Bab 4 bianca yang mulai suka adrian

Malam sudah semakin larut ketika suara pintu apartemen terdengar pelan. Adrian masuk dengan langkah yang sedikit lebih berat dari biasanya, jasnya sudah tidak rapi, wajahnya tampak lelah setelah seharian di luar. Lampu ruang tamu masih menyala redup, dan di sofa Nadia terlihat tertidur dengan tubuh meringkuk, seolah menunggu tanpa sadar hingga akhirnya kalah oleh kantuk.

Adrian berhenti sejenak.

Tatapannya jatuh pada Nadia yang terlelap. Wajah istrinya terlihat tenang, namun ada garis lelah samar yang tidak bisa disembunyikan. Perlahan, Adrian mendekat lalu mengambil selimut dari sandaran sofa dan menyelimuti tubuh Nadia dengan gerakan hati-hati, hampir tanpa suara.

Saat kain hangat itu menyentuh kulitnya, Nadia sedikit bergerak. Matanya terbuka perlahan, masih samar antara sadar dan tidak.

“Mas…” suaranya lirih, serak karena baru bangun. “Kamu dari mana?”

Adrian berhenti sejenak, lalu menghela napas pelan. “Aku sama Ryan tadi. Karaoke sama teman-teman kantor.”

Nadia menatapnya beberapa detik, seolah mencoba mencari kebenaran di wajah suaminya. Namun kantuk dan lelah membuatnya tidak mampu berpikir terlalu jauh. Ia hanya mengangguk kecil.

“Ayah kamu… tadi nelpon,” ucap Nadia pelan, masih setengah sadar. “Beliau bilang besok kamu diminta pulang ke rumah. Katanya ada yang mau dibicarakan.”

Nama itu membuat Adrian sedikit mengeras. Sorot matanya berubah, meski hanya sesaat.

“Aku lagi nggak ada waktu untuk itu,” jawabnya singkat.

Nadia terdiam.

“Ayahmu kelihatan serius,” lanjutnya pelan, mencoba meyakinkan. “Mungkin penting.”

Namun Adrian justru mengalihkan pandangan. Rahangnya mengeras tipis, seperti menahan sesuatu yang tidak ingin ia bicarakan.

“Besok aku ada sidang penting,” ucapnya dingin, lebih seperti penutup pembicaraan. “Suruh aja mereka tunda.”

Nadia menatapnya lama. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Adrian berbicara malam itu. Bukan sekadar lelah, tapi seperti ada jarak yang sengaja diciptakan.

Ia tidak menjawab lagi.

Hanya menarik selimut lebih erat ke tubuhnya.

Adrian berdiri beberapa detik di sana, memandangi Nadia yang kembali memejamkan mata, lalu perlahan berbalik menuju kamar.

Langkahnya berat.

Sementara di belakangnya, Nadia kembali terlelap dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.

Dan malam itu, di antara keheningan apartemen yang dingin, sesuatu di antara mereka terasa semakin jauh… meski masih berada di bawah atap yang sama.

Di dalam kamar yang remang, Adrian duduk di tepi ranjang dengan tangan bertumpu pada lututnya. Suara pendingin ruangan terdengar pelan, namun tidak mampu meredakan kegelisahan yang perlahan naik di dadanya. Kalimat Nadia tadi terus terngiang di kepalanya.

“Ada yang mau dibicarakan…”

Adrian menghela napas panjang.

Ia sudah terlalu sering mengalami pola yang sama dari keluarganya. Setiap kali ayahnya memanggilnya pulang dengan nada serius, selalu ada satu tujuan yang tidak pernah berubah: mendorongnya meninggalkan dunia hukum dan kembali ke perusahaan keluarga Mahendra.

Tatapannya menajam dalam diam.

Sejak dulu ia sudah menolak jalan itu.

Bukan karena ia tidak mampu.

Tapi karena ia tidak ingin hidupnya ditentukan oleh nama besar keluarganya.

Ia ingin diakui karena kemampuannya sendiri, bukan karena status Mahendra yang melekat di belakang namanya.

Adrian mengusap wajahnya kasar, menahan emosi yang mulai naik perlahan.

“Selalu begitu…” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Bayangan ayahnya kembali muncul di pikirannya—tegas, dominan, dan selalu yakin bahwa dunia hukum bukan tempat yang cukup “besar” untuk seorang Adrian Mahendra.

Sementara di sisi lain, dunia perusahaan yang diwariskan itu sudah menunggu, seolah tidak akan pernah melepaskannya.

Namun Adrian sudah membuat keputusan sejak lama.

Bahkan jika itu berarti harus berhadapan langsung dengan ayahnya sendiri.

Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke jendela kamar, menatap lampu-lampu kota yang berkilauan jauh di bawah sana. Dari kejauhan, semuanya terlihat tenang. Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai retak perlahan.

Tapi karena satu hal yang mulai tidak bisa ia kendalikan.

Hubungannya dengan Nadia.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Adrian merasa bahwa ada dua tekanan besar yang sedang menariknya ke arah yang berbeda… dan ia tidak yakin berapa lama lagi ia bisa bertahan di tengah-tengahnya.

Di tengah keheningan kamar yang hanya diterangi lampu meja, ponsel Adrian yang tergeletak di sampingnya tiba-tiba bergetar pelan. Notifikasi muncul di layar, memecah sunyi yang sejak tadi menekan pikirannya.

Matanya melirik sekilas, lalu jemarinya langsung mengambil ponsel itu.

Nama yang muncul membuatnya berhenti sejenak.

Bianca.

Pesan itu sederhana, tidak panjang, hanya beberapa kalimat yang terasa ringan namun hangat di saat yang tepat.

"Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri. Kamu udah kerja cukup baik hari ini."

Adrian membaca pesan itu perlahan.

Satu kali.

Dua kali.

Lalu tanpa sadar, sudut bibirnya naik sedikit. Senyum kecil yang sejak lama tidak benar-benar ia rasakan dengan tulus.

Bukan senyum bahagia yang besar.

Lebih seperti lega.

Seperti seseorang yang akhirnya merasa dipahami tanpa harus menjelaskan terlalu banyak.

Ia bersandar di kepala ranjang, menatap layar ponsel yang masih menyala. Ada rasa tenang yang aneh, berbeda dari semua kegelisahan yang ia bawa sepanjang hari.

Di luar kamar, Nadia sudah terlelap dalam kelelahan menunggu.

Sementara di dalam kamar yang sama, meski terasa jauh secara batin, Adrian untuk sesaat merasa beban di pundaknya sedikit lebih ringan hanya karena satu pesan singkat dari seseorang yang mengerti tanpa menuntut penjelasan.

Di apartemennya yang tenang, Bianca duduk di dekat jendela sambil memegang segelas teh yang sudah mulai dingin. Cahaya kota Jakarta di luar sana berkilau samar, memantul di kaca seperti titik-titik kecil yang bergerak tanpa arah.

Pikirannya kembali pada Adrian.

Cara pria itu berbicara tadi malam. Cara diamnya ketika merasa tertekan. Dan senyum kecil yang muncul sesaat ketika membaca pesannya.

Semua itu terlintas begitu saja, tanpa bisa ia hentikan.

Adrian Mahendra bukan pria yang mudah dibaca.

Di kantor, ia terlihat tegas, terkadang dingin, dan terlalu banyak memikul sesuatu sendirian. Tapi di balik itu, Bianca bisa melihat sisi lain yang jarang muncul—pria yang lelah, yang sebenarnya hanya butuh seseorang untuk memahami tanpa banyak pertanyaan.

Dan entah kenapa, sisi itu justru membuatnya sulit untuk mengabaikan keberadaannya.

Bianca menghela napas pelan, menatap bayangannya sendiri di kaca jendela.

“Dia terlalu… menarik untuk diabaikan,” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Namun di saat yang sama, ia tahu kenyataan yang tidak bisa diubah.

Adrian adalah suami Nadia.

Nadia.

Nama itu membuat pikirannya sedikit berhenti.

Bianca mengenalnya, meski tidak dekat. Wanita yang dulu sama-sama satu SMA dengannya. Sosok yang selalu terlihat tenang, kuat, dan terlalu sibuk mengejar kesempurnaan hidupnya sendiri.

Bianca menunduk, memutar ulang ingatannya tentang Nadia yang kini menjadi istri Adrian.

Ada sesuatu yang terasa tidak seimbang dalam pikirannya.

Satu sisi melihat Adrian sebagai pria yang mempesona, cerdas, dan penuh beban yang tidak terlihat.

Namun sisi lain mengingat bahwa pria itu sudah menjadi milik orang lain.

Ia menghembuskan napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

Namun semakin ia mencoba menjauh, semakin jelas bayangan Adrian muncul kembali di kepalanya.

Seolah tanpa sadar, batas yang seharusnya tidak disentuh itu mulai terasa sedikit lebih kabur dari sebelumnya.

Episodes
1 Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan
2 bab 2 Sikap Adrian Aneh
3 bab 3 teman lama nadia
4 Bab 4 bianca yang mulai suka adrian
5 Bab 5 menjelang 5 tahun anniversary pernikahan
6 Bab 6 rumor mulai muncul
7 Bab 7 kecurigaan nadia
8 Bab 8 keterlibatan mertua
9 bab 9 siapa selingkuhan suaminya
10 bab 10 semakin jelas
11 bab 11 pesan manis
12 bab 12 setega itu
13 bab 13 pengakuan adrian
14 bab 14 pengakuan bianca
15 bab 15 pengakuan semakin jelas
16 bab 16 kehamilan nadia
17 bab 17 penyesalan
18 bab 18 perasaan buruk
19 bab 19 kasus terakhir nadia
20 bab 20 terungkap
21 bab 21 luka yang belum selesai
22 bab 22 warisan
23 bab 23 ketegaran nadia
24 bab 24 perasaan vano
25 bab 25 teganya adrian
26 bab 26 penyesalan
27 bab 27 semakin murka
28 bab 28 suram
29 bab 29 aneh
30 bab 30 aneh
31 bab 31 kehangatan adik dan kakak
32 bab 32 penuh keraguan
33 bab 33 kemarahan anna
34 bab 34 masalah lain
35 bab 35 stempel mendiang ayah mertua
36 bab 36 pemilik liontin B
37 bab 37 bayang-bayang nadia
38 bab 38 pilihan yang sulit
39 bab 39 penyesalan
40 bab 40 pengakuan adrian
41 bab 41 kecelakaan
42 bab 42 air mata
43 bab 43 penyebab sebenarnya
44 bab 44 keputusan nadia
45 bab 45 kecewanya adrian
46 bab 46 saat duka jadi amarah
47 bab 47 kematian yang menjadi awal
48 bab 48 penculikan nadia
49 bab 49 kembalinya nadia
50 bab 50 karma
51 bab 51 hari terakhir dan harapan baru
52 bab 52 suasana baru
53 bab 53 awal mula
54 bab 54 dibalik keputusan revano
55 bab 55 demam yang mengusik harapan
56 bab 56 mimpi yang tak boleh berenti
57 bab 57 nada pertama
58 bab 58 ambisi dan keadilan
59 bab 59 Pertemuan yang Terlewat
60 bab 60 diantara ambisi dan mimpi
61 bab 61 saat harapan diuji
62 bab 62 Haruskah Aku Mengatakannya?
63 bab 63 harapan diatas panggung
64 Draft 64 es krim sebagai permintaan maaf
65 bab 65 keinginan yang tak terucap
66 bab 66 Di Antara Mimpi dan Perasaan
67 bab 67 2 panggung 2 perasaan
68 bab 68 2 perhatian 2 hati
69 bab 69 kasih sayang tak mengenal darah
70 bab 70 darah yang sama
71 bab 71 harapan yang mustahil
72 bab 72 Keputusasaan Seorang Ayah
73 bab 73 saat kebahagiaan terhenti
74 bab 74 Perasaan yang Mulai Tumbuh
75 bab 75 rahasia yang menghancurkan
76 bab 76 cemburu dan prasangka
77 bab 78 Kebenaran yang Tak Pernah Diceritakan
78 bab 79 luka yang tak pernah sembuh
79 bab 80 luka yang belum sembuh
80 bab 81 cinta berbeda cara
81 bab 82 senyum dibalik rasa rindu
82 bab 83 retaknya kepercayaan
83 bab 84 Siapa Perusak Rumah Tangga Itu?
84 bab 85 saat amarah menjadi diam
85 bab 86 korban dari pertengkaran
86 bab 87 petunjuk baru tentang masa lalu
87 bab 88 gosip yang beredar
88 bab 89 senyum diatas penderitaan
89 bab 90 ibu yang menanggung segalanya
90 bab 91 Rahasia yang Terkubur Bertahun-Tahun
91 bab 92 tubuh yang mulai menyerah
92 bab 93 Ucapan yang Mengguncang Intan
93 bab 94 Ketakutan yang Kembali
94 bab 95 Pertemuan yang Membuka Rahasia
95 bab 96 Di Antara Bella dan Intan
96 bab 97 Sebelum Mimpi Itu Terhenti
97 bab 98 Dosa Masa Lalu Bianca
98 bab 99 Pesan Terakhir Sebelum Panggung
99 bab 100 Satu Panggung, Banyak Perasaan
100 bab 101 senyum ditengah luka
101 bab 102 Kebenaran yang Tak Bisa Disembunyikan
102 bab 103 Luka di Balik Kebencian
103 bab 104 Jangan Tinggalkan Keluarga Kita
104 bab 105 Aku Tahu Siapa Ayahku
105 bab 106 Kesalahan yang Tak Boleh Terulang
106 bab 107 Mereka Akan Tahu Suatu Hari Nanti
107 bab 108 ketakutan yang kembali
108 bab 109 anak yang meninggalkan ibunya
109 bab 110 bukti dari masa lalu
110 bab 111 Aku Akan Menunggumu, Tan
111 bab 112 Saat Penyesalan Datang
112 bab 113 Dua Anak, Dua Luka
113 bab 114 penyesalan
114 bab 115 Ayah yang Tak Rela Ditinggalkan
115 bab 116 Pulang dengan Senyuman
116 bab 117 ending
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan
2
bab 2 Sikap Adrian Aneh
3
bab 3 teman lama nadia
4
Bab 4 bianca yang mulai suka adrian
5
Bab 5 menjelang 5 tahun anniversary pernikahan
6
Bab 6 rumor mulai muncul
7
Bab 7 kecurigaan nadia
8
Bab 8 keterlibatan mertua
9
bab 9 siapa selingkuhan suaminya
10
bab 10 semakin jelas
11
bab 11 pesan manis
12
bab 12 setega itu
13
bab 13 pengakuan adrian
14
bab 14 pengakuan bianca
15
bab 15 pengakuan semakin jelas
16
bab 16 kehamilan nadia
17
bab 17 penyesalan
18
bab 18 perasaan buruk
19
bab 19 kasus terakhir nadia
20
bab 20 terungkap
21
bab 21 luka yang belum selesai
22
bab 22 warisan
23
bab 23 ketegaran nadia
24
bab 24 perasaan vano
25
bab 25 teganya adrian
26
bab 26 penyesalan
27
bab 27 semakin murka
28
bab 28 suram
29
bab 29 aneh
30
bab 30 aneh
31
bab 31 kehangatan adik dan kakak
32
bab 32 penuh keraguan
33
bab 33 kemarahan anna
34
bab 34 masalah lain
35
bab 35 stempel mendiang ayah mertua
36
bab 36 pemilik liontin B
37
bab 37 bayang-bayang nadia
38
bab 38 pilihan yang sulit
39
bab 39 penyesalan
40
bab 40 pengakuan adrian
41
bab 41 kecelakaan
42
bab 42 air mata
43
bab 43 penyebab sebenarnya
44
bab 44 keputusan nadia
45
bab 45 kecewanya adrian
46
bab 46 saat duka jadi amarah
47
bab 47 kematian yang menjadi awal
48
bab 48 penculikan nadia
49
bab 49 kembalinya nadia
50
bab 50 karma
51
bab 51 hari terakhir dan harapan baru
52
bab 52 suasana baru
53
bab 53 awal mula
54
bab 54 dibalik keputusan revano
55
bab 55 demam yang mengusik harapan
56
bab 56 mimpi yang tak boleh berenti
57
bab 57 nada pertama
58
bab 58 ambisi dan keadilan
59
bab 59 Pertemuan yang Terlewat
60
bab 60 diantara ambisi dan mimpi
61
bab 61 saat harapan diuji
62
bab 62 Haruskah Aku Mengatakannya?
63
bab 63 harapan diatas panggung
64
Draft 64 es krim sebagai permintaan maaf
65
bab 65 keinginan yang tak terucap
66
bab 66 Di Antara Mimpi dan Perasaan
67
bab 67 2 panggung 2 perasaan
68
bab 68 2 perhatian 2 hati
69
bab 69 kasih sayang tak mengenal darah
70
bab 70 darah yang sama
71
bab 71 harapan yang mustahil
72
bab 72 Keputusasaan Seorang Ayah
73
bab 73 saat kebahagiaan terhenti
74
bab 74 Perasaan yang Mulai Tumbuh
75
bab 75 rahasia yang menghancurkan
76
bab 76 cemburu dan prasangka
77
bab 78 Kebenaran yang Tak Pernah Diceritakan
78
bab 79 luka yang tak pernah sembuh
79
bab 80 luka yang belum sembuh
80
bab 81 cinta berbeda cara
81
bab 82 senyum dibalik rasa rindu
82
bab 83 retaknya kepercayaan
83
bab 84 Siapa Perusak Rumah Tangga Itu?
84
bab 85 saat amarah menjadi diam
85
bab 86 korban dari pertengkaran
86
bab 87 petunjuk baru tentang masa lalu
87
bab 88 gosip yang beredar
88
bab 89 senyum diatas penderitaan
89
bab 90 ibu yang menanggung segalanya
90
bab 91 Rahasia yang Terkubur Bertahun-Tahun
91
bab 92 tubuh yang mulai menyerah
92
bab 93 Ucapan yang Mengguncang Intan
93
bab 94 Ketakutan yang Kembali
94
bab 95 Pertemuan yang Membuka Rahasia
95
bab 96 Di Antara Bella dan Intan
96
bab 97 Sebelum Mimpi Itu Terhenti
97
bab 98 Dosa Masa Lalu Bianca
98
bab 99 Pesan Terakhir Sebelum Panggung
99
bab 100 Satu Panggung, Banyak Perasaan
100
bab 101 senyum ditengah luka
101
bab 102 Kebenaran yang Tak Bisa Disembunyikan
102
bab 103 Luka di Balik Kebencian
103
bab 104 Jangan Tinggalkan Keluarga Kita
104
bab 105 Aku Tahu Siapa Ayahku
105
bab 106 Kesalahan yang Tak Boleh Terulang
106
bab 107 Mereka Akan Tahu Suatu Hari Nanti
107
bab 108 ketakutan yang kembali
108
bab 109 anak yang meninggalkan ibunya
109
bab 110 bukti dari masa lalu
110
bab 111 Aku Akan Menunggumu, Tan
111
bab 112 Saat Penyesalan Datang
112
bab 113 Dua Anak, Dua Luka
113
bab 114 penyesalan
114
bab 115 Ayah yang Tak Rela Ditinggalkan
115
bab 116 Pulang dengan Senyuman
116
bab 117 ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!