Bab 5 Nasihat Nadia

Nadia keluar dari dapur sambil membawa sebuah nampan berisi dua piring roti panggang dan dua gelas susu hangat.

Ia meletakkan salah satu piring di depan Alena yang sejak tadi hanya melamun sambil menatap kosong ke arah meja.

"Makan dulu," ujar Nadia lembut.

Alena tersadar dari lamunannya. Ia memandang sahabatnya sesaat sebelum memaksakan untuk tersenyum.

"Terima kasih, Nad," balasnya lirih.

Nadia menarik kursi dan duduk tepat di depannya. Ia memperhatikan wajah Alena yang tampak pucat dengan mata sembab akibat menangis semalaman.

Nadia menghela napas panjang. "Kamu sudah benar-benar memikirkannya?"

Alena menunduk. Jemarinya memainkan ujung gelas susu yang masih hangat.

"Setelah melihat semua yang bukti perselingkuhan di ponsel Mas Arsen, aku sangat yakin, Nad," serunya dengan suara bergetar.

Nadia mengangguk pelan. "Tapi, bukannya kemarin kamu bilang ingin membalas mereka?" ucapnya mengingatkan. "Kenapa sekarang malah ingin menggugat cerai Arsen?"

Alena mengangkat pandangannya. "Bukankah dengan bukti perselingkuhan itu aku bisa mendapatkan hak yang lebih besar saat bercerai?"

Nadia langsung berdecak. "Ck. Dasar bodoh." Ia menyandarkan punggungnya ke kursi lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Dengarkan aku baik-baik, Alena. Perceraian bukan sekadar datang ke pengadilan lalu semuanya selesai begitu saja."

Alena terdiam mendengarkan.

"Arsen itu pebisnis besar. Dia punya uang, koneksi, dan pengaruh. Kalau kamu benar-benar ingin melawannya, kamu butuh pengacara yang hebat."

Nadia menatap sahabatnya dengan serius. "Pengacara yang hebat?" ulangnya lirih

"Ya, dan pengacara hebat tidak bekerja dengan biaya murah."

Raut wajah Alena langsung meredup. Dan, Nadia sudah bisa menebak jawabannya bahkan sebelum bertanya.

"Kamu punya tabungan sendiri?"

Alena menunduk lalu menggeleng pelan. "Tidak."

"Punya penghasilan tetap?" tanya Nadia lagi.

Alena kembali menggeleng. "Tidak."

Nadia menghela napas panjang. "Sudah kuduga."

Alena menggigit bibir bawahnya. Perlahan, rasa putus asa kembali merayap di hatinya.

"Aku benar-benar tidak punya apa-apa ya, Nad?"

"Tidak juga. Tapi, kamu punya bukti." Nadia menunjuk ponsel yang berada di atas meja. "Kamu punya bukti perselingkuhan Arsen. Itu jauh lebih berharga dari apapun."

Alena terdiam.

"Tapi, kalau kamu terburu-buru menggugat sekarang, kamu bisa kalah sebelum perang dimulai."

Ucapan itu membuat dada Alena terasa sesak. "Jadi, apa yang harus aku lakukan?"

Nadia langsung meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya erat.

"Mana Alena yang kemarin?" tanyanya. "Mana semangat wanita yang bilang ingin membuat Arsen menyesal?"

Mata Alena mulai berkaca-kaca. "Aku lelah, Nad. Rasanya sakit sekali."

"Aku juga tahu." Nadia menekan lembut punggung tangannya. "Tapi, justru karena sakit, kamu tidak boleh gegabah."

Alena menatap sahabatnya dalam diam.

"Kamu harus kuat," seru Nadia dengan nada tegas. "Bertahanlah sedikit lebih lama."

Alena mengernyit. "Bertahan?"

"Iya. Jangan langsung menunjukkan bahwa kamu sudah tahu semuanya."

Nadia mencondongkan tubuhnya. "Kalau Arsen sadar kamu mengetahui perselingkuhannya, dia akan mulai menutupi jejak. Bisa saja dia memindahkan aset, menghapus bukti, atau melakukan hal lain yang merugikan mu."

Wajah Alena perlahan berubah serius. "Jadi, aku harus berpura-pura tidak tahu?"

Nadia mengangguk mantap. "Untuk sementara, iya. Kumpulkan lebih banyak bukti. Pelajari kelemahan mereka. Dan, yang paling penting, kamu harus mulai membangun dirimu sendiri."

Alena mengernyit. "Maksudmu?"

"Kamu harus punya penghasilan, Lena. Kamu tidak bisa terus bergantung pada Arsen."

Nadia menggenggam kedua tangan sahabatnya. "Mulai sekarang, fokuslah pada dirimu sendiri. Cari pekerjaan, bangun usaha, atau apa pun yang bisa membuatmu mandiri."

Nadia tersenyum tipis. "Percayalah, membalas seseorang bukan selalu dengan amarah. Kadang, balas dendam terbaik adalah menunjukkan bahwa kita bisa hidup jauh lebih baik tanpa mereka."

Kalimat itu membuat Alena terdiam cukup lama. Ia merasa seolah ada secercah cahaya yang muncul di tengah kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Mungkin, Nadia benar. Ia memang ingin meninggalkan Arsen. Tapi sebelum itu, ia harus memastikan dirinya cukup kuat untuk berdiri sendiri.

Alena mengembuskan napas perlahan. "Aku akan mencoba," ucapnya pelan.

Nadia tersenyum puas. "Kamu tenang saja. Aku akan membantumu. Kamu mempunyai cukup banyak pengalaman di dunia bisnis. Aku yakin, kamu akan cepat mendapatkan pekerjaan."

***

Setelah sarapan, Nadia tidak membiarkan Alena kembali tenggelam dalam kesedihannya.

Nadia membantu Alena menyusun surat lamaran kerja dan memperbarui CV yang sudah lama tidak digunakan. Mereka juga mencari berbagai lowongan yang sesuai dengan pengalaman dan pendidikan Alena.

Nadia terus menyemangati Alena, sampai akhirnya beberapa lamaran berhasil dikirim ke berbagai perusahaan.

Awalnya Alena merasa bersemangat.

Setidaknya sampai detik itu, ia merasa sedang melakukan sesuatu yang berharga untuk dirinya sendiri.

Tapi, saat sore menjelang dan ia meninggalkan apartemen Nadia, semangat itu perlahan memudar.

Kesepian kembali datang bersama rasa sakit yang sejak semalam berusaha ia tekan.

Alena berjalan menyusuri trotoar yang ramai orang-orang berlalu lalang. Ada yang tertawa bersama teman, ada yang sibuk berbicara di telepon, ada pula pasangan yang berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan.

Semua terlihat memiliki tujuan. Sementara dirinya?

Alena akhirnya terhenti di pinggir jalan. Ia memandangi kendaraan yang terus berlalu lalang tanpa henti. Tapi, pikirannya justru kembali pada kejadian semalam.

Alena menundukkan kepala.

"Saat tahu Mas Arsen mengkhianati ku, hatiku benar-benar hancur," batinnya. "Aku ingin berteriak. Aku ingin memaki mereka. Aku ingin melampiaskan semua kemarahan ku. Tapi, sekarang?" Ia mengembuskan napas panjang. "Yang aku pikirkan justru bagaimana caranya bertahan hidup."

Perlahan, ia mengangkat wajah dan menatap langit yang mulai dipenuhi awan mendung.

Angin sejuk berembus pelan menyentuh wajahnya. Dan tanpa bisa dicegah, ingatannya kembali melayang ke masa lalu, di hari saat Arsen melamarnya, menggenggam tangannya dengan penuh cinta.

"Kamu tidak perlu khawatir tentang apa pun. Setelah kita menikah, aku yang akan menghidupi mu. Aku akan bekerja keras untuk membahagiakanmu."

"Aku mencintaimu, Alena."

Dulu, setiap kata itu terdengar begitu tulus dan meyakinkan. Sampai- sampai Alena rela meninggalkan pekerjaannya dan mempercayakan seluruh hidupnya kepada Arsen.

Tapi sekarang, semuanya terdengar seperti lelucon yang kejam.

Alena tersenyum pahit. "Lucu sekali," gumamnya pelan. "Aku menyerahkan hidupku padamu karena percaya pada semua janjimu. Tapi pada akhirnya, aku justru kehilangan diriku."

Ia menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh.

"Bahkan, sekarang aku harus memulai semuanya dari nol."

Alena menghapus sudut matanya lalu kembali berjalan. Tapi, baru beberapa langkah, tubuhnya mendadak membeku. Kedua matanya membulat sempurna, napasnya tertahan.

Di depan, ia melihat seseorang yang sangat ia kenal. Seseorang yang seharusnya sedang berada di kantor pada jam seperti ini.

Arsen.

Dan, pria itu tidak sendirian. Ia bersama wanita yang Alena lihat di ponsel kedua Arsen.

Alena berdiri terpaku, sementara jantungnya mulai berdetak semakin cepat.

Tapi, begitu jarak mereka semakin dekat, Alena justru berbalik. Arsen dan wanita itu melewatinya begitu saja tanpa menyadari keberadaannya.

Alena mengepalkan tangannya erat. Air matanya kembali membasahi pipinya. Rasanya, ia ingin melakukan seperti yang Nadia katakan, melabrak mereka dan menjambak rambut mereka sampai botak.

Tapi, Alena justru diam. Dia menghapus air matanya, tatapannya berubah dingin. Lalu, ia berbalik, kembali melangkah dengan tekad yang semakin kuat.

Terpopuler

Comments

Kembarr Kembaarr

Kembarr Kembaarr

Alena bego iya .tinggal kuras semua harta suami cari bukti2 yg kongkrit . kalau semua sdh pindah tangan baru gugat cerai. jngn hanya nabgis enak bener lakornya dtng2 lansung bisa bergaya jd orang kaya

2026-08-24

1

Kukun Sabarno

Kukun Sabarno

alena hebat kuat menghadapi perselingkuhan suami bukan dengan emosi 👍

2026-08-05

0

Muft Smoker

Muft Smoker

semangaat Alena ,, melawan laki2 Medusa macam arsen jgn pake emosi ,,
bermain cantik laa ,,
klo perlu bikin dia kere ,, 😏😏😏😏

2026-07-07

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Ponsel Kedua
2 Bab 2 Fakta Yang Mengejutkan
3 Bab 3 Mencari Bukti
4 Bab 4 Kenyataan Yang Menyakitkan
5 Bab 5 Nasihat Nadia
6 Bab 6 Mencari Pekerjaan
7 Bab 7 Tidak Peduli Lagi
8 Bab 8 Kenyataan Pahit
9 Bab 9 Saran Sahabat
10 Bab 10 Mengatur Pertemuan
11 Bab 11 Bertemu
12 Bab 12 Kesan Pertama
13 Bab 13 Penasaran
14 Bab 14 Pertemuan Keluarga?
15 Bab 15 Wawancara
16 Bab 16 Mendapat Pekerjaan
17 Bab 17 Hari Pertama Bekerja
18 Bab 18 Bertemu Kakek Rendra
19 Bab 19 Kabar Baik?
20 Bab 20 Berani Melawan
21 Bab 21 Laporan Santi
22 Bab 22 Ikut Andil
23 Bab 23 Berbeda
24 Bab 24 Marah
25 Bab 25 Persaingan
26 Bab 26 Persaingan 2
27 Bab 27 Kita Adalah Saingan
28 Bab 28 Pemenang
29 Bab 29 Masih Marah
30 Bab 30 Menguntit
31 Bab 31 Harapan Untuk Memulai Hidup Baru
32 Bab 32 Gosip
33 Bab 33 Hampir Saja
34 Bab 34 Perundungan
35 Bab 35 Khawatir
36 Bab 36 Memanfaatkan Keadaan
37 Bab 37 Tindak Tegas
38 Bab 38 Hanya Mimpi
39 Bab 39 Pelakor Yang Tidak Sabaran
40 Bab 40 Surat Gugatan Cerai
41 Bab 41 Sulit Melupakan
42 Bab 42 Aku Tidak Akan Kalah
43 Bab 43 Menemui Pengacara
44 Bab 44 Konsultasi
45 Bab 45 Kepo
46 Bab 46 Mendapat Tekanan
47 Bab 47 Berita Yang Menggiring Opini Publik
48 Bab 48 Saran Jerico
49 Bab 49 Peringatan Erwin
50 Bab 50 Sidang Pertama
51 Bab 51 Berita Perceraian
52 Bab 52 Mediasi
53 Bab 53 Masalah Baru
54 Bab 54 Masalah Baru 2
55 Bab 55 Rapat Darurat
56 Bab 56 Merasa Janggal
57 Bab 57 Mencurigai Seseorang
58 Bab 58 Sidang Kembali Di Mulai
59 Bab 59 Putusan Pengadilan
60 Bab 60 Gertakan
61 Bab 61 Perayaan Kecil
62 Bab 62 Kencan Buta?
63 Bab 63 Selamat Tinggal
64 Bab 64 Biaya Jasa Pengacara
65 Bab 65 Rencana Resign
66 Bab 66 Pencuri?
67 Bab 67 Makan Malam
68 Bab 68 Ingatan Samar
69 Bab 69 Mengundurkan Diri
70 Bab 70 Pergi Ke Rumah Sakit
71 Bab 71 Hampir Saja Percaya
72 Bab 72 Rapat Umum Pemegang Saham
73 Bab 73 Peringatan?
74 Bab 74 Rencana Pernikahan
75 Bab 75 Jebakan Alena
76 Bab 76 Menemukan Kejanggalan
77 Bab 77 Menghadiri Acara Pernikahan
78 Bab 78 Pertunjukan
79 Bab 79 Perusahaan Mulai Kacau
80 Bab 80 Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
81 Bab 81 Kehancuran Keluarga Bhaskara
82 Bab 82 Pemegang Saham Yang Baru
83 Bab 83 Mencoba Kabur
84 Bab 84 Membayar Utang
85 Bab 84 Beri Kami Kesempatan
86 Bab 86 Jangan Ganggu Alena
87 Bab 87 Menyatakan Perasaan
88 Bab 88 Kakek Sakit
89 Bab 89 Tidak Ingin Kakek Terlalu Berharap
90 Bab 90 Berangkat Ke New York
91 Bab 91 Terlambat
92 Bab 92 Aku Akan Menunggumu
93 Bab 93 Tidak Ada Kabar
94 Bab 94 Mempublikasikan Hubungan
95 Bab 95 Mulai Gelisah
96 Bab 96 Bertemu Nadia
97 Bab 97 Takut Terulang
98 Bab 98 Kencan
99 Bab 99 Aku Ingin Tetap Di Sampingmu
100 Bab 100 Aku Bersedia
101 Bab 101 Sah
102 Bab 102 Semoga Kamu Bahagia, Alena
103 Bab 103 Bulan Madu
104 Bab 104 Keluarga Bahagia
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1 Ponsel Kedua
2
Bab 2 Fakta Yang Mengejutkan
3
Bab 3 Mencari Bukti
4
Bab 4 Kenyataan Yang Menyakitkan
5
Bab 5 Nasihat Nadia
6
Bab 6 Mencari Pekerjaan
7
Bab 7 Tidak Peduli Lagi
8
Bab 8 Kenyataan Pahit
9
Bab 9 Saran Sahabat
10
Bab 10 Mengatur Pertemuan
11
Bab 11 Bertemu
12
Bab 12 Kesan Pertama
13
Bab 13 Penasaran
14
Bab 14 Pertemuan Keluarga?
15
Bab 15 Wawancara
16
Bab 16 Mendapat Pekerjaan
17
Bab 17 Hari Pertama Bekerja
18
Bab 18 Bertemu Kakek Rendra
19
Bab 19 Kabar Baik?
20
Bab 20 Berani Melawan
21
Bab 21 Laporan Santi
22
Bab 22 Ikut Andil
23
Bab 23 Berbeda
24
Bab 24 Marah
25
Bab 25 Persaingan
26
Bab 26 Persaingan 2
27
Bab 27 Kita Adalah Saingan
28
Bab 28 Pemenang
29
Bab 29 Masih Marah
30
Bab 30 Menguntit
31
Bab 31 Harapan Untuk Memulai Hidup Baru
32
Bab 32 Gosip
33
Bab 33 Hampir Saja
34
Bab 34 Perundungan
35
Bab 35 Khawatir
36
Bab 36 Memanfaatkan Keadaan
37
Bab 37 Tindak Tegas
38
Bab 38 Hanya Mimpi
39
Bab 39 Pelakor Yang Tidak Sabaran
40
Bab 40 Surat Gugatan Cerai
41
Bab 41 Sulit Melupakan
42
Bab 42 Aku Tidak Akan Kalah
43
Bab 43 Menemui Pengacara
44
Bab 44 Konsultasi
45
Bab 45 Kepo
46
Bab 46 Mendapat Tekanan
47
Bab 47 Berita Yang Menggiring Opini Publik
48
Bab 48 Saran Jerico
49
Bab 49 Peringatan Erwin
50
Bab 50 Sidang Pertama
51
Bab 51 Berita Perceraian
52
Bab 52 Mediasi
53
Bab 53 Masalah Baru
54
Bab 54 Masalah Baru 2
55
Bab 55 Rapat Darurat
56
Bab 56 Merasa Janggal
57
Bab 57 Mencurigai Seseorang
58
Bab 58 Sidang Kembali Di Mulai
59
Bab 59 Putusan Pengadilan
60
Bab 60 Gertakan
61
Bab 61 Perayaan Kecil
62
Bab 62 Kencan Buta?
63
Bab 63 Selamat Tinggal
64
Bab 64 Biaya Jasa Pengacara
65
Bab 65 Rencana Resign
66
Bab 66 Pencuri?
67
Bab 67 Makan Malam
68
Bab 68 Ingatan Samar
69
Bab 69 Mengundurkan Diri
70
Bab 70 Pergi Ke Rumah Sakit
71
Bab 71 Hampir Saja Percaya
72
Bab 72 Rapat Umum Pemegang Saham
73
Bab 73 Peringatan?
74
Bab 74 Rencana Pernikahan
75
Bab 75 Jebakan Alena
76
Bab 76 Menemukan Kejanggalan
77
Bab 77 Menghadiri Acara Pernikahan
78
Bab 78 Pertunjukan
79
Bab 79 Perusahaan Mulai Kacau
80
Bab 80 Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
81
Bab 81 Kehancuran Keluarga Bhaskara
82
Bab 82 Pemegang Saham Yang Baru
83
Bab 83 Mencoba Kabur
84
Bab 84 Membayar Utang
85
Bab 84 Beri Kami Kesempatan
86
Bab 86 Jangan Ganggu Alena
87
Bab 87 Menyatakan Perasaan
88
Bab 88 Kakek Sakit
89
Bab 89 Tidak Ingin Kakek Terlalu Berharap
90
Bab 90 Berangkat Ke New York
91
Bab 91 Terlambat
92
Bab 92 Aku Akan Menunggumu
93
Bab 93 Tidak Ada Kabar
94
Bab 94 Mempublikasikan Hubungan
95
Bab 95 Mulai Gelisah
96
Bab 96 Bertemu Nadia
97
Bab 97 Takut Terulang
98
Bab 98 Kencan
99
Bab 99 Aku Ingin Tetap Di Sampingmu
100
Bab 100 Aku Bersedia
101
Bab 101 Sah
102
Bab 102 Semoga Kamu Bahagia, Alena
103
Bab 103 Bulan Madu
104
Bab 104 Keluarga Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!