Bab 04
Restoran di Kemang itu terlalu terang.
Lampu gantung kuning, dinding kaca, meja panjang penuh makanan, dan tawa orang-orang yang sudah lama tidak Raka dengar. Beberapa wajah berubah. Ada yang lebih gemuk, ada yang mulai botak, ada yang datang dengan pasangan, ada yang datang sambil membawa cerita sukses.
Namun cara mereka tertawa masih sama.
Keras.
Percaya diri.
Seperti dunia selalu memberi mereka tempat terbaik.
"Raka!"
Dimas melambai dari ujung meja. Ia berdiri, memeluk Raka sebentar dengan tepukan punggung berlebihan.
"Gila, dokter sibuk akhirnya turun gunung."
Raka hanya mengangguk.
Orang-orang lain langsung menyapa.
"Rak, kapan balik dari luar negeri?"
"Sekarang di rumah sakit keluarga, ya?"
"Masih single? Jangan-jangan diam-diam sudah nikah."
"Dokter Raka makin mahal saja mukanya."
Raka menjawab seperlunya. Ia memilih kursi di sisi luar, bukan di tengah meja. Dimas duduk di sebelahnya, seolah siap menjadi penerjemah sosial.
"Lo nyari Rini?" bisik Dimas.
"Nanti."
"Sabar juga lo ternyata."
Raka mengambil air mineral. Ia tidak menyentuh wine yang disodorkan pelayan.
Satu per satu percakapan mengalir. Pekerjaan, anak, cicilan rumah, liburan, operasi plastik, sekolah internasional, proyek properti. Raka mendengarkan tanpa benar-benar hadir.
Sampai nama itu muncul.
"Eh, ada yang masih ingat Citra nggak?" tanya Yudha, tertawa sambil mengunyah sate lilit.
Meja yang tadinya ramai menjadi sedikit lebih ramai.
"Citra Ayuning?"
"Ya ampun, yang dulu selalu duduk pojok?"
"Yang badannya besar itu?"
"Jahat banget lo. Tapi iya."
Raka meletakkan gelasnya.
Dimas meliriknya.
Yudha tidak menyadari perubahan udara. Ia malah makin bersemangat karena merasa menemukan bahan obrolan.
"Kemarin gue lihat orang mirip dia di IG story temen. Tapi nggak mungkin. Yang itu cantik banget, kurus, kayak model brand lokal. Kalau Citra dulu..."
Ia membuat gerakan dengan kedua tangan, membulatkan pipi.
Beberapa orang tertawa.
Raka menatapnya.
Tawa itu pelan-pelan mereda.
"Kenapa?" Yudha mengangkat alis. "Lo tersinggung? Dulu bukannya lo yang paling dekat sama dia?"
Seorang perempuan bernama Maya mencondongkan tubuh. "Bener, kan? Dulu sempat gosip kalian pacaran."
"Gosip apaan," kata Yudha. "Raka mana mau serius sama cewek kayak gitu."
Dimas menginjak kaki Yudha di bawah meja.
"Aduh! Apa sih?"
Raka bersandar ke kursi. Suaranya datar ketika bertanya, "Cewek kayak gitu maksudnya apa?"
Yudha tertawa kaku. "Ya, maksud gue... lo tahu sendiri. Beda dunia."
"Dunia siapa?"
Meja menjadi diam.
Rini yang duduk di seberang akhirnya bicara. "Sudahlah. Kita sudah dewasa. Nggak enak bahas orang yang nggak ada."
"Lah, gue cuma bercanda." Yudha mengangkat kedua tangan.
"Dulu juga kalian bilang bercanda," kata Rini, lebih pelan.
Raka menatapnya.
Rini tidak menatap balik.
Maya mencoba mengalihkan topik, tapi terlambat. Nama Citra sudah masuk ke meja, dan tidak ada yang bisa berpura-pura tidak mendengar.
"Ada yang tahu dia sekarang di mana?" tanya Raka.
Semua mata mengarah padanya.
Yudha bersiul pelan. "Wah. Serius?"
Dimas menegur, "Yud."
Raka tidak mengalihkan mata dari Rini.
"Kau bilang pernah lihat dia."
Rini memegang gelasnya. "Aku tidak yakin itu dia."
"Ceritakan."
"Aku pernah lihat foto dari teman kantor adikku. Ada acara kecil brand fashion. Salah satu desainernya namanya Nadia Lestari. Wajahnya... mirip Citra, tapi jauh berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
Rini ragu. "Lebih kurus. Lebih tenang. Cantik. Tapi matanya sama."
Raka diam.
"Aku sempat mau menyapa lewat DM, tapi takut salah orang. Lagi pula, kalau benar dia Citra, mungkin dia memang tidak mau ditemukan."
Kalimat itu jatuh tepat di tempat yang sakit.
Maya mendesah. "Dulu kita memang keterlaluan."
"Kita?" Rini menatapnya. "Kamu yang paling sering menyembunyikan sepatunya."
Maya memucat. "Itu masa SMA."
"Dan dia masa SMA juga. Bedanya, kita pulang sambil tertawa. Dia pulang sambil menangis."
Tidak ada yang tertawa lagi.
Raka mendengar semuanya dengan rahang mengeras.
Ia tahu Citra sering menjadi bahan ejekan. Ia juga tahu sebagian detail. Tapi ada banyak hal yang tidak pernah ia tanyakan. Dulu, ia merasa cukup dengan menarik Citra menjauh dari kerumunan, membelikan minuman, menyuruhnya berhenti menangis.
Ia mengira itu perlindungan.
Mungkin bagi Citra, itu hanya jeda sebelum kembali disakiti.
"Raka," kata Maya, suaranya hati-hati, "kalau kau ketemu dia, bilang kami..."
"Jangan."
Maya terdiam.
Raka menatapnya. "Jangan menitip maaf pada orang yang kalian tidak berani cari sendiri."
Wajah Maya merah.
Dimas menepuk bahu Raka pelan, mencoba menurunkan ketegangan. "Rak, kita keluar sebentar?"
Raka berdiri.
Ia tidak pamit.
Di luar restoran, udara malam lebih lembap. Musik dari dalam terdengar samar. Dimas mengikuti sambil menghela napas.
"Lo datang buat cari jawaban, malah bikin semua orang keringat dingin."
"Aku tidak peduli."
"Kelihatan."
Raka berdiri di dekat parkiran. Ia menatap jalan, tapi pikirannya ada di ruang praktik rumah sakit, pada Nadia yang berdiri terlalu cepat, pada Alya yang bertanya polos.
"Lo sudah ketemu dia, kan?" tanya Dimas.
Raka tidak menjawab.
"Namanya Nadia?"
Diam.
Dimas mengusap wajah. "Ya Tuhan. Jadi benar?"
"Aku belum tahu."
"Tapi lo tahu."
Raka menoleh.
Dimas mengangkat bahu. "Lo orang paling rasional yang gue kenal. Kalau lo datang ke reuni cuma buat nanyain satu perempuan yang hilang tujuh tahun, berarti lo sudah tahu."
Raka menarik napas panjang.
"Dia punya anak."
Dimas langsung diam.
Beberapa detik berlalu.
"Umur?"
"Enam."
Dimas menatapnya, ekspresinya berubah.
"Rak..."
"Jangan."
"Gue belum bilang apa-apa."
"Jangan hitung apa pun di depan aku."
Dimas menutup mulutnya.
Namun angka itu sudah berdiri di antara mereka.
Tujuh tahun.
Anak enam tahun.
Perempuan yang dulu menghilang setelah ia pergi ke luar negeri.
"Kau ingat malam ulang tahunku?" tanya Raka.
Dimas mengerjap. "Yang di lounge? Sebelum lo berangkat?"
"Apa yang terjadi malam itu?"
"Banyak. Kita minum, anak-anak ribut, lo bete seperti biasa."
"Aku mengatakan sesuatu tentang Citra?"
Dimas terdiam.
"Jawab."
Dimas memasukkan tangan ke saku. "Ada yang meledek soal kalian. Lo bilang..."
Ia berhenti.
"Aku bilang apa?"
"Lo bilang, kurang lebih, jangan dibawa serius. Lo mau berangkat bulan depan. Cuma main-main."
Raka merasakan darahnya berhenti.
Dimas cepat menambahkan, "Tapi gue tahu lo mabuk dan kesal. Mereka terus mancing lo. Kita semua goblok waktu itu."
Raka menutup mata.
Di dalam kepalanya, pintu lama terbuka.
Citra berdiri di luar lounge.
Apakah ia datang malam itu?
Apakah ia mendengar?
"Dia ada di sana?" tanya Raka.
Dimas tidak langsung menjawab.
"Gue nggak lihat."
"Dimas."
"Gue benar-benar nggak lihat. Tapi besoknya, Citra tidak masuk. Setelah itu jarang muncul. Lalu hilang."
Raka membuka mata.
Jalan di depannya buram sebentar.
Dimas berkata hati-hati, "Kalau Nadia itu Citra, mungkin dia punya alasan kuat buat nggak mau ketemu lo."
Raka tertawa pendek. Tidak ada lucunya.
"Aku tahu."
"Dan kalau anak itu..."
"Cukup."
Dimas mengangguk.
Malam itu, Raka pulang lebih dulu. Di mobil, ia tidak menyalakan musik. Ia menyetir melewati jalan yang basah setelah hujan, lampu kota terpantul di aspal.
Ia berhenti di lampu merah.
Ponselnya ada di kursi sebelah.
Ia membuka chat dengan Nadia.
Tidak ada balasan baru.
Ia mengetik:
Maaf mengganggu malam-malam. Besok saya titip berkas di administrasi.
Ia menatap kalimat itu, lalu menambahkan:
Saya juga ingin memastikan Alya mendapat jadwal kontrol yang tepat.
Masih terdengar seperti dokter.
Aman.
Terkendali.
Ia mengirim.
Di kamar kontrakan, Nadia membaca pesan itu sambil duduk di pinggir kasur. Alya tidur memunggunginya. Nenek Sari sudah masuk kamar.
Nadia tidak membalas.
Ia membuka laci kecil di bawah lemari.
Di dalamnya ada satu amplop tua. Ia jarang membukanya. Hampir tidak pernah.
Namun malam ini tangannya bergerak sendiri.
Di dalam amplop itu ada potongan foto yang sudah digunting. Bukan foto Raka utuh. Hanya separuh wajahnya dari foto lama yang entah kenapa tidak pernah benar-benar sanggup ia buang.
Alya pernah menemukannya sekali.
Mungkin dari situlah ia berkata Dokter Raka mirip Papa.
Nadia menatap potongan foto itu.
Lalu ia merobeknya menjadi dua.
Kemudian empat.
Kemudian lebih kecil lagi.
Tapi setelah semua serpihan jatuh ke tempat sampah, dadanya tidak terasa lebih ringan.
Karena yang tersisa bukan foto.
Yang tersisa adalah suara Raka tujuh tahun lalu.
Cuma main-main.
Sebentar lagi aku pergi.
Nadia mematikan lampu.
Dalam gelap, ia berbisik pada dirinya sendiri.
"Dia tidak boleh tahu."
Alya bergerak dalam tidurnya, lalu memeluk lengan Nadia.
Nadia menahan napas.
"Tidak boleh."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
👀 calon mayit 👀
😲 owalaaaah
2026-06-10
0