bab 3 teman lama nadia

Di sisi lain kota, jauh dari apartemen yang masih diterangi lampu ruang tamu tempat Nadia menunggu, Adrian duduk di sebuah restoran mewah yang menghadap langsung ke gemerlap lampu Jakarta malam hari. Suasana restoran itu tenang.

Alunan musik piano mengalun pelan di sudut ruangan, bercampur dengan suara percakapan para pengunjung yang terdengar samar. Cahaya lampu berwarna keemasan membuat tempat itu terasa hangat dan nyaman.

Di hadapan Adrian duduk seorang wanita berusia beberapa tahun lebih tua darinya.

Namanya Bianca Pradana.

Salah satu senior partner di firma hukum tempat mereka bekerja.

Wanita yang dikenal cerdas, tegas, dan memiliki reputasi yang hampir tidak pernah tercoreng selama bertahun-tahun berkarier.

Malam itu Bianca mengenakan gaun hitam sederhana yang membuat penampilannya terlihat elegan tanpa berlebihan.

Sesekali wanita itu tersenyum saat berbicara.

Dan Adrian membalasnya dengan senyum yang sudah lama tidak muncul di hadapan Nadia.

"Masih memikirkan penghargaan Nadia?" tanya Bianca pelan sambil mengaduk minumannya.

Adrian menghela napas tipis.

"Terlalu terlihat ya?"

Bianca hanya tersenyum kecil.

"Mukamu selalu mudah dibaca kalau sedang kesal."

Adrian menunduk sebentar.

Tatapannya jatuh pada gelas di depannya.

Di dalam firma hukum mereka, nama Nadia memang sedang berada di puncak.

Semua orang membicarakan keberhasilannya.

Semua orang memujinya.

Semua orang menganggap Nadia adalah pengacara terbaik yang dimiliki firma.

Dan semakin tinggi Nadia dipuji, semakin sering Adrian mendengar namanya dibandingkan dengan istrinya.

Perbandingan yang awalnya bisa ia abaikan.

Namun lama-kelamaan mulai melukai harga dirinya.

Bianca memperhatikan pria di hadapannya dalam diam.

Sebagai senior yang sudah cukup lama mengenal Adrian, ia tahu betul perubahan yang terjadi pada pria itu dalam beberapa bulan terakhir.

Dan terlihat memikul beban yang tidak pernah benar-benar ia ceritakan kepada siapa pun.

"Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri," ucap Bianca akhirnya.

Adrian tersenyum hambar.

"Mungkin."

"Tidak semua orang harus menjadi yang paling hebat."

Kali ini Adrian tertawa pelan.

Namun tawa itu terdengar lebih seperti kelelahan daripada kebahagiaan.

Sayangnya, Bianca adalah satu-satunya orang yang menyadari hal itu.

Satu-satunya orang yang mendengarkan tanpa menghakimi.

Satu-satunya orang yang membuat Adrian merasa dirinya tidak sedang dibanding-bandingkan dengan siapa pun.

Percakapan mereka berlanjut pada berbagai hal.

Tentang hal-hal sederhana yang sudah lama tidak Adrian bicarakan dengan Nadia.

Selalu terlihat mampu mengatasi semuanya sendiri.

Hingga tanpa sadar Adrian berhenti menceritakan apa yang ia rasakan.

Dan kini, kekosongan yang seharusnya ia bicarakan kepada istrinya perlahan justru ia bagikan kepada wanita lain.

Sebuah batas yang awalnya tampak tidak berbahaya.

Namun perlahan membawa mereka ke arah yang tidak seharusnya.

Sementara itu, di apartemen mereka, Nadia masih menunggu.

Tanpa mengetahui bahwa malam ini suaminya sedang duduk berdua dengan wanita lain, berbagi cerita yang seharusnya menjadi miliknya sebagai seorang istri.

Adrian tidak mengetahui satu hal.

Wanita yang duduk di hadapannya malam itu ternyata bukan orang asing dalam kehidupan Nadia.

Bianca Pradana pernah menjadi teman satu sekolah Nadia saat SMA.

Mereka berada dalam angkatan yang sama, bahkan beberapa kali berada di kelas yang sama. Namun hubungan mereka tidak pernah bisa disebut dekat.

Saat itu Nadia dikenal sebagai siswi pendiam yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada berkumpul bersama teman-temannya.

Aktif dalam berbagai organisasi sekolah.

Dan selalu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada.

Meski saling mengenal, mereka tidak pernah benar-benar berteman.

Hanya sebatas menyapa jika bertemu di koridor sekolah atau sesekali bekerja sama dalam tugas kelompok.

Setelah lulus SMA, kehidupan membawa mereka ke jalan yang berbeda.

Nadia mengejar mimpinya melalui beasiswa dan perjuangan panjang.

Sedangkan Bianca melanjutkan pendidikan hukum di luar negeri sebelum membangun kariernya di berbagai firma besar.

Bertahun-tahun berlalu tanpa kontak.

Sampai akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali.

Enam bulan yang lalu, kedatangan Bianca di firma hukum tempat Nadia bekerja sempat menjadi pembicaraan hangat.

Rekam jejak wanita itu cukup mengesankan.

Pengalamannya menangani berbagai kasus korporasi membuat manajemen firma langsung menempatkannya pada posisi strategis meski baru bergabung.

Hari pertama Bianca datang ke kantor, Nadia hampir tidak mengenalinya.

Wanita yang dulu ia lihat mengenakan seragam abu-abu putih kini berdiri dengan setelan formal mahal dan aura profesional yang kuat.

Namun Bianca langsung mengenalinya.

"Nadia?"

Saat itu Nadia menoleh dari tumpukan berkas di mejanya.

Untuk beberapa detik keduanya saling menatap sebelum akhirnya senyum tipis muncul di wajah Bianca.

"Kita satu SMA dulu."

Mereka sesekali berbicara saat makan siang kantor atau ketika terlibat dalam proyek yang sama.

Bianca bahkan beberapa kali memuji kemampuan Nadia secara terbuka di depan rekan kerja lain.

Hal yang membuat Nadia cukup menghargainya.

Karena berbeda dengan sebagian orang yang merasa terancam oleh pencapaiannya, Bianca justru terlihat profesional dan objektif.

Setidaknya itulah yang Nadia pikirkan.

Sementara itu, dalam enam bulan terakhir, Bianca dan Adrian justru semakin sering bertemu karena menangani beberapa klien besar yang sama.

Namun kedekatan sering kali tumbuh dari hal-hal sederhana yang tampak tidak berbahaya.

Percakapan setelah jam kerja.

Makan malam setelah rapat yang berakhir larut.

Saling bertukar cerita tentang tekanan pekerjaan.

Hingga tanpa disadari, mereka mulai mengenal sisi pribadi satu sama lain.

Sisi yang tidak terlihat di kantor.

Dan malam ini, di restoran yang diterangi cahaya lampu keemasan, Bianca memperhatikan Adrian yang tampak jauh lebih lelah daripada biasanya.

Tatapan wanita itu sedikit melembut.

Sementara Adrian, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, merasa ada seseorang yang benar-benar mendengarkan apa yang selama ini ia simpan sendirian.

Sebuah kenyamanan yang perlahan tumbuh.

Diam-diam.

Tanpa mereka sadari.

Dan tanpa diketahui Nadia sama sekali.

Bianca menatap Adrian dalam diam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas pelan. Sorot matanya yang biasanya tegas kini terlihat lebih lembut, seolah ada sesuatu yang sedang ia tahan di balik sikap profesionalnya.

“Aku masih ingat kejadian bulan lalu,” ucap Bianca pelan, suaranya tidak setinggi biasanya. “Tentang Nadia…”

Nama itu membuat Adrian sedikit menegang. Tangannya yang semula memegang gelas perlahan berhenti bergerak.

Malam itu, ingatan tentang rumah sakit kembali muncul begitu saja di kepalanya. Ruang putih yang dingin. Aroma obat yang menusuk. Dan Nadia yang terduduk lemah dengan mata sembab, menahan sesuatu yang bahkan tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Keguguran itu terjadi begitu cepat.

Terlalu cepat.

Sebelum mereka benar-benar sempat mempersiapkan diri menjadi orang tua.

Bianca menundukkan pandangannya sebentar, seperti ikut merasakan beratnya momen itu. “Kalian pasti sangat terpukul.”

Adrian mengalihkan tatapannya ke arah jendela restoran. Di luar, hujan mulai turun perlahan, membasahi kaca dengan pola yang tak beraturan.

“Dia… terlihat kuat,” jawab Adrian akhirnya, suaranya rendah. “Tapi aku tahu dia sebenarnya tidak baik-baik saja.”

Bianca mengangguk pelan. “Nadia memang selalu seperti itu sejak SMA. Terlihat kuat, tapi terlalu sering memendam semuanya sendiri.”

Ada jeda singkat yang terasa berat di antara mereka.

Adrian mengusap wajahnya perlahan, seperti mencoba menyingkirkan beban yang terus menempel di pikirannya. “Aku bahkan nggak tahu harus bersikap bagaimana setelah itu. Dia cepat sekali kembali bekerja… seolah tidak terjadi apa-apa.”

Bianca menatapnya dengan tenang. “Setiap orang punya cara sendiri untuk bertahan.”

Suara Bianca terdengar lembut, hampir seperti bentuk pengertian yang tidak menghakimi.

“Dan kamu juga tidak bisa terus menyalahkan dirimu sendiri.”

Adrian tersenyum kecil, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. “Aku hanya merasa… aku gagal jadi suami yang benar di saat dia paling butuh aku.”

Bianca terdiam. Tatapannya kali ini berubah lebih dalam, bukan hanya sebagai rekan kerja, tetapi sebagai seseorang yang memahami beban yang sedang dipikul Adrian.

“Kadang orang yang paling terlihat kuat justru yang paling sering merasa sendirian,” ucapnya pelan. “Termasuk kamu, Adrian.”

Kata-kata itu menggantung di udara, menekan sesuatu yang sudah lama tidak pernah benar-benar diucapkan di hati Adrian.

Sementara itu, di tempat lain yang jauh lebih sunyi, Nadia masih belum tahu bahwa luka yang sama sebenarnya pernah mereka tanggung bersama.

Dan bahwa diam-diam, luka itu belum benar-benar sembuh sepenuhnya.

Episodes
1 Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan
2 bab 2 Sikap Adrian Aneh
3 bab 3 teman lama nadia
4 Bab 4 bianca yang mulai suka adrian
5 Bab 5 menjelang 5 tahun anniversary pernikahan
6 Bab 6 rumor mulai muncul
7 Bab 7 kecurigaan nadia
8 Bab 8 keterlibatan mertua
9 bab 9 siapa selingkuhan suaminya
10 bab 10 semakin jelas
11 bab 11 pesan manis
12 bab 12 setega itu
13 bab 13 pengakuan adrian
14 bab 14 pengakuan bianca
15 bab 15 pengakuan semakin jelas
16 bab 16 kehamilan nadia
17 bab 17 penyesalan
18 bab 18 perasaan buruk
19 bab 19 kasus terakhir nadia
20 bab 20 terungkap
21 bab 21 luka yang belum selesai
22 bab 22 warisan
23 bab 23 ketegaran nadia
24 bab 24 perasaan vano
25 bab 25 teganya adrian
26 bab 26 penyesalan
27 bab 27 semakin murka
28 bab 28 suram
29 bab 29 aneh
30 bab 30 aneh
31 bab 31 kehangatan adik dan kakak
32 bab 32 penuh keraguan
33 bab 33 kemarahan anna
34 bab 34 masalah lain
35 bab 35 stempel mendiang ayah mertua
36 bab 36 pemilik liontin B
37 bab 37 bayang-bayang nadia
38 bab 38 pilihan yang sulit
39 bab 39 penyesalan
40 bab 40 pengakuan adrian
41 bab 41 kecelakaan
42 bab 42 air mata
43 bab 43 penyebab sebenarnya
44 bab 44 keputusan nadia
45 bab 45 kecewanya adrian
46 bab 46 saat duka jadi amarah
47 bab 47 kematian yang menjadi awal
48 bab 48 penculikan nadia
49 bab 49 kembalinya nadia
50 bab 50 karma
51 bab 51 hari terakhir dan harapan baru
52 bab 52 suasana baru
53 bab 53 awal mula
54 bab 54 dibalik keputusan revano
55 bab 55 demam yang mengusik harapan
56 bab 56 mimpi yang tak boleh berenti
57 bab 57 nada pertama
58 bab 58 ambisi dan keadilan
59 bab 59 Pertemuan yang Terlewat
60 bab 60 diantara ambisi dan mimpi
61 bab 61 saat harapan diuji
62 bab 62 Haruskah Aku Mengatakannya?
63 bab 63 harapan diatas panggung
64 Draft 64 es krim sebagai permintaan maaf
65 bab 65 keinginan yang tak terucap
66 bab 66 Di Antara Mimpi dan Perasaan
67 bab 67 2 panggung 2 perasaan
68 bab 68 2 perhatian 2 hati
69 bab 69 kasih sayang tak mengenal darah
70 bab 70 darah yang sama
71 bab 71 harapan yang mustahil
72 bab 72 Keputusasaan Seorang Ayah
73 bab 73 saat kebahagiaan terhenti
74 bab 74 Perasaan yang Mulai Tumbuh
75 bab 75 rahasia yang menghancurkan
76 bab 76 cemburu dan prasangka
77 bab 78 Kebenaran yang Tak Pernah Diceritakan
78 bab 79 luka yang tak pernah sembuh
79 bab 80 luka yang belum sembuh
80 bab 81 cinta berbeda cara
81 bab 82 senyum dibalik rasa rindu
82 bab 83 retaknya kepercayaan
83 bab 84 Siapa Perusak Rumah Tangga Itu?
84 bab 85 saat amarah menjadi diam
85 bab 86 korban dari pertengkaran
86 bab 87 petunjuk baru tentang masa lalu
87 bab 88 gosip yang beredar
88 bab 89 senyum diatas penderitaan
89 bab 90 ibu yang menanggung segalanya
90 bab 91 Rahasia yang Terkubur Bertahun-Tahun
91 bab 92 tubuh yang mulai menyerah
92 bab 93 Ucapan yang Mengguncang Intan
93 bab 94 Ketakutan yang Kembali
94 bab 95 Pertemuan yang Membuka Rahasia
95 bab 96 Di Antara Bella dan Intan
96 bab 97 Sebelum Mimpi Itu Terhenti
97 bab 98 Dosa Masa Lalu Bianca
98 bab 99 Pesan Terakhir Sebelum Panggung
99 bab 100 Satu Panggung, Banyak Perasaan
100 bab 101 senyum ditengah luka
101 bab 102 Kebenaran yang Tak Bisa Disembunyikan
102 bab 103 Luka di Balik Kebencian
103 bab 104 Jangan Tinggalkan Keluarga Kita
104 bab 105 Aku Tahu Siapa Ayahku
105 bab 106 Kesalahan yang Tak Boleh Terulang
106 bab 107 Mereka Akan Tahu Suatu Hari Nanti
107 bab 108 ketakutan yang kembali
108 bab 109 anak yang meninggalkan ibunya
109 bab 110 bukti dari masa lalu
110 bab 111 Aku Akan Menunggumu, Tan
111 bab 112 Saat Penyesalan Datang
112 bab 113 Dua Anak, Dua Luka
113 bab 114 penyesalan
114 bab 115 Ayah yang Tak Rela Ditinggalkan
115 bab 116 Pulang dengan Senyuman
116 bab 117 ending
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan
2
bab 2 Sikap Adrian Aneh
3
bab 3 teman lama nadia
4
Bab 4 bianca yang mulai suka adrian
5
Bab 5 menjelang 5 tahun anniversary pernikahan
6
Bab 6 rumor mulai muncul
7
Bab 7 kecurigaan nadia
8
Bab 8 keterlibatan mertua
9
bab 9 siapa selingkuhan suaminya
10
bab 10 semakin jelas
11
bab 11 pesan manis
12
bab 12 setega itu
13
bab 13 pengakuan adrian
14
bab 14 pengakuan bianca
15
bab 15 pengakuan semakin jelas
16
bab 16 kehamilan nadia
17
bab 17 penyesalan
18
bab 18 perasaan buruk
19
bab 19 kasus terakhir nadia
20
bab 20 terungkap
21
bab 21 luka yang belum selesai
22
bab 22 warisan
23
bab 23 ketegaran nadia
24
bab 24 perasaan vano
25
bab 25 teganya adrian
26
bab 26 penyesalan
27
bab 27 semakin murka
28
bab 28 suram
29
bab 29 aneh
30
bab 30 aneh
31
bab 31 kehangatan adik dan kakak
32
bab 32 penuh keraguan
33
bab 33 kemarahan anna
34
bab 34 masalah lain
35
bab 35 stempel mendiang ayah mertua
36
bab 36 pemilik liontin B
37
bab 37 bayang-bayang nadia
38
bab 38 pilihan yang sulit
39
bab 39 penyesalan
40
bab 40 pengakuan adrian
41
bab 41 kecelakaan
42
bab 42 air mata
43
bab 43 penyebab sebenarnya
44
bab 44 keputusan nadia
45
bab 45 kecewanya adrian
46
bab 46 saat duka jadi amarah
47
bab 47 kematian yang menjadi awal
48
bab 48 penculikan nadia
49
bab 49 kembalinya nadia
50
bab 50 karma
51
bab 51 hari terakhir dan harapan baru
52
bab 52 suasana baru
53
bab 53 awal mula
54
bab 54 dibalik keputusan revano
55
bab 55 demam yang mengusik harapan
56
bab 56 mimpi yang tak boleh berenti
57
bab 57 nada pertama
58
bab 58 ambisi dan keadilan
59
bab 59 Pertemuan yang Terlewat
60
bab 60 diantara ambisi dan mimpi
61
bab 61 saat harapan diuji
62
bab 62 Haruskah Aku Mengatakannya?
63
bab 63 harapan diatas panggung
64
Draft 64 es krim sebagai permintaan maaf
65
bab 65 keinginan yang tak terucap
66
bab 66 Di Antara Mimpi dan Perasaan
67
bab 67 2 panggung 2 perasaan
68
bab 68 2 perhatian 2 hati
69
bab 69 kasih sayang tak mengenal darah
70
bab 70 darah yang sama
71
bab 71 harapan yang mustahil
72
bab 72 Keputusasaan Seorang Ayah
73
bab 73 saat kebahagiaan terhenti
74
bab 74 Perasaan yang Mulai Tumbuh
75
bab 75 rahasia yang menghancurkan
76
bab 76 cemburu dan prasangka
77
bab 78 Kebenaran yang Tak Pernah Diceritakan
78
bab 79 luka yang tak pernah sembuh
79
bab 80 luka yang belum sembuh
80
bab 81 cinta berbeda cara
81
bab 82 senyum dibalik rasa rindu
82
bab 83 retaknya kepercayaan
83
bab 84 Siapa Perusak Rumah Tangga Itu?
84
bab 85 saat amarah menjadi diam
85
bab 86 korban dari pertengkaran
86
bab 87 petunjuk baru tentang masa lalu
87
bab 88 gosip yang beredar
88
bab 89 senyum diatas penderitaan
89
bab 90 ibu yang menanggung segalanya
90
bab 91 Rahasia yang Terkubur Bertahun-Tahun
91
bab 92 tubuh yang mulai menyerah
92
bab 93 Ucapan yang Mengguncang Intan
93
bab 94 Ketakutan yang Kembali
94
bab 95 Pertemuan yang Membuka Rahasia
95
bab 96 Di Antara Bella dan Intan
96
bab 97 Sebelum Mimpi Itu Terhenti
97
bab 98 Dosa Masa Lalu Bianca
98
bab 99 Pesan Terakhir Sebelum Panggung
99
bab 100 Satu Panggung, Banyak Perasaan
100
bab 101 senyum ditengah luka
101
bab 102 Kebenaran yang Tak Bisa Disembunyikan
102
bab 103 Luka di Balik Kebencian
103
bab 104 Jangan Tinggalkan Keluarga Kita
104
bab 105 Aku Tahu Siapa Ayahku
105
bab 106 Kesalahan yang Tak Boleh Terulang
106
bab 107 Mereka Akan Tahu Suatu Hari Nanti
107
bab 108 ketakutan yang kembali
108
bab 109 anak yang meninggalkan ibunya
109
bab 110 bukti dari masa lalu
110
bab 111 Aku Akan Menunggumu, Tan
111
bab 112 Saat Penyesalan Datang
112
bab 113 Dua Anak, Dua Luka
113
bab 114 penyesalan
114
bab 115 Ayah yang Tak Rela Ditinggalkan
115
bab 116 Pulang dengan Senyuman
116
bab 117 ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!