Bab 2. Dia Mulai Mengusik

Sejak rapat kerja sama dengan MS Fashion pagi itu, nama Michelle Ayu Suroso mulai sering terdengar di kantor Ardhana Group.

Awalnya hanya sebatas urusan pekerjaan. Jena masih menganggap semuanya normal.

MS Fashion memang perusahaan besar. Wajar jika proyek kerja sama mereka melibatkan banyak komunikasi dan pertemuan lanjutan.

Namun entah kenapa, nama Michelle mulai muncul terlalu sering di sekitar Jovian.

"Pak Jovian, proposal revisi dari MS Fashion sudah masuk."

"Pak Jovian, Bu Michelle meminta perubahan timeline produksi."

"Pak Jovian, Bu Michelle ingin menjadwalkan meeting tambahan."

Dan setiap kali nama itu disebut, Jena mulai merasa ada sesuatu yang perlahan mengusik ketenangan hidupnya. Namun ia selalu berusaha berpikir positif.

***

Suasana kantor pagi itu cukup lengang karena sebagian staf menghadiri kunjungan ke pabrik cabang.

Jena sedang menyusun dokumen di meja sekretaris ketika suara pintu lift privat terbuka. Ia mendongak spontan. Jovian keluar sambil melepas jas hitamnya. Tatapan lelaki itu langsung mencari satu orang. Dan seperti biasa, berhenti pada Jena. "Pagi."

Jena tersenyum kecil. "Pagi, Mas."

Jovian menghampiri meja sekretaris lalu menyandarkan pinggul di sana. "Kamu udah sarapan?"

"Udah."

"Bohong."

Jena terkekeh. "Beneran."

"Kopi doang bukan sarapan," tebak Jovian tepat sasaran.

Jena menghela napas pasrah. "Mas ini kenapa sih suka banget ngawasin aku?"

"Karena aku sayang kamu." Jawabannya terlalu cepat. Terlalu natural. Dan selalu berhasil membuat pipi Jena menghangat. Jovian lalu menyerahkan paper bag kecil. "Ini buat kamu."

"Apa ini, Mas?"

"Buka aja."

Jena membuka paper bag itu perlahan. Matanya langsung berbinar saat melihat kotak kecil berisi strawberry cheesecake favoritnya. "Mas ..."

"Kemarin kamu lihat postingan itu terus dan kamu bilang ke aku kalau kamu pengen makan itu."

"Kamu inget?" Mata Jena berbinar.

Jovian mengangkat alis. "Aku lupa kapan terakhir kali nggak inget soal kamu."

Dada Jena kembali dipenuhi rasa hangat. Ia memeluk Jovian, sebelum akhirnya mengucapkan terima kasih.

Sembilan tahun bersama, dan lelaki itu masih memperhatikan hal kecil tentang dirinya. Bagaimana mungkin Jena tidak mencintai Jovian sedalam ini? Bahkan ia bisa dibilang tergila-gila pada makhluk tampan berwibawa bernama Jovian Ardhana.

"Mas udah sarapan belum?" tanya Jena sambil melepas pelukan.

"Udah tadi di rumah. Hari ini ada meeting pagi 'kan?"

Jena mengangguk. "Ada. Jam sepuluh."

"Kalau gitu aku masih punya waktu buat nemenin kamu sarapan."

Pipi Jena merona. "Mas apaan sih? Nanti diomelin lho."

"Nggak akan ada yang berani ngomel. Aku 'kan CEO di sini."

"Iya juga ya." Jena terkikik.

Jovian ikut terkekeh pelan lalu menarik kursi dan duduk di dekat meja sekretaris itu seperti sudah biasa. Padahal jika dilihat orang lain, pemandangan itu sangat tidak masuk akal.

Seorang CEO besar duduk menemani sekretarisnya makan cheesecake sambil sesekali menyuapinya. Namun bagi Jovian ... Jena selalu menjadi tempat paling nyaman. "Aaa ... buka mulutnya, Sayang."

"Mas!"

"Cepet."

Jena malu-malu membuka mulut kecilnya sementara Jovian tersenyum puas.

Beberapa staf yang lewat hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Pak Jovian makin hari makin bucin." Salah satu staf berbisik ke rekannya.

"Iya. Kalau aku jadi Mbak Jena, udah nggak mau cari laki-laki lain."

Dan memang benar. Bagi Jena, Jovian adalah rumah.

Lelaki yang menemaninya tumbuh sejak remaja.

Lelaki yang dulu rela kehujanan demi menjemputnya les.

Lelaki yang mengajarinya menyetir.

Lelaki yang selalu bilang:

"Nanti kalau aku sukses, kamu harus tetap di samping aku."

Dan Jena percaya ia akan tetap berada di sana. Di sisi Jovian, selamanya.

***

Menjelang siang, suasana kantor kembali sibuk. Jena sedang mencetak beberapa dokumen ketika suara langkah heels terdengar mendekat. Ia mendongak.

Michelle berdiri di depan meja sekretaris dengan senyum elegan. "Hai, Jena. Selamat siang."

Jena langsung berdiri sopan. "Selamat siang, Bu Michelle."

"Jovian ada?"

Jena sedikit terdiam mendengar perempuan itu memanggil nama CEO-nya begitu saja.

Bukan "Pak Jovian", tapi langsung Jovian.

Namun Jena buru-buru menepis pikirannya sendiri. "Mungkin memang gaya bicara Bu Michelle seperti itu," batinnya. Ia segera menjawab. "Ada, Bu. Tapi Pak Jovian sedang meeting online," jawab Jena.

Michelle mengangguk kecil. "Kalau begitu aku tunggu aja."

"Silakan duduk."

Michelle duduk di sofa ruang tunggu depan ruang CEO sambil memainkan ponselnya.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja terbuka. Jovian keluar sambil masih fokus membaca dokumen di tablet. Namun langkahnya berhenti saat melihat Michelle. "Oh, kamu sudah datang."

Michelle berdiri sambil tersenyum manis. "Maaf aku datang mendadak."

"Nggak apa-apa."

"Aku cuma mau memastikan soal revisi kontrak kemarin."

Jena kembali sedikit terusik. Lagi-lagi perempuan itu memanggil Jovian dengan cara yang terlalu akrab. Namun yang lebih membuatnya diam, Jovian tidak terlihat keberatan sama sekali.

"Mari masuk," ujar Jovian.

Michelle mengangguk. Sebelum masuk ke ruang CEO, perempuan itu sempat melirik Jena dan tersenyum tipis.

Entah kenapa, senyum itu membuat Jena tidak nyaman. "Kenapa perasaanku selalu seperti ini ya, setiap melihat Bu Michelle?"

Hampir satu jam Michelle berada di dalam ruangan CEO. Jena sebenarnya berusaha fokus bekerja. Namun samar-samar ia mendengar suara tawa dari dalam ruangan. Tawa Jovian. Dan anehnya, sudah lama sekali ia tidak mendengar sang kekasih tertawa selepas itu saat bekerja.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Michelle keluar sambil tersenyum. "Thanks ya."

Jovian ikut keluar mengantarnya sampai depan pintu. "Sama-sama."

Michelle tertawa kecil. "Kamu ternyata nggak sedingin yang aku bayangkan. Dan nggak sejutek yang orang-orang bilang. Kamu orangnya ... asyik."

Jena yang sedang mengetik spontan berhenti sesaat. Tatapannya perlahan terangkat. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Jovian tersenyum pada perempuan lain dengan cara yang cukup hangat. "Sikap hangatku hanya kutunjukan pada orang-orang tertentu," jawab Jovian santai.

Michelle tersenyum semakin lebar. "Berarti aku spesial dong bisa lihat sisi hangatnya kamu?"

Jovian terkekeh kecil. Lalu ia mengangkat bahu.

Dadanya Jena mendadak terasa aneh.

Bukan karena ucapan itu. Tapi karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Michelle akhirnya pamit pergi. Namun setelah pintu lift tertutup, Jena masih terdiam beberapa detik. Sampai suara Jovian menyadarkannya. "Kenapa bengong?"

"Hah? Enggak." Jena mengelak cepat.

Jovian mendekat ke meja sekretarisnya.

Tatapan lelaki itu langsung menyipit tipis. "Jangan bilang kamu cemburu?"

Jena spontan salah tingkah. "Apa sih?" Ia memalingkan wajah.

"Kelihatan tahu," goda Jovian sambil mengacak puncak kepala Jena.

"Aku nggak cemburu." Jena menahan tangan Jovian yang mengacak rambutnya.

Jovian tersenyum kecil lalu mencondongkan tubuh mendekat. "Jangan mikir yang enggak-enggak. Dia cuma partner kerja." Nada suaranya terdengar santai dan meyakinkan.

"Aku cuma nggak biasa lihat Mas ngobrol selama itu sama perempuan lain," gumam Jena jujur.

Jika tadi Jovian mengacak puncak kepala Jena, kini lelaki itu mengusapnya lembut. "Berarti kamu cemburu."

"Masss!" Bibir Jena manyun.

Jovian mencomot gemas bibir manyun Jena, sebelum berbisik penuh damba. "Di hidup aku cuma ada kamu."

Kalimat itu sukses membuat kecemasan kecil di hati Jena perlahan mereda. Ia mendongak, menatap Jovian yang tengah menatapnya hangat. "Mungkin aku terlalu sensitif dan curiga berlebihan," bisiknya dalam hati. "Lagian Bu Michelle itu cantik, pintar, dan berasal dari keluarga kaya raya. Mana mungkin dia tertarik pada laki-laki yang sudah punya kekasih selama sembilan tahun? Nggak mungkin perempuan terhormat seperti Bu Michelle jadi PHO?" Jena kembali menepis semua kecurigaannya.

"Udah ya, kamu nggak usah cemburu sama Michelle," suara Jovian membuyarkan kecamuk batin Jena.

"Iya, Mas." Jena mengangguk kecil.

"Ya sudah, kamu lanjut kerja lagi. Aku juga mau kembali ke ruanganku. Nanti sore kita pulang sama-sama ya?"

"Iya, Mas."

***

Waktu kerja pun usai. Jovian keluar dari ruangannya dan segera menghampiri Jena. "Sudah siap untuk pulang?" tanya lelaki itu seraya bersandar di kusen pintu.

Jena tertawa sambil merapikan barang-barangnya. "Siap Pak CEO."

"Kalau begitu ... let's go!"

Jena berlari kecil dan menyambut uluran tangan Jovian. Mereka berdua berjalan menapaki koridor kantor dengan bergandengan tangan.

Sampai di depan mobil, Jovian bertanya pada Jena. "Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?"

Jena nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya menjawab. "Langsung pulang aja. Aku capek banget. Mas juga kelihatan lelah."

"Oke, Sayang." Jovian membukakan pintu mobil. "Silakan masuk, cintaku."

Tawa Jena menguar geli. "Mas ihh! Jangan lebay."

"Aku nggak lebay. Aku cuma berusaha meratukan calon istriku."

Perlahan, mobil sport hitam itu melaju keluar dari parkiran kantor Ardhana Group.

Sekitar tiga puluh menit, mobil Jovian sampai di kawasan apartemen elite. "Mau mampir dulu nggak, Mas?" Jena bertanya sembari melepas sabuk pengamannya. "Mampir lah, masa enggak. Ke apart sendiri kok nggak mampir," cerocos Jena menggoda Jovian, membuat lelaki itu tertawa.

"Oke, oke. Jika ratuku sudah nyerocos ... aku tidak bisa menolak."

Jena terkikik. "Ya sudah, ayo turun."

"Siap."

Mereka kembali berjalan bergandengan tangan mesra. Para petugas apart pun sudah tak aneh lagi. Bahkan ada yang terang-terangan menggoda.

"Aduh-aduh ... kapan nyebar undangan nih?" kata salah satu resepsionis.

"Akhir tahun." Jovian menjawab dengan mantap dan suara yang lantang, membuat Jena yang berjalan di sebelahnya tak bisa menyembunyikan rona di pipi.

"Asyik! Kondangan nih kita!"

"Iya!"

Dua pegawai resepsionis itu tertawa saling bersahutan.

Jena dan Jovian pun ikut tertawa-tawa sambil menunggu lift terbuka. Tak lama, lift di depan mereka terbuka. Lalu keduanya masuk dengan wajah bahagia.

Akhirnya lift berhenti di lantai lima belas di mana unit apartemen Jena berada, lebih tepatnya unit milik Jovian yang ditinggali Jena.

"Mari masuk!" seru Jena sambil membuka pintu. Belum sempat gadis itu membuka heels-nya, tangan Jovian sudah lebih dulu menarik tubuhnya hingga berbenturan dengan tubuh Jovian yang tinggi atletis. "Mas!" Jena memukul pelan dada bidang kekasihnya.

"Aku pengen ini dari tadi." Jovian menyentuh permukaan bibir Jena yang dipoles lipstik warna nude.

Jena mendongak, kedua tangannya langsung melingkari leher kekar sang kekasih. "Boleh," bisiknya.

Jovian tersenyum kecil sebelum merunduk dan meraup bibir Jena.

Sang gadis membalasnya dengan lembut di awal. Tapi lama kelamaan mengikuti ritme hisapan Jovian.

"Jena ..." desah Jovian di sela ciuman mereka. "Aku sayang kamu."

"Aku juga, Mas."

Untuk beberapa menit, suasana di ruang tamu apartemen itu hanya dipenuhi suara cecapan bibir dan lidah yang saling beradu. Diiringi napas berat yang bertabrakan. Hingga akhirnya ponsel di saku jas Jovian berdering. Ciuman itu pun terlepas. Keduanya lalu tertawa geli.

"Ada yang nelepon, Mas."

"Iya, ganggu aja." Jovian merogoh saku jasnya setelah mengusap permukaan bibir Jena menggunakan ibu jarinya. "Papa." Suaranya memelan.

"Buruan angkat! Nanti beliau marah," kekeh Jena yang kini gantian mengusap permukaan bibir Jovian yang basah oleh saliva.

"Iya, Sayang." Jovian pun mengangkat panggilan dari ayahnya itu. "Halo, Pa?"

Suara ayahnya terdengar di seberang. "Kamu masih di kantor?"

"Nggak, aku lagi di apart Jena, kenapa?"

"Pulang sekarang. Ada yang ingin Papa bicarakan."

Sebelum menjawab, Jovian melirik Jena. Ia menjauhkan ponselnya sejenak. "Papa nyuruh aku pulang sekarang," beritahunya.

"Nggak papa, pulang aja." Jena membalas dengan suara kecil.

Jovian kembali menempelkan ponsel ke telinga. "Oke, Pa. Aku pulang sekarang." Panggilan pun berakhir. Jovian memasukan ponselnya ke saku jas, "Aku pulang dulu ya?"

"Iya, Mas. Hati-hati."

"Nanti malam kita vc."

"Iya."

Sebelum pergi, Jovian menyempatkan diri memeluk dan mengecup lagi bibir Jena. "Bye, Princess."

"Bye, Mas." Jena mengantar Jovian sampai ambang pintu. Ia dengan setia memandangi tubuh sang pacar sampai menghilang di balik lift. "Huh!" Jena menutup pintu lalu berjalan ke kamarnya. "Aku ingin segera menjadi istrimu, Mas."

***

Jena duduk di balkon apartemennya sambil melakukan video call dengan Jovian.

Lelaki itu masih berada di ruang kerjanya di rumah. "Kamu belum tidur?" tanya Jovian.

"Nungguin Mas. Kan tadi sore ngajak video call."

"Eh, iya." Jovian mengedip polos.

Jena tersenyum kecil. "Aku kangen."

Tatapan Jovian langsung melembut. "Kan tadi sore udah aku kasih amunisi."

"Mau lagi. Tadi kurang lama," kekeh Jena.

"Dasar." Jovian tertawa kecil. "Apa aku harus ke sana sekarang?"

"Emang Mas mau?" Jena malah balik bertanya.

"Kalau kamu bilang iya, aku berangkat sekarang."

Jena langsung tersipu. "Mas jangan bikin aku salting."

"Memang sengaja."

Mereka berbincang cukup lama. Tentang pekerjaan, tentang rencana liburan, tentang makanan dan tentang hal-hal sederhana yang sudah menjadi bagian dari hubungan mereka selama bertahun-tahun. Sampai tiba-tiba ponsel Jovian yang lain berbunyi.

Tatapan lelaki itu langsung beralih ke layar lain. "Sebentar ya."

"Siapa?"

"Michelle."

Jantung Jena langsung terasa sedikit turun. Jovian membaca pesan itu singkat lalu kembali menatap layar. "Dia kirim revisi desain."

"Oh." Jena berusaha tersenyum biasa.

Namun sedetik kemudian ponsel Jovian kembali berbunyi. Dan lagi. Lalu lagi.

Jovian terkekeh kecil. "Dia cerewet juga ternyata."

Jena ikut tersenyum tipis. "Mas jadi ke sini, tidak?"

Jovian memalingkan wajahnya dari ponsel satunya lagi. "Maaf ya, Sayang. Besok saja, ya. Aku harus memeriksa revisian yang dikirimkan Michelle."

"Hah?" Jena mematung. Ini pertama kalinya Jovian mengedepankan pekerjaan ketimbang dirinya.

Terpopuler

Comments

Marlina<br />✨always love you ✨

Marlina
✨always love you ✨

seperti nya si micell ini mencoba mengoda jovian deh..

2026-07-09

2

falea sezi

falea sezi

😒 klo Jovian suka micel pergi jauh aja 😕 emang bangke

2026-06-16

1

Cicih Sophiana

Cicih Sophiana

pelakor mulai beraksi...🫢

2026-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Merasa Dicintai
2 Bab 2. Dia Mulai Mengusik
3 Bab 3. Mulai Berubah
4 Bab 4. Mulai Kehilangan
5 Bab 5. Asing
6 Bab 6. Tersisih
7 Bab 7. Rumah
8 Bab 8. Pertengkaran
9 Bab 9. Baikan
10 Bab 10. Janji Jovian
11 Bab 11. Kebohongan Kecil
12 Bab 12. Ingkar Janji
13 Bab 13. Kepercayaan Yang Retak
14 Bab 14. Permintaan Maaf Jovian
15 Bab 15. Harapan Jena
16 Bab 16. Obrolan Keluarga
17 Bab 17. Charity Fashion
18 Bab 18. Menagih Hadiah
19 Bab 19. Kenapa Harus Sekarang?
20 Bab 20. Undangan Makan Malam
21 Bab 21. Nervous
22 Bab 22. Remuk
23 Bab 23. Setelah 9 Tahun Bersama
24 Bab 24. Jena, Maafkan Aku
25 Bab 25. Tawa Di Tengah Luka
26 Bab 26. Berusaha Ikhlas
27 Bab 27. Keputusan Jena
28 Bab 28. Akulah Pemenangnya
29 Bab 29. Pamit
30 Bab 30. Good Bye, Masa Lalu
31 Bab 31. Memilih Melangkah
32 Bab 32. Aduh, Mas Toto
33 Bab 33. Holiday
34 Bab 34. Ini Kan ...?
35 Bab 35. Jena, Kamu Pergi Ke Mana?
36 Bab 36. Rencana Michelle
37 Bab 37. Berhasil
38 Bab 38. Satu Malam, Dua Kisah
39 Bab 39. Niat Mulia Vs Dosa Yang Menanti
40 Bab 40. Selamat Atas Kemenanganmu
41 Bab 41. Tidak Mungkin
42 42. Angan-Angan Semata
43 Bab 43. Kehilangan Menghimpit Dada
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1. Merasa Dicintai
2
Bab 2. Dia Mulai Mengusik
3
Bab 3. Mulai Berubah
4
Bab 4. Mulai Kehilangan
5
Bab 5. Asing
6
Bab 6. Tersisih
7
Bab 7. Rumah
8
Bab 8. Pertengkaran
9
Bab 9. Baikan
10
Bab 10. Janji Jovian
11
Bab 11. Kebohongan Kecil
12
Bab 12. Ingkar Janji
13
Bab 13. Kepercayaan Yang Retak
14
Bab 14. Permintaan Maaf Jovian
15
Bab 15. Harapan Jena
16
Bab 16. Obrolan Keluarga
17
Bab 17. Charity Fashion
18
Bab 18. Menagih Hadiah
19
Bab 19. Kenapa Harus Sekarang?
20
Bab 20. Undangan Makan Malam
21
Bab 21. Nervous
22
Bab 22. Remuk
23
Bab 23. Setelah 9 Tahun Bersama
24
Bab 24. Jena, Maafkan Aku
25
Bab 25. Tawa Di Tengah Luka
26
Bab 26. Berusaha Ikhlas
27
Bab 27. Keputusan Jena
28
Bab 28. Akulah Pemenangnya
29
Bab 29. Pamit
30
Bab 30. Good Bye, Masa Lalu
31
Bab 31. Memilih Melangkah
32
Bab 32. Aduh, Mas Toto
33
Bab 33. Holiday
34
Bab 34. Ini Kan ...?
35
Bab 35. Jena, Kamu Pergi Ke Mana?
36
Bab 36. Rencana Michelle
37
Bab 37. Berhasil
38
Bab 38. Satu Malam, Dua Kisah
39
Bab 39. Niat Mulia Vs Dosa Yang Menanti
40
Bab 40. Selamat Atas Kemenanganmu
41
Bab 41. Tidak Mungkin
42
42. Angan-Angan Semata
43
Bab 43. Kehilangan Menghimpit Dada
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!