bab 2 Sikap Adrian Aneh

Nadia dan Adrian memang bekerja di firma hukum yang sama.

Namun berbeda dengan anggapan banyak orang, posisi Nadia justru berada di atas Adrian.

Di usia yang masih tergolong muda, Nadia sudah berhasil menjadi salah satu partner termuda di firma hukum tersebut. Rekam jejaknya nyaris sempurna. Ia dikenal tajam saat berdebat di ruang sidang, teliti dalam menganalisis kasus, dan hampir tidak pernah kalah dalam perkara besar yang ditanganinya.

Namanya bahkan lebih sering disebut media dibanding Adrian.

Karena itulah banyak klien besar yang datang khusus meminta Nadia sebagai kuasa hukum mereka.

Sementara Adrian berada satu tingkat di bawahnya.

Meski memiliki kemampuan yang baik, bayang-bayang nama besar keluarga Mahendra selalu mengikuti setiap langkahnya.

Banyak orang beranggapan Adrian berada di firma itu karena koneksi dan uang keluarganya.

Rumor tersebut beredar cukup lama.

Sebagian orang bahkan terang-terangan mengatakan bahwa tanpa nama Mahendra, Adrian mungkin tidak akan mencapai posisinya sekarang.

Hal itu tentu membuat Adrian tidak menyukainya.

Terlebih ketika orang-orang mulai membandingkannya dengan Nadia.

"Kalau bukan karena istrinya, nama Adrian nggak bakal sebesar sekarang."

"Partner terbaik tetap Nadia."

"Klien datang karena Nadia, bukan karena Adrian."

Kalimat-kalimat seperti itu sering terdengar di lingkungan firma.

Meskipun tidak diucapkan langsung di hadapan mereka.

Awalnya Nadia tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.

Ia justru selalu membela Adrian.

Baginya, suaminya tetap pria yang cerdas dan pekerja keras.

Namun semakin lama, Nadia mulai menyadari perubahan sikap Adrian.

Pria itu menjadi lebih sensitif ketika namanya dibandingkan dengannya.

Setiap kali media memuji keberhasilan Nadia memenangkan kasus besar, Adrian terlihat tidak nyaman.

Setiap kali firma memberikan penghargaan kepada Nadia, senyum Adrian tampak semakin dipaksakan.

Dan setiap kali ada klien yang lebih memilih Nadia daripada dirinya, sorot mata Adrian berubah dingin meski hanya sesaat.

Suatu sore, firma mengadakan acara penghargaan tahunan.

Para partner, pengacara, dan klien penting hadir memenuhi ballroom hotel mewah tempat acara berlangsung.

Saat nama Nadia diumumkan sebagai Partner Terbaik Tahun Ini, ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan meriah.

Nadia berdiri dari kursinya.

Gaun hitam elegan yang dikenakannya membuatnya tampak anggun dan berwibawa.

Ia melangkah ke atas panggung dengan tenang.

Di antara kerumunan tamu, Nadia sempat mencari sosok Adrian.

Pria itu memang bertepuk tangan.

Tersenyum.

Namun entah mengapa senyum tersebut tidak sampai ke matanya.

Seolah ada sesuatu yang sedang disembunyikan.

Sesuatu yang perlahan tumbuh menjadi jurang di antara mereka.

Dan Nadia belum menyadari bahwa rasa rendah diri yang selama ini dipendam Adrian akan menjadi salah satu alasan terbesar yang mendorong pria itu menjauh darinya.

Nadia berdiri di atas panggung sambil menerima plakat penghargaan dengan senyum profesional yang selama ini selalu ia tunjukkan di depan publik. Tepuk tangan masih terdengar memenuhi ballroom mewah itu, namun perhatian Nadia justru tertuju ke arah kursi yang ditemati Adrian.

Kosong.

Nadia mengernyit pelan.

Beberapa menit yang lalu Adrian masih duduk di sana.

Ia bahkan sempat melihat suaminya ikut bertepuk tangan ketika namanya diumumkan sebagai Partner Terbaik Tahun Ini.

Lalu ke mana pria itu pergi?

Perasaan tidak nyaman tiba-tiba muncul di dadanya.

Bukan karena penghargaan. Bukan karena acara.

Melainkan karena akhir-akhir ini Adrian sering menghilang tanpa penjelasan.

Setelah acara selesai, banyak rekan kerja dan klien yang menghampiri Nadia untuk mengucapkan selamat.

Namun senyumnya mulai terasa dipaksakan.

Matanya terus mencari sosok Adrian di antara kerumunan tamu.

Tidak ada.

Nadia akhirnya mengambil ponselnya.

Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan.

"Mas, kamu di mana?"

Pesan terkirim.

Tidak lama kemudian hanya centang dua.

Tidak dibaca.

Nadia menggigit bibir bawahnya.

Mungkin Adrian sedang menerima telepon penting.

Namun semakin waktu berlalu, rasa khawatir itu justru semakin besar.

Hampir setengah jam kemudian ponselnya akhirnya bergetar.

Pesan dari Adrian.

"Ada urusan mendadak. Aku pulang duluan."

Hanya satu kalimat.

Tanpa penjelasan lebih lanjut.

Tanpa ucapan selamat atas penghargaan yang baru saja diterimanya.

Tanpa menunggu Nadia yang merupakan istrinya sendiri.

Perasaan aneh kembali menyelinap ke hati Nadia.

Ia menatap layar ponsel cukup lama.

Dulu Adrian adalah orang pertama yang akan memeluknya setiap kali ia meraih prestasi.

Orang pertama yang merasa bangga.

Orang pertama yang merayakannya.

Namun sekarang...

Suaminya bahkan pergi tanpa pamit secara langsung.

Malam itu Nadia pulang seorang diri.

Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang.

Lampu-lampu kota terlihat berkilauan di balik jendela, tetapi pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan.

Yang Nadia rasakan justru kekhawatiran.

Ia takut Adrian sedang menghadapi masalah.

Takut tekanan pekerjaan membuat suaminya terpuruk.

Takut semua komentar dan perbandingan dari orang-orang selama ini melukai harga diri Adrian.

Karena sekeras apa pun Adrian terlihat di luar, Nadia tahu suaminya tetap manusia biasa.

Pria yang juga bisa merasa lelah. Pria yang juga bisa terluka.

Dan sebagai istri, Nadia merasa mungkin dirinya terlalu sibuk hingga tidak menyadari apa yang sedang dirasakan Adrian.

Sesampainya di apartemen, Nadia langsung mencari suaminya.

Nadia kembali melihat pesan terakhir yang dikirim pria itu.

"Aku pulang duluan."

Kalimat sederhana yang kini terasa janggal.

Jika Adrian pulang lebih dulu...

Lalu kenapa pria itu belum ada di rumah?

Jantung Nadia berdegup sedikit lebih cepat.

Untuk pertama kalinya malam itu, rasa khawatirnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.

Sesuatu yang belum berani ia beri nama.

Karena jauh di dalam hatinya...

Nadia takut jika jawaban dari semua kejanggalan ini adalah hal yang paling tidak ingin ia ketahui.

Nadia menatap layar ponselnya untuk kesekian kali malam itu. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan dari Adrian. Jam di dinding bahkan sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.

Ruang apartemen yang biasanya terasa hangat kini terasa begitu sunyi.

Ia duduk sendirian di sofa ruang tamu sambil memeluk bantal kecil di pangkuannya. Jas kerja masih melekat di tubuhnya karena sejak pulang ia bahkan tidak memiliki keinginan untuk berganti pakaian.

Dan sering kali tampak memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan.

Sebagai istri, Nadia tentu menyadari perubahan itu.

Hanya saja ia selalu menganggapnya sebagai tekanan pekerjaan.

Bagaimanapun juga, dunia hukum bukanlah dunia yang mudah.

Nadia menghela napas panjang lalu menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di rak ruang tamu.

Foto itu diambil tepat setelah akad selesai.

Saat itu Adrian tersenyum begitu lebar sambil menggenggam tangannya erat.

Tatapan mata pria itu penuh cinta Penuh kebanggaan.

Seolah Nadia adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Mengingat itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak.

Karena semakin ia mengingat Adrian yang dulu, semakin jelas perbedaan pria yang kini pulang larut malam hampir setiap hari. Ponselnya kembali ia buka.

Jemarinya bergerak menghubungi nomor Adrian.

Tetap tidak ada jawaban.

Nadia menggigit bibirnya pelan.

Ia mulai merasa gelisah. Mungkin Adrian sedang menyetir. Mungkin baterai ponselnya habis.

Atau mungkin sedang berada dalam rapat mendadak.

Nadia mencoba mencari berbagai alasan yang masuk akal.

Namun entah kenapa hatinya tetap tidak tenang.

Tepat pukul setengah dua belas malam, suara pintu apartemen akhirnya terdengar.

Nadia yang sejak tadi menunggu langsung bangkit dari sofa.

Adrian masuk sambil melepas jasnya Wajah pria itu tampak lelah Sedikit pucat.

Namun yang paling membuat Nadia memperhatikan adalah aroma parfum asing yang samar menempel di pakaiannya.

Bukan parfum Adrian.

Dan bukan aroma yang pernah Nadia gunakan.

Perasaan aneh kembali muncul.

Meski begitu, Nadia segera menepis pikiran buruk yang mulai muncul.

Mungkin aroma itu berasal dari klien.

Atau rekan kerja.

Ia tidak ingin berpikir macam-macam.

Belum.

"Kamu belum tidur?" tanya Adrian saat melihat Nadia masih berada di ruang tamu.

Nadia tersenyum kecil.

"Aku nunggu kamu."

Untuk sesaat, Adrian terlihat terdiam.

Tatapan pria itu melembut sebelum akhirnya menghela napas pelan.

"Kamu nggak perlu nunggu sampai malam begini."

Nada suaranya terdengar biasa.

Namun entah mengapa kalimat itu justru membuat hati Nadia terasa nyeri.

Dulu Adrian selalu senang jika Nadia menunggunya pulang.

Dulu pria itu akan memeluknya dan meminta maaf karena membuatnya menunggu.

Sekarang...

Semuanya terasa berbeda.

Dan Nadia mulai takut bahwa perubahan ini bukan lagi sekadar karena kesibukan atau pekerjaan.

Melainkan karena ada sesuatu yang perlahan mengambil tempatnya di hati Adrian.

Episodes
1 Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan
2 bab 2 Sikap Adrian Aneh
3 bab 3 teman lama nadia
4 Bab 4 bianca yang mulai suka adrian
5 Bab 5 menjelang 5 tahun anniversary pernikahan
6 Bab 6 rumor mulai muncul
7 Bab 7 kecurigaan nadia
8 Bab 8 keterlibatan mertua
9 bab 9 siapa selingkuhan suaminya
10 bab 10 semakin jelas
11 bab 11 pesan manis
12 bab 12 setega itu
13 bab 13 pengakuan adrian
14 bab 14 pengakuan bianca
15 bab 15 pengakuan semakin jelas
16 bab 16 kehamilan nadia
17 bab 17 penyesalan
18 bab 18 perasaan buruk
19 bab 19 kasus terakhir nadia
20 bab 20 terungkap
21 bab 21 luka yang belum selesai
22 bab 22 warisan
23 bab 23 ketegaran nadia
24 bab 24 perasaan vano
25 bab 25 teganya adrian
26 bab 26 penyesalan
27 bab 27 semakin murka
28 bab 28 suram
29 bab 29 aneh
30 bab 30 aneh
31 bab 31 kehangatan adik dan kakak
32 bab 32 penuh keraguan
33 bab 33 kemarahan anna
34 bab 34 masalah lain
35 bab 35 stempel mendiang ayah mertua
36 bab 36 pemilik liontin B
37 bab 37 bayang-bayang nadia
38 bab 38 pilihan yang sulit
39 bab 39 penyesalan
40 bab 40 pengakuan adrian
41 bab 41 kecelakaan
42 bab 42 air mata
43 bab 43 penyebab sebenarnya
44 bab 44 keputusan nadia
45 bab 45 kecewanya adrian
46 bab 46 saat duka jadi amarah
47 bab 47 kematian yang menjadi awal
48 bab 48 penculikan nadia
49 bab 49 kembalinya nadia
50 bab 50 karma
51 bab 51 hari terakhir dan harapan baru
52 bab 52 suasana baru
53 bab 53 awal mula
54 bab 54 dibalik keputusan revano
55 bab 55 demam yang mengusik harapan
56 bab 56 mimpi yang tak boleh berenti
57 bab 57 nada pertama
58 bab 58 ambisi dan keadilan
59 bab 59 Pertemuan yang Terlewat
60 bab 60 diantara ambisi dan mimpi
61 bab 61 saat harapan diuji
62 bab 62 Haruskah Aku Mengatakannya?
63 bab 63 harapan diatas panggung
64 Draft 64 es krim sebagai permintaan maaf
65 bab 65 keinginan yang tak terucap
66 bab 66 Di Antara Mimpi dan Perasaan
67 bab 67 2 panggung 2 perasaan
68 bab 68 2 perhatian 2 hati
69 bab 69 kasih sayang tak mengenal darah
70 bab 70 darah yang sama
71 bab 71 harapan yang mustahil
72 bab 72 Keputusasaan Seorang Ayah
73 bab 73 saat kebahagiaan terhenti
74 bab 74 Perasaan yang Mulai Tumbuh
75 bab 75 rahasia yang menghancurkan
76 bab 76 cemburu dan prasangka
77 bab 78 Kebenaran yang Tak Pernah Diceritakan
78 bab 79 luka yang tak pernah sembuh
79 bab 80 luka yang belum sembuh
80 bab 81 cinta berbeda cara
81 bab 82 senyum dibalik rasa rindu
82 bab 83 retaknya kepercayaan
83 bab 84 Siapa Perusak Rumah Tangga Itu?
84 bab 85 saat amarah menjadi diam
85 bab 86 korban dari pertengkaran
86 bab 87 petunjuk baru tentang masa lalu
87 bab 88 gosip yang beredar
88 bab 89 senyum diatas penderitaan
89 bab 90 ibu yang menanggung segalanya
90 bab 91 Rahasia yang Terkubur Bertahun-Tahun
91 bab 92 tubuh yang mulai menyerah
92 bab 93 Ucapan yang Mengguncang Intan
93 bab 94 Ketakutan yang Kembali
94 bab 95 Pertemuan yang Membuka Rahasia
95 bab 96 Di Antara Bella dan Intan
96 bab 97 Sebelum Mimpi Itu Terhenti
97 bab 98 Dosa Masa Lalu Bianca
98 bab 99 Pesan Terakhir Sebelum Panggung
99 bab 100 Satu Panggung, Banyak Perasaan
100 bab 101 senyum ditengah luka
101 bab 102 Kebenaran yang Tak Bisa Disembunyikan
102 bab 103 Luka di Balik Kebencian
103 bab 104 Jangan Tinggalkan Keluarga Kita
104 bab 105 Aku Tahu Siapa Ayahku
105 bab 106 Kesalahan yang Tak Boleh Terulang
106 bab 107 Mereka Akan Tahu Suatu Hari Nanti
107 bab 108 ketakutan yang kembali
108 bab 109 anak yang meninggalkan ibunya
109 bab 110 bukti dari masa lalu
110 bab 111 Aku Akan Menunggumu, Tan
111 bab 112 Saat Penyesalan Datang
112 bab 113 Dua Anak, Dua Luka
113 bab 114 penyesalan
114 bab 115 Ayah yang Tak Rela Ditinggalkan
115 bab 116 Pulang dengan Senyuman
116 bab 117 ending
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan
2
bab 2 Sikap Adrian Aneh
3
bab 3 teman lama nadia
4
Bab 4 bianca yang mulai suka adrian
5
Bab 5 menjelang 5 tahun anniversary pernikahan
6
Bab 6 rumor mulai muncul
7
Bab 7 kecurigaan nadia
8
Bab 8 keterlibatan mertua
9
bab 9 siapa selingkuhan suaminya
10
bab 10 semakin jelas
11
bab 11 pesan manis
12
bab 12 setega itu
13
bab 13 pengakuan adrian
14
bab 14 pengakuan bianca
15
bab 15 pengakuan semakin jelas
16
bab 16 kehamilan nadia
17
bab 17 penyesalan
18
bab 18 perasaan buruk
19
bab 19 kasus terakhir nadia
20
bab 20 terungkap
21
bab 21 luka yang belum selesai
22
bab 22 warisan
23
bab 23 ketegaran nadia
24
bab 24 perasaan vano
25
bab 25 teganya adrian
26
bab 26 penyesalan
27
bab 27 semakin murka
28
bab 28 suram
29
bab 29 aneh
30
bab 30 aneh
31
bab 31 kehangatan adik dan kakak
32
bab 32 penuh keraguan
33
bab 33 kemarahan anna
34
bab 34 masalah lain
35
bab 35 stempel mendiang ayah mertua
36
bab 36 pemilik liontin B
37
bab 37 bayang-bayang nadia
38
bab 38 pilihan yang sulit
39
bab 39 penyesalan
40
bab 40 pengakuan adrian
41
bab 41 kecelakaan
42
bab 42 air mata
43
bab 43 penyebab sebenarnya
44
bab 44 keputusan nadia
45
bab 45 kecewanya adrian
46
bab 46 saat duka jadi amarah
47
bab 47 kematian yang menjadi awal
48
bab 48 penculikan nadia
49
bab 49 kembalinya nadia
50
bab 50 karma
51
bab 51 hari terakhir dan harapan baru
52
bab 52 suasana baru
53
bab 53 awal mula
54
bab 54 dibalik keputusan revano
55
bab 55 demam yang mengusik harapan
56
bab 56 mimpi yang tak boleh berenti
57
bab 57 nada pertama
58
bab 58 ambisi dan keadilan
59
bab 59 Pertemuan yang Terlewat
60
bab 60 diantara ambisi dan mimpi
61
bab 61 saat harapan diuji
62
bab 62 Haruskah Aku Mengatakannya?
63
bab 63 harapan diatas panggung
64
Draft 64 es krim sebagai permintaan maaf
65
bab 65 keinginan yang tak terucap
66
bab 66 Di Antara Mimpi dan Perasaan
67
bab 67 2 panggung 2 perasaan
68
bab 68 2 perhatian 2 hati
69
bab 69 kasih sayang tak mengenal darah
70
bab 70 darah yang sama
71
bab 71 harapan yang mustahil
72
bab 72 Keputusasaan Seorang Ayah
73
bab 73 saat kebahagiaan terhenti
74
bab 74 Perasaan yang Mulai Tumbuh
75
bab 75 rahasia yang menghancurkan
76
bab 76 cemburu dan prasangka
77
bab 78 Kebenaran yang Tak Pernah Diceritakan
78
bab 79 luka yang tak pernah sembuh
79
bab 80 luka yang belum sembuh
80
bab 81 cinta berbeda cara
81
bab 82 senyum dibalik rasa rindu
82
bab 83 retaknya kepercayaan
83
bab 84 Siapa Perusak Rumah Tangga Itu?
84
bab 85 saat amarah menjadi diam
85
bab 86 korban dari pertengkaran
86
bab 87 petunjuk baru tentang masa lalu
87
bab 88 gosip yang beredar
88
bab 89 senyum diatas penderitaan
89
bab 90 ibu yang menanggung segalanya
90
bab 91 Rahasia yang Terkubur Bertahun-Tahun
91
bab 92 tubuh yang mulai menyerah
92
bab 93 Ucapan yang Mengguncang Intan
93
bab 94 Ketakutan yang Kembali
94
bab 95 Pertemuan yang Membuka Rahasia
95
bab 96 Di Antara Bella dan Intan
96
bab 97 Sebelum Mimpi Itu Terhenti
97
bab 98 Dosa Masa Lalu Bianca
98
bab 99 Pesan Terakhir Sebelum Panggung
99
bab 100 Satu Panggung, Banyak Perasaan
100
bab 101 senyum ditengah luka
101
bab 102 Kebenaran yang Tak Bisa Disembunyikan
102
bab 103 Luka di Balik Kebencian
103
bab 104 Jangan Tinggalkan Keluarga Kita
104
bab 105 Aku Tahu Siapa Ayahku
105
bab 106 Kesalahan yang Tak Boleh Terulang
106
bab 107 Mereka Akan Tahu Suatu Hari Nanti
107
bab 108 ketakutan yang kembali
108
bab 109 anak yang meninggalkan ibunya
109
bab 110 bukti dari masa lalu
110
bab 111 Aku Akan Menunggumu, Tan
111
bab 112 Saat Penyesalan Datang
112
bab 113 Dua Anak, Dua Luka
113
bab 114 penyesalan
114
bab 115 Ayah yang Tak Rela Ditinggalkan
115
bab 116 Pulang dengan Senyuman
116
bab 117 ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!