Episode 2

Bab 02

Nadia tidak langsung pulang.

Ia membawa Alya turun ke lantai dasar, keluar dari lobi rumah sakit, lalu berhenti di dekat minimarket kecil di samping area parkir. Matahari Jakarta pukul sebelas siang terasa tajam, tapi telapak tangannya tetap dingin.

Alya duduk di bangku panjang, memeluk boneka kelincinya. Stiker bintang dari Raka ditempel di punggung tangan.

Anak itu memandangnya terus.

"Ma."

"Iya?"

"Mama marah sama aku?"

Nadia menatap wajah putrinya. Hatinya langsung melembek.

"Tidak."

"Tadi Mama ngomong keras."

"Mama kaget."

"Karena aku bilang Dokter Raka mirip Papa?"

Nadia menutup mata sebentar.

Nama itu. Dokter Raka.

Keluar begitu mudah dari mulut Alya, seolah laki-laki itu memang bagian dari hidup mereka.

"Alya," kata Nadia pelan, "jangan panggil dia seperti itu terus. Dia dokter. Kita hormati dia sebagai dokter."

"Aku tahu."

"Kalau Mama bilang sesuatu, Alya dengarkan, ya?"

Alya menunduk. "Iya."

Nadia menarik napas. Ia ingin memeluk putrinya, tapi takut kalau ia mulai memeluk, ia akan menangis di tempat umum. Jadi ia membeli air mineral dan roti, lalu duduk di sebelah Alya.

"Minum dulu."

Alya menerima botol itu. Tangannya kecil, kukunya pendek, ada bekas plester dari pemeriksaan darah minggu lalu. Nadia melihatnya dan dada kembali sesak.

Selama enam tahun, ia sudah terbiasa menghadapi semuanya sendiri.

Antrean rumah sakit.

Surat rujukan.

Biaya obat yang kadang tidak semua bisa ditanggung.

Demam malam hari.

Pertanyaan anak kecil soal ayah.

Ia pikir, setelah sekian lama, tidak ada lagi yang bisa mengguncangnya.

Ternyata satu pintu ruang praktik dan satu jas dokter putih cukup untuk membuat seluruh pertahanannya runtuh.

"Ma."

"Hm?"

"Dokter Raka baik."

Nadia meremas botol air di tangannya.

"Dokter memang harus baik ke pasien."

"Tapi dia lihat aku seperti..."

Alya mencari kata-kata.

"Seperti apa?"

"Seperti dia kenal aku."

Nadia tidak menjawab.

Anak-anak sering melihat sesuatu yang orang dewasa pura-pura tidak lihat. Alya selalu begitu. Ia mudah menangkap nada suara, tatapan, bahkan diam yang terlalu panjang.

"Alya," Nadia mengusap rambutnya, "kita mungkin tidak kontrol sama dokter itu lagi."

Alya langsung mengangkat wajah. "Kenapa?"

"Karena Mama mau cari jadwal dokter yang biasa."

"Tapi Dokter Raka bilang jantungku harus dipantau."

"Dokter lain juga bisa memantau."

"Tapi aku suka dia."

Kata itu menusuk lebih dalam daripada yang Nadia kira.

Aku suka dia.

Dulu, ia juga pernah mengucapkan kalimat itu pada dirinya sendiri, pelan-pelan, malu-malu, seperti anak bodoh yang menemukan rahasia indah.

Aku suka Raka.

Lalu rahasia indah itu berubah menjadi lubang.

"Kita pulang," kata Nadia.

Ia berdiri terlalu cepat. Alya mengikuti, masih bingung tapi tidak membantah.

Mereka naik taksi online karena Nadia tidak sanggup naik TransJakarta sambil membawa semua map itu. Di dalam mobil, Alya tertidur setelah sepuluh menit. Kepalanya bersandar pada lengan Nadia.

Nadia membuka ponsel.

Ada pesan dari Nenek Sari.

Sudah selesai? Dokternya bilang apa?

Nadia mengetik:

Masih sama, Nek. Perlu kontrol rutin. Nanti Nadia jelaskan di rumah.

Ia berhenti, lalu menambahkan:

Tolong jangan khawatir.

Pesan terkirim.

Nenek Sari membalas cepat.

Nenek selalu khawatir. Itu tugas nenek.

Nadia hampir tersenyum, tapi matanya panas.

Di ruang praktik lantai tiga, Raka masih memegang kertas hasil lab lama ketika perawat masuk untuk mengingatkan pasien berikutnya.

"Dok?"

Raka mengangkat wajah.

"Pasien berikutnya sudah menunggu."

"Masukkan lima menit lagi."

Perawat itu terkejut. Raka Pradipta dikenal tidak pernah menunda pasien untuk urusan pribadi. Ia bahkan tetap praktik sehari setelah pulang dari konferensi di Singapura, dengan wajah pucat dan suara serak.

"Baik, Dok."

Setelah pintu tertutup, Raka duduk kembali.

Ia membuka sistem rekam medis rumah sakit, mengetik nama Alya Putri Lestari. Data yang muncul tidak banyak. Pasien baru pindahan, membawa rujukan dari fasilitas kesehatan sebelumnya. Riwayat di Jakarta baru beberapa bulan.

Nama ibu: Nadia Lestari.

Status ayah: -

Bagian itu kosong.

Raka menatap tanda strip itu lama.

Ia bukan orang yang mudah menghubungkan hal-hal tanpa bukti. Ia dokter. Ia dilatih untuk membaca data, bukan perasaan. Namun pagi tadi terlalu banyak hal yang tidak bisa ia abaikan.

Mata anak itu.

Cara Nadia memutih ketika melihatnya.

Nama kota kecil di catatan lama.

Dan satu kalimat anak itu.

Dokter mirip Papa.

Raka menutup sistem.

Ia mengambil ponsel, membuka grup lama yang sudah bertahun-tahun ia bisukan. Grup angkatan SMA. Ratusan pesan belum dibaca. Foto reuni, candaan basi, undangan acara, promosi usaha.

Satu nama membuat jarinya berhenti.

Dimas: Rak, lo beneran nggak datang reuni bulan ini? Anak-anak pada nanyain. Sekalian bahas Citra. Ada yang bilang dia pernah kelihatan di Jakarta, tapi kurus banget sampai nggak dikenali.

Citra.

Nama itu seperti benda tajam yang jatuh ke lantai.

Raka mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.

Kau dapat kabar dari siapa?

Balasan datang tidak sampai satu menit.

Dimas: Wah, akhirnya muncul juga. Dari Rini katanya. Tapi nggak jelas. Kenapa? Lo masih kepikiran dia?

Raka tidak menjawab pertanyaan itu.

Kirim nomor Rini.

Dimas mengirim kontak sambil menambahkan emotikon tertawa. Raka mengabaikannya.

Pasien berikutnya masuk.

Raka kembali menjadi dokter. Ia mendengar keluhan, menulis resep, menjelaskan risiko operasi, menjawab pertanyaan orang tua yang takut. Wajahnya tidak berubah. Tangannya stabil. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa pikirannya terus kembali pada perempuan yang keluar dari ruang praktik dengan wajah seputih kertas.

Sore hari, ketika jadwal praktik selesai, Raka duduk sendirian di ruang dokter. Di luar jendela, langit Jakarta mulai kusam.

Ia menelepon nomor Rini.

"Halo?"

"Rini. Ini Raka."

Hening beberapa detik, lalu suara perempuan itu meninggi.

"Raka Pradipta? Serius? Ya ampun. Ada apa?"

"Aku mau tanya soal Citra Ayuning."

Hening lagi.

Kali ini lebih panjang.

"Kenapa tiba-tiba tanya Citra?"

"Kau pernah melihat dia di Jakarta?"

Rini tertawa kecil, tapi terdengar tidak nyaman. "Aku juga cuma dengar. Ada yang bilang dia kerja di perusahaan desain kecil. Tapi mungkin bukan dia. Citra dulu..."

Rini menggantung kalimat.

Raka menunggu.

"Maksudku, Citra dulu badannya besar. Yang kulihat di foto teman temanku itu perempuan kurus, cantik, beda banget. Jadi aku nggak yakin."

Raka memejamkan mata.

Kurus. Cantik. Beda.

"Punya fotonya?"

"Nggak. Itu story lama, sudah hilang."

"Nama sekarang?"

"Entahlah. Katanya Nadia atau Nadira. Aku lupa."

Jari Raka mengencang di ponsel.

"Raka?"

"Ya."

"Kenapa kau cari dia? Bukannya dulu kalian..."

"Terima kasih, Rini."

Ia memutus panggilan sebelum perempuan itu menyelesaikan kalimat.

Ruang dokter kembali sepi.

Raka menatap layar ponsel yang sudah gelap.

Nadia.

Citra.

Dua nama itu berdiri berdampingan dalam kepalanya, tapi ia belum bisa menyatukannya.

Di rumah kontrakan, Nadia baru selesai menidurkan Alya ketika ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Ia menatap layar lama.

Biasanya ia tidak mengangkat nomor asing. Terlalu banyak penawaran pinjaman, asuransi, dan orang-orang lama yang tidak ingin ia temui.

Namun entah kenapa, kali ini jantungnya lebih dulu tahu.

Nomor itu berdering sampai mati.

Beberapa detik kemudian, pesan masuk.

Bu Nadia, ini Raka Pradipta. Ada hasil pemeriksaan Alya yang tertinggal. Bisa saya kirim lewat kurir, atau Ibu ambil di rumah sakit besok.

Nadia membaca pesan itu tiga kali.

Tangannya gemetar.

Ia ingin membalas singkat.

Kirim saja.

Tapi sebelum ia mengetik, pesan kedua masuk.

Dan kalau Ibu tidak keberatan, saya ingin menanyakan beberapa hal soal riwayat kelahiran Alya.

Nadia langsung mematikan layar.

Kamar menjadi gelap.

Alya tidur di sebelahnya, napasnya pelan, satu tangan memeluk kelinci bersayap.

Nadia berbaring tanpa bergerak.

Di luar, suara motor lewat satu per satu.

Ia menatap langit-langit yang retak halus.

Tujuh tahun ia bersembunyi.

Tujuh tahun ia mengganti nama, tubuh, kota, hidup.

Dan hari ini, hanya dalam satu pagi, Raka Pradipta sudah mengetuk pintu yang paling ia takutkan.

Nadia menekan ponsel ke dadanya, seolah benda kecil itu bisa mendengar detak jantungnya. Ia ingin percaya pintu itu masih terkunci. Ia ingin percaya Raka hanya dokter yang terlalu teliti. Namun ia tahu, begitu laki-laki itu mulai curiga, ia tidak akan berhenti di depan ambang.

Terpopuler

Comments

👀 calon mayit 👀

👀 calon mayit 👀

,i😍h..... bikin pinisirin Nn....💪 lanjiiit

2026-06-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!