CHAPTER 5

Dunia Fana – Desa Angin Lembut.

Bulan musim semi biasanya membawa kehangatan yang membuat bunga-bunga bermekaran. Namun malam ini, angin yang turun dari lereng gunung membawa hawa dingin yang tidak wajar. Hawa itu menusuk tulang, membawa partikel debu kelabu sisa dari meteorit Sembilan Nether yang hancur tempo hari.

Bagi warga desa yang bertubuh sehat, angin ini hanya menyebabkan flu ringan atau bersin-bersin. Namun bagi Shi Hao yang tubuh fananya lumpuh sebelah, buta, dan kultivasinya tersegel rapat menyerupai kekosongan mutlak hawa dingin beracun ini adalah bencana fatal.

Di dalam gubuk yang diterangi cahaya lilin temaram, Shi Hao berbaring di atas ranjang kayu. Tubuhnya menggigil hebat di balik tiga lapis selimut tebal. Wajahnya sepucat kertas beras, dan bibirnya membiru. Napasnya pendek dan putus-putus.

Di luar gubuk, di bawah rintik hujan yang membeku, Hitam Satu, Hitam Dua, dan Hitam Tiga melolong pelan. Ketiga anjing neraka itu tahu bahwa "Tuan" mereka sedang diserang oleh sisa-sisa racun dari dimensi asal mereka sendiri. Mereka mondar-mandir dengan cemas, tidak berani masuk karena takut energi Nether di tubuh mereka justru akan memperburuk keadaan Shi Hao.

Di dalam kamar, Gu Qing Yi mondar-mandir dengan wajah panik.

Handuk hangat yang dia kompreskan ke dahi Shi Hao sudah diganti puluhan kali, tapi suhu tubuh pria itu tidak kunjung turun. Obat herbal fana penurun panas sudah direbus dan diminumkan, tapi tidak ada efeknya sama sekali.

"Ini bukan demam biasa," bisik Qing Yi, suaranya bergetar. Matanya yang indah menatap nanar ke arah dada Shi Hao yang naik turun dengan susah payah. "Hawa dingin ini... ini racun dimensi. Tubuh fananya tidak memiliki satu tetes Qi pun untuk melawan."

Qing Yi menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.

Jika dia membiarkannya, Shi Hao dalam wujud fana ini bisa benar-benar mati. Tubuhnya akan mati, dan jiwanya akan kembali terlempar ke dalam Ketiadaan. Qing Yi tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Qing Yi menarik napas panjang. Ekspresi paniknya menghilang, digantikan oleh ketegasan seorang Raja Dewa.

WUSSS!

Qing Yi mengibaskan lengan baju gaun hijaunya. Sembilan teratai cahaya mekar di setiap sudut gubuk, membentuk Formasi Pengedap Aura Mutlak. Tidak ada satu pun dewa, iblis, atau bahkan Hukum Alam Fana yang bisa mengintip ke dalam gubuk ini sekarang.

Setelah formasi terpasang, Qing Yi melepaskan satu lapis segel kultivasinya.

Rambutnya yang diikat sederhana seketika tergerai bebas, memancarkan cahaya hijau keemasan yang menyejukkan. Gaun rami kasarnya berubah wujud menjadi Jubah Dewi Teratai Surgawi yang memancarkan keagungan. Aroma bunga teratai yang sangat pekat memenuhi ruangan, mengusir hawa dingin Sembilan Nether dalam radius gubuk seketika.

Qing Yi membuka telapak tangannya. Dari dalam Cincin Spasial yang selama ini dia sembunyikan di balik jiwanya, sebuah pil bundar berwarna emas seukuran kelereng melayang keluar.

Pil Pemulih Dewa Tingkat Surga.

Obat mujarab yang di Alam Atas bisa digunakan untuk menghidupkan kembali seorang Dewa Sejati yang tinggal tersisa separuh jiwanya.

"Tubuh A-Hao sekarang hanyalah manusia biasa. Jika dia menelan pil ini secara langsung, pembuluh darahnya akan meledak karena kelebihan energi," gumam Qing Yi.

Dia mengambil sebuah baskom besar berisi air sumur. Dengan jentikan jarinya, Pil Surgawi itu dihancurkan menjadi bubuk halus, lalu dia menaburkan hanya sebutir debu dari bubuk itu ke dalam air baskom. Air sumur yang keruh itu seketika berubah menjadi cairan emas yang mendidih dengan energi kehidupan murni.

Qing Yi kemudian menyedok satu sendok kecil cairan emas itu, memasukkannya ke dalam mangkuk tanah liat kecil berisi sisa kaldu jamur untuk menyamarkan rasanya.

Dia duduk di tepi ranjang, merengkuh kepala Shi Hao dengan lembut dan menyandarkannya ke dadanya.

"Minumlah, Suamiku," bisik Qing Yi, perlahan menyuapkan kaldu itu ke bibir Shi Hao yang bergetar.

Begitu kaldu itu mengalir melewati tenggorokan Shi Hao, keajaiban terjadi. Cairan emas itu bertindak seperti hujan pertama setelah kemarau panjang seratus tahun.

Di dalam Dantian Shi Hao yang mati, energi kehidupan itu membasahi tanah yang kering. Warna pucat di wajahnya berangsur-angsur menghilang, digantikan oleh rona merah yang sehat. Napasnya menjadi teratur. Suhu tubuhnya kembali normal.

Qing Yi menghela napas lega. Hatinya yang serasa diremas akhirnya bisa bernapas kembali. Dia meletakkan mangkuk itu dan bersiap menidurkan Shi Hao kembali.

Namun, tepat ketika Qing Yi hendak menarik tangannya, tangan kanan Shi Hao yang besar dan kapalan mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat erat. Cengkeraman itu begitu kuat hingga Qing Yi sedikit tersentak.

"Suamiku?" panggil Qing Yi pelan.

Shi Hao tidak membuka matanya. Dia masih berada dalam cengkeraman demam dan mimpi bawah sadar. Obat surgawi itu rupanya tidak hanya menyembuhkan fisiknya, tapi menyentuh riak-riak memori di kedalaman jiwanya.

Dahi Shi Hao berkerut dalam. Keringat dingin kembali menetes. Dia mulai mengigau.

"...Lei Shan... mundur... jangan menahan petir itu sendirian, dasar bodoh..." gumam Shi Hao dengan suara serak yang penuh otoritas dan kekhawatiran.

Hati Qing Yi bergetar hebat mendengar nama itu. Lei Shan... Dewa Petir. Dia... dia memanggil wakilnya.

Shi Hao semakin gelisah dalam tidurnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan seolah sedang melihat pemandangan mengerikan di balik kelopak matanya yang tertutup.

"...Nini... Nana..." Shi Hao memanggil dengan nada yang sangat perih, nada seorang kakak yang berusaha melindungi keluarganya. "...bersembunyilah di belakang Kakak... jangan takut... Gudang harta itu tidak penting... kalian yang penting..."

Mata Qing Yi mulai memanas. Pandangannya mengabur oleh air mata.

Selama seratus tahun di desa ini, Shi Hao selalu tersenyum. Dia selalu bersikap seperti petani lugu yang hanya peduli pada panen gandum dan pahatan kayunya. Dia benar-benar melupakan masa lalunya, gelarnya, bahkan musuh-musuhnya.

Tapi malam ini, di bawah pengaruh obat surgawi, kebenaran itu terungkap.

Kaisar Asura mungkin telah kehilangan kultivasinya, ingatannya, dan matanya. Tapi dia menolak kehilangan perasaannya pada keluarganya. Ingatan tentang orang-orang yang dia lindungi terukir begitu dalam di jiwanya, melampaui kutukan Ketiadaan itu sendiri.

"Hao..." Qing Yi menangis dalam diam. Dia menunduk, memeluk kepala pria itu erat-erat di dadanya, membiarkan air matanya jatuh membasahi rambut Shi Hao.

"Kau bahkan melupakan namamu sendiri... tapi kau tidak melupakan mereka," isak Qing Yi pelan.

Tiba-tiba, igauan Shi Hao berhenti. Tangannya yang mencengkeram pergelangan tangan Qing Yi perlahan mengendur, lalu bergerak naik, meraba punggung Qing Yi dengan lembut.

"...Qing Yi..." bisik Shi Hao dalam tidurnya, nada suaranya berubah menjadi sangat tenang dan damai. "...jangan menangis... bungaku..."

Mendengar namanya disebut sebagai pelabuhan terakhir dalam igauan pria itu, pertahanan hati Qing Yi runtuh sepenuhnya. Dia menangis tersedu-sedu tanpa suara, mendekap suaminya hingga malam berlalu.

Aku egois, batin Qing Yi dalam tangisnya. Aku mengurung naga sejatimu di desa ini karena aku takut kehilanganmu lagi. Tapi kau adalah Asura yang melindungi langit. Cepat atau lambat... kau pasti akan kembali pada mereka.

Keesokan Paginya.

Sinar matahari pagi yang cerah menembus celah jendela bambu.

Shi Hao membuka mata kanannya yang sehat, menggeliat panjang seperti kucing yang baru bangun tidur.

KRETEK! KRETEK!

Tulang-tulangnya berbunyi nyaring. Segala rasa sakit, demam, dan kelemahan fana lenyap tak berbekas. Dia merasa sangat bugar, bahkan kakinya yang lumpuh terasa sedikit kesemutan, seolah ada darah baru yang mengalir di sana.

"Wah, tidur yang luar biasa!" seru Shi Hao sambil duduk di ranjang.

Dia menoleh dan melihat Qing Yi sedang merajut di kursi dekat jendela. Gaun dewanya telah kembali menjadi kain rami kasar. Wajahnya terlihat sedikit lelah, dengan mata yang agak sembab, tapi senyumnya tetap hangat menyambut pagi.

"Pagi, Suamiku. Bagaimana perasaanmu? Semalam demammu sangat tinggi," kata Qing Yi, menyembunyikan semua jejak kesedihan semalam dengan sempurna.

Shi Hao memukul-mukul dadanya yang berotot.

"Aku merasa seperti bisa mengangkat dua kerbau sekaligus, Istriku!" Shi Hao tertawa keras. Dia bangkit berdiri, menggunakan tongkatnya. "Apa yang kau berikan padaku semalam? Di mimpiku rasanya sangat hangat, seperti menelan matahari kecil."

"Itu hanya... sup kaldu jamur liar yang kutambahkan sedikit jahe dan madu hutan," bohong Qing Yi sambil tersenyum manis. "Sepertinya efeknya sangat bagus."

"Sup jamur liar? Astaga, khasiatnya luar biasa! Nanti kau harus mengajarkanku resepnya. Kita bisa menjualnya pada Gou Dan, mungkin itu bisa menyembuhkan otaknya yang miring," canda Shi Hao.

Qing Yi tertawa kecil mendengar lelucon suaminya. "Tentu, Suamiku. Tapi resep ini rahasia keluarga, jadi hanya untukmu."

Shi Hao tersenyum lebar, tidak menyadari bahwa mangkuk sup yang dia minum semalam setara dengan harga separuh kekayaan Sekte Besar di Alam Atas.

Shi Hao berjalan ke arah pintu, lalu berhenti sejenak. Dia menoleh ke arah Qing Yi dengan sedikit kerutan di dahi.

"Oh ya, Istriku..." kata Shi Hao, mencoba mengingat sesuatu. "Semalam... aku bermimpi aneh. Aku melihat orang bertubuh besar dengan petir, dan dua anak kembar berbaju hitam putih. Apa mereka kerabat kita dari desa seberang?"

Tangan Qing Yi yang sedang merajut terhenti sesaat, sebelum kembali bergerak dengan tempo yang normal.

"Itu hanya bunga tidur, Suamiku," jawab Qing Yi lembut, menekan perasaannya kuat-kuat. "Mungkin itu karakter dari dongeng yang pernah kuceritakan padamu. Tidak usah dipikirkan."

"Hmm, mungkin kau benar," Shi Hao mengangkat bahu. "Yasudahlah, aku mau ke kebun dulu. Hitam Satu! Ayo kita cangkul rumput liar!"

Dari luar, terdengar suara gonggongan gembira ketiga anjing iblis itu yang menyambut tuan mereka yang sudah kembali sehat.

Qing Yi menatap kepergian Shi Hao dari jendela. Angin musim semi kembali berhembus lembut. Namun di balik kedamaian pagi itu, Qing Yi menatap ke arah utara, ke arah langit tempat dimensi mulai retak.

Sebuah kesadaran muncul di benaknya.

Jika musuh Nether menyentuh desa ini, jika mereka mengancam ketenangan Shi Hao...

Gu Qing Yi tidak akan menahan diri lagi. Dia akan membunuh mereka semua, sendirian jika perlu, agar pria itu tidak perlu menghunus tombaknya lagi.

Terpopuler

Comments

yos helmi

yos helmi

😄😄😄😄

2026-06-23

0

Arinto Ario Triharyanto

Arinto Ario Triharyanto

cewek egois, koplak

2026-06-18

0

saniscara patriawuha.

saniscara patriawuha.

lanjuttttkeunnnnnnnn...

2026-06-15

0

lihat semua
Episodes
1 CHAPTER 1
2 CHAPTER 2
3 CHAPTER 3
4 CHAPTER 4
5 CHAPTER 5
6 CHAPTER 6
7 CHAPTER 7
8 CHAPTER 8
9 CHAPTER 9
10 CHAPTER 10
11 CHAPTER 11
12 CHAPTER 12
13 CHAPTER 13
14 CHAPTER 14
15 CHAPTER 15
16 CHAPTER 16
17 CHAPTER 17
18 CHAPTER 18
19 CHAPTER 19
20 CHAPTER 20
21 CHAPTER 21
22 CHAPTER 22
23 CHAPTER 23
24 CHAPTER 24
25 CHAPTER 25
26 CHAPTER 26
27 CHAPTER 27
28 CHAPTER 28
29 CHAPTER 29
30 CHAPTER 30
31 CHAPTER 31
32 CHAPTER 32
33 CHAPTER 33
34 CHAPTER 34
35 CHAPTER 35
36 CHAPTER 36
37 CHAPTER 37
38 CHAPTER 38
39 CHAPTER 39
40 CHAPTER 40
41 CHAPTER 41
42 CHAPTER 42
43 CHAPTER 43
44 CHAPTER 44
45 CHAPTER 45
46 CHAPTER 46
47 CHAPTER 47
48 CHAPTER 48
49 CHAPTER 49
50 CHAPTER 50
51 CHAPTER 51
52 CHAPTER 52
53 CHAPTER 53
54 CHAPTER 54
55 CHAPTER 55
56 CHAPTER 56
57 CHAPTER 57
58 CHAPTER 58
59 CHAPTER 59
60 CHAPTER 60
61 CHAPTER 61
62 CHAPTER 62
63 CHAPTER 63
64 CHAPTER 64
65 CHAPTER 65
66 CHAPTER 66
67 CHAPTER 67
68 CHAPTER 68
69 CHAPTER 69
70 CHAPTER 70
71 CHAPTER 71
72 CHAPTER 72
73 CHAPTER 73
74 CHAPTER 74
75 CHAPTER 75
76 CHAPTER 76
77 CHAPTER 77
78 CHAPTER 78
79 CHAPTER 79
80 CHAPTER 80
81 CHAPTER 81
82 CHAPTER 82
83 CHAPTER 83
84 CHAPTER 84
85 CHAPTER 85
86 CHAPTER 86
87 CHAPTER 87
88 CHAPTER 88
89 CHAPTER 89
90 CHAPTER 90
91 CHAPTER 91
92 CHAPTER 92
93 CHAPTER 93
94 CHAPTER 94
95 CHAPTER 95
96 CHAPTER 96
97 CHAPTER 97
98 CHAPTER 98
99 CHAPTER 99
100 CHAPTER 100
101 CHAPTER 101
102 CHAPTER 102
103 CHAPTER 103
104 CHAPTER 104
105 CHAPTER 105
106 CHAPTER 106
107 CHAPTER 107
108 CHAPTER 108
109 CHAPTER 109
110 CHAPTER 110
111 CHAPTER 111
112 CHAPTER 112
113 CHAPTER 113
114 CHAPTER 114
115 CHAPTER 115
116 CHAPTER 116
117 CHAPTER 117
118 CHAPTER 118
119 CHAPTER 119
120 CHAPTER 120
121 CHAPTER 121
122 CHAPTER 122
123 CHAPTER 123
124 CHAPTER 124
125 CHAPTER 125
126 CHAPTER 126
127 CHAPTER 127
128 CHAPTER 128
129 CHAPTER 129
130 CHAPTER 130
131 CHAPTER 131
132 CHAPTER 132
133 CHAPTER 133
134 CHAPTER 134
135 CHAPTER 135
136 CHAPTER 136
137 CHAPTER 137
138 CHAPTER 138
139 CHAPTER 139
140 CHAPTER 140
141 CHAPTER 141
142 CHAPTER 142
143 CHAPTER 143
144 CHAPTER 144
145 CHAPTER 145
146 CHAPTER 146
147 CHAPTER 147
148 CHAPTER 148
149 CHAPTER 149
150 CHAPTER 150
151 CHAPTER 151
152 CHAPTER 152
Episodes

Updated 152 Episodes

1
CHAPTER 1
2
CHAPTER 2
3
CHAPTER 3
4
CHAPTER 4
5
CHAPTER 5
6
CHAPTER 6
7
CHAPTER 7
8
CHAPTER 8
9
CHAPTER 9
10
CHAPTER 10
11
CHAPTER 11
12
CHAPTER 12
13
CHAPTER 13
14
CHAPTER 14
15
CHAPTER 15
16
CHAPTER 16
17
CHAPTER 17
18
CHAPTER 18
19
CHAPTER 19
20
CHAPTER 20
21
CHAPTER 21
22
CHAPTER 22
23
CHAPTER 23
24
CHAPTER 24
25
CHAPTER 25
26
CHAPTER 26
27
CHAPTER 27
28
CHAPTER 28
29
CHAPTER 29
30
CHAPTER 30
31
CHAPTER 31
32
CHAPTER 32
33
CHAPTER 33
34
CHAPTER 34
35
CHAPTER 35
36
CHAPTER 36
37
CHAPTER 37
38
CHAPTER 38
39
CHAPTER 39
40
CHAPTER 40
41
CHAPTER 41
42
CHAPTER 42
43
CHAPTER 43
44
CHAPTER 44
45
CHAPTER 45
46
CHAPTER 46
47
CHAPTER 47
48
CHAPTER 48
49
CHAPTER 49
50
CHAPTER 50
51
CHAPTER 51
52
CHAPTER 52
53
CHAPTER 53
54
CHAPTER 54
55
CHAPTER 55
56
CHAPTER 56
57
CHAPTER 57
58
CHAPTER 58
59
CHAPTER 59
60
CHAPTER 60
61
CHAPTER 61
62
CHAPTER 62
63
CHAPTER 63
64
CHAPTER 64
65
CHAPTER 65
66
CHAPTER 66
67
CHAPTER 67
68
CHAPTER 68
69
CHAPTER 69
70
CHAPTER 70
71
CHAPTER 71
72
CHAPTER 72
73
CHAPTER 73
74
CHAPTER 74
75
CHAPTER 75
76
CHAPTER 76
77
CHAPTER 77
78
CHAPTER 78
79
CHAPTER 79
80
CHAPTER 80
81
CHAPTER 81
82
CHAPTER 82
83
CHAPTER 83
84
CHAPTER 84
85
CHAPTER 85
86
CHAPTER 86
87
CHAPTER 87
88
CHAPTER 88
89
CHAPTER 89
90
CHAPTER 90
91
CHAPTER 91
92
CHAPTER 92
93
CHAPTER 93
94
CHAPTER 94
95
CHAPTER 95
96
CHAPTER 96
97
CHAPTER 97
98
CHAPTER 98
99
CHAPTER 99
100
CHAPTER 100
101
CHAPTER 101
102
CHAPTER 102
103
CHAPTER 103
104
CHAPTER 104
105
CHAPTER 105
106
CHAPTER 106
107
CHAPTER 107
108
CHAPTER 108
109
CHAPTER 109
110
CHAPTER 110
111
CHAPTER 111
112
CHAPTER 112
113
CHAPTER 113
114
CHAPTER 114
115
CHAPTER 115
116
CHAPTER 116
117
CHAPTER 117
118
CHAPTER 118
119
CHAPTER 119
120
CHAPTER 120
121
CHAPTER 121
122
CHAPTER 122
123
CHAPTER 123
124
CHAPTER 124
125
CHAPTER 125
126
CHAPTER 126
127
CHAPTER 127
128
CHAPTER 128
129
CHAPTER 129
130
CHAPTER 130
131
CHAPTER 131
132
CHAPTER 132
133
CHAPTER 133
134
CHAPTER 134
135
CHAPTER 135
136
CHAPTER 136
137
CHAPTER 137
138
CHAPTER 138
139
CHAPTER 139
140
CHAPTER 140
141
CHAPTER 141
142
CHAPTER 142
143
CHAPTER 143
144
CHAPTER 144
145
CHAPTER 145
146
CHAPTER 146
147
CHAPTER 147
148
CHAPTER 148
149
CHAPTER 149
150
CHAPTER 150
151
CHAPTER 151
152
CHAPTER 152

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!