Melihat pesan itu seketika mata Alica melebar "mau apa sih dia?" omelnya sambil.meletakkan ponsel di samping bantal , rasa kantuk dan lelah membuatnya langsung merebahkan diri. "aku lelah sekali." bisiknya, belum sempat ia memejamkan mata, ponselnya kembali berdering, cukup keras membuatnya tersentak, buru-buru bangun. Begitu mengambil ponselnya, bibirnya melebar "untuk apa dia meneleponku malam-malam begini."
Sekali lagi, Alica mengabaikan panggilan itu namun beberapa detik berlalu panggilan itu kembali terdengar, berkali-kali entah karna menyerah panggilan itupun terhenti satu pesan masuk "cepat angkat." Dengan malas Alica akhirnya mengangkat panggilan itu.
"mau apa?" tanyanya pelan
Rangga berdehem sebelum bicara "Aku dari tadi menghubungimu, dengan entengnya kamu mengabaikan panggilanku." hening... Hanya terdengar hembusan nafas di sebrang sana. "Ingat janjinya... besok buatkan aku makanan yang enak."
"tentu saja aku ingat, sekarang waktunya tidur." jawab Alica singkat
Tombol hampir saja di tekan namun sebelum itu, rangga kembali bicara "tunggu... Kenapa buru-buru. Aku bahkan belum selesai bicara."
suara Alica meninggi "Ada apa lagi, aku butuh istirahat." di sebrang sana, Rangga terkekeh pelan "dimana kita bertemu?"
"Aku... Kamu maunya apa?" tegas Alica
"aku tunggu di kafe dekat sekolah, jam delapan
"Baiklah." jawab alica akhirnya tanpa menunggu ia langsung mematikan ponselnya. Rangga menelpon lagi namun panggilan itu tak bisa terhubung lagi. Berkali-kali tetap saja tak bisa.
Rangga yang masih memarkirkan motornya di pinggir jalan memutuskan untuk pulang.
sesampainya di rumah suasana tak lagi seperti biasanya, begitu ia membuka pintu dia orang telah menunggunya di ruang tamu."
Baru saja Rangga menginjakkan kaki di ruang tamu, suara berat dari lebih dulu menghentikannya. "Bagus, Aldo. Jam segini baru pulang." Bahunya menegang. Perlahan ia menoleh. Ayahnya berdiri dengan rahang mengeras, tatapan tajam, siap menghujam.
Rangga mengembuskan napas pendek. "Aku cuma kumpul sama teman. Memangnya kenapa? Apa peduli kalian," Rangga terkekeh "Biasanya kalian sibuk bekerja lalu kenapa sekarang kalian ada di rumah."
"Aldo!" suara ibunya pecah, penuh peringatan.
Namun sebelum sempat berkata apa-apa, sebuah kertas pengeluaran belanjaan Rangga tergeletak di meja, Nota pembayaran jam tangan, sepatu baju mewah bahkan motor.
"Apa semua ini?" bentak ayahnya. "Berapa uang yang sudah kamu habiskan? Kami banting tulang cari uang, sementara kamu menghamburkannya untuk hal-hal yang bahkan bukan kebutuhanmu."
Ayahnya kembali mengangkat beberapa lembar kertas. Dengan gerakan kasar, semuanya dilempar ke wajah Rangga hingga berserakan di lantai. "Dan ini? Laporan dari polisi. Keluyuran sampai malam, bikin keributan, ikut tawuran. Mau jadi apa kamu?"
Rangga tak bergeming. Dagunya justru terangkat sedikit, menantang tatapan sang ayah. "Lalu kenapa?" suaranya dingin. "Kalian juga nggak pernah peduli. Yang kalian tahu cuma kerja... kerja... kerja. Setidaknya itu yang bikin kalian senang, kan?"
"Cukup aldo... Dia itu papamu!" bentak ibunya namun Rangga kembali bicara "Kalau aku tak membuat masalah, kalian tak akan ada di rumah ini."
"Aldo..." ucap papanya tegas
"Papaku hadir tapi aku tak pernah mendapatkan kasih sayangnya, apa kalian pernah bertanya aku sudah makan? Apa kalian pernah bertanya apa yang aku rasakan. Semua orang mendapatkan cinta dari orang tuanya. Sementara aku apa?" Rangga mundur selangkah, tanganya mengepal kuat "kalian hanya pulang sekali lalu bertanya kenapa aku pulang malam, lalu kalian apa. Apa yang aku cari di rumah ini."
Wajah ayahnya memerah. "sudah pa... Tenang, Aldo hanya sedang emosi, biar mama yang bicara padanya."
ibunya segera berbalik, "sudah Aldo kamu ke kamar dulu, kalian gak bisa bicara dalam keadaan emosi seperti ini."
"Kamu terus saja membela anakmu makannya dia jadi pembangkang!" bentaknya kepada sang istri. Plak!... Tamparan keras mendarat di pipi wanita itu.
"Mama!" Rangga berlari dan berdiri di depan ibunya. "Jangan pukul Mama. Ini salahku. Kalau papa mau marah, tampar Aku saja."
Tanpa ragu, telapak tangan itu kembali terayun. Plak! Kepala Rangga terpental ke samping. Sudut bibirnya terasa perih, tetapi ia tetap berdiri di depan ibunya, tak mundur selangkah.
Ayahnya menunjuk ke arah tangga. "Masuk kamar." nafasnya memburu "Seharusnya kamu bersyukur, kamu tak pernah kekurangan makan, tak pernah kekurangan uang seperti teman-temanmu."
"Aku ini butuh kalian bukan uang." ucapnya tegas. Suaranya meninggi.
"kalau bukan karna kamu, masa depan kamu, papa tak mungkin bekerja siang malam."
Rangga terdiam. "Mulai malam ini kamu tidak boleh keluar sampai kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan." papanya memaksa meraih kunci motor di saku celananya.
Tak ingin terjadi keributan yang lebih besar, Rangga akhirnya meninggalkan tempat itu, menaiki anak tangga hingga sampai di lantai atas.
Rangga yang kesal segera masuk kamar, semua barang segera ia banting, segala hiasan di meja jatuh pecah berserakan. Ia merebahkan diri, matanya menatap ke atas langit-langit kamar. "akh..." teriaknya.
Cahaya matahari jatuh di lantai kamar. Alica mengerjapkan mata pelan, lalu meraih ponsel di atas nakas. "sudah pagi." ia buru-buru bangkit dari ranjang melangkah cepat menuju dapur dalam sekejap berbagai hidangan siap di meja. pintu di ketuk pelan "Alica... Kamu sudah bangun."
Alica membuka apronnya segera lalu melangkah menuju pintu. Begitu pintu di buka, aroma sedap masakan langsung menguar menusuk penciuman.
Tanpa kata Rere menerobos masuk, langsung menuju dapur, matanya melebar, air liur memenuhi mulut "wah... Masakannya banyak sekali," ia mencicipi satu, rasanya jauh berbeda dari masakan lainnya apalagi bentuknya yang begitu menggoda. Ayam Padang, kepiting berbumbu, bakso kuah dengan sayur yang menggugah selera
Rere mengambil piring dan mangkuk "aku bahkan tak tau kamu sepandai ini memasak. aku mau juga dong."
Alica melangkah maju, segera menyingkirkan makanan yang sudah ia siapkan di setiap wadah plastik. "jangan yang ini!" tegasnya
Rere mendengus kesal "jangan bilang kalau kamu mau memberikan makanan yang enak-enak ini ke pria itu."
"aku sudah janji dan aku tak bisa mengingkari janjiku." ucapnya melangkah ke meja dapur, meraih nampan yang ada di dekat kompor.
"kamu terlalu baik, ingat! Jangan sampai di manfaatkan."
Alica tak menjawab, ia hanya meletakkan nampan itu di meja "Ayo, sarapan."
Rere mendekat langsung duduk kursi. Aroma sedap masakan membuatnya tak sabar "kamu ingat juga membuatkanku."
Alica mengeser piring "Ayo makan... Kamu terlalu banyak bicara."
Rere langsung menyendok bakso di tambah dengan potongan lontong, uapnya masih mengepul di udara. Satu suapan berhasil masuk ke mulut "sering-seringlah masak begini." ungkapnya
"Baiklah." ucapnya ikut makan bersama.
Mereka jalan bersama menuju tempat kerja, Alica terpaksa berpisah di pertigaan jalan. "Aku ke sana dulu."
"Ok." jawab Rere cepat. Alica mengayunkan langkah menuju kafe yang sempat disebut Rangga. Begitu tiba, ia menghentikan langkahnya sejenak. Dari kaca bening itu, deretan meja dan kursi masih tertata rapi tanpa seorang pun menempatinya. Hanya aroma kopi yang samar bercampur udara pagi memenuhi ruangan.
Tatapannya menyapu setiap sudut sebelum jemarinya meraih gagang pintu. Beberapa pelayan nampak sibuk merapikan ruangan saat ia melangkah masuk, sementara keheningan kafe masih belum terusik oleh kedatangan pengunjung lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
penggemar12
lanjutkan 💪💪
2026-07-06
3