3. Menikmati untuk terakhir kalinya

Haruskah Nadine menuruti permintaan Adinata. Tapi dengan Nadine menurutinya, tanda tangan dari Adinata akan berada di kertas yang sudah ia perjuangkan di pengadilan.

Apa yang harus Nadine pilih. Perasaan atau logikanya.

Adinata tertawa kecil. “Pikirkan baik-baik, Nadine. Aku tidak memaksamu. Jika mau, datanglah kesini. Aku tidak akan kemana-mana, hanya untukmu.”

Sebenarnya jika Nadine menolak, Adinata akan dengan mudah memaksa Nadine, tapi biarlah. Ia ingin melihat Nadine memilih. Kepalanya pusing dan sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk memberi balasan kemarahan Nadine.

Nadine mengepalkan kedua tangannya. “Licik sekali.”

“Aku hanya mengikuti permainanmu.”

Nadine memegang rahang Adinata dan bibirnya menyambar bibir Adinata dengan cepat. Bunyi kecupan dari bibir Adinata dan bibir Nadine memantul dengan keras di kamar ini. Mungkin saja, jika ada seseorang di luar kamar juga ikut mendengarnya.

Nadine mendesah ketika ciuman Adinata turun ke lehernya dan berganti ke pundaknya dengan ritme pelan.

Tidak cepat, tapi pasti untuk melumpuhkan titik rangsangan sang lawan. Itu prinsip Adinata untuk sang istri. Ia mengeluarkan senyuman miring ketika melihat kedua mata Nadine yang sudah menerima rangsangannya. Sengaja ia buat kissmark di leher sang istri sebelum mereka resmi berpisah.

“Jangan.” Nadine melenguh. “Jangan membuat kissmark di leherku.”

Adinata tertawa kecil di telinga kanan Nadine. “Itu salah satu yang membuatku puas, sayang.” Ia memberi gigitan kecil di telinga Nadine yang disambut dengan desahan dari mulut sang istri. “Aku ingin mencoba banyak gaya di malam ini. Malam terakhir aku bisa menyentuh dirimu sepuasku, Nadine.”

Tanpa Nadine menyadari, dress yang ia pakai sudah berhasil suaminya lepas dengan sempurna. “Kita mulai, sayang.”

Adinata menghirup ceruk leher Nadine, sedangkan Nadine mengeratkan tangannya memeluk sang suami.

Adinata terkekeh. Ia beri gigitan kecil ke telinga Nadine dan menciptakan lenguhan merdu dari bibir Nadine. “Keraskan saja, sayang. Aku senang mendengar suaramu.”

Nadine ingin menyalahkan dirinya sendiri yang ‘gampangan’ hanya karena sentuhan kecil dari Adinata. Tapi memang bagian lain dari dirinya menginginkan hal yang lebih. Atau ini efek dari kehamilannya?

“Pilih tempatnya, sayang. Di sofa, kasur, bathtub atau di balkon sebagai permulaan permainan kita.” Adinata memberi tiupan ke telinga Nadine.

Nadine melepas tangannya dari leher Adinata. “Kamu harus benar-benar memberi tanda tanganmu di surat perceraian kita, Adinata.”

“Jangan membahasnya sekarang, Nadine. Aku tidak ingin mendengarnya.”

“Tujuanku menuruti permintaanmu hanya karena aku ingin mendapatkan tanda tanganmu di surat itu. Kalau kamu tidak mau, untuk apa aku setuju seperti ini.”

“Lama.” Adinata menggendong tubuh Nadine dengan mudah.

Nadine terkejut ketika dirinya di lempar oleh Adinata ke atas kasur. Ia melihat dengan jelas bagaimana Adinata melepas kemeja yang dipakainya dan gesper yang melingkari pinggangnya.

“Aku tidak akan bermain kasar denganmu, Nadine. Aku hanya ingin kamu mengingat semua permainanku di tubuhmu dengan baik.” Adinata melepas celana bahan yang menutupi kaki jenjangnya menyisakan celana dalam yang melindungi miliknya.

Nadine menahan tangan Adinata yang akan melepaskan pakaiannya. “Aku tidak suka bermain dengan cara kasar, Adinata.”

Adinata tertawa. “Aku rasa kamu masih ingin kita berbicara, ya.” Adinata menahan nafsu yang menguasai dirinya untuk menunggu kesiapan sang istri.

Nadine menatap mata sang suami yang berada di atasnya melingkupi tubuhnya. “Aku cuma ingin kamu memberi tanda tangan saja, Adinata. Kenapa kamu seperti ini?”

“Bukan aku yang menginginkan perceraian ini,” jawab Adinata diiringi desahan kasar.

Nadine mencengkram pundak Adinata. “Dengan kita bercerai, kamu juga mendapat keuntungan, Adinata.”

“Tidak juga.” Adinata mengangkat salah satu alisnya dibarengi dengan senyuman miring terukir di bibirnya. Wajahnya yang terlihat seperti seorang antagonis seperti di film terlihat menjadi lebih jahat. “Aku menyuruhmu menunggu, tapi kamu sudah tidak sabar.”

“Mau kamu gimana sih?! Dari dulu yang keluar dari mulut kamu selalu ‘menunggu’, ‘tunggu aku’, kapan akhirnya, Adinata?! Semua perempuan juga akan lelah jika terus menunggu tanpa diberi kepastian! Otak kamu dimana?!”

Adinata mendengus. “Di dalam otakku cuma ada kamu. Aku udah pengen makan kamu, Nadine. Bisa kita mulai sekarang? Aku sudah tidak sabar.”

Nadine menjadi gugup. “Jangan membohongiku! Besok pagi, tanda tanganmu harus sudah ada, Adinata,” ancam Nadine.

Adinata menghembuskan napasnya ke atas. Wajahnya menghadap ke langit-langit kamarnya. Tubuhnya masih berada diposisi yang sama, mengukung tubuh Nadine. “Kamu tidak percaya denganku?”

“Sudah mencoba untuk percaya, tapi ternyata aku ditipu.” Nadine berdecih, ia membuang pandangannya ke samping. “Untuk apa aku memberi kepercayaan.”

“Nadine.” Adinata membawa wajah Nadine menghadap wajahnya. “Jika aku memohon kepadamu untuk tetap bersamaku, kamu mau tidak?”

“Jelas tidak. Jika aku menjawab ‘mau’, aku rasa mentalku akan semakin hancur. Aku tidak ingin mati sebelum menjadi seorang ibu.”

“Selama ini kita baik-baik saja, Nadine.”

Nadine tertawa kecil. “Kita memang baik-baik saja, tapi keluargamu tidak pernah baik-baik saja ketika aku ada, Adinata. Matamu buta, kah? Sampai-sampai kamu tidak bisa melihatnya.”

Adinata berdiri tanpa menjawab. Ia membuka laci dan mengambil kotak kecil di dalamnya. Ia kembali lagi ke posisi sebelumnya.

“Percakapan kita sudah cukup. Aku tidak ingin mendengarnya lagi.” Adinata menggigit kemasan yang membungkus alat kontrasepsi sebelum ia pakai. “Aku hanya ingin mendengar suara desahanmu saja. Aku akan menandatanganinya ketika urusan ranjang kita selesai.”

Episodes
1 1. Surat perceraian
2 2. Memulai dan selesai di rumah kita
3 3. Menikmati untuk terakhir kalinya
4 4. Sudah tertanda tangani
5 5. Membawa harapan baru
6 6. Dijemput untuk menjauh
7 7. Hari pertama di toko roti
8 8. Desakan dari sang mama
9 9. Surat perceraian palsu
10 10. Mencari cara
11 11. Pemeriksaan di rumah sakit
12 12. Di pinggir sungai kecil
13 13. Merusuhi Adinata
14 14. Susu ibu hamil
15 15. Pertama kali Nadine mengidam
16 16. Adinata merasa sakit
17 17. Nadine berbelanja di pasar tradisional
18 18. Pertemuan Nadine dan Dokter Arjuna
19 19. Adinata dan teman-temannya
20 20. Xavier, Gerry dan kebohongan
21 21. Mencari celah untuk bertemu
22 22. Teman lama dan tetangga baru
23 23. Toko roti Pelipur Lapar
24 24. Makan malam Fregy
25 25. Pelanggan baru namanya Reyka
26 26. Meeting pagi
27 27. Menu makan pagi
28 28. Rumah yang dipenuhi dengan dusta
29 29. Bayi laki-laki
30 30. Cara kotor Adinata
31 31. Mendapat pendapatan
32 32. Fregy dan Xavier
33 33. Akhirnya bertemu Nadine
34 34. Terasa menengangkan
35 35. Ruang pendekatan
36 36. Nadine dan Reyka
37 37. Kemarahan keluarga besar
38 38. Dua adik perempuan Adinata
39 39. Bersembunyi dari Gerry
40 40. Kekhawatiran karena orang tua datang
41 41. Wajah orang-orang unik
42 42. Tempat yang tidak jauh dari rumah
43 43. Percobaan dengan jabatan baru
44 44. Rindunya kian bertambah
45 45. Persiapan Nadine menjadi seorang ibu
46 46. Incaran keluarga serakah
47 47. Syukuran kebahagiaan
48 48. Hari yang suram bagi Adinata
49 49. Rumah baru Nadine
50 50. Melihat keluarga bahagia di depan mata
51 51. Kasih sayang tiada batas dari (bukan) keluarga kandung
52 52. Akan terpenuhi dengan baik
53 53. Kelas prenatal
54 54. Adinata membuang sial
55 55. Ketakutan yang semoga tidak nyata
Episodes

Updated 55 Episodes

1
1. Surat perceraian
2
2. Memulai dan selesai di rumah kita
3
3. Menikmati untuk terakhir kalinya
4
4. Sudah tertanda tangani
5
5. Membawa harapan baru
6
6. Dijemput untuk menjauh
7
7. Hari pertama di toko roti
8
8. Desakan dari sang mama
9
9. Surat perceraian palsu
10
10. Mencari cara
11
11. Pemeriksaan di rumah sakit
12
12. Di pinggir sungai kecil
13
13. Merusuhi Adinata
14
14. Susu ibu hamil
15
15. Pertama kali Nadine mengidam
16
16. Adinata merasa sakit
17
17. Nadine berbelanja di pasar tradisional
18
18. Pertemuan Nadine dan Dokter Arjuna
19
19. Adinata dan teman-temannya
20
20. Xavier, Gerry dan kebohongan
21
21. Mencari celah untuk bertemu
22
22. Teman lama dan tetangga baru
23
23. Toko roti Pelipur Lapar
24
24. Makan malam Fregy
25
25. Pelanggan baru namanya Reyka
26
26. Meeting pagi
27
27. Menu makan pagi
28
28. Rumah yang dipenuhi dengan dusta
29
29. Bayi laki-laki
30
30. Cara kotor Adinata
31
31. Mendapat pendapatan
32
32. Fregy dan Xavier
33
33. Akhirnya bertemu Nadine
34
34. Terasa menengangkan
35
35. Ruang pendekatan
36
36. Nadine dan Reyka
37
37. Kemarahan keluarga besar
38
38. Dua adik perempuan Adinata
39
39. Bersembunyi dari Gerry
40
40. Kekhawatiran karena orang tua datang
41
41. Wajah orang-orang unik
42
42. Tempat yang tidak jauh dari rumah
43
43. Percobaan dengan jabatan baru
44
44. Rindunya kian bertambah
45
45. Persiapan Nadine menjadi seorang ibu
46
46. Incaran keluarga serakah
47
47. Syukuran kebahagiaan
48
48. Hari yang suram bagi Adinata
49
49. Rumah baru Nadine
50
50. Melihat keluarga bahagia di depan mata
51
51. Kasih sayang tiada batas dari (bukan) keluarga kandung
52
52. Akan terpenuhi dengan baik
53
53. Kelas prenatal
54
54. Adinata membuang sial
55
55. Ketakutan yang semoga tidak nyata

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!