Rangga mencari Alica

Alica kembali menatap layar ponselnya. Nama yang sama masih terpampang di sana. Entah sudah berapa kali ia menekan tombol panggil tapi tak kunjung di angkat bahkan tidak aktif setelahnya. Ia masih menunggu dalam diam hingga akhirnya ia pun menyerah, sadar panggilannya sengaja di abaikan. ia menoleh sekitar, jempolnya sempat menggantung beberapa detik sebelum akhirnya memberanikan diri menekan sekali lagi.

Ponsel itu ditempelkan ke telinga. Nada sambung terdengar.

Napas Alica tertahan. Sudut bibirnya terangkat pelan merasa panggilannya akan dijawab. "halo..." Jantungnya berdegup lebih cepat mendengar suara di sebrang sana. Namun, suara itu bukan suara yang ia tunggu.

Alica menoleh pelan ke sekeliling. cafe sederhana yang semula tak terlalu ia hiraukan kini terasa begitu sunyi. Beberapa pelayan cafe yang ada di sana melirik ke arahnya yang hanya duduk tanpa memesan apa pun. Beberapa pasang mata pengunjung yang baru datang juga menoleh ke arahnya karna membawa makanan ke kafe. Panas menjalar ke pipinya. Ia menundukkan kepala, memeluk kresek putih di pangkuannya. "Rangga...aku..."

"Kamu?" bentak seorang pria dengan suara serak di seberang sana. "Jangan ganggu anakku lagi! Gara-gara kamu, anakku jadi berandalan seperti ini. Jangan pernah berharap bisa bertemu dengannya lagi! Dasar pembawa sial!"

Alica membeku. Kelopak matanya berkedip pelan. Jemarinya mengendur hingga ponsel di tanganya nyaris ia lepas .

"Apa... maksud Bapak?" suaranya lirih sedikit bergetar kaget, mengira semua ini hanya salah sambung namun ia salah, suara itu kembali terdengar, kali ini lebih tegas "Nggak usah pura-pura tidak tahu! Sejak kenal kamu, hidupnya berantakan. Kami tak akan membiarkan Aldo berteman denganmu lagi!"

Tut... Sambungan telepon terputus.

Alica masih menempelkan ponsel di telinganya, namun sedetik kemudian ia sadar, panggilan itu telah terputus

Perlahan ia menurunkan ponsel. Tatapannya jatuh pada layar yang telah menghitam. ia mulai berpikir apa ia salah tekan nomor namun semakin di lihat nomer yang ia hubungi ternyata benar..Dadanya terasa sesak. Kata berandalan itu terus bergaung di dalam kepalanya. ia mulai berpikir bagaimana kalau Rangga bukanlah pria baik-baik.

Alica memejamkan mata. Jemarinya mencengkeram kuat kresek di tangannya sebelum akhirnya pergi dari cafe itu.

Alica melangkah pelan menyusuri trotoar. Tas keresek masih menggantung di tangannya, bergoyang pelan setiap kali ia mengayunkan kaki. Tak lama kemudian, ia tiba di tempat nya bekerja sebagai tukang laundry yang cukup terkenal di kota itu.

Rere yang dari tadi menunggu begitu melihat Alica datang, buru-buru mendekat "Eh, kamu sudah balik. Sini, duduk."

Alica mengembuskan napas pelan sebelum menarik kursi di hadapannya "Bu Rita sudah datang belum?"

"Belum. Duduk saja dulu." Saat Alica meletakkan tas di meja. pandangan Rere langsung tertuju pada kantong plastik yang masih utuh. "Lho... kok dibawa balik?"

Jari-jari Alica menyentuh tas itu sesaat sebelum menjawab lirih. "Dia nggak datang ke cafe yang sudah di janjikan." Suaranya pelan. keheningan menyapa untuk sesaat "Jadi... aku bawa balik."

Rahang Rere mengeras, tanganya mengepal "Brengsek itu cowok."nafasnya memburu "Awas saja kalau ketemu nanti."

"sudahlah... ini untuk makan siang saja." lanjut Alica, ia mulai bekerja seperti biasanya namun perkataan pria itu masih saja terngiang di pikirannya.

Ban motor berdecit tajam begitu berhenti tepat di depan cage. Seorang pria dengan helm full face melompat turun dari motornya, napasnya memburu. Langkahnya lebar dan cepat, hampir berlari menuju pintu masuk.Tanpa memperlambat langkah, ia menerobos masuk ke dalam restoran. Bahunya sempat menghantam seorang pengunjung hingga pria itu terhuyung setengah langkah.

"Hei, lihat jalan!" gerutu orang itu kesal.

Namun pria itu tak menoleh sedikit pun. Ia terus melangkah cepat, membiarkan omelan di belakangnya menghilang begitu saja. Sorot matanya sibuk menyisir setiap sudut ruangan, mencari Alica.

Dadanya naik turun menahan napas yang mulai memburu. Matanya bergerak gelisah, menyapu setiap sudut cafe tanpa melewatkan satu meja pun. Setiap wajah yang tertangkap matanya membuat harapan sesaat muncul, lalu pupus seketika. Sosok yang dicarinya tetap tak terlihat.

seorang pelayan cafe mendekat "ada apa, mas. Apa anda mencari seseorang?" tanyanya ramah.

"Apa ada seorang wanita tadi datang ke sini, menunggu seseorang?" Tanya Rangga cepat.

wanita itu menunjuk ke arah meja di sudut kafe "oh... mungkin wanita yang ada di ujung sana." Rangga mengangguk pelan "ya... Benar, diamana dia sekarang?"

"dia menunggu cukup lama, sempat menerima panggilan telpon tapi pergi setelah beberapa menit berlalu."

Dada Rangga berdentum, ia tahu, ayahnya pasti sudah berkata kasar pada alica, tatapannya kembali pada wanita itu "terimakasih kalau begitu saya pergi dulu!"

wanita itu hanya mengangguk pelan lalu kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Rangga kembali melajukan motor sportnya menuju tempat di mana Alica tinggal, ia menyusuri jalan hingga sampai di tempat yang jelas seperti kos-kosan. Ia menatap.plang, hanya wanita yang boleh melewati gerbang itu.

Seorang wanita paruh baya keluar dari gerbang itu saat Rangga menunggu dalam diam di kejauhan "Tante... Apa Tante tau gadis yang bernama Alica?"

Wanita itu mengeryit, menatap Rangga dari atas hingga bawah "Alica ya...?"

"ya Tante, aku bisa bertemu denganya?"

Wanita itu mengeryit sekali lagi "kalau jam segini dia kerja, kenapa tak telpon saja langsung?"

"ponsel saya hilang, apa saya boleh tau, jam berapa dia pulang dan dimana dia kerja?" Tanyanya cepat

"kalau kerja dia biasa pulang sore, tapi tempat kerjanya, saya tidak tau." jawab wanita itu, sedikit berbohong, tak ingin memberitahukan kebenaran pada orang asing.

Tatapan Rangga jatuh pada ponsel yang di genggam wanita itu "saya boleh minta nomer Alica, biar saya menghubunginya langsung."

Wanita itu menatap Rangga dari atas hingga bawah "tidak..." jawabnya tergesa, "kalau mau, minta saja langsung pada orangnya."

Rangga menelan ludah, tak enak jika terus memaksa

"saya ada urusan, lebih baik kembali sore saja." kata wanita itu tergesa, ia lalu pergi menjauh tanpa menoleh maupun menunggu jawaban.

Rangga menatap dirinya dari atas sedikit menuduk, baju kaos hitam, celana panjang sedikit robek di bagian lutut, wangi tapi pakaiannya memang lebih ke pria berandalan.

tak ingin menunggu tak jelas, iapun memutuskan pergi dari tempat itu.

Tak terasa waktu telah berganti, tiba waktunya pulang "Aku ada urusan... Kamu pulang duluan ya... Jangan lanjutkan pekerjaan lagi, kalau pulang malam kan bahaya." ucap Rere yang sudah siap mengenakan jaketnya

Alica yang sibuk menyelesaikan pekerjaannya langsung mengangguk pelan "ya... Selesai ini, aku langsung pulang!" sahut Alica.

begitu semua telah rapi dan pekerjaan di dalam selesai, ia segera menutup pintu ruko, laku menyerahkan kuncinya pada seorang wanita yang duduk di dalam mobil "ini kuncinya, Bu Rita."

Wanita itu mengambil kunci itu tanpa berkata apa-apa lagi, jelas tak ada senyum yang terpancar di bibirnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!