5. Membawa harapan baru

Nadine menggeliat karena tubuhnya terasa pegal di semua bagian.

“Jam berapa sekarang?” Nadine melihat sekelilingnya yang sepi. Hanya ia sendiri yang berada di kamar ini.

Nadine mendudukkan tubuhnya dan bersandar di headboard dengan nyaman. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut. Pandangannya menatap ke map merah yang menjadi tujuannya untuk menuruti keinginan Adinata.

Nadine merampas map merah tersebut dari meja kecil di samping tempat tidur. Ia membukanya dengan cepat dan menghembuskan napasnya dengan lega. “Syukurlah. Adinata tidak membohongiku.”

Air mata Nadine mengalir dengan tiba-tiba. “Selesai sudah pernikahanku dengan Adinata. Aku harus bisa bangkit untuk anakku.”

Nadine mengusap perutnya yang masih datar dengan perasaan yang bertumpah ruah di hatinya. “Kalau kamu sudah lahir nanti, tolong maafkan ibu, ya, nak. Maafkan ibu yang tidak bisa mempertahankan pernikahan ibu dan ayahmu.”

Nadine mengusap air matanya dan berdiri dari kasur. Ia akan membersihkan diri dan mengemasi barang-barang miliknya sambil menghubungi Tante Almi—adik dari papa Nadine yang sangat menyayangi Nadine dibandingkan sang papa dan mama. Nadine akan tinggal bersama dengan Tante Almi dan keluarganya untuk sementara waktu sambil Nadine membantu sang tante untuk mengurus toko roti milik keluarga Om Divaz—suami Tante Almi yang turut menyayangi Nadine.

Nadine menghentikan langkah kakinya ketika bagian pahanya terasa nyeri. Nadine meringis. “Adinata memang monster. Berjam-jam tidak merasa lelah sama sekali dan sekarang sudah berangkat bekerja tanpa kesakitan”

“Tidak apa-apa, Nadine. Ini adalah terakhir kalinya kamu melayani Adinata di atas ranjang.”

Nadine masuk ke dalam kamar mandi dengan melangkah secara perlahan untuk meminimalisir rasa nyeri.

Nadine keluar dari kamar mandi setelah hampir 1 jam ia membersihkan dirinya. Ia keluar dari kamar mandi dengan membawa semangat.

“Nyonya, ini bubur ayam sesuai yang Tuan Adinata minta untuk Nyonya. Maaf saya masuk tanpa menunggu persetujuan Nyonya Nadine. Tadi saat saya mengetuk pintu, tidak ada balasan dari Nyonya Nadine.

Nadine menganggukkan kepalanya. Ia menyikapi orang yang ada di dalam rumah ini dengan tenang, kecuali dengan Adinata. Nadine tidak perlu membuat ketenangan ketika berhadapan dengan suaminya—ralat, mantan suaminya.

“Tidak apa-apa, Bi. Terima kasih sudah mengantarnya.”

Bi Ratih—salah satu dari beberapa asisten rumah tangga di rumah Adinata menganggukkan kepalanya dengan sopan. “Tuan Adinata juga berpesan kepada saya untuk membantu Nyonya Nadine.”

Nadine menatap Bi Ratih. “Bi Ratih diberi tahu Adinata?”

“Iya, Nyonya. Saya dengan rendah hati meminta maaf ke Nyonya Nadine, ya. Maaf jika saat Nyonya Nadine dipojokkan oleh Nyonya Sarah, saya tidak bisa membela Nyonya Nadine.”

Nadine menyentuh bahu Bi Ratih yang menunduk. “Tidak apa-apa, Bi. Nadine tahu karakter Mama Sarah yang angkuh. Terima kasih, Bi Ratih atas bantuannya selama ini yang sangat membantu saya selama tinggal disini.”

Nadine melangkahkan kakinya untuk mengambil koper miliknya yang akan ia penuhi dengan barang-barang yang akan Nadine bawa.

“Mama Sarah ada di rumah, Bi?”

Bi Ratih yang membantu membuka koper besar milik Nadine menggelengkan kepalanya. “Nyonyah Sarah pergi dari semalam dan belum kembali ke rumah sampai pagi ini, Nyonya.”

Nadine menganggukkan kepalanya sambil tangannya mengambil pakaian miliknya yang ada di dalam lemari kamarnya. Ia juga hanya akan membawa beberapa tas dan sepatu saja. Tidak perlu ia bawa semuanya.

“Tolong bantu saya agar bisa lebih cepat, ya, Bi. Saya ingin menghindari Mama Sarah.”

“Iya, Nyonya. Perlu saya bantu untuk memilih pakaian Nyonya?”

Nadine menggelengkan kepalanya. “Jangan, Bi. Kita bagi tugas saja. Saya yang mengambil dan Bi Ratih yang menatanya di koper. Tidak rapi, tidak apa-apa, Bi. Yang terpenting cukup.”

“Perlu saya bawakan koper baru, Nyonya?”

“Tidak usah, Bi. Saya hanya membawa 1 koper itu saja.”

“Nyonya yakin hanya membawa 1 koper ini saja?” Bi Ratih menatap Nadine yang bergerak dengan serba cepat walau tangan Bi Ratih juga menata pakaian milik Nadine dengan cekatan.

“Yakin, Bi. Saya gak perlu membawa banyak barang dari sini. Saya mengingatnya karena ini bukan milik saya semuanya walau saya yang memakainya. Biarlah nanti Adinata yang membersihkannya.”

Tak terasa, koper yang akan Nadine bawa sudah penuh dengan barang-barang yang Nadine pilih.

“Bi Ratih, terima kasih sudah membantu saya, ya. Maafkan saya kalau selama saya menjadi istri Adinata menyusahkan pekerjaan Bi Ratih.”

“Tidak, Nyonya. Nyonya Nadine tidak menyusahkan pekerjaan saya.” Bi Ratih membalas jabatan tangan Nadine. “Saya sangat berterima kasih ke Nyonya karena selama Nyonya tinggal disini, Tuan Adinata sering membantu kami, para pekerja di rumah ini agar tidak dipecat dari pekerjaan kami.”

Nadine tersenyum tipis. “Kalau itu, sampaikan terima kasih Bi Ratih ke Adinata. Saya rasa saya tidak seharusnya menerima terima kasih dari Bi Ratih.”

Bi Ratih menganggukkan kepalanya dan berpamitan keluar dari kamar milik Adinata dan Nadine ini untuk melanjutkan pekerjaannya.

“Halo, Tante Almi. Nadine sudah siap, ya. Nadine akan kesana sekarang.”

“Halo, Nadine. Amankah kalau kamu pergi dari rumah itu sekarang? Ada mertua lampir itu tidak?”

“Di rumah ini tidak ada orang, kecuali Nadine dan para pekerja. Jadi gimana, Tan? Nadine kesana naik taksi atau tante jemput Nadine.”

“10 menit lagi, tante dan om sampai di depan rumah mertuamu, ya. Hati-hati, Nadine. Ingat kamu sedang mengandung.”

Episodes
1 1. Surat perceraian
2 2. Memulai dan selesai di rumah kita
3 3. Menikmati untuk terakhir kalinya
4 4. Sudah tertanda tangani
5 5. Membawa harapan baru
6 6. Dijemput untuk menjauh
7 7. Hari pertama di toko roti
8 8. Desakan dari sang mama
9 9. Surat perceraian palsu
10 10. Mencari cara
11 11. Pemeriksaan di rumah sakit
12 12. Di pinggir sungai kecil
13 13. Merusuhi Adinata
14 14. Susu ibu hamil
15 15. Pertama kali Nadine mengidam
16 16. Adinata merasa sakit
17 17. Nadine berbelanja di pasar tradisional
18 18. Pertemuan Nadine dan Dokter Arjuna
19 19. Adinata dan teman-temannya
20 20. Xavier, Gerry dan kebohongan
21 21. Mencari celah untuk bertemu
22 22. Teman lama dan tetangga baru
23 23. Toko roti Pelipur Lapar
24 24. Makan malam Fregy
25 25. Pelanggan baru namanya Reyka
26 26. Meeting pagi
27 27. Menu makan pagi
28 28. Rumah yang dipenuhi dengan dusta
29 29. Bayi laki-laki
30 30. Cara kotor Adinata
31 31. Mendapat pendapatan
32 32. Fregy dan Xavier
33 33. Akhirnya bertemu Nadine
34 34. Terasa menengangkan
35 35. Ruang pendekatan
36 36. Nadine dan Reyka
37 37. Kemarahan keluarga besar
38 38. Dua adik perempuan Adinata
39 39. Bersembunyi dari Gerry
40 40. Kekhawatiran karena orang tua datang
41 41. Wajah orang-orang unik
42 42. Tempat yang tidak jauh dari rumah
43 43. Percobaan dengan jabatan baru
44 44. Rindunya kian bertambah
45 45. Persiapan Nadine menjadi seorang ibu
46 46. Incaran keluarga serakah
47 47. Syukuran kebahagiaan
48 48. Hari yang suram bagi Adinata
49 49. Rumah baru Nadine
50 50. Melihat keluarga bahagia di depan mata
51 51. Kasih sayang tiada batas dari (bukan) keluarga kandung
52 52. Akan terpenuhi dengan baik
53 53. Kelas prenatal
54 54. Adinata membuang sial
55 55. Ketakutan yang semoga tidak nyata
Episodes

Updated 55 Episodes

1
1. Surat perceraian
2
2. Memulai dan selesai di rumah kita
3
3. Menikmati untuk terakhir kalinya
4
4. Sudah tertanda tangani
5
5. Membawa harapan baru
6
6. Dijemput untuk menjauh
7
7. Hari pertama di toko roti
8
8. Desakan dari sang mama
9
9. Surat perceraian palsu
10
10. Mencari cara
11
11. Pemeriksaan di rumah sakit
12
12. Di pinggir sungai kecil
13
13. Merusuhi Adinata
14
14. Susu ibu hamil
15
15. Pertama kali Nadine mengidam
16
16. Adinata merasa sakit
17
17. Nadine berbelanja di pasar tradisional
18
18. Pertemuan Nadine dan Dokter Arjuna
19
19. Adinata dan teman-temannya
20
20. Xavier, Gerry dan kebohongan
21
21. Mencari celah untuk bertemu
22
22. Teman lama dan tetangga baru
23
23. Toko roti Pelipur Lapar
24
24. Makan malam Fregy
25
25. Pelanggan baru namanya Reyka
26
26. Meeting pagi
27
27. Menu makan pagi
28
28. Rumah yang dipenuhi dengan dusta
29
29. Bayi laki-laki
30
30. Cara kotor Adinata
31
31. Mendapat pendapatan
32
32. Fregy dan Xavier
33
33. Akhirnya bertemu Nadine
34
34. Terasa menengangkan
35
35. Ruang pendekatan
36
36. Nadine dan Reyka
37
37. Kemarahan keluarga besar
38
38. Dua adik perempuan Adinata
39
39. Bersembunyi dari Gerry
40
40. Kekhawatiran karena orang tua datang
41
41. Wajah orang-orang unik
42
42. Tempat yang tidak jauh dari rumah
43
43. Percobaan dengan jabatan baru
44
44. Rindunya kian bertambah
45
45. Persiapan Nadine menjadi seorang ibu
46
46. Incaran keluarga serakah
47
47. Syukuran kebahagiaan
48
48. Hari yang suram bagi Adinata
49
49. Rumah baru Nadine
50
50. Melihat keluarga bahagia di depan mata
51
51. Kasih sayang tiada batas dari (bukan) keluarga kandung
52
52. Akan terpenuhi dengan baik
53
53. Kelas prenatal
54
54. Adinata membuang sial
55
55. Ketakutan yang semoga tidak nyata

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!