Saat Dokter Itu Kembali
Bab 01
Nadia Lestari tidak pernah membayangkan akan melihat Raka Pradipta lagi di tempat seperti ini.
Bukan di reuni kampus.
Bukan di jalan saat hujan.
Bukan pula di mimpi buruk yang sesekali masih datang ketika tubuhnya terlalu lelah.
Ia melihat laki-laki itu di balik meja praktik, memakai jas dokter putih, dengan stetoskop tergantung rapi di leher. Rambutnya dipotong pendek, wajahnya lebih tegas daripada tujuh tahun lalu, dan matanya masih sama.
Dingin.
Tenang.
Seperti orang yang tidak pernah kehilangan apa pun.
"Nomor antrean berikutnya, Alya Putri Lestari."
Suara perawat dari pintu membuat kaki Nadia terasa kosong.
Alya menggenggam tangan ibunya. Jari kecilnya hangat, sedikit berkeringat karena mereka sudah menunggu hampir satu jam di ruang tunggu poli jantung anak.
"Mama," bisik Alya, "itu dokterku?"
Nadia ingin mundur.
Hanya satu langkah.
Lalu dua.
Lalu keluar dari ruangan itu, turun lift, naik ojek online, dan pulang ke kontrakan kecil mereka di Tebet seolah-olah pagi ini tidak pernah terjadi.
Namun berkas rujukan ada di tangannya. Hasil ekokardiografi lama ada di map biru. Janji temu hari ini sudah ia atur sejak tiga minggu lalu. Jadwal dokter anak jantung yang biasa menangani Alya mendadak penuh karena ada operasi, dan perawat menyarankan konsultasi dengan dokter pengganti dari tim bedah jantung.
"Dokter Raka hari ini yang pegang pasien follow up, Bu. Beliau konsultan bedah toraks kardiovaskular. Ibu jangan khawatir."
Jangan khawatir.
Kata itu terdengar lucu sekarang.
Nadia berdiri di ambang pintu, tidak bergerak.
Laki-laki di balik meja itu mengangkat wajah. Tatapannya singgah pada Alya lebih dulu, lalu pada Nadia.
Tidak ada perubahan di matanya.
Tidak ada terkejut.
Tidak ada nama lama yang jatuh dari mulutnya.
Ia tidak mengenalinya.
"Silakan masuk," katanya.
Suara itu.
Nadia menggigit bagian dalam pipinya sampai nyeri.
Alya menarik tangannya pelan. "Ma, ayo."
Nadia memaksa kaki melangkah. Ia duduk di kursi di depan meja dokter, sementara Alya duduk di sebelahnya sambil memeluk boneka kelinci bersayap lebah yang sudah buluk di bagian telinga.
Raka mengambil map dari tangan perawat.
"Alya Putri Lestari. Usia enam tahun." Ia membaca cepat, lalu menatap Alya. "Halo, Alya. Aku Dokter Raka."
Alya mengangguk. "Halo, Dok."
"Boleh Dokter dengar jantungnya?"
Alya menoleh pada Nadia dulu. Nadia mengangguk, meski tenggorokannya seperti disumpal kapas.
Raka berdiri, mengambil kursi kecil, lalu mendekat dengan gerakan yang tenang. Ia tidak terburu-buru. Tangannya profesional saat menempelkan stetoskop ke dada Alya, tapi Nadia tetap melihat jari-jari itu.
Jari yang dulu pernah menggenggam tangannya di lorong kampus.
Jari yang dulu pernah mengangkat dagunya saat ia menunduk terlalu lama.
Jari yang dulu tidak pernah datang ketika ia benar-benar membutuhkannya.
"Tarik napas, Alya."
Alya menarik napas.
"Buang pelan."
Anak itu menurut.
Raka mendengarkan beberapa titik, kemudian kembali duduk. Ia membuka hasil pemeriksaan, membandingkan dengan catatan sebelumnya.
"Keluhannya akhir-akhir ini apa, Bu?"
Nadia hampir tidak sadar ia yang ditanya.
"Kadang cepat capek," jawabnya pelan. "Kalau naik tangga terlalu banyak, napasnya berat. Tapi tidak sering pingsan. Batuk juga tidak."
"Obat masih diminum rutin?"
"Masih."
"Kontrol sebelumnya di RS daerah?"
"Iya. Dulu di Semarang. Setelah pindah ke Jakarta, kami pakai rujukan BPJS dulu. Tapi karena jadwalnya lama, beberapa pemeriksaan saya bayar mandiri."
Raka mengangguk. "Untuk kasus Alya, pemantauan harus rapi. Dari hasil lama, ada kelainan bawaan yang perlu dipantau ketat. Operasi mungkin belum sekarang, tapi dalam beberapa tahun ke depan harus disiapkan."
Nadia sudah tahu.
Ia sudah mendengar kalimat itu berkali-kali dari dokter lain.
Tetap saja, setiap kali kata operasi keluar, perutnya terasa seperti ditinju.
"Biayanya..." Suaranya tertahan. Ia tidak ingin terdengar miskin di depan Raka. Tidak lagi. "Saya akan cari jalan."
Raka menatapnya sedikit lebih lama.
Bukan tatapan kasihan.
Lebih seperti sedang menilai sesuatu yang tidak ia mengerti.
"Nanti saya bantu jelaskan alur medisnya. Kalau memakai BPJS, pastikan rujukannya aktif. Kalau ada pemeriksaan tambahan yang tidak bisa menunggu, rumah sakit punya program bantuan melalui yayasan. Ibu bisa konsultasi dengan bagian administrasi pasien."
Ibu.
Ia memanggilnya Ibu.
Dulu ia memanggilnya Citra.
Kadang, kalau sedang menggoda, ia memanggilnya "anak keras kepala".
Nadia menunduk. "Terima kasih, Dokter."
"Saya perlu tanya riwayat kelahiran Alya."
Jantung Nadia berhenti sesaat.
"Lahir cukup bulan?"
"Tidak."
"Prematur?"
"Iya."
"Di usia kandungan berapa?"
Nadia meremas ujung map di pangkuannya. "Tiga puluh empat minggu."
Raka mencatat.
"Persalinan di Semarang?"
"Bukan. Di kota kecil dekat sana."
"Ada komplikasi?"
Nadia mengangkat wajah. "Dokter perlu tahu untuk pemeriksaan jantungnya?"
Pertanyaan itu keluar lebih tajam dari yang ia rencanakan.
Raka berhenti menulis.
Ruang praktik mendadak terlalu sepi. Dari luar terdengar suara perawat memanggil nomor antrean lain, langkah orang di koridor, dan tangis bayi yang samar.
Raka meletakkan pena.
"Saya menanyakan riwayat kelahiran karena beberapa kondisi bayi prematur berpengaruh pada evaluasi. Kalau Ibu tidak nyaman, kita bisa bahas pelan-pelan."
Nada suaranya tetap datar.
Justru itu yang membuat Nadia makin ingin pergi.
Ia lebih siap jika Raka kasar. Ia lebih siap jika Raka dingin seperti dulu, menertawakan, meremehkan, atau bahkan tidak peduli.
Namun Raka di hadapannya berbicara seperti dokter yang baik.
Seperti orang asing yang sedang membantu anaknya.
"Ada komplikasi," jawab Nadia akhirnya. "Tapi saya tidak punya semua catatan lama."
"Tidak apa-apa. Nanti kita minta rekam medis tambahan kalau memungkinkan."
"Tidak perlu."
Raka menatapnya.
Nadia sadar ia terlalu cepat menjawab.
Ia menelan ludah. "Maksud saya, saya akan coba cari dulu di rumah."
Alya yang sejak tadi diam tiba-tiba menyentuh tangan Raka.
Sentuhan kecil itu membuat Nadia hampir berdiri.
"Dok," kata Alya, "Dokter pernah ketemu Mama?"
Nadia menahan napas.
Raka menoleh pada Alya.
"Kenapa tanya begitu?"
Alya memiringkan kepala. Rambutnya yang diikat dua bergerak pelan. "Soalnya Mama dari tadi pucat."
"Alya." Nadia mencoba tersenyum. "Mama cuma capek."
"Bukan." Alya menatap Raka lagi dengan mata bening yang selalu membuat Nadia sulit berbohong. "Dokter mirip orang di foto."
Darah Nadia seperti turun ke kaki.
Tidak ada foto Raka di rumah.
Tidak ada.
Ia sudah membuang semuanya.
Atau ia pikir begitu.
Raka menatap Nadia. Kali ini lebih lama. Ada sesuatu bergerak di balik matanya, kecil tapi tajam.
"Foto siapa?" tanyanya.
Alya membuka mulut.
Nadia langsung berdiri. Kursinya bergeser, menimbulkan suara kasar.
"Maaf, Dokter. Alya harus minum obat. Kami juga ada urusan lain." Ia meraih map, memasukkan kembali hasil pemeriksaan dengan tangan gemetar. "Untuk kontrol berikutnya, saya akan daftar lewat aplikasi."
Raka ikut berdiri.
"Bu Nadia, konsultasinya belum selesai."
Nama itu terdengar asing ketika keluar dari mulutnya.
Bu Nadia.
Bukan Citra.
Bagus.
Seharusnya bagus.
"Saya sudah mengerti garis besarnya." Nadia memegang bahu Alya. "Terima kasih."
Alya menatap ibunya bingung. "Ma, tapi Dokter belum kasih stiker."
Raka mengambil satu stiker kecil dari laci. Bentuknya bintang kuning.
Ia menyodorkannya pada Alya.
"Untuk pasien yang berani."
Alya menerimanya dengan senyum lebar. "Terima kasih, Dok."
Nadia tidak sanggup melihat senyum itu.
Ia menarik putrinya keluar.
Di koridor, napasnya baru pecah. Ia berjalan terlalu cepat sampai Alya harus setengah berlari.
"Ma, pelan-pelan."
Nadia berhenti di dekat lift, menekan tombol berkali-kali.
"Mama kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Mama mau nangis?"
Nadia menunduk, mengusap pipi putrinya. "Alya, dengarkan Mama. Dokter tadi hanya dokter. Jangan tanya hal aneh-aneh lagi, ya?"
Alya memeluk bonekanya lebih erat.
"Tapi dia mirip Papa."
Lift terbuka.
Nadia tidak langsung masuk.
Satu kalimat itu membuat seluruh tubuhnya dingin.
"Alya tidak punya papa seperti itu," katanya pelan.
Alya menatapnya dengan wajah terluka.
Nadia menyesal begitu kalimat itu keluar, tapi ia tidak bisa menariknya kembali.
Ia membawa Alya masuk lift.
Pintu tertutup.
Di dalam ruang praktik, Raka masih berdiri di tempatnya.
Ia menatap pintu yang sudah kosong.
Di meja, ada satu kertas kecil tertinggal di bawah map cadangan. Hasil lab lama. Mungkin jatuh saat Nadia terburu-buru.
Raka mengambilnya.
Nama pasien: Alya Putri Lestari.
Nama ibu: Nadia Lestari.
Bagian catatan kelahiran tampak pernah dikoreksi. Ada tinta berbeda, ada bekas penghapusan, ada satu nama fasilitas kesehatan di kota kecil yang samar.
Raka membaca nama kota itu.
Lalu sesuatu di dadanya bergerak.
Tujuh tahun lalu, dari kota itulah satu nomor asing pernah meneleponnya tengah malam.
Nomor yang tidak pernah ia ingat.
Nomor yang setelah diangkat tidak mengeluarkan suara.
Raka menutup mata sebentar.
Ketika membukanya lagi, wajahnya tetap tenang.
Tapi jari-jarinya mencengkeram kertas itu sampai ujungnya terlipat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments