Bab 3 Mencari Bukti

Sebuah mobil berhenti dengan mulus di depan sebuah kafe. Tidak lama kemudian, seorang wanita turun dari dalam mobil dan melangkah tergesa-gesa menuju pintu masuk.

Begitu berada di dalam, matanya langsung menyapu setiap sudut ruangan, mencari seseorang. Saat menemukan sosok yang ia cari, wanita itu segera menghampirinya.

"Alena!" Wanita itu duduk di hadapan Alena dengan wajah khawatir. "Apa yang terjadi?"

Alena hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya tanpa berniat memakannya sedikit pun. Matanya sembab, sementara bibirnya bergetar menahan tangis.

"Nad... Mas Arsen selingkuh," lirih Alena dengan suara serak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.

"Apa?" Nadia membelalak tidak percaya. Tanpa pikir panjang, ia segera berpindah ke kursi di samping Alena dan memeluk sahabatnya erat.

"Alena..."

"Semalam aku menemukan ponsel lain milik Mas Arsen," lanjut Alena dengan suara bergetar. "Lalu, ada pesan mesra masuk. Mas Arsen bilang itu cuma rekan kerjanya, tapi nomor itu disimpan pakai tanda hati."

Nadia mengusap bahu Alena perlahan, berusaha menenangkannya.

"Terus, siang ini aku mengajaknya menemui Dokter Gita. Tapi, dia menolak dan bilang sedang sibuk." Alena mengusap air matanya kasar. "Tapi, ternyata aku melihat dia di rumah sakit bersama seorang wanita. Mereka terlihat sangat mesra, Nad."

Tangis Alena pecah, membuat beberapa pengunjung melirik ke arah mereka.

Nadia tersenyum canggung, melihat orang-orang yang memperhatikan mereka sebelum kembali fokus pada sahabatnya.

"Sudah, Alena. Jangan menangis."

Alena langsung menegakkan tubuhnya dengan mata merah.

"Aku sedang sedih, Nad. Kenapa aku tidak boleh menangis?"

"Bu-bukan begitu," seru Nadia panik. "Maksudku, pria brengsek seperti Arsen tidak pantas ditangisi."

Mendengar itu, Alena langsung menghapus air matanya.

"Kamu tenang dulu, ya?" Nadia mengambil beberapa lembar tisu dan membantu menghapus air mata di wajah Alena. "Kalau kamu seperti ini, aku jadi bingung harus bagaimana."

Beberapa menit berlalu. Setelah tangis Alena mereda, Nadia menatapnya serius.

"Aku tidak mengerti. Kamu melihat Arsen bersama wanita lain, tapi kenapa kamu tidak melabraknya?"

Alena menunduk. "Aku sudah tidak punya kekuatan untuk melakukan itu, Nad."

"Hah..." Nadia menggeleng kesal. "Kalau aku yang ada di sana, sudah aku jambak wanita itu sampai botak."

Alena tersenyum tipis di tengah kesedihannya. "Aku percaya kamu akan melakukannya."

"Tentu saja." Nadia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menghela napas panjang. "Lalu, sekarang apa yang akan kamu lakukan? Bercerai?"

Pertanyaan itu membuat Alena terdiam.

Pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Hubungannya dengan Arsen bukan hubungan yang baru berjalan satu atau dua tahun. Mereka saling mengenal sejak duduk di bangku kuliah. Bersama-sama membangun mimpi, melewati kesulitan, hingga akhirnya menikah tiga tahun lalu.

Alena tidak pernah menyangka pria yang selama ini ia cintai bisa mengkhianatinya dengan begitu mudah.

"Alena!" Panggil Nadia.

Alena tersadar, lalu menunduk sambil mengaduk minumannya perlahan.

"Kalau aku meminta cerai... Bukankah itu sama saja memberinya jalan untuk bersama wanita itu?"

Nadia terdiam.

"Kami sudah bersama begitu lama. Aku sudah mengorbankan banyak hal untuk hubungan ini." Alena menggigit bibir bawahnya. "Rasanya sangat tidak adil kalau justru aku yang harus pergi."

Nadia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Lalu, apa rencana mu? Kalau kamu tidak mau bercerai, apa kamu akan bertahan? Jangan menjadi wanita bodoh, Lena."

Alena terdiam sesaat. Tatapannya kosong menatap minuman di dalam gelas. Tapi, sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat tipis.

"Aku akan mencari bukti perselingkuhan mereka. Lalu, mengalihkan semua harta atas namaku."

Nadia tertegun sebelum akhirnya tertawa. Begitu juga dengan Alena yang ikut tertawa keras. Namun, tawa itu perlahan memudar, berganti dengan tatapan sendu.

"Aku terdengar seperti perampok, ya?" lirih Alena.

"Dasar bodoh." Nadia mencubit lengan sahabatnya pelan. "Justru itu rencana yang bagus."

Alena menatap sahabatnya.

"Mereka harus membayar rasa sakit yang kamu rasakan, Len," lanjut Nadia dengan sorot mata yang berubah tajam. "Sekarang, berhenti menangis dan mulai berpikir."

"Maksudmu?"

"Kumpulkan bukti sebanyak mungkin. Foto, pesan, rekaman, apa pun yang bisa membuktikan perselingkuhan mereka."

Alena terdiam mendengarkan.

"Jangan bertindak gegabah agar mereka lengah," lanjut Nadia.

Tatapan Alena perlahan berubah.

Kesedihan yang ia rasakan perlahan berubah menjadi sebuah tekad kuat.

Mungkin, pernikahannya sedang berada di ambang kehancuran. Tapi, ia akan bertahan dan tidak akan membiarkan dirinya menjadi satu-satunya pihak yang terluka.

***

Malam harinya, Arsen pulang larut seperti biasa. Setelah memarkir mobil, pria itu melangkah masuk dengan wajah lelah setelah seharian bekerja.

Namun, begitu membuka pintu utama, langkahnya sempat terhenti.

Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Biasanya, Alena akan menyambutnya, tidak peduli seberapa larut ia pulang. Tapi malam ini, rumah terasa begitu sepi.

Arsen mengernyit tipis.

Matanya menyapu sekeliling sebelum kembali melangkah masuk. Saat melewati ruang makan, langkahnya kembali terhenti. Meja makan yang biasanya masih menyisakan hidangan untuknya kini terlihat kosong.

Arsen hanya tersenyum miring.

"Sudah menyerah menunggu, ya?" gumamnya pelan.

Entah kenapa, ada sedikit rasa tidak nyaman yang menyelinap di dadanya. Namun, ia memilih mengabaikannya. Baginya, itu bukan sesuatu yang penting.

Pria itu segera menaiki tangga menuju lantai atas.

Sesampainya di depan kamar, ia membuka pintu perlahan. Tatapannya langsung menemukan sosok Alena yang tengah terbaring di atas ranjang. Wanita itu terlihat sudah tertidur lelap.

"Tumben sekali."

Arsen menutup pintu lalu meletakkan jas dan tas kerjanya di sofa. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Tidak lama kemudian, ia keluar dengan pakaian tidur berwarna gelap. Lalu, ia naik ke atas ranjang dan berbaring membelakangi Alena.

Dalam hitungan menit, napasnya mulai teratur. Lelah yang menumpuk membuatnya tertidur begitu cepat.

Kelopak mata Alena yang sejak tadi terpejam perlahan terbuka saat mendengar dengkuran halus dari mulut Arsen.

Wanita itu menoleh, menatap punggung Arsen dengan sorot mata yang berbeda. Ia menunggu beberapa menit lagi untuk memastikan Arsen benar-benar tertidur.

Setelah yakin, Alena bergerak perlahan. Ia menyingkap selimut tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Tapi, justru hal itu membuat jantungnya berdegup kencang hingga terasa memekakkan telinga.

Alena menahan napas saat mencari ponsel lain milik Arsen. Tangannya sampai bergetar saat menemukannya.

Dengan hati-hati, ia mengambil benda itu lalu berjalan menuju kamar mandi.

Begitu pintu tertutup, Alena langsung menyalakan lampu redup dan mencoba membuka layar ponsel tersebut.

Namun, harapannya langsung pupus. Layar meminta verifikasi sidik jari.

"Sial!" bisiknya pelan.

Alena menggigit bibir bawahnya. Ia mencoba beberapa kemungkinan kata sandi, tetapi semuanya gagal. Jika terlalu banyak percobaan, ponsel itu bisa terkunci permanen.

Dengan napas memburu, ia mematikan layar lalu kembali keluar dari kamar mandi.

Matanya tertuju pada Arsen yang masih tertidur pulas. Lalu, ia melangkah mendekat ke sisi ranjang. Dan, dengan sangat hati-hati, ia mengangkat tangan kanan Arsen.

Alena langsung membeku saat pria itu sedikit bergerak. Napasnya tercekat. Tapi, beberapa detik kemudian, Arsen hanya bergumam pelan dalam tidurnya lalu kembali diam.

Alena mengembuskan napas lega. Ia segera menempelkan ibu jari Arsen ke sensor sidik jari pada layar ponsel dan layar ponsel langsung terbuka.

Mata Alena membesar. Tanpa membuang waktu, ia kembali masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.

Kini, ponsel itu berada di tangannya dan, ia siap mengungkap semua rahasia yang selama ini Arsen sembunyikan.

Alena menelan ludah dengan susah payah. Jarinya bergerak perlahan membuka aplikasi pesan, sementara dadanya berdebar semakin keras.

Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan di sana. Tetapi, satu hal yang pasti, setelah malam ini, hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi.

Terpopuler

Comments

Muft Smoker

Muft Smoker

duuuh Alena hati2 ,, jgn sampai si laki2 Medusa tau ,, rencana mu bisa gagal

2026-07-07

0

Neng Saripah

Neng Saripah

ikut deg2an Thor 🤭🤭

2026-06-24

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Ponsel Kedua
2 Bab 2 Fakta Yang Mengejutkan
3 Bab 3 Mencari Bukti
4 Bab 4 Kenyataan Yang Menyakitkan
5 Bab 5 Nasihat Nadia
6 Bab 6 Mencari Pekerjaan
7 Bab 7 Tidak Peduli Lagi
8 Bab 8 Kenyataan Pahit
9 Bab 9 Saran Sahabat
10 Bab 10 Mengatur Pertemuan
11 Bab 11 Bertemu
12 Bab 12 Kesan Pertama
13 Bab 13 Penasaran
14 Bab 14 Pertemuan Keluarga?
15 Bab 15 Wawancara
16 Bab 16 Mendapat Pekerjaan
17 Bab 17 Hari Pertama Bekerja
18 Bab 18 Bertemu Kakek Rendra
19 Bab 19 Kabar Baik?
20 Bab 20 Berani Melawan
21 Bab 21 Laporan Santi
22 Bab 22 Ikut Andil
23 Bab 23 Berbeda
24 Bab 24 Marah
25 Bab 25 Persaingan
26 Bab 26 Persaingan 2
27 Bab 27 Kita Adalah Saingan
28 Bab 28 Pemenang
29 Bab 29 Masih Marah
30 Bab 30 Menguntit
31 Bab 31 Harapan Untuk Memulai Hidup Baru
32 Bab 32 Gosip
33 Bab 33 Hampir Saja
34 Bab 34 Perundungan
35 Bab 35 Khawatir
36 Bab 36 Memanfaatkan Keadaan
37 Bab 37 Tindak Tegas
38 Bab 38 Hanya Mimpi
39 Bab 39 Pelakor Yang Tidak Sabaran
40 Bab 40 Surat Gugatan Cerai
41 Bab 41 Sulit Melupakan
42 Bab 42 Aku Tidak Akan Kalah
43 Bab 43 Menemui Pengacara
44 Bab 44 Konsultasi
45 Bab 45 Kepo
46 Bab 46 Mendapat Tekanan
47 Bab 47 Berita Yang Menggiring Opini Publik
48 Bab 48 Saran Jerico
49 Bab 49 Peringatan Erwin
50 Bab 50 Sidang Pertama
51 Bab 51 Berita Perceraian
52 Bab 52 Mediasi
53 Bab 53 Masalah Baru
54 Bab 54 Masalah Baru 2
55 Bab 55 Rapat Darurat
56 Bab 56 Merasa Janggal
57 Bab 57 Mencurigai Seseorang
58 Bab 58 Sidang Kembali Di Mulai
59 Bab 59 Putusan Pengadilan
60 Bab 60 Gertakan
61 Bab 61 Perayaan Kecil
62 Bab 62 Kencan Buta?
63 Bab 63 Selamat Tinggal
64 Bab 64 Biaya Jasa Pengacara
65 Bab 65 Rencana Resign
66 Bab 66 Pencuri?
67 Bab 67 Makan Malam
68 Bab 68 Ingatan Samar
69 Bab 69 Mengundurkan Diri
70 Bab 70 Pergi Ke Rumah Sakit
71 Bab 71 Hampir Saja Percaya
72 Bab 72 Rapat Umum Pemegang Saham
73 Bab 73 Peringatan?
74 Bab 74 Rencana Pernikahan
75 Bab 75 Jebakan Alena
76 Bab 76 Menemukan Kejanggalan
77 Bab 77 Menghadiri Acara Pernikahan
78 Bab 78 Pertunjukan
79 Bab 79 Perusahaan Mulai Kacau
80 Bab 80 Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
81 Bab 81 Kehancuran Keluarga Bhaskara
82 Bab 82 Pemegang Saham Yang Baru
83 Bab 83 Mencoba Kabur
84 Bab 84 Membayar Utang
85 Bab 84 Beri Kami Kesempatan
86 Bab 86 Jangan Ganggu Alena
87 Bab 87 Menyatakan Perasaan
88 Bab 88 Kakek Sakit
89 Bab 89 Tidak Ingin Kakek Terlalu Berharap
90 Bab 90 Berangkat Ke New York
91 Bab 91 Terlambat
92 Bab 92 Aku Akan Menunggumu
93 Bab 93 Tidak Ada Kabar
94 Bab 94 Mempublikasikan Hubungan
95 Bab 95 Mulai Gelisah
96 Bab 96 Bertemu Nadia
97 Bab 97 Takut Terulang
98 Bab 98 Kencan
99 Bab 99 Aku Ingin Tetap Di Sampingmu
100 Bab 100 Aku Bersedia
101 Bab 101 Sah
102 Bab 102 Semoga Kamu Bahagia, Alena
103 Bab 103 Bulan Madu
104 Bab 104 Keluarga Bahagia
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1 Ponsel Kedua
2
Bab 2 Fakta Yang Mengejutkan
3
Bab 3 Mencari Bukti
4
Bab 4 Kenyataan Yang Menyakitkan
5
Bab 5 Nasihat Nadia
6
Bab 6 Mencari Pekerjaan
7
Bab 7 Tidak Peduli Lagi
8
Bab 8 Kenyataan Pahit
9
Bab 9 Saran Sahabat
10
Bab 10 Mengatur Pertemuan
11
Bab 11 Bertemu
12
Bab 12 Kesan Pertama
13
Bab 13 Penasaran
14
Bab 14 Pertemuan Keluarga?
15
Bab 15 Wawancara
16
Bab 16 Mendapat Pekerjaan
17
Bab 17 Hari Pertama Bekerja
18
Bab 18 Bertemu Kakek Rendra
19
Bab 19 Kabar Baik?
20
Bab 20 Berani Melawan
21
Bab 21 Laporan Santi
22
Bab 22 Ikut Andil
23
Bab 23 Berbeda
24
Bab 24 Marah
25
Bab 25 Persaingan
26
Bab 26 Persaingan 2
27
Bab 27 Kita Adalah Saingan
28
Bab 28 Pemenang
29
Bab 29 Masih Marah
30
Bab 30 Menguntit
31
Bab 31 Harapan Untuk Memulai Hidup Baru
32
Bab 32 Gosip
33
Bab 33 Hampir Saja
34
Bab 34 Perundungan
35
Bab 35 Khawatir
36
Bab 36 Memanfaatkan Keadaan
37
Bab 37 Tindak Tegas
38
Bab 38 Hanya Mimpi
39
Bab 39 Pelakor Yang Tidak Sabaran
40
Bab 40 Surat Gugatan Cerai
41
Bab 41 Sulit Melupakan
42
Bab 42 Aku Tidak Akan Kalah
43
Bab 43 Menemui Pengacara
44
Bab 44 Konsultasi
45
Bab 45 Kepo
46
Bab 46 Mendapat Tekanan
47
Bab 47 Berita Yang Menggiring Opini Publik
48
Bab 48 Saran Jerico
49
Bab 49 Peringatan Erwin
50
Bab 50 Sidang Pertama
51
Bab 51 Berita Perceraian
52
Bab 52 Mediasi
53
Bab 53 Masalah Baru
54
Bab 54 Masalah Baru 2
55
Bab 55 Rapat Darurat
56
Bab 56 Merasa Janggal
57
Bab 57 Mencurigai Seseorang
58
Bab 58 Sidang Kembali Di Mulai
59
Bab 59 Putusan Pengadilan
60
Bab 60 Gertakan
61
Bab 61 Perayaan Kecil
62
Bab 62 Kencan Buta?
63
Bab 63 Selamat Tinggal
64
Bab 64 Biaya Jasa Pengacara
65
Bab 65 Rencana Resign
66
Bab 66 Pencuri?
67
Bab 67 Makan Malam
68
Bab 68 Ingatan Samar
69
Bab 69 Mengundurkan Diri
70
Bab 70 Pergi Ke Rumah Sakit
71
Bab 71 Hampir Saja Percaya
72
Bab 72 Rapat Umum Pemegang Saham
73
Bab 73 Peringatan?
74
Bab 74 Rencana Pernikahan
75
Bab 75 Jebakan Alena
76
Bab 76 Menemukan Kejanggalan
77
Bab 77 Menghadiri Acara Pernikahan
78
Bab 78 Pertunjukan
79
Bab 79 Perusahaan Mulai Kacau
80
Bab 80 Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
81
Bab 81 Kehancuran Keluarga Bhaskara
82
Bab 82 Pemegang Saham Yang Baru
83
Bab 83 Mencoba Kabur
84
Bab 84 Membayar Utang
85
Bab 84 Beri Kami Kesempatan
86
Bab 86 Jangan Ganggu Alena
87
Bab 87 Menyatakan Perasaan
88
Bab 88 Kakek Sakit
89
Bab 89 Tidak Ingin Kakek Terlalu Berharap
90
Bab 90 Berangkat Ke New York
91
Bab 91 Terlambat
92
Bab 92 Aku Akan Menunggumu
93
Bab 93 Tidak Ada Kabar
94
Bab 94 Mempublikasikan Hubungan
95
Bab 95 Mulai Gelisah
96
Bab 96 Bertemu Nadia
97
Bab 97 Takut Terulang
98
Bab 98 Kencan
99
Bab 99 Aku Ingin Tetap Di Sampingmu
100
Bab 100 Aku Bersedia
101
Bab 101 Sah
102
Bab 102 Semoga Kamu Bahagia, Alena
103
Bab 103 Bulan Madu
104
Bab 104 Keluarga Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!