Janin Yang Ku Pertahankan

Keesokan harinya.

Pagi ini langit mendung sinar matahari tidak menampakkan sinarnya, suasana pagi sangat dingin sekali dan itu membuat Alya malas untuk beranjak dari kasur tipisnya.

  "Dingin sekali," gumamnya lirih.

Setelah pemeriksaan tadi malam, hati Alya belum merasa tenang sebelum ia melakukan pemeriksaan berikutnya. Alya menggigit bibir bawahnya.

Rasanya ia begitu dilema. Andai saja praduga bidan tadi malam benar? Apa dirinya sanggup menghadapi kehamilannya itu sendiri. Sementara janin yang ia kandung mempunyai orang tua lengkap.

  Namun saat dirinya mengingat ucapan mertuanya. "Akhirnya sekarang kamu bebas.

Niat itu ia urungkan seketika. Biar saja ia membawa kehamilannya itu sendiri. Karena sangat sadar jika mantan suami dan keluarganya menolak kehadirannya sejak awal.

  "Tuhan... andai kata Engkau mempercayakan sebuah keturunan pada hamba, maka akan ku perjuangkan makhluk tak bersalah itu apapun kondisiku saat ini," janji Alya.

  Ia pun mulai berdiri dan membuka jendela kamar, di situ terlihat gang kecil dan rumah-rumah warga yang berjajar. Ia melihat beberapa anak sedang bermain bola ada juga sebagian anak perempuan yang sedang melihat permainan itu.

  Seketika senyum terukir di bibirnya mungkin jika anaknya nanti besar akan seperti mereka. Belum lama Alya memandang anak-anak itu dari jendela tiba-tiba saja pintu kostnya diketuk.

  "Mbak Alya sudah bangun," ucap suara dari luar sana.

Alya yang sedari tadi sedang menatap anak-anak itu langsung terkejut. Ia pun langsung menjawab cepat.

  "Aku sudah bangun sejak tadi Mbak," sahut Alya sambil membuka pintunya.

 "Mbak jangan panggil aku Mbak deh,kesannya aku lebih tua," dengus gadis itu.

 Alya tersenyum kecil. "Gak gitu kok, aku manggil kamu Mbak karena menghormati kamu saja sebagai pemilik Kostan," sahut Alya.

  "Jangan dong Mbak, lebih baik panggil aku adik saja sesuai umur," pinta Emilia.

"Baiklah kalau memang begitu aku akan memanggilmu Adik," sahut Alya.

"Nah itu lebih cocok," ucap Emil sambil ngacungin jari jempolnya.

Setelah percakapan singkat itu. Emil pun teringat tujuan dia datang kemari, gadis itu begitu peduli entah kenapa hatinya merasa tersentuh saat mendengar dugaan bidan tadi malam.

"Mbak sekarang kita jadi periksa kan?" tanyanya.

Alya terdiam sejenak, ada perasaan takut jika memang praduga itu benar, lalu bagaimana dengan lingkungan sekitarnya. Pastinya mereka akan mengiranya yang tidak-tidak.

  "Dek," panggilnya pelan.

"Iya Mbak jadi apa enggak?" tanya Emilia memastikan.

 "Kalau memang aku positif hamil," ucapnya terputus. "Apa kamu masih mau terima aku?"

Emil langsung memutar matanya, entah kenapa ia merasa perempuan dihadapannya itu terlalu polos.

"Mbak sekarang sudah tidak jamannya mengucilkan orang hamil," sahut Emil cepat. "Bukannya aku menormalisasikan orang hamil di luar nikah, tapi sebagai manusia aku juga punya empati terhadap mereka yang sudah terlanjur melakukan kesalahan," jelasnya.

Seketika Alya menunduk, ia begitu beruntung mempunyai Ibu kost muda yang begitu pengertian.

"Makasih ya Dek sudah mau ngerti posisi aku," ucap Alya.

"Bukannya sesama manusia harus saling tolong menolong. Ya sudah kalau gitu kita periksa lagi ya," bujuk Emilia.

Suasana hening sejenak hingga pada akhirnya wanita itu mengangguk perlahan.

"Baiklah kalau gitu, ayo kita periksa lagi," ujar Alya.

Seketika wajah Emilia tersenyum sumringah. "Nah gitu dong itu baru benar," ucapnya sambil mengacungkan jari jempolnya.

Beberapa menit kemudian kedua perempuan bega generasi itu sudah sampai di ruang tunggu rumah sakit. Alya menggenggam erat tali tasnya. Ada rasa gugup dan takut dengan hasil USG nanti.

  "Mbak, jangan gugup ya."

Tangan Emilia tiba-tiba mengelus lengannya dengan pelan. Gadis itu seolah tahu dengan apa yang dirasa Alya saat ini.

"Aku sedikit canggung saja," ujarnya.

 "Kalau gitu kita hadapi sama-sama ya," ucap Emilia.

Dan tanpa terasa nomor antrian Alya dipanggil. Kedua perempuan itu mulai beranjak dari tempat duduknya.

Di dalam ruang pemeriksaan. Alya tidur diatas ranjang rumah sakit. Nafasnya terdengar memburu saat tangan dokter mengolesinya dengan gel.

  "Bu jangan tegang ya," tegur dokter itu.

Alya mengangguk lalu mulai mengatur napasnya. Beberapa detik kemudian, wajahnya terlihat sedikit lebih tenang.

Layar monitor di samping ranjang sudah menyala. Dokter perlahan menggerakkan alat USG di atas perut Alya sambil memperhatikan hasil yang muncul di layar.

"Di sini, Bu," ucap dokter sambil menunjuk ke arah monitor.

Alya mengikuti arah telunjuk dokter dengan jantung berdebar tidak karuan. Awalnya ia tidak mengerti apa yang sedang dilihatnya. Namun saat dokter kembali menggerakkan alat itu, tampak sebuah titik kecil di layar.

Dan tak lama kemudian...

Duk... duk... duk... duk...

Suara detak jantung itu terdengar memenuhi ruangan. Seketika tubuh Alya membeku. Matanya membulat menatap layar tanpa berkedip.

"Itu...?" suaranya bergetar.

Dokter tersenyum hangat. "Itu detak jantung bayi Ibu."

Deg!

Air mata yang sejak tadi ia tahan kini jatuh perlahan, Alya menutup mulutnya sendiri seolah tidak percaya. Apa benar di dalam rahimnya tumbuh kehidupan lain. Apa benar Tuhan benar-benar mempercayakan anugerah terindah ini untuk dirinya?

"Dok coba cubit aku?" suruh Alya.

Dokter itu hanya tersenyum. "Tidak usah menyuruhku untuk mencubit. Gigit saja lidahmu sendiri," sahut dokter itu.

Seketika Alya menggigit ujung lidahnya. Dan ya ternyata sakit dan ini benar-benar nyata. "Dok, aku mau jadi seorang Ibu?" tanyanya dengan mata berbinar.

"Iya kamu mau jadi seorang Ibu," jelas dokter itu.

Tapi detik berikutnya senyum di wajah dokter itu pudar perlahan. "Tapi ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."

Alya sedikit panik. "Ada apa?"

"Kandungan Ibu cukup lemah. Dan Ibu harus benar-benar istirahat dan rutin meminum obat penguat kandungan," ucap dokter itu.

"Obat penguat kandungan," ulang Alya. "Apa itu mahal?" tanyanya sedikit ragu.

Dokter itu sedikit memberi senyum. "Ya obat itu sedikit mahal," sahut dokter itu sambil menunjukkan harga obat tersebut.

Seketika tubuh Alya melemah mendengar nominal yang disebut. Namun ketika ia mendengar kembali detak jantung janinnya. Entah kenapa ia seperti mempunyai keberanian baru dari dasar hatinya.

"Baik dok, berapapun biayanya akan saya usahakan asal anakku selamat sampai dia nanti lahir ke dunia," ucapnya penuh tekat meskipun untuk saat ini ia masih belum mempunyai penghasilan apapun.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Nar Sih

Nar Sih

sabar dan semagat alya kmu bisa kok💪

2026-06-21

1

Zecky Lezmana

Zecky Lezmana

Semangat Alya yakin setelah ini badai pasti berlalu

2026-06-26

0

lihat semua
Episodes
1 Talak Setelah Duka
2 Perempuan Yang Tak Dipilih
3 Buku diary yang tertinggal di kamar
4 Makhluk Kecil di Dalam Rahimnya
5 Janin Yang Ku Pertahankan
6 Demi Obat Anakku
7 Mulai Ada Jalan
8 Di Terima Bekerja.
9 Sempat Ragu
10 Pertanyaan Yang Mengusik Masalalu
11 Pria Itu Lagi
12 Nama Yang Membuat Emil Membeku
13 Kenapa Selalu Dia Yang Menolongku
14 Tiga Porsi Sate Kambing.
15 Sepatu Baru Untuk Alya
16 Ketakutan Alya.
17 Alya mengalami keram.
18 Rumah Untuk Alya
19 Firasat Dewa
20 Pencarian Alya.
21 Rahasia Yang Terbongkar
22 Pencarian Yang Gagal
23 Rencana Arlan
24 Sebelum Terlambat
25 Janji Di Tengah Ancaman
26 Adegan Menggemaskan Di Sore Hari.
27 Hitung Mundur Pemberangkatan
28 Hampir Saja
29 Negara Baru
30 Pagi Pertama di Singapura
31 Persiapan Kejutan
32 Perasaan Asing Di hati Alya
33 Hari Yang Mulai membaik
34 Bunga Yang Membawa Cinta
35 Pernyataan Cinta Dewa
36 Kesabaran Dewa.
37 Menunggu Hari Perkiraan Lahir
38 Sapaan Pertama Untuk Senja
39 Tangis Pertama Senja. Awal Cinta Mereka
40 Pencarian itu Belum Berakhir
41 Kejutan Untuk Dua Perempuan Istimewa
42 Kecurigaan Amara
43 Sebuah Kejutan Yang Tak Terduga
44 Tempat Pulang Bernama Dewa
45 Mengurus surat-surat
46 Arlan sudah mengantongi Alamat Perusahaan Dewa
47 Menjelang Hari Akad
48 Akad Penuh Haru
49 Kecanggungan Alya
50 Hadiah Tak Ternilai...
51 Jejak Yang Akhirnya ditemukan.
52 Diujung Pencarian
53 Hak Yang Telah Hilang ...
54 Delapan Tahun Kemudian
55 Ketegangan Di Senja Florist
56 Perhatian Kecil Pak Suami
57 Langkah Baru Menuju Mimpi
58 Kehangatan Rumah Kecil Alya Dan Penyesalan Arlan
59 Langkah menuju kesuksesan
60 Presentasi Mengubah Takdir
61 Satu Jawaban Penentu
62 Pulang Dengan Hati Yang lega
63 Kesempatan Yang Menentukan
64 Perjuangan Semalam Suntuk
65 Keindahan Yang Menarik Perhatian
66 Bertemu Anak kecil
67 Tatapan Yang Tak Pernah Terkupakan
68 Pertemuan Yang Masih Tertunda
69 Berhasil di kontrak
70 Harapan yang Tak Pernah Padam
71 Jejak Yang Ditemukan
72 Gadis Kecil Itu
73 Identitas Senja
74 Tugas Dari Sekolah
75 Menulis Tentang Papa
76 Tulisan Yang Dipilih
77 Jejak Yang Kian Mendekat
78 Persimpangan Takdir
79 Senja Yang Penuh Kebahagiaan
80 Tulisan Senja
81 Sepulang Dari Family Day
82 Mengantar Alya Ke Rumah Sakit.
83 positif Hamil
84 Hadiah Untuk Senja
85 Kebahagiaan Senja
86 Kedatangan Arlan
87 Pengakuan Diri
88 Ketenangan Keluarga kecil Dewa
89 Kepulangan Arlan
90 Beberapa Bulan Kemudian
91 Kelahiran Baby Rayan
92 Akhir Sebuah Kisah
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Talak Setelah Duka
2
Perempuan Yang Tak Dipilih
3
Buku diary yang tertinggal di kamar
4
Makhluk Kecil di Dalam Rahimnya
5
Janin Yang Ku Pertahankan
6
Demi Obat Anakku
7
Mulai Ada Jalan
8
Di Terima Bekerja.
9
Sempat Ragu
10
Pertanyaan Yang Mengusik Masalalu
11
Pria Itu Lagi
12
Nama Yang Membuat Emil Membeku
13
Kenapa Selalu Dia Yang Menolongku
14
Tiga Porsi Sate Kambing.
15
Sepatu Baru Untuk Alya
16
Ketakutan Alya.
17
Alya mengalami keram.
18
Rumah Untuk Alya
19
Firasat Dewa
20
Pencarian Alya.
21
Rahasia Yang Terbongkar
22
Pencarian Yang Gagal
23
Rencana Arlan
24
Sebelum Terlambat
25
Janji Di Tengah Ancaman
26
Adegan Menggemaskan Di Sore Hari.
27
Hitung Mundur Pemberangkatan
28
Hampir Saja
29
Negara Baru
30
Pagi Pertama di Singapura
31
Persiapan Kejutan
32
Perasaan Asing Di hati Alya
33
Hari Yang Mulai membaik
34
Bunga Yang Membawa Cinta
35
Pernyataan Cinta Dewa
36
Kesabaran Dewa.
37
Menunggu Hari Perkiraan Lahir
38
Sapaan Pertama Untuk Senja
39
Tangis Pertama Senja. Awal Cinta Mereka
40
Pencarian itu Belum Berakhir
41
Kejutan Untuk Dua Perempuan Istimewa
42
Kecurigaan Amara
43
Sebuah Kejutan Yang Tak Terduga
44
Tempat Pulang Bernama Dewa
45
Mengurus surat-surat
46
Arlan sudah mengantongi Alamat Perusahaan Dewa
47
Menjelang Hari Akad
48
Akad Penuh Haru
49
Kecanggungan Alya
50
Hadiah Tak Ternilai...
51
Jejak Yang Akhirnya ditemukan.
52
Diujung Pencarian
53
Hak Yang Telah Hilang ...
54
Delapan Tahun Kemudian
55
Ketegangan Di Senja Florist
56
Perhatian Kecil Pak Suami
57
Langkah Baru Menuju Mimpi
58
Kehangatan Rumah Kecil Alya Dan Penyesalan Arlan
59
Langkah menuju kesuksesan
60
Presentasi Mengubah Takdir
61
Satu Jawaban Penentu
62
Pulang Dengan Hati Yang lega
63
Kesempatan Yang Menentukan
64
Perjuangan Semalam Suntuk
65
Keindahan Yang Menarik Perhatian
66
Bertemu Anak kecil
67
Tatapan Yang Tak Pernah Terkupakan
68
Pertemuan Yang Masih Tertunda
69
Berhasil di kontrak
70
Harapan yang Tak Pernah Padam
71
Jejak Yang Ditemukan
72
Gadis Kecil Itu
73
Identitas Senja
74
Tugas Dari Sekolah
75
Menulis Tentang Papa
76
Tulisan Yang Dipilih
77
Jejak Yang Kian Mendekat
78
Persimpangan Takdir
79
Senja Yang Penuh Kebahagiaan
80
Tulisan Senja
81
Sepulang Dari Family Day
82
Mengantar Alya Ke Rumah Sakit.
83
positif Hamil
84
Hadiah Untuk Senja
85
Kebahagiaan Senja
86
Kedatangan Arlan
87
Pengakuan Diri
88
Ketenangan Keluarga kecil Dewa
89
Kepulangan Arlan
90
Beberapa Bulan Kemudian
91
Kelahiran Baby Rayan
92
Akhir Sebuah Kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!