Bab 5. Asing

Jena mematut penampilannya di depan cermin. Rok putih di bawah lutut serta kaus tangan pendek yang dilapisi sweater merah marun memeluk tubuh rampingnya. "Mumpung hari libur. Aku mau ke rumah Jovian ah. Udah lama juga nggak berkunjung ke sana. Kangen sama Tante Sifa, Jihan dan Om Bimo juga. Sekalian nanyain soal tadi malam ke Jovian. Kenapa dia sampai mau menampakan dirinya di story instagram Michelle," monolognya sambil meraih tas selempang dan menyampirkannya.

Ia pun keluar dari apartemen. "Yes, taksinya udah nyampe." Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka dan Jena pun segera masuk.

Tak lama, pintu lift yang membawa Jena terbuka si lantai dasar, ia segera keluar dan berjalan penuh semangat.

"Mau ke mana, Mbak Jena? Hari libur gini udah rapi dan cantik," tanya petugas lobi.

Jena berhenti sejenak, melempar senyum kecil. "Saya mau ke rumah Mas Jovian, Mbak Grace."

"Cieee ... mau ketemu camer," goda Grace yang memang sudah akrab dengan Jena.

Jena tertawa kecil. "Mbak Grace bisa aja."

Grace tertawa lebar. "Lancar ya, Mbak Jen. Semoga cepet dihalalkan sama Mas Jovian."

"Aamiin." Jena mengaminkan doa itu dengan semangat. "Saya duluan ya, udah ditungguin taksi."

"Oke, Mbak."

Jena melanjutkan langkah, menghampiri taksi berwarna hijau tua yang sudah menunggunya.

Sang sopir taksi keluar. "Atas nama Mbak Jena?"

"Iya, Pak."

"Silakan, Mbak." Sopir itu membukakan pintu.

"Terima kasih, Pak." Jena pun masuk ke dalam mobil. "Pak."

"Iya, Mbak?" Sopir melirik Jena dari spion.

"Mampir dulu ke Kedai Lapisan Cokelat yang ada di tikungan jalan depan ya, Pak. Saya mau beli kue dulu."

"Siap, Mbak."

Tak lama, mobil pun berhenti di toko kue tersebut. Jena turun dan membeli buah tangan untuk Jovian dan keluarganya.

Di tangannya kini ada dua kotak kue. Satu cheesecake blueberry kesukaan Sifa. Dan satu lagi brownies cokelat favorit Jihan.

Jena tersenyum kecil saat kembali masuk ke dalam taksi.

Mobil melaju lagi membelah jalanan ibu kota yang mulai ramai.

Beberapa puluh menit kemudian, ia akhirnya sampai di depan rumah mewah keluarga Ardhana. Sudah sembilan tahun ia keluar masuk rumah ini. Jena pun turun dari taksi.

Satpam bahkan langsung membukakan gerbang sambil tersenyum ramah. "Non Jena, silakan masuk."

"Terima kasih, Pak." Jena melangkah masuk dengan perasaan hangat yang perlahan tumbuh lagi di dadanya.

Namun semua perasaan itu runtuh hanya dalam hitungan detik. Karena begitu pintu utama dibuka oleh ART, suara tawa seorang perempuan langsung terdengar dari ruang keluarga. Jena spontan mempercepat langkah dan akhirnya sampai di ruang keluarga. Tubuhnya langsung menegang. "Michelle," gumamnya tanpa suara.

Perempuan itu duduk santai di sofa ruang keluarga sambil tertawa kecil bersama Jihan. Penampilannya terlihat cantik dan elegan meski hanya mengenakan dress rumahan mahal berwarna putih gading.

Sementara di sisi lain sofa, Sifa tampak tersenyum hangat padanya. Sangat hangat. Padahal dulu, tatapan itu selalu diberikan pada Jena.

"Eh, Jena." Suara Sifa membuat semua orang menoleh.

Michelle ikut memandang ke arah ambang pintu pembatas antara ruang keluarga dan ruang tamu. Tatapan perempuan itu tampak sedikit terkejut sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Hai Jena."

Jena memaksakan senyum kecil. "Selamat pagi, semua." Entah kenapa langkahnya mendadak terasa canggung. Padahal rumah ini dulu terasa begitu nyaman.

"Sini, Jen," ujar Sifa. Namun nada suaranya terdengar jauh lebih datar dibanding biasanya. Tidak ada pelukan hangat, tidak juga sambutan antusias seperti dulu.

Jena mencoba mengabaikan rasa aneh di dadanya. Ia berjalan mendekat sambil menyerahkan kotak kue yang dibawanya. "Ini Tante ... cheesecake favorit Tante."

Sifa menerima kotak itu sambil tersenyum tipis. "Ngapain repot-repot bawain kue segala, Jen." Biasanya wanita itu akan langsung senang dan memuji Jena perhatian. Namun sekarang, responsnya terasa hambar.

Jena lalu menoleh pada Jihan sambil tersenyum. "Kakak bawain brownies favorit kamu juga."

Namun remaja itu hanya menjawab singkat, "Oh ... makasih, Kak."

Jena langsung terdiam sesaat. Dulu Jihan pasti sudah memeluknya heboh sambil berteriak kegirangan.

"Ya ampun Kak Jena paling ngerti aku!"

Tapi sekarang, sikap gadis itu terasa berbeda jauh.

Michelle tiba-tiba tersenyum kecil. "Tadi aku udah bawain Tante Sifa dan Jihan dessert dari La Creme Bakery."

Jena mengangguk kecil. "Itu kan nama salah satu toko kue termahal di kota ini," batinnya. "Oh, begitu ya." Suaranya ia paksakan keluar. Jena sungguh merasa menjadi orang asing di tengah ruangan itu.

"Jena duduk sini," ujar Sifa akhirnya.

"Iya, Tante." Jena duduk di sofa tunggal sementara Michelle tetap berada di sofa panjang dekat Sifa dan Jihan. Dulu, posisi itu adalah miliknya.

Percakapan kembali berjalan. Namun perlahan, Jena menyadari satu hal, dirinya tidak benar-benar dilibatkan.

Michelle dan Sifa sibuk membahas acara charity fashion minggu depan. Jihan ikut antusias mendengar cerita Michelle tentang brand-brand luar negeri. Sesekali mereka tertawa bersama.

Dan Jena, hanya duduk diam sambil sesekali tersenyum kecil.

"Tante suka banget sama taste fashion kamu, Chelle," ujar Sifa sambil tersenyum.

Michelle tertawa kecil. "Ah Tante bisa aja."

"Serius. Elegan banget," puji wanita berbaju hijau muda itu.

"Pewaris MS Fashion gitu, lho," timpal Jihan.

Michelle terlihat tersipu malu. "Aduh, kalian terlalu berlebihan."

Jena menggenggam jemarinya pelan. Biasanya, Sifa sering memuji cara berpakaian Jena. Dan Jihan selalu bilang ingin belajar makeup darinya. Namun kini, perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada Michelle.

"Tadi Om juga bilang kamu itu pintar banget soal bisnis," lanjut Sifa bangga.

"Om juga terlalu berlebihan, Tan. Padahal aku masih banyak belajar," tampik Michelle merendah.

"Kak Michelle tuh rendah hati banget sih. Udah tahu emang jago," timpal Jihan kagum.

Jena menunduk pelan. Dadanya mulai terasa sesak.

Michelle lalu tiba-tiba menoleh padanya. "Jena, kamu pasti capek ya ngurusin Jovian tiap hari?" Senyum perempuan itu tetap manis. Namun entah kenapa terasa menusuk bagi Jena.

"Enggak juga," jawab Jena pelan.

"Hebat sih. Jovian itu perfeksionis banget," lanjut Michelle.

Jena mencoba tersenyum. "Iya, Mas Jovian memang perfeksionis."

Michelle tertawa kecil. "Nah kan. Kalau aku mungkin udah stres duluan."

Sifa ikut tertawa pelan. "Makanya nggak semua perempuan cocok mendampingi Jovian."

Kalimat itu terdengar biasa. Namun anehnya, Jena merasa seperti sedang diuji. Seolah keberadaannya dibandingkan secara diam-diam.

Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar dari tangga. Jantung Jena langsung berdegup.

Jovian muncul dengan kaus hitam santai dan celana training abu-abu. Rambutnya masih sedikit basah seperti baru selesai mandi. Dan seperti biasa, Jena langsung merasa tenang hanya karena melihatnya.

Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik. Karena begitu melihat Michelle, wajah Jovian langsung berubah lebih hidup. "Kamu udah datang?"

Michelle tersenyum lebar. "Baru aja."

Jena langsung membeku. Lelaki itu bahkan belum menyadari dirinya ada di sana.

Sampai akhirnya Jihan berkata, "Kak Jena juga baru datang."

Tatapan Jovian langsung beralih. "Oh."

Hanya itu. Bukan senyum hangat. Bukan tatapan lembut seperti biasanya. Hanya respon singkat. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada diabaikan.

"Pagi, Mas," sapa Jena pelan.

"Hm." Jovian turun lalu duduk di sofa dekat Michelle.

Bukan mendekati Jena seperti biasanya.

Dadanya langsung terasa semakin sesak.

Michelle kemudian menunjukkan sesuatu di tablet pada Jovian. "Lihat deh, yang ini bagus nggak?"

Jovian memperhatikan layar itu cukup dekat. "Yang warna hitam lebih bagus."

"Nah kan! Aku juga tadi mau bilang gitu."

Mereka mulai membahas desain dan campaign dengan nyaman.

Sementara Jena, masih duduk diam seperti tamu tak diundang.

Beberapa menit kemudian, pelayan datang membawakan minuman. Michelle mengambil cangkir teh lalu kembali berbincang santai dengan keluarga Ardhana.

Dan lagi-lagi, Jena tidak diajak masuk dalam percakapan. Ia mencoba tetap tersenyum meski hati kecilnya perlahan hancur.

Sampai akhirnya Jihan berkata, "Kak Michelle, nanti ajarin aku mix and match outfit dong."

"Boleh banget."

"Asyik!" Jihan sangat antusias. Padahal dulu, ia selalu meminta bantuan itu pada Jena.

"Kak Jena sekarang jarang main sih," lanjut Jihan tanpa sadar.

Jena sedikit tersentak. "Maaf, Jihan. Kak Jena sibuk kerja."

Michelle tersenyum kecil. "Namanya juga orang dewasa, Ji."

Sifa ikut mengangguk. "Michelle aja sesibuk itu masih bisa meluangkan waktu."

Kalimat itu sukses membuat suasana hati Jena runtuh perlahan. Ia menunduk pelan. Tangannya terasa dingin. Untuk pertama kalinya selama sembilan tahun, rumah keluarga Ardhana terasa sangat asing baginya.

Dan yang paling menyakitkan, orang-orang yang dulu begitu menyayanginya kini terasa berubah.

Terpopuler

Comments

Marlina<br />✨always love you ✨

Marlina
✨always love you ✨

hemmm klo aku mending pergi deh dari pada di kacang in..ya begitulah klo ada yg lebih istimewa yg lama di lupakan

2026-07-09

2

Amy

Amy

ayo jena,semua udah pada berubah, itu tandanya kamu pun harus berubah,,sulit memang, tapi mencoba sedikit demi sedikit pasti akan jadi terbiasa....

2026-06-18

3

Inarrr Ulfah

Inarrr Ulfah

ngapain seiih mending pergi aja Jen,,ampun deh

2026-06-18

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Merasa Dicintai
2 Bab 2. Dia Mulai Mengusik
3 Bab 3. Mulai Berubah
4 Bab 4. Mulai Kehilangan
5 Bab 5. Asing
6 Bab 6. Tersisih
7 Bab 7. Rumah
8 Bab 8. Pertengkaran
9 Bab 9. Baikan
10 Bab 10. Janji Jovian
11 Bab 11. Kebohongan Kecil
12 Bab 12. Ingkar Janji
13 Bab 13. Kepercayaan Yang Retak
14 Bab 14. Permintaan Maaf Jovian
15 Bab 15. Harapan Jena
16 Bab 16. Obrolan Keluarga
17 Bab 17. Charity Fashion
18 Bab 18. Menagih Hadiah
19 Bab 19. Kenapa Harus Sekarang?
20 Bab 20. Undangan Makan Malam
21 Bab 21. Nervous
22 Bab 22. Remuk
23 Bab 23. Setelah 9 Tahun Bersama
24 Bab 24. Jena, Maafkan Aku
25 Bab 25. Tawa Di Tengah Luka
26 Bab 26. Berusaha Ikhlas
27 Bab 27. Keputusan Jena
28 Bab 28. Akulah Pemenangnya
29 Bab 29. Pamit
30 Bab 30. Good Bye, Masa Lalu
31 Bab 31. Memilih Melangkah
32 Bab 32. Aduh, Mas Toto
33 Bab 33. Holiday
34 Bab 34. Ini Kan ...?
35 Bab 35. Jena, Kamu Pergi Ke Mana?
36 Bab 36. Rencana Michelle
37 Bab 37. Berhasil
38 Bab 38. Satu Malam, Dua Kisah
39 Bab 39. Niat Mulia Vs Dosa Yang Menanti
40 Bab 40. Selamat Atas Kemenanganmu
41 Bab 41. Tidak Mungkin
42 42. Angan-Angan Semata
43 Bab 43. Kehilangan Menghimpit Dada
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1. Merasa Dicintai
2
Bab 2. Dia Mulai Mengusik
3
Bab 3. Mulai Berubah
4
Bab 4. Mulai Kehilangan
5
Bab 5. Asing
6
Bab 6. Tersisih
7
Bab 7. Rumah
8
Bab 8. Pertengkaran
9
Bab 9. Baikan
10
Bab 10. Janji Jovian
11
Bab 11. Kebohongan Kecil
12
Bab 12. Ingkar Janji
13
Bab 13. Kepercayaan Yang Retak
14
Bab 14. Permintaan Maaf Jovian
15
Bab 15. Harapan Jena
16
Bab 16. Obrolan Keluarga
17
Bab 17. Charity Fashion
18
Bab 18. Menagih Hadiah
19
Bab 19. Kenapa Harus Sekarang?
20
Bab 20. Undangan Makan Malam
21
Bab 21. Nervous
22
Bab 22. Remuk
23
Bab 23. Setelah 9 Tahun Bersama
24
Bab 24. Jena, Maafkan Aku
25
Bab 25. Tawa Di Tengah Luka
26
Bab 26. Berusaha Ikhlas
27
Bab 27. Keputusan Jena
28
Bab 28. Akulah Pemenangnya
29
Bab 29. Pamit
30
Bab 30. Good Bye, Masa Lalu
31
Bab 31. Memilih Melangkah
32
Bab 32. Aduh, Mas Toto
33
Bab 33. Holiday
34
Bab 34. Ini Kan ...?
35
Bab 35. Jena, Kamu Pergi Ke Mana?
36
Bab 36. Rencana Michelle
37
Bab 37. Berhasil
38
Bab 38. Satu Malam, Dua Kisah
39
Bab 39. Niat Mulia Vs Dosa Yang Menanti
40
Bab 40. Selamat Atas Kemenanganmu
41
Bab 41. Tidak Mungkin
42
42. Angan-Angan Semata
43
Bab 43. Kehilangan Menghimpit Dada
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!