2. Memulai dan selesai di rumah kita

“Sekarang.”

Begitu pintu kamar dibuka oleh Adinata, Nadine sudah berdiri dengan membawa map merah di tangannya.

Adinata menghembuskan nafasnya. “Aku baru pulang kerja. Bisa kamu tunggu aku untuk mandi dulu, Nadine?”

“Tidak bisa.” Nadine menatap Adinata dengan tajam. “Sesuai perkataanmu saja, Adinata. Sekarang kamu dan aku berada di rumah yang sama, jadi cepat tanda tangani. Tidak usah bertele-tele.”

“Beri aku alasan, kenapa kamu ingin sekali berpisah dariku, Nadine?”

Pintu kamar mereka sengaja Adinata kunci tanpa memandang caranya mengunci pintu. Ia melangkahkan kakinya memangkas jarak mereka berhadapan. Hanya menyisakan satu langkah saja.

“Aku hanya ingin cerai denganmu. Tidak usah bertanya tentang alasannya. Aku hanya ingin bercerai saat ini juga denganmu, cukup itu saja yang harus kamu tahu, Adinata.”

Adinata terkekeh. “Jawab.”

Tidak membentak. Adinata hanya memberi tekanan pada ucapannya.

Nadine memundurkan langkahnya ketika pandangan mata Adinata sudah berubah.

“Beri saja jawabanmu, Nadine. Aku perlu mengerti sebelum memberi tanda tangan di kertas sialan yang kamu bawa ini.” Map merah di tangan Nadine diambil paksa oleh Adinata dan dilemparkan begitu saja di lantai. “Kamu hanya perlu menjawab dan aku akan mendengarkannya, sayang.”

“Adinata berhenti.” Nadine menahan dada Adinata agar tidak semakin membuat dirinya terpojok.

“Terlambat, sayang,” ejek Adinata.

Tubuh kecil Nadine sudah terhimpit diantara tubuh kekar Adinata dan tembok kamar ini.

Nadine melayangkan tatapan kesal ke Adinata. “Minggir.”

Adinata menggelengkan kepalanya. “Tidak. Sebelum kamu memberi jawaban yang masuk ke akal kepadaku.” Tangan kanan Adinata mengusap pipi Nadine dengan usapan lembut, penuh perhatian dan kasih sayang.

Nadine menghindari usapan Adinata di pipinya. “Singkirkan tanganmu, Adinata.”

“Tidak mau.” Adinata memberi gelengan kepala dengan wajah yang semakin mendekat. “Aku ingin mencium bibirmu, Nadine.”

“TIDAK.”

Penolakan Nadine tidak berguna. Adinata sudah membekap bibir Nadine dengan bibir miliknya.

Nadine memberi protes. Ia mencoba memberontak dengan menggerakkan wajahnya ke kanan dan kiri.

Adinata yang kesal dengan respon Nadine memberi gigitan kecil di bibir Nadine sampai mengeluarkan darah segar karena ulahnya.

Adinata terkekeh. “Aku suami kamu, Nadine. Kita sah secara agama dan negara.”

“Ceraikan aku.”

“Jawab dulu pertanyaan yang aku beri, Nadine.” Di posisi yang masih sama, tangan kanan Adinata kembali mengelus pipi Nadine dengan lembut.

“Lepaskan aku dulu.”

“Tidak mau. Kita tidak usah bercerai. Aku akan memperbaiki kesalahan di pernikahan ini.”

Nadine tertawa kecil. “Kamu berani membantah ibumu dan keluarga besarmu, Adinata?”

Adinata terdiam, tapi tidak dengan tatapan matanya.

“Sudahlah. Dengan perceraian kita, anggap saja aku juga membantumu. Kamu tidak perlu repot lagi menyatukan aku dan keluarga besarmu ditempat yang sama. Kamu tidak akan mendapat dosa lagi karena membantah omongan ibumu.”

“Kamu akan menjauh dariku?”

Nadine menganggukkan kepalanya. Keputusannya sudah ia pertimbangkan dengan penuh keyakinan. “Itu lebih baik untuk mentalku.”

“Aku tidak bisa memperbaikinya lagi, Nadine?”

“Aku tidak ingin kamu memperbaikinya, Adinata. Lagi pula, apa yang akan kamu perbaiki? Hubunganmu denganku atau hubunganmu dengan ibumu?”

Adinata berada di pilihan yang sulit. Antara sang ibu atau sang istri. Adinata tidak ingin memilih. Ia masih ingin ibunya tetap disini dan memiliki Nadine sebagai istrinya.

“Setelah mendapat tanda tanganku, apakah kamu akan bahagia?”

“Sangat bahagia.” Nadine menatap Adinata dengan tatapan bahagia. “Hidupku hanya sekali di dunia ini. Sia-sia saja jika aku harus terus-menerus untuk bersedih.”

Adinata menghembuskan nafasnya secara kasar di depan wajah Nadine. Setelahnya ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh sang istri. Ia melepas jas dan dasi dari tubuhnya.

“Kamu.” Adinata tertawa. Tangannya membuka 2 kancing kemejanya dengan kasar. “Puaskan aku. Setelahnya aku akan memberi tanda tanganku dan aku segera mendaftarkan perceraian kita di pengadilan.”

Mata Nadine terbuka dengan lebar. “Kamu gila!”

“Setidaknya aku masih bisa merasakan milikmu sebelum kita resmi bercerai, Nadine.” Adinata menatap wajah Nadine dengan lapar. “Pilihanmu hanya iya, Nadine.”

“Sialan.”

“Kamu menolaknya? Berarti aku tidak perlu memberi tanda tanganku.”

“Perceraian ini juga memberi keuntungan untukmu, Adinata.” Suara Nadine sengaja dikeraskan.

“Pelankan suaramu, Nadine. Cukup desahanmu saja yang perlu kamu keraskan di depanku.” Adinata melipat tangannya di depan dada. “Pilihlah, sayang. Aku tidak sesabar itu untuk menunggu.”

Tangan Nadine mengepal di sebelah tubuhnya. Adinata brengsek!

“Tidak memakai alat kontrasepsi dan keluar di dalam.”

“KAMU GILA?!” bentak Nadine dengan keras.

Adinata menghela nafasnya. “Sudah ‘ku bilang, Nadine. Cukup desahanmu saja yang kamu keraskan.”

Nadine menatap Adinata dengan tajam. “Aku tidak mau.”

“Iya sudah. Aku tidak rugi.” Adinata melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.

“Tunggu.” Nadine menggigit kuku jari telunjuknya. Dengan ragu ia menyuruh Adinata untuk menunggu. “Sekali. Setelahnya beri tanda tanganmu di kertas ini.”

Adinata belum ingin membalikkan tubuhnya. Ia terkekeh. “Sekali? Tidak.”

“Maumu bagaimana, Adinata?”

“Sampai aku puas. Setelahnya aku kabulkan permintaanmu.”

Kedua mata Nadine terbuka dengan lebar. Jika sampai Adinata puas, sama saja dengan Nadine yang akan langsung pingsan karena menuruti keinginan Adinata.

“Baiklah.”

Nadine memegang perutnya sebentar. Bantu Mama, ya, Nak. Ini untuk kebaikan kita nantinya, Nak. Setelahnya ia jauhkan tangannya dan melangkahkan kakinya menghampiri Adinata yang sudah membalikkan tubuhnya. Tatapannya lapar seolah menunggu santapan lezat.

“Aku tidak akan memaksa kamu. Kamu yang memilih sendiri pilihannya, Nadine.”

Episodes
1 1. Surat perceraian
2 2. Memulai dan selesai di rumah kita
3 3. Menikmati untuk terakhir kalinya
4 4. Sudah tertanda tangani
5 5. Membawa harapan baru
6 6. Dijemput untuk menjauh
7 7. Hari pertama di toko roti
8 8. Desakan dari sang mama
9 9. Surat perceraian palsu
10 10. Mencari cara
11 11. Pemeriksaan di rumah sakit
12 12. Di pinggir sungai kecil
13 13. Merusuhi Adinata
14 14. Susu ibu hamil
15 15. Pertama kali Nadine mengidam
16 16. Adinata merasa sakit
17 17. Nadine berbelanja di pasar tradisional
18 18. Pertemuan Nadine dan Dokter Arjuna
19 19. Adinata dan teman-temannya
20 20. Xavier, Gerry dan kebohongan
21 21. Mencari celah untuk bertemu
22 22. Teman lama dan tetangga baru
23 23. Toko roti Pelipur Lapar
24 24. Makan malam Fregy
25 25. Pelanggan baru namanya Reyka
26 26. Meeting pagi
27 27. Menu makan pagi
28 28. Rumah yang dipenuhi dengan dusta
29 29. Bayi laki-laki
30 30. Cara kotor Adinata
31 31. Mendapat pendapatan
32 32. Fregy dan Xavier
33 33. Akhirnya bertemu Nadine
34 34. Terasa menengangkan
35 35. Ruang pendekatan
36 36. Nadine dan Reyka
37 37. Kemarahan keluarga besar
38 38. Dua adik perempuan Adinata
39 39. Bersembunyi dari Gerry
40 40. Kekhawatiran karena orang tua datang
41 41. Wajah orang-orang unik
42 42. Tempat yang tidak jauh dari rumah
43 43. Percobaan dengan jabatan baru
44 44. Rindunya kian bertambah
45 45. Persiapan Nadine menjadi seorang ibu
46 46. Incaran keluarga serakah
47 47. Syukuran kebahagiaan
48 48. Hari yang suram bagi Adinata
49 49. Rumah baru Nadine
50 50. Melihat keluarga bahagia di depan mata
51 51. Kasih sayang tiada batas dari (bukan) keluarga kandung
52 52. Akan terpenuhi dengan baik
53 53. Kelas prenatal
54 54. Adinata membuang sial
55 55. Ketakutan yang semoga tidak nyata
Episodes

Updated 55 Episodes

1
1. Surat perceraian
2
2. Memulai dan selesai di rumah kita
3
3. Menikmati untuk terakhir kalinya
4
4. Sudah tertanda tangani
5
5. Membawa harapan baru
6
6. Dijemput untuk menjauh
7
7. Hari pertama di toko roti
8
8. Desakan dari sang mama
9
9. Surat perceraian palsu
10
10. Mencari cara
11
11. Pemeriksaan di rumah sakit
12
12. Di pinggir sungai kecil
13
13. Merusuhi Adinata
14
14. Susu ibu hamil
15
15. Pertama kali Nadine mengidam
16
16. Adinata merasa sakit
17
17. Nadine berbelanja di pasar tradisional
18
18. Pertemuan Nadine dan Dokter Arjuna
19
19. Adinata dan teman-temannya
20
20. Xavier, Gerry dan kebohongan
21
21. Mencari celah untuk bertemu
22
22. Teman lama dan tetangga baru
23
23. Toko roti Pelipur Lapar
24
24. Makan malam Fregy
25
25. Pelanggan baru namanya Reyka
26
26. Meeting pagi
27
27. Menu makan pagi
28
28. Rumah yang dipenuhi dengan dusta
29
29. Bayi laki-laki
30
30. Cara kotor Adinata
31
31. Mendapat pendapatan
32
32. Fregy dan Xavier
33
33. Akhirnya bertemu Nadine
34
34. Terasa menengangkan
35
35. Ruang pendekatan
36
36. Nadine dan Reyka
37
37. Kemarahan keluarga besar
38
38. Dua adik perempuan Adinata
39
39. Bersembunyi dari Gerry
40
40. Kekhawatiran karena orang tua datang
41
41. Wajah orang-orang unik
42
42. Tempat yang tidak jauh dari rumah
43
43. Percobaan dengan jabatan baru
44
44. Rindunya kian bertambah
45
45. Persiapan Nadine menjadi seorang ibu
46
46. Incaran keluarga serakah
47
47. Syukuran kebahagiaan
48
48. Hari yang suram bagi Adinata
49
49. Rumah baru Nadine
50
50. Melihat keluarga bahagia di depan mata
51
51. Kasih sayang tiada batas dari (bukan) keluarga kandung
52
52. Akan terpenuhi dengan baik
53
53. Kelas prenatal
54
54. Adinata membuang sial
55
55. Ketakutan yang semoga tidak nyata

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!