Perkenalan dan gangguan Rangga

Langkah Alica akhirnya terhenti "ada apa lagi?"

"Buru-buru sekali... berikan ponselmu." katanya pelan, sambil menengadahkan tangan.

Alica mengeryit bingung, mempererat pegangan tanganya di tas Selempangnya "kamu maling, ya?"

pria hanya menghela nafas tersenyum tipis "Apa kamu itu pelupa?" bola mata Alica memutar bingung "emang aku melupakakan apa?"

Pria muda itu meraih ponselnya di saku celana lalu menyerahkannya ke Alica "cepat tulis nomermu."

"untuk apa?"

Sekali lagi pria itu menghela nafas, "Apa kamu lupa. Apa janjimu sebelum aku menolongmu?"

Alica menghela nafas, "kenapa kamu perhitungan sekali, aku kira kamu benar-benar baik." ia meraih paksa nomernya lalu mengetikan angka-angka di layar.

"Nih...." gerutunya sambil menyerahkan ponselnya. "nama?" ucap pria itu lagi, sambil memainkan alis.

"eh... kok nama sih... Nggak ada. besok datang saja jam 8 pagi, aku akan bawakan makanan masakanku sendiri seperti janjiku."

"tidak... katakan namamu sekarang! Mana aku tau kamu jujur atau tidak, bisa-bisa aku menunggu di kuburan seperti orang gila."

Alica maju satu langkah, hentakan kakinya sempat membuat pria itu mundur selangkah "hey... Anak muda. Kamu pikir aku ini pembohong, aku ngekos di ujung sana." ucapnya menunjuk di kekejauhan.

"ujung sana... Jelas-jelas itu masih wilayah kuburan, kamu ya." gerutunya kesal "dengan mudahnya menyebut di sana tempat tinggalmu."

"ya... memang aku ngekos di sana!" ucap Alica lagi

Pria itu mengeleng cepat "nggak... Nggak. Sebut namamu sekarang!"

"kamu!" tangan Alica mengepal kuat "Ya... Namaku Alica."

"nama yang bagus." ungkapnya sambil mengetik nama Alica do layar, ia lalu menoleh sekali lagi "Nama lengkap?" tanyanya pelan.

Alica melangkah menjauh, enggan menanggapi pria itu lagi "nama panggilan saja cukup." gerutunya tapi pria itu tak menyerah, ia terus mengikuti langkah Alica dengan motornya, suara bisingnya di tengah kesunyian membuat Alica menghentikan langkahnya. "kenapa kamu mengikutiku, kalau ada yang dengar suara motormu, aku bisa kena omel."

Motor itu akhirnya menepi, pria itu kembali turun dari motornya, mesin segera di matikan "makanya katakan siapa namamu. Kamu bahkan tak mau aku tau dimana kamu tinggal. Apa itu tak mencurigakan."

"Aduh... kamu bikin aku pusing, oke... Namaku Alicia Pelicia Andita."

Pria itu segera mengetik kembali di layarnya, satu panggilan langsung berdering. Alica tersentak langsung meraih ponselnya "itu nomerku. di simpan ya..." Alica masih membeku "namaku Rangga... Rangga Geraldo."

Hening, Alica masih sibuk mengetik di layar ponselnya. Sementara Rangga yang lebih tinggi darinya sedikit menuduk,.ia bisa melihat dengan jelas isi layar itu, dengan cepat ia menarik ponselnya "kamu benar-benar membuatku kesal." ia segera mencari panggilan tak terjawab lalu mengisinya dengan nama Rangga Geraldo.

"kamu lancang sekali, kembalikan ponselku!" teriak Alica tapi tak terlalu cepat, takut membangunkan penduduk lainnya.

"oke aku kebalikan. sekarang aku antar sampai kosannya."

Alica mengeleng cepat "Kalau ada yng lihat aku di antar malam begini apalagi cowok, Aku bisa di usir. Ia kembali mencakupkan tanganya "aku mohon...!"

Rangga akhirnya mengangguk pelan "Baiklah... Kali ini kamu aku lepaskan. ingat besok pagi aku tunggu di sini jam delapan."

"ya." jawab alica singkat, tapi ia sempat memeluk dirinya sendiri. Rangga langsung membuka jaket hitamnya

"eh... Mau apa kamu?" tanyanya sedikit mundur. Rangga tak bicara, hanya melangkah maju "kami kedinginan, pakailah ini!"

Alica membeku, perhatian pria di depannya begitu tiba-tiba. Rangga segera memasangkan jaketnya. "kamu pasti kedinginan."

Alica berusaha melepaskan jaket itu dari bahunya "tidak perlu, kosan ku sudah dekat."

Rangga menggeleng pelan, menahan jaketnya agar tak di buka "Sudah pakai saja... Ini masih wangi kok."

Lagi-lagi Alica membeku sesaat lalu menatap lekat, manik mata pria itu "Baiklah... Terimakasih. Besok ku kembalikan."

"tidak perlu.. Aku masih punya yang lain." jawabnya cepat

"Tapi ini kan punyamu." sela Alica "atau jangan-jangan kamu jijik dengan bekasku."

Rangga menelusuri jalan sekitar, Jam di tanganya hampir menunjukan pukul sebelas tengah malam. suasana semakin sunyi "Pulanglah! kita lanjutkan besok, jangan sampai kita di grebek malam begini."

Perkataan Rangga sempat membuat Alica tersadar. "kalau begitu kita bicara besok saja!"

Alica akhirnya melangkah lebih jauh, ia sesekali menoleh, Rangga masih setia duduk di jok motornya.

" Pria itu..." Gumamnya pelan masih menoleh ke belakang, begitu berbalik ia kembali tersentak, tubuhnya membentur Rere.

"Astaga, Alica! Apa yang kamu lakukan?" rere mengangkat kepala perlahan. Matanya setengah terpejam, lalu menyeringai canggung. "Hehe... maaf..." Ia menggaruk tengkuknya. "Aku... aku nggak sengaja."

Rere yang menatapnya dari tas hingga bawah "Kamu?" ia menyentuh jaket kulit itu, bahannya tebal namun lentur, jahitannya presisi, dan ritsleting logamnya terasa kokoh.

"ini.... Ini jaket asli... Aku yakin." ia kembali menatap Alica yang berdiri terpaku "kamu dapat darimana... Jangan-jangan kamu habis ketemuan sama pria kaya? Atau geng motor elit." Rere menunjuk wajah Alica "ayo ngaku? Kok diem aja." dia bahkan mencolek pelan pipi Alica.

"kamu apaan sih... Gara-gara pulang belakangan, aku terjebak tawuran geng motor, aku terpaksa lewat jalan lain yang tak ku kenal." Alica sedikit menunduk "aku hampir di nodai pria mabuk, dan jaket ini dari pria muda yang membantuku pulang.

Rede membeku "pria muda... Jangan-jangan dia suka sama kamu." ucapnya penuh semangat

Alica melangkah lebih dulu "sayangnya aku tak tertarik, dan satu lagi dia itu masih muda, jangan sekali-kali mencoba menjodohkanku, karna itu tak mungkin!"

"kalaupun muda kenapa, dia tampan, kaya punya segalanya dan dia baik." ucapnya sambil menatap kekejauhan.

"itu bukan urusanku, berhenti memcoba menjodohkanku dengan siapapun." jawab alica, meninggalkan Rere yang masih berusaha mencari tahu pria yang pulang bersama Alica

begitu menoleh, Alica sudah jauh, hampir menggapai pintu kosannya "Alica tunggu," ia segera mengikuti "duh... Kenapa jadi di tinggalkan." gerutunya

Alica langsung masuk kamar mengabaikan Rere yang terus mengedit pintunya. "Alica... buka pintunya."

"Tidak... sebelum kamu berhenti menggangguku. Bukannya perihatin temanya kena musibah."

Rere menghela nafas "ok... kamu istirahat saja, kita bicarakan lagi besok. Bye..."

Setelah membuka jaket itu, Alica duduk di pinggiran ranjang, Aroma jaket itu masih melekat, tanganya terangkat tanpa sadar meraih jaket yang ada di sampingnya. Aroma parfum itu begitu menyenangkan.

Beberapa menit berlalu, Alica tanpa sadar terus mencium aroma itu hingga dering di ponselnya berbunyi. Alica tersentak, ia buru-buru membuka ponselnya "Rangga tampan." matanya melebar baru menyadari kalau Rangga menyimpan nomernya dengan nama berbeda dari yang ia katakan.

"sudahlah... untuk apa aku meladeninya." tanpa membuka pesan itu, ia melangkah menuju kamar mandi.

dingin merayap, ketika air keran mulai mengguyur tubuhnya "dingin sekali," bisiknya. segera menyudahi mandi meski belum sepenuhnya bersih. Bayangan kejadian tadi sempat membuatnya gemetar sesaat. ia buru-buru keluar dari kamar mandi.

saat hendak meraih baju, ponselnya kembali berdering, Alica mendekat mengira telpon penting, ternyata nomer yang sama dari sebelumnya.

"malam-malam begini, mau apalagi dia." ucapnya pelan segera mengenakan pakaian, hingga layar ponselnya kembali mengelap, iapun tak perduli.

pesan beruntun terus datang tapi sayangnya Alica memilih mengabaikannya, ia melirik sekilas hendak melihat jam namun tanpa sengaja tanganya menekan pesan dari aplikasi hijau "kalau nggak di angkat, aku ke sana malam-malam."

Terpopuler

Comments

desa12

desa12

/CoolGuy/

2026-07-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!