CHAPTER 4

Alam Atas – Sektor Perbatasan Tembok Ratapan.

Angin di perbatasan dimensi ini tidak berhembus seperti angin biasa. Ia membawa hawa dingin yang bisa membekukan jiwa seorang kultivator Nascent Soul dalam hitungan detik. Di atas sana, langit biru robek, menyisakan celah sempit berwarna ungu gelap yang terus berdenyut seperti luka yang terinfeksi.

Lei Shan berdiri mengambang di depan celah itu. Zirah emasnya memercikkan kilat-kilat liar yang mencoba menekan aura busuk dari dimensi seberang. Di tangannya, dia memegang sepotong logam hitam legam berbau anyir.

Di sampingnya, Raja Naga Ao Zun menyilangkan tangan, wajahnya muram.

"Itu bukan logam dari tiga ribu dunia kita," kata Ao Zun, matanya menyipit menatap serpihan logam di tangan Lei Shan. "Teksturnya seperti tulang, tapi kepadatannya melampaui besi bintang. Lihatlah bagaimana logam itu mencoba memakan Qi petirmu."

Lei Shan menggeram pelan. Dia mengalirkan lebih banyak Qi ke tangannya, membakar logam hitam itu hingga menjadi abu putih.

"Sembilan Nether," desis Lei Shan. "Legenda kuno itu benar. Ada alam semesta yang hidup dengan cara menelan alam semesta lain. Retakan di patung Bos... itu adalah resonansi bahwa mereka sedang mencoba menjebol gerbang utama kita."

Ao Zun menghela napas panjang, mengeluarkan asap naga tipis dari hidungnya. "Perisai formasi yang kita bangun tidak akan bertahan lebih dari beberapa tahun jika invasi skala penuh terjadi. Tanpa Kaisar Asura... tanpa kekuatan yang bisa memutus dimensi, kita hanya menunggu waktu untuk ditelan."

Kata-kata itu menusuk hati Lei Shan. Bertahun-tahun dia mencoba menjadi pemimpin yang tegar, menggantikan sosok "Bos" yang menjadi panutannya. Tapi di hadapan kehancuran kosmik, dia merasa kembali menjadi anak kecil yang kehilangan arah.

"Aku akan kembali ke markas, mengatur pertahanan di sektor utara," kata Ao Zun sebelum berbalik dan berubah wujud menjadi naga emas yang melesat pergi.

Lei Shan masih terdiam di sana. Matanya menatap ke arah celah ungu itu, lalu beralih ke langit bawah.

"Bos..." gumam Lei Shan. Tiba-tiba, sebuah ide nekat melintas di benaknya.

Mata Air Samsara – Wilayah Suci Alam Atas.

Setengah hari kemudian, Lei Shan tiba di kolam air berwarna-warni yang menjadi pusat roda reinkarnasi dunia. Mata air ini menyimpan jejak dari setiap jiwa yang pernah hidup dan mati di Alam Atas.

Tanpa mempedulikan penjaga kuil, Lei Shan berlutut di tepi kolam. Pria raksasa berwajah gahar itu kini terlihat rapuh.

Dia menggigit ujung jarinya hingga berdarah, lalu menggambar sebuah Rune Panggilan Jiwa di telapak tangannya sebuah teknik kuno yang menguras umur kultivator untuk mengirimkan pesan melintasi tabir kehidupan dan kematian.

"Bos..." suara Lei Shan bergetar, air mata petir menetes dari pelipisnya, jatuh ke dalam air Samsara.

"Aku tahu kau sudah mengorbankan segalanya untuk kami. Aku tahu jiwamu mungkin sudah menjadi ketiadaan... tapi jika... jika sebagian kecil dari dirimu masih ada di luar sana, di kehidupan yang lain..."

Lei Shan menekan telapak tangannya yang berdarah ke permukaan air yang berputar.

"Kami butuh petunjukmu. Musuh dari Sembilan Nether telah datang. Tolong... dengarkan aku, Bos."

Cahaya emas meledak dari kolam itu. Pesan Lei Shan menembus sungai waktu, mencari satu-satunya frekuensi jiwa yang sangat spesifik: Jiwa Kaisar Asura.

Dunia Fana – Desa Angin Lembut.

Di bawah terik matahari siang, kehidupan fana berjalan dengan sangat tidak epik.

Shi Hao sedang duduk berjongkok di halaman belakang, mengenakan topi caping dari anyaman bambu. Di depannya, terdapat sebuah baskom kayu berisi sisa-sisa tulang iga babi hutan mutan dari pesta desa tempo hari.

Tiga ekor anjing peliharaannya Hitam Satu, Hitam Dua, dan Hitam Tiga duduk berjejer dengan sangat rapi dan tegap bak prajurit kekaisaran. Enam mata di setiap wajah mereka menatap penuh harap ke arah baskom, tapi tak satupun berani menyentuh makanan itu sebelum Shi Hao memberi perintah.

"Nah, jangan berebut," kata Shi Hao dengan senyum kebapakan, melemparkan tulang-tulang raksasa itu ke udara.

Ketiga Anjing Neraka itu melompat dengan kecepatan yang ditahan mati-matian agar tidak menimbulkan dentuman suara, lalu menangkap tulang itu dan mulai mengunyahnya dengan riang. Ekor berduri mereka mengibas-ngibas, menciptakan lubang-lubang kecil di tanah.

Shi Hao baru saja hendak berdiri dan menepuk debu di celananya, ketika tiba-tiba telinga kanannya berdengung keras.

Ngingggggggg......

Dengungan itu bukan suara biasa. Rasanya seperti ada seseorang yang berteriak dari dasar sumur yang sangat dalam, langsung bergema di dalam kepalanya.

Bzzzt... "B-Bos... Ini aku..."

Shi Hao tersentak. Dia memiringkan kepalanya, memukul-mukul telinga kanannya dengan telapak tangan.

"Aduh, nyamuk dari mana ini? Suaranya berat sekali, berdengung seperti lalat hijau raksasa," keluh Shi Hao, mengorek-ngorek telinganya.

Di dalam kepalanya, suara itu berlanjut, membangkitkan frekuensi Dantian Shi Hao yang tersegel.

"...Musuh dari Sembilan Nether telah datang. Tolong... dengarkan aku..."

"Siapa yang datang? Penjual panci dari seberang sungai?" gumam Shi Hao kebingungan, masih menepuk-nepuk telinganya. "Aduh, geli sekali. Nyamuk gajah ini tidak mau keluar."

Dari arah dapur, Gu Qing Yi melangkah keluar membawa nampan berisi singkong rebus.

Mata Raja Dewa Qing Yi seketika menangkap sebuah Benang Emas Karma yang sangat tipis menembus langit desa, menghubungkan suatu titik di luar angkasa langsung ke telinga kanan suaminya.

Dia mengenali Qi itu. Itu adalah Qi Petir milik Lei Shan!

Wajah Qing Yi sedikit pucat. Orang bodoh besar itu! Dia mencoba memanggil jiwa A-Hao melintasi Samsara?! Jika segel suamiku bereaksi terhadap suaranya, ingatannya bisa kembali secara paksa dan menghancurkan tubuh fananya!

Qing Yi meletakkan nampan singkong dengan tergesa-gesa. Dia melangkah anggun, namun kecepatannya melampaui kedipan mata fana, langsung berada di samping Shi Hao.

"Ada apa, Suamiku?" tanya Qing Yi lembut, menahan kepanikan.

"Istriku, telinga kananku kemasukan serangga berisik. Dengungannya menyuruhku mendengarkan sesuatu tentang angka sembilan dan jaring ikan... eh, bukan, Nether? Kurasa itu nama jenis lalat dari pegunungan," jawab Shi Hao lugu.

"Biar aku lihat," Qing Yi berlutut di samping Shi Hao.

Dia menangkupkan kedua tangannya ke sisi wajah Shi Hao. Sambil berpura-pura meniup telinga kanan suaminya, jari telunjuk Qing Yi dengan sangat halus memancarkan Qi Ilusi Teratai Hijau.

Secara kasat mata, dia hanya menghembuskan napas lembut. "Fuuuuh..."

Namun di dimensi spiritual, hembusan napas itu berubah menjadi Bilah Karma yang memotong Benang Emas transmisi Lei Shan hingga putus tanpa sisa.

SNAP.

Di Alam Atas, Lei Shan terlempar mundur dari Mata Air Samsara, memuntahkan seteguk darah karena pantulan energi komunikasinya diputus secara sepihak. Lei Shan menatap langit dengan bingung. "Koneksinya terpotong? Atau ditolak?"

Kembali ke Desa Angin Lembut...

Dengungan di telinga Shi Hao lenyap seketika.

"Wah!" Shi Hao tersenyum lebar, wajah butanya memancarkan kekaguman. "Langsung hilang! Istriku, hembusan napasmu benar-benar ajaib. Serangga berisik itu pasti langsung mati ketakutan."

Qing Yi tersenyum kaku. Dia merapikan kerah baju Shi Hao sambil membuang muka sedikit ke arah langit. Di dalam hatinya, dia bergumam penuh rasa bersalah sekaligus ketegasan.

Maafkan aku, Lei Shan. Alam Atas punya kalian dan jutaan prajurit untuk melindunginya. Tapi A-Hao sekarang hanya milik desa ini, dan milikku. Aku tidak akan membiarkan kalian menariknya kembali ke lautan darah.

"Tentu saja hilang," kata Qing Yi kembali tersenyum manis, mengusap debu di topi Shi Hao. "Serangga gunung memang tidak tahan dengan wangi bunga teratai. Ayo masuk, singkong rebusnya sudah matang. Biarkan Hitam Satu dan saudaranya berjaga di luar."

"Singkong rebus! Pantas saja perutku lapar," kekeh Shi Hao, berdiri dengan bantuan tongkat bambunya, melupakan sepenuhnya tentang "nyamuk" bersuara berat tadi.

Sementara itu, Hitam Satu, Hitam Dua, dan Hitam Tiga yang sedang mengunyah tulang, saling lirik dengan enam belas mata mereka. Mereka bisa melihat energi spiritual, dan mereka tahu persis bahwa nyonya rumah mereka baru saja mencekik pesan gaib dari seorang Dewa seolah itu hanya benang jahit.

Ketiga anjing itu diam-diam sepakat dalam hati anjing mereka: Jangan pernah membuat Nyonya marah. Dia lebih menakutkan dari Tuan jika sedang menyembunyikan sesuatu. Mereka pun melanjutkan mengunyah tulang dengan lebih sopan.

Terpopuler

Comments

OldMan

OldMan

🤣🤣🤣🤣🤣 lebih terhormat anjing2 neraka ini ikut shi hao jadi manusiafana

2026-06-14

0

yos helmi

yos helmi

😍😍😍😍

2026-06-23

0

saniscara patriawuha.

saniscara patriawuha.

gassss polllll...

2026-06-15

0

lihat semua
Episodes
1 CHAPTER 1
2 CHAPTER 2
3 CHAPTER 3
4 CHAPTER 4
5 CHAPTER 5
6 CHAPTER 6
7 CHAPTER 7
8 CHAPTER 8
9 CHAPTER 9
10 CHAPTER 10
11 CHAPTER 11
12 CHAPTER 12
13 CHAPTER 13
14 CHAPTER 14
15 CHAPTER 15
16 CHAPTER 16
17 CHAPTER 17
18 CHAPTER 18
19 CHAPTER 19
20 CHAPTER 20
21 CHAPTER 21
22 CHAPTER 22
23 CHAPTER 23
24 CHAPTER 24
25 CHAPTER 25
26 CHAPTER 26
27 CHAPTER 27
28 CHAPTER 28
29 CHAPTER 29
30 CHAPTER 30
31 CHAPTER 31
32 CHAPTER 32
33 CHAPTER 33
34 CHAPTER 34
35 CHAPTER 35
36 CHAPTER 36
37 CHAPTER 37
38 CHAPTER 38
39 CHAPTER 39
40 CHAPTER 40
41 CHAPTER 41
42 CHAPTER 42
43 CHAPTER 43
44 CHAPTER 44
45 CHAPTER 45
46 CHAPTER 46
47 CHAPTER 47
48 CHAPTER 48
49 CHAPTER 49
50 CHAPTER 50
51 CHAPTER 51
52 CHAPTER 52
53 CHAPTER 53
54 CHAPTER 54
55 CHAPTER 55
56 CHAPTER 56
57 CHAPTER 57
58 CHAPTER 58
59 CHAPTER 59
60 CHAPTER 60
61 CHAPTER 61
62 CHAPTER 62
63 CHAPTER 63
64 CHAPTER 64
65 CHAPTER 65
66 CHAPTER 66
67 CHAPTER 67
68 CHAPTER 68
69 CHAPTER 69
70 CHAPTER 70
71 CHAPTER 71
72 CHAPTER 72
73 CHAPTER 73
74 CHAPTER 74
75 CHAPTER 75
76 CHAPTER 76
77 CHAPTER 77
78 CHAPTER 78
79 CHAPTER 79
80 CHAPTER 80
81 CHAPTER 81
82 CHAPTER 82
83 CHAPTER 83
84 CHAPTER 84
85 CHAPTER 85
86 CHAPTER 86
87 CHAPTER 87
88 CHAPTER 88
89 CHAPTER 89
90 CHAPTER 90
91 CHAPTER 91
92 CHAPTER 92
93 CHAPTER 93
94 CHAPTER 94
95 CHAPTER 95
96 CHAPTER 96
97 CHAPTER 97
98 CHAPTER 98
99 CHAPTER 99
100 CHAPTER 100
101 CHAPTER 101
102 CHAPTER 102
103 CHAPTER 103
104 CHAPTER 104
105 CHAPTER 105
106 CHAPTER 106
107 CHAPTER 107
108 CHAPTER 108
109 CHAPTER 109
110 CHAPTER 110
111 CHAPTER 111
112 CHAPTER 112
113 CHAPTER 113
114 CHAPTER 114
115 CHAPTER 115
116 CHAPTER 116
117 CHAPTER 117
118 CHAPTER 118
119 CHAPTER 119
120 CHAPTER 120
121 CHAPTER 121
122 CHAPTER 122
123 CHAPTER 123
124 CHAPTER 124
125 CHAPTER 125
126 CHAPTER 126
127 CHAPTER 127
128 CHAPTER 128
129 CHAPTER 129
130 CHAPTER 130
131 CHAPTER 131
132 CHAPTER 132
133 CHAPTER 133
134 CHAPTER 134
135 CHAPTER 135
136 CHAPTER 136
137 CHAPTER 137
138 CHAPTER 138
139 CHAPTER 139
140 CHAPTER 140
141 CHAPTER 141
142 CHAPTER 142
143 CHAPTER 143
144 CHAPTER 144
145 CHAPTER 145
146 CHAPTER 146
147 CHAPTER 147
148 CHAPTER 148
149 CHAPTER 149
150 CHAPTER 150
151 CHAPTER 151
152 CHAPTER 152
Episodes

Updated 152 Episodes

1
CHAPTER 1
2
CHAPTER 2
3
CHAPTER 3
4
CHAPTER 4
5
CHAPTER 5
6
CHAPTER 6
7
CHAPTER 7
8
CHAPTER 8
9
CHAPTER 9
10
CHAPTER 10
11
CHAPTER 11
12
CHAPTER 12
13
CHAPTER 13
14
CHAPTER 14
15
CHAPTER 15
16
CHAPTER 16
17
CHAPTER 17
18
CHAPTER 18
19
CHAPTER 19
20
CHAPTER 20
21
CHAPTER 21
22
CHAPTER 22
23
CHAPTER 23
24
CHAPTER 24
25
CHAPTER 25
26
CHAPTER 26
27
CHAPTER 27
28
CHAPTER 28
29
CHAPTER 29
30
CHAPTER 30
31
CHAPTER 31
32
CHAPTER 32
33
CHAPTER 33
34
CHAPTER 34
35
CHAPTER 35
36
CHAPTER 36
37
CHAPTER 37
38
CHAPTER 38
39
CHAPTER 39
40
CHAPTER 40
41
CHAPTER 41
42
CHAPTER 42
43
CHAPTER 43
44
CHAPTER 44
45
CHAPTER 45
46
CHAPTER 46
47
CHAPTER 47
48
CHAPTER 48
49
CHAPTER 49
50
CHAPTER 50
51
CHAPTER 51
52
CHAPTER 52
53
CHAPTER 53
54
CHAPTER 54
55
CHAPTER 55
56
CHAPTER 56
57
CHAPTER 57
58
CHAPTER 58
59
CHAPTER 59
60
CHAPTER 60
61
CHAPTER 61
62
CHAPTER 62
63
CHAPTER 63
64
CHAPTER 64
65
CHAPTER 65
66
CHAPTER 66
67
CHAPTER 67
68
CHAPTER 68
69
CHAPTER 69
70
CHAPTER 70
71
CHAPTER 71
72
CHAPTER 72
73
CHAPTER 73
74
CHAPTER 74
75
CHAPTER 75
76
CHAPTER 76
77
CHAPTER 77
78
CHAPTER 78
79
CHAPTER 79
80
CHAPTER 80
81
CHAPTER 81
82
CHAPTER 82
83
CHAPTER 83
84
CHAPTER 84
85
CHAPTER 85
86
CHAPTER 86
87
CHAPTER 87
88
CHAPTER 88
89
CHAPTER 89
90
CHAPTER 90
91
CHAPTER 91
92
CHAPTER 92
93
CHAPTER 93
94
CHAPTER 94
95
CHAPTER 95
96
CHAPTER 96
97
CHAPTER 97
98
CHAPTER 98
99
CHAPTER 99
100
CHAPTER 100
101
CHAPTER 101
102
CHAPTER 102
103
CHAPTER 103
104
CHAPTER 104
105
CHAPTER 105
106
CHAPTER 106
107
CHAPTER 107
108
CHAPTER 108
109
CHAPTER 109
110
CHAPTER 110
111
CHAPTER 111
112
CHAPTER 112
113
CHAPTER 113
114
CHAPTER 114
115
CHAPTER 115
116
CHAPTER 116
117
CHAPTER 117
118
CHAPTER 118
119
CHAPTER 119
120
CHAPTER 120
121
CHAPTER 121
122
CHAPTER 122
123
CHAPTER 123
124
CHAPTER 124
125
CHAPTER 125
126
CHAPTER 126
127
CHAPTER 127
128
CHAPTER 128
129
CHAPTER 129
130
CHAPTER 130
131
CHAPTER 131
132
CHAPTER 132
133
CHAPTER 133
134
CHAPTER 134
135
CHAPTER 135
136
CHAPTER 136
137
CHAPTER 137
138
CHAPTER 138
139
CHAPTER 139
140
CHAPTER 140
141
CHAPTER 141
142
CHAPTER 142
143
CHAPTER 143
144
CHAPTER 144
145
CHAPTER 145
146
CHAPTER 146
147
CHAPTER 147
148
CHAPTER 148
149
CHAPTER 149
150
CHAPTER 150
151
CHAPTER 151
152
CHAPTER 152

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!