Makhluk Kecil di Dalam Rahimnya

Malam pun tiba saat sebuah mobil berhenti di depan rumah kecil yang letaknya tidak terlalu jauh dari kota besar. Arlan keluar dengan wajah tegap. Selama tiga tahun ini akhirnya ia bisa menemui seseorang yang dulu sempat ditunda.

Pria itu mengetuk pintu tiga kali, dan beberapa saat kemudian, seorang perempuan cantik yang nampak sederhana keluar dari balik pintu.

"Akhirnya kamu datang Mas," ucapnya dengan suara yang dibuat lembut.

"Aku pasti tepati janjiku Amara," sahut pria itu.

Seketika perempuan itu memeluk tubuh Arlan begitu saja, rasanya sudah sangat lama ia tidak menghirup aroma maskulin pria dihadapannya itu.

"Akhirnya aku bisa merasakan lagi harum tubuhmu Lan, dan rasanya ini seperti mimpi," tuturnya penuh ketidak percayaan.

Namun beberapa detik kemudian perempuan itu merasakan keanehan, karena sedari tadi Arlan hanya diam dan tidak memberikan tanggapan apapun.

"Lan," panggilnya pelan.

Arlan masih terlalu fokus dengan pikirannya sendiri hingga Amara mulai menarik paksa dari dekapan pria itu.

Seketika Arlan tersentak, ia baru sadar jika gadis dihadapannya itu sedang merajuk. "M-maaf Mara," ucapnya akhirnya.

"Dari tadi kamu dengar gak apa yang aku bilang?" tanyanya, dengan raut sedih di wajahnya.

Arlan pun mendekat, tangannya terulur menyentuh pipi perempuan itu. "Maaf ya, pikiranku masih kacau. Kamu tahu sendiri kan tadi pagi Nenek pergi untuk selamanya, jadi fokusku masih terpecah," ujarnya. Entah yang diucap Arlan itu benar tentang neneknya atau ada hal yang lain.

Amara hanya terdiam, namun diamnya gadis itu seakan menelisik setiap inci garis wajah Arlan. "Yakin kamu hanya memikirkan kepergian Nenek?

Arlan seketika membeku. "I-iya aku memang sedang memikirkan Nenek, dan kamu tahu kan gimana dekatnya aku dengan beliau," ucapnya meyakinkan.

"Baiklah kali ini aku percaya," sahutnya cepat.

"Mara, apa kamu meragukan aku?" tanyanya.

Amara hanya terdiam gadis itu seola berpikir dan entah kenapa ketakutan yang selama ini ia hindari justru sekarang mulai tumbuh kembali.

"Aku hanya tidak mau saja, kamu jatuh hati pada wanita itu. Dan melupakan aku yang sudah menunggumu bertahun-tahun," ungkapnya.

Arlan segera meraih tangannya. "Tidak akan, bahkan sampai detik ini di hatiku hanya ada namamu Amara," jelas Arlan. Namun entah kenapa ia seperti membohongi diri sendiri.

"Baiklah, memang sejak awal harusnya seperti itu. Dan aku tidak ingin ada wanita lain lagi yang ingin menghambat hubungan kita."

"Gak akan aku biarkan semua itu terjadi. Mulai detik ini. Kau dan aku tidak akan terpisahkan," ucap Arlan.

"Janji," sahut Amara.

"Iya aku berjanji," kata Arlan lalu mendaratkan ciumannya ke kening perempuan itu.

Seketika senyum lembut terukir dari bibir Amara, Arlan pun merasa tenang. Akhirnya gadis itu tidak curiga. Akan tetapi meskipun saat ini hati Arlan masih memikirkan Alya yang pergi entah kemana. Namun dari dasar hatinya, rasa cintanya masih besar untuk Amara.

Bahkan sesekali pria itu sempat merasa aneh dengan sikap sang nenek yang selalu menentang hubungannya. Padahal gadis dihadapannya itu sangat baik di matanya.

Amara merupakan anak salah satu pejabat terkemuka di rumah kota ini, dan ia pun memilih hidup sederhana tidak seperti gadis biasanya, tapi kenapa Nenek Ratih justru tidak merestui pilihannya itu.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malam semakin larut, di kamar kost yang sempit itu Alya membaringkan tubuhnya diatas kasur spon tipis. Ia menatap langit-langit kamar yang catnya sudah kusam sama hal nya dengan hatinya saat ini.

Meskipun ia sudah berulang kali meyakinkan hatinya jika ia bisa melewati semua ini. Namun hati kecilnya tidak bisa berbohong jika luka yang ia alami tidak akan sembuh dalam waktu sekejap dan semuanya butuh proses.

Alya tiba-tiba memijat pelipisnya entah kenapa sejak sore tadi ia merasa pusing namun ia masih kuat untuk menahan. Tapi kali ini pusing itu datang kembali dan Alya benar-benar tidak bisa menahannya meskipun ia buat berbaring sekalipun.

"Biasanya dibuat tidur pusingnya akan hilang," gumamnya sambil menambahkan kembali bantalnya agar pusing yang ada di kepalanya sedikit teratasi.

Namun bukannya menghilang justru rasa pusing itu kembali mengetuk kepalanya tanpa ampun. Kepala Alya terasa dipukul dengan beban berat.

Karena tidak kuat akhirnya dia memutuskan keluar untuk membeli obat di apotek terdekat, namun belum jauh saat beberapa langkah meninggalkan kos, pandangannya justru semakin gelap, kepalanya terasa berputar, napasnya memburu.

"Tidak... jangan sekarang," gumamnya lirih.

Alya berusaha untuk berpegangan pada tiang, hari ini ia sudah cukup kehilangan banyak hal. Tapi tidak dengan tubuhnya. Alya tidak ingin tubuhnya ikut runtuh juga.

Namun sayang tubuhnya tidak mau diajak bekerja sama, langkahnya mulai goyah dan kaki palsunya kehilangan keseimbangan hingga bruk ...

Tubuh Alya perlahan jatuh ke tanah. Dan bunyi benda jatuh itu memancing beberapa penghuni kost.

"Mbak Alya."

Emilia yang kebetulan baru keluar dari rumah utama langsung menghampiri.

"Ya Allah Mbak kenapa?"

"Dia pingsan," ucap yang lainnya.

Alya yang berusaha untuk membuka mata langsung bersuara. "Gak apa-apa cuma pusing biasa."

"Pusing Mbak bilang, lihat saja wajah Mbak sudah putih gitu," sahut Emilia.

Gadis itu langsung memanggil beberapa orang untuk mengangkat tubuh Alya dan tanpa meminta persetujuan pemilik tubuh Emilia langsung membawanya ke klinik terdekat.

"Kita ke klinik ya Mbak," ucapnya setelah sampai ke mobil.

Alya masih mendengar namun entah kenapa untuk menolak ajakan itu lidahnya terasa keluh.

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, hingga dalam waktu beberapa menit saja Emilia sudah sampai di depan klinik Bidan setempat.

Beberapa perawat keluar saat Emilia berteriak ada pasien darurat, dan tidak lama kemudian dua perawat itu mendorong tubuh Alya diatas brankar.

Beberapa menit kemudian Alya sudah di dalam ruang pemeriksaan. Emilia yang berada di samping ranjang sedari tadi menunggu dengan perasaan cemas.

Sementara itu bidan yang memeriksa Alya terlihat beberapa kali mengernyit saat melihat hasil pemeriksaan awal.

"Bu Bidan gimana. Apa yang dialami Mbak Alya?" tanyanya tidak sabar.

"Bentar dulu saya masih harus memastikan sesuatu," sahut dokter itu.

Lalu bidan itu menatap wajah Alya dan mengajukan beberapa pertanyaan.

"Mbak kapan terakhir haid?"

Alya yang masih memejamkan matanya mencoba untuk mengingat semuanya. Tapi karena banyaknya kejadian yang datang dalam hidup. Pikiran wanita itu seolah ngebleng.

"Mbak masih ingat?" tanya bidan itu memastikan.

Alya menggeleng pelan. Tanpa bertanya kembali bidan itu seolah mengerti kondisi pasiennya.

"Baiklah kalau memang tidak bisa menjawab, tapi akhir-akhir ini apa Mbak mengalami mual?"

Alya hanya mengangguk saja. Kemudian bidan itu mulai menaruh berkas hasil pemeriksaannya diatas meja.

"Untuk kali ini saya belum bisa memastikan sebelum ada pemeriksaan lanjut," ujar Bidan itu.

Alya mengernyit Emilia pun juga ikut bingung.

"Maksudnya apa Bu?" tanya Emilia penasaran.

"Ada kemungkinan besar Mbaknya ini sedang mengandung."

Deg!

Terasa bagai di sambar petir. Tubuh Alya membeku diatas ranjang pemeriksaan. Bagaimana jika dugaan bidan itu benar. Perlahan ia mengelus perutnya yang masih rata.

Padahal baru tadi pagi ia kehilangan neneknya dan baru tadi pagi ia ditalak suaminya, tapi kenapa di saat dirinya merasa kesepian Tuhan justru mengirimkan kehidupan lain dari dalam rahimnya.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Nar Sih

Nar Sih

kasihan alya klau hamil stlh di talak suami nya ,moga alya tabah dan sabar

2026-06-20

2

lihat semua
Episodes
1 Talak Setelah Duka
2 Perempuan Yang Tak Dipilih
3 Buku diary yang tertinggal di kamar
4 Makhluk Kecil di Dalam Rahimnya
5 Janin Yang Ku Pertahankan
6 Demi Obat Anakku
7 Mulai Ada Jalan
8 Di Terima Bekerja.
9 Sempat Ragu
10 Pertanyaan Yang Mengusik Masalalu
11 Pria Itu Lagi
12 Nama Yang Membuat Emil Membeku
13 Kenapa Selalu Dia Yang Menolongku
14 Tiga Porsi Sate Kambing.
15 Sepatu Baru Untuk Alya
16 Ketakutan Alya.
17 Alya mengalami keram.
18 Rumah Untuk Alya
19 Firasat Dewa
20 Pencarian Alya.
21 Rahasia Yang Terbongkar
22 Pencarian Yang Gagal
23 Rencana Arlan
24 Sebelum Terlambat
25 Janji Di Tengah Ancaman
26 Adegan Menggemaskan Di Sore Hari.
27 Hitung Mundur Pemberangkatan
28 Hampir Saja
29 Negara Baru
30 Pagi Pertama di Singapura
31 Persiapan Kejutan
32 Perasaan Asing Di hati Alya
33 Hari Yang Mulai membaik
34 Bunga Yang Membawa Cinta
35 Pernyataan Cinta Dewa
36 Kesabaran Dewa.
37 Menunggu Hari Perkiraan Lahir
38 Sapaan Pertama Untuk Senja
39 Tangis Pertama Senja. Awal Cinta Mereka
40 Pencarian itu Belum Berakhir
41 Kejutan Untuk Dua Perempuan Istimewa
42 Kecurigaan Amara
43 Sebuah Kejutan Yang Tak Terduga
44 Tempat Pulang Bernama Dewa
45 Mengurus surat-surat
46 Arlan sudah mengantongi Alamat Perusahaan Dewa
47 Menjelang Hari Akad
48 Akad Penuh Haru
49 Kecanggungan Alya
50 Hadiah Tak Ternilai...
51 Jejak Yang Akhirnya ditemukan.
52 Diujung Pencarian
53 Hak Yang Telah Hilang ...
54 Delapan Tahun Kemudian
55 Ketegangan Di Senja Florist
56 Perhatian Kecil Pak Suami
57 Langkah Baru Menuju Mimpi
58 Kehangatan Rumah Kecil Alya Dan Penyesalan Arlan
59 Langkah menuju kesuksesan
60 Presentasi Mengubah Takdir
61 Satu Jawaban Penentu
62 Pulang Dengan Hati Yang lega
63 Kesempatan Yang Menentukan
64 Perjuangan Semalam Suntuk
65 Keindahan Yang Menarik Perhatian
66 Bertemu Anak kecil
67 Tatapan Yang Tak Pernah Terkupakan
68 Pertemuan Yang Masih Tertunda
69 Berhasil di kontrak
70 Harapan yang Tak Pernah Padam
71 Jejak Yang Ditemukan
72 Gadis Kecil Itu
73 Identitas Senja
74 Tugas Dari Sekolah
75 Menulis Tentang Papa
76 Tulisan Yang Dipilih
77 Jejak Yang Kian Mendekat
78 Persimpangan Takdir
79 Senja Yang Penuh Kebahagiaan
80 Tulisan Senja
81 Sepulang Dari Family Day
82 Mengantar Alya Ke Rumah Sakit.
83 positif Hamil
84 Hadiah Untuk Senja
85 Kebahagiaan Senja
86 Kedatangan Arlan
87 Pengakuan Diri
88 Ketenangan Keluarga kecil Dewa
89 Kepulangan Arlan
90 Beberapa Bulan Kemudian
91 Kelahiran Baby Rayan
92 Akhir Sebuah Kisah
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Talak Setelah Duka
2
Perempuan Yang Tak Dipilih
3
Buku diary yang tertinggal di kamar
4
Makhluk Kecil di Dalam Rahimnya
5
Janin Yang Ku Pertahankan
6
Demi Obat Anakku
7
Mulai Ada Jalan
8
Di Terima Bekerja.
9
Sempat Ragu
10
Pertanyaan Yang Mengusik Masalalu
11
Pria Itu Lagi
12
Nama Yang Membuat Emil Membeku
13
Kenapa Selalu Dia Yang Menolongku
14
Tiga Porsi Sate Kambing.
15
Sepatu Baru Untuk Alya
16
Ketakutan Alya.
17
Alya mengalami keram.
18
Rumah Untuk Alya
19
Firasat Dewa
20
Pencarian Alya.
21
Rahasia Yang Terbongkar
22
Pencarian Yang Gagal
23
Rencana Arlan
24
Sebelum Terlambat
25
Janji Di Tengah Ancaman
26
Adegan Menggemaskan Di Sore Hari.
27
Hitung Mundur Pemberangkatan
28
Hampir Saja
29
Negara Baru
30
Pagi Pertama di Singapura
31
Persiapan Kejutan
32
Perasaan Asing Di hati Alya
33
Hari Yang Mulai membaik
34
Bunga Yang Membawa Cinta
35
Pernyataan Cinta Dewa
36
Kesabaran Dewa.
37
Menunggu Hari Perkiraan Lahir
38
Sapaan Pertama Untuk Senja
39
Tangis Pertama Senja. Awal Cinta Mereka
40
Pencarian itu Belum Berakhir
41
Kejutan Untuk Dua Perempuan Istimewa
42
Kecurigaan Amara
43
Sebuah Kejutan Yang Tak Terduga
44
Tempat Pulang Bernama Dewa
45
Mengurus surat-surat
46
Arlan sudah mengantongi Alamat Perusahaan Dewa
47
Menjelang Hari Akad
48
Akad Penuh Haru
49
Kecanggungan Alya
50
Hadiah Tak Ternilai...
51
Jejak Yang Akhirnya ditemukan.
52
Diujung Pencarian
53
Hak Yang Telah Hilang ...
54
Delapan Tahun Kemudian
55
Ketegangan Di Senja Florist
56
Perhatian Kecil Pak Suami
57
Langkah Baru Menuju Mimpi
58
Kehangatan Rumah Kecil Alya Dan Penyesalan Arlan
59
Langkah menuju kesuksesan
60
Presentasi Mengubah Takdir
61
Satu Jawaban Penentu
62
Pulang Dengan Hati Yang lega
63
Kesempatan Yang Menentukan
64
Perjuangan Semalam Suntuk
65
Keindahan Yang Menarik Perhatian
66
Bertemu Anak kecil
67
Tatapan Yang Tak Pernah Terkupakan
68
Pertemuan Yang Masih Tertunda
69
Berhasil di kontrak
70
Harapan yang Tak Pernah Padam
71
Jejak Yang Ditemukan
72
Gadis Kecil Itu
73
Identitas Senja
74
Tugas Dari Sekolah
75
Menulis Tentang Papa
76
Tulisan Yang Dipilih
77
Jejak Yang Kian Mendekat
78
Persimpangan Takdir
79
Senja Yang Penuh Kebahagiaan
80
Tulisan Senja
81
Sepulang Dari Family Day
82
Mengantar Alya Ke Rumah Sakit.
83
positif Hamil
84
Hadiah Untuk Senja
85
Kebahagiaan Senja
86
Kedatangan Arlan
87
Pengakuan Diri
88
Ketenangan Keluarga kecil Dewa
89
Kepulangan Arlan
90
Beberapa Bulan Kemudian
91
Kelahiran Baby Rayan
92
Akhir Sebuah Kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!