Kebangkitan Naga Astral

Kebangkitan Naga Astral

Bab 1: Murid Tak Berguna dan Mutiara Terlarang

​Angin dingin berhembus kencang di Puncak Berkabut, membawa serta aroma tajam belerang dari kawah gunung. Di sebuah pondok kayu yang hampir roboh, Lin Tian duduk bersila dengan napas yang tersengal. Wajahnya pucat, tetesan keringat sebesar biji jagung membasahi keningnya.

​"Sial... kenapa Qi di tubuhku selalu bocor?" gumam Lin Tian lirih.

​Ia mencoba menyerap Qi alam untuk ke-seribu kalinya bulan ini, namun hasilnya tetap sama. Begitu energi itu masuk ke dalam meridiannya, energi tersebut lenyap seperti air yang tumpah ke atas pasir kering. Sebagai murid pelayan di Sekte Pedang Langit, Lin Tian adalah bahan tertawaan. Di usianya yang ke-17, ia masih terjebak di tingkat pertama ranah Mortal, tingkat terendah yang bahkan tidak dianggap sebagai kultivator.

​"Lin Tian! Keluar kau, sampah!"

​Sebuah tendangan keras menghantam pintu kayu pondoknya hingga terlepas dari engselnya. Seorang pemuda berpakaian sutra biru dengan lambang murid luar di dadanya berdiri di sana, menatap Lin Tian dengan tatapan merendahkan. Itu adalah Zhao Feng, orang yang telah merampas jatah pil spiritual Lin Tian selama setahun terakhir.

​"Aku diperintahkan oleh Kakak Senior untuk mengambil air dari Mata Air Iblis. Cepat bergerak, atau kakimu yang akan kupatahkan kali ini!" bentak Zhao Feng.

​Lin Tian mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Jika ia menolak, ia akan diusir dari sekte. Jika ia diusir, ia akan mati kelaparan di luar sana. Dengan kepala menunduk, ia mengambil ember kayu dan berjalan menuju lembah terlarang yang berada di balik gunung.

​Itu adalah wilayah yang dihindari oleh semua murid. Konon, siapa pun yang mendekati pusat mata air tersebut akan mati tersedot energinya. Namun, hari ini, saat Lin Tian sedang mengisi embernya, ia merasakan getaran aneh di bawah kakinya.

​Deg. Deg. Deg.

​Getaran itu bukan berasal dari bumi, melainkan dari dalam dadanya. Secara tidak sadar, ia berjalan mendekati retakan tebing di dekat mata air. Di sana, di antara bebatuan tajam yang tertutup lumut hitam, sebuah benda bulat memancarkan cahaya redup berwarna ungu keemasan.

​Itu adalah sebuah mutiara. Saat jari Lin Tian menyentuh permukaan benda dingin itu, seluruh lembah tiba-tiba terdiam. Cahaya ungu tersebut merambat naik ke lengan Lin Tian, membakar kulitnya, namun bukan rasa sakit yang ia rasakan—melainkan sensasi kekuatan kuno yang seolah sudah tertidur selama ribuan tahun kini berteriak minta dibebaskan.

​"Apa... ini?" bisik Lin Tian, saat penglihatannya mulai menggelap.

​Di dalam kesadarannya, ia melihat seekor naga raksasa bersisik hitam yang melingkar di antara bintang-bintang. Naga itu membuka matanya, menatap Lin Tian dengan keagungan yang menghancurkan jiwa.

​Kesadaran Lin Tian perlahan kembali seiring dengan rasa dingin yang menggigit tulang. Ia terkesiap, membuka mata dengan napas memburu. Hal pertama yang ia lihat adalah langit malam Puncak Berkabut yang dihiasi bintang-bintang redup.

​Ia masih berada di tepi Mata Air Iblis. Namun, mutiara ungu keemasan itu telah menghilang tanpa jejak.

​Dengan panik, Lin Tian meraba dadanya. Tepat di atas jantungnya, terdapat sebuah tanda lahir baru—sebuah siluet samar naga hitam yang melingkar. Saat ia memusatkan pikirannya ke tanda itu, sebuah gelombang informasi kuno mengalir deras ke dalam otaknya, membawa nama sebuah teknik: Seni Pemurnian Tulang Naga Astral.

​Lin Tian segera duduk bersila dan memeriksa kondisi tubuhnya. Kejutan besar menantinya. Akar spiritualnya yang selama ini layu dan berlubang—menyebabkan Qi selalu bocor—kini telah tertambal sempurna oleh untaian energi ungu yang sangat tipis. Namun, ada satu hal yang membuatnya tersenyum getir.

​Teknik naga kuno ini tidak memberinya lonjakan kekuatan instan. Sebaliknya, teknik ini mengubah meridiannya menjadi lautan tak berdasar. Untuk menembus satu tingkat ranah Mortal saja, ia membutuhkan Qi seratus kali lipat lebih banyak dan lebih padat daripada kultivator biasa. Jalan yang terbentang di hadapannya akan sangat panjang, lambat, dan membutuhkan fondasi yang luar biasa kokoh. Ia harus memadatkan energinya lapis demi lapis tanpa boleh terburu-buru.

​Menyadari ia telah pingsan cukup lama, Lin Tian bergegas memungut ember kayunya yang telah terisi air. Jika ia tidak segera kembali, seseorang pasti akan mencarinya—dan bukan karena peduli.

​Sesampainya di area pelataran murid pelayan, Lin Tian melihat pintu pondoknya yang hancur telah ditegakkan kembali secara seadanya dengan bilah kayu dan tali rami. Di depan pintu itu, seorang remaja laki-laki berusia lima belas tahun sedang duduk berjaga sambil memeluk lututnya, menahan udara dingin malam.

​"Lin Chen," panggil Lin Tian pelan.

​Remaja itu mendongak. Wajahnya yang kotor oleh debu langsung berbinar lega. Ia melompat berdiri dan berlari menghampiri Lin Tian.

​"Kakak Tian! Syukurlah kau kembali!" Suara Lin Chen sedikit bergetar. "Zhao Feng tadi kembali lagi untuk mencarimu. Saat melihatmu tidak ada, dia mengancam akan membakar pondok ini besok pagi jika kau belum menyerahkan air dari Mata Air Iblis. Aku... aku sudah mencoba menahannya, tapi dia memukulku."

​Lin Tian baru menyadari ada memar kebiruan di sudut bibir Lin Chen. Darahnya mendidih. Di sekte yang kejam ini, Lin Chen adalah satu-satunya orang yang tidak pernah memandangnya rendah. Mereka tumbuh bersama sebagai anak yatim piatu yang dipungut oleh tetua sekte luar, bertahan hidup dengan saling melindungi di posisi terendah.

​"Maafkan aku, Chen'er. Aku membuatmu terluka lagi," ucap Lin Tian, suaranya terdengar lebih berat dan tenang dari biasanya.

​Ia meletakkan ember air itu dan menepuk bahu Lin Chen. Getaran energi Qi di dalam tubuh Lin Tian, meski masih sangat tipis, perlahan mulai mengalir mencari ritmenya sendiri. Fondasi yang panjang dan berat ini baru saja dimulai, dan ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak mereka lagi.

​"Masuklah dan istirahat," kata Lin Tian sambil menatap tajam ke arah puncak gunung tempat para murid luar tinggal. "Besok, biar aku yang mengurus Zhao Feng."

Terpopuler

Comments

yos helmi

yos helmi

ntuk semua pembaca .. mari kita bersatu.. author yg up nya satu dua bab.. jgn beri like.. komen.. dll.. cukup baca aj.. biar mampus tu author .. 🤣🤣🤣

2026-06-17

0

Roni Sakroni

Roni Sakroni

gubuk reyot harusnya diperbaiki sendiri dong ....

2026-08-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Murid Tak Berguna dan Mutiara Terlarang
2 Kejutan di Pelataran Pelayan
3 Ancaman Mendekat dan Ujian di Hutan Hitam
4 Esensi Darah dan Penemuan di Balik Akar
5 Akar Roh Teratai Tanah dan Sang Penjaga
6 Pertarungan Hidup Mati dan Terobosan Tingkat Dua
7 Panen Darah dan Ancaman Zhao Hai
8 Pukulan Pengekang Arogansi
9 Syarat Mutlak dan Bayangan Inti Buas
10 Tiga Puluh Hari Penempaan dan Menuju Balai Ujian
11 Kayu yang Menyembunyikan Daunnya
12 Pelataran 404 dan Sambutan "Hangat"
13 Pampasan Perang dan Berkah di Balik Tebing
14 Paviliun Seni Bela Diri dan Teknik Buangan
15 Penempaan di Tepi Jurang dan Lapis Pertama
16 Panggung Hidup Mati dan Pukulan Penguji
17 Lapis Pertama dan Kengerian Tinju Runtuh
18 Harga Sebuah Pukulan dan Harta Rampasan
19 Izin Turun Gunung dan Hukum Rimba
20 Interogasi Berdarah dan Penghalang Taring Darah
21 Hancurnya Lapis Baja dan Pos Penjagaan Berdarah
22 Tarian Kematian dan Pembersihan Pos
23 Kawah Puncak Merah dan Serigala Mata Satu
24 Pengejaran Berdarah dan Lembah Kabut Kematian
25 Pembakaran Tulang dan Kebangkitan Lapis Kedua
26 Keputusasaan Serigala
27 Kembali ke Sekte
28 Penjaga Gerbang
29 Genderang Perang dan Jari Penghancur Pedang
30 Sapuan Bersih dan Panggung Penentuan
31 Hancurnya Kesombongan
32 Udara Puncak Dalam
33 Langkah Guntur dan Kemurkaan Penatua Agung
34 Mengguncang Langit
35 Undangan Puncak Pedang
36 Papan Misi Kelas Merah
37 Teror Lembah Kabut Hitam
38 Pembantaian di Altar Berdarah
39 Bukti Berdarah dan Perburuan Bayangan
40 Arsip Terlarang dan Makam Sang Naga
41 Enam Bulan Penempaan Darah dan Terbukanya Segel Kuno
42 Langit Darah Primordial
43 Gerbang Tulang Naga
44 Hadiah Berdarah
45 Ranah Bumi Palsu
46 Ilusi Cermin Jiwa
47 Taring Penembus Dimensi
48 Kelahiran Kembali Sang Tiran
49 Kematian Penatua Agung
50 Kejatuhan Lautan Darah
51 Mengarungi Lautan Iblis
52 Benua Tengah
53 Paviliun Bintang Jatuh
54 Langit yang Berbeda
55 Urat Bumi Kematian
56 Alun-Alun Bintang dan Batu Pengukur Tulang
57 Hutan Tulang Berdarah
58 Lembah Ratapan dan Tirai Keputusasaan
59 Proyeksi Jiwa dan Runtuhnya Langit Kesombongan
60 Puncak Kemarahan
61 Hukum Rantai Makanan dan Gua Bintang Fajar
62 Menara Bintang Jatuh
63 Memecah Lantai Kedelapan Puluh
64 Paviliun Alkemis Pusat dan Syarat Sang Grandmaster
65 Penempaan Neraka
66 Ujian Darah Sang Adik
67 Paku Terlarang dan Jurang Kehampaan
68 Kawah Matahari
69 Warisan yang Terbuang
70 Gema Kehampaan
71 dan Mimpi Buruk di Alam Rahasia
72 Murka Setengah Langkah Langit
73 Puncak Istana Astral
74 Langit Hukuman Surga
75 Gugurnya Dewa Petir Palsu
76 Melintasi Batas Benua
77 Penaklukan Benua Selatan
78 Singgasana Hampa
79 Batas Waktu Tujuh Hari
80 Keputusasaan Sang Leluhur
81 Keringnya Lautan Bintang
82 Kolam Hukuman Ilahi
83 Hukum Tekanan Ilahi dan Tembok Kota Matahari Besi
84 Arena Darah dan Seni Menahan Diri
85 Malam Pemindahan dan Bayangan di Balik Gerbang
86 Amarah Sang Jenderal
87 Runtuhnya Sembilan Matahari
88 Lembah Kabut Hampa
89 Perburuan Terbalik di Lembah Kabut
90 Teror di Atas Awan Hampa
91 Kota Batas Bintang
92 Gerbang Bintang Mati
93 Lorong Sejarah Berdarah
94 Langkah Kematian di Atas Hampa
95 Tuan Baru Armada Langit
96 Hujan Darah di Kota Ekor Sembilan
97 Ilusi Bulan Berdarah
98 Puncak Raja Ilahi
99 Kelahiran Sang Kaisar Ilahi
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Bab 1: Murid Tak Berguna dan Mutiara Terlarang
2
Kejutan di Pelataran Pelayan
3
Ancaman Mendekat dan Ujian di Hutan Hitam
4
Esensi Darah dan Penemuan di Balik Akar
5
Akar Roh Teratai Tanah dan Sang Penjaga
6
Pertarungan Hidup Mati dan Terobosan Tingkat Dua
7
Panen Darah dan Ancaman Zhao Hai
8
Pukulan Pengekang Arogansi
9
Syarat Mutlak dan Bayangan Inti Buas
10
Tiga Puluh Hari Penempaan dan Menuju Balai Ujian
11
Kayu yang Menyembunyikan Daunnya
12
Pelataran 404 dan Sambutan "Hangat"
13
Pampasan Perang dan Berkah di Balik Tebing
14
Paviliun Seni Bela Diri dan Teknik Buangan
15
Penempaan di Tepi Jurang dan Lapis Pertama
16
Panggung Hidup Mati dan Pukulan Penguji
17
Lapis Pertama dan Kengerian Tinju Runtuh
18
Harga Sebuah Pukulan dan Harta Rampasan
19
Izin Turun Gunung dan Hukum Rimba
20
Interogasi Berdarah dan Penghalang Taring Darah
21
Hancurnya Lapis Baja dan Pos Penjagaan Berdarah
22
Tarian Kematian dan Pembersihan Pos
23
Kawah Puncak Merah dan Serigala Mata Satu
24
Pengejaran Berdarah dan Lembah Kabut Kematian
25
Pembakaran Tulang dan Kebangkitan Lapis Kedua
26
Keputusasaan Serigala
27
Kembali ke Sekte
28
Penjaga Gerbang
29
Genderang Perang dan Jari Penghancur Pedang
30
Sapuan Bersih dan Panggung Penentuan
31
Hancurnya Kesombongan
32
Udara Puncak Dalam
33
Langkah Guntur dan Kemurkaan Penatua Agung
34
Mengguncang Langit
35
Undangan Puncak Pedang
36
Papan Misi Kelas Merah
37
Teror Lembah Kabut Hitam
38
Pembantaian di Altar Berdarah
39
Bukti Berdarah dan Perburuan Bayangan
40
Arsip Terlarang dan Makam Sang Naga
41
Enam Bulan Penempaan Darah dan Terbukanya Segel Kuno
42
Langit Darah Primordial
43
Gerbang Tulang Naga
44
Hadiah Berdarah
45
Ranah Bumi Palsu
46
Ilusi Cermin Jiwa
47
Taring Penembus Dimensi
48
Kelahiran Kembali Sang Tiran
49
Kematian Penatua Agung
50
Kejatuhan Lautan Darah
51
Mengarungi Lautan Iblis
52
Benua Tengah
53
Paviliun Bintang Jatuh
54
Langit yang Berbeda
55
Urat Bumi Kematian
56
Alun-Alun Bintang dan Batu Pengukur Tulang
57
Hutan Tulang Berdarah
58
Lembah Ratapan dan Tirai Keputusasaan
59
Proyeksi Jiwa dan Runtuhnya Langit Kesombongan
60
Puncak Kemarahan
61
Hukum Rantai Makanan dan Gua Bintang Fajar
62
Menara Bintang Jatuh
63
Memecah Lantai Kedelapan Puluh
64
Paviliun Alkemis Pusat dan Syarat Sang Grandmaster
65
Penempaan Neraka
66
Ujian Darah Sang Adik
67
Paku Terlarang dan Jurang Kehampaan
68
Kawah Matahari
69
Warisan yang Terbuang
70
Gema Kehampaan
71
dan Mimpi Buruk di Alam Rahasia
72
Murka Setengah Langkah Langit
73
Puncak Istana Astral
74
Langit Hukuman Surga
75
Gugurnya Dewa Petir Palsu
76
Melintasi Batas Benua
77
Penaklukan Benua Selatan
78
Singgasana Hampa
79
Batas Waktu Tujuh Hari
80
Keputusasaan Sang Leluhur
81
Keringnya Lautan Bintang
82
Kolam Hukuman Ilahi
83
Hukum Tekanan Ilahi dan Tembok Kota Matahari Besi
84
Arena Darah dan Seni Menahan Diri
85
Malam Pemindahan dan Bayangan di Balik Gerbang
86
Amarah Sang Jenderal
87
Runtuhnya Sembilan Matahari
88
Lembah Kabut Hampa
89
Perburuan Terbalik di Lembah Kabut
90
Teror di Atas Awan Hampa
91
Kota Batas Bintang
92
Gerbang Bintang Mati
93
Lorong Sejarah Berdarah
94
Langkah Kematian di Atas Hampa
95
Tuan Baru Armada Langit
96
Hujan Darah di Kota Ekor Sembilan
97
Ilusi Bulan Berdarah
98
Puncak Raja Ilahi
99
Kelahiran Sang Kaisar Ilahi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!