Bab 03
Raka tidak tidur malam itu.
Ia berbaring di kamar apartemennya dengan lampu padam, tapi matanya tetap terbuka. Dari lantai dua puluh tujuh, Jakarta terlihat seperti hamparan titik kuning yang tidak pernah benar-benar lelah. Jalan layang masih ramai. Sirene ambulans lewat sekali. Lalu hening lagi.
Di meja samping ranjang, ponselnya menyala beberapa kali.
Pesan dari Dimas.
Rak, jangan lupa reuni tanggal 20. Kali ini wajib datang. Anak-anak penasaran sama lo.
Rak?
Lo beneran cari Citra?
Raka tidak membalas.
Nama Citra Ayuning sudah lama ia simpan di tempat yang tidak ia sentuh. Bukan karena lupa. Justru karena terlalu sadar.
Ia ingat gadis itu.
Rambut panjang selalu diikat rendah. Seragam kebesaran. Tas kanvas yang warnanya sudah pudar. Cara berjalan yang berusaha tidak menarik perhatian, tapi justru membuat orang makin mudah menargetkannya.
Ia ingat Citra menunduk saat orang lain tertawa.
Ia ingat Citra menggenggam buku sampai buku itu penyok.
Ia ingat Citra tersenyum untuk pertama kali padanya, kecil sekali, seolah senyum itu bukan haknya.
Yang tidak ia ingat adalah bagaimana semua itu berakhir.
Atau mungkin ia ingat, tapi selama bertahun-tahun memilih bentuk cerita yang paling nyaman untuk dirinya sendiri.
Citra pergi.
Citra memutuskan hubungan.
Citra tidak pernah menghubunginya lagi.
Sesederhana itu.
Namun hari ini seorang anak enam tahun bertanya apakah ia papa.
Dan seorang perempuan bernama Nadia Lestari menatapnya seperti ia adalah luka lama yang tiba-tiba berdiri di depan pintu.
Pagi berikutnya, Raka tetap datang ke rumah sakit sebelum pukul tujuh.
Ia visite pasien pascaoperasi, memeriksa hasil lab, lalu masuk ke ruang rapat kecil untuk diskusi tim. Semua berjalan seperti biasa. Rekan-rekannya membicarakan jadwal operasi, daftar pasien prioritas, dan satu kasus bayi dengan kelainan jantung kompleks.
Raka menjawab seperlunya.
"Dok Raka, nanti siang ada rapat yayasan," kata dr. Malik, seniornya. "Pak Direktur minta Anda hadir. Program bantuan pasien anak mau dibahas."
"Saya hadir."
"Wajah Anda pucat. Kurang tidur?"
"Tidak."
dr. Malik tertawa pelan. "Jawaban dokter yang paling tidak bisa dipercaya."
Raka hanya menutup map.
Saat rapat selesai, Dimas menelepon. Kali ini Raka mengangkat.
"Akhirnya," kata Dimas. "Gue kira lo mati."
"Ada apa?"
"Gue yang harus tanya. Lo kenapa tiba-tiba cari Citra?"
Raka berjalan ke ruang dokter, menutup pintu. "Jawab saja. Kau masih punya kontak siapa pun yang dekat dengannya?"
"Dekat? Citra dulu dekat sama siapa, Rak? Dia cuma dekat sama lo."
Kalimat itu membuat Raka diam.
Dimas melanjutkan, suaranya sedikit lebih rendah. "Setelah lo ke luar negeri, dia benar-benar hilang. Nomornya mati. Akun sosmednya kosong. Ada kabar dia pindah, ada kabar dia sakit, ada juga yang jahat bilang dia mati. Lo tahu sendiri mulut anak-anak dulu."
"Siapa yang bilang dia mati?"
"Entah. Gosip. Dari grup lama mungkin. Kenapa sih?"
"Aku bertemu seseorang."
"Mirip dia?"
Raka tidak menjawab.
Dimas mendesah. "Kalau benar itu Citra, lo mau apa?"
Pertanyaan sederhana itu menghantam lebih keras dari seharusnya.
Mau apa?
Raka memandang jendela ruang dokter.
Ia tidak punya jawaban yang pantas.
"Tanggal reuni di mana?" tanyanya.
Dimas langsung cerah. "Nah, akhirnya. Di restoran Kemang. Gue kirim detailnya. Lo datang, ya. Sekalian tanya-tanya. Siapa tahu ada yang tahu."
"Kirim."
"Rak."
"Apa?"
"Kalau soal Citra... dulu kami semua jahat sama dia. Lo juga tahu. Tapi lo satu-satunya orang yang dia lihat beda."
Raka menutup mata.
Dimas berkata lagi, lebih pelan, "Jangan cari dia cuma karena penasaran."
Telepon terputus setelah itu.
Raka menatap ponsel lama.
Penasaran.
Ia ingin percaya bahwa ini hanya rasa penasaran. Bahwa ia hanya dokter yang ingin melengkapi riwayat pasien. Bahwa ia hanya kebetulan bertemu perempuan yang mirip masa lalu.
Namun tubuhnya tidak bereaksi seperti itu.
Ia tidak seperti ini ketika menghadapi operasi delapan jam.
Ia tidak seperti ini ketika rapat direksi keluarga memanas.
Ia tidak seperti ini bahkan ketika peluru pernah menembus dadanya tiga tahun lalu di daerah konflik.
Satu nama lama membuatnya kehilangan ritme.
Sementara itu, Nadia bekerja dari rumah.
Laptop tua terbuka di meja makan kecil. Beberapa sketsa pakaian anak dan motif kain tersebar. Ia sedang menyelesaikan desain untuk klien kecil, butik muslimah yang ingin membuat koleksi Lebaran dengan sentuhan tenun lurik.
Alya duduk di lantai, menggambar rumah dengan krayon.
"Ma, rumah kita nanti harus ada pohon," kata Alya.
"Kenapa?"
"Biar Nenek bisa duduk di bawah pohon. Terus aku bisa main sama kelinci."
"Kita nggak punya kelinci."
"Boneka kelinci."
Nadia tersenyum tipis. "Boleh."
Pintu kamar Nenek Sari terbuka. Perempuan tua itu keluar pelan, memakai daster batik dan kardigan tipis.
"Kalian belum makan?"
"Nadia masak sebentar lagi."
"Kamu dari tadi kerja terus."
"Deadline, Nek."
Nenek Sari duduk di kursi. Matanya yang mulai keruh menatap cucunya lama.
"Kemarin dokter bilang apa?"
Nadia berhenti menggerakkan stylus.
"Sama seperti dokter sebelumnya. Alya harus dipantau. Mungkin operasi beberapa tahun lagi."
"Dokternya bagus?"
"Bagus."
"Kok mukamu begitu?"
Nadia menunduk ke layar. "Muka Nadia memang begini kalau kurang tidur."
Nenek Sari tidak tertipu. Ia membesarkan Nadia sejak kecil. Ia tahu perbedaan lelah, marah, takut, dan pura-pura baik-baik saja.
"Kamu lihat siapa di rumah sakit?"
Jari Nadia berhenti.
Alya mengangkat wajah dari gambar.
"Nenek, dokterku ganteng."
Nadia memejamkan mata. "Alya."
Nenek Sari menatap Alya, lalu kembali pada Nadia. Dalam beberapa detik, wajah tuanya berubah.
"Dia?"
Nadia tidak menjawab.
Tidak perlu.
Nenek Sari menggenggam ujung meja.
"Dia mengenalimu?"
"Tidak."
"Alhamdulillah," bisik Nenek Sari, lalu langsung menutup mulut seolah merasa bersalah telah lega.
Alya menatap mereka bergantian. "Kenapa kalau Dokter Raka kenal Mama?"
Tidak ada yang menjawab.
Nadia berdiri. "Mama masak dulu."
Ia masuk dapur sempit dan menyalakan kompor. Tangannya gemetar saat mencuci beras. Ia benci betapa cepat hidupnya kembali berputar di sekitar laki-laki itu.
Ponselnya bergetar di meja.
Nenek Sari melihat layar.
Nomor Raka.
"Nadia," panggilnya pelan.
Nadia keluar dari dapur. Begitu melihat layar, wajahnya mengeras.
Telepon itu berdering sampai berhenti.
Lalu pesan masuk.
Bu Nadia, saya bisa kirim berkas Alya hari ini. Mohon alamat pengiriman.
Nenek Sari membaca dari jauh, lalu menghela napas.
"Kalau hanya berkas, suruh kirim ke rumah sakit saja. Kamu ambil lewat administrasi."
"Iya."
Nadia mengetik:
Titip di administrasi poli saja, Dok. Besok saya ambil.
Ia hendak mengirim, tapi pesan lain masuk lebih dulu.
Atau saya bisa antarkan. Saya ada urusan dekat Tebet sore ini.
Nadia langsung menghapus kalimatnya.
Ia mengetik lagi:
Tidak perlu. Titip administrasi.
Kirim.
Balasan Raka datang singkat.
Baik.
Hanya itu.
Terlalu patuh.
Terlalu tenang.
Nadia justru makin tidak tenang.
Malamnya, Raka membuka detail reuni dari Dimas. Restoran di Kemang, Sabtu malam, pukul tujuh.
Ia menatap daftar nama yang akan hadir.
Banyak nama lama.
Rini.
Yudha.
Maya.
Tania.
Orang-orang yang dulu tertawa saat Citra berjalan melewati lorong.
Orang-orang yang mungkin tahu sesuatu.
Raka mengambil kotak kecil dari laci meja kerjanya. Kotak beludru biru tua. Di dalamnya ada sebuah pulpen hitam, catnya sudah sedikit mengelupas di bagian badan, ujungnya pernah retak lalu diperbaiki.
Hadiah ulang tahun tujuh tahun lalu.
Ia tidak pernah tahu mengapa Citra memberikan hadiah itu lalu menghilang.
Atau mungkin ia tidak pernah berani mencari tahu.
Raka menyentuh pulpen itu dengan ibu jari.
Di luar, hujan mulai turun.
Ia teringat pintu ruang praktik yang terbuka, wajah Nadia yang pucat, dan mata Alya yang menatapnya tanpa takut.
Jika perempuan itu benar Citra, maka ia tidak hanya mengganti nama.
Ia mengganti seluruh hidupnya.
Dan Raka, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, merasa takut pada jawaban yang sedang mendekat.
Ia menutup kotak itu lagi, tetapi tidak menguncinya. Pulpen itu tetap berada di atas meja, hitam dan diam, seperti saksi yang selama ini ia paksa tutup mulut. Malam itu, Raka baru mengerti bahwa benda yang paling lama disimpan seseorang biasanya bukan kenangan indah. Kadang, itu adalah bukti dari kesalahan yang belum selesai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments