Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Bab 1 Ponsel Kedua

Malam sudah hampir melewati pukul sebelas tapi, Alena masih duduk di ruang makan dengan meja yang penuh dengan hidangan yang sejak tadi ia biarkan dingin.

Sup ayam yang ia masak sore tadi sudah tidak lagi mengeluarkan uap. Begitu juga nasi hangat yang kini mulai mengeras di dalam rice cooker.

Namun, seperti malam-malam sebelumnya, Alena tetap menunggu suaminya pulang.

Wanita itu melirik jam dinding untuk kesekian kalinya sebelum menghela napas pelan. Ia lalu meraih ponselnya dan membuka ruang chat suaminya.

"Apa Mas pulang malam lagi?"

Jarinya menggantung di atas layar beberapa detik dan, akhirnya ia menghapus kembali pesan itu.

Sudah terlalu sering ia bertanya seperti itu dan jawabannya selalu sama.

'Aku sibuk.' Atau, lebih buruknya tidak dibalas sama sekali.

Tapi, tidak berapa lama, suara mobil terdengar memasuki halaman rumah, membuat Alena spontan berdiri. Wajah lelahnya sedikit berubah lega. Dengan cepat ia berjalan menuju pintu utama dan membukanya. Ia melihat Arsen baru saja turun dari mobil.

Pria itu tampak lelah dengan setelan jas abu-abu yang sedikit kusut. Tapi, wajah tampannya terlihat dingin seperti biasa.

"Mas udah makan?" Tanya Alena lembut.

Arsen mengangguk singkat sambil melewatinya begitu saja.

"Hm!"

Hanya satu deheman saja. Tidak ada senyuman ataupun tatapan hangat.

Alena menatap punggung suaminya yang berjalan menuju ruang tengah tanpa benar-benar memedulikan dirinya.

Dadanya terasa sesak. Namun seperti biasa, ia mengabaikan perasaan itu dan selalu berpikir, mungkin suaminya memang lelah bekerja.

Alena menutup pintu perlahan sebelum mengikuti langkah pria itu.

"Aku hangatin makanannya ya, Mas. Tadi, aku masak sup favorit Mas."

"Tidak usah," jawab Arsen datar. Ia melonggarkan dasinya lalu, duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. "Aku lelah. Mau langsung istirahat."

Alena terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baik," lirihnya, tanpa ada lagi yang bisa ia katakan.

Satu tahun terakhir, rumah tangga mereka memang terasa berbeda.

Arsen semakin sibuk di perusahaan. Sikapnya semakin dingin dan, terasa jauh darinya. Bahkan, pria itu jarang menyentuhnya lagi. Tapi, Alena terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua baik-baik saja karena, ia percaya pada suaminya.

Arsen lalu berdiri dan berjalan menuju kamar tanpa mengatakan apa pun lagi.

Alena memandangi meja makan yang masih penuh sesaat, sebelum memaksakan senyum kecil.

"Sudahlah," gumamnya lirih.

Setelah membereskan semuanya, Alena menyusul Arsen ke kamar mereka. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi saat suara gemericik air terdengar samar dari dalam sana.

Alena mengambil jas suaminya yang tergeletak di atas sofa lalu, berniat menggantungnya seperti biasa tapi, sesuatu terjatuh dari saku bagian dalam.

Alena mengernyit bingung. "Ponsel?" Ia mengambil benda itu perlahan, mengamatinya dengan tatapan penasaran. "Ini bukan ponsel yang biasa Mas Arsen gunakan," gumamnya.

Ponsel Arsen adalah ponsel keluaran terbaru sedangkan, ponsel itu berwarna hitam polos dengan casing sederhana.

"Mungkin ponsel untuk kerja." Alena ingin meletakkannya kembali. Namun, layar ponsel tiba-tiba menyala saat satu pesan masuk, muncul di sana.

Alena membaca pesan tersebut. Dan, dalam satu detik, dunia Alena terasa berhenti berputar, membaca pesan yang berisi kalimat mesra dengan nama pengirim yang menggunakan emoji love.

'Aku kangen sama kamu, mas.'

Tubuh Alena membeku. Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan. Tangannya perlahan gemetar.

"Tidak mungkin," gumam Alena lirih. Ia bahkan tidak bisa berpikir jernih. "Mungkin, ini rekan kerja Mas Arsen. Tapi, kenapa di simpan dengan tanda hati? Atau—"

Belum selesai ia berspekulasi, pesan lain masuk lagi.

'Besok kamu jadi nginap, kan?'

Wajah Alena mendadak pucat.

Suara air dari kamar mandi masih terdengar jelas, menandakan Arsen masih di dalam. Sementara, Alena berdiri membatu di samping sofa dengan napas memburu.

Matanya terus menatap layar ponsel itu seolah berharap semua ini hanya mimpi buruk. Namun, rasa takut perlahan berubah menjadi dorongan besar untuk mengetahui kebenaran.

Dengan tangan dingin, Alena mencoba membuka layar ponsel tersebut.

Arsen yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung membeku saat melihat ponselnya berada di tangan Alena. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Dengan langkah cepat, ia menghampiri Alena dan merebut ponsel itu dari tangan istrinya.

"Mas!" Alena terkejut.

Arsen menatap layar ponselnya. Rahangnya mengeras, sementara telapak tangannya mulai berkeringat.

Alena berdiri, menatap tajam suaminya.

"Siapa itu, Mas?" tanyanya dengan nada curiga. "Kenapa dia mengirim pesan mesra seperti itu?"

"Bukan siapa-siapa," jawab Arsen cepat. "Cuma rekan kerja."

"Rekan kerja?" Alena mengernyit. "Kalau rekan kerja, kenapa namanya disimpan pakai tanda hati?"

Arsen terdiam sesaat. Pertanyaan itu membuatnya kehilangan jawaban. Namun bukannya menjelaskan, ia justru balik menyerang.

"Alena, kamu ini kenapa sih?" bentaknya.

Alena tertegun. "Aku cuma bertanya baik-baik."

"Tapi, kamu sudah membuka ponselku tanpa izin!"

Nada suara Arsen semakin tinggi. Kemarahan yang sebenarnya muncul karena rasa panik kini ia tumpahkan kepada Alena.

"Itu privasi ku! Siapa yang menyuruh kamu mengutak-atik ponselku?"

Alena menggeleng tidak percaya. "Ponsel itu jatuh dari jas kamu, Mas. Dan, itu juga bukan ponsel yang biasa kamu pakai, 'kan?"

"I-ini ponsel untuk urusan kerja," jawabnya sambil memalingkan wajahnya.

Alena menatap suaminya. Dadanya mulai terasa sesak.

Sejak menikah, baru kali ini Arsen terlihat marah hanya karena sebuah pertanyaan sederhana.

"Kalau memang itu ponsel untuk kerja, kenapa Mas marah seperti ini?" tanya Alena pelan.

Pertanyaan itu justru membuat Arsen semakin kesal.

Hari itu ia memang sedang berada dalam kondisi buruk. Seharian penuh ia bekerja menghadapi tekanan dari kantor. Target yang menumpuk, klien yang terus menuntut, dan perjalanan pulang yang melelahkan membuat emosinya sudah berada di ujung tanduk.

Ia ingin pulang untuk beristirahat. Bukan untuk diinterogasi.

"Aku capek, Alena!" serunya. "Seharian aku kerja banting tulang cari uang untuk keluarga ini. Begitu sampai rumah, kamu malah nuduh aku macam-macam."

"Siapa yang menuduh, Mas? Aku hanya bertanya."

"Pertanyaan mu itu sama saja dengan tuduhan!"

Alena menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai memanas menahan air mata. Namun, Arsen tidak peduli.

"Kadang aku heran sama kamu," lanjutnya. "Seharian di rumah, tapi pikirannya malah ke mana-mana."

Alena mengangkat kepala perlahan. "Apa maksud Mas?"

Arsen tertawa sinis. "Kamu tidak tahu rasanya bekerja di luar sana. Tidak tahu tekanan pekerjaan. Tidak tahu bagaimana susahnya mencari uang."

Setiap kata yang keluar dari mulut Arsen terasa seperti pisau yang menusuk hati Alena.

"Makanya, jangan sedikit-sedikit curiga. Dunia tidak sesempit dapur dan ruang tamu yang setiap hari kamu lihat."

Wajah Alena langsung memucat. Kalimat itu begitu merendahkan.

Selama ini, ia memang hanya seorang ibu rumah tangga. Meski di rumah ini ada asisten rumah tangga, tapi ia yang mengurus rumah, memasak untuk Arsen dan memastikan kebutuhan pria itu terpenuhi setiap hari.

Mungkin pekerjaannya tidak menghasilkan uang. Namun, bukan berarti tidak berharga.

"Jadi, sekarang pekerjaanku tidak berarti?" tanya Alena lirih.

Arsen berdecak kesal. "Aku tidak bilang begitu."

"Jangan lupa, Mas. Kamu yang dulu memintaku untuk berhenti bekerja dan fokus mengurus rumah. Tapi, sekarang kamu memperlakukanku seperti itu."

Arsen menghela napas kasar. "Aduh, jangan dibesar-besarkan."

Air mata akhirnya jatuh di pipi Alena. Ia tidak menangis karena pesan dari wanita itu tapi, karena sikap suaminya. Karena pria yang dulu selalu menghargainya kini justru meremehkan semua pengorbanannya.

"Aku cuma ingin penjelasan," ucap Alena dengan suara bergetar. "Kalau memang dia hanya rekan kerja, kenapa Mas tidak bisa menjawab dengan jujur?"

Arsen memalingkan wajah.

Sikap itu membuat hati Alena semakin tenggelam. Ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan dalam pernikahan mereka.

Dan yang lebih menyakitkan lagi, ketidakpercayaan.

Alena menatap Arsen yang masih menggenggam erat ponselnya, seolah benda itu jauh lebih penting daripada perasaan istrinya sendiri.

Dalam keheningan yang menyesakkan itu, Alena mulai menyadari, kadang-kadang, seseorang tidak perlu mengaku untuk menunjukkan bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu.

Cara mereka bereaksi saat kebenaran hampir terbongkar sudah menjadi jawaban yang paling jelas.

Terpopuler

Comments

Yuni Ngsih

Yuni Ngsih

Authooor ceritra baru nongol ko bikin ku ngeneeeees banget ada lk" mokondo ky gitu udah ketahuan ngga ngaku dasar....Alena yg sabar yah ....badai pasti berlalu & akan muncul pelangi ...lanjut Thor

2026-08-01

0

Neng Saripah

Neng Saripah

belum apa2 udah nyesek euy...kira2 sanggup lanjut ga ya aku 😱

2026-06-23

3

74 Jameela

74 Jameela

hhhmmm..udh berasa waduh sdkit tegang...🤭

2026-07-23

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Ponsel Kedua
2 Bab 2 Fakta Yang Mengejutkan
3 Bab 3 Mencari Bukti
4 Bab 4 Kenyataan Yang Menyakitkan
5 Bab 5 Nasihat Nadia
6 Bab 6 Mencari Pekerjaan
7 Bab 7 Tidak Peduli Lagi
8 Bab 8 Kenyataan Pahit
9 Bab 9 Saran Sahabat
10 Bab 10 Mengatur Pertemuan
11 Bab 11 Bertemu
12 Bab 12 Kesan Pertama
13 Bab 13 Penasaran
14 Bab 14 Pertemuan Keluarga?
15 Bab 15 Wawancara
16 Bab 16 Mendapat Pekerjaan
17 Bab 17 Hari Pertama Bekerja
18 Bab 18 Bertemu Kakek Rendra
19 Bab 19 Kabar Baik?
20 Bab 20 Berani Melawan
21 Bab 21 Laporan Santi
22 Bab 22 Ikut Andil
23 Bab 23 Berbeda
24 Bab 24 Marah
25 Bab 25 Persaingan
26 Bab 26 Persaingan 2
27 Bab 27 Kita Adalah Saingan
28 Bab 28 Pemenang
29 Bab 29 Masih Marah
30 Bab 30 Menguntit
31 Bab 31 Harapan Untuk Memulai Hidup Baru
32 Bab 32 Gosip
33 Bab 33 Hampir Saja
34 Bab 34 Perundungan
35 Bab 35 Khawatir
36 Bab 36 Memanfaatkan Keadaan
37 Bab 37 Tindak Tegas
38 Bab 38 Hanya Mimpi
39 Bab 39 Pelakor Yang Tidak Sabaran
40 Bab 40 Surat Gugatan Cerai
41 Bab 41 Sulit Melupakan
42 Bab 42 Aku Tidak Akan Kalah
43 Bab 43 Menemui Pengacara
44 Bab 44 Konsultasi
45 Bab 45 Kepo
46 Bab 46 Mendapat Tekanan
47 Bab 47 Berita Yang Menggiring Opini Publik
48 Bab 48 Saran Jerico
49 Bab 49 Peringatan Erwin
50 Bab 50 Sidang Pertama
51 Bab 51 Berita Perceraian
52 Bab 52 Mediasi
53 Bab 53 Masalah Baru
54 Bab 54 Masalah Baru 2
55 Bab 55 Rapat Darurat
56 Bab 56 Merasa Janggal
57 Bab 57 Mencurigai Seseorang
58 Bab 58 Sidang Kembali Di Mulai
59 Bab 59 Putusan Pengadilan
60 Bab 60 Gertakan
61 Bab 61 Perayaan Kecil
62 Bab 62 Kencan Buta?
63 Bab 63 Selamat Tinggal
64 Bab 64 Biaya Jasa Pengacara
65 Bab 65 Rencana Resign
66 Bab 66 Pencuri?
67 Bab 67 Makan Malam
68 Bab 68 Ingatan Samar
69 Bab 69 Mengundurkan Diri
70 Bab 70 Pergi Ke Rumah Sakit
71 Bab 71 Hampir Saja Percaya
72 Bab 72 Rapat Umum Pemegang Saham
73 Bab 73 Peringatan?
74 Bab 74 Rencana Pernikahan
75 Bab 75 Jebakan Alena
76 Bab 76 Menemukan Kejanggalan
77 Bab 77 Menghadiri Acara Pernikahan
78 Bab 78 Pertunjukan
79 Bab 79 Perusahaan Mulai Kacau
80 Bab 80 Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
81 Bab 81 Kehancuran Keluarga Bhaskara
82 Bab 82 Pemegang Saham Yang Baru
83 Bab 83 Mencoba Kabur
84 Bab 84 Membayar Utang
85 Bab 84 Beri Kami Kesempatan
86 Bab 86 Jangan Ganggu Alena
87 Bab 87 Menyatakan Perasaan
88 Bab 88 Kakek Sakit
89 Bab 89 Tidak Ingin Kakek Terlalu Berharap
90 Bab 90 Berangkat Ke New York
91 Bab 91 Terlambat
92 Bab 92 Aku Akan Menunggumu
93 Bab 93 Tidak Ada Kabar
94 Bab 94 Mempublikasikan Hubungan
95 Bab 95 Mulai Gelisah
96 Bab 96 Bertemu Nadia
97 Bab 97 Takut Terulang
98 Bab 98 Kencan
99 Bab 99 Aku Ingin Tetap Di Sampingmu
100 Bab 100 Aku Bersedia
101 Bab 101 Sah
102 Bab 102 Semoga Kamu Bahagia, Alena
103 Bab 103 Bulan Madu
104 Bab 104 Keluarga Bahagia
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1 Ponsel Kedua
2
Bab 2 Fakta Yang Mengejutkan
3
Bab 3 Mencari Bukti
4
Bab 4 Kenyataan Yang Menyakitkan
5
Bab 5 Nasihat Nadia
6
Bab 6 Mencari Pekerjaan
7
Bab 7 Tidak Peduli Lagi
8
Bab 8 Kenyataan Pahit
9
Bab 9 Saran Sahabat
10
Bab 10 Mengatur Pertemuan
11
Bab 11 Bertemu
12
Bab 12 Kesan Pertama
13
Bab 13 Penasaran
14
Bab 14 Pertemuan Keluarga?
15
Bab 15 Wawancara
16
Bab 16 Mendapat Pekerjaan
17
Bab 17 Hari Pertama Bekerja
18
Bab 18 Bertemu Kakek Rendra
19
Bab 19 Kabar Baik?
20
Bab 20 Berani Melawan
21
Bab 21 Laporan Santi
22
Bab 22 Ikut Andil
23
Bab 23 Berbeda
24
Bab 24 Marah
25
Bab 25 Persaingan
26
Bab 26 Persaingan 2
27
Bab 27 Kita Adalah Saingan
28
Bab 28 Pemenang
29
Bab 29 Masih Marah
30
Bab 30 Menguntit
31
Bab 31 Harapan Untuk Memulai Hidup Baru
32
Bab 32 Gosip
33
Bab 33 Hampir Saja
34
Bab 34 Perundungan
35
Bab 35 Khawatir
36
Bab 36 Memanfaatkan Keadaan
37
Bab 37 Tindak Tegas
38
Bab 38 Hanya Mimpi
39
Bab 39 Pelakor Yang Tidak Sabaran
40
Bab 40 Surat Gugatan Cerai
41
Bab 41 Sulit Melupakan
42
Bab 42 Aku Tidak Akan Kalah
43
Bab 43 Menemui Pengacara
44
Bab 44 Konsultasi
45
Bab 45 Kepo
46
Bab 46 Mendapat Tekanan
47
Bab 47 Berita Yang Menggiring Opini Publik
48
Bab 48 Saran Jerico
49
Bab 49 Peringatan Erwin
50
Bab 50 Sidang Pertama
51
Bab 51 Berita Perceraian
52
Bab 52 Mediasi
53
Bab 53 Masalah Baru
54
Bab 54 Masalah Baru 2
55
Bab 55 Rapat Darurat
56
Bab 56 Merasa Janggal
57
Bab 57 Mencurigai Seseorang
58
Bab 58 Sidang Kembali Di Mulai
59
Bab 59 Putusan Pengadilan
60
Bab 60 Gertakan
61
Bab 61 Perayaan Kecil
62
Bab 62 Kencan Buta?
63
Bab 63 Selamat Tinggal
64
Bab 64 Biaya Jasa Pengacara
65
Bab 65 Rencana Resign
66
Bab 66 Pencuri?
67
Bab 67 Makan Malam
68
Bab 68 Ingatan Samar
69
Bab 69 Mengundurkan Diri
70
Bab 70 Pergi Ke Rumah Sakit
71
Bab 71 Hampir Saja Percaya
72
Bab 72 Rapat Umum Pemegang Saham
73
Bab 73 Peringatan?
74
Bab 74 Rencana Pernikahan
75
Bab 75 Jebakan Alena
76
Bab 76 Menemukan Kejanggalan
77
Bab 77 Menghadiri Acara Pernikahan
78
Bab 78 Pertunjukan
79
Bab 79 Perusahaan Mulai Kacau
80
Bab 80 Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
81
Bab 81 Kehancuran Keluarga Bhaskara
82
Bab 82 Pemegang Saham Yang Baru
83
Bab 83 Mencoba Kabur
84
Bab 84 Membayar Utang
85
Bab 84 Beri Kami Kesempatan
86
Bab 86 Jangan Ganggu Alena
87
Bab 87 Menyatakan Perasaan
88
Bab 88 Kakek Sakit
89
Bab 89 Tidak Ingin Kakek Terlalu Berharap
90
Bab 90 Berangkat Ke New York
91
Bab 91 Terlambat
92
Bab 92 Aku Akan Menunggumu
93
Bab 93 Tidak Ada Kabar
94
Bab 94 Mempublikasikan Hubungan
95
Bab 95 Mulai Gelisah
96
Bab 96 Bertemu Nadia
97
Bab 97 Takut Terulang
98
Bab 98 Kencan
99
Bab 99 Aku Ingin Tetap Di Sampingmu
100
Bab 100 Aku Bersedia
101
Bab 101 Sah
102
Bab 102 Semoga Kamu Bahagia, Alena
103
Bab 103 Bulan Madu
104
Bab 104 Keluarga Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!