TPU kampung Badas

Pria dengan pakaian lusuh, rambut sedikit panjang dan perut buncit itu membuka kancing celananya tergesa, ia menghempaskan ikat pinggangnya ke lantai berdebu, menimbulkan dentingan keras yang cukup membuat Alica tersentak,.debu berterbangan, menusuk hidung, Alica terbatuk begitupun pria itu.

"sial." gumam pria itu, ia keluar sebentar lalu kembali ke dalam dengan beberapa kardus di tanganya "kami tenang saja sayang... Aku sudah dapatkan alas agar kamu nyaman." Alica tak menjawab. Sementara senyum pria itu penuh nafsu, tanganya cekatan mengeluarkan kardus itu di lantai, sesekali ia menatap ke Alica uang meringkuk dengan tubuh gemetar.

Pria itu kembali mendekat, sedikit menunduk membuat Alica semakin panik, tubuhnya gemetar. Ia menutup mata sejenak.

Pria itu terkekeh pelan, memainkan lidahnya di mulut lalu sedikit menunduk "Kuta mulai sekarang." ia mengusap tangannya tak sabar

Tepat saat pria itu hendak meraih bahunya, terdengar rintihan dari bibir Alica "tidak..." ia memalingkan wajah, aroma itu membuatnya mual. Sementara kakinya menendang sembarang, mengenai bagian yang paling menyakitkan, pria itu lalu menjauh sambil memegangi miliknya yang berdenyut hebat.

"kuranga ajar!" teriaknya sambil meringis, ada rasa iba yang menyentuh hati Alica saat itu tapi seketika ia tersadar bahwa pria di depannya itu tak seharusnya di kasihani.

Ia menendang sekali lagi, ke tempat yang sama, jauh lebih keras "aw... kamu... Berani sekali kamu!" satu tanganya terangkat menunjuk ke arah Alica yang berusaha kabur.

Alica menoleh sekilas ke belakang lalu Kembali ke arah depan, begitu keluar Susana begitu gelap, hanya suara jangkrik dan katak yang menemani langkahnya, ia menatap ke sana kemari sunyi menyapa, tak ada satupun orang yang bisa ia mintai tolong, tak ada rumah penduduk, hanya rumput liar yang tumbuh di sepanjang jalan setapak.

"aku harus kemana?" gumamnya pelan, ia bahkan tak ingat lagi kemana arah jalan keluar, namun kali ini, Alica hanya mengikuti hati nuraninya, ia terus berlari tanpa menoleh ke belakang, "Tuhan.. lindungi aku!" ucapnya pelan, nafasnya terengah, suara pria itu masih terdengar tajam di belakang sana.

"hey... berani sekali kamu kabur. Kalau kamu tertangkap tak akan ada ampun untukmu."

Kaki Alica menghentak tanah sekuat tenaga. Kerikil tajam menancap di telapak kakinya, tapi ia tak sekalipun menoleh atau melambat. Napasnya memburu, dadanya berdesah kencang, matanya melotot menatap ke depan merasa ada bayangan yang terus mengejar. Ia bahkan mengabaikan jika mungkin di balik semak ada binatang bersisik yang mungkin menyerangnya saat berjalan.

Begitu melihat cahaya di kejauhan Alica mempercepat langkahnya hingga sampai di pinggir jalan, seseorang nampak duduk di atas motor yang terparkir, asap rokok masih menyala di tanganya.

Tanpa pikir panjang Alica berlari langsung naik ke atas motor "mas... tolong aku, ada yang mau menyakiti aku."

Pria itu tak menjawab, sampai Alica menepuk bahunya "mas... denger aku kan. Ayo jalan!" ucap Alica lagi sambil menoleh ke kejauhan takut di kejar lagi, nafasnya memburu, tanganya terus mengusap keringat tipis di keningnya.

"mas... Aku mohon. kalau mas membantu saya kali ini, saya janji akan membuatkan masakan yang enak besok, saya pandai memasak lho."

bukannya peduli, pria itu justru berkata dingin, seolah tak peduli dengan ketakutan wanita di belakangnya "Turun!"

Satu kata singkat itu berhasil membuat mata Alica membola "kamu yakin ingin mengusirku?"

"tidak... Tidak ....aku yakin kamu orang baik. Ayo, mas. Aku mohon!"

"turun aku tak kenal kamu." ucap pria itu lagi membuat Alica terpaksa menurunkan kakinya. Di kejauhan suara pria itu semakin dekat, tanpa menoleh lagi, ia langsung meninggalkan pria itu.

"hey... Kamu. Awas kamu ya."

Alica berlari lebih kencang, menghabiskan sisa tenaganya, kakinya yang sakit dan gatal pun ia abaikan.

"aku tak boleh tertangkap lagi," ringisnya menahan sakit. ia terus melanjutkan langkah, hingga di ujung jalan, tubuhnya mulai kehabisan tenaga, Alica berdiri sedikit menuduk kedua tangannya berpegangan di keduanya lutut, nafasnya terengah.

Di kejauhan terdengar suara motor sport, dengan suara cukup keras mendekat, Alica sudah bersiap berlari lagi namun terhenti saat motor itu berhenti di depannya "Cepat naik!"

Tanpa pikir panjang Alica langsung naik ke atas motor itu, ia menoleh sekilas ke belakang, pria itu nampak berlari mengejarnya "pegangan." ucap pria yang mengenakan motor, pedal gas di tarik keras. Alica memeluknya erat detak jantungnya semakin berpacu, di bawah topi putihnya bibirnya tersinggung ke atas tipis

"heyyy... jangan kabur. kamu pikir bisa pergi dariku!" teriak pria itu cukup keras, suaranya tertelan oleh suara bising mesin motor yang bekerja keras.

Di perempatan jalan Alica menoleh sekitar jalan itu tak asing "belok kiri!" ucapnya dan pria itu langsung membelokkan stang motor nya sesuai arahan wanita di boncengnya.

Jalanan mulai mengecil meski masih jalanan beraspal, lampu jalan sedikit berjauhan hingga sampai di pertigaan, Alica langsung berkata "kanan!"

Ban motor berdecit pelan, pria itu yang hendak berbelok ke kiri langsung membanting stang motornya ke kanan "kalau mau belok kanan, bilang dong!"

Alica tersenyum kikuk, wajahnya memerah "maaf, mas!"

Motor masih melaju cukup kencang, Alica menoleh ke belakang sekilas memastikan tak ada yang mengikuti lalu kembali menghadap depan. sadar sudah terlewat ia kembali berkata mendadak " berhenti!" suaranya cukup keras membuat pria itu terpaksa mengerem motor sportnya cukup kuat "kamu...!" gerutu pria itu namun Alica segera turun, sekali lagi hanya bisa meminta maaf.

Di bawah lampu jalanan yang tamaram. ia melangkah mendekat tapi tak terlalu dekat, sadar dirinya penuh debu "Terimakasih, mas!" ucapnya pelan tapi matanya tak lepas dari wajah tampan pria itu di bawah cahaya lampu jalanan.

Pria itu tak menjawabnya hanya menoleh. Alica langsung melangkah menjauh "Berhenti!"

Suara pria itu langsung menghentikan langkah Alica "Ada apa lagi," pria itu menatap sekitar, suasana di tempat itu nampak sunyi, rumah penduduk agak jauh dari tempatnya sekarang, dan tanpa sengaja matanya menangkap sebuah papan lebar bertuliskan TPU kampung Badas. ia sempat tersentak lalu menatap Alica lekat dari atas hingga bawah, memastikan kaki kecilnya menggapai tanah.

Ada helaan nafas lega setelah sadar Alica bukanlah hantu atau penghuni kuburan di sana.

"ada apa lagi?" Tanyanya saat pria itu diam

Pria itu menoleh mendengar suara Alica "Rumahmu di sini?"

"tidak... Aku ngekos di ujung sana." jawab alica cepat menunjuk ke arah rumah padat penduduk. Pandangan pria itu mengarah ke arah tangan Alica menunjuk, Ia sadar arah yang di tunjukkan Alica, tak jauh dari kuburan.

"kalau tak ada lagi, aku pergi sekarang!" ucap Alica langsung melangkah tanpa menunggu jawaban.

"tunggu ... kenapa buru-buru." ucap pria itu lagi.

Terpopuler

Comments

penggemar12

penggemar12

belum update ya, semangat Thor di tunggu 💪

2026-07-03

2

desa12

desa12

suka ceritanya semoga nggak di gantung kayak cerita lainnya 💪 semangat

2026-07-06

0

penggemar12

penggemar12

terimakasih sudah update. semangat Thor 💪

2026-07-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!