CHAPTER 3

Dunia Fana – Perbatasan Desa Angin Lembut dan Desa Macan Tutul.

Setiap musim semi, sebelum masa tanam dimulai, ketegangan selalu memuncak di antara dua desa bertetangga ini. Masalahnya Hak guna Mata Air Jernih, satu-satunya sumber air irigasi yang tidak pernah kering di musim kemarau.

Tradisi leluhur menetapkan bahwa sengketa air ini diselesaikan dengan cara jantan: Turnamen Bela Diri Antar Desa. Tiga lawan tiga. Siapa yang masih berdiri di atas arena tanah liat, desanya lah yang menguasai air selama setahun penuh.

Tahun ini, awan mendung keputusasaan menyelimuti kubu Desa Angin Lembut.

"Kita tamat... sawah kita akan kering tahun ini," ratap Kepala Desa Gou, pria paruh baya yang perutnya sama buncitnya dengan anaknya, Gou Dan. Dia menggigit saputangannya dengan cemas.

Di seberang arena, Kepala Desa Macan Tutul sedang tertawa terbahak-bahak, memamerkan gigi emasnya.

Bukan tanpa alasan mereka sombong. Tahun ini, Desa Macan Tutul tidak mengirim pemuda desa biasa. Mereka menyewa seorang petarung bayaran dari kota. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan otot yang mengkilap oleh minyak, dan memiliki codet mengerikan di wajahnya. Namanya Hu Si Tangan Besi.

"Hahaha! Kepala Desa Gou, menyerah sajalah!" ejek Kepala Desa Macan. "Tuan Hu ini adalah murid luar dari Sekte Tapak Besi! Dia bahkan sudah mengumpulkan setitik Qi sejati di pusarnya! Jangankan pemuda desa, seekor sapi pun bisa dia bunuh dengan satu pukulan!"

Bagi manusia fana, memiliki "setitik Qi sejati" (bahkan belum mencapai tahap Kondensasi Qi paling awal) sudah dianggap layaknya dewa perang.

Di kubu Desa Angin Lembut, dua perwakilan pertama mereka sudah tumbang. Paman Wang si pandai besi terkilir tangannya saat menangkis, dan seorang pemuda desa lainnya pingsan hanya karena terkena aura teriakan Hu.

Harapan terakhir kini berada di pundak Gou Dan.

Gou Dan melangkah ke arena dengan kaki bergetar hebat bak jeli. Dia menelan ludah melihat otot Hu Si Tangan Besi.

"M-Maju kau!" cicit Gou Dan, memasang kuda-kuda belalang sembah yang dia pelajari dari buku cerita murahan.

Hu mendengus meremehkan. Dia menghentakkan kakinya ke tanah, membuat debu mengepul.

"Singkirkan serangga ini dari pandanganku!"

Hu mengayunkan telapak tangannya bahkan tanpa menyentuh tubuh Gou Dan. Angin dari pukulan itu menyapu wajah Gou Dan.

"IBAAANG!!! (Ibu!!!)" teriak Gou Dan histeris, langsung melempar tubuhnya sendiri ke luar arena dan pura-pura pingsan dengan mulut berbusa agar tidak dipukuli lebih lanjut.

"Memalukan! Memalukan sekali!" Kakek Li memukul-mukul tanah dengan tongkatnya, menangis sedih. "Air kita... panen kita... semuanya hancur!"

Sementara drama keputusasaan melanda desa, di bawah sebuah pohon rindang tak jauh dari arena...

Shi Hao sedang duduk santai di atas tikar bambu, menikmati kacang rebus. Kain putih menutupi mata kirinya, dan kaki kanannya berselonjor nyaman. Di sebelahnya, Qing Yi dengan sabar mengupaskan kacang dan menyuapkannya ke mulut Shi Hao.

"Aaa..." Shi Hao membuka mulut, mengunyah kacang itu dengan senang. "Manis sekali. Oh ya, Istriku, kenapa di depan berisik sekali? Apa pertunjukan akrobatnya sudah selesai? Aku mendengar seseorang berteriak mencari ibunya."

Qing Yi menahan tawa. "Itu Tuan Muda Gou Dan, Suamiku. Sepertinya dia salah melakukan gerakan akrobat dan terjatuh."

Shi Hao mengangguk-angguk maklum. "Kasihan. Tubuhnya terlalu gemuk untuk melompat."

Di tengah ring, Hu Si Tangan Besi semakin arogan. Dia menepuk dadanya yang berotot.

"Siapa lagi?! Apa tidak ada laki-laki sejati di desa miskin ini?! Jika tidak ada yang berani maju, maka Mata Air Jernih adalah milik Desa Macan Tutul! Dan kalian semua harus membayar pajak jika ingin mengambil seember air!"

Hu dengan sengaja melepaskan sedikit Qi fana-nya, memukul tanah dengan telapak tangannya.

BAM!

Pukulan itu tidak merusak, tapi cukup kuat untuk menerbangkan debu dan kerikil tebal ke arah penonton dari Desa Angin Lembut.

Angin berdebu itu berhembus hingga ke bawah pohon tempat Shi Hao duduk.

Hatchi!

Shi Hao bersin. Debu masuk ke hidungnya, dan beberapa butir pasir jatuh ke dalam cangkir tehnya yang masih setengah penuh.

Shi Hao mengerutkan kening. Ketenangan paginya terganggu.

"Astaga, debunya tebal sekali," keluh Shi Hao sambil meraba-raba mencari tongkat bambunya. "Mereka bermain akrobat terlalu kasar. Tehku jadi kotor. Aku harus menyapu debu ini agar kau tidak batuk-batuk, Qing Yi."

"Suamiku, tidak usah, biar aku saja—" Qing Yi mencoba mencegah, tapi Shi Hao sudah berdiri dan berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkatnya menembus kerumunan.

Warga desa otomatis menyingkir, memberi jalan bagi "A-Hao si pria buta yang malang".

Sebelum ada yang menyadari, Shi Hao sudah berdiri tepat di tengah arena tanah liat, berhadapan langsung dengan Hu Si Tangan Besi.

"Tunggu, tunggu sebentar, kawan-kawan," kata Shi Hao ramah, mengayunkan tangan kirinya di depan wajah, berusaha mengusir sisa debu. "Debunya terlalu tebal. Biarkan aku menyapunya sedikit."

Kepala Desa Macan Tutul ternganga, lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Kepala Desa Gou, apa desamu sudah sangat putus asa sampai mengirim orang cacat dan buta ini?! Apa dia akan melawan Tuan Hu dengan tongkat lapuknya itu?"

Hu Si Tangan Besi merasa sangat terhina. Sebagai ahli bela diri, ditantang oleh orang buta adalah sebuah penghinaan besar. Urat di pelipisnya menonjol.

"Orang cacat bodoh! Kau mencari mati?!" raung Hu.

Hu tidak peduli lawannya buta. Dia memusatkan seluruh Qi sejati yang dibanggakannya ke tangan kanannya. Tangannya berubah warna menjadi sedikit kehitaman.

"Teknik Tapak Besi Penghancur Tulang!"

Hu melompat ke udara, mengayunkan tapaknya langsung ke arah kepala Shi Hao dengan niat membunuh yang nyata.

Warga Desa Angin Lembut menjerit. Kakek Li menutup matanya. Qing Yi di bawah pohon hanya menatap dengan mata setengah bosan, bahkan diam-diam menyeruput tehnya.

Shi Hao, yang telinganya mendengar angin pukulan itu, menghela napas.

"Wah, anginnya makin kencang. Debunya berputar ke arahku," gumam Shi Hao polos.

Dia mengangkat tongkat bambunya yang tipis dan lapuk. Niatnya murni hanya untuk "mengibas" debu di depannya agar tidak mengenai wajahnya.

Namun, di dalam tubuh fananya, saat ototnya bergerak memegang benda panjang, ingatan alam bawah sadar akan Teknik Tombak Asura Pembelah Bintang terpicu secara otomatis. Setetes Qi Kekacauan energi paling purba di alam semesta bocor sedikit dari Dantiannya, mengalir ke dalam tongkat bambu itu.

Tongkat bambu lapuk itu tiba-tiba berdengung dengan frekuensi yang tak terdengar oleh telinga fana.

Shi Hao mengayunkan tongkatnya dari kiri ke kanan. Sedikit pun tidak berniat mengenai tubuh Hu. Gerakannya seperti kakek tua yang menyapu dedaunan kering di halaman.

WUUUUUUSSSSH!

Bukan benturan senjata yang terjadi. Melainkan ledakan tekanan udara.

Ayunan tongkat Shi Hao mengkompresi udara di depannya menjadi badai topan bertekanan super tinggi yang melesat ke depan.

Hu Si Tangan Besi, yang sedang melayang di udara bersiap memukul, mendadak merasa seperti ditabrak oleh sebuah gunung raksasa yang transparan.

Tapak Besinya hancur berkeping-keping.

"BWAH!"

Hu memuntahkan seteguk darah. Sebelum dia menyadari apa yang terjadi, tubuhnya yang kekar itu sudah terlempar ke belakang dengan kecepatan tidak masuk akal.

WUSSS!

Hu terbang melewati kepala penduduk Desa Macan Tutul, melewati pohon beringin raksasa, dan terus melayang jauh... jauh sekali, hingga menabrak tebing batu di seberang sungai dengan bunyi DUAARRR! yang samar di kejauhan.

Tidak hanya Hu. Angin dari sapuan tongkat itu juga menghempaskan Kepala Desa Macan dan puluhan warganya hingga mereka terguling-guling ke tanah, mulut dan hidung mereka penuh debu, pakaian mereka robek tertiup angin puyuh.

Arena kini bersih. Tidak ada satu pun debu yang melayang di udara sekitar Shi Hao.

Hening.

Keheningan ini seratus kali lipat lebih canggung daripada insiden lemparan sandal tempo hari.

Matahari bersinar damai menyinari arena. Di tengahnya, Shi Hao berdiri santai, mengetuk-ngetukkan tongkat bambunya ke tanah untuk mengecek apakah permukaannya sudah rata.

"Nah, begini lebih baik," kata Shi Hao tersenyum puas. "Udaranya sudah bersih. Istriku, apa kau melihatnya? Debunya sudah hilang diterbangkan angin puyuh barusan."

Qing Yi segera berlari masuk ke arena. Dia harus melakukan pengendalian kerusakan secepat mungkin sebelum penduduk desa mengira suaminya adalah siluman tongkat.

"YA AMPUN!" teriak Qing Yi dengan nada berlebihan yang sangat tidak meyakinkan bagi ukuran seorang artis teater. "Angin puting beliung macam apa itu?! Untung saja suamiku memegang tongkatnya erat-erat sehingga dia tidak ikut terbang!"

Penduduk Desa Angin Lembut saling pandang. Kepala Desa Gou berkedip-kedip menatap tebing di seberang sungai tempat petarung bayaran itu menancap di batu.

"P-Puting beliung?" gumam Kepala Desa Gou.

"B-Benar!" Kakek Li yang pertama kali merespons, otaknya segera mencari logika yang paling masuk akal bagi manusia fana. "Dewa Angin! Dewa Angin tidak terima desa kita ditindas! Saat A-Hao maju, Dewa Angin meniupkan puting beliung untuk menghukum orang sombong itu!"

"Hidup Dewa Angin! Hidup A-Hao, Sang Pembawa Keberuntungan!" teriak warga desa, seketika mengubah rasa takut menjadi sorak sorai religius yang meriah.

Di kubu lawan, Kepala Desa Macan Tutul yang bajunya robek-robek, gemetar ketakutan melihat Shi Hao yang tersenyum buta namun terlihat mengerikan di matanya. Dia merangkak mundur.

"M-Mata air itu milik kalian! Milik kalian! K-Kami menyerah! Dewa telah mengutuk kami!" teriak Kepala Desa Macan, memimpin warganya berlari terbirit-birit meninggalkan desa, lupa membawa petarung sewaan mereka yang masih pingsan di tebing.

Turnamen selesai dalam satu ayunan tongkat.

Desa Angin Lembut berpesta hari itu. Mereka mengarak Shi Hao bagaikan pahlawan, meskipun Shi Hao sendiri bingung kenapa dia diberi banyak lauk daging babi hanya karena membantu "menyapu debu".

Sementara itu, di halaman belakang gubuk Shi Hao...

Hitam Satu, Hitam Dua, dan Hitam Tiga (tiga Anjing Neraka mengerikan itu) sedang berpelukan satu sama lain di pojok kandang ayam, gemetar ketakutan hingga mengompol.

Mereka baru saja merasakan fluktuasi Qi Kekacauan pembelah semesta dari jarak dekat. Di otak anjing iblis mereka, pria buta yang menggaruk perut mereka tiap pagi itu adalah sosok yang lebih menakutkan dari penguasa alam mana pun.

Qing Yi, yang melihat tingkah anjing-anjing itu dari jauh, hanya bisa tersenyum pahit sambil menyeka keringat di dahinya.

"Menjadi manusia biasa itu... ternyata sangat melelahkan."

Terpopuler

Comments

Fajar Fathur rizky

Fajar Fathur rizky

cepat bikin kembali shi hao ber kultivasi thor

2026-06-12

0

yos helmi

yos helmi

💪💪💪💪

2026-06-23

0

saniscara patriawuha.

saniscara patriawuha.

gasssss polllll

2026-06-15

0

lihat semua
Episodes
1 CHAPTER 1
2 CHAPTER 2
3 CHAPTER 3
4 CHAPTER 4
5 CHAPTER 5
6 CHAPTER 6
7 CHAPTER 7
8 CHAPTER 8
9 CHAPTER 9
10 CHAPTER 10
11 CHAPTER 11
12 CHAPTER 12
13 CHAPTER 13
14 CHAPTER 14
15 CHAPTER 15
16 CHAPTER 16
17 CHAPTER 17
18 CHAPTER 18
19 CHAPTER 19
20 CHAPTER 20
21 CHAPTER 21
22 CHAPTER 22
23 CHAPTER 23
24 CHAPTER 24
25 CHAPTER 25
26 CHAPTER 26
27 CHAPTER 27
28 CHAPTER 28
29 CHAPTER 29
30 CHAPTER 30
31 CHAPTER 31
32 CHAPTER 32
33 CHAPTER 33
34 CHAPTER 34
35 CHAPTER 35
36 CHAPTER 36
37 CHAPTER 37
38 CHAPTER 38
39 CHAPTER 39
40 CHAPTER 40
41 CHAPTER 41
42 CHAPTER 42
43 CHAPTER 43
44 CHAPTER 44
45 CHAPTER 45
46 CHAPTER 46
47 CHAPTER 47
48 CHAPTER 48
49 CHAPTER 49
50 CHAPTER 50
51 CHAPTER 51
52 CHAPTER 52
53 CHAPTER 53
54 CHAPTER 54
55 CHAPTER 55
56 CHAPTER 56
57 CHAPTER 57
58 CHAPTER 58
59 CHAPTER 59
60 CHAPTER 60
61 CHAPTER 61
62 CHAPTER 62
63 CHAPTER 63
64 CHAPTER 64
65 CHAPTER 65
66 CHAPTER 66
67 CHAPTER 67
68 CHAPTER 68
69 CHAPTER 69
70 CHAPTER 70
71 CHAPTER 71
72 CHAPTER 72
73 CHAPTER 73
74 CHAPTER 74
75 CHAPTER 75
76 CHAPTER 76
77 CHAPTER 77
78 CHAPTER 78
79 CHAPTER 79
80 CHAPTER 80
81 CHAPTER 81
82 CHAPTER 82
83 CHAPTER 83
84 CHAPTER 84
85 CHAPTER 85
86 CHAPTER 86
87 CHAPTER 87
88 CHAPTER 88
89 CHAPTER 89
90 CHAPTER 90
91 CHAPTER 91
92 CHAPTER 92
93 CHAPTER 93
94 CHAPTER 94
95 CHAPTER 95
96 CHAPTER 96
97 CHAPTER 97
98 CHAPTER 98
99 CHAPTER 99
100 CHAPTER 100
101 CHAPTER 101
102 CHAPTER 102
103 CHAPTER 103
104 CHAPTER 104
105 CHAPTER 105
106 CHAPTER 106
107 CHAPTER 107
108 CHAPTER 108
109 CHAPTER 109
110 CHAPTER 110
111 CHAPTER 111
112 CHAPTER 112
113 CHAPTER 113
114 CHAPTER 114
115 CHAPTER 115
116 CHAPTER 116
117 CHAPTER 117
118 CHAPTER 118
119 CHAPTER 119
120 CHAPTER 120
121 CHAPTER 121
122 CHAPTER 122
123 CHAPTER 123
124 CHAPTER 124
125 CHAPTER 125
126 CHAPTER 126
127 CHAPTER 127
128 CHAPTER 128
129 CHAPTER 129
130 CHAPTER 130
131 CHAPTER 131
132 CHAPTER 132
133 CHAPTER 133
134 CHAPTER 134
135 CHAPTER 135
136 CHAPTER 136
137 CHAPTER 137
138 CHAPTER 138
139 CHAPTER 139
140 CHAPTER 140
141 CHAPTER 141
142 CHAPTER 142
143 CHAPTER 143
144 CHAPTER 144
145 CHAPTER 145
146 CHAPTER 146
147 CHAPTER 147
148 CHAPTER 148
149 CHAPTER 149
150 CHAPTER 150
151 CHAPTER 151
152 CHAPTER 152
Episodes

Updated 152 Episodes

1
CHAPTER 1
2
CHAPTER 2
3
CHAPTER 3
4
CHAPTER 4
5
CHAPTER 5
6
CHAPTER 6
7
CHAPTER 7
8
CHAPTER 8
9
CHAPTER 9
10
CHAPTER 10
11
CHAPTER 11
12
CHAPTER 12
13
CHAPTER 13
14
CHAPTER 14
15
CHAPTER 15
16
CHAPTER 16
17
CHAPTER 17
18
CHAPTER 18
19
CHAPTER 19
20
CHAPTER 20
21
CHAPTER 21
22
CHAPTER 22
23
CHAPTER 23
24
CHAPTER 24
25
CHAPTER 25
26
CHAPTER 26
27
CHAPTER 27
28
CHAPTER 28
29
CHAPTER 29
30
CHAPTER 30
31
CHAPTER 31
32
CHAPTER 32
33
CHAPTER 33
34
CHAPTER 34
35
CHAPTER 35
36
CHAPTER 36
37
CHAPTER 37
38
CHAPTER 38
39
CHAPTER 39
40
CHAPTER 40
41
CHAPTER 41
42
CHAPTER 42
43
CHAPTER 43
44
CHAPTER 44
45
CHAPTER 45
46
CHAPTER 46
47
CHAPTER 47
48
CHAPTER 48
49
CHAPTER 49
50
CHAPTER 50
51
CHAPTER 51
52
CHAPTER 52
53
CHAPTER 53
54
CHAPTER 54
55
CHAPTER 55
56
CHAPTER 56
57
CHAPTER 57
58
CHAPTER 58
59
CHAPTER 59
60
CHAPTER 60
61
CHAPTER 61
62
CHAPTER 62
63
CHAPTER 63
64
CHAPTER 64
65
CHAPTER 65
66
CHAPTER 66
67
CHAPTER 67
68
CHAPTER 68
69
CHAPTER 69
70
CHAPTER 70
71
CHAPTER 71
72
CHAPTER 72
73
CHAPTER 73
74
CHAPTER 74
75
CHAPTER 75
76
CHAPTER 76
77
CHAPTER 77
78
CHAPTER 78
79
CHAPTER 79
80
CHAPTER 80
81
CHAPTER 81
82
CHAPTER 82
83
CHAPTER 83
84
CHAPTER 84
85
CHAPTER 85
86
CHAPTER 86
87
CHAPTER 87
88
CHAPTER 88
89
CHAPTER 89
90
CHAPTER 90
91
CHAPTER 91
92
CHAPTER 92
93
CHAPTER 93
94
CHAPTER 94
95
CHAPTER 95
96
CHAPTER 96
97
CHAPTER 97
98
CHAPTER 98
99
CHAPTER 99
100
CHAPTER 100
101
CHAPTER 101
102
CHAPTER 102
103
CHAPTER 103
104
CHAPTER 104
105
CHAPTER 105
106
CHAPTER 106
107
CHAPTER 107
108
CHAPTER 108
109
CHAPTER 109
110
CHAPTER 110
111
CHAPTER 111
112
CHAPTER 112
113
CHAPTER 113
114
CHAPTER 114
115
CHAPTER 115
116
CHAPTER 116
117
CHAPTER 117
118
CHAPTER 118
119
CHAPTER 119
120
CHAPTER 120
121
CHAPTER 121
122
CHAPTER 122
123
CHAPTER 123
124
CHAPTER 124
125
CHAPTER 125
126
CHAPTER 126
127
CHAPTER 127
128
CHAPTER 128
129
CHAPTER 129
130
CHAPTER 130
131
CHAPTER 131
132
CHAPTER 132
133
CHAPTER 133
134
CHAPTER 134
135
CHAPTER 135
136
CHAPTER 136
137
CHAPTER 137
138
CHAPTER 138
139
CHAPTER 139
140
CHAPTER 140
141
CHAPTER 141
142
CHAPTER 142
143
CHAPTER 143
144
CHAPTER 144
145
CHAPTER 145
146
CHAPTER 146
147
CHAPTER 147
148
CHAPTER 148
149
CHAPTER 149
150
CHAPTER 150
151
CHAPTER 151
152
CHAPTER 152

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!