Bab 5 menjelang 5 tahun anniversary pernikahan

Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Nadia memutuskan mengambil cuti satu hari dari kantor.

Sinar matahari masuk melalui jendela apartemen, menerangi ruang tamu yang masih sepi. Nadia berdiri di dapur sambil memegang secangkir kopi hangat, memandangi kalender di layar ponselnya.

Hari itu adalah hari yang sudah ia tandai sejak jauh-jauh hari.

Anniversary pernikahannya dengan Adrian.

Lima tahun sejak mereka mengucapkan janji untuk hidup bersama.

Lima tahun mempertahankan hubungan yang dulu harus diperjuangkan mati-matian di hadapan keluarga Mahendra.

Sudut bibir Nadia terangkat membentuk senyum kecil.

Meski akhir-akhir ini hubungan mereka terasa renggang, Nadia masih ingin mencoba.

Masih ingin memperbaiki semuanya.

Masih ingin mengingatkan Adrian tentang alasan mereka bertahan selama ini.

Karena itu ia telah menyiapkan kejutan sederhana.

Di atas meja ruang makan tergeletak beberapa catatan kecil yang sudah ia susun sejak minggu lalu.

Dekorasi makan malam. Pesanan bunga favorit Adrian dan Kue yang akan diantar sore nanti.

Serta reservasi chef pribadi untuk menyiapkan hidangan spesial di apartemen.

Nadia bahkan telah membeli gaun baru yang masih tergantung rapi di lemari.

Gaun yang sengaja ia pilih setelah menghabiskan waktu berjam-jam mencarinya.

Entah kenapa, ia ingin terlihat cantik malam ini.

Seperti saat pertama kali Adrian melamarnya.

Seperti saat pria itu menatapnya dengan cinta yang begitu jelas.

Mengingat hal itu membuat dadanya terasa hangat.

Ia berharap malam nanti bisa menjadi awal yang baru bagi mereka.

Setelah sarapan seadanya, Nadia mulai menghubungi beberapa vendor dekorasi.

Ruang makan yang biasanya terlihat formal perlahan berubah menjadi lebih hangat.

Rangkaian bunga putih dan lilin-lilin kecil mulai ditata sesuai keinginannya.

Meski sederhana, Nadia memperhatikan setiap detail dengan teliti.

Karena bagi dirinya, malam itu bukan sekadar perayaan.

Melainkan usaha terakhir untuk mengembalikan sesuatu yang perlahan hilang dari pernikahan mereka.

Di tengah kesibukannya, ponselnya tiba-tiba berdering.

Nama yang muncul di layar membuat senyumnya langsung memudar.

Ibu Mahendra.

Mertua yang sejak awal tidak pernah benar-benar menerima dirinya.

Nadia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Bu."

Suara wanita di seberang terdengar dingin seperti biasa.

"Nadia."

"Ya, Bu."

"Kamu sedang sibuk?"

Nadia melirik dekorasi yang masih berantakan di ruang makan.

"Sedikit, Bu."

"Aku ingin kamu datang ke rumah hari ini."

Nadia mengernyit pelan.

"Ada sesuatu yang penting?"

"Ada."

Jawaban singkat itu membuat Nadia semakin tidak nyaman.

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, sang mertua kembali berbicara.

"Datang saja. Aku tunggu."

Sambungan telepon langsung terputus.

Nadia menatap layar ponselnya beberapa saat.

Perasaan enggan langsung muncul di dalam hatinya.

Selama lima tahun terakhir, hubungannya dengan keluarga Mahendra tidak pernah benar-benar hangat.

Mereka memang tidak lagi terang-terangan menentangnya seperti dulu.

Namun Nadia selalu bisa merasakan jarak yang sengaja dipertahankan.

Seolah apa pun yang ia lakukan tidak akan pernah cukup untuk membuat dirinya benar-benar diterima.

Ia menghela napas panjang.

Jujur saja, ia ingin menghabiskan hari ini untuk mempersiapkan anniversary bersama Adrian.

Bukan menghadapi suasana canggung di rumah keluarga Mahendra.

Namun pada akhirnya Nadia tetap mengambil tasnya.

Bagaimanapun juga, wanita yang meneleponnya tadi adalah ibu dari suaminya.

Dan meskipun hatinya enggan, ia tetap berusaha menjaga hubungan baik.

Tanpa menyadari bahwa kunjungan hari ini akan membuka percakapan yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap banyak hal dalam hidupnya.

Mobil Nadia memasuki halaman kediaman keluarga Mahendra menjelang siang.

Rumah besar bergaya klasik itu masih sama seperti terakhir kali ia datang. Megah. Berwibawa. Dan entah mengapa selalu membuat Nadia merasa seperti tamu, meskipun ia sudah lima tahun menjadi bagian dari keluarga tersebut.

Seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.

Begitu melangkah ke ruang keluarga utama, Nadia langsung melihat ibu mertuanya duduk dengan anggun di sofa panjang sambil menikmati teh. Wajah wanita itu tampak tenang, namun sorot matanya tetap sama seperti dulu.

"Nadia."

Nadia tersenyum sopan.

"Selamat siang, Bu."

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mempersilakan Nadia duduk sebelum meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang membuat suasana terasa semakin tidak nyaman.

Lalu akhirnya wanita itu berbicara.

"Adrian semakin jarang pulang ke rumah."

Nadia sedikit terkejut.

Ia tidak menyangka pembicaraan akan langsung menuju ke sana.

"Mungkin akhir-akhir ini dia sedang sibuk, Bu."

"Sibuk?"

Nada suara wanita itu terdengar tipis namun tajam.

"Sibuk sampai lupa keluarga sendiri?"

Nadia menunduk sejenak.

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Karena kenyataannya, Adrian memang sudah cukup lama tidak mengunjungi rumah orang tuanya.

"Kamu istrinya."

Kalimat itu terdengar seperti tuduhan.

"Kamu seharusnya bisa mengingatkannya."

Nadia mengepalkan jemarinya di atas pangkuan.

"Saya sudah mencoba, Bu."

"Kalau kamu benar-benar mencoba, Adrian tidak akan seperti sekarang."

Kata-kata itu menusuk tepat ke hatinya.

Meski sudah bertahun-tahun menghadapi sikap ibu mertuanya, Nadia tetap tidak pernah benar-benar terbiasa.

Ada rasa lelah yang sulit dijelaskan.

Karena apa pun yang terjadi, seolah ia selalu menjadi pihak yang salah.

Jika Adrian menjauh dari keluarga, Nadia yang disalahkan.

Jika Adrian mengambil keputusan yang tidak disukai keluarganya, Nadia yang dianggap memengaruhi.

Dan jika ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan...

Lagi-lagi Nadia yang menjadi penyebabnya.

"Nadia."

Suara berat tiba-tiba terdengar dari arah belakang.

Nadia menoleh.

Wajahnya sedikit melunak saat melihat ayah mertuanya memasuki ruangan.

Pria paruh baya itu masih memiliki wibawa yang kuat meski rambutnya sudah mulai dipenuhi uban.

Berbeda dengan istrinya, beliau selalu memperlakukan Nadia dengan baik.

"Buat apa menyalahkan Nadia?" ucapnya tenang sambil duduk di kursi seberang.

"Ia tidak bisa mengatur semua keputusan Adrian."

Ibu Mahendra tampak tidak senang.

Namun ayah Adrian tetap melanjutkan.

"Adrian sudah dewasa."

Kalimat itu sederhana.

Tetapi cukup membuat dada Nadia terasa sedikit hangat.

Setidaknya ada satu orang di keluarga ini yang masih melihatnya secara adil.

Pembicaraan kemudian beralih ke berbagai hal.

Tentang pekerjaan.

Tentang kondisi firma hukum.

Dan di situlah Nadia mendengar sesuatu yang membuatnya membeku.

"Aku sebenarnya ingin bicara soal firma kalian juga."

Nadia mengangkat wajahnya.

"Maksud Ayah?"

Ayah Adrian terlihat santai saat menjawab.

"Kami sudah menyelesaikan proses akuisisi saham mayoritas firma tempat kamu dan Adrian bekerja."

Untuk sesaat Nadia mengira dirinya salah dengar.

"Akuisisi...?"

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Ayah Adrian mengangguk.

"Mulai bulan depan, keluarga Mahendra akan menjadi pemegang saham terbesar di firma itu."

Nadia langsung terdiam.

Pikirannya kosong.

Ia bahkan tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

Firma hukum itu bukan firma biasa.

Firma tersebut memiliki sejarah panjang dan independensi yang sangat dijaga.

Banyak pengacara bekerja keras membangun reputasinya selama puluhan tahun.

Keluarga Mahendra menguasai sebagian besar sahamnya?

Nadia berusaha mencerna informasi itu.

Tangannya terasa dingin.

"Apa Adrian sudah tahu?" tanyanya pelan.

Ayah mertuanya tersenyum tipis.

"Belum."

Kata-kata itu membuat perasaan Nadia semakin tidak tenang.

Dan jika pria itu mengetahui bahwa perusahaan keluarganya kini memiliki kendali atas firma yang selama ini menjadi tempatnya membangun nama...

Maka badai besar mungkin hanya tinggal menunggu waktu.

Episodes
1 Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan
2 bab 2 Sikap Adrian Aneh
3 bab 3 teman lama nadia
4 Bab 4 bianca yang mulai suka adrian
5 Bab 5 menjelang 5 tahun anniversary pernikahan
6 Bab 6 rumor mulai muncul
7 Bab 7 kecurigaan nadia
8 Bab 8 keterlibatan mertua
9 bab 9 siapa selingkuhan suaminya
10 bab 10 semakin jelas
11 bab 11 pesan manis
12 bab 12 setega itu
13 bab 13 pengakuan adrian
14 bab 14 pengakuan bianca
15 bab 15 pengakuan semakin jelas
16 bab 16 kehamilan nadia
17 bab 17 penyesalan
18 bab 18 perasaan buruk
19 bab 19 kasus terakhir nadia
20 bab 20 terungkap
21 bab 21 luka yang belum selesai
22 bab 22 warisan
23 bab 23 ketegaran nadia
24 bab 24 perasaan vano
25 bab 25 teganya adrian
26 bab 26 penyesalan
27 bab 27 semakin murka
28 bab 28 suram
29 bab 29 aneh
30 bab 30 aneh
31 bab 31 kehangatan adik dan kakak
32 bab 32 penuh keraguan
33 bab 33 kemarahan anna
34 bab 34 masalah lain
35 bab 35 stempel mendiang ayah mertua
36 bab 36 pemilik liontin B
37 bab 37 bayang-bayang nadia
38 bab 38 pilihan yang sulit
39 bab 39 penyesalan
40 bab 40 pengakuan adrian
41 bab 41 kecelakaan
42 bab 42 air mata
43 bab 43 penyebab sebenarnya
44 bab 44 keputusan nadia
45 bab 45 kecewanya adrian
46 bab 46 saat duka jadi amarah
47 bab 47 kematian yang menjadi awal
48 bab 48 penculikan nadia
49 bab 49 kembalinya nadia
50 bab 50 karma
51 bab 51 hari terakhir dan harapan baru
52 bab 52 suasana baru
53 bab 53 awal mula
54 bab 54 dibalik keputusan revano
55 bab 55 demam yang mengusik harapan
56 bab 56 mimpi yang tak boleh berenti
57 bab 57 nada pertama
58 bab 58 ambisi dan keadilan
59 bab 59 Pertemuan yang Terlewat
60 bab 60 diantara ambisi dan mimpi
61 bab 61 saat harapan diuji
62 bab 62 Haruskah Aku Mengatakannya?
63 bab 63 harapan diatas panggung
64 Draft 64 es krim sebagai permintaan maaf
65 bab 65 keinginan yang tak terucap
66 bab 66 Di Antara Mimpi dan Perasaan
67 bab 67 2 panggung 2 perasaan
68 bab 68 2 perhatian 2 hati
69 bab 69 kasih sayang tak mengenal darah
70 bab 70 darah yang sama
71 bab 71 harapan yang mustahil
72 bab 72 Keputusasaan Seorang Ayah
73 bab 73 saat kebahagiaan terhenti
74 bab 74 Perasaan yang Mulai Tumbuh
75 bab 75 rahasia yang menghancurkan
76 bab 76 cemburu dan prasangka
77 bab 78 Kebenaran yang Tak Pernah Diceritakan
78 bab 79 luka yang tak pernah sembuh
79 bab 80 luka yang belum sembuh
80 bab 81 cinta berbeda cara
81 bab 82 senyum dibalik rasa rindu
82 bab 83 retaknya kepercayaan
83 bab 84 Siapa Perusak Rumah Tangga Itu?
84 bab 85 saat amarah menjadi diam
85 bab 86 korban dari pertengkaran
86 bab 87 petunjuk baru tentang masa lalu
87 bab 88 gosip yang beredar
88 bab 89 senyum diatas penderitaan
89 bab 90 ibu yang menanggung segalanya
90 bab 91 Rahasia yang Terkubur Bertahun-Tahun
91 bab 92 tubuh yang mulai menyerah
92 bab 93 Ucapan yang Mengguncang Intan
93 bab 94 Ketakutan yang Kembali
94 bab 95 Pertemuan yang Membuka Rahasia
95 bab 96 Di Antara Bella dan Intan
96 bab 97 Sebelum Mimpi Itu Terhenti
97 bab 98 Dosa Masa Lalu Bianca
98 bab 99 Pesan Terakhir Sebelum Panggung
99 bab 100 Satu Panggung, Banyak Perasaan
100 bab 101 senyum ditengah luka
101 bab 102 Kebenaran yang Tak Bisa Disembunyikan
102 bab 103 Luka di Balik Kebencian
103 bab 104 Jangan Tinggalkan Keluarga Kita
104 bab 105 Aku Tahu Siapa Ayahku
105 bab 106 Kesalahan yang Tak Boleh Terulang
106 bab 107 Mereka Akan Tahu Suatu Hari Nanti
107 bab 108 ketakutan yang kembali
108 bab 109 anak yang meninggalkan ibunya
109 bab 110 bukti dari masa lalu
110 bab 111 Aku Akan Menunggumu, Tan
111 bab 112 Saat Penyesalan Datang
112 bab 113 Dua Anak, Dua Luka
113 bab 114 penyesalan
114 bab 115 Ayah yang Tak Rela Ditinggalkan
115 bab 116 Pulang dengan Senyuman
116 bab 117 ending
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan
2
bab 2 Sikap Adrian Aneh
3
bab 3 teman lama nadia
4
Bab 4 bianca yang mulai suka adrian
5
Bab 5 menjelang 5 tahun anniversary pernikahan
6
Bab 6 rumor mulai muncul
7
Bab 7 kecurigaan nadia
8
Bab 8 keterlibatan mertua
9
bab 9 siapa selingkuhan suaminya
10
bab 10 semakin jelas
11
bab 11 pesan manis
12
bab 12 setega itu
13
bab 13 pengakuan adrian
14
bab 14 pengakuan bianca
15
bab 15 pengakuan semakin jelas
16
bab 16 kehamilan nadia
17
bab 17 penyesalan
18
bab 18 perasaan buruk
19
bab 19 kasus terakhir nadia
20
bab 20 terungkap
21
bab 21 luka yang belum selesai
22
bab 22 warisan
23
bab 23 ketegaran nadia
24
bab 24 perasaan vano
25
bab 25 teganya adrian
26
bab 26 penyesalan
27
bab 27 semakin murka
28
bab 28 suram
29
bab 29 aneh
30
bab 30 aneh
31
bab 31 kehangatan adik dan kakak
32
bab 32 penuh keraguan
33
bab 33 kemarahan anna
34
bab 34 masalah lain
35
bab 35 stempel mendiang ayah mertua
36
bab 36 pemilik liontin B
37
bab 37 bayang-bayang nadia
38
bab 38 pilihan yang sulit
39
bab 39 penyesalan
40
bab 40 pengakuan adrian
41
bab 41 kecelakaan
42
bab 42 air mata
43
bab 43 penyebab sebenarnya
44
bab 44 keputusan nadia
45
bab 45 kecewanya adrian
46
bab 46 saat duka jadi amarah
47
bab 47 kematian yang menjadi awal
48
bab 48 penculikan nadia
49
bab 49 kembalinya nadia
50
bab 50 karma
51
bab 51 hari terakhir dan harapan baru
52
bab 52 suasana baru
53
bab 53 awal mula
54
bab 54 dibalik keputusan revano
55
bab 55 demam yang mengusik harapan
56
bab 56 mimpi yang tak boleh berenti
57
bab 57 nada pertama
58
bab 58 ambisi dan keadilan
59
bab 59 Pertemuan yang Terlewat
60
bab 60 diantara ambisi dan mimpi
61
bab 61 saat harapan diuji
62
bab 62 Haruskah Aku Mengatakannya?
63
bab 63 harapan diatas panggung
64
Draft 64 es krim sebagai permintaan maaf
65
bab 65 keinginan yang tak terucap
66
bab 66 Di Antara Mimpi dan Perasaan
67
bab 67 2 panggung 2 perasaan
68
bab 68 2 perhatian 2 hati
69
bab 69 kasih sayang tak mengenal darah
70
bab 70 darah yang sama
71
bab 71 harapan yang mustahil
72
bab 72 Keputusasaan Seorang Ayah
73
bab 73 saat kebahagiaan terhenti
74
bab 74 Perasaan yang Mulai Tumbuh
75
bab 75 rahasia yang menghancurkan
76
bab 76 cemburu dan prasangka
77
bab 78 Kebenaran yang Tak Pernah Diceritakan
78
bab 79 luka yang tak pernah sembuh
79
bab 80 luka yang belum sembuh
80
bab 81 cinta berbeda cara
81
bab 82 senyum dibalik rasa rindu
82
bab 83 retaknya kepercayaan
83
bab 84 Siapa Perusak Rumah Tangga Itu?
84
bab 85 saat amarah menjadi diam
85
bab 86 korban dari pertengkaran
86
bab 87 petunjuk baru tentang masa lalu
87
bab 88 gosip yang beredar
88
bab 89 senyum diatas penderitaan
89
bab 90 ibu yang menanggung segalanya
90
bab 91 Rahasia yang Terkubur Bertahun-Tahun
91
bab 92 tubuh yang mulai menyerah
92
bab 93 Ucapan yang Mengguncang Intan
93
bab 94 Ketakutan yang Kembali
94
bab 95 Pertemuan yang Membuka Rahasia
95
bab 96 Di Antara Bella dan Intan
96
bab 97 Sebelum Mimpi Itu Terhenti
97
bab 98 Dosa Masa Lalu Bianca
98
bab 99 Pesan Terakhir Sebelum Panggung
99
bab 100 Satu Panggung, Banyak Perasaan
100
bab 101 senyum ditengah luka
101
bab 102 Kebenaran yang Tak Bisa Disembunyikan
102
bab 103 Luka di Balik Kebencian
103
bab 104 Jangan Tinggalkan Keluarga Kita
104
bab 105 Aku Tahu Siapa Ayahku
105
bab 106 Kesalahan yang Tak Boleh Terulang
106
bab 107 Mereka Akan Tahu Suatu Hari Nanti
107
bab 108 ketakutan yang kembali
108
bab 109 anak yang meninggalkan ibunya
109
bab 110 bukti dari masa lalu
110
bab 111 Aku Akan Menunggumu, Tan
111
bab 112 Saat Penyesalan Datang
112
bab 113 Dua Anak, Dua Luka
113
bab 114 penyesalan
114
bab 115 Ayah yang Tak Rela Ditinggalkan
115
bab 116 Pulang dengan Senyuman
116
bab 117 ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!