Senja Yang Ku Perjuangkan

Senja Yang Ku Perjuangkan

Talak Setelah Duka

Rumah besar keluarga Abimana dipenuhi pelayat. Hari itu adalah hari pemakaman Nenek Ratih, wanita yang selama ini menjadi satu-satunya orang yang menyayangi Alya.

Tangis para keluarga terdengar jelas, bersahutan dengan suara doa-doa para pelayat yang hadir. Di sini Alya hanya bisa menatap kosong, entah apa yang terjadi setelah kepergian wanita paling disegani di keluarga Abimana tersebut.

  "Nak, sabar ya setiap yang hidup pasti akan mati," ucap seseorang sambil menepuk pelan punggungnya.

  Nek Irma. Wanita paruh baya itu merupakan sahabat dekat Nenek Ratih, dan dia tahu bagaimana hidup Alya di keluarga Abimana ini.

Alya yang melihat kedatangan wanita paruh baya itu. Langsung memeluknya dengan erat. "Makasih banyak Nek, sudah ingetin Alya."

Wanita paruh baya itu memejamkan mata sejenak. "Ikhlaskan apapun yang terjadi kamu tetap pemenangnya, dan Ratih pasti akan bahagia melihat kamu kuat Nak," ujar wanita itu.

Alya sedikit berpikir dengan ucapan Nek Irma, akan tetapi saat dirinya ingin memperjelas, wanita paruh baya itu sudah pergi terlebih dahulu, karena bergantian tempat dengan pelayat yang baru datang.

Sementara Alya sendiri merasa ada yang disembunyikan oleh wanita tersebut, namun dirinya buru-buru menghilangkan perasaan itu dari pikirannya. Ia pun kembali menyalami para pelayat yang hadir di rumahnya.

  Setelah beberapa jam kemudian...

Alya berdiri di samping pusara dengan tongkat penyangga di tangan. Kaki palsunya terasa nyeri sejak pagi, tetapi ia berusaha bertahan meskipun suaminya ada di sampingnya.

Pria itu terkesan cuek seolah hanya dia yang paling berduka atas kepergian neneknya.

 "Sekarang Nenek sudah tidak sakit lagi, Arlan bersaksi jika Nenek orang baik," ucap pria itu dengan mengelus batu nisan yang baru terpasang.

  "Iya Ma. Kami berduka atas kepergian Mama, tapi Tuhan sudah menentukan jalan terbaiknya," ucap Erika. Ibu dari Arlan.

  Setelah prosesi doa selesai semua orang pulang satu persatu meninggalkan tempat peristirahatan Nek Ratih yang terakhir kalinya. Di situ hanya tinggal para keluarga saja.

Dan di tengah tangis keluarga, Alya justru merasa kehilangan yang berbeda. Nenek Ratih bukan hanya nenek mertuanya. Wanita tua itu adalah alasan mengapa ia mampu bertahan selama tiga tahun dalam pernikahan yang dingin.

Bahkan disisa usianya wanita paruh baya itu masih memberi pesan yang menyentuh agar Alya tetap menjadi istri baik, karena suatu saat beliau yakin Arlan pasti akan berubah.

"Nek, makasih atas semua nasihat kehidupan yang selalu Nenek berikan, jujur saja aku sangat kehilangan Nek," gumam Alya sebelum akhirnya meninggalkan pusara Nek Ratih.

Alya berjalan melewati jalan setapak bersama suami dan keluarganya yang lain. Di tengah perjalanan tiba-tiba langkah Alya melambat, tidak bisa menyeimbangi langkah mereka yang cepat.

Tapi diantara mereka seperti tidak menyadari dengan langkahnya yang melambat, entah mereka sengaja atau tidak namun saat Alya sampai di dalam mobil raut wajah mereka muram seperti orang menahan kesal.

  "Kalau jalan cepetan dikit bisa gak, dari tadi semua orang disuruh nungguin kamu," cetus Erika.

  Belum sempat ia membuka pintu ibu mertuanya sudah mengomel tak jelas, semua keluarga yang ikut menumpang di mobil itu hanya terdiam menyaksikan Alya dimarahi dan yang paling membuat dadanya sesak, suaminya juga ikut diam seolah membenarkan semua tudingan itu padanya.

  "Maaf, jika membuat semua menunggu, tapi kali ini kaki ku benar-benar sakit," jelas Alya.

"Hallah alesan saja, biar apa coba kamu bilang begitu, biar kita kasihan. Yang ada hanya buat kita semakin enek dengan dramamu itu," sahut Erika.

  "Terserah Mama mau percaya atau tidak. Akupun tidak memaksa," sahut Alya, lalu menutup pintu mobil cukup keras hingga suasana di dalam mobil itu terasa semakin canggung.

 "Tuh kan istrimu itu Arlan, ada kamu saja sia berani melawan Mama," kata Erika.

 "Aku, tidak akan melawan jika Mama tidak menyudutkan aku dulu," sahut Alya.

"Cukup!" Suara Pria itu terdengar mendominasi membuat suasana di dalam mobil seketika hening.

Erika mendengus kesal. Sementara Alya membuang pandangannya ke arah jendela sambil menekan dadanya yang terasa penuh.

  Beberapa detik berlalu tanpa ada yang bicara hingga pria yang ada di jok kemudian itu bersuara.

  "Aku capek!" lanjut Arlan sambil memijat pelipisnya. "Hari ini hari pemakaman Nenek. Jadi tolong jangan bikin suasana semakin buruk."

 Deg!

Kalimat itu membuat dada Alya semakin sesak, dalam keadaan seperti ini Alya merasa posisinya benar-benar terjepit.

  "Aku yang membuat suasana memburuk," ucap Alya sambil menunjuk wajahnya sendiri."

  "Tolong Alya jangan mulai lagi," sahut Arlan dengan cepat.

Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang seperti menahan kecewa. Sejak kapan membela diri dianggap masalah dan menjelaskan rasa sakit yang ia rasakan dianggap drama.

Mereka memang tidak pernah merasakan apa yang Alya rasakan, tapi mereka juga tidak mempunyai hak menilai Alya sedemikian rupa.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sementara Alya menahan rasa sakit kaki kirinya yang kembali berdenyut nyeri di balik kaki palsu yang dikenakannya. Namun rasa sakit itu kalah jauh dibandingkan luka di hatinya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Mobil berhenti tepat di halaman rumah mereka, Alya membuka pintu mobil, lalu berjalan masuk, tanpa menoleh ke arah siapapun. Perempuan itu main nyelonong saja tanpa pedulikan ucapan sang mertua yang selalu mengintimidasi dirinya.

"Tuh kan kamu lihat sendiri, padahal dia di terima dengan baik di rumah ini, tapi kelakuannya kaya gitu," ucap Erika seolah menyudutkan Alya dihadapan anggota keluarga lainnya.

"Bener banget, kejadian kecil saja sampai dimasukkan ke dalam hati. Memangnya dia siapa minta dimengerti," sahut Tante Lasmini.

Dan di tengah keriuhan para keluarga yang menyudutkan istrinya, tak sedikit pun hati Arya ingin membela ataupun melindungi istrinya. Pria itu memilih berjalan masuk tapi tidak ke dalam kamar. Melainkan ke ruang kerjanya.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Beberapa menit kemudian, Alya yang baru saja memenangkan pikirannya di dalam kamar. Tiba-tiba pintu terketuk, dan disitu terdengar jelas suara asisten rumah tangganya yang sedang menyampaikan pesan.

"Non disuruh Tuan Arlan ke ruang kerjanya," kata suara dari luar kamar.

Alya mengernyit, tumben sekali suaminya itu menyuruh dirinya datang ke ruang kerjanya. Padahal selama tiga tahun ini suaminya itu tidak pernah mengijinkan Alya sama sekali menginjak ruangan itu.

Dengan perasaan yang bimbang Alya melangkah perlahan dan sesampainya di tempat itu. Wajah tanpa ekspresi suaminya terlihat jelas.

Arlan berdiri dibalik sebuah meja, lalu tangannya menyodorkan sebuah map berwarna cokelat.

"Aku sudah menjalankan keinginan Nenek selama tiga tahun ini," ucap Arlan datar.

Kalimat itu membuat jantung Alya berdegup tidak menentu. Dengan tangan gemetar, ia membuka map tersebut. Dalam hitungan detik, seluruh warna di wajahnya lenyap.

Surat talak.

Matanya bergerak cepat membaca setiap lembar yang ada di sana, seolah berharap semuanya hanya kesalahpahaman. Tapi ternyata tidak.

Surat itu asli seolah sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari.

"Selama tiga tahun ini. Aku seperti tidak bebas menentukan jalan hidupku. Dan sekarang aku mohon padamu untuk menerima semua keputusanku tanpa banyak drama."

Alya menatap wajah Arlan dengan seksama, ia merasa seolah menjadi penghambat jalan hidup seseorang yang ada dihadapannya.

"Jadi, pernikahan itu hanya kepura-puraan," ucapnya dengan bibir yang bergetar. "Bahkan kamu berucap dihadapan penghulu dan berjanji pada Tuhanmu, itu semua kamu lakukan karena ketidakberdayaan mu melawan Nenek?"

Arlan hanya terdiam namun tangannya perlahan mengepal seolah membenci dirinya sendiri.

"Ternyata selama tiga tahun ini, aku belajar menjadi istri yang baik, istri yang patuh," ucapnya terputus. "Itu semua tidak ada artinya di hadapan matamu, karena kamu hanya menganggap ku penghambat masa depanmu."

"Alya bukan maksudku sperti itu..."

"Sudah stop!" sahut Alya. "Dan sekarang aku akan pergi tanpa drama seperti yang kamu inginkan," lanjut Alya.

Perempuan itu meninggalkan ruang kerja suaminya dengan perasaan hancur. Hari ini Nenek Ratih meninggal. Satu-satunya orang yang selama tiga tahun terakhir selalu berdiri di sisinya telah pergi untuk selamanya.

Dan kini... bahkan sebelum tanah di atas makam wanita itu benar-benar mengering, surat talak sudah ada di tangannya.

Bersambung ....

Kakak ...

Aku datang lagi dengan karya terbaruku. Minta dukungannya ya dan jangan lupa selalu tinggalkan jejak di kolom komentar

Terpopuler

Comments

Nar Sih

Nar Sih

hadir kakk,awal cerita yg sdh bikin😭

2026-06-19

2

Bundanya Pandu Pharamadina

Bundanya Pandu Pharamadina

ijin lanjut di mari kak Author.

2026-06-30

1

Anisa-tri

Anisa-tri

keenakan baca sampai lupa komen. tambah lagi babnya thor

2026-06-18

1

lihat semua
Episodes
1 Talak Setelah Duka
2 Perempuan Yang Tak Dipilih
3 Buku diary yang tertinggal di kamar
4 Makhluk Kecil di Dalam Rahimnya
5 Janin Yang Ku Pertahankan
6 Demi Obat Anakku
7 Mulai Ada Jalan
8 Di Terima Bekerja.
9 Sempat Ragu
10 Pertanyaan Yang Mengusik Masalalu
11 Pria Itu Lagi
12 Nama Yang Membuat Emil Membeku
13 Kenapa Selalu Dia Yang Menolongku
14 Tiga Porsi Sate Kambing.
15 Sepatu Baru Untuk Alya
16 Ketakutan Alya.
17 Alya mengalami keram.
18 Rumah Untuk Alya
19 Firasat Dewa
20 Pencarian Alya.
21 Rahasia Yang Terbongkar
22 Pencarian Yang Gagal
23 Rencana Arlan
24 Sebelum Terlambat
25 Janji Di Tengah Ancaman
26 Adegan Menggemaskan Di Sore Hari.
27 Hitung Mundur Pemberangkatan
28 Hampir Saja
29 Negara Baru
30 Pagi Pertama di Singapura
31 Persiapan Kejutan
32 Perasaan Asing Di hati Alya
33 Hari Yang Mulai membaik
34 Bunga Yang Membawa Cinta
35 Pernyataan Cinta Dewa
36 Kesabaran Dewa.
37 Menunggu Hari Perkiraan Lahir
38 Sapaan Pertama Untuk Senja
39 Tangis Pertama Senja. Awal Cinta Mereka
40 Pencarian itu Belum Berakhir
41 Kejutan Untuk Dua Perempuan Istimewa
42 Kecurigaan Amara
43 Sebuah Kejutan Yang Tak Terduga
44 Tempat Pulang Bernama Dewa
45 Mengurus surat-surat
46 Arlan sudah mengantongi Alamat Perusahaan Dewa
47 Menjelang Hari Akad
48 Akad Penuh Haru
49 Kecanggungan Alya
50 Hadiah Tak Ternilai...
51 Jejak Yang Akhirnya ditemukan.
52 Diujung Pencarian
53 Hak Yang Telah Hilang ...
54 Delapan Tahun Kemudian
55 Ketegangan Di Senja Florist
56 Perhatian Kecil Pak Suami
57 Langkah Baru Menuju Mimpi
58 Kehangatan Rumah Kecil Alya Dan Penyesalan Arlan
59 Langkah menuju kesuksesan
60 Presentasi Mengubah Takdir
61 Satu Jawaban Penentu
62 Pulang Dengan Hati Yang lega
63 Kesempatan Yang Menentukan
64 Perjuangan Semalam Suntuk
65 Keindahan Yang Menarik Perhatian
66 Bertemu Anak kecil
67 Tatapan Yang Tak Pernah Terkupakan
68 Pertemuan Yang Masih Tertunda
69 Berhasil di kontrak
70 Harapan yang Tak Pernah Padam
71 Jejak Yang Ditemukan
72 Gadis Kecil Itu
73 Identitas Senja
74 Tugas Dari Sekolah
75 Menulis Tentang Papa
76 Tulisan Yang Dipilih
77 Jejak Yang Kian Mendekat
78 Persimpangan Takdir
79 Senja Yang Penuh Kebahagiaan
80 Tulisan Senja
81 Sepulang Dari Family Day
82 Mengantar Alya Ke Rumah Sakit.
83 positif Hamil
84 Hadiah Untuk Senja
85 Kebahagiaan Senja
86 Kedatangan Arlan
87 Pengakuan Diri
88 Ketenangan Keluarga kecil Dewa
89 Kepulangan Arlan
90 Beberapa Bulan Kemudian
91 Kelahiran Baby Rayan
92 Akhir Sebuah Kisah
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Talak Setelah Duka
2
Perempuan Yang Tak Dipilih
3
Buku diary yang tertinggal di kamar
4
Makhluk Kecil di Dalam Rahimnya
5
Janin Yang Ku Pertahankan
6
Demi Obat Anakku
7
Mulai Ada Jalan
8
Di Terima Bekerja.
9
Sempat Ragu
10
Pertanyaan Yang Mengusik Masalalu
11
Pria Itu Lagi
12
Nama Yang Membuat Emil Membeku
13
Kenapa Selalu Dia Yang Menolongku
14
Tiga Porsi Sate Kambing.
15
Sepatu Baru Untuk Alya
16
Ketakutan Alya.
17
Alya mengalami keram.
18
Rumah Untuk Alya
19
Firasat Dewa
20
Pencarian Alya.
21
Rahasia Yang Terbongkar
22
Pencarian Yang Gagal
23
Rencana Arlan
24
Sebelum Terlambat
25
Janji Di Tengah Ancaman
26
Adegan Menggemaskan Di Sore Hari.
27
Hitung Mundur Pemberangkatan
28
Hampir Saja
29
Negara Baru
30
Pagi Pertama di Singapura
31
Persiapan Kejutan
32
Perasaan Asing Di hati Alya
33
Hari Yang Mulai membaik
34
Bunga Yang Membawa Cinta
35
Pernyataan Cinta Dewa
36
Kesabaran Dewa.
37
Menunggu Hari Perkiraan Lahir
38
Sapaan Pertama Untuk Senja
39
Tangis Pertama Senja. Awal Cinta Mereka
40
Pencarian itu Belum Berakhir
41
Kejutan Untuk Dua Perempuan Istimewa
42
Kecurigaan Amara
43
Sebuah Kejutan Yang Tak Terduga
44
Tempat Pulang Bernama Dewa
45
Mengurus surat-surat
46
Arlan sudah mengantongi Alamat Perusahaan Dewa
47
Menjelang Hari Akad
48
Akad Penuh Haru
49
Kecanggungan Alya
50
Hadiah Tak Ternilai...
51
Jejak Yang Akhirnya ditemukan.
52
Diujung Pencarian
53
Hak Yang Telah Hilang ...
54
Delapan Tahun Kemudian
55
Ketegangan Di Senja Florist
56
Perhatian Kecil Pak Suami
57
Langkah Baru Menuju Mimpi
58
Kehangatan Rumah Kecil Alya Dan Penyesalan Arlan
59
Langkah menuju kesuksesan
60
Presentasi Mengubah Takdir
61
Satu Jawaban Penentu
62
Pulang Dengan Hati Yang lega
63
Kesempatan Yang Menentukan
64
Perjuangan Semalam Suntuk
65
Keindahan Yang Menarik Perhatian
66
Bertemu Anak kecil
67
Tatapan Yang Tak Pernah Terkupakan
68
Pertemuan Yang Masih Tertunda
69
Berhasil di kontrak
70
Harapan yang Tak Pernah Padam
71
Jejak Yang Ditemukan
72
Gadis Kecil Itu
73
Identitas Senja
74
Tugas Dari Sekolah
75
Menulis Tentang Papa
76
Tulisan Yang Dipilih
77
Jejak Yang Kian Mendekat
78
Persimpangan Takdir
79
Senja Yang Penuh Kebahagiaan
80
Tulisan Senja
81
Sepulang Dari Family Day
82
Mengantar Alya Ke Rumah Sakit.
83
positif Hamil
84
Hadiah Untuk Senja
85
Kebahagiaan Senja
86
Kedatangan Arlan
87
Pengakuan Diri
88
Ketenangan Keluarga kecil Dewa
89
Kepulangan Arlan
90
Beberapa Bulan Kemudian
91
Kelahiran Baby Rayan
92
Akhir Sebuah Kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!