Curiga

"Perasaan kemarin kamu ke sini nggak bawa koper. Kok sekarang mau pulang bawa koper begini? Isinya apa?" tanya Ralia saat melihat sang sepupu sibuk dengan kopernya.

"Astaga... Jantung Callie lasanya mau lepas dali tempatnya,"

Callie sangat terkejut mendengar suara yang ada di belakangnya. Callie mengalihkan pandangannya ke arah Ralia yang tengah bersandar pada pintu kamar. Callie memang mempunyai kamar sendiri di rumah Ronand. Hal itu karena Callie dan Rachel beberapa kali menginap di rumah Ronand. Setelah mengetahui siapa yang datang, Callie melanjutkan menata barangnya di koper. Seperti tak peduli akan kedatangan sang sepupu yang sama menyebalkannya dengan Kakaknya.

"Ini kan kopelnya Callie. Telselah Callie dong mau dibawa pulang atau taluh di kamal ini. Kak lalia kok lepot sekali ngulusin kopelnya Callie ini. Ili ya? Ndak punya kopel kecil kaya Callie," tuduh Callie membuat Ralia melongo tak percaya.

"Aku bisa beli koper sepuluh kaya gitu. Ngapain juga iri sama kamu?" seru Ralia tak terima.

"Ya udah sih. Gitu aja kok lepot. Ndak usah banyak komental, kaya netizen aja. Lagian biasanya Kak lalia kan saliawan, ndak pelnah ngomong panjang. Sekalang kok celewetnya, ampun..."

Callie sampai memegang kepalanya. Memperagakan bagaimana dia saat ini pusing karena mendengar Ralia yang terus bicara. Sedangkan Ralia sudah kehilangan kata-kata. Dia tak menyangka bahwa sepupunya ini sangat menyebalkan dan tidak mau kalah. Ralia memilih diam tapi mengamati setiap barang yang masuk ke dalam koper Callie. Ia ingin mencari barang milik Papanya yang hilang. Sepertinya dia curiga kalau yang mengambil barang milik Ronand adalah Callie.

"Napa situ lihat-lihat Callie telus?" serunya saat merasa ada yang mengawasi pergerakannya.

"Nggak papa. Siapa tahu ada yang bawa barang lain dari rumah ini di kopernya," Ralia mengedikkan bahunya acuh karena ditegur Callie. Untuk membuktikan sesuatu, biar lah dia dituduh oleh Callie sedang memata-matainya. Lagi pula Ralia hanya memastikan bahwa Callie tidak membawa barang berharga milik Ronand itu.

"Ada nih, balang lain dali lumah ini yang Callie bawa."

Hap...

"Apaan nih? Punya siapa itu?" seru Ralia saat melihat barang yang dilempar oleh Callie.

"Punyanya Mama Achel. Jaling ikan, katanya titip buat mancing Mama Achel di sungai dali Onty Ucan." ceplos Callie asal.

"Katanya sih itu baju, kok waktu Callie buka isinya jaling ikan. Ndak jelas itu Mamanya Kak lalia," lanjutnya dengan memberikan sindiran pada Susan.

Ralia begitu shock melihat barang yang dilempar Callie padanya. Dia yang sudah beranjak remaja, tentu tahu baju apa di tangannya itu. Namun Mamanya sangat ceroboh sekali sampai menitipkan baju seperti ini pada Callie. Jika mungkin anak lain tidak akan penasaran saat dititipi barang, berbeda dengan Callie. Bocah cilik itu rasa ingin tahunya sangat tinggi. Pasti Callie akan membukanya terlebih dahulu. Jika menguntungkan bagi dia, barang itu tidak akan sampai pada penerimanya.

"Sudah selesai. Callie mau pulang dulu sama empus ya, Kak lalia. Jangan lindu Callie lagi. Minggu depan, Callie akan menginap lagi di sini." ucap Callie setelah menutup koper ciliknya.

"Sebentar..." Ralia pun mendekati Callie dan meletakkan barang titipan untuk Rachel. Ralia membuka kembali koper Callie dan memeriksanya.

"Kok nggak ada ya?" gumamnya membuat Callie menatapnya aneh.

"Cali apa sih? Ndak ada Callie ambil uangnya Kak lalia. Dolal Callie sudah banyak," seru Callie yang kesal melihat barang-barangnya sedikit berantakan.

Bukannya berhenti mencari sesuatu, Ralia memeriksa saku baju dan celana yang dipakai Callie. Tampak sekali bocah cilik itu sangat kesal. Bahkan tatapannya begitu sinis. Namun Callie tampaknya tahu barang apa yang ingin dicari oleh Ralia. "Ndak ada apa-apa kan? Mau cali apa?"

"Udah sana pulang. Ganggu ketenangan rumah ini aja," usir Ralia setelah tak menemukan barang yang dicarinya.

"Sudah belantakin balang-balang Callie. Telus pegang badan Callie, sekalang diusil." gerutu Callie yang kemudian menarik kopernya pergi.

"Mungkin hanya perasaanku saja," gumam Ralia saat tidak menemukan apa yang dicarinya.

"Pasti mau cali ini," gumam Callie yang langsung mengambil apa yang disimpannya dalam mulut si "empus" setelah keluar dari rumah Ronand. Botol kecil yang diambilnya semalam dari ruang kerja Ronand, disembunyikan Callie ke dalam mulut singa kecilnya. Callie tertawa cekikikan karena bisa mengelabuhi semua orang.

***

Brugh...

Mama Achel...

Ratu drama sudah pulang rupanya,

Callie tengah duduk di atas lantai dengan koper cilik yang terlempar satu meter darinya. Callie melempar asal koper ciliknya itu karena hanya berisi pakaian dan titipan dari Susan. Namun seorang bocah cilik berusia 6 tahun yang melihat Callie merengek, langsung menyindirnya. Dia adalah Arthur Max Adriano, Kakak laki-laki Callie. Anak sulung dari Rachel dan Lucky yang sikapnya berbanding terbalik dengan Callie.

Callie menatap sinis Kakaknya yang sedang membawa helm di tangannya. Bagi Callie, pergaulan dan kehidupan Arthur tidak ada yang menarik. Apalagi Arthur jarang keluar rumah jika tidak sekolah. Kehidupannya hanya di rumah dengan motor trail dan arena balapan yang dibuat oleh Lucky. Setiap kali diajak pergi jajan oleh Callie, selalu menolak. Alasannya alergi jajan.

"Siapa yang Kak avtul sebut latu dlama? Kalau Callie latu dlama, sudah main sinetlon ikan telbang ini. Nyatanya Callie belum telkenal," seru Callie dengan mata menyipit. Entah mengapa, setiap kali bersama Arthur pasti Callie akan emosi tingkat tinggi.

"Mukamu itu nggak cocok, sedikit..."

"Apa? Sedikit apa? Gembul? Bantet? Gitu?" sela Callie dengan berkacak pinggang. Bahkan Callie sudah berdiri seakan menantang Arthur.

"Nggak ngo..."

"Kalian itu kalau bersama, ribut terus. Akur bentar aja kenapa sih?" seru seorang perempuan cantik yang tak lain adalah Rachel, Mama dari Callie dan Arthur.

"Ndak bisa,"

"Nggak,"

Astaga...

Jawaban keduanya yang kompak itu hanya bisa membuat Rachel menggelengkan kepalanya. Keduanya sama-sama keras kepala, seperti Rachel waktu kecil. Seketika Rachel mengingat dia yang sering berdebat dengan Ronand. Beruntung waktu itu Ronand bersikap dingin dan jarang meladeni dirinya. Berbeda dengan Arthur, dia akan meladeni Callie. Bahkan sampai Callie menangis pun akan dia jabani.

"Lebih baik kamu segera latihan, Arthur. Daripada di sini pusing dengan ocehannya Callie," usir Rachel pada anak sulungnya.

"Dasar ratu drama. Nangis..." ledek Arthur saat melihat mata Callie tampak berkaca-kaca. Rachel tahu bahwa Callie ini sudah mengantuk sehingga akan rewel begini. Arthur pun memilih pergi daripada nanti tambah diomeli oleh Rachel.

"Dasal Kak avtul menyebalkan. Awas saja itu motolnya Callie lepas semua bannya," gumam Callie dengan raut wajah kesalnya.

Ayo tidur. Pasti semalam nggak bisa tidur,

Ehm... Benal. Callie susah tidul kalau ndak ada Mama Achel,

Hidih...

Terpopuler

Comments

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

Udah ku duga disimpan di empus tetapi ndak nyangka klo di dlm mulut empus.

2026-06-13

0

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

Ndak bs tidul sebab menggeledah ruang kerja Uncle Onald 😁

2026-06-13

0

Sani Srimulyani

Sani Srimulyani

kira2 tuh cairan di botol dipake buat apa yang sama Callie..,.😜

2026-06-13

0

lihat semua
Episodes
1 Awal
2 Curiga
3 Frustasi
4 Khawatir
5 Arthur
6 Dua Bocah
7 Kabur
8 Galak
9 Penakut
10 Rose
11 Rose 2
12 Kesayangan
13 Tak Percaya
14 Setuju
15 Peninjauan
16 Menyesal
17 Membayar
18 Masalah
19 Penyelundup
20 Penyelundup 2
21 Pusing
22 Tampar Balik
23 Takut
24 Gema
25 Rumpi
26 Ledekan
27 Teka-Teki
28 Bingung
29 Frustasi
30 Drama Cucu
31 Kebaikan
32 Bayangan
33 Alasan
34 Informasi
35 Sekolah
36 Teguran
37 Omelan
38 Tembakan
39 Tembakan 2
40 Tak Percaya
41 Akrab
42 Hilang
43 Bukti
44 Tagihan
45 Ganti Rugi
46 Maaf
47 Kejadian
48 Jangan Kepo
49 Jujur
50 Cicit Hebat
51 Belajar
52 Bukan Matre
53 Bingung
54 Terlalu Bagus
55 Hukuman
56 Pamer
57 Aduan
58 (Bukan) Keluarga
59 Gaduh
60 Pusing
61 Traktiran
62 Trio Emak
63 Trio Emak 2
64 Calon Panpan
65 Elina
66 Licik
67 Berkelit
68 Ribut
69 Kesal
70 Stress
71 Sistem
72 Main
73 Sibuk
74 Kerja
75 Pujian
76 Absurd
77 Misi
78 Misi 2
79 Pengakuan
80 Ganti Rugi
81 Gaji Tertunda
82 Rencana Lamaran
83 Pamer
84 Mall
85 Butik
86 Cacing
87 Tangkap
88 Bukti
89 Keluarga Baik
90 Jual Saja
91 Saksi
92 Saksi 2
93 Konferensi Pers
94 Lamaran
95 Lamaran 2
96 Julid
97 Otak Apa?
98 Interogasi
99 Pernikahan
100 Resepsi
101 Papa Fabio
102 Kehilangan
103 END
104 Callie Season 2
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Awal
2
Curiga
3
Frustasi
4
Khawatir
5
Arthur
6
Dua Bocah
7
Kabur
8
Galak
9
Penakut
10
Rose
11
Rose 2
12
Kesayangan
13
Tak Percaya
14
Setuju
15
Peninjauan
16
Menyesal
17
Membayar
18
Masalah
19
Penyelundup
20
Penyelundup 2
21
Pusing
22
Tampar Balik
23
Takut
24
Gema
25
Rumpi
26
Ledekan
27
Teka-Teki
28
Bingung
29
Frustasi
30
Drama Cucu
31
Kebaikan
32
Bayangan
33
Alasan
34
Informasi
35
Sekolah
36
Teguran
37
Omelan
38
Tembakan
39
Tembakan 2
40
Tak Percaya
41
Akrab
42
Hilang
43
Bukti
44
Tagihan
45
Ganti Rugi
46
Maaf
47
Kejadian
48
Jangan Kepo
49
Jujur
50
Cicit Hebat
51
Belajar
52
Bukan Matre
53
Bingung
54
Terlalu Bagus
55
Hukuman
56
Pamer
57
Aduan
58
(Bukan) Keluarga
59
Gaduh
60
Pusing
61
Traktiran
62
Trio Emak
63
Trio Emak 2
64
Calon Panpan
65
Elina
66
Licik
67
Berkelit
68
Ribut
69
Kesal
70
Stress
71
Sistem
72
Main
73
Sibuk
74
Kerja
75
Pujian
76
Absurd
77
Misi
78
Misi 2
79
Pengakuan
80
Ganti Rugi
81
Gaji Tertunda
82
Rencana Lamaran
83
Pamer
84
Mall
85
Butik
86
Cacing
87
Tangkap
88
Bukti
89
Keluarga Baik
90
Jual Saja
91
Saksi
92
Saksi 2
93
Konferensi Pers
94
Lamaran
95
Lamaran 2
96
Julid
97
Otak Apa?
98
Interogasi
99
Pernikahan
100
Resepsi
101
Papa Fabio
102
Kehilangan
103
END
104
Callie Season 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!