Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Di kejar setan!

"Tolong! Tolong!"

Teriakan itu menggema di antara pepohonan yang menjulang tinggi, lalu menghilang ditelan malam yang sunyi. Pria itu terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang.

Cahaya bulan yang sejak tadi menjadi satu-satunya penerang perlahan menghilang ketika awan hitam menutup langit. Kini hanya bayang-bayang pohon yang tampak samar di hadapannya, menciptakan bentuk-bentuk aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Dia tidak tahu sudah berapa lama berlari. Yang dia tahu hanyalah satu hal, sesuatu yang menyeramkan, sedang mengejarnya.

Suara langkah itu masih terdengar, bunyinya tidak teratur. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang terdengar sangat dekat, lalu tiba-tiba menghilang sebelum muncul lagi tepat di belakangnya.

"Tolong!" teriaknya lagi.

Tapi, tidak ada yang mendengar teriakkan yang penuh ketakutan itu. Tidak ada rumah warga disana. Hanya hutan yang terasa semakin rapat dan semakin gelap.

Kakinya tersandung akar pohon hingga tubuhnya hampir terjatuh. Dia berhasil menjaga keseimbangan dan terus berlari. Ranting-ranting tajam mencabik lengan dan wajahnya, tetapi rasa sakit itu tidak ada artinya dibanding ketakutan yang sedang menguasainya.

Lalu terdengar suara tawa, tawa seorang perempuan.

Pria itu merasakan darahnya seolah membeku. Tawa itu tidak terdengar jauh. Justru sangat dekat, seakan pemilik suara itu sedang berlari beberapa langkah di belakangnya.

Jangan menoleh.

Jangan menoleh.

Dia terus mengulang kalimat itu dalam hati. Namun rasa takut akhirnya mengalahkan akalnya.

Dengan gerakan cepat dia menoleh. Ingin mencari tahu apakah sosok itu masih ada di belakangnya ataukah telah pergi.

Tapi, ternyata sosok itu masih ada, Rambutnya panjang, Kulit di pipinya tidak hanya mengelupas, tapi terlepas dalam lembaran-lembaran tipis, menggantung seperti tirai-tirai daging mati yang mengerikan.

Setiap terpaan angin membuat lembaran-lembaran itu berayun pelan, memperlihatkan daging merah yang mentah dan mengering di bawahnya.

Sosok itu sekarang hanya beberapa meter darinya. Pria itu menjerit dan memaksa tubuhnya berlari lebih cepat.

Tetapi harapan itu perlahan runtuh setiap kali dia melihat kegelapan tak berujung di hadapannya.

Ke mana pun dia berlari, hutan ini seolah tidak memiliki akhir.

Pepohonan tinggi berdiri seperti tembok raksasa yang mengurungnya. Bayangan cabang-cabang yang bergoyang diterpa angin tampak seperti tangan-tangan hitam yang berusaha meraih tubuhnya.

Napasnya semakin berat, kakinya mulai melemah. Rasa putus asa menyelimuti dirinya, mungkin tidak ada jalan keluar.

Tiba-tiba kabut tebal muncul dari sela-sela pepohonan. Udara menjadi jauh lebih dingin. Suara langkah di belakangnya menghilang.

Di tengah keputusasaan yang hampir menghancurkan seluruh harapannya, sesuatu tiba-tiba muncul di balik kabut tebal itu.

Sebuah bangunan.

Pria itu menghentikan langkahnya sejenak, berusaha memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang mempermainkannya.

Di sana, berdiri sebuah vila mewah bertingkat. Bangunannya tampak besar dan megah, menjulang di antara pepohonan yang gelap. Halamannya luas dengan pagar besi yang terbuka sebagian. Yang membuat jantung pria itu berdebar penuh harapan adalah cahaya yang menyala dari beberapa jendela.

Ada lampu, artinya ada penghuni. Artinya ada orang yang bisa menolongnya.

Dia merasa, secercah harapan muncul untuknya, dia biasa selamat dari teror horor itu.

"Tolong..." Teriaknya dengan suara bergetar.

Tanpa membuang waktu, dia segera berlari menuju vila tersebut. Kakinya yang lemas kembali menemukan tenaga. Dia melewati gerbang yang terbuka dan berlari melintasi halaman luas yang dipenuhi rumput tinggi yang bergoyang diterpa angin malam.

Semakin dekat, semakin jelas bangunan itu terlihat.

Dindingnya berwarna putih kusam. Balkon besar membentang di lantai dua. Beberapa lampu gantung menerangi teras depan, menciptakan suasana hangat yang berlawanan dengan kegelapan hutan di belakangnya.

Pria itu menaiki anak tangga teras hampir tanpa sadar.

Brak!

Brak!

Brak!

Dia menggedor pintu utama sekuat tenaga.

"Tolong! Tolong buka pintunya!"

Tidak ada jawaban, dia kembali menggedor.

"Tolong! Saya dikejar! Tolong saya!"

Suara ketukannya bergema ke seluruh penjuru rumah. Rasa cemas mulai merayapi pikirannya.

"Siapa pun... tolong buka pintunya..." Teriaknya.

Tiba-tiba.

Kreeeek...

Suara engsel tua memecah rasa takut itu, pintu vila perlahan terbuka dengan sendirinya.

Pria itu terdiam, matanya membelalak. Tidak ada siapa pun di balik pintu.

Hanya lorong panjang yang diterangi cahaya lampu kekuningan.

Angin dingin berembus dari dalam rumah, membuat bulu kuduknya meremang.

Untuk sesaat nalurinya berteriak agar dia tidak masuk. Ada sesuatu yang terasa salah.

Namun ketika dia menoleh ke belakang, yang terlihat hanyalah hutan gelap yang diselimuti kabut. Bayangan pepohonan berdiri seperti makhluk-makhluk raksasa yang sedang mengawasinya dari kejauhan.

Dia teringat sosok perempuan menyeramkan yang mengejarnya.

Jika tetap berada di luar, mungkin dia akan menemukannya.

Pilihan itu membuat darahnya semakin dingin.

Dengan napas terengah, pria itu akhirnya melangkah masuk ke dalam vila.

"Ada orang?" Teriaknya dengan suara lantang.

Suaranya menggema di dalam vila yang luas, memantul dari dinding ke dinding sebelum akhirnya lenyap ditelan keheningan.

Tidak ada jawaban. Tidak ada tanda bahwa tempat itu dihuni seseorang.

Pria itu menelan ludah. Pandangannya terus mengarah ke ujung lorong yang remang-remang. Namun sosok yang tadi sempat dilihatnya sudah tidak ada lagi.

"Bodoh amat." Gumamnya sambil menggeleng.

"Yang penting aku selamat." Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Apa pun yang terjadi di tempat ini, setidaknya dia sudah terbebas dari sosok mengerikan yang mengejarnya di hutan. Dibandingkan berada di luar, vila ini masih terasa jauh lebih aman.

Meski begitu, jantungnya belum juga tenang.

Tangannya masih gemetar, napasnya masih belum teratur.

Untuk mengusir kegelisahan yang terus menghantuinya, dia merogoh saku celananya. Dari sana dia mengeluarkan sebungkus rokok yang sudah sedikit kusut.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, dia mengambil sebatang rokok dan menyelipkannya di antara bibir.

Kemudian dia mengeluarkan korek api dan membakarnya. Nyala api kecil muncul di ujung korek, menerangi wajahnya sesaat.

Dalam cahaya singkat itu, bayangannya terlihat memanjang di dinding lorong.

Dia segera menyalakan rokoknya lalu mengisap dalam-dalam.

Asap hangat memenuhi paru-parunya. Sedikit demi sedikit, ketegangan yang mencengkeram pikirannya mulai berkurang.

Dja mengembuskan asap ke udara dan bersandar pada dinding.

"Hantu sialan..." Umpatnya kesal.

Kemarahan perlahan menggantikan rasa takut yang sejak tadi menguasainya.

Dia masih tidak mengerti kenapa makhluk itu mengejarnya.

"Coba saja manusia..." Gumamnya sambil mengepalkan tangan. Matanya menyipit penuh emosi.

"Pasti sudah kubunuh!" Geramnya.

Suara napasnya perlahan mulai normal. Dia mengisap rokoknya sekali lagi.

Lalu...

Krek.

Suara kecil terdengar dari lantai atas, pria itu langsung membeku.

Dia menoleh perlahan ke arah tangga besar yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua.

Tidak ada apa-apa, mungkin hanya tikus.

Dia mencoba mengabaikannya. Namun beberapa detik kemudian terdengar lagi.

Krek...

Krek...

Krek...

Kali ini jelas, seperti suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan perlahan di lantai atas.

Jantungnya kembali berdegup kencang, matanya terus menatap ke arah tangga. Belum sempat ia memastikan dari mana asalnya, seluruh lampu vila tiba-tiba berkedip-kedip.

Cahayanya menyala dan mati secara tidak beraturan.

"Apa lagi sekarang..." Gumamnya marah.

Seluruh lampu padam, kegelapan langsung menelan setiap sudut vila.

Dengan tangan gemetar, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan korek api.

Nyala api kecil muncul, Cahaya jingga yang redup hanya mampu menerangi beberapa langkah di depannya. Dinding-dinding tua vila tampak kusam dan suram di bawah cahaya yang itu.

"Tenang... tenang..." Bisiknya kepada diri sendiri.

Dia mulai berjalan menyusuri dinding, berharap menemukan saklar listrik.

Tangannya meraba-raba permukaan dinding yang dingin.

Lalu jemarinya menyentuh sesuatu, saat dia Kemabli menyalah korek di tangannya. Pemasangan yang di lihatnya membuat darahnya seketika berhenti mengalir.

Sosok hantu tanpa kepala, dan tangannya saat ini sedang bertengkar di leher putus itu.

Terpopuler

Comments

Riska Salahudin

Riska Salahudin

lanjut thor. smg seru sprti crt2 sblm ny

2026-06-24

6

Mega Arum

Mega Arum

semoga kedepanya ceritanya menarik.. selalu menunggu karya2 baru author

2026-06-29

1

Aiman Asyraf

Aiman Asyraf

mantap,seronok baca cerita macam ni.

2026-08-11

0

lihat semua
Episodes
1 Di kejar setan!
2 Vila yang indah.
3 Kebahagian di desa
4 Ada apa?
5 Kematian yang memilukan
6 Sadis!
7 Mengorbankan diri
8 Permohonan seorang perempuan!
9 Akhir nafas seorang ibu!
10 Dua puluh tahun kemudian!
11 Desa terkutuk itu!
12 Kekhawatiran Lela
13 Tiba di desa Selogiri
14 Mencari tahu!
15 Penampakan!
16 Hardi dan keluarganya
17 Penampakan hantu tanpa kepala di monitor
18 Kedatangan teman lama!
19 Seperti di ikuti!
20 Kemunculan hantu tanpa kepala!
21 Sosok misterius!
22 Kemana perginya Rasman?
23 Mencari Rasman
24 Pencarian Rasman!
25 Masuk ke hutan!
26 Kembali ke tempat yang sama!
27 Suara yang memanggil!
28 Tersesat!
29 Kehadirannya!
30 Peringatan!
31 Sisah kain yang di temukan
32 Cerita para tetua: Konon katanya!
33 Sebaiknya pulang saja dulu.
34 Teriakan yang tidak akan terdengar!
35 penyiksaan!
36 Si Pemain itu!
37 Bekas di leher Mey!
38 Keputusan yang terasa aneh!
39 Rahasia apa?
40 Jangan mengungkit hal itu lagi!
41 Ketakutan!
42 Ada rahasia apa?
43 Kembali syuting
44 Kebelet buang air
45 Sedingin es!
46 Siapa dia!
47 Hantu itu!
48 Membahas kejadian tadi
49 Bertanya tentang pantang dan larangan
50 Arya dan Mey
51 Suara apa itu!
52 Hembusan nafas!
53 Hantu itu muncul lagi!
54 Suara lain!
55 Hantu perempuan!
56 Dosa yang tidak di mengerti!
57 Menyeret mangsanya!
58 Pagi yang dingin
59 Menunggu Mey.
60 Kerumah Mey
61 Kemana Mey pergi?
62 Dimana Mey?
63 Merasa dongkol!
64 Kesamaan itu!
65 Mengumpulkan warga.
66 Mencoba mengingat apa yang terjadi.
67 Berkumpul
68 Memulai pencarian!
69 Menuju Vila terlarang!
70 Tempat yang terasa tak asing!
71 Vila!
72 Seperti di perhatikan!
73 Masuk kedalam Vila!
74 Gelas yang berbekas!
75 Menemukan ponsel!
76 Kamar itu!
77 Tidak ada Mey maupun Arya!
78 Di tampar!
79 Apakah ini pembalasan dendam?
80 Sadarkan diri!
81 Terbangun dengan rasa sakit
82 Dia kembali!
83 Siapa kau!
84 Perkelahian!
85 Apa yang terjadi?
86 Apakah ada skenario lain?
87 Kalian yang harus menanggung dosa mereka!
88 Mayat yang tergantung di gerbang desa!
89 Ketakutan yang mulai merayap!
90 Ada apa?
91 Penuh tanda tanya?
92 Kematian Rasman yang menakutkan!
93 Tolong cari Mey!
94 Dosa kalian!
95 Apa? Seorang perempuan!
96 Mengintai di tengah gelap!
97 Terus memanggil!
98 Suara apa itu?!
99 Ada yang tidak beres!
100 Kemunculan hantu tanpa kepala!
101 Labirin Tanpa Ujung..
102 Memutuskan untuk kembali
103 Pak! tolong Arya!
104 Satu persatu di menerima balasannya!
105 Semuanya menjadi rumit!
106 Kembali ke kamar itu.
107 Hantu Pak Gunawan!
108 Di seret ke tempat itu juga!
109 Hanya bisa menatap dari kejauhan
110 Semua terasa aneh
111 Mencari lagi!
112 Semoga kita keluar membawa nyawa...
113 Tidak!
114 Akan aku berikan semuanya!
115 Lepaskan, akan aku berikan hartaku!
116 Siapa kau sebenrnya?
117 Ampuni aku!
118 Pencarian di hentikan!
119 Pencarian dihentikan lagi!
120 Satu lagi telah membayar!
121 Tak bernyawa lagi!
122 Pertengkaran
123 Tetua licik!
124 Di Fitnah!
125 Di kambing hitamkan!
126 Kematian sang tetua!
127 Mendobrak pintu!
128 Kebingungan!
129 Lalu siapa pembunuh sebenarnya?
130 Kepulangan Jatmiko
131 tanda tanya?
132 Bawa dia padaku!
133 Sangat mirip!
134 Di tuduh!
135 Membawa ke Vila!
136 Aku akan buat kau menjadi seperti mereka!
137 Hembusan nafas aneh!
138 Apa kau lupa padanya?!
139 Kemunculan Sumi!
140 Kilas balik dua puluh tahun lalu
141 Harus hidup!
142 Pembersih malam itu!
143 Kematian Yanto!
144 Kematian Bahrun!
145 Satu persatu membalas!
146 Kedatangan Lela!
147 Pertemuan itu dan perpisahan.
148 Dendam yang usai
149 Akhir yang bahagia
150 Judul: TEROR!
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Di kejar setan!
2
Vila yang indah.
3
Kebahagian di desa
4
Ada apa?
5
Kematian yang memilukan
6
Sadis!
7
Mengorbankan diri
8
Permohonan seorang perempuan!
9
Akhir nafas seorang ibu!
10
Dua puluh tahun kemudian!
11
Desa terkutuk itu!
12
Kekhawatiran Lela
13
Tiba di desa Selogiri
14
Mencari tahu!
15
Penampakan!
16
Hardi dan keluarganya
17
Penampakan hantu tanpa kepala di monitor
18
Kedatangan teman lama!
19
Seperti di ikuti!
20
Kemunculan hantu tanpa kepala!
21
Sosok misterius!
22
Kemana perginya Rasman?
23
Mencari Rasman
24
Pencarian Rasman!
25
Masuk ke hutan!
26
Kembali ke tempat yang sama!
27
Suara yang memanggil!
28
Tersesat!
29
Kehadirannya!
30
Peringatan!
31
Sisah kain yang di temukan
32
Cerita para tetua: Konon katanya!
33
Sebaiknya pulang saja dulu.
34
Teriakan yang tidak akan terdengar!
35
penyiksaan!
36
Si Pemain itu!
37
Bekas di leher Mey!
38
Keputusan yang terasa aneh!
39
Rahasia apa?
40
Jangan mengungkit hal itu lagi!
41
Ketakutan!
42
Ada rahasia apa?
43
Kembali syuting
44
Kebelet buang air
45
Sedingin es!
46
Siapa dia!
47
Hantu itu!
48
Membahas kejadian tadi
49
Bertanya tentang pantang dan larangan
50
Arya dan Mey
51
Suara apa itu!
52
Hembusan nafas!
53
Hantu itu muncul lagi!
54
Suara lain!
55
Hantu perempuan!
56
Dosa yang tidak di mengerti!
57
Menyeret mangsanya!
58
Pagi yang dingin
59
Menunggu Mey.
60
Kerumah Mey
61
Kemana Mey pergi?
62
Dimana Mey?
63
Merasa dongkol!
64
Kesamaan itu!
65
Mengumpulkan warga.
66
Mencoba mengingat apa yang terjadi.
67
Berkumpul
68
Memulai pencarian!
69
Menuju Vila terlarang!
70
Tempat yang terasa tak asing!
71
Vila!
72
Seperti di perhatikan!
73
Masuk kedalam Vila!
74
Gelas yang berbekas!
75
Menemukan ponsel!
76
Kamar itu!
77
Tidak ada Mey maupun Arya!
78
Di tampar!
79
Apakah ini pembalasan dendam?
80
Sadarkan diri!
81
Terbangun dengan rasa sakit
82
Dia kembali!
83
Siapa kau!
84
Perkelahian!
85
Apa yang terjadi?
86
Apakah ada skenario lain?
87
Kalian yang harus menanggung dosa mereka!
88
Mayat yang tergantung di gerbang desa!
89
Ketakutan yang mulai merayap!
90
Ada apa?
91
Penuh tanda tanya?
92
Kematian Rasman yang menakutkan!
93
Tolong cari Mey!
94
Dosa kalian!
95
Apa? Seorang perempuan!
96
Mengintai di tengah gelap!
97
Terus memanggil!
98
Suara apa itu?!
99
Ada yang tidak beres!
100
Kemunculan hantu tanpa kepala!
101
Labirin Tanpa Ujung..
102
Memutuskan untuk kembali
103
Pak! tolong Arya!
104
Satu persatu di menerima balasannya!
105
Semuanya menjadi rumit!
106
Kembali ke kamar itu.
107
Hantu Pak Gunawan!
108
Di seret ke tempat itu juga!
109
Hanya bisa menatap dari kejauhan
110
Semua terasa aneh
111
Mencari lagi!
112
Semoga kita keluar membawa nyawa...
113
Tidak!
114
Akan aku berikan semuanya!
115
Lepaskan, akan aku berikan hartaku!
116
Siapa kau sebenrnya?
117
Ampuni aku!
118
Pencarian di hentikan!
119
Pencarian dihentikan lagi!
120
Satu lagi telah membayar!
121
Tak bernyawa lagi!
122
Pertengkaran
123
Tetua licik!
124
Di Fitnah!
125
Di kambing hitamkan!
126
Kematian sang tetua!
127
Mendobrak pintu!
128
Kebingungan!
129
Lalu siapa pembunuh sebenarnya?
130
Kepulangan Jatmiko
131
tanda tanya?
132
Bawa dia padaku!
133
Sangat mirip!
134
Di tuduh!
135
Membawa ke Vila!
136
Aku akan buat kau menjadi seperti mereka!
137
Hembusan nafas aneh!
138
Apa kau lupa padanya?!
139
Kemunculan Sumi!
140
Kilas balik dua puluh tahun lalu
141
Harus hidup!
142
Pembersih malam itu!
143
Kematian Yanto!
144
Kematian Bahrun!
145
Satu persatu membalas!
146
Kedatangan Lela!
147
Pertemuan itu dan perpisahan.
148
Dendam yang usai
149
Akhir yang bahagia
150
Judul: TEROR!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!