Jerat Cinta Berondong Tajir

Jerat Cinta Berondong Tajir

awal pertemuan

Di jalan aspal yang sunyi Alica berjalan seorang diri, langkahnya tergesa, ia menoleh sekitar, tak ada satupun motor yang lewat.. maupun mobil, jalanan benar-benar sunyi kala iyi.

Sejak tadi ia menunggu ojek yang biasa menjemputnya namun kali ini tak satupun yang datang, pangkalan ojek pun sepi. malam semakin larut, keringat mulai membasahi keningnya tapi ia terus melangkah. Sesekali menoleh ke belakang, tak ada siapa-siapa?

Alica meraih ponselnya hendak menghubungi Rere temannya, satu panggilan tak terjawab

"mungkin aku harus memesan lewat aplikasi." bisiknya kembali membuka ponselnya, ia menelan ludah sebelum sempat memesan,.ponsel itu malah mengelap, baterai ponselnya habis.

Angin malam berdesir pelan di antara bangunan kosong, membawa sunyi yang terasa menekan dada. Hingga tiba-tiba suara mesin motor meraung dari belakang. Dentuman knalpotnya memecah keheningan malam itu.

Bahu Alica tersentak, langkahnya terhenti seketika. Jari-jarinya menegang, dan kepalanya menoleh cepat ke arah suara itu, napasnya ikut tertahan di tenggorokan.

Hanya lampu motor itu yang memancar ke wajahnya, Alica terus melanjutkan langkahnya sesekali berlari mencari keramaian namun yang ada hanya kesunyian, tempat belanja yang buka dua puluh empat jam masih cukup jauh.

Motor itu melaju lebih dekat, mesinnya meraung. Alica tersentak. Matanya membesar, tubuhnya refleks melompat ke samping, hampir terjatuh saat ban motor itu hampir menyentuh bokongnya.

"Jangan..." suaranya patah, napasnya terputus di tengah kalimat. "Jangan… aku nggak punya apa-apa…" ia mengeleng cepat

Ban motor akhirnya berhenti hanya beberapa senti dari tubuhnya. Debu jalanan berputar di udara. Di atas motor itu, pria muda seumuran 19 tahun itu tak langsung bicara. Sudut bibirnya justru terangkat sedikit, senyum kecil, seperti menikmati ketakutan yang baru saja ia lihat di depan matanya. Matanya mengikuti gadis itu dari atas ke bawah.

"hey... Aku tak akan menyakitimu, cepatlah jalan biar ku ikuti!" ucapnya pelan "lagian untuk apa seorang gadis jalan malam-malam begini sendiri!" ia menoleh sekitar, malam ini memang benar-benar sunyi.

Alica yang ketakutan perlahan mengangkat kepalanya, ia menatap lekat pria yang masih di atas motor, terus memperhatikan, wajah itu terlalu asing. "siapa kamu?"

pria itu tersenyum"kamu tak perlu tau... cepat jalan atau ku tinggal sendiri."

Alica yang ketakutan memilih percaya akhirnya bangun, langkahnya tergesa dan motor itu terus membuntutinya pelan hampir mencapai keramaian namun di kejauhan suara motor dengan suara motor yang sama begitupun jumlah yang lebih banyak membuat tubuh Alica semakin gemetar, ia mempercepat langkahnya.

Ia menoleh sekilas, pria yang tadi mengantarnya malah berhenti di jalan itu, tak lagi melaju mengikutinya. hingga cahaya motor lainya mendekat, ia lalu melanjutkan laju motornya.

Alica hanya bisa berdiri di keramaian sambil memperhatikan wajah pria itu "terimakasih." bisiknya pelan. Ia melanjutkan langkahnya, jantungnya masih berdebar hebat, tempat tinggalnya tinggal beberapa meter lagi, ia menoleh kebelakang seseorang yang jelas terlihat mabuk mengikutinya di kegelapan. ia segera berlari, namun karna tak terlalu memperhatikan jalan, kakinya tersandung, ia terjatuh tepat di bibir aspal.

"tolong...!" teriaknya namun tak ada satupun orang lain saat itu, di kejauhan suara raungan motor kembali terdengar, rombongan motor yang sempat ia temui sebelumnya. Alica merasa pria tadi akan menolongnya "tolong!" teriaknya berkali-kali, tanganya melambai cepat namun mereka hanya melintas, menoleh sekilas lalu berlalu. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas pria yang membantunya tadi, kali ini melewati nya tanpa menoleh sedikitpun meskipun ia tahu dirinya meminta tolong.

Harapannya kini pupus sudah...

Pria mabuk itu tersenyum samar "Hey... Gadis cantik!" ia sedikit menuduk, menyentuh lembut dagu Alica. "kamu pikir mereka akan peduli padamu!" dengan gerakan kasar ia langsung menarik lengan Alica menyeretnya menuju gang sempit yang hampir tak di lalui siapapun malam hari.

gelap kian pekat, sunyi kian mencekam, tubuh isabella gemetar saat di tarik "Kita bersenang-senang sebentar sebelum pulang." tanganya yang keras langsung membekap mulut alica, tak memberinya kesempatan sedikitpun untuk meminta tolong, hanya matanya yang bergerak liar, hanya bisa meronta saat tubuhnya di tarik.

gelap menghantam, ia tak tau harus bagaimana lagi, airmatanya mulai luruh, ia mengeleng pelan "Tolong jangan!"

Pria itu terkekeh "Tenang sayang, sebentar lagi kita sampai."

Alica tak mau menyerah, ia berusaha lebih keras lagi intuk lepas saat tubuhnya di seret paksa, tenaganya tak sekuat pria di depannya, tubuhnya terus di seret tanpa henti, melewati semak-semak liar hingga sampai di sebuah rumah tak berpenghuni, hanya ada cahaya rembulan, tak ada tetangga, tak ada tanda-tanda orang lain di sana.

Tubuh Alica dilempar di lantai berdebu, tubuhnya gemetar, ia sedikit mendongak "Tolong jangan.."

pria itu hanya tersenyum, membuka ikat pinggangnya lalu melemparnya di lantai, suara besi yang bersentuhan terdengar nyaring di kesunyian malam, tanganya terangkat pelan "kalau kamu teriak, aku tak kan segan-segan menghabisimu di tempat ini,"

"tidak... tolong jangan lakukan itu," ia menyerahkan tasnya "ambil saja semua milikku, tapi bebaskan aku!" Alica mencakupkan tanganya cepat "Aku mohon!" suaranya bergetar

Pria itu terkekeh pelan, ia meraih tas itu dari tangan Alica.. Ada rasa lega yang Alica rasakan saat itu berharap pria itu punya belas kasihan untuk melepasnya, namun selang beberapa detik, pria itu terkekeh saat melihat Alica bangun "kamu pikir aku mau uangmu!" Ucapnya pelan, ia melempar tas itu di dekat pintu.

langkah pria itu pelan mendekat, sedikit menunduk, giginya menggertak tajam mencengkram kuat dagu Alica yang bergetar "diam... Atau aku akan berbuat kasar... " suaranya melembut "kita nikmati malam ini sayang! kamu cantik sekali, aku tak sabar lagi!" senyum itu, sorot mata itu sangat menakutkan bagi Alica yang kini begitu rapuh. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah.

"aku mohon jangan!" teriak Alica.

Pria itu hanya tersenyum, membuka kaos bajunya yang sedikit basah oleh keringat. Aroma alkohol mulai memenuhi ruangan itu. Diamnya peria itu justru membuat Alica semakin gemetar.

"tidak... kamu tak bisa letakkan aku. Ku mohon lepaskan aku!"

Alica meringkuk di sisi dinding "a-aku ini seorang janda... Aku bukan perawan, kamu pasti tidak suka... tolong lepaskan aku."

pria itu tertawa lepas "Baguslah kalau kamu janda. Aku tak perlu lagi mengajarimu bagaimana cara melayaniku."

"kalau kamu melepaskan ku... Aku janji.. Aku akan membalas kebaikanmu itu."

Pria itu kembali menuduk " kamu pikir aku orang baik... Kamu tak akan ada di sini kalau aku ini orang baik." ia kembali tertawa meminta kebaikan dari orang yang bahkan menyeretmu ke tempat ini."

ia kembali berdiri, menyalakan sebatang rokok, asapnya menari di udara, ia sedikit menuduk, mengepulkan asapnya tepat di wajah Alica "Sudahlah terima saja... Aku yakin kamu akan menikmatinya, apalagi kamu seorang janda... Hal seperti ini pasti sangat kamu rindukan."

Alica tak menjawab, hanya menatap liar, tak ada benda apapun yang bisa ia gunakan untuk melindungi diri, yang terlihat hanya debu yang menumpuk

"tempat ini kotor sekali... Apa kamu mau kita melakukannya di sini?" Tanya alica akhirnya.

Pria itu menatap sekitar "kamu benar" hening sejenak "akh... Aku tak peduli."

Terpopuler

Comments

penggemar12

penggemar12

kok belum update 🙏

2026-07-01

3

tiwi12

tiwi12

lanjut...

2026-06-27

2

penggemar12

penggemar12

suka ceritanya 💪

2026-06-25

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!