Bab 2

Wajah pria tua itu sangat terkejut mendengar ucapan Yunan.

"Kenapa?" tambah seorang wanita tua yang juga tertatih keluar dari rumah reot nya.

"Nenek...hiks!"

Yunan berlari ke arah nenek itu, merangkulnya dan pura-pura sangat ketakutan.

"Ada mayat nenek, di rumah ada mayat. Matanya terbuka, aku takut..."

"Mayat siapa?" tanya kakek tua itu penasaran.

Yunan segera membelalakkan matanya yang sudah penuh dengan air mata itu.

"A... ayah..."

"Hah, bagaimana bisa? tadi baru saja Yanhui lewat sini..."

"Kakek, ada satu lagi. Aku terlalu takut untuk melihat siapa itu!"

"Anak manis, kasihan sekali. Kakek, cepat panggil kepala desa!"

Yunan tersenyum menyeringai. Dia dulu menjadi tontonan semua orang ketika ayah palsunya itu memergoki Sufeng yang melecehkannyaa. Tapi sekarang, dia akan mengaturnya sedemikian rupa. Hingga pada akhirnya orang-orang yang berniat menjebaknya itu yang akan celaka.

Kakek itu pun segera pergi ke rumah kepala desa. Sementara si nenek, berusaha untuk menenangkan Yunan.

Tak lama rombongan kepala desa datang. Orang-orang di desa itu sudah tidak terkejut lagi bagaimana mereka melihat Yunan setelah hari menangis.

Kedua orang tuanya memang selalu memperlakukan dirinya dengan sangat tidak baik. Kadang di depan warga desa yang lain, Mo Bian, ibu palsu Yunan itu kerap memukul dan mencambuk Yunan. Masalahnya selalu sepele, kadang tidak banyak mendapat jamur di hutan, kadang salah memotong sayuran. Bahkan hanya untuk kesalahannya menyapu terlalu berisik saja, orang tua Yunan kerap memukul.

Tapi, setahu warga desa. Yunan paling hanya menangis. Gadis itu tidak pernah melawan. Setahu mereka, Yunan adalah gadis yang sangat lemah.

Melihat Yunan menangis terisak dan ketakutan, warga desa agak penasaran. Apalagi kepala desa.

"Yunan, kata kakek Sun kamu melihat mayat?" kepala desa datang dan bertanya dengan cepat.

Yunan yang masih terisak segera menganggukkan kepalanya, membenarkan hal itu.

"Iya pak kepala desa, di rumah... di rumah, a... yah mati!"

Seluruh warga desa yang ikut dengan kepala desa tercengang. Dan langsung bergunjing satu sama lain.

"Yunan, ayo kita lihat!" anak kepala desa.

"Kasihan sekali anak itu!"

"Tapi kenapa Chao Yanhui bisa mati? bukannya tadi sore masih mencari ikan di sungai?"

"Entahlah!"

Terdengar para warga yang sibuk berspekulasi. Yunan masih terus merangkul lengan nenek Sun dan berjalan mengikuti kepala desa menuju ke rumahnya.

"Anak ini tadi berlari ketakutan, dia berteriak minta tolong. Pas aku tanya, di rumahnya ada mayat katanya. Mayat ayahnya matanya terbuka" jelas kakek itu pada kepala desa.

Kepala desa mengangguk pelan. Dan terus berjalan ke arah rumah Chao Yanhui, orang tua palsu Yunan.

Kepala desa membuka pintu. Dan rumah itu gelap sekali.

"Nyalakan lilin!" perintah kepala desa.

Dan seorang pria menyalakan lilin. Warga desa langsung terkejut, di kamar itu tergeletak Chao Yanhui dengan mata terbuka. Dan tak jauh dari sana, seorang pria juga tampak sudah tergelak.

"Siapa lagi itu?"

"Ada dua mayat!"

"Bagaimana bisa?"

Warga kembali bergunjing. Dan seorang pemuda yang tadi menyalakan lilin memeriksa mayat yang satunya lagi.

"Ini Sufeng!" teriaknya yang juga terkejut.

Kepala desa mendekat, warga sudah menjadi ramai. Mereka cukup terkejut. Kenapa Sufeng mati di tempat itu.

Namun yang mencengangkan kepala desa, ketika dia memeriksa mayat itu dan menemukan pakaian dalam wanita.

"Ini, milik siapa?" tanya kenapa desa menunjukkan pakaian dalam itu pada Yunan.

Yunan segera berakting sangat terkejut.

"Hah, itu... itu punya ibu!"

"Hah, punya Mo Bian. Jangan-jangan mereka berkelahi karena Mo Bian dan Sufeng ketahuan selingkuh oleh Chao Yanhui"

Yunan tersenyum puas dalam hatinya. Memang seperti itulah para warga desa. Mereka selalu bicara sesuai dengan apa yang mereka lihat. Mau itu benar atau salah, mereka selalu percaya pada apa yang mereka lihat sebagai bukti.

Itulah kenapa, Yunan sengaja mengeluarkan pakaian dalam ibu palsunya dan menyisipkan di pakaian Sufeng.

"Ternyata ibu..." Yunan kembali menangis di pelukan nenek Sun.

"Yang sabar ya anak baik!" kata nenek Sun berusaha menghibur Yunan.

"Ini keterlaluan pak kepala desa!" seru seorang warga.

"Benar, Mo Bian sudah mencemari desa kita. Dia itu seorang wanita bersuami. Bikin malu saja dia berselingkuh dengan mata keranjang Sufeng itu!"

"Benar kepala desa!"

"Masukan dia ke keranjang babi!"

"Bakar saja, supaya tidak ada yang seperti ini lagi"

Yunan memeluk nenek Sun dengan erat.

"Pantas saja belakangan ayah dan ibu sering bertengkar. Rupanya ibu berselingkuh hiks hiks!"

Yunan sengaja mengatakan semua itu supaya api kekesalan dan kemarahan warga desa semakin besar. Sebelum Mo Bian dan Chao Yanhui nanti menjadi pemicu kekesalan orang tua kandungnya, seperti di kehidupan lalunya. Yunan memang harus menyingkirkan mereka. Gara-gara dua orang jahat itu juga, selama 17 tahun lebih kehidupannya di masa lalu dia menjadi budak dan selalu mendapatkan siksaan.

"Keterlaluan sekali! dimana Mo Bian!" pekik kepala desa yang juga sudah terpengaruh dan menjadi geram atas kelakuan salah satu warganya.

Yunan menggelengkan kepalanya.

"Tidak tahu pak kepala desa, sebelum ibu pergi dia hanya memintaku membersihkan kandang. Katanya jangan kembali sebelum tengah malam, tapi aku haus... " ucapnya ketakutan.

Nenek Sun mengusap lembut kepala Yunan.

"Tidak apa-apa nak, tidak apa-apa!" ujar nenek tua itu.

Hingga beberapa saat kemudian, salah satu warga yang ada di luar melihat Mo Bian mengendap-ngendap. Warga itu pun merasa aneh.

"Pak kepala desa, itu Mo Bian datang. Tapi kenapa dia mengendap-ngendap?"

Pertanyaan warga itu membuat Yunan semakin puas. Bukankah cara masuk ke dalam rumah sendiri yang dilakukan Mo Bian sangat mencurigakan.

"Sufeng, bagaimana?" Mo Bian langsung bicara seperti itu begitu mendekati kamar Yunan.

Dia ingin tahu apa Sufeng sudah berhasil melecehkann Yunan.

"Jadi memang kamu yang meminta Sufeng menghabisi suamimu sendiri?" tanya kepala desa.

Kepala desa dan para warga keluar. Mo Bian terkejut bukan main.

"Kalian! apa yang kalian lakukan di rumah ku?" tanya wanita yang mungkin sebentar lagi tinggal nama itu.

"Jangan pura-pura lagi Mo Bian! kamu berselingkuh dengan Sufeng. Dan menyuruh Sufeng menghabisi Chao Yanhui kan?" pekik salah satu warga.

Mo Bian sangat terkejut. Dia segera menggelengkan kepalanya.

"Tidak! Tidak begitu..."

"Ibu, kenapa ibu tega pada ayah?"

Mata Mo Bian terbelalak lebar, dia langsung menunjuk ke arah Yunan.

"Kamu... ini semua pasti ulahmu!"

"Tega sekali kamu! sudah selingkuh, sekarang memfitnah anak malang ini!" nenek Sun membela Yunan.

"Masukkan dia dalam keranjang babi!"

"Iya, betul tenggelamkan di sungai!"

"Tenggelamkan!"

"Tidak, bukan aku!" pekik Mo Bian.

Tapi warga sudah tidak mendengarkan ucapannya. Warga menangkapnya dan memasukkan ke dalam keranjang babi.

***

Bersambung...

Terpopuler

Comments

𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒

𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒

lemah lembut seperti debu🤭

2026-06-08

2

𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒

𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒

kayak tikus aja masuk jebakan lalu ditenggelamkan sampai mati🤭

2026-06-08

2

dome🌬️🌀🌀🌀

dome🌬️🌀🌀🌀

MAMPUSSSSSSS😈😈😈😈😈
Makanya jadi manusia Jagan kelewat jahat. kan kena karmanya. bagaimana rasanya diperlakukan secara tidak adil dan selalu disiksa

2026-06-22

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
Episodes

Updated 147 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!