Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Bab 1. Merasa Dicintai

Suasana pagi di lantai tiga puluh dua gedung utama Ardhana Group sudah sibuk sejak pukul delapan. Para staf berlalu-lalang membawa dokumen, suara telepon kantor bersahutan, sementara aroma kopi memenuhi udara dari pantry di ujung lorong.

Di tengah kesibukan itu, Jena duduk fokus di meja sekretaris CEO sambil mengetik jadwal rapat hari ini.

Penampilannya sederhana namun rapi. Blouse putih lengan panjang dipadukan rok hitam span membuatnya terlihat profesional sekaligus anggun. Rambut panjangnya dijepit sebagian ke belakang, memperlihatkan wajah cantik yang teduh. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard saat suara lift privat terbuka.

Beberapa karyawan langsung berdiri lebih tegak.

"Selamat pagi, Pak Jovian."

"Selamat pagi, Pak."

"Pagi." Jovian Ardhana melangkah keluar dari lift dengan langkah tenang dan berwibawa. Jas abu gelap membungkus tubuh tegapnya sempurna. Wajah tampannya terlihat dingin bagi kebanyakan orang.

Namun tidak untuk satu perempuan. Tatapan Jovian langsung melembut begitu melihat Jena. "Pagi, Sayang."

Jena spontan mendongak lalu tersenyum kecil. "Pagi, Mas."

Beberapa staf diam-diam saling pandang sambil menahan iri.

Hubungan CEO muda itu dengan sekretaris pribadinya memang bukan rahasia lagi di kantor.

Dan semua orang tahu ... Jovian sangat mencintai Jena.

Jovian menghampiri meja Jena lalu meletakkan paper bag kecil di sana. "Kamu belum sarapan." Bukan bertanya. Tapi memastikan.

Jena langsung terkekeh pelan. "Mas pasang CCTV di aku ya?"

"Aku sangat hafal kebiasaan kamu." Jovian mengeluarkan segelas kopi hangat dan roti favorit Jena dari paper bag itu. "Hazelnut latte tanpa gula tambahan."

Tatapan Jena langsung menghangat. Sembilan tahun bersama, tapi lelaki itu masih mengingat detail kecil tentang dirinya.

"Kamu berangkat pagi banget tadi," ujar Jovian.

"Ada revisi jadwal meeting."

"Kamu tidur jam berapa?"

Jena salah tingkah. "Jam sebelas."

Jovian menyipitkan mata. "Bohong."

Jena tertawa kecil. "Setengah satu."

"Kebiasaan."

"Kerjaan lagi banyak."

Jovian menghela napas pelan lalu merapikan anak rambut yang jatuh di pipi Jena. "Jangan terlalu capek."

"Mas juga."

"Aku beda."

"Bedanya apa?"

"Aku kuat."

Jena mendengkus geli. "Pede banget."

"Kalau aku nggak kuat, mana mungkin aku bisa jagain dan mencintai kamu selama sembilan tahun."

Ucapan itu membuat dada Jena menghangat. Ia benar-benar merasa dicintai. Bukan cinta yang meledak-ledak seperti di drama. Tapi cinta yang tenang. Yang membuatnya merasa aman.

Seorang staf laki-laki yang lewat bahkan berbisik pelan pada temannya. "Kalau Pak Jovian lihat Mbak Jena, auranya langsung beda ya."

"Iya, dinginnya hilang semua."

Jena mendengar samar ucapan itu dan pipinya langsung memanas. "Mas ... semua orang melihat kita dan lagi bisik-bisik tuh."

"Biarin." Jovian malah santai. Lelaki itu sedikit membungkuk mendekat. "Nanti siang makan sama aku ya."

Jena mengangkat alis. "Bukannya Mas ada meeting panjang?"

"Aku bisa menyelipkan waktu."

"Mas jangan mengorbankan kerjaan buat makan siang sama aku."

"Buat kamu, pekerjaan pun akan aku korbankan."

Kalimat sederhana itu sukses membuat Jena kembali tersipu. Kadang ia heran sendiri. Bagaimana mungkin setelah hampir satu dekade bersama, ia masih bisa jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama?

"Mas masuk dulu sana," ujar Jena sambil menahan senyum. "Jam sembilan ada rapat sama direksi dan petinggi MS Fashion."

"Oke, tapi kamu ikut masuk ke ruanganku yuk."

"Mas ..."

"Sebentar aja, Sayang." Jovian mengusap pipi Jena.

Jena akhirnya berdiri sambil membawa tablet dan beberapa dokumen penting. Ia mengikuti Jovian masuk ke ruang CEO yang luas dan elegan.

Begitu pintu tertutup, suasana langsung terasa lebih privat. Baru saja Jena hendak menyerahkan dokumen, Jovian tiba-tiba menarik pinggangnya pelan. "Mas!"

"Kangen." Jovian menggesekan hidungnya di ceruk leher Jena. Menghirup aroma khas dari tubuh kekasihnya itu.

"Kita baru ketemu tadi malam." Jena menahan geli dari gerakan hidung Jovian.

"Tetap aja. Aku kangen kamu terus."

Jena tertawa kecil sambil menahan dada bidang lelaki itu. "Kalau ada yang masuk gimana?"

"Nggak akan ada yang berani masuk tiba-tiba." Tatapan Jovian turun ke wajah perempuan itu. Hangat dan lembut. Tatapan yang selalu membuat Jena merasa jadi satu-satunya perempuan di dunia. "Aku serius soal omongan kemarin," ucap Jovian pelan.

Jantung Jena langsung berdetak sedikit lebih cepat. "Soal nikah?"

Jovian mengangguk. "Aku pengen cepet-cepet menyelesaikan semuanya."

Wajah Jena langsung memerah tipis. Sudah hampir satu tahun terakhir Jovian sering membahas pernikahan mereka.

Tentang rumah, tentang masa depan dan tentang hidup bersama.

Setiap kali topik itu muncul, hati Jena selalu dipenuhi kebahagiaan.

"Aku ingin membahagiakan kamu," lanjut Jovian.

"Aku udah bahagia, Mas."

"Belum cukup."

Jena menatap lelaki itu lembut. "Aku nggak pernah nuntut apa-apa dari Mas."

"Aku tahu."

"Bahkan kalau Mas bukan CEO pun, aku tetap ak memilih dan mencintai Mas."

Tatapan Jovian langsung melembut semakin dalam. Ia mengecup singkat kening Jena. "Aku beruntung punya kamu." Bibirnya lalu turun ke bibir merah muda Jena, menyesapnya lembut dan penuh cinta.

Jena pun membalasnya, mengalungkan kedua tangannya ke leher kekar Jovian Ardhana.

***

Sekitar pukul sembilan lewat lima belas menit, ruang meeting utama Ardhana Group mulai dipenuhi beberapa petinggi perusahaan.

Jena sibuk memastikan semua kebutuhan rapat tersedia.

Laptop.

Dokumen.

Minuman.

Proyektor.

Sementara Jovian berdiri berbincang dengan beberapa direksi di dekat meja panjang utama.

Tak lama kemudian, pintu ruang meeting terbuka. Semua orang spontan menoleh.

Bimo Ardhana, Papa Jovian masuk dengan langkah tenang khas seorang pemimpin besar. Di belakangnya, ada seorang perempuan muda yang langsung mencuri perhatian semua yang ada di ruangan.

Cantik.

Elegan.

Dan sangat berkelas.

Dress beige mahal membalut tubuh rampingnya sempurna. Rambut panjang bergelombang jatuh anggun di bahunya, sementara heels tinggi membuat penampilannya semakin menonjol.

Jena yang sedang berdiri dekat meja sedikit terdiam.

Bimo tersenyum tipis. "Maaf membuat semua menunggu."

"Tidak, Pa," jawab Jovian. Tatapan lelaki itu sempat beralih pada perempuan di belakang ayahnya.

Bimo lalu berkata, "Jovian, kenalkan. Ini Michelle Ayu Suroso."

Perempuan itu tersenyum lalu mengulurkan tangan. "Halo."

Jovian membalas jabatan tangan itu sopan. "Halo."

"Michelle mewakili MS Fashion untuk rapat hari ini," lanjut Bimo. "Pak Mario Suroso mendadak ada urusan di luar kota jadi tidak bisa hadir."

"Oh begitu," ujar Jovian profesional.

Michelle tersenyum tipis. "Papi sebenarnya kecewa tidak bisa datang langsung. Beliau bilang kerja sama dengan Ardhana Group terlalu penting untuk dilewatkan."

"Semoga urusannya lancar," jawab Jovian.

Michelle mengangguk. Tatapan matanya sempat memperhatikan Jovian beberapa detik lebih lama.

Dan entah kenapa, Jena menangkap itu.

Namun ia buru-buru menepis pikirannya sendiri. Mungkin hanya perasaannya saja.

Rapat pun dimulai.

Selama presentasi berlangsung, Michelle beberapa kali menyampaikan pendapat dengan percaya diri. Cara bicaranya tenang, cerdas, dan jelas menunjukkan bahwa ia memang terbiasa berada di lingkungan bisnis besar.

Beberapa direksi bahkan tampak terkesan.

"Putri Pak Mario memang luar biasa."

"Masih muda tapi cara negosiasinya bagus."

Jena mendengar bisikan itu samar-samar sambil tetap fokus mencatat poin rapat.

Sementara di sisi lain meja, Michelle sesekali melirik ke arah Jovian saat berbicara.

Dan anehnya, Jovian terlihat cukup nyaman menanggapi perempuan itu.

"Kalau untuk produksi premium line, kami ingin kualitas bahan tetap eksklusif," ujar Michelle.

Jovian mengangguk. "Itu juga standar perusahaan kami."

Michelle tersenyum kecil. "Bagus kalau begitu. Berarti kita sejalan."

Kata "kita" terdengar sederhana. Namun entah kenapa membuat hati Jena terasa sedikit aneh. Padahal ini baru pertama kali mereka bertemu.

Rapat berlangsung hampir dua jam sebelum akhirnya selesai. Semua peserta mulai berdiri dan membereskan dokumen masing-masing.

Michelle menoleh pada Jovian sambil tersenyum sopan. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda, Pak Jovian."

"Saya juga."

"Semoga kerja sama kita berjalan lancar." Michelle tersenyum kecil.

"Pasti."

Michelle lalu sedikit melirik ke arah Jena yang berdiri tak jauh dari Jovian. "Sekretaris Anda sangat teliti."

Jena tersenyum sopan. "Terima kasih."

Bimo tiba-tiba berkata, "Jena memang sudah lama bekerja sama dengan Jovian."

"Pantas kelihatan sangat paham ritme kerja Pak Jovian," ujar Michelle sambil tersenyum tipis.

Jena mengangguk kecil. Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, muncul perasaan asing yang tidak bisa ia jelaskan. "Ini perasaan apa ya, kenapa hatiku jadi nggak enak?" gumam gadis itu dalam hati.

Terpopuler

Comments

차니 Chani🇰🇷

차니 Chani🇰🇷

Halo kak, aku mampir👋🏻 kyaknya aku lbh cocok sama novel kakak yg ini jadi mulai baca yg sblmnya kupilih rada aliran dewasa keras buatku 😅 (novel Simpanan Tuan Anjelo) yg ini aku suka kak, semangat ya💪♡mampir jg ke karyaku ya kak

2026-07-11

1

Marlina<br />✨always love you ✨

Marlina
✨always love you ✨

hai kak Ama aku mampir kesini...mau baca jovian n jena..kaya nya seru ceritanya..ini tentang perselingkuhan juga

2026-06-23

1

falea sezi

falea sezi

lanjut 😍 klo Jovian g setia buang aja ke laut😕

2026-06-14

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Merasa Dicintai
2 Bab 2. Dia Mulai Mengusik
3 Bab 3. Mulai Berubah
4 Bab 4. Mulai Kehilangan
5 Bab 5. Asing
6 Bab 6. Tersisih
7 Bab 7. Rumah
8 Bab 8. Pertengkaran
9 Bab 9. Baikan
10 Bab 10. Janji Jovian
11 Bab 11. Kebohongan Kecil
12 Bab 12. Ingkar Janji
13 Bab 13. Kepercayaan Yang Retak
14 Bab 14. Permintaan Maaf Jovian
15 Bab 15. Harapan Jena
16 Bab 16. Obrolan Keluarga
17 Bab 17. Charity Fashion
18 Bab 18. Menagih Hadiah
19 Bab 19. Kenapa Harus Sekarang?
20 Bab 20. Undangan Makan Malam
21 Bab 21. Nervous
22 Bab 22. Remuk
23 Bab 23. Setelah 9 Tahun Bersama
24 Bab 24. Jena, Maafkan Aku
25 Bab 25. Tawa Di Tengah Luka
26 Bab 26. Berusaha Ikhlas
27 Bab 27. Keputusan Jena
28 Bab 28. Akulah Pemenangnya
29 Bab 29. Pamit
30 Bab 30. Good Bye, Masa Lalu
31 Bab 31. Memilih Melangkah
32 Bab 32. Aduh, Mas Toto
33 Bab 33. Holiday
34 Bab 34. Ini Kan ...?
35 Bab 35. Jena, Kamu Pergi Ke Mana?
36 Bab 36. Rencana Michelle
37 Bab 37. Berhasil
38 Bab 38. Satu Malam, Dua Kisah
39 Bab 39. Niat Mulia Vs Dosa Yang Menanti
40 Bab 40. Selamat Atas Kemenanganmu
41 Bab 41. Tidak Mungkin
42 42. Angan-Angan Semata
43 Bab 43. Kehilangan Menghimpit Dada
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1. Merasa Dicintai
2
Bab 2. Dia Mulai Mengusik
3
Bab 3. Mulai Berubah
4
Bab 4. Mulai Kehilangan
5
Bab 5. Asing
6
Bab 6. Tersisih
7
Bab 7. Rumah
8
Bab 8. Pertengkaran
9
Bab 9. Baikan
10
Bab 10. Janji Jovian
11
Bab 11. Kebohongan Kecil
12
Bab 12. Ingkar Janji
13
Bab 13. Kepercayaan Yang Retak
14
Bab 14. Permintaan Maaf Jovian
15
Bab 15. Harapan Jena
16
Bab 16. Obrolan Keluarga
17
Bab 17. Charity Fashion
18
Bab 18. Menagih Hadiah
19
Bab 19. Kenapa Harus Sekarang?
20
Bab 20. Undangan Makan Malam
21
Bab 21. Nervous
22
Bab 22. Remuk
23
Bab 23. Setelah 9 Tahun Bersama
24
Bab 24. Jena, Maafkan Aku
25
Bab 25. Tawa Di Tengah Luka
26
Bab 26. Berusaha Ikhlas
27
Bab 27. Keputusan Jena
28
Bab 28. Akulah Pemenangnya
29
Bab 29. Pamit
30
Bab 30. Good Bye, Masa Lalu
31
Bab 31. Memilih Melangkah
32
Bab 32. Aduh, Mas Toto
33
Bab 33. Holiday
34
Bab 34. Ini Kan ...?
35
Bab 35. Jena, Kamu Pergi Ke Mana?
36
Bab 36. Rencana Michelle
37
Bab 37. Berhasil
38
Bab 38. Satu Malam, Dua Kisah
39
Bab 39. Niat Mulia Vs Dosa Yang Menanti
40
Bab 40. Selamat Atas Kemenanganmu
41
Bab 41. Tidak Mungkin
42
42. Angan-Angan Semata
43
Bab 43. Kehilangan Menghimpit Dada
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!