Bab 4. Mulai Kehilangan

Jena berdiri di depan cermin apartemennya sambil merapikan blouse krem yang ia kenakan. Wajahnya tampak sedikit pucat karena semalam tidur larut menunggu kabar dari Jovian. Meskipun kekasihnya itu sudah menyuruhnya tidur, tapi mata Jena tidak bisa tertutup. Ia tetap menunggu Jovian mengirim pesan, mengabarkan bahwa lelaki itu sudah pulang.

Pesan itu ada, tapi di luar dugaan Jena. Jovian mengiriminya pesan jam satu dini hari.

"Aku baru selesai meeting."

Hanya itu. Tidak ada basa-basi seperti biasanya.

Sesungguhnya Jena ingin bertanya, kenapa meetingnya sampai selarut itu? Padahal hanya membahas konsep campaign. Tapi ia takut dianggap terlalu posesif.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Nama Jovian muncul di layar. Senyum kecil langsung muncul di wajah Jena meski hatinya masih terasa berat. "Halo, Mas."

"Aku di bawah."

Jena langsung berkedip. "Hah?"

"Cepetan turun." Sambungan terputus.

Jena buru-buru mengambil tas lalu berlari kecil menuju lift apartemen. Begitu sampai di lobby, matanya langsung menemukan mobil hitam milik Jovian terparkir di depan.

Pagi itu hujan turun tipis. Dan Jovian berdiri di samping mobil sambil memegang payung.

Dada Jena langsung menghangat. Lelaki itu masih datang menjemputnya. Masih melakukan hal-hal kecil yang dulu membuatnya jatuh cinta. Seketika semua pikiran buruk di benak Jena menghilang. Rasa percayanya tumbuh lagi.

Begitu Jena mendekat, Jovian langsung membuka pintu mobil untuknya.

"Mas ngapain pagi-pagi ke sini?"

"Jemput pacarku."

"Padahal tunggu saja di kantor. Nggak usah jemput aku."

"Aku kangen kamu, Jena."

Kalimat sederhana itu sukses membuat kecemasan di hati Jena benar-benar mencair.

Begitu masuk mobil, aroma parfum khas Jovian langsung memenuhi inderanya. Hangat, menenangkan dan menyejukan hati.

"Mas udah sarapan?"

"Udah, kamu?" Jovian bertanya balik sambil memutar setir mobilnya.

"Udah, Mas. Tadi aku makan nasi goreng."

Jovian mengangguk.

"Mas semalem nyampe rumah jam berapa?"

"Jam-" Belum sempat Jovian menjawab, ponselnya yang berada di holder di sisi kiri berbunyi. Nama Michelle muncul di layar. Dan sesuatu di dada Jena langsung turun lagi. Jovian melirik layar itu sekilas. Lalu segera mengangkatnya serta mengaktifkan loudspeaker. "Halo." Suara lelaki itu langsung berubah lebih ringan.

"Kamu lagi di mana?" Suara Michelle terdengar lembut.

"Aku lagi di jalan."

Jena menatap keluar jendela. Berusaha terlihat biasa saja. Namun telinganya tetap mendengar.

"Meeting jam sebelas jadi kan, Jo?"

"Jadi dong."

"Oke. Udah baca email dari aku?"

"Baru aja aku baca." Jovian menjawabnya sambil tersenyum kecil.

Jena menggenggam tasnya pelan. "Michelle lagi. Michelle lagi," ucapnya tanpa suara. Beberapa hari terakhir, perempuan itu seperti selalu ada di sekitar hidup Jovian.

"Oke, sampai jumpa nanti." Panggilan berakhir. Mobil kembali hening.

Jovian melirik Jena. "Kamu kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Tapi itu kamu cemberut."

Jena memaksakan senyum kecil. "Enggak kok."

Jovian menghela napas pelan lalu menggenggam tangan perempuan itu sebentar. "Jangan mikir aneh-aneh." Kalimat itu terdengar menenangkan.

Namun anehnya, Jena justru semakin merasa takut. "Kenapa aku merasa ada yang disembunyikan oleh Jovian?" bisiknya dalam hati.

Sesampainya di kantor, suasana langsung sibuk. Jena kembali tenggelam dalam pekerjaan. Ia mencoba fokus menyusun laporan dan jadwal meeting agar pikirannya tidak terus dipenuhi Michelle. Namun ternyata itu sulit. Sangat sulit. Karena bahkan sebelum jam sepuluh pagi, perempuan itu sudah datang lagi ke kantor.

"Hai, Jena." Michelle berjalan mendekat dengan senyum elegan seperti biasa. Hari ini penampilannya lebih santai namun tetap mahal. Dress hitam selutut dipadukan heels nude membuat aura anggunnya semakin kuat.

"Selamat pagi, Bu Michelle," jawab Jena sopan.

"Jovian di dalam?"

Jena kembali menangkap hal itu. Nama itu. Cara Michelle menyebutnya tanpa jarak. "Ada."

Michelle tersenyum. "Thanks." Dan seperti sudah sangat terbiasa, perempuan itu langsung masuk ke ruang CEO tanpa menunggu dipersilakan lebih lama.

Jena menunduk kembali pada laptopnya. Namun jari-jarinya terasa lebih berat dari sebelumnya. "Fokus, Jen. Fokus."

Sekitar satu jam kemudian, pintu ruang CEO terbuka. Michelle keluar sambil tertawa kecil. "Aku serius, Jovian. Kamu terlalu perfeksionis."

Jovian ikut tersenyum tipis sambil berdiri dekat pintu. "Kalau nggak perfeksionis, perusahaanku nggak akan bisa sampai sebesar ini."

"Pede banget."

"Tapi itu kenyataan, Miss Michelle."

Michelle menggeleng geli. Tatapan mereka terlihat begitu nyaman dan begitu natural.

Dan Jena merasa dirinya seperti orang ketiga yang hadir di antara mereka. Mata gadis itu memanas, dadanya terasa sesak. Namun Jovian seolah tak memedulikan keberadaannya.

"Eh iya," ujar Michelle tiba-tiba. "Malam ini jadi kan?"

Jovian mengangguk. "Jadi, nanti aku nyusul."

"Okay." Michelle lalu melirik Jena sekilas sebelum tersenyum tipis dan pergi.

Pintu lift tertutup.

Keheningan yang aneh langsung menyergap. Jena berusaha fokus pada laptopnya, tapi pikirannya sudah terlampau kacau.

Percakapan antara Jovian dan Michelle terus berkelebatan di kepalanya.

Tak lama kemudian langkah kaki lelaki itu mendekat. "Jena."

"Ya?" Jena buru-buru mengangkat wajah.

"Aku ada dinner meeting malam ini sama Michelle."

Dada Jena makin terasa sesak. "Oh, begitu ya."

Jovian mengangguk. "Jadi aku nggak bisa ke apart ya, malam ini."

Jena mencoba tersenyum. "Nggak papa, Mas."

Tatapan Jovian sedikit menyipit. "Kamu marah?"

"Nggak." Jena menggeleng cepat.

"Bohong."

Jena kembali menatap layar laptop beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan. "Aku cuma ..."

Jovian menarik kursi dan duduk di samping meja Jena. Tatapan lelaki itu melembut. "Kamu kenapa?"

Jena menggigit bibir pelan. "Haruskah aku bicara? Atau justru akan terdengar kekanak-kanakan?" Lagi-lagi ia membatin, sampai akhirnya memberanikan diri berkata pelan. "Kita akhir-akhir ini jarang menghabiskan waktu bersama, Mas."

"Kita tiap hari ketemu."

"Di kantor." Jena menatap wajah Jovian.

"Ya."

Jena terdiam. Nada suara Jovian terdengar dingin. Bukan nada suara yang biasanya diberikan Jovian.

"Aku kangen makan malam sama kamu, Mas," gumam Jena jujur.

Ekspresi Jovian sedikit berubah. Seolah baru sadar ada yang salah. Lelaki itu mengusap lembut pipi Jena. "Maaf." Suaranya melunak lagi. "Akhir-akhir ini kamu tahu sendiri, kerjaan aku lagi padat banget."

Jena menatap mata lelaki itu dalam diam. "Maaf, Mas. Kalau aku banyak menuntut. Yang soal makan malam tadi nggak usah Mas pikirin."

Kening Jovian langsung berkerut. "Kamu ngomong apa sih?"

"Aku minta maaf." Jena akhirnya menunduk. "Aku cuma ... takut kamu dan Michelle terlalu dekat." Akhirnya ucapan itu terlontar juga.

"Jangan mikir yang aneh-aneh." Jovian mendekat lalu mengecup singkat kening Jena. "Kamu itu rumah aku. Calon istriku. Hubunganku dan Michelle tidak lebih dari rekan kerja. Kamu harus percaya sama aku, Jena."

Kalimat itu langsung membuat mata Jena menghangat. "Iya, Mas. Maaf kalau aku terlalu overthinking. Aku hanya tak-"

"Sttt!" Jovian menaruh telunjuknya di permukaan bibir Jena. "Stop bicara yang enggak-enggak. Di hatiku, cuma ada kamu." Lalu ia memeluk Jena dan mengecup ubun-ubun kekasihnya itu.

***

Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Jena duduk sendirian di sofa apartemennya sambil memegang ponsel. Tak ada kabar dari Jovian. Padahal biasanya, sesibuk apa pun lelaki itu, pasti akan mengirim pesan. "Begini nih nasib hidup orang sebatang kara dan nggak punya teman dekat. Giliran Jovian lagi sibuk banget, nggak ada satu pun orang yang bisa kuajak curhat. Hmm ..." Jena mengembuskan napas panjang. "Jadi kangen rumah. Udah lama banget aku nggak pulang ke sana. Udah lama juga nggak ziarah ke makam Bunda dan Ayah." Untuk sejenak, ia tertegun. Mengingat kenangan saat orang tuanya masih ada.

Tiba-tiba layar ponselnya menyala. Sebuah notifikasi muncul. Bukan pesan dari Jovian. Melainkan notifikasi pemberitahuan dari instagram. Jena iseng mengklik pemberitahuan itu, dan ternyata unggahan story Instagram Michelle.

Jantung Jena langsung berdetak tidak nyaman. Tangannya perlahan membuka story itu. Seketika dadanya terasa kosong. Video singkat itu memperlihatkan meja makan restoran mewah dengan cahaya remang-remang. Ada wine, makanan mahal dan di seberang meja, terlihat tangan laki-laki yang sangat familiar bagi Jena. "Itu kan Jam tangan Jovian?" bisiknya.

Lalu suara Michelle terdengar pelan dalam video. "Dinner after exhausting meeting." Disusul tawa kecil perempuan itu dan wajah Jovian yang juga tengah tertawa.

Jena membeku. Matanya terus menatap layar. Dadanya mulai terasa sakit. Karena selama sembilan tahun bersama, Jovian tidak pernah suka mengunggah kebersamaan mereka. Katanya privasi lebih penting. Namun sekarang, ia membiarkan perempuan lain menunjukkan keberadaannya dengan begitu jelas.

Air mata pertama jatuh tanpa suara. Sebuah pertanyaan menakutkan muncul di hati Jena. "Aku mulai kehilanganmu, ya, Mas?"

Terpopuler

Comments

Inarrr Ulfah

Inarrr Ulfah

jangan bodoh jena,,kamu juga harus punya ancang2 buat out dari hidup cowo kamu dan nyari kerjaan yg lain,,,kata2 jovian akan PRETTT pada waktu nya ...

2026-06-18

4

Amy

Amy

ayoo Jena,, jangan lagi terlalu berharap, karena berharap itu sakit, seandainya dia cintrong ama kamu, pasti udah dnikahi, nggak dipacari sampai 9 tahun, dan tidak ada kejelasan🤭🤭🤭

2026-06-18

3

Marlina<br />✨always love you ✨

Marlina
✨always love you ✨

hemmm si jovian sok manis itu cuma menutupi topeng nya aja itu supaya jena gak curiga..dasar cowok ya huuuuuuuhhh😏

2026-07-09

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Merasa Dicintai
2 Bab 2. Dia Mulai Mengusik
3 Bab 3. Mulai Berubah
4 Bab 4. Mulai Kehilangan
5 Bab 5. Asing
6 Bab 6. Tersisih
7 Bab 7. Rumah
8 Bab 8. Pertengkaran
9 Bab 9. Baikan
10 Bab 10. Janji Jovian
11 Bab 11. Kebohongan Kecil
12 Bab 12. Ingkar Janji
13 Bab 13. Kepercayaan Yang Retak
14 Bab 14. Permintaan Maaf Jovian
15 Bab 15. Harapan Jena
16 Bab 16. Obrolan Keluarga
17 Bab 17. Charity Fashion
18 Bab 18. Menagih Hadiah
19 Bab 19. Kenapa Harus Sekarang?
20 Bab 20. Undangan Makan Malam
21 Bab 21. Nervous
22 Bab 22. Remuk
23 Bab 23. Setelah 9 Tahun Bersama
24 Bab 24. Jena, Maafkan Aku
25 Bab 25. Tawa Di Tengah Luka
26 Bab 26. Berusaha Ikhlas
27 Bab 27. Keputusan Jena
28 Bab 28. Akulah Pemenangnya
29 Bab 29. Pamit
30 Bab 30. Good Bye, Masa Lalu
31 Bab 31. Memilih Melangkah
32 Bab 32. Aduh, Mas Toto
33 Bab 33. Holiday
34 Bab 34. Ini Kan ...?
35 Bab 35. Jena, Kamu Pergi Ke Mana?
36 Bab 36. Rencana Michelle
37 Bab 37. Berhasil
38 Bab 38. Satu Malam, Dua Kisah
39 Bab 39. Niat Mulia Vs Dosa Yang Menanti
40 Bab 40. Selamat Atas Kemenanganmu
41 Bab 41. Tidak Mungkin
42 42. Angan-Angan Semata
43 Bab 43. Kehilangan Menghimpit Dada
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Bab 1. Merasa Dicintai
2
Bab 2. Dia Mulai Mengusik
3
Bab 3. Mulai Berubah
4
Bab 4. Mulai Kehilangan
5
Bab 5. Asing
6
Bab 6. Tersisih
7
Bab 7. Rumah
8
Bab 8. Pertengkaran
9
Bab 9. Baikan
10
Bab 10. Janji Jovian
11
Bab 11. Kebohongan Kecil
12
Bab 12. Ingkar Janji
13
Bab 13. Kepercayaan Yang Retak
14
Bab 14. Permintaan Maaf Jovian
15
Bab 15. Harapan Jena
16
Bab 16. Obrolan Keluarga
17
Bab 17. Charity Fashion
18
Bab 18. Menagih Hadiah
19
Bab 19. Kenapa Harus Sekarang?
20
Bab 20. Undangan Makan Malam
21
Bab 21. Nervous
22
Bab 22. Remuk
23
Bab 23. Setelah 9 Tahun Bersama
24
Bab 24. Jena, Maafkan Aku
25
Bab 25. Tawa Di Tengah Luka
26
Bab 26. Berusaha Ikhlas
27
Bab 27. Keputusan Jena
28
Bab 28. Akulah Pemenangnya
29
Bab 29. Pamit
30
Bab 30. Good Bye, Masa Lalu
31
Bab 31. Memilih Melangkah
32
Bab 32. Aduh, Mas Toto
33
Bab 33. Holiday
34
Bab 34. Ini Kan ...?
35
Bab 35. Jena, Kamu Pergi Ke Mana?
36
Bab 36. Rencana Michelle
37
Bab 37. Berhasil
38
Bab 38. Satu Malam, Dua Kisah
39
Bab 39. Niat Mulia Vs Dosa Yang Menanti
40
Bab 40. Selamat Atas Kemenanganmu
41
Bab 41. Tidak Mungkin
42
42. Angan-Angan Semata
43
Bab 43. Kehilangan Menghimpit Dada
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!