Kembalikan Anakku, Adinata

Kembalikan Anakku, Adinata

1. Surat perceraian

“Aku tidak ingin melanjutkan pernikahan ini denganmu lagi, Adinata.” Map merah dilemparkan dengan keras ke meja milik Adinata.

Adinata yang duduk dengan bangga di kursi kerjanya mengeluarkan tawa kecil. “Akan aku beri tanda tangan, jika kamu sudah bersiap untuk angkat kaki dari rumah kita tanpa membawa harta sepeserpun, Nadine.”

“Dari lama aku sudah bersiap, Adinata.”

“Ulangi.”

Nadine tertawa sambil mencoba tetap berani membalas tatapan tajam dari mata Adinata. “Aku siap angkat kaki dari rumah kita tanpa membawa apapun dari dalam sana. Sudah dari lama aku menahan semua perasaan sedihku di depanmu, Adinata.”

Adinata berdecih. “Apa kurang semua fasilitas yang aku beri ke kamu, Nadine?”

“Tidak. Kamu memberi banyak sekali fasilitas yang aku tidak yakin untuk menikmatinya sendiri.” Nadine memberi tawa kecil di akhir kalimatnya.

“Apa yang kamu inginkan, Nadine?”

“Beri tanda tanganmu disini di kertas ini, Adinata.”

Adinata tertawa kecil. “Kita bicarakan nanti ketika aku sudah pulang ke rumah kita.”

“Tidak. Aku ingin sekarang.” Nadine masih berdiri walau hatinya berdegup kencang karena takut jika emosi Adinata meluap.

“Jangan keras kepala.” Adinata berdiri dari duduknya. “Pulanglah dulu. Kita selesaikan di dalam rumah dengan kepala yang sama-sama dingin, Nadine.”

“Aku hanya ingin kamu bubuhkan tanda tanganmu saja, Adinata. Aku tidak menginginkan hal lain.”

“Apa yang salah dari aku, Nadine?”

“Tidak ada yang salah denganmu karena kesalahan itu ada di aku.” Suaranya serak karena emosi yang tertahan di hatinya.

“Lalu, kenapa harus berpisah? Kenapa tidak kita perbaiki bersama-sama, sayang?” Adinata melangkahkan kakinya untuk menyusul Nadine.

Nadine memundurkan langkahnya. “Tidak bisa. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Biarkan saja semuanya.”

Adinata menghentikan langkah kakinya ketika melihat istrinya mundur beberapa langkah ke belakang. “Aku tidak mengerti. Jelaskan saja apa yang membuat kamu keukeuh untuk berpisah?”

Nadine menggelengkan kepalanya. “Apa kedua matamu tidak bisa melihat orang tuamu, adikmu, nenekmu dan seluruh keluarga besarmu, BAGAIMANA MEREKA MEMPERLAKUKAN AKU KETIKA AKU DIDEKAT MEREKA, ADINATA?!”

Adinata menatap istrinya yang berdiri di depannya dengan wajah yang sudah terkontaminasi dengan air mata. “Sayang…”

“Aku hanya ingin berpisah denganmu, Adinata. Tolong, jangan persulit aku lagi.” Nadine tidak bisa menahan air matanya yang mengalir semakin deras. “Perlu aku bersujud di depanmu? Akan aku lakukan jika setelahnya kamu menandatangani surat perceraian kita, Adinata. Aku mohon.”

Adinata menggelengkan kepalanya berulang kali. Melihat emosi Nadine yang kacau saat ini, Adinata rasa ia tidak dapat berbuat banyak. “Tenangkan dirimu dulu. Kita akan berbicara lagi tentang surat ini ketika aku sudah selesai bekerja.”

Nadine menggelengkan kepalanya sebagai penolakan. “Sekarang. Tidak ada kata nanti atau besok.”

“Tidak bisa.” Adinata menatap Nadine dengan tatapan tajam, tapi setelahnya ia melunak. “Ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda atau pun dibatalkan hari ini. Aku harap kamu mengerti kesibukanku sebentar saja. Aku akan bicara lagi tentang surat ini nanti malam.”

Nadine tertawa kecil dengan air mata yang masih mengalir dari matanya. “Berhenti membual! Aku hanya ingin kamu memberi tanda tangan. Aku tidak ingin lagi membicarakan sumber dari sakit hatiku, Adinata.”

“Selain menandatangani surat itu, apa yang bisa aku lakukan untukmu, Nadine?” Suara Adinata merendah, seolah ego-nya ikut ia rendahkan di depan istrinya, miliknya, dunianya—Nadine.

“Tidak ada. Aku tidak ingin apapun darimu. Aku hanya ingin kita berpisah.”

“Aku menolak.”

“Aku tidak membutuhkan keputusanmu. Aku tidak peduli dengan penolakanmu, Adinata.”

“Turunkan sedikit egomu, Nadine.”

“Begitu juga denganmu.” Nadine memajukan satu langkahnya. “Aku rasa sudah cukup untuk aku mendapatkan cacian kotor dari mulut keluargamu, Adinata.”

“Kita bisa memperbaikinya.” Adinata masih tetap dengan penolakannya.

Nadine terkekeh. “Bagaimana caramu? Diam dan membiarkan mereka berteriak dengan kencang untuk menyalahkanku?”

Adinata diam, tapi matanya memandang tepat di mata Nadine.

“Aku tidak mau memundurkan rencanaku, Adinata.” Telunjuk Nadine terarah ke wajah Adinata. “Kamu hanya perlu tanda tangan dan selesai. Tidak perlu untuk bertele-tele.”

“Aku memintamu menunggu dan sedikit bersabar.”

“Setelahnya, kamu akan memberi ‘iya’ pada permintaanku?”

“Tidak.” Adinata membalikkan tubuhnya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia pakai. “Istirahat dan tenangkan pikiranmu. Aku harap ketika kita berbicara nanti, kepalamu sudah dingin dan bisa untuk bekerja sama.”

“Aku tetap ingin berpisah denganmu.”

Rahang Adinata mengeras mendengar jawaban keras kepala dari istrinya. “Kita sambung pembicaraan ini di rumah, Nadine.”

“Aku tidak mau.”

Adinata membalikkan tubuhnya. Ia maju beberapa langkah dan berhadapan dengan Nadine. Disela mereka saling bertatapan ada jarak 2 langkah kaki Nadine atau 1 langkah kaki Adinata.

“Kamu ini kenapa?”

“Aku ingin berpisah denganmu. Aku sudah tidak ingin berurusan lagi dengan dirimu dan apapun lagi yang berkaitan dengan dirimu, Adinata. Tidakkah kamu mengerti maksudku.”

“Aku mengerti.” Nada suara Adinata melunak. “Tapi bukankah perceraian kita bukan menjadi jalan keluarnya, Nadine? Kita sudah saling mengenal satu sama lain, tidakkah kamu ingin mempertahankan pernikahan kita?.”

“Aku tidak ingin mempertahankan. Aku sudah tidak ingin mengenal dirimu lagi, Adinata!” Tangan Nadine mengepal di samping tubuhnya. “Harus seberapa lama lagi aku untuk bersabar dan menyalahkan diriku sendiri, Adinata?”

“Baik. Tunggu aku di rumah kita. Aku akan mengabulkan keinginanmu, Nadine.”

“Aku tunggu dan ‘ku harap kamu tidak berbohong.”

Episodes
1 1. Surat perceraian
2 2. Memulai dan selesai di rumah kita
3 3. Menikmati untuk terakhir kalinya
4 4. Sudah tertanda tangani
5 5. Membawa harapan baru
6 6. Dijemput untuk menjauh
7 7. Hari pertama di toko roti
8 8. Desakan dari sang mama
9 9. Surat perceraian palsu
10 10. Mencari cara
11 11. Pemeriksaan di rumah sakit
12 12. Di pinggir sungai kecil
13 13. Merusuhi Adinata
14 14. Susu ibu hamil
15 15. Pertama kali Nadine mengidam
16 16. Adinata merasa sakit
17 17. Nadine berbelanja di pasar tradisional
18 18. Pertemuan Nadine dan Dokter Arjuna
19 19. Adinata dan teman-temannya
20 20. Xavier, Gerry dan kebohongan
21 21. Mencari celah untuk bertemu
22 22. Teman lama dan tetangga baru
23 23. Toko roti Pelipur Lapar
24 24. Makan malam Fregy
25 25. Pelanggan baru namanya Reyka
26 26. Meeting pagi
27 27. Menu makan pagi
28 28. Rumah yang dipenuhi dengan dusta
29 29. Bayi laki-laki
30 30. Cara kotor Adinata
31 31. Mendapat pendapatan
32 32. Fregy dan Xavier
33 33. Akhirnya bertemu Nadine
34 34. Terasa menengangkan
35 35. Ruang pendekatan
36 36. Nadine dan Reyka
37 37. Kemarahan keluarga besar
38 38. Dua adik perempuan Adinata
39 39. Bersembunyi dari Gerry
40 40. Kekhawatiran karena orang tua datang
41 41. Wajah orang-orang unik
42 42. Tempat yang tidak jauh dari rumah
43 43. Percobaan dengan jabatan baru
44 44. Rindunya kian bertambah
45 45. Persiapan Nadine menjadi seorang ibu
46 46. Incaran keluarga serakah
47 47. Syukuran kebahagiaan
48 48. Hari yang suram bagi Adinata
49 49. Rumah baru Nadine
50 50. Melihat keluarga bahagia di depan mata
51 51. Kasih sayang tiada batas dari (bukan) keluarga kandung
52 52. Akan terpenuhi dengan baik
53 53. Kelas prenatal
54 54. Adinata membuang sial
55 55. Ketakutan yang semoga tidak nyata
Episodes

Updated 55 Episodes

1
1. Surat perceraian
2
2. Memulai dan selesai di rumah kita
3
3. Menikmati untuk terakhir kalinya
4
4. Sudah tertanda tangani
5
5. Membawa harapan baru
6
6. Dijemput untuk menjauh
7
7. Hari pertama di toko roti
8
8. Desakan dari sang mama
9
9. Surat perceraian palsu
10
10. Mencari cara
11
11. Pemeriksaan di rumah sakit
12
12. Di pinggir sungai kecil
13
13. Merusuhi Adinata
14
14. Susu ibu hamil
15
15. Pertama kali Nadine mengidam
16
16. Adinata merasa sakit
17
17. Nadine berbelanja di pasar tradisional
18
18. Pertemuan Nadine dan Dokter Arjuna
19
19. Adinata dan teman-temannya
20
20. Xavier, Gerry dan kebohongan
21
21. Mencari celah untuk bertemu
22
22. Teman lama dan tetangga baru
23
23. Toko roti Pelipur Lapar
24
24. Makan malam Fregy
25
25. Pelanggan baru namanya Reyka
26
26. Meeting pagi
27
27. Menu makan pagi
28
28. Rumah yang dipenuhi dengan dusta
29
29. Bayi laki-laki
30
30. Cara kotor Adinata
31
31. Mendapat pendapatan
32
32. Fregy dan Xavier
33
33. Akhirnya bertemu Nadine
34
34. Terasa menengangkan
35
35. Ruang pendekatan
36
36. Nadine dan Reyka
37
37. Kemarahan keluarga besar
38
38. Dua adik perempuan Adinata
39
39. Bersembunyi dari Gerry
40
40. Kekhawatiran karena orang tua datang
41
41. Wajah orang-orang unik
42
42. Tempat yang tidak jauh dari rumah
43
43. Percobaan dengan jabatan baru
44
44. Rindunya kian bertambah
45
45. Persiapan Nadine menjadi seorang ibu
46
46. Incaran keluarga serakah
47
47. Syukuran kebahagiaan
48
48. Hari yang suram bagi Adinata
49
49. Rumah baru Nadine
50
50. Melihat keluarga bahagia di depan mata
51
51. Kasih sayang tiada batas dari (bukan) keluarga kandung
52
52. Akan terpenuhi dengan baik
53
53. Kelas prenatal
54
54. Adinata membuang sial
55
55. Ketakutan yang semoga tidak nyata

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!