Episode 5

Bab 05

Pagi di kontrakan Nadia selalu dimulai sebelum azan subuh selesai menggema.

Bukan karena ia rajin sekali.

Karena hidup tidak memberinya pilihan untuk bangun siang.

Ia menanak nasi, memanaskan sayur bening sisa semalam, merebus telur untuk bekal Alya, lalu menyiapkan obat yang harus diminum putrinya setelah sarapan. Setelah itu ia mengecek pesan dari klien, membalas revisi desain, dan memastikan tagihan listrik belum jatuh tempo.

Nenek Sari keluar dari kamar sambil memegang dada.

"Nek?"

"Nggak apa-apa. Cuma sesak sedikit."

Nadia langsung meninggalkan kompor. "Duduk dulu. Obatnya Nadia ambil."

"Kamu jangan panik terus. Nenek sudah tua. Sesak sedikit bukan berarti mau mati."

"Nenek jangan ngomong begitu."

Nenek Sari tersenyum lelah. "Ya sudah, Nenek tidak mati hari ini. Puas?"

"Nek."

Alya yang baru keluar kamar dengan rambut berantakan ikut cemberut. "Nenek nggak boleh mati."

"Iya, iya. Nenek tunggu Alya jadi dokter dulu."

"Aku nggak mau jadi dokter."

"Lalu?"

"Mau jadi pembuat baju kayak Mama."

Nadia sedang menuang air hangat, tangannya berhenti sesaat. Ia menoleh pada putrinya.

"Kenapa?"

Alya mengangkat bahu. "Karena Mama bisa gambar baju cantik. Tapi Mama jarang punya baju cantik."

Nenek Sari tertawa kecil. Nadia ikut tersenyum, meski ada bagian dadanya yang terasa lembut dan sakit bersamaan.

Ia memang jarang membeli baju untuk diri sendiri. Kain bagus lebih sering menjadi sampel klien. Uang lebih baik disimpan untuk obat Alya, kontrol rumah sakit, dan pemeriksaan Nenek.

Selesai sarapan, Nadia membantu Alya memakai seragam. Sekolah Alya tidak jauh, TK kecil yang menerima cicilan uang kegiatan tanpa banyak bertanya. Kepala sekolah tahu Nadia ibu tunggal. Atau setidaknya, begitu yang tertulis di percakapan para guru.

Tidak ada yang mengatakan langsung di depan Nadia.

Tapi ia tahu.

Ibu muda.

Anak sakit.

Ayah tidak pernah muncul.

Orang-orang tidak perlu berteriak untuk membuat seseorang merasa kecil.

"Ma, hari ini aku boleh bawa stiker bintang dari Dokter Raka?"

Nadia yang sedang mengikat rambut Alya berhenti.

"Untuk apa?"

"Mau tunjukin ke Hana. Katanya kalau dapat stiker dari dokter berarti berani."

"Boleh. Tapi jangan cerita macam-macam."

"Macam-macam apa?"

"Jangan bilang Dokter Raka mirip papa."

Alya menatapnya dari cermin kecil.

"Kenapa?"

Nadia menyisir rambutnya pelan. "Karena orang bisa salah paham."

"Kalau salah paham, tinggal dijelasin."

Anak kecil selalu membuat hidup terdengar mudah.

Nadia tersenyum tipis. "Tidak semua orang mau mendengar penjelasan."

Alya diam sebentar, lalu bertanya, "Papa aku jahat?"

Sisir di tangan Nadia terhenti.

Nenek Sari yang sedang mencuci gelas di dapur juga diam.

Nadia menatap wajah putrinya lewat cermin. Mata Alya besar, bening, dan terlalu mirip Raka saat sedang menunggu jawaban.

"Kenapa Alya tanya begitu?"

"Kalau Papa baik, kenapa dia nggak pernah datang?"

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Nadia berlutut di belakang putrinya.

"Alya, kadang orang dewasa membuat keputusan yang rumit. Bukan karena anaknya salah."

"Jadi aku nggak salah?"

"Tidak pernah."

"Mama juga nggak salah?"

Pertanyaan itu jauh lebih sulit.

Nadia mencium puncak kepala Alya. "Mama juga sedang belajar tidak menyalahkan diri sendiri."

Alya tampak tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia mengangguk.

Setelah mengantar Alya ke sekolah, Nadia pergi ke rumah sakit untuk mengambil berkas yang tertinggal. Ia memilih waktu ketika Raka seharusnya sedang operasi atau visite. Ia tidak ingin bertemu.

Di administrasi poli, perempuan petugas mencari mapnya.

"Atas nama Alya Putri, ya, Bu?"

"Iya."

"Sebentar. Tadi Dokter Raka titip langsung."

Nadia mengangguk kaku.

Petugas menyerahkan amplop cokelat. "Ini. Dokter juga menulis catatan jadwal kontrol dan pemeriksaan lanjutan. Katanya kalau Ibu kesulitan daftar, bisa hubungi perawat koordinator."

"Terima kasih."

Nadia segera berbalik.

"Bu Nadia."

Langkahnya berhenti.

Suara itu datang dari belakang.

Ia menutup mata sebentar, lalu berbalik.

Raka berdiri tidak jauh dari meja administrasi. Ia tidak memakai jas dokter putih, hanya kemeja biru muda dengan lengan digulung. Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap rapi.

"Saya pikir Dokter ada operasi."

"Operasi ditunda satu jam."

"Oh."

Percakapan berhenti di sana.

Petugas administrasi pura-pura sibuk dengan komputer. Perawat di ujung meja mencuri pandang. Nadia tahu betapa mudah gosip lahir di ruang seperti ini.

"Terima kasih berkasnya," kata Nadia.

"Sama-sama."

"Saya pulang dulu."

"Boleh saya bicara sebentar?"

"Tentang Alya?"

"Tentang kontrol Alya."

Nadia menatapnya, mencoba membaca apakah itu benar. Raka tidak menghindar.

"Lima menit," katanya.

Mereka berjalan ke sudut koridor dekat vending machine. Tempat itu masih terlihat dari administrasi, cukup aman untuk tidak menimbulkan cerita aneh.

Raka menyerahkan satu kartu nama.

"Ini nomor perawat koordinator poli jantung anak. Kalau Alya sesak, pingsan, bibir kebiruan, atau cepat lelah berlebihan, hubungi nomor ini. Jangan menunggu jadwal kontrol."

Nadia menerima kartu itu.

"Saya tahu tanda-tandanya."

"Saya yakin Ibu tahu. Saya hanya memastikan."

"Saya bukan ibu yang ceroboh."

"Saya tidak mengatakan begitu."

Nadia menarik napas.

Ia sadar dirinya defensif. Setiap kalimat dari Raka terasa seperti tangan yang mencoba membuka laci yang ia kunci rapat-rapat.

"Maaf," katanya, meski suaranya tidak terdengar menyesal. "Saya sedang banyak pikiran."

"Saya mengerti."

"Dokter tidak mengerti."

Raka diam.

Nadia langsung menyesal lagi. Namun kali ini ia tidak meminta maaf.

Raka menatap kartu di tangan Nadia. "Saya juga ingin bertanya. Di catatan kelahiran Alya, ada bagian yang tidak lengkap. Saya butuh informasi untuk menilai riwayat medisnya."

"Dokter lain tidak pernah mempermasalahkan."

"Mungkin karena mereka tidak melihat catatan lama yang sama."

"Atau karena mereka tahu batas."

Kalimat itu keluar terlalu tajam.

Raka tidak tersinggung. Setidaknya tidak terlihat.

"Batas apa yang menurut Ibu saya lewati?"

Nadia menggenggam amplop cokelat sampai sudutnya tertekuk.

"Dokter Raka," katanya pelan, "saya datang sebagai ibu pasien. Saya tidak ingin membahas hal lain."

"Saya belum membahas hal lain."

"Bagus. Jangan."

Mata Raka berubah sedikit.

Seperti ia mendengar sesuatu di balik larangan itu.

"Baik," katanya.

Nadia terkejut. Ia mengira Raka akan mendesak. Raka yang ia kenal dulu selalu menekan sampai mendapat jawaban. Raka yang dulu tidak terbiasa ditolak.

Namun laki-laki di hadapannya hanya mundur setengah langkah.

"Kalau begitu, kita bahas Alya saja. Jadwal kontrol berikutnya dua minggu lagi. Saya sarankan pemeriksaan tambahan. Tidak harus dengan saya, kalau Ibu tidak nyaman."

Kalau Ibu tidak nyaman.

Nadia benci karena kalimat itu membuatnya goyah.

"Saya akan pikirkan."

"Baik."

"Terima kasih."

Ia pergi sebelum Raka sempat mengatakan apa pun lagi.

Di lift, Nadia menekan tombol turun. Pintu hampir tertutup ketika seseorang menahan dari luar.

Seorang perempuan masuk.

Tinggi, wangi parfum mahal, rambut panjang tertata. Ia memakai blazer krem dan membawa tas kecil dari merek yang Nadia kenal hanya dari katalog.

Perempuan itu tersenyum sekilas pada Nadia, lalu menatap ke luar lift.

"Raka," panggilnya.

Nadia menegang.

Raka yang masih di koridor menoleh.

"Sore nanti jangan lupa ke acara yayasan," kata perempuan itu. "Mama tanya kamu datang sama siapa."

"Aku datang sendiri."

"Masih sendiri?" Perempuan itu tertawa manis. "Kebiasaan."

Pintu lift menutup sebelum Nadia mendengar jawaban Raka.

Perempuan itu menoleh padanya.

"Lantai dasar?"

Nadia mengangguk.

"Ibu pasien?"

"Iya."

"Oh." Senyum perempuan itu tetap sopan, tapi matanya menilai cepat dari sepatu Nadia yang sederhana sampai amplop cokelat di tangannya. "Semoga anaknya cepat sehat."

"Terima kasih."

Lift turun.

Nadia menatap angka lantai yang berganti.

Ia tahu perempuan seperti itu. Dunia Raka penuh dengan perempuan seperti itu. Rapi, mahal, cocok berdiri di sampingnya dalam acara keluarga, tidak membuat siapa pun bertanya mengapa laki-laki sekelas Raka memilihnya.

Dulu ia pernah berdiri di luar dunia itu, membawa hadiah pulpen murah dan hati yang terlalu mudah percaya.

Ketika keluar dari lift, Nadia berjalan lebih cepat.

Di koridor atas, perempuan itu sudah kembali pada Raka.

"Pasienmu?" tanyanya.

Raka menatap pintu lift yang tertutup.

"Ya."

"Cantik."

Raka tidak menjawab.

Perempuan itu tersenyum tipis. "Jangan bilang kau tertarik pada ibu pasien."

Raka menoleh.

Tatapannya dingin.

"Yasmin, jangan bercanda soal pasien."

Yasmin mengangkat kedua tangan. "Galak sekali."

Raka tidak mendengar lagi.

Di kepalanya hanya ada suara Nadia.

Saya datang sebagai ibu pasien.

Saya tidak ingin membahas hal lain.

Ia seharusnya menghormati itu.

Ia akan menghormati itu.

Namun ketika lift tadi menutup, Raka melihat tangan Nadia gemetar memegang amplop.

Dan ia tahu, apa pun yang disembunyikan perempuan itu, jawabannya tidak akan sederhana.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!