Bab 3. Mulai Berubah

Jena menatap layar ponselnya yang kini sudah menggelap. Ia masih tak percaya Jovian tak jadi datang ke apartemennya. "Ya ampun! Kamu mikir apa sih, Jen? Ya wajar Jovian mengutamakan memeriksa revisian yang dikirim Bu Michelle. Jovian kan selalu profesional." Ia memukul kepalanya pelan. "Stop overthinking, Jen. Mending sekarang kamu tidur." Jena bangkit dari kasur. Ia menyimpan ponselnya ke atas nakas, lalu mematikan lampu. Tubuhnya ia rebahkan perlahan. "Semoga hari esok lebih baik dari hari ini." Mata Jena pun perlahan tertutup.

Di ruang kerjanya, Jovian masih sibuk memeriksa revisian yang dikirim Michelle. Iris hitamnya begitu fokus memeriksa setiap detail dengan saksama. Seulas senyum terukir di bibirnya yang sensual. "Michelle memang sangat teliti. Dia bukan wanita sembarangan. Pekerjaannya sama rapinya dengan Pak Mario. Anak dan ayah sama-sama hebat." Jovian memejamkan mata sejenak. Mendadak wajah Michelle saat sedang presentasi berkelebat, lalu disusul wajah Jena. "Ya Tuhan!" Matanya terbuka seketika. "Fokus, Jov. Besok harus presentasi!" Ia pun kembali menatap layar laptopnya.

***

Mentari pagi membawa udara hangat menyentuh wajah Jena. Gadis itu turun dari taksi online. Kakinya yang jenjang melangkah menapaki pelataran gedung Ardhana Group. "Pagi, Pak." Ia menyapa satpam yang berjaga di lobi.

"Pagi, Mbak Jena."

Jena mengangguk, lalu masuk ke dalam kantor. Pagi itu ia sengaja datang lebih awal ke kantor karena harus menyiapkan presentasi meeting investor.

Jena baru saja tiba di ruangannya ketika ponselnya berbunyi. Nama Jovian muncul di layar. Senyum Jena langsung terbit. "Pagi, Mas."

Namun suara di seberang terdengar terburu-buru. "Jena, file presentasi kerja sama MS Fashion udah siap?"

Jena sedikit terdiam. Biasanya Jovian akan memulai pagi dengan sapaan manis atau menanyakan apakah ia sudah sarapan atau belum. Hari ini langsung pekerjaan. "Udah," jawab Jena pelan. "Nanti aku kirim ke email Mas."

"Oke. Aku lagi di jalan."

"Mas udah sarapan?"

"Nanti aja."

"Oke. Jangan sampai nggak sarapan ya?"

"Iya." Setelah itu telepon langsung terputus.

Jena menatap layar ponselnya beberapa detik. Perasaan aneh itu muncul lagi. Kecil, tipis, namun terasa nyata. Ia menghela napas pelan lalu buru-buru mengusir pikirannya sendiri. "Tenang, Jena. Kamu sudah berjanji untuk tidak overthinking lagi." Ia pun memulai pekerjaannya.

Sekitar pukul setengah delapan, lift privat terbuka. Jovian keluar sambil berbicara dengan seseorang melalui headset bluetooth. Wajahnya terlihat serius. Beberapa staf langsung menyapa, namun lelaki itu hanya mengangguk tipis sambil tetap fokus berbicara. "Kalau timeline berubah, biaya produksi juga berubah," ucapnya. Jena yang sedang berdiri langsung menoleh. "Tidak bisa semaunya, Michelle."

Beberapa detik kemudian, ekspresi Jovian berubah lebih santai. "Ya nanti kita bahas lagi." Ia tersenyum kecil. Senyum kecil yang entah kenapa membuat dada Jena terasa tidak nyaman. "Oke. Sampai nanti." Panggilan berakhir. Baru setelah itu Jovian berjalan mendekati meja sekretarisnya. "Pagi."

Jena tersenyum kecil. "Pagi, Mas."

Jovian meletakkan tablet di meja. "File presentasi?"

"Udah aku kirim."

"Good."

Jena menunggu. Biasanya setelah itu Jovian akan duduk sebentar, menggodanya, atau sekadar menanyakan kabarnya. Namun hari ini lelaki itu justru tampak sibuk membuka email.

"Mas udah sarapan belum?"

"Nanti aja."

"Kopi?"

"Hm."

Jena bangkit berdiri hendak mengambil kopi ke pantry, tapi tiba-tiba Jovian berkata tanpa mengalihkan pandangan dari layar, "Oh ya, nanti jam dua Michelle datang."

Langkah Jena terhenti sesaat. "Meeting lagi?"

"Iya."

"Bukannya kemarin baru saja meeting ya, Mas?"

"Dia mau bahas campaign baru."

Jena mengangguk kecil. "Oh."

"Aku ke ruanganku ya." Tanpa menunggu jawaban dari Jena, Jovian langsung pergi.

Jena menatap kepergian lelaki itu dengan hati yang tak menentu karena

nama Michelle kini mulai terdengar terlalu sering di telinganya.

Tepat pukul setengah satu siang, Jena masuk ke ruang CEO membawa makan siang. Ia tersenyum kecil saat melihat Jovian masih sibuk bekerja. "Mas belum makan kan?"

"Hm."

"Aku bawain makanan."

Biasanya Jovian akan langsung mendekat atau menariknya duduk bersama. Namun hari ini lelaki itu hanya mengangguk sambil tetap fokus membaca dokumen. "Taruh situ dulu ya."

Jena sedikit terdiam. "Oke." Ia akhirnya mengangguk. Ia menata makanan di meja kecil dekat sofa lalu melirik Jovian lagi. "Mas pasti capek?"

"Lumayan."

"Meeting investor tadi susah?"

"Bukan."

"Terus?"

Jovian mengusap tengkuknya pelan. "Michelle banyak maunya." Kalimat itu terdengar seperti keluhan biasa. Namun anehnya, Jovian mengucapkannya sambil tersenyum tipis.

Jena berusaha ikut tersenyum. "Namanya juga partner kerja."

"Iya sih."

Beberapa detik hening. Lalu tiba-tiba ponsel Jovian berbunyi. Nama Michelle muncul jelas di layar. Dan yang membuat dada Jena terasa aneh, Jovian langsung mengangkatnya. "Halo?" Nada suaranya berubah lebih ringan. "Iya, aku udah lihat."

Aku.

Bukan saya.

Jena membeku sesaat. Karena selama ini Jovian selalu profesional dengan rekan kerja. "Aneh?" Gadis itu membatin.

"Enggak, itu bisa direvisi." Jovian berdiri lalu berjalan mendekati jendela besar sambil tetap berbicara di telepon.

Jena menatap punggung lelaki itu dalam diam. Perasaan asing itu kembali muncul. Kecil, namun perlahan mulai menusuk.

Tak lama kemudian panggilan berakhir.

Jovian kembali duduk.

"Mas makan dulu, ya?" ujar Jena pelan.

"Hm? Iya." Jovian akhirnya mulai makan, sementara Jena duduk di seberangnya. Biasanya mereka akan mengobrol santai saat makan siang.

Namun hari ini, Jovian lebih banyak memeriksa ponselnya. Dan Jena mulai merasa sendirian meski duduk tepat di depan lelaki yang ia cintai. Akhirnya ia memilih kembali ke ruangannya, dan Jovian mengizinkan tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

Jena menutup pintu ruangan Jovian dengan gerakan pelan. Mendadak ia jadi ingin menangis. "Astagfirullah! Jangan mikir yang aneh-aneh, Jen." Meski perasaan asing itu kerap kali muncul, tapi Jena tetap berusaha berpikir positif.

Pukul dua siang, Michelle datang lagi ke kantor. Kali ini penampilannya lebih formal dengan blazer putih dan rok span hitam. Namun tetap saja, perempuan itu terlalu cantik untuk diabaikan. "Hei, Jena," sapanya ramah.

"Selamat siang, Bu Michelle."

"Jovian ada?"

"Ada, Bu. Pak Jovian sudah menunggu Bu Michelle di dalam."

Michelle tersenyum lalu berjalan masuk tanpa banyak formalitas.

Jena mencoba fokus bekerja. Namun samar-samar suara tawa terdengar lagi dari dalam ruang CEO. Ia menggigit bibir pelan. Mungkin ia memang terlalu sensitif. Namun insting perempuan jarang salah.

Satu jam berlalu.

Dua jam.

Michelle masih di dalam.

Menjelang sore, pintu ruang CEO akhirnya terbuka. Michelle keluar sambil tertawa kecil. "Kamu tuh ternyata susah diajak kalah ya."

Jovian ikut tertawa. "Karena kamu keras kepala."

"No! No! Aku bukan keras kepala. Tapi perfeksionis."

"Bedanya tipis."

Michelle tertawa lagi.

Dan untuk pertama kalinya, Jena melihat Jovian tertawa sebebas itu dengan perempuan lain. Dadanya langsung terasa sesak.

Michelle lalu menoleh pada Jena. "Jena, boleh pinjam Jovian bentar malam ini?"

Jena spontan membeku. Michelle buru-buru melanjutkan sambil tertawa kecil. "Eh maksudku buat meeting dinner. Bahas campaign."

Jovian terlihat santai. "Nanti aku kabarin jamnya."

"Sure." Michelle tersenyum manis lalu pergi meninggalkan ruangan itu diantar oleh Jovian.

Jena masih duduk di mejanya sambil mencoba mengatur napas. Entah kenapa kalimat tadi terus terngiang di kepalanya.

"Pinjam Jovian bentar malam ini?"

Dan yang lebih mengganggu pikirannya,

Jovian tidak terlihat terganggu sama sekali.

***

Jena terus melirik jam dinding di apartemennya. Sang penunjuk waktu itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun belum ada kabar dari Jovian. Padahal biasanya lelaki itu selalu menghubunginya sebelum tidur.

Jena akhirnya memberanikan diri menelepon lebih dulu. Sambungan diangkat setelah beberapa kali dering.

"Halo?" Suara musik samar terdengar dari seberang sana.

"Mas masih meeting?"

"Iya."

"Kok malam banget?"

"Lagi bahas konsep campaign belum beres."

"Oh ..."

Beberapa detik hening. Lalu samar-samar terdengar suara perempuan tertawa. Jena langsung mengenalinya.

"Jovian, coba lihat ini deh-" Suara itu terdengar cukup jelas sebelum telepon sedikit menjauh.

Tak lama kemudian Jovian kembali bicara. "Jena?"

"Iya."

"Aku mungkin pulang agak malam."

"Mas udah makan?"

"Udah."

"Kamu jangan bergadang."

"Iya."

Lalu telepon itu diakhiri Jovian tanpa basa-basi lain seperti biasanya.

Jena menatap layar ponselnya lama. "Mas, kenapa aku merasa kamu mulai berubah?"

Terpopuler

Comments

Marlina<br />✨always love you ✨

Marlina
✨always love you ✨

cowok mah gitu klo ada yg baru aja yg lama di abaikan..itu ciri" orang gampang berpaling hati nya

2026-07-09

2

Titien Prawiro

Titien Prawiro

Bakalan ada pelakor dan Jovian selingkuh akhirnya Jena ditinggal nikah sama Michell

2026-06-27

1

Inarrr Ulfah

Inarrr Ulfah

nah kan cowok mah gitu...di temenin dari blum jadi apa2 sekarang dah jadi CEO mlh berulah

2026-06-18

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Merasa Dicintai
2 Bab 2. Dia Mulai Mengusik
3 Bab 3. Mulai Berubah
4 Bab 4. Mulai Kehilangan
5 Bab 5. Asing
6 Bab 6. Tersisih
7 Bab 7. Rumah
8 Bab 8. Pertengkaran
9 Bab 9. Baikan
10 Bab 10. Janji Jovian
11 Bab 11. Kebohongan Kecil
12 Bab 12. Ingkar Janji
13 Bab 13. Kepercayaan Yang Retak
14 Bab 14. Permintaan Maaf Jovian
15 Bab 15. Harapan Jena
16 Bab 16. Obrolan Keluarga
17 Bab 17. Charity Fashion
18 Bab 18. Menagih Hadiah
19 Bab 19. Kenapa Harus Sekarang?
20 Bab 20. Undangan Makan Malam
21 Bab 21. Nervous
22 Bab 22. Remuk
23 Bab 23. Setelah 9 Tahun Bersama
24 Bab 24. Jena, Maafkan Aku
25 Bab 25. Tawa Di Tengah Luka
26 Bab 26. Berusaha Ikhlas
27 Bab 27. Keputusan Jena
28 Bab 28. Akulah Pemenangnya
29 Bab 29. Pamit
30 Bab 30. Good Bye, Masa Lalu
31 Bab 31. Memilih Melangkah
32 Bab 32. Aduh, Mas Toto
33 Bab 33. Holiday
34 Bab 34. Ini Kan ...?
35 Bab 35. Jena, Kamu Pergi Ke Mana?
36 Bab 36. Rencana Michelle
37 Bab 37. Berhasil
38 Bab 38. Satu Malam, Dua Kisah
39 Bab 39. Niat Mulia Vs Dosa Yang Menanti
40 Bab 40. Selamat Atas Kemenanganmu
41 Bab 41. Tidak Mungkin
42 42. Angan-Angan Semata
43 Bab 43. Kehilangan Menghimpit Dada
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1. Merasa Dicintai
2
Bab 2. Dia Mulai Mengusik
3
Bab 3. Mulai Berubah
4
Bab 4. Mulai Kehilangan
5
Bab 5. Asing
6
Bab 6. Tersisih
7
Bab 7. Rumah
8
Bab 8. Pertengkaran
9
Bab 9. Baikan
10
Bab 10. Janji Jovian
11
Bab 11. Kebohongan Kecil
12
Bab 12. Ingkar Janji
13
Bab 13. Kepercayaan Yang Retak
14
Bab 14. Permintaan Maaf Jovian
15
Bab 15. Harapan Jena
16
Bab 16. Obrolan Keluarga
17
Bab 17. Charity Fashion
18
Bab 18. Menagih Hadiah
19
Bab 19. Kenapa Harus Sekarang?
20
Bab 20. Undangan Makan Malam
21
Bab 21. Nervous
22
Bab 22. Remuk
23
Bab 23. Setelah 9 Tahun Bersama
24
Bab 24. Jena, Maafkan Aku
25
Bab 25. Tawa Di Tengah Luka
26
Bab 26. Berusaha Ikhlas
27
Bab 27. Keputusan Jena
28
Bab 28. Akulah Pemenangnya
29
Bab 29. Pamit
30
Bab 30. Good Bye, Masa Lalu
31
Bab 31. Memilih Melangkah
32
Bab 32. Aduh, Mas Toto
33
Bab 33. Holiday
34
Bab 34. Ini Kan ...?
35
Bab 35. Jena, Kamu Pergi Ke Mana?
36
Bab 36. Rencana Michelle
37
Bab 37. Berhasil
38
Bab 38. Satu Malam, Dua Kisah
39
Bab 39. Niat Mulia Vs Dosa Yang Menanti
40
Bab 40. Selamat Atas Kemenanganmu
41
Bab 41. Tidak Mungkin
42
42. Angan-Angan Semata
43
Bab 43. Kehilangan Menghimpit Dada
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!