kecanggungan
18
Bab 18: Para Pencari Masalah
19
Bab 19: Satu Lawan Tiga
20
Bab 20: Penjelajah Dua Alam
21
Bab 21: Kembalinya Keseimbangan
22
Bab 22: Kembali ke Sekte
23
Bab 23: Divisi Legendaris
24
Bab 24: Sungai Naga Hijau
25
Bab 25: Di Balik Air Terjun Atau?
26
Bab 26: Tiga Penjaga Perbatasan
27
Bab 27: Komando Sekte Naga Hitam
28
Bab 28: Pesan Darurat dari Alam Dewa
29
Bab 29: Ratu di Alam Dewa
30
Bab 30: Pil
31
Bab 31: Keraguan di Tengah Malam
32
Bab 32: Terjebak di Masa Lalu
33
Bab 33: Kebangkitan di Domain Mimpi
34
Bab 34: Salah Tangkap
35
Bab 35: Tawaran di Alam Dewa
36
Bab 36: Utusan Siapa? Salah Siapa?
37
Bab 37: Dua Api
38
Bab 38: Kembalinya Diriku
39
Bab 39: Menuju Puncak
40
Bab 40: Jejak Naga
41
Bab 41: Kamar yang Sama
42
Bab 42: Tak Terlihat, Tapi Cinta
43
Bab 43: Naga Giok Biru
44
Bab 44: Kombinasi Baru
45
Bab 45: Tiga di Perbatasan
46
Bab 46: Terobosan Dengan Inti
47
Bab 47: Domain Itu Lagi
48
Bab 48: Tameng Terakhir
49
Bab 49: Gerbang Terakhir
50
Bab 50: Danau Haitian
51
Bab 51: Pemberi Kabar
52
Bab 52: Guci Giok
53
Bab 53: Luka Lama dan Perban Masa Lalu
54
Bab 54: Matahari Terbit di Alam Dewa
55
Bab 55: Kejutan Maut
56
Bab 56: Makhluk Baru, Musuh Baru
57
Bab 57: Tuan Huang dan Namir Jazi
58
Bab 58: Kolam Terlarang
59
Bab 59 : Kau Bukan Kekasihku, Tapi Aku Peduli Denganmu
60
Bab 60: Kebangkitan atau Kemunduran?
61
Bab 61: Kau Memang Peduli, Tapi Jangan Bodoh
62
Bab 62: Lari atau Mati
63
Bab 63: Keterlambatan yang Masuk Akal
64
Bab 64: Latihan dan Kabar Baik
65
Bab 65: Selir yang Setia
66
Bab 66: Xiao Ling
67
Bab 67: Semua Milik Zhao Fei?
68
Bab 68: Tragedi Long Dian
69
Bab 69: Puncak Awan dan Kecemasan Seorang Selir
70
Bab 70: Keputusan di Perbatasan
71
Bab 71: Di Balik Benteng
72
Bab 72: Orang Yang Dijanjikan
73
Bab 73: Membangun Kebencian
74
Bab 74: Topeng Palsu Klan Zhao
75
Bab 75: Jebolnya Bendungan Hati
76
Bab 76: Kembalinya Pawang Singa Betina
77
Bab 77: Ujian di Keluarga Sendiri
78
Bab 78: Pembuktian di Arena Bawah Tanah
79
Bab 79: Tahun Penantian
80
Bab 80: Naga di Gerbang, Petir yang Merunduk
81
Bab 81: Meja Bundar dan Kain Perca
82
Bab 82: Lamaran yang Tak Bisa Menunggu
83
Bab 83: Tuduhan Baru, Jalan Baru
84
Bab 84: Rumah di Puncak Tebing
85
Bab 85: Bisikan di Kegelapan
86
Bab 86: Kebusukan yang Terkoyak
87
Bab 87: Tamparan, Pisau, dan Sehelai Sayap Putih
88
Bab 88 : Panah Terakhir
89
Bab 89: Segel Terakhir
90
Bab 90: Pagi Setelah Prahara
91
Bab 91: Percikan Pertama
92
Bab 92: Sisa Terakhir Klan Li
93
Bab 93: Neraka yang Padam
94
Bab 94: Dongeng yang Ditulis dengan Darah
95
Bab 95: Jauh di Mata, Dekat di Hati
96
Bab 96: Jangkar yang Hilang
97
Bab 97: Iring-iringan di Tepi Tebing
98
Bab 98: Cermin Kematian
99
Bab 99: Cincin Kedua
100
Bab 100: Babak yang Baru
101
Bab 101: Silsilah yang Terkubur
102
Bab 102: Cermin yang Tidak Memantulkan Apa Pun
103
Bab 103: Tunggangan dan Luka Lama
104
Bab 104: Tipuan di Atas Air
105
Bab 105: Kembali ke Gunung Cemara
106
Bab 106: Catatan Takdir
107
Bab 107: Yin dan Yang
108
Bab 108: Tugas adalah Tugas
109
Bab 109: Tidak Ada Lagi yang Namanya Nanti
110
Bab 110: Guzheng di Tepi Tebing
111
Bab 111: Lompatan Iman
112
Bab 112: Naga Penelan Langit dan Cermin yang Menyala
113
Bab 113: Api Pembalasan
114
Bab 114: Hantu di Kandang Singa
115
Bab 115: Tawaran dan Darah
116
Bab 116: Serigala yang Terkhianati
117
Bab 117: Angin dari Timur
118
Bab 118: Hujan Penghibur Jiwa
119
Bab 119: Serigala di Kegelapan
120
Bab 120: Pulang dengan Selamat
121
Bab 121: Buah Tangan atau Dendam?
122
Bab 122: Jembatan Yin-Yang
123
Bab 123: Toko Sejarawan
124
Bab 124: Koin Roh
125
Bab 125: Segel dan Kecurigaan
126
Bab 126: Kepala yang Menggelinding
127
Bab 127: Kebenaran di Bawah Hujan
128
Bab 128: Yang Menunggu dan Yang Terlambat
129
Bab 129: Usai Gerimis
130
Bab 130: Lampion dan Bunga Kematian
131
Bab 131: Ombak Bunga Kematian
132
Bab 132: Tarian Penyesalan
133
Bab 133: Tragedi di Ladang Bunga
134
Bab 134: Langit Mendung
135
Bab 135: Klan yang Menyerahkan Diri
136
Bab 136: Rahasia yang Terbongkar
137
Bab 137: Ratu Cermin Petir Abadi
138
Bab 138: Kejujuran di Bawah Cahaya Lilin
139
Bab 139: Dari Tebing Kosong
140
Bab 140: Janji di Bawah Sakura
141
Bab 141: Singgasana Perkenalan
142
Bab 142: Domainku, Domain Kegelapan
143
Bab 143: Ilusi Berduri
144
Bab 144: Pembebasan Saudara Beda Kasta
145
Bab 145: Pengorbanan di Altar Kegelapan
146
Bab 146: Apa Itu Keluarga?
147
Bab 147: Lautan Kerangka
148
Bab 148: Dua Ambisi Satu Ending
149
Bab 149: Pedang Jeongyun
150
Bab 150: Aura yang Berbeda
151
Bab 151: Perguruan Bulan Darah
152
Bab 152 : Menuju Bulan Darah
153
Bab 153: Bisikan yang Terungkap
154
Bab 154: Konsolidasi
155
Bab 155: Mata yang Mengawasi
156
Bab 156: Bukan Senior
157
Bab 157: Jarak dan Keyakinan
158
Bab 158: Kejutan
159
Bab 159: Perkembangan Cermin Takdir
160
Bab 160: Diizinkan Hidup
161
Bab 161: Negosiator
162
Bab 162: Sebelum Api Membakar Semuanya
163
Bab 163: Yue Rong dan Masa Lalu
164
Bab 164: Pedang Phoenix
165
Bab 165: Rencana di Atas Rencana
166
Bab 166: Zhao Fei tetaplah Zhao Fei
167
Bab 167: Perang Telah Dimulai
168
Bab 168: Pertemuan di Antara Dua Kekuatan
169
Bab 169: Di Kandang Harimau
170
Bab 170: Kalah Jumlah
171
Bab 171: Pentingnya Pengorbanan
172
Bab 172: Hujan Petir Penghabisan
173
Bab 173: Transformasi dan Pengkhianatan
174
Bab 174: Di Tengah Kekacauan
175
Bab 175: Feng
176
Bab 176: Kehidupan Setelah Badai
177
Bab 177: Yang Paling Spesial
178
Bab 178: Kontras Dua Keluarga
179
Bab 179: Perjalanan Demi Sang Putri
180
Bab 180: Mencari Petunjuk dari Pedagang
181
Bab 181: Klan Tang
182
Bab 182: Duel Bambu
183
Bab 183: Perjalanan Penuh Tanggung Jawab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!