Bab 2 Fakta Yang Mengejutkan

Pagi harinya, Alena bangun awal seperti biasanya.

Meskipun semalaman hampir tidak bisa memejamkan mata, ia tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Ia memasak sarapan, menata lauk-pauk di atas meja makan, lalu menyeduh secangkir kopi hitam kesukaan suaminya.

Alena menatap kopi yang masih mengepul itu sesaat.

Bayangan pesan yang ia lihat semalam kembali muncul di kepalanya, membuat dadanya kembali terasa sesak.

Ia sudah berulang kali mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin wanita itu memang hanya rekan kerja Arsen yang terlalu akrab.

Namun, saat ia mengingat nama yang tersimpan dengan emoji hati, sulit baginya untuk berpikir positif. Karena tidak ada orang yang menyimpan nama rekan kerja dengan panggilan mesra seperti itu.

Lamunan Alena buyar saat suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Ia segera menghapus wajah gelisah nya dan tersenyum, menatap Arsen yang turun dari tangga dengan setelan jas yang rapi.

Pria itu tampak tampan. Rambutnya tertata sempurna seperti biasa. Tapi entah kenapa, pagi ini terasa begitu asing.

"Sarapan dulu, Mas."

Arsen hanya melirik sekilas ke arah meja makan. "Tidak. Aku buru-buru. Ada meeting pagi ini."

Arsen mengambil kunci mobil lalu berjalan menuju pintu.

"Mas!" panggil Alena, berharap pria itu akan menoleh. Namun, harapan itu pupus. Pria itu terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun sampai menghilang di balik pintu.

Alena berdiri mematung di dekat meja makan. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.

Ia duduk di kursi makan dengan kepala menunduk.

Semalaman, ia memikirkan pesan mesra yang masuk ke ponsel kedua suaminya.

Ia ingin percaya bahwa semua itu hanyalah kesalahpahaman. Tetapi semakin ia mencoba, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan.

Pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar di kepalanya seperti benang kusut yang tidak bisa diurai.

Alena menghela napas. Tatapannya teralihkan saat ponsel yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering.

Ia mengambil ponsel itu dan melihat nama yang muncul di layar.

"Dokter Gita?" gumamnya. Ia segera menjawab panggilan tersebut.

"Halo, Dok?"

"Selamat pagi, Bu Alena. Maaf mengganggu anda pagi-pagi begini. Saya ingin memberitahukan bahwa hasil pemeriksaan anda dan suami sudah keluar. Sebaiknya Ibu datang ke rumah sakit hari ini."

Alena langsung duduk tegak. Tangannya tanpa sadar mencengkeram ponsel lebih erat.

"O-oh, baik, Dok. Nanti saya ke sana."

"Tapi, kalau memungkinkan, saya harap Ibu datang bersama suami karena hasil pemeriksaan ini menyangkut keluarga Ibu. Jadi, akan lebih baik jika dibicarakan bersama."

Mendadak jantung Alena berdebar kencang. Perasaan tidak nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya.

Entah kenapa, ucapan dokter itu terdengar menakutkan dan membuat pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

"Bu Alena?" panggil Dokter Gita karena tidak mendapat jawaban.

Alena tersadar. "Ah... I-iya, Dok."

"Kalau begitu saya tunggu."

Panggilan pun berakhir.

Alena menatap layar ponselnya beberapa saat dengan perasaan campur aduk. Lalu, ia menarik napas panjang, dan segera membuka aplikasi pesan.

"Mas, Dokter Gita bilang hasil pemeriksaan sudah keluar. Nanti siang kita ke sana, ya."

Ia membaca ulang pesan itu sebelum mengirimkannya. Setelahnya, ia terus menatap layar ponsel, berharap Arsen akan segera membalas pesannya. Tapi, semua itu sia-sia, membuat perasaan sedih kembali menyelimuti hatinya.

Alena menghela napas panjang lalu, meletakkan ponselnya di atas meja.

***

Siang harinya, Alena sudah berada di rumah sakit.

Ia duduk seorang diri di ruang tunggu dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat di atas pangkuan.

Sesekali matanya menatap layar ponsel. Tapi, belum ada balasan dari Arsen.

Alena menghela napas panjang. Perasaannya semakin tidak tenang. Jadi, ia memutuskan untuk menghubungi suaminya secara langsung.

"Halo?" suara Arsen terdengar tidak sabar.

"Mas, kamu di mana?" tanya Alena hati-hati.

"Di kantor. Memangnya kenapa?"

"Ini soal hasil pemeriksaan kita. Dokter Gita meminta kita datang bersama."

Arsen berdecak kesal. "Alena, aku sudah bilang aku sibuk."

"Tapi, Mas—"

Sambungan telepon terputus begitu saja.

Alena menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Dadanya terasa sesak. Ada rasa sakit yang sulit dijelaskan.

Tapi, semua itu segera teralihkan saat perawat memanggil namanya.

"Bu Alena?"

Alena segera berdiri. "Ya."

"Dokter Gita sudah menunggu."

Alena mengangguk lalu mengikuti perawat menuju ruang konsultasi.

Dokter Gita tersenyum, melihat Alena masuk. Namun, senyum itu perlahan memudar saat menyadari Alena datang sendirian.

"Selamat siang, Bu Alena," sapa Dokter Gita.

"Siang, Dok."

Dokter Gita melihat ke arah pintu. "Suaminya belum datang?"

Alena memaksakan untuk tersenyum. "Mas Arsen sedang ada pekerjaan penting, Dok. Jadi, saya datang sendiri."

Dokter Gita tampak ragu. Ia bahkan sempat terdiam beberapa saat.

"Apakah Ibu yakin ingin mendengar hasilnya sendiri?"

Alena mengangguk pelan. "Tidak apa-apa, Dok."

Dokter Gita menarik napas panjang sebelum membuka map berisi hasil pemeriksaan dengan ekspresi berubah serius.

Dan, hal itu berhasil membuat jantung Alena berdebar.

"Sebelumnya, saya ingin menjelaskan bahwa hasil ini bukan untuk menyalahkan siapa pun."

Alena langsung menegakkan duduknya, mendengar dengan seksama.

"Kami sudah memeriksa kondisi reproduksi Ibu dan suami secara menyeluruh. Dan, dari hasil pemeriksaan yang kami dapatkan terdapat gangguan kesuburan yang cukup serius pada salah satu pihak."

Alena membeku. Wajahnya perlahan memucat. "A-apa maksud Dokter?"

Dokter Gita mendorong beberapa lembar hasil pemeriksaan ke arahnya.

"Karena ini menyangkut privasi masing-masing pasien, saya tidak bisa menjelaskan detail pihak yang mengalami masalah tanpa kehadiran yang bersangkutan."

Alena menggenggam hasil pemeriksaan itu dengan tangan gemetar.

"Tapi, yang bisa saya sampaikan, kondisi ini menjadi penyebab utama mengapa kehamilan belum terjadi selama ini."

Ruangan mendadak terasa sesak. Alena bahkan merasa kesulitan bernapas.

"A-apa masih bisa diobati, Dok?" tanyanya dengan suara bergetar.

Dokter Gita terdiam sejenak sebelum menjawab dengan jujur. "Kemungkinannya masih ada."

Mata Alena langsung berbinar penuh harapan. "Benarkah?"

Dokter Gita mengangguk. "Tapi, peluang keberhasilannya tidak besar. Sekitar tiga puluh persen."

"Tiga puluh persen?" lirih Alena dengan air mata yang mulai menggenang. Tapi, ia berusaha keras menahannya.

"Saya tahu ini tidak mudah untuk diterima," ucap Dokter Gita. "Karena itu, saya berharap Ibu bisa datang lagi bersama suami agar kita bisa mendiskusikan langkah selanjutnya."

Alena hanya mampu mengangguk pelan. Pikirannya terasa kosong.

"Saya akan membicarakannya dulu dengan suami saya, Dok."

Dokter Gita hanya mengangguk.

Beberapa menit kemudian, Alena keluar dari ruang konsultasi dengan langkah yang terasa goyah, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Sementara di tangannya masih tergenggam map hasil pemeriksaan.

Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit tanpa benar-benar melihat ke mana ia melangkah. Saat ini pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

"Tiga puluh persen?" bisiknya lirih.

Ia menopang tubuhnya di dinding. Lalu, dengan tangan gemetar, ia mengambil ponselnya dari dalam tas.

"Aku harus menghubungi Mas Arsen," ucapnya.

Bagaimanapun juga, ini menyangkut masa depan mereka. Jadi, pria itu harus tahu tentang hasil pemeriksaan ini.

Alena menekan tombol panggil pada kontak Arsen lalu, menempelkan ponsel ke telinganya. Tapi, sebelum nada sambung terdengar, tubuhnya mendadak membeku. Kedua matanya membelalak sempurna.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang pria yang sangat ia kenal. Pria itu memakai jas abu-abu. Jas yang sama seperti yang Arsen pakai pagi tadi.

Alena mengerjapkan mata beberapa kali, berharap ia salah lihat. Namun sedetik kemudian, pria itu menoleh sedikit. Dan, dunia Alena seolah runtuh saat itu juga.

Itu benar-benar Arsen, suaminya.

Pria yang mengaku sedang sibuk bekerja dan tidak mau meluangkan waktu untuk menemaninya menerima hasil pemeriksaan, saat ini justru berada di rumah sakit bersama seorang wanita berambut panjang yang berdiri sangat dekat dengannya.

Dan, yang lebih membuat Alena sesak, lengan Arsen melingkar mesra di pinggang wanita itu yang tersenyum manja sambil menyandarkan kepala di bahunya.

Ponsel yang berada di tangan Alena perlahan terlepas dan jatuh ke lantai.

"Tidak mungkin," bisiknya lirih. "Mas Arsen... "

Terpopuler

Comments

Ade Chubi

Ade Chubi

kasihan istri nya di bohongin

2026-07-04

0

Heny

Heny

Main cabtik Alena

2026-07-25

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Ponsel Kedua
2 Bab 2 Fakta Yang Mengejutkan
3 Bab 3 Mencari Bukti
4 Bab 4 Kenyataan Yang Menyakitkan
5 Bab 5 Nasihat Nadia
6 Bab 6 Mencari Pekerjaan
7 Bab 7 Tidak Peduli Lagi
8 Bab 8 Kenyataan Pahit
9 Bab 9 Saran Sahabat
10 Bab 10 Mengatur Pertemuan
11 Bab 11 Bertemu
12 Bab 12 Kesan Pertama
13 Bab 13 Penasaran
14 Bab 14 Pertemuan Keluarga?
15 Bab 15 Wawancara
16 Bab 16 Mendapat Pekerjaan
17 Bab 17 Hari Pertama Bekerja
18 Bab 18 Bertemu Kakek Rendra
19 Bab 19 Kabar Baik?
20 Bab 20 Berani Melawan
21 Bab 21 Laporan Santi
22 Bab 22 Ikut Andil
23 Bab 23 Berbeda
24 Bab 24 Marah
25 Bab 25 Persaingan
26 Bab 26 Persaingan 2
27 Bab 27 Kita Adalah Saingan
28 Bab 28 Pemenang
29 Bab 29 Masih Marah
30 Bab 30 Menguntit
31 Bab 31 Harapan Untuk Memulai Hidup Baru
32 Bab 32 Gosip
33 Bab 33 Hampir Saja
34 Bab 34 Perundungan
35 Bab 35 Khawatir
36 Bab 36 Memanfaatkan Keadaan
37 Bab 37 Tindak Tegas
38 Bab 38 Hanya Mimpi
39 Bab 39 Pelakor Yang Tidak Sabaran
40 Bab 40 Surat Gugatan Cerai
41 Bab 41 Sulit Melupakan
42 Bab 42 Aku Tidak Akan Kalah
43 Bab 43 Menemui Pengacara
44 Bab 44 Konsultasi
45 Bab 45 Kepo
46 Bab 46 Mendapat Tekanan
47 Bab 47 Berita Yang Menggiring Opini Publik
48 Bab 48 Saran Jerico
49 Bab 49 Peringatan Erwin
50 Bab 50 Sidang Pertama
51 Bab 51 Berita Perceraian
52 Bab 52 Mediasi
53 Bab 53 Masalah Baru
54 Bab 54 Masalah Baru 2
55 Bab 55 Rapat Darurat
56 Bab 56 Merasa Janggal
57 Bab 57 Mencurigai Seseorang
58 Bab 58 Sidang Kembali Di Mulai
59 Bab 59 Putusan Pengadilan
60 Bab 60 Gertakan
61 Bab 61 Perayaan Kecil
62 Bab 62 Kencan Buta?
63 Bab 63 Selamat Tinggal
64 Bab 64 Biaya Jasa Pengacara
65 Bab 65 Rencana Resign
66 Bab 66 Pencuri?
67 Bab 67 Makan Malam
68 Bab 68 Ingatan Samar
69 Bab 69 Mengundurkan Diri
70 Bab 70 Pergi Ke Rumah Sakit
71 Bab 71 Hampir Saja Percaya
72 Bab 72 Rapat Umum Pemegang Saham
73 Bab 73 Peringatan?
74 Bab 74 Rencana Pernikahan
75 Bab 75 Jebakan Alena
76 Bab 76 Menemukan Kejanggalan
77 Bab 77 Menghadiri Acara Pernikahan
78 Bab 78 Pertunjukan
79 Bab 79 Perusahaan Mulai Kacau
80 Bab 80 Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
81 Bab 81 Kehancuran Keluarga Bhaskara
82 Bab 82 Pemegang Saham Yang Baru
83 Bab 83 Mencoba Kabur
84 Bab 84 Membayar Utang
85 Bab 84 Beri Kami Kesempatan
86 Bab 86 Jangan Ganggu Alena
87 Bab 87 Menyatakan Perasaan
88 Bab 88 Kakek Sakit
89 Bab 89 Tidak Ingin Kakek Terlalu Berharap
90 Bab 90 Berangkat Ke New York
91 Bab 91 Terlambat
92 Bab 92 Aku Akan Menunggumu
93 Bab 93 Tidak Ada Kabar
94 Bab 94 Mempublikasikan Hubungan
95 Bab 95 Mulai Gelisah
96 Bab 96 Bertemu Nadia
97 Bab 97 Takut Terulang
98 Bab 98 Kencan
99 Bab 99 Aku Ingin Tetap Di Sampingmu
100 Bab 100 Aku Bersedia
101 Bab 101 Sah
102 Bab 102 Semoga Kamu Bahagia, Alena
103 Bab 103 Bulan Madu
104 Bab 104 Keluarga Bahagia
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1 Ponsel Kedua
2
Bab 2 Fakta Yang Mengejutkan
3
Bab 3 Mencari Bukti
4
Bab 4 Kenyataan Yang Menyakitkan
5
Bab 5 Nasihat Nadia
6
Bab 6 Mencari Pekerjaan
7
Bab 7 Tidak Peduli Lagi
8
Bab 8 Kenyataan Pahit
9
Bab 9 Saran Sahabat
10
Bab 10 Mengatur Pertemuan
11
Bab 11 Bertemu
12
Bab 12 Kesan Pertama
13
Bab 13 Penasaran
14
Bab 14 Pertemuan Keluarga?
15
Bab 15 Wawancara
16
Bab 16 Mendapat Pekerjaan
17
Bab 17 Hari Pertama Bekerja
18
Bab 18 Bertemu Kakek Rendra
19
Bab 19 Kabar Baik?
20
Bab 20 Berani Melawan
21
Bab 21 Laporan Santi
22
Bab 22 Ikut Andil
23
Bab 23 Berbeda
24
Bab 24 Marah
25
Bab 25 Persaingan
26
Bab 26 Persaingan 2
27
Bab 27 Kita Adalah Saingan
28
Bab 28 Pemenang
29
Bab 29 Masih Marah
30
Bab 30 Menguntit
31
Bab 31 Harapan Untuk Memulai Hidup Baru
32
Bab 32 Gosip
33
Bab 33 Hampir Saja
34
Bab 34 Perundungan
35
Bab 35 Khawatir
36
Bab 36 Memanfaatkan Keadaan
37
Bab 37 Tindak Tegas
38
Bab 38 Hanya Mimpi
39
Bab 39 Pelakor Yang Tidak Sabaran
40
Bab 40 Surat Gugatan Cerai
41
Bab 41 Sulit Melupakan
42
Bab 42 Aku Tidak Akan Kalah
43
Bab 43 Menemui Pengacara
44
Bab 44 Konsultasi
45
Bab 45 Kepo
46
Bab 46 Mendapat Tekanan
47
Bab 47 Berita Yang Menggiring Opini Publik
48
Bab 48 Saran Jerico
49
Bab 49 Peringatan Erwin
50
Bab 50 Sidang Pertama
51
Bab 51 Berita Perceraian
52
Bab 52 Mediasi
53
Bab 53 Masalah Baru
54
Bab 54 Masalah Baru 2
55
Bab 55 Rapat Darurat
56
Bab 56 Merasa Janggal
57
Bab 57 Mencurigai Seseorang
58
Bab 58 Sidang Kembali Di Mulai
59
Bab 59 Putusan Pengadilan
60
Bab 60 Gertakan
61
Bab 61 Perayaan Kecil
62
Bab 62 Kencan Buta?
63
Bab 63 Selamat Tinggal
64
Bab 64 Biaya Jasa Pengacara
65
Bab 65 Rencana Resign
66
Bab 66 Pencuri?
67
Bab 67 Makan Malam
68
Bab 68 Ingatan Samar
69
Bab 69 Mengundurkan Diri
70
Bab 70 Pergi Ke Rumah Sakit
71
Bab 71 Hampir Saja Percaya
72
Bab 72 Rapat Umum Pemegang Saham
73
Bab 73 Peringatan?
74
Bab 74 Rencana Pernikahan
75
Bab 75 Jebakan Alena
76
Bab 76 Menemukan Kejanggalan
77
Bab 77 Menghadiri Acara Pernikahan
78
Bab 78 Pertunjukan
79
Bab 79 Perusahaan Mulai Kacau
80
Bab 80 Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
81
Bab 81 Kehancuran Keluarga Bhaskara
82
Bab 82 Pemegang Saham Yang Baru
83
Bab 83 Mencoba Kabur
84
Bab 84 Membayar Utang
85
Bab 84 Beri Kami Kesempatan
86
Bab 86 Jangan Ganggu Alena
87
Bab 87 Menyatakan Perasaan
88
Bab 88 Kakek Sakit
89
Bab 89 Tidak Ingin Kakek Terlalu Berharap
90
Bab 90 Berangkat Ke New York
91
Bab 91 Terlambat
92
Bab 92 Aku Akan Menunggumu
93
Bab 93 Tidak Ada Kabar
94
Bab 94 Mempublikasikan Hubungan
95
Bab 95 Mulai Gelisah
96
Bab 96 Bertemu Nadia
97
Bab 97 Takut Terulang
98
Bab 98 Kencan
99
Bab 99 Aku Ingin Tetap Di Sampingmu
100
Bab 100 Aku Bersedia
101
Bab 101 Sah
102
Bab 102 Semoga Kamu Bahagia, Alena
103
Bab 103 Bulan Madu
104
Bab 104 Keluarga Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!