Bab 4 Kenyataan Yang Menyakitkan

Alena mulai membuka satu per satu aplikasi yang ada di ponsel itu. Jarinya bergerak gemetar saat membuka aplikasi pesan, galeri, lalu media sosial.

Dan dalam hitungan detik, dunia seolah runtuh di hadapannya. Tubuhnya langsung melemas.

Bukan hanya percakapan mesra yang ia temukan. Tapi, ada foto-foto kebersamaan Arsen dengan wanita lain. Foto saat mereka makan malam berdua. Foto saat wanita itu menyandarkan kepala di bahu Arsen sambil tersenyum bahagia. Bahkan ada foto-foto yang menunjukkan kedekatan yang seharusnya hanya dimiliki seorang suami dan istrinya.

Semuanya tersimpan rapi, membuat napas Alena tercekat. Dadanya terasa sesak hingga sulit mengembang.

Matanya mulai panas saat terus menggulir layar. Apalagi, saat ia menemukan video-video tak senonoh Arsen dengan wanita itu.

Alena memalingkan wajahnya, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Tapi, ia berusaha untuk tenang dan kembali menggulir layar.

Hingga sampai pada pesan mesra keduanya.

Setiap pesan yang ia baca seperti pisau yang menusuk hatinya tanpa ampun.

"Aku kangen."

"Kapan kita ketemu lagi?"

"Dia nggak curiga, kan?"

Dan Arsen membalas semuanya dengan penuh perhatian. Dengan kelembutan yang sudah lama tidak pernah di berikan padanya.

Tangannya refleks menutup mulut sendiri agar tidak mengeluarkan suara tangisan. Ia terus menggulir layar dengan penglihatan yang semakin kabur.

Semakin banyak yang ia lihat, semakin hancur hatinya.

Pria yang selama ini ia cintai ternyata telah membagi perhatiannya untuk wanita lain dan mengkhianatinya tanpa rasa bersalah.

Alena menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa perih. Dadanya terasa begitu sakit.

Sakit yang bahkan tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata.

Ia terus menelusuri isi ponsel itu sampai gerakannya terhenti pada sebuah pesan lama. Pesan yang dikirim satu tahun lalu.

Keningnya berkerut.

Dengan jantung berdebar semakin kencang, ia membuka percakapan pada tanggal tersebut.

Tidak hanya satu atau dua pesan. Tapi, ratusan pesan. Semuanya membuat wajah Alena semakin pucat.

Tangannya gemetar hebat mengetahui kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya, bahwa perselingkuhan itu bukan terjadi beberapa minggu terakhir. Tapi, hubungan itu sudah berlangsung selama satu tahun. Tepat sejak Arsen mulai berubah.

Selama ini, saat Alena duduk menunggu Arsen pulang dengan setia, pria itu justru menghabiskan waktu bersama wanita lain.

Saat ia menangis sendirian karena merasa diabaikan, pria itu sedang memberikan perhatian kepada wanita lain.

Dan selama ini, ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena merasa kurang baik sebagai seorang istri. Padahal, masalahnya bukan pada dirinya melainkan, Arsen yang memilih untuk mengkhianatinya.

Air mata Alena jatuh semakin deras. Tubuhnya perlahan merosot hingga terduduk lemas di lantai kamar mandi yang dingin. Kepalanya tertunduk. Bahu kecilnya bergetar menahan tangis.

Kenapa?

Kenapa Arsen melakukan ini padanya?

Bukankah selama ini ia selalu berusaha menjadi istri yang baik?

Ia selalu mendampingi Arsen. Selalu mengutamakan nya. Lalu, kenapa balasan yang ia terima justru pengkhianatan?

Tapi, beberapa saat Alena segera mengangkat wajahnya.

"Tidak, ini bukan waktunya menangis," gumamnya. "Aku sudah terlalu lama menjadi wanita yang hanya menerima dan memaafkan. Dan, kali ini aku tidak ingin lagi dibodohi."

Dengan tangan gemetar, Alena menarik napas panjang lalu menghapus air matanya. Setelah itu, ia mengambil ponselnya sendiri.

Satu per satu bukti perselingkuhan tersebut mulai ia simpan.

Mulai dari percakapan-percakapan mesra. Foto-foto kebersamaan mereka. Bukti pemesanan hotel. Dan yang membuat dada Alena kembali terasa nyeri, video dan sejumlah bukti transfer dengan nominal yang sangat besar.

Alena memotret semuanya tanpa terlewatkan sedikit pun. Setiap bukti ia simpan dengan teliti.

Hatinya memang hancur. Tetapi malam ini, ia tidak akan membiarkan dirinya hancur tanpa melakukan apa-apa.

Jika Arsen telah memilih mengkhianatinya selama satu tahun penuh, maka ia akan memastikan pria itu tidak bisa lagi menyangkal semua perbuatannya.

Setelah selesai, ia menarik napas dalam, mencari kontak seseorang kemudian menghubunginya.

"Aku butuh bantuan mu."

***

Keesokan paginya, Arsen sudah bersiap seperti biasa.

Pria itu berdiri di depan cermin sambil merapikan dasinya. Setelan jas berwarna gelap yang ia pakai tampak rapi dan sempurna.

Setelah memastikan penampilannya tidak bermasalah, Arsen mengambil tas kerja yang berada di atas sofa.

Ia bersiap berangkat ke kantor.

Namun, baru beberapa langkah menuju pintu kamar, ponsel keduanya yang berada di saku jas bergetar pelan, tanda sebuah pesan masuk.

Arsen segera mengeluarkan ponsel itu dan membuka layar.

Begitu membaca isi pesannya, senyum tipis langsung terbit di sudut bibirnya.

Senyum yang sudah lama tidak pernah ia tunjukkan di hadapan Alena.

Jarinya bergerak cepat mengetik balasan.

"Aku juga merindukan mu. Nanti pulang kerja, aku akan ke sana."

Tidak lama kemudian, pesan itu terkirim.

Arsen memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku sebelum melangkah keluar dari kamar. Tapi, begitu sampai di lantai bawah, langkahnya kembali terhenti.

Tatapannya mengarah ke meja makan, dimana sarapan sudah tersaji.

Roti panggang, telur, dan beberapa menu pendamping tersusun rapi dan, secangkir kopi hangat yang masih mengepulkan uap tipis ke udara.

Semuanya tampak sempurna. Tapi, ada satu hal yang berbeda.

Alena tidak ada di sana.

Arsen mengernyit. Biasanya wanita itu akan duduk menunggunya sambil memastikan ia sarapan sebelum berangkat bekerja.

Bahkan, saat mereka sedang bertengkar sekalipun, Alena tetap menjalankan kebiasaan itu. Tapi pagi ini, wanita itu tidak terlihat.

Pria itu melangkah mendekat. Pandangannya menyapu ruang makan lalu, beralih ke ruang keluarga dan area dapur. Tapi, wanita itu tetap tidak ada.

"Alena?" panggilnya singkat.

Tidak ada jawaban.

Kening Arsen semakin berkerut. Entah kenapa, perasaan aneh kembali muncul sejak semalam.

Tidak lama kemudian, salah seorang asisten rumah tangga keluar dari dapur.

Arsen langsung menoleh. "Alena di mana?" tanyanya.

Santi tampak sedikit ragu sebelum menjawab. "Nyonya sudah pergi sejak pagi sekali, Tuan."

"Pergi?"

"Iya, Tuan. Nyonya bilang ada urusan penting."

Arsen terdiam beberapa saat. Biasanya Alena akan memberi tahu ke mana pun ia pergi. Setidaknya mengirim pesan. Tapi, kali ini tidak ada kabar sama sekali.

"Urusan penting?" Pria itu mengeluarkan ponselnya dan melihat layar sekilas.

Tidak ada pesan, panggilan atau apapun dari Alena.

Hal ini membuat perasaan ganjil itu kembali mengusiknya meski hanya sesaat.

"Cih, apa peduliku." Arsen menyimpan kembali ponselnya. Dan, tidak ingin memikirkannya terlalu jauh.

Lagi pula, saat ini ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya. Bayangan pesan yang baru saja ia terima dari wanita yang membuat hari-harinya bersemangat.

"Ya sudah. Katakan pada Alena, malam ini aku akan lembur," ucap Arsen.

"Baik, tuan."

Arsen berbalik, berjalan keluar rumah.

Beberapa saat kemudian, suara mesin mobilnya menghilang dari halaman.

Ia pergi tanpa menyadari bahwa Alena sudah mengetahui rahasia yang selama satu tahun pria itu sembunyikan.

Dan, Alena tidak pergi karena ingin menghindar, melainkan untuk mempersiapkan langkah berikutnya setelah mengetahui pengkhianatan yang selama ini suaminya lakukan.

Terpopuler

Comments

say't

say't

yg mandul suamimu n anak yg dikandung oleh sephianya adlh anak sumbangan dari brbagai mcm² bentuk p*n*s🤣

2026-07-09

2

Heny

Heny

SUAMI YG GK BERSYUKUR DPT ISTRI SETIA DAN BAIK HATI

2026-07-25

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Ponsel Kedua
2 Bab 2 Fakta Yang Mengejutkan
3 Bab 3 Mencari Bukti
4 Bab 4 Kenyataan Yang Menyakitkan
5 Bab 5 Nasihat Nadia
6 Bab 6 Mencari Pekerjaan
7 Bab 7 Tidak Peduli Lagi
8 Bab 8 Kenyataan Pahit
9 Bab 9 Saran Sahabat
10 Bab 10 Mengatur Pertemuan
11 Bab 11 Bertemu
12 Bab 12 Kesan Pertama
13 Bab 13 Penasaran
14 Bab 14 Pertemuan Keluarga?
15 Bab 15 Wawancara
16 Bab 16 Mendapat Pekerjaan
17 Bab 17 Hari Pertama Bekerja
18 Bab 18 Bertemu Kakek Rendra
19 Bab 19 Kabar Baik?
20 Bab 20 Berani Melawan
21 Bab 21 Laporan Santi
22 Bab 22 Ikut Andil
23 Bab 23 Berbeda
24 Bab 24 Marah
25 Bab 25 Persaingan
26 Bab 26 Persaingan 2
27 Bab 27 Kita Adalah Saingan
28 Bab 28 Pemenang
29 Bab 29 Masih Marah
30 Bab 30 Menguntit
31 Bab 31 Harapan Untuk Memulai Hidup Baru
32 Bab 32 Gosip
33 Bab 33 Hampir Saja
34 Bab 34 Perundungan
35 Bab 35 Khawatir
36 Bab 36 Memanfaatkan Keadaan
37 Bab 37 Tindak Tegas
38 Bab 38 Hanya Mimpi
39 Bab 39 Pelakor Yang Tidak Sabaran
40 Bab 40 Surat Gugatan Cerai
41 Bab 41 Sulit Melupakan
42 Bab 42 Aku Tidak Akan Kalah
43 Bab 43 Menemui Pengacara
44 Bab 44 Konsultasi
45 Bab 45 Kepo
46 Bab 46 Mendapat Tekanan
47 Bab 47 Berita Yang Menggiring Opini Publik
48 Bab 48 Saran Jerico
49 Bab 49 Peringatan Erwin
50 Bab 50 Sidang Pertama
51 Bab 51 Berita Perceraian
52 Bab 52 Mediasi
53 Bab 53 Masalah Baru
54 Bab 54 Masalah Baru 2
55 Bab 55 Rapat Darurat
56 Bab 56 Merasa Janggal
57 Bab 57 Mencurigai Seseorang
58 Bab 58 Sidang Kembali Di Mulai
59 Bab 59 Putusan Pengadilan
60 Bab 60 Gertakan
61 Bab 61 Perayaan Kecil
62 Bab 62 Kencan Buta?
63 Bab 63 Selamat Tinggal
64 Bab 64 Biaya Jasa Pengacara
65 Bab 65 Rencana Resign
66 Bab 66 Pencuri?
67 Bab 67 Makan Malam
68 Bab 68 Ingatan Samar
69 Bab 69 Mengundurkan Diri
70 Bab 70 Pergi Ke Rumah Sakit
71 Bab 71 Hampir Saja Percaya
72 Bab 72 Rapat Umum Pemegang Saham
73 Bab 73 Peringatan?
74 Bab 74 Rencana Pernikahan
75 Bab 75 Jebakan Alena
76 Bab 76 Menemukan Kejanggalan
77 Bab 77 Menghadiri Acara Pernikahan
78 Bab 78 Pertunjukan
79 Bab 79 Perusahaan Mulai Kacau
80 Bab 80 Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
81 Bab 81 Kehancuran Keluarga Bhaskara
82 Bab 82 Pemegang Saham Yang Baru
83 Bab 83 Mencoba Kabur
84 Bab 84 Membayar Utang
85 Bab 84 Beri Kami Kesempatan
86 Bab 86 Jangan Ganggu Alena
87 Bab 87 Menyatakan Perasaan
88 Bab 88 Kakek Sakit
89 Bab 89 Tidak Ingin Kakek Terlalu Berharap
90 Bab 90 Berangkat Ke New York
91 Bab 91 Terlambat
92 Bab 92 Aku Akan Menunggumu
93 Bab 93 Tidak Ada Kabar
94 Bab 94 Mempublikasikan Hubungan
95 Bab 95 Mulai Gelisah
96 Bab 96 Bertemu Nadia
97 Bab 97 Takut Terulang
98 Bab 98 Kencan
99 Bab 99 Aku Ingin Tetap Di Sampingmu
100 Bab 100 Aku Bersedia
101 Bab 101 Sah
102 Bab 102 Semoga Kamu Bahagia, Alena
103 Bab 103 Bulan Madu
104 Bab 104 Keluarga Bahagia
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1 Ponsel Kedua
2
Bab 2 Fakta Yang Mengejutkan
3
Bab 3 Mencari Bukti
4
Bab 4 Kenyataan Yang Menyakitkan
5
Bab 5 Nasihat Nadia
6
Bab 6 Mencari Pekerjaan
7
Bab 7 Tidak Peduli Lagi
8
Bab 8 Kenyataan Pahit
9
Bab 9 Saran Sahabat
10
Bab 10 Mengatur Pertemuan
11
Bab 11 Bertemu
12
Bab 12 Kesan Pertama
13
Bab 13 Penasaran
14
Bab 14 Pertemuan Keluarga?
15
Bab 15 Wawancara
16
Bab 16 Mendapat Pekerjaan
17
Bab 17 Hari Pertama Bekerja
18
Bab 18 Bertemu Kakek Rendra
19
Bab 19 Kabar Baik?
20
Bab 20 Berani Melawan
21
Bab 21 Laporan Santi
22
Bab 22 Ikut Andil
23
Bab 23 Berbeda
24
Bab 24 Marah
25
Bab 25 Persaingan
26
Bab 26 Persaingan 2
27
Bab 27 Kita Adalah Saingan
28
Bab 28 Pemenang
29
Bab 29 Masih Marah
30
Bab 30 Menguntit
31
Bab 31 Harapan Untuk Memulai Hidup Baru
32
Bab 32 Gosip
33
Bab 33 Hampir Saja
34
Bab 34 Perundungan
35
Bab 35 Khawatir
36
Bab 36 Memanfaatkan Keadaan
37
Bab 37 Tindak Tegas
38
Bab 38 Hanya Mimpi
39
Bab 39 Pelakor Yang Tidak Sabaran
40
Bab 40 Surat Gugatan Cerai
41
Bab 41 Sulit Melupakan
42
Bab 42 Aku Tidak Akan Kalah
43
Bab 43 Menemui Pengacara
44
Bab 44 Konsultasi
45
Bab 45 Kepo
46
Bab 46 Mendapat Tekanan
47
Bab 47 Berita Yang Menggiring Opini Publik
48
Bab 48 Saran Jerico
49
Bab 49 Peringatan Erwin
50
Bab 50 Sidang Pertama
51
Bab 51 Berita Perceraian
52
Bab 52 Mediasi
53
Bab 53 Masalah Baru
54
Bab 54 Masalah Baru 2
55
Bab 55 Rapat Darurat
56
Bab 56 Merasa Janggal
57
Bab 57 Mencurigai Seseorang
58
Bab 58 Sidang Kembali Di Mulai
59
Bab 59 Putusan Pengadilan
60
Bab 60 Gertakan
61
Bab 61 Perayaan Kecil
62
Bab 62 Kencan Buta?
63
Bab 63 Selamat Tinggal
64
Bab 64 Biaya Jasa Pengacara
65
Bab 65 Rencana Resign
66
Bab 66 Pencuri?
67
Bab 67 Makan Malam
68
Bab 68 Ingatan Samar
69
Bab 69 Mengundurkan Diri
70
Bab 70 Pergi Ke Rumah Sakit
71
Bab 71 Hampir Saja Percaya
72
Bab 72 Rapat Umum Pemegang Saham
73
Bab 73 Peringatan?
74
Bab 74 Rencana Pernikahan
75
Bab 75 Jebakan Alena
76
Bab 76 Menemukan Kejanggalan
77
Bab 77 Menghadiri Acara Pernikahan
78
Bab 78 Pertunjukan
79
Bab 79 Perusahaan Mulai Kacau
80
Bab 80 Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
81
Bab 81 Kehancuran Keluarga Bhaskara
82
Bab 82 Pemegang Saham Yang Baru
83
Bab 83 Mencoba Kabur
84
Bab 84 Membayar Utang
85
Bab 84 Beri Kami Kesempatan
86
Bab 86 Jangan Ganggu Alena
87
Bab 87 Menyatakan Perasaan
88
Bab 88 Kakek Sakit
89
Bab 89 Tidak Ingin Kakek Terlalu Berharap
90
Bab 90 Berangkat Ke New York
91
Bab 91 Terlambat
92
Bab 92 Aku Akan Menunggumu
93
Bab 93 Tidak Ada Kabar
94
Bab 94 Mempublikasikan Hubungan
95
Bab 95 Mulai Gelisah
96
Bab 96 Bertemu Nadia
97
Bab 97 Takut Terulang
98
Bab 98 Kencan
99
Bab 99 Aku Ingin Tetap Di Sampingmu
100
Bab 100 Aku Bersedia
101
Bab 101 Sah
102
Bab 102 Semoga Kamu Bahagia, Alena
103
Bab 103 Bulan Madu
104
Bab 104 Keluarga Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!