4. Sudah tertanda tangani

Adinata terbangun lebih dulu dibandingkan sang istri yang masih tidur dengan nyenyak di dekapannya.

“Kalau gini makin kelihatan cantiknya, Nad.” Adinata tertawa kecil sambil memberi kecupan di dahi sang istri.

Adinata menatap langit-langit kamarnya sambil mendengus pelan dengan suara pasrah. Sekali lagi, ia kecup dahi istrinya sebelum dengan perlahan melepaskan pelukan istrinya. Adinata mendudukkan dirinya dan mengambil map merah yang Nadine letakkan di laci samping tempat tidur malam tadi.

“Pergilah, Nad. Cari dulu kebahagiaan kamu untuk saat ini. Nanti aku bawa kamu kembali ke rumah kita sendiri.”

Adinata membacanya dengan teliti sambil tangannya bergerak memberi perintah ke Gerry—sekretaris sekaligus tangan kanannya untuk mengurus pemalsuan berkas.

“Datanglah ke rumahku dan bawa berkas yang kemarin Fregy urus, Ger.”

“Aku minta saat ini juga.”

Pandangan Adinata beralih ke sang istri yang masih tertidur karena ulah dirinya. Ia menggila semalam, walau pada akhirnya ia memilih untuk memakai alat kontrasepsi. Tidak tepat jika Nadine hamil anaknya, untuk saat ini.

Adinata bangkit dari kasur dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum berangkat ke kantor.

Di bawah guyuran air dari fixed shower mampu menyegarkan tubuh Adinata. Ia menyugar rambutnya ke belakang.

“Huft, Nadine gak perlu tahu tentang rencana yang sedang ‘ku susun. Cukup dia menjauh dulu dariku, setelah aku mendapat hasil yang sesuai dengan tujuanku, aku bawa kamu kembali, Nadine.”

Adinata keluar dari kamar mandi dengan balutan jubah mandi. Matanya menatap Nadine yang masih bergelung di bawah selimut dengan tenang. Adinata mengambil pakaiannya dengan santai dan asal. Karena biasanya, Nadine yang menyiapkan pakaiannya di pagi hari.

Dengan cepat dan cekatan, ia juga membuka ponsel miliknya untuk menunggu kabar dari Gerry. 2 menit yang lalu, Gerry mengirim pesan, ‘Tuan, saya menunggu di ruang tamu rumah Anda.’

Adinata segera membuka pintu kamarnya dan turun ke bawah sambil membawa map merah untuk ia tukarkan.

“Simpan surat yang asli ini tanpa seorangpun mengetahuinya, Gerry.”

Gerry menganggukkan kepalanya. Ia menatap sang atasan yang cekatan membuka map merah tersebut dan mengganti surat perceraian asli dengan yang palsu. Setelahnya ia juga melihat sang atasan yang memberi tanda tangan di nama yang sudah tertera.

“Kamu dapat tanda tangan istri saya darimana, Ger?”

“Maaf, Tuan. Saya melakukan pemalsuan di tanda tangan Nyonya. Saya menyalin tanda tangan Nyonya dari struck belanja di butik langganan Nyonya.”

Adinata menganggukkan kepalanya. “Suruh pemilik butiknya untuk tutup mulut.”

“Sudah saya lakukan, Tuan.”

Adinata sudah menepati ucapannya walau di surat yang tidak resmi. Karena surat palsu ini tidak terlapisi oleh hukum. Biarlah nanti Fregy—pengacara pribadi Adinata mengurus hal ini ke pengadilan. Ia cukup memberi tanda tangan dan membiarkan Nadine menjauh darinya agar dapat bahagianya kembali.

“Rapat hari ini perlu dikurangi atau tidak, Tuan?”

“Tidak usah. Kalau perlu, sibukkan aku dan beri tahu jadwalku hari ini ke istriku.” Adinata memberikan surat perceraian yang resmi ke tangan Gerry. “Jangan sampai orang di rumah ini tahu tentang ini, Ger.”

“Baik, Tuan.” Gerry menyimpan surat ini ke dalam sebuah map yang terlihat seperti map pekerjaan Adinata. “Anda akan berangkat sekarang, Tuan?”

Adinata menggelengkan kepalanya. “Kamu berangkatlah dulu. Akan aku susul setengah jam lagi.”

Tanpa menunggu Gerry pergi dari rumahnya, Adinata melangkahkan kakinya untuk kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa map merah dan menaruhnya seperti sedia kala.

Adinata menggelengkan kepalanya menatap kasur yang dimana Nadine belum terbangun sama sekali. Adinata memotret istrinya berkali-kali dengan ponsel miliknya. Ia langsung mengganti wallpaper aplikasi pesan miliknya dengan foto Nadine saat ini, bukan foto Nadine yang ia potret minggu lalu.

“Kejarlah bahagiamu dulu, Nad. Biarkan aku disini untuk mengambil masa depan kita.”

Yang Adinata incar di rumah ini adalah harta. Warisan turun-temurun yang harus ia rebut dari tangan saudaranya yang lain. Jangan pikir, ia mau untuk terus berada di kuasa orang tuanya, tapi dengan ini, Adinata yakin, Adinata bisa mendapatkan harta tersebut dengan mudah. Dan cara yang Adinata pilih adalah dengan tidak mengikut-sertakan Nadine—istrinya ikut mencampuri rencana Adinata.

Adinata tidak ingin istrinya terluka walau rasanya ia ingin marah ketika sang ibu memarahi istrinya secara gamblang di depan keluarga besarnya. Tapi ia memilih diam dan membiarkan Nadine yang memilih.

“Maaf, Nad. Bertahun-tahun membangun rumah tangga denganku, aku belum bisa memberi kebahagiaan yang layak untuk dirimu.” Tangan Adinata bergerak mengelus rambut sang istri.

Adinata tetap akan memantau istrinya. Jangan sampai istrinya diambil oleh laki-laki lain.

Untuk terakhir kalinya, Adinata mengecup dahi istrinya dengan waktu yang lama. Karena Adinata tahu, setelah ini, Nadine pasti akan mengemasi barang-barang miliknya dan berpindah dari rumah ini.

Adinata juga akan mengikuti jejak Nadine untuk pergi dari rumah ini karena ia pun sudah menyiapkan Apartemen untuk ia tinggali dibandingkan harus tinggal di rumah ini tanpa istrinya.

Adinata menghapus paksa setitik air mata yang turun dari matanya. “Walau aku tidak ikhlas kalau kita harus berpisah, aku akan tetap paksa, Nad. Agar kamu bisa bahagia kembali seperti sebelum kita menikah.”

Adinata tidak bisa hidup berjauhan dari Nadine. Dari awal berpacaran, Adinata selalu ada dimanapun Nadine berada.

Episodes
1 1. Surat perceraian
2 2. Memulai dan selesai di rumah kita
3 3. Menikmati untuk terakhir kalinya
4 4. Sudah tertanda tangani
5 5. Membawa harapan baru
6 6. Dijemput untuk menjauh
7 7. Hari pertama di toko roti
8 8. Desakan dari sang mama
9 9. Surat perceraian palsu
10 10. Mencari cara
11 11. Pemeriksaan di rumah sakit
12 12. Di pinggir sungai kecil
13 13. Merusuhi Adinata
14 14. Susu ibu hamil
15 15. Pertama kali Nadine mengidam
16 16. Adinata merasa sakit
17 17. Nadine berbelanja di pasar tradisional
18 18. Pertemuan Nadine dan Dokter Arjuna
19 19. Adinata dan teman-temannya
20 20. Xavier, Gerry dan kebohongan
21 21. Mencari celah untuk bertemu
22 22. Teman lama dan tetangga baru
23 23. Toko roti Pelipur Lapar
24 24. Makan malam Fregy
25 25. Pelanggan baru namanya Reyka
26 26. Meeting pagi
27 27. Menu makan pagi
28 28. Rumah yang dipenuhi dengan dusta
29 29. Bayi laki-laki
30 30. Cara kotor Adinata
31 31. Mendapat pendapatan
32 32. Fregy dan Xavier
33 33. Akhirnya bertemu Nadine
34 34. Terasa menengangkan
35 35. Ruang pendekatan
36 36. Nadine dan Reyka
37 37. Kemarahan keluarga besar
38 38. Dua adik perempuan Adinata
39 39. Bersembunyi dari Gerry
40 40. Kekhawatiran karena orang tua datang
41 41. Wajah orang-orang unik
42 42. Tempat yang tidak jauh dari rumah
43 43. Percobaan dengan jabatan baru
44 44. Rindunya kian bertambah
45 45. Persiapan Nadine menjadi seorang ibu
46 46. Incaran keluarga serakah
47 47. Syukuran kebahagiaan
48 48. Hari yang suram bagi Adinata
49 49. Rumah baru Nadine
50 50. Melihat keluarga bahagia di depan mata
51 51. Kasih sayang tiada batas dari (bukan) keluarga kandung
52 52. Akan terpenuhi dengan baik
53 53. Kelas prenatal
54 54. Adinata membuang sial
55 55. Ketakutan yang semoga tidak nyata
Episodes

Updated 55 Episodes

1
1. Surat perceraian
2
2. Memulai dan selesai di rumah kita
3
3. Menikmati untuk terakhir kalinya
4
4. Sudah tertanda tangani
5
5. Membawa harapan baru
6
6. Dijemput untuk menjauh
7
7. Hari pertama di toko roti
8
8. Desakan dari sang mama
9
9. Surat perceraian palsu
10
10. Mencari cara
11
11. Pemeriksaan di rumah sakit
12
12. Di pinggir sungai kecil
13
13. Merusuhi Adinata
14
14. Susu ibu hamil
15
15. Pertama kali Nadine mengidam
16
16. Adinata merasa sakit
17
17. Nadine berbelanja di pasar tradisional
18
18. Pertemuan Nadine dan Dokter Arjuna
19
19. Adinata dan teman-temannya
20
20. Xavier, Gerry dan kebohongan
21
21. Mencari celah untuk bertemu
22
22. Teman lama dan tetangga baru
23
23. Toko roti Pelipur Lapar
24
24. Makan malam Fregy
25
25. Pelanggan baru namanya Reyka
26
26. Meeting pagi
27
27. Menu makan pagi
28
28. Rumah yang dipenuhi dengan dusta
29
29. Bayi laki-laki
30
30. Cara kotor Adinata
31
31. Mendapat pendapatan
32
32. Fregy dan Xavier
33
33. Akhirnya bertemu Nadine
34
34. Terasa menengangkan
35
35. Ruang pendekatan
36
36. Nadine dan Reyka
37
37. Kemarahan keluarga besar
38
38. Dua adik perempuan Adinata
39
39. Bersembunyi dari Gerry
40
40. Kekhawatiran karena orang tua datang
41
41. Wajah orang-orang unik
42
42. Tempat yang tidak jauh dari rumah
43
43. Percobaan dengan jabatan baru
44
44. Rindunya kian bertambah
45
45. Persiapan Nadine menjadi seorang ibu
46
46. Incaran keluarga serakah
47
47. Syukuran kebahagiaan
48
48. Hari yang suram bagi Adinata
49
49. Rumah baru Nadine
50
50. Melihat keluarga bahagia di depan mata
51
51. Kasih sayang tiada batas dari (bukan) keluarga kandung
52
52. Akan terpenuhi dengan baik
53
53. Kelas prenatal
54
54. Adinata membuang sial
55
55. Ketakutan yang semoga tidak nyata

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!