AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan

Langit Jakarta sore itu terlihat mendung dari balik jendela apartemen mewah yang kini menjadi tempat tinggal Nadia dan suaminya.

Nadia berdiri di depan jendela sambil memegang secangkir kopi yang sudah mulai dingin. Tatapannya kosong mengarah pada deretan gedung tinggi yang berdiri kokoh di kejauhan.

Hari ini genap 5 tahun pernikahannya dengan Adrian Mahendra.

5 tahun yang seharusnya menjadi hari bahagia.

Namun entah mengapa, hatinya justru terasa sesak.

Ia tersenyum kecil, pahit.

Pikirannya tanpa sadar kembali pada masa-masa ketika semua ini bermula.

Lima tahun lalu.

Saat itu Nadia hanyalah mahasiswi sederhana di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Gadis dari keluarga biasa yang berhasil menginjakkan kaki di kampus impiannya berkat beasiswa penuh.

Setiap pagi ia harus berangkat lebih awal daripada mahasiswa lain. Selain kuliah, ia juga bekerja paruh waktu untuk membantu kebutuhan hidupnya di Jakarta.

Hidupnya jauh dari kata mudah. Namun Nadia tidak pernah mengeluh.

Baginya, pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib keluarganya.

Hari itu, saat sedang duduk sendirian di perpustakaan kampus, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang sama sekali berbeda darinya.

Adrian Mahendra.

Mahasiswa paling terkenal di fakultas mereka.

Putra tunggal keluarga Mahendra, salah satu keluarga pebisnis paling berpengaruh di Indonesia.

Dan menjadi idaman hampir seluruh mahasiswi di kampus.

Saat itu Adrian tanpa sengaja mengambil buku yang sama dengan yang hendak Nadia ambil.

Dan sejak hari itu, hidup Nadia perlahan berubah.

Awalnya Nadia mengira Adrian hanya tertarik sesaat.

Bagaimanapun juga, dunia mereka terlalu berbeda.

Adrian tumbuh dengan kemewahan.

Sementara Nadia tumbuh dalam kesederhanaan.

Namun Adrian tidak pernah mempermasalahkan hal itu.

Ia justru selalu hadir di saat Nadia membutuhkan dukungan.

Menemaninya belajar hingga larut malam.

Mengantar makanan saat Nadia terlalu sibuk mengerjakan tugas.

Bahkan rela menunggu berjam-jam di perpustakaan hanya untuk pulang bersama.

Perhatian kecil yang perlahan membuat Nadia jatuh cinta.

Dan ternyata perasaan itu berbalas.

Mereka resmi menjalin hubungan di tahun kedua kuliah.

Saat itu Nadia merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.

Ia tidak tahu bahwa cinta mereka akan menghadapi ujian yang jauh lebih besar.

Keluarga Mahendra tidak pernah menyukai Nadia.

Sejak awal.

Terutama ibunda Adrian.

Wanita itu selalu memandang Nadia dengan tatapan meremehkan.

Seolah keberadaan Nadia adalah noda yang mengotori kesempurnaan putranya.

"Kamu gadis yang baik. Tapi kamu tidak sepadan dengan Adrian."

Kalimat itu masih Nadia ingat hingga hari ini.

Terucap dengan dingin dan tanpa belas kasihan.

Hari itu Nadia pulang sambil menangis di dalam bus kota.

Namun bukan Nadia namanya jika mudah menyerah.

Sejak saat itu ia berjanji pada dirinya sendiri.

Jika mereka menganggap dirinya tidak pantas...

Maka ia akan membuat dirinya pantas.

Nadia belajar lebih keras dibanding siapa pun.

Siang malam ia habiskan untuk mengejar prestasi.

Ia lulus dengan predikat terbaik. Melanjutkan pendidikan profesi. Menjalani berbagai pelatihan hukum. Hingga akhirnya berhasil menjadi seorang pengacara muda yang diperhitungkan.

Setiap langkah yang ia ambil hanya memiliki satu tujuan.

Membuktikan bahwa dirinya bukan perempuan yang hanya mengandalkan cinta Adrian. Ia memiliki kemampuan. Memiliki harga diri.

Dan mampu berdiri sejajar dengan siapa pun.

Termasuk keluarga Mahendra.

Perjuangan panjang mereka akhirnya membuahkan hasil.

Meski dengan berat hati, keluarga Adrian memberikan restu.

Pernikahan megah yang dihadiri para pengusaha, pejabat, dan tokoh penting akhirnya terlaksana satu tahun lalu.

Saat mengucapkan janji suci di hadapan altar, Nadia benar-benar percaya bahwa seluruh perjuangan mereka telah berakhir.

Bahwa setelah bertahun-tahun mempertahankan cinta, kini kebahagiaan akhirnya menjadi milik mereka.

Namun hidup sering kali tidak berjalan sesuai harapan.

Karena terkadang...

Perjuangan terbesar justru dimulai setelah pernikahan terjadi.

Dan Nadia belum mengetahui bahwa dalam waktu dekat, kepercayaannya kepada pria yang ia cintai selama bertahun-tahun akan diuji dengan cara yang paling menyakitkan.

Pagi itu Nadia terbangun lebih awal dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai menerangi kamar yang luas dan mewah. Namun kemewahan itu sama sekali tidak mampu mengusir perasaan kosong yang sejak tadi mengendap di dadanya. Di sampingnya, Adrian sudah tidak ada. Sisi ranjang tempat pria itu tidur bahkan sudah dingin, menandakan ia telah pergi cukup lama.

Nadia duduk perlahan sambil memijat pelipisnya. Semalaman ia hampir tidak bisa tidur. Bayangan notifikasi yang muncul di ponsel Adrian terus berputar di kepalanya. Ia ingin mengabaikannya. Ingin percaya bahwa semua itu hanya kesalahpahaman. Namun semakin ia berusaha melupakan, semakin besar rasa tidak nyaman yang menggerogoti hatinya.

Ia berjalan menuju ruang makan dan mendapati meja yang kosong. Tidak ada sarapan bersama seperti dulu. Tidak ada secarik pesan yang ditinggalkan Adrian. Hanya kesunyian yang terasa semakin asing di rumah yang mereka tempati bersama.

Nadia menghela napas panjang sebelum mengambil tas kerjanya. Hari ini ia harus menghadiri persidangan penting. Sebagai pengacara muda yang namanya mulai diperhitungkan, ia tidak boleh membiarkan masalah pribadi memengaruhi pekerjaannya. Meski begitu, langkah kakinya terasa lebih berat dari biasanya.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikirannya terus melayang ke masa lalu. Ia masih ingat bagaimana Adrian dulu selalu menyempatkan diri mengantarnya ke kampus. Bahkan saat hujan deras atau jadwal kuliahnya padat, pria itu tetap datang hanya untuk memastikan Nadia tidak pulang sendirian. Adrian yang dulu selalu membuatnya merasa dicintai kini terasa seperti sosok yang perlahan menjauh.

Sesampainya di kantor, Nadia berusaha fokus pada pekerjaannya. Berkas-berkas perkara menumpuk di atas meja. Telepon terus berdering. Rekan-rekan kerja hilir mudik membicarakan jadwal sidang. Namun di tengah kesibukan itu, ada bagian dari dirinya yang terus memikirkan Adrian.

Siang hari, tanpa sengaja Nadia membuka media sosial saat sedang beristirahat. Jemarinya berhenti ketika melihat unggahan salah satu kenalan Adrian. Sebuah foto makan siang di restoran mewah bersama beberapa orang. Awalnya tidak ada yang aneh.

Sampai Nadia memperbesar foto tersebut.

Di latar belakang, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.

Adrian.

Pria itu sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita muda berambut panjang. Keduanya tampak tersenyum. Begitu nyaman. Begitu akrab.

Jantung Nadia langsung berdegup kencang.

Mungkin itu hanya rekan kerja.

Mungkin hanya klien.

Mungkin hanya kebetulan.

Namun untuk pertama kalinya dalam satu tahun pernikahan mereka, Nadia mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini selalu ia yakini.

Apakah Adrian masih mencintainya seperti dulu?

Ataukah selama ini hanya Nadia yang terus berjuang mempertahankan cinta yang perlahan telah ditinggalkan oleh pemiliknya?

Kecurigaan itu mulai tumbuh perlahan di hati Nadia.

Awalnya hanya sebuah perasaan kecil yang ia abaikan berkali-kali. Namun semakin hari, perasaan itu justru semakin jelas. Seperti benang kusut yang perlahan terurai, memperlihatkan sesuatu yang selama ini berusaha ia tutupi dengan kepercayaan.

Adrian semakin sering pulang larut malam.

Alasannya selalu sama.

Atau urusan bisnis yang mendadak.

Jika dulu Nadia tidak pernah meragukan satu kata pun yang keluar dari mulut suaminya, kini setiap alasan itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak.

Pria yang dulu selalu menceritakan setiap hal kecil dalam hidupnya kini menjadi sosok yang tertutup. Ketika Nadia bertanya, jawabannya singkat. Ketika Nadia mencoba mengobrol, Adrian terlihat tidak fokus. Bahkan saat mereka makan malam bersama, perhatian Adrian lebih banyak tertuju pada ponselnya daripada istrinya sendiri.

Malam itu Nadia kembali terbangun karena merasa sisi ranjang di sampingnya kosong.

Matanya langsung terbuka.

Jam digital menunjukkan pukul satu dini hari.

Adrian tidak ada.

Perlahan Nadia bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar.

Langkahnya terhenti saat melihat cahaya redup dari balkon apartemen.

Di sana Adrian berdiri membelakanginya.

Sebuah senyum tipis terlihat di wajah pria itu sambil menatap layar ponselnya.

Senyum yang sudah sangat lama tidak Nadia lihat.

Senyum yang dulu hanya Adrian berikan untuknya.

Entah mengapa pemandangan sederhana itu justru membuat hati Nadia terasa nyeri.

Karena sudah berbulan-bulan Adrian tidak pernah tersenyum seperti itu saat bersamanya.

Nadia memilih kembali ke kamar tanpa mengatakan apa pun.

Untuk pertama kalinya, ia takut mengetahui kebenaran.

Takut jika semua kecurigaannya ternyata benar.

Beberapa hari kemudian, Nadia menghadiri sidang yang berlangsung hingga sore.

Saat keluar dari gedung pengadilan, hujan turun cukup deras.

Ia berdiri di depan lobi sambil menunggu mobil pesanannya tiba.

Namun pandangannya tiba-tiba terpaku pada sebuah mobil hitam yang berhenti di seberang jalan.

Bukankah Adrian mengatakan sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis?

Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan.

Dari kejauhan, ia melihat pintu mobil terbuka.

Seorang wanita muda keluar sambil tersenyum.

Wanita itu kemudian membungkuk sedikit ke jendela pengemudi seolah sedang berbicara dengan seseorang di dalam.

Meski hujan menghalangi pandangannya, ia tetap bisa melihat sosok pria yang duduk di balik kemudi.

Pria yang seharusnya sedang berada di luar kota.

Pria yang beberapa jam lalu masih mengirim pesan bahwa dirinya sibuk menghadiri rapat penting.

Napas Nadia tercekat.Tangannya perlahan gemetar. Sementara mobil itu melaju pergi meninggalkannya di bawah hujan.

Untuk beberapa saat Nadia hanya berdiri diam.

Membiarkan air hujan membasahi ujung sepatunya.

Membiarkan kenyataan yang baru saja dilihatnya meruntuhkan sedikit demi sedikit kepercayaan yang selama ini ia pertahankan.

Dan untuk pertama kalinya...

Nadia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Jika Adrian bisa berbohong tentang keberadaannya...

Apalagi yang selama ini disembunyikan oleh suaminya?

Episodes
1 Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan
2 bab 2 Sikap Adrian Aneh
3 bab 3 teman lama nadia
4 Bab 4 bianca yang mulai suka adrian
5 Bab 5 menjelang 5 tahun anniversary pernikahan
6 Bab 6 rumor mulai muncul
7 Bab 7 kecurigaan nadia
8 Bab 8 keterlibatan mertua
9 bab 9 siapa selingkuhan suaminya
10 bab 10 semakin jelas
11 bab 11 pesan manis
12 bab 12 setega itu
13 bab 13 pengakuan adrian
14 bab 14 pengakuan bianca
15 bab 15 pengakuan semakin jelas
16 bab 16 kehamilan nadia
17 bab 17 penyesalan
18 bab 18 perasaan buruk
19 bab 19 kasus terakhir nadia
20 bab 20 terungkap
21 bab 21 luka yang belum selesai
22 bab 22 warisan
23 bab 23 ketegaran nadia
24 bab 24 perasaan vano
25 bab 25 teganya adrian
26 bab 26 penyesalan
27 bab 27 semakin murka
28 bab 28 suram
29 bab 29 aneh
30 bab 30 aneh
31 bab 31 kehangatan adik dan kakak
32 bab 32 penuh keraguan
33 bab 33 kemarahan anna
34 bab 34 masalah lain
35 bab 35 stempel mendiang ayah mertua
36 bab 36 pemilik liontin B
37 bab 37 bayang-bayang nadia
38 bab 38 pilihan yang sulit
39 bab 39 penyesalan
40 bab 40 pengakuan adrian
41 bab 41 kecelakaan
42 bab 42 air mata
43 bab 43 penyebab sebenarnya
44 bab 44 keputusan nadia
45 bab 45 kecewanya adrian
46 bab 46 saat duka jadi amarah
47 bab 47 kematian yang menjadi awal
48 bab 48 penculikan nadia
49 bab 49 kembalinya nadia
50 bab 50 karma
51 bab 51 hari terakhir dan harapan baru
52 bab 52 suasana baru
53 bab 53 awal mula
54 bab 54 dibalik keputusan revano
55 bab 55 demam yang mengusik harapan
56 bab 56 mimpi yang tak boleh berenti
57 bab 57 nada pertama
58 bab 58 ambisi dan keadilan
59 bab 59 Pertemuan yang Terlewat
60 bab 60 diantara ambisi dan mimpi
61 bab 61 saat harapan diuji
62 bab 62 Haruskah Aku Mengatakannya?
63 bab 63 harapan diatas panggung
64 Draft 64 es krim sebagai permintaan maaf
65 bab 65 keinginan yang tak terucap
66 bab 66 Di Antara Mimpi dan Perasaan
67 bab 67 2 panggung 2 perasaan
68 bab 68 2 perhatian 2 hati
69 bab 69 kasih sayang tak mengenal darah
70 bab 70 darah yang sama
71 bab 71 harapan yang mustahil
72 bab 72 Keputusasaan Seorang Ayah
73 bab 73 saat kebahagiaan terhenti
74 bab 74 Perasaan yang Mulai Tumbuh
75 bab 75 rahasia yang menghancurkan
76 bab 76 cemburu dan prasangka
77 bab 78 Kebenaran yang Tak Pernah Diceritakan
78 bab 79 luka yang tak pernah sembuh
79 bab 80 luka yang belum sembuh
80 bab 81 cinta berbeda cara
81 bab 82 senyum dibalik rasa rindu
82 bab 83 retaknya kepercayaan
83 bab 84 Siapa Perusak Rumah Tangga Itu?
84 bab 85 saat amarah menjadi diam
85 bab 86 korban dari pertengkaran
86 bab 87 petunjuk baru tentang masa lalu
87 bab 88 gosip yang beredar
88 bab 89 senyum diatas penderitaan
89 bab 90 ibu yang menanggung segalanya
90 bab 91 Rahasia yang Terkubur Bertahun-Tahun
91 bab 92 tubuh yang mulai menyerah
92 bab 93 Ucapan yang Mengguncang Intan
93 bab 94 Ketakutan yang Kembali
94 bab 95 Pertemuan yang Membuka Rahasia
95 bab 96 Di Antara Bella dan Intan
96 bab 97 Sebelum Mimpi Itu Terhenti
97 bab 98 Dosa Masa Lalu Bianca
98 bab 99 Pesan Terakhir Sebelum Panggung
99 bab 100 Satu Panggung, Banyak Perasaan
100 bab 101 senyum ditengah luka
101 bab 102 Kebenaran yang Tak Bisa Disembunyikan
102 bab 103 Luka di Balik Kebencian
103 bab 104 Jangan Tinggalkan Keluarga Kita
104 bab 105 Aku Tahu Siapa Ayahku
105 bab 106 Kesalahan yang Tak Boleh Terulang
106 bab 107 Mereka Akan Tahu Suatu Hari Nanti
107 bab 108 ketakutan yang kembali
108 bab 109 anak yang meninggalkan ibunya
109 bab 110 bukti dari masa lalu
110 bab 111 Aku Akan Menunggumu, Tan
111 bab 112 Saat Penyesalan Datang
112 bab 113 Dua Anak, Dua Luka
113 bab 114 penyesalan
114 bab 115 Ayah yang Tak Rela Ditinggalkan
115 bab 116 Pulang dengan Senyuman
116 bab 117 ending
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan
2
bab 2 Sikap Adrian Aneh
3
bab 3 teman lama nadia
4
Bab 4 bianca yang mulai suka adrian
5
Bab 5 menjelang 5 tahun anniversary pernikahan
6
Bab 6 rumor mulai muncul
7
Bab 7 kecurigaan nadia
8
Bab 8 keterlibatan mertua
9
bab 9 siapa selingkuhan suaminya
10
bab 10 semakin jelas
11
bab 11 pesan manis
12
bab 12 setega itu
13
bab 13 pengakuan adrian
14
bab 14 pengakuan bianca
15
bab 15 pengakuan semakin jelas
16
bab 16 kehamilan nadia
17
bab 17 penyesalan
18
bab 18 perasaan buruk
19
bab 19 kasus terakhir nadia
20
bab 20 terungkap
21
bab 21 luka yang belum selesai
22
bab 22 warisan
23
bab 23 ketegaran nadia
24
bab 24 perasaan vano
25
bab 25 teganya adrian
26
bab 26 penyesalan
27
bab 27 semakin murka
28
bab 28 suram
29
bab 29 aneh
30
bab 30 aneh
31
bab 31 kehangatan adik dan kakak
32
bab 32 penuh keraguan
33
bab 33 kemarahan anna
34
bab 34 masalah lain
35
bab 35 stempel mendiang ayah mertua
36
bab 36 pemilik liontin B
37
bab 37 bayang-bayang nadia
38
bab 38 pilihan yang sulit
39
bab 39 penyesalan
40
bab 40 pengakuan adrian
41
bab 41 kecelakaan
42
bab 42 air mata
43
bab 43 penyebab sebenarnya
44
bab 44 keputusan nadia
45
bab 45 kecewanya adrian
46
bab 46 saat duka jadi amarah
47
bab 47 kematian yang menjadi awal
48
bab 48 penculikan nadia
49
bab 49 kembalinya nadia
50
bab 50 karma
51
bab 51 hari terakhir dan harapan baru
52
bab 52 suasana baru
53
bab 53 awal mula
54
bab 54 dibalik keputusan revano
55
bab 55 demam yang mengusik harapan
56
bab 56 mimpi yang tak boleh berenti
57
bab 57 nada pertama
58
bab 58 ambisi dan keadilan
59
bab 59 Pertemuan yang Terlewat
60
bab 60 diantara ambisi dan mimpi
61
bab 61 saat harapan diuji
62
bab 62 Haruskah Aku Mengatakannya?
63
bab 63 harapan diatas panggung
64
Draft 64 es krim sebagai permintaan maaf
65
bab 65 keinginan yang tak terucap
66
bab 66 Di Antara Mimpi dan Perasaan
67
bab 67 2 panggung 2 perasaan
68
bab 68 2 perhatian 2 hati
69
bab 69 kasih sayang tak mengenal darah
70
bab 70 darah yang sama
71
bab 71 harapan yang mustahil
72
bab 72 Keputusasaan Seorang Ayah
73
bab 73 saat kebahagiaan terhenti
74
bab 74 Perasaan yang Mulai Tumbuh
75
bab 75 rahasia yang menghancurkan
76
bab 76 cemburu dan prasangka
77
bab 78 Kebenaran yang Tak Pernah Diceritakan
78
bab 79 luka yang tak pernah sembuh
79
bab 80 luka yang belum sembuh
80
bab 81 cinta berbeda cara
81
bab 82 senyum dibalik rasa rindu
82
bab 83 retaknya kepercayaan
83
bab 84 Siapa Perusak Rumah Tangga Itu?
84
bab 85 saat amarah menjadi diam
85
bab 86 korban dari pertengkaran
86
bab 87 petunjuk baru tentang masa lalu
87
bab 88 gosip yang beredar
88
bab 89 senyum diatas penderitaan
89
bab 90 ibu yang menanggung segalanya
90
bab 91 Rahasia yang Terkubur Bertahun-Tahun
91
bab 92 tubuh yang mulai menyerah
92
bab 93 Ucapan yang Mengguncang Intan
93
bab 94 Ketakutan yang Kembali
94
bab 95 Pertemuan yang Membuka Rahasia
95
bab 96 Di Antara Bella dan Intan
96
bab 97 Sebelum Mimpi Itu Terhenti
97
bab 98 Dosa Masa Lalu Bianca
98
bab 99 Pesan Terakhir Sebelum Panggung
99
bab 100 Satu Panggung, Banyak Perasaan
100
bab 101 senyum ditengah luka
101
bab 102 Kebenaran yang Tak Bisa Disembunyikan
102
bab 103 Luka di Balik Kebencian
103
bab 104 Jangan Tinggalkan Keluarga Kita
104
bab 105 Aku Tahu Siapa Ayahku
105
bab 106 Kesalahan yang Tak Boleh Terulang
106
bab 107 Mereka Akan Tahu Suatu Hari Nanti
107
bab 108 ketakutan yang kembali
108
bab 109 anak yang meninggalkan ibunya
109
bab 110 bukti dari masa lalu
110
bab 111 Aku Akan Menunggumu, Tan
111
bab 112 Saat Penyesalan Datang
112
bab 113 Dua Anak, Dua Luka
113
bab 114 penyesalan
114
bab 115 Ayah yang Tak Rela Ditinggalkan
115
bab 116 Pulang dengan Senyuman
116
bab 117 ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!