Vila yang indah.

Tahun 2006....

Sebuah mobil Toyota Kijang Krista berwarna hitam melaju perlahan di jalan desa yang masih sebagian besar berupa tanah berbatu. Debu tipis beterbangan di belakang kendaraan itu. Di kanan dan kiri jalan terbentang sawah hijau yang luas.

Udara terasa sejuk, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk kota yang selama ini mereka tinggali. Burung-burung beterbangan rendah di atas pematang, sementara pepohonan rindang berjajar di sepanjang jalan desa.

Di dalam mobil, Pak Gunawan yang duduk di kursi depan tersenyum puas melihat pemandangan itu.

"Bagaimana, Sri? Tempat ini jauh lebih tenang daripada kota, bukan?" tanyanya sambil menoleh ke arah istrinya.

Bu Sri yang tengah hamil delapan bulan mengusap perut besarnya perlahan.

"Iya, Mas. Rasanya bahkan baru menghirup udaranya saja sudah membuatku lebih rileks."

"Syukurlah. Aku memang berharap tempat ini bisa membuatmu lebih nyaman sampai waktu persalinan tiba."

Di kursi belakang, dua asisten rumah tangga mereka, Sumi dan Lela yang sama-sama berusia sekitar dua puluh lima tahun, tampak antusias melihat pemandangan di luar jendela.

"Masya Allah, cantik sekali desanya," ujar Sumi.

"Iya, Mbak. Lihat sawahnya luas sekali," sahut Lela.

Di samping mereka duduk seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun bernama Mbok Warsih. Dia sudah bekerja pada keluarga Gunawan selama bertahun-tahun dan dianggap seperti keluarga sendiri.

"Tempat seperti ini memang cocok untuk istirahat," kata Mbok Warsih. "Nyonya pasti bisa tidur lebih nyenyak di sini."

Bu Sri tersenyum.

"Aku juga berharap begitu, Mbok."

Sementara itu, di kendaraan belakang, Aji sang tukang kebun mengikuti perjalanan mereka menggunakan mobil bak kecil yang membawa sebagian barang-barang kebutuhan.

Beberapa menit kemudian rombongan berhenti di sebuah persimpangan kecil. Pak Gunawan turun dan meregangkan tubuhnya.

Bu Sri ikut turun dari mobil dengan hati-hati. Pak Gunawan segera menghampirinya.

"Pelan-pelan, jangan terburu-buru."

"Aku tidak apa-apa," jawab Bu Sri sambil tertawa kecil.

Aji yang baru tiba menghampiri mereka.

"Pak, barang-barang aman semua."

"Bagus, Aji."

Aji memandang sekeliling.

"Desanya tenang sekali ya, Pak."

"Itu alasan saya memilih tempat ini."

Mbok Warsih juga turun lalu menarik napas panjang.

"Udara seperti ini sudah sulit ditemukan di kota."

Sumi mengangguk setuju.

"Rasanya seperti sedang liburan."

Pak Gunawan tertawa.

"Anggap saja memang begitu. Tapi kita akan tinggal cukup lama."

"Berapa lama, Pak?" Tanya Lela.

"Sampai Sri melahirkan dan kondisinya benar-benar pulih."

Bu Sri tersenyum hangat.

"Jadi kalian harus sabar menghadapi aku yang mungkin akan semakin rewel."

Semua tertawa.

"Kalau soal itu kami sudah terbiasa, Bu." canda Sumi.

"Sumi!" seru Bu Sri sambil tertawa.

Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Jalan yang mereka lalui semakin sepi. Rumah-rumah penduduk mulai jarang terlihat.

Lela mulai memperhatikan keadaan sekitar.

"Pak, rumah penduduk sudah tidak banyak."

"Karena vila yang kita tuju berada di ujung desa." Jawab Pak Gunawan.

"Jauh sekali rupanya."

"Justru itu yang saya cari. Tenang, tidak terlalu ramai."

Tak lama kemudian sebuah bangunan megah mulai terlihat di kejauhan.

Mata semua orang langsung tertuju ke sana.

"Wah..." gumam Sumi.

"Itu villanya?" Tanya Lela tidak percaya.

Pak Gunawan mengangguk bangga.

"Ya. Mulai hari ini kita tinggal di sana."

Bangunan itu berdiri di atas lahan luas yang dikelilingi pepohonan. Terdiri dari dua lantai dengan balkon besar menghadap perbukitan dan sawah.

"Ya Allah..." kata Bu Sri pelan.

Pak Gunawan tersenyum.

"Kau suka?"

"Suka sekali."

Mobil memasuki gerbang besi yang tinggi. Halaman vila begitu luas dengan taman yang tertata rapi.

Aji sampai bersiul kagum.

"Pak, ini bukan vila lagi namanya. Ini seperti hotel."

Semua tertawa.

Pak Gunawan turun lebih dulu lalu membuka pintu untuk istrinya.

"Selamat datang di rumah sementara kita."

Bu Sri menggenggam tangan suaminya.

"Terima kasih, Mas."

"Untukmu dan calon anak kita."

Mbok Warsih memandangi vila itu dengan kagum.

"Pak, tempat ini benar-benar indah."

"Saya berharap begitu."

"Semoga membawa banyak kebahagiaan."

"Amin." Jawab semua hampir bersamaan.

Angin sore berhembus lembut melewati pepohonan di sekitar vila. Dari kejauhan terdengar suara burung dan gemericik air sungai kecil yang mengalir di balik bukit. Suasana terasa damai, seolah menjadi tempat sempurna bagi keluarga kecil itu untuk menunggu kelahiran anggota baru mereka.

Pintu utama vila terbuka perlahan.

Pak Gunawan melangkah sambil merangkul pinggang istrinya penuh perhatian, dan membantunya melangkah melewati ambang pintu. Kandungan yang sudah berusia delapan bulan membuat langkah Bu Sri sedikit lebih lambat dari biasanya.

Di belakang mereka, Mbok Warsih, Sumi, dan Lela ikut masuk sambil membawa beberapa tas kecil. Sementara itu, Aji masih sibuk mengangkat koper-koper besar dan membawanya ke dalam vila.

Begitu memasuki ruang utama, semua orang langsung terdiam.

Ruangan itu sangat besar. Langit-langitnya tinggi hingga lantai dua, dihiasi lampu gantung kristal yang berkilauan terkena sinar matahari. Lantai marmer berwarna krem mengilap bersih, sementara jendela-jendela besar membuat cahaya alami memenuhi seluruh ruangan.

"Masya Allah..." Gumam Mbok Warsih.

Sumi menoleh ke kanan dan kiri dengan mata berbinar.

"Indah sekali."

"Ini lebih besar dari yang saya bayangkan." Tambah Lela.

Pak Gunawan tersenyum puas melihat reaksi mereka.

Sementara itu, Bu Sri masih berdiri di dekat pintu sambil memandang sekeliling. Pak Gunawan tetap berada di sampingnya, satu tangan memegang bahunya dengan lembut.

"Bagaimana?" Tanyanya.

Bu Sri tersenyum.

"Aku suka sekali."

"Benarkah?"

"Iya. Rasanya tenang."

Pak Gunawan mengusap lengan istrinya pelan.

"Itu yang paling penting."

Bu Sri menoleh ke arah suaminya.

"Terima kasih, Mas."

"Kamu tidak perlu berterima kasih."

"Tapi kau sudah melakukan banyak hal untukku." Kata Bu Sri.

Pak Gunawan tersenyum hangat.

"Aku melakukan semuanya untuk kalian berdua."

Tangannya berpindah ke perut besar istrinya.

"Untuk ibu dan calon anakku."

Bu Sri tersenyum haru.

Di tengah suasana hangat itu, terdengar suara langkah berat dari arah pintu.

Aji masuk sambil membawa dua koper besar sekaligus.

Dia menurunkan koper-koper itu dengan hati-hati.

"Waduh..." katanya sambil mengusap keringat.

Semua tertawa kecil.

"Baru dua koper, Aji?" Tanya Sumi.

"Masih banyak." Katanya.

"Wah, semangat ya, Pak."

Aji menggeleng sambil tersenyum.

"Kalau saya tahu barangnya sebanyak ini, mungkin saya minta tambahan tenaga."

Tawa kembali memenuhi ruangan. Pak Gunawan lalu mengajak semuanya menuju ruang keluarga.

Tangannya tidak pernah jauh dari istrinya, sesekali dia memegangi punggung istrinya, memastikan langkahnya tetap nyaman.

Mereka tiba di ruang keluarga yang menghadap langsung ke perbukitan hijau melalui jendela kaca besar.

Bu Sri perlahan duduk di sofa. Pak Gunawan segera duduk di sampingnya.

"Nah, istirahat dulu."

"Aku tidak selelah itu."

"Tetap saja." Kata pak Gunawan.

"Kau terlalu khawatir." Ucap Bu Sri tertawa kecil.

"Aku memang khawatir."

Mbok Warsih yang melihat mereka tersenyum.

"Pak Gunawan dari dulu memang begitu kalau soal Nyonya."

"Dan itu tidak pernah berubah, kan Mas." kata Bu Sri.

"Tentu saja." Sahut Pak Gunawan.

Setelah beberapa saat beristirahat, mereka mulai berkeliling melihat isi vila.

Saat menaiki tangga menuju lantai dua, Pak Gunawan kembali menggenggam tangan istrinya.

"Pegangan."

"Mas, aku masih bisa jalan sendiri."

"Aku tahu."

"Kalau begitu lepaskan."

"Tidak mau."

Bu Sri menggeleng sambil tersenyum.

"Keras kepala."

"Anggap saja aku suami yang bertanggung jawab."

Sumi dan Lela yang berjalan di belakang mereka saling bertukar pandang lalu tertawa kecil.

"Romantis sekali." Bisik Lela.

"Iya." Jawab Sumi.

Mereka akhirnya tiba di kamar utama.

Begitu pintu dibuka, semua kembali terpukau.

Kamar itu sangat luas dengan tempat tidur besar, lemari kayu jati, dan balkon yang menghadap ke hamparan sawah.

Bu Sri berjalan menuju balkon.

Namun sebelum dia membuka pintu, Pak Gunawan lebih dulu membukanya untuknya.

Angin sejuk langsung masuk ke dalam kamar.

Bu Sri menutup mata sejenak, menikmati udara segar yang menyentuh wajahnya.

Pak Gunawan berdiri di sampingnya sambil memegang salah satu tangannya.

"Pemandangannya indah."

"Sangat indah."

"Apakah tempat ini sesuai harapanmu?"

Bu Sri menoleh dan tersenyum.

"Bahkan lebih baik dari yang aku bayangkan."

Pak Gunawan mengangguk puas.

"Itu berarti aku tidak salah memilih."

Mereka berdiri berdampingan memandang hamparan sawah yang berwarna keemasan diterpa cahaya sore.

Di belakang mereka, suara Aji yang masih bolak-balik membawa koper terdengar samar dari lantai bawah.

Namun saat itu tak ada yang memikirkan apa pun selain rasa bahagia.

Bagi Bu Sri, kehadiran suaminya yang selalu berada di sisinya membuat vila megah itu terasa lebih hangat. Dan bagi Pak Gunawan, tidak ada yang lebih penting selain menjaga istrinya tetap tenang dan nyaman sampai hari kelahiran anak mereka tiba.

Terpopuler

Comments

Riska Salahudin

Riska Salahudin

kira" apa penyebab mereka semua meninggal ya. awal ny udh bahagia banget padahal

2026-06-24

4

Aiman Asyraf

Aiman Asyraf

👍👍👍

2026-08-13

0

Yulia Lia

Yulia Lia

jreng jreng

2026-06-29

1

lihat semua
Episodes
1 Di kejar setan!
2 Vila yang indah.
3 Kebahagian di desa
4 Ada apa?
5 Kematian yang memilukan
6 Sadis!
7 Mengorbankan diri
8 Permohonan seorang perempuan!
9 Akhir nafas seorang ibu!
10 Dua puluh tahun kemudian!
11 Desa terkutuk itu!
12 Kekhawatiran Lela
13 Tiba di desa Selogiri
14 Mencari tahu!
15 Penampakan!
16 Hardi dan keluarganya
17 Penampakan hantu tanpa kepala di monitor
18 Kedatangan teman lama!
19 Seperti di ikuti!
20 Kemunculan hantu tanpa kepala!
21 Sosok misterius!
22 Kemana perginya Rasman?
23 Mencari Rasman
24 Pencarian Rasman!
25 Masuk ke hutan!
26 Kembali ke tempat yang sama!
27 Suara yang memanggil!
28 Tersesat!
29 Kehadirannya!
30 Peringatan!
31 Sisah kain yang di temukan
32 Cerita para tetua: Konon katanya!
33 Sebaiknya pulang saja dulu.
34 Teriakan yang tidak akan terdengar!
35 penyiksaan!
36 Si Pemain itu!
37 Bekas di leher Mey!
38 Keputusan yang terasa aneh!
39 Rahasia apa?
40 Jangan mengungkit hal itu lagi!
41 Ketakutan!
42 Ada rahasia apa?
43 Kembali syuting
44 Kebelet buang air
45 Sedingin es!
46 Siapa dia!
47 Hantu itu!
48 Membahas kejadian tadi
49 Bertanya tentang pantang dan larangan
50 Arya dan Mey
51 Suara apa itu!
52 Hembusan nafas!
53 Hantu itu muncul lagi!
54 Suara lain!
55 Hantu perempuan!
56 Dosa yang tidak di mengerti!
57 Menyeret mangsanya!
58 Pagi yang dingin
59 Menunggu Mey.
60 Kerumah Mey
61 Kemana Mey pergi?
62 Dimana Mey?
63 Merasa dongkol!
64 Kesamaan itu!
65 Mengumpulkan warga.
66 Mencoba mengingat apa yang terjadi.
67 Berkumpul
68 Memulai pencarian!
69 Menuju Vila terlarang!
70 Tempat yang terasa tak asing!
71 Vila!
72 Seperti di perhatikan!
73 Masuk kedalam Vila!
74 Gelas yang berbekas!
75 Menemukan ponsel!
76 Kamar itu!
77 Tidak ada Mey maupun Arya!
78 Di tampar!
79 Apakah ini pembalasan dendam?
80 Sadarkan diri!
81 Terbangun dengan rasa sakit
82 Dia kembali!
83 Siapa kau!
84 Perkelahian!
85 Apa yang terjadi?
86 Apakah ada skenario lain?
87 Kalian yang harus menanggung dosa mereka!
88 Mayat yang tergantung di gerbang desa!
89 Ketakutan yang mulai merayap!
90 Ada apa?
91 Penuh tanda tanya?
92 Kematian Rasman yang menakutkan!
93 Tolong cari Mey!
94 Dosa kalian!
95 Apa? Seorang perempuan!
96 Mengintai di tengah gelap!
97 Terus memanggil!
98 Suara apa itu?!
99 Ada yang tidak beres!
100 Kemunculan hantu tanpa kepala!
101 Labirin Tanpa Ujung..
102 Memutuskan untuk kembali
103 Pak! tolong Arya!
104 Satu persatu di menerima balasannya!
105 Semuanya menjadi rumit!
106 Kembali ke kamar itu.
107 Hantu Pak Gunawan!
108 Di seret ke tempat itu juga!
109 Hanya bisa menatap dari kejauhan
110 Semua terasa aneh
111 Mencari lagi!
112 Semoga kita keluar membawa nyawa...
113 Tidak!
114 Akan aku berikan semuanya!
115 Lepaskan, akan aku berikan hartaku!
116 Siapa kau sebenrnya?
117 Ampuni aku!
118 Pencarian di hentikan!
119 Pencarian dihentikan lagi!
120 Satu lagi telah membayar!
121 Tak bernyawa lagi!
122 Pertengkaran
123 Tetua licik!
124 Di Fitnah!
125 Di kambing hitamkan!
126 Kematian sang tetua!
127 Mendobrak pintu!
128 Kebingungan!
129 Lalu siapa pembunuh sebenarnya?
130 Kepulangan Jatmiko
131 tanda tanya?
132 Bawa dia padaku!
133 Sangat mirip!
134 Di tuduh!
135 Membawa ke Vila!
136 Aku akan buat kau menjadi seperti mereka!
137 Hembusan nafas aneh!
138 Apa kau lupa padanya?!
139 Kemunculan Sumi!
140 Kilas balik dua puluh tahun lalu
141 Harus hidup!
142 Pembersih malam itu!
143 Kematian Yanto!
144 Kematian Bahrun!
145 Satu persatu membalas!
146 Kedatangan Lela!
147 Pertemuan itu dan perpisahan.
148 Dendam yang usai
149 Akhir yang bahagia
150 Judul: TEROR!
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Di kejar setan!
2
Vila yang indah.
3
Kebahagian di desa
4
Ada apa?
5
Kematian yang memilukan
6
Sadis!
7
Mengorbankan diri
8
Permohonan seorang perempuan!
9
Akhir nafas seorang ibu!
10
Dua puluh tahun kemudian!
11
Desa terkutuk itu!
12
Kekhawatiran Lela
13
Tiba di desa Selogiri
14
Mencari tahu!
15
Penampakan!
16
Hardi dan keluarganya
17
Penampakan hantu tanpa kepala di monitor
18
Kedatangan teman lama!
19
Seperti di ikuti!
20
Kemunculan hantu tanpa kepala!
21
Sosok misterius!
22
Kemana perginya Rasman?
23
Mencari Rasman
24
Pencarian Rasman!
25
Masuk ke hutan!
26
Kembali ke tempat yang sama!
27
Suara yang memanggil!
28
Tersesat!
29
Kehadirannya!
30
Peringatan!
31
Sisah kain yang di temukan
32
Cerita para tetua: Konon katanya!
33
Sebaiknya pulang saja dulu.
34
Teriakan yang tidak akan terdengar!
35
penyiksaan!
36
Si Pemain itu!
37
Bekas di leher Mey!
38
Keputusan yang terasa aneh!
39
Rahasia apa?
40
Jangan mengungkit hal itu lagi!
41
Ketakutan!
42
Ada rahasia apa?
43
Kembali syuting
44
Kebelet buang air
45
Sedingin es!
46
Siapa dia!
47
Hantu itu!
48
Membahas kejadian tadi
49
Bertanya tentang pantang dan larangan
50
Arya dan Mey
51
Suara apa itu!
52
Hembusan nafas!
53
Hantu itu muncul lagi!
54
Suara lain!
55
Hantu perempuan!
56
Dosa yang tidak di mengerti!
57
Menyeret mangsanya!
58
Pagi yang dingin
59
Menunggu Mey.
60
Kerumah Mey
61
Kemana Mey pergi?
62
Dimana Mey?
63
Merasa dongkol!
64
Kesamaan itu!
65
Mengumpulkan warga.
66
Mencoba mengingat apa yang terjadi.
67
Berkumpul
68
Memulai pencarian!
69
Menuju Vila terlarang!
70
Tempat yang terasa tak asing!
71
Vila!
72
Seperti di perhatikan!
73
Masuk kedalam Vila!
74
Gelas yang berbekas!
75
Menemukan ponsel!
76
Kamar itu!
77
Tidak ada Mey maupun Arya!
78
Di tampar!
79
Apakah ini pembalasan dendam?
80
Sadarkan diri!
81
Terbangun dengan rasa sakit
82
Dia kembali!
83
Siapa kau!
84
Perkelahian!
85
Apa yang terjadi?
86
Apakah ada skenario lain?
87
Kalian yang harus menanggung dosa mereka!
88
Mayat yang tergantung di gerbang desa!
89
Ketakutan yang mulai merayap!
90
Ada apa?
91
Penuh tanda tanya?
92
Kematian Rasman yang menakutkan!
93
Tolong cari Mey!
94
Dosa kalian!
95
Apa? Seorang perempuan!
96
Mengintai di tengah gelap!
97
Terus memanggil!
98
Suara apa itu?!
99
Ada yang tidak beres!
100
Kemunculan hantu tanpa kepala!
101
Labirin Tanpa Ujung..
102
Memutuskan untuk kembali
103
Pak! tolong Arya!
104
Satu persatu di menerima balasannya!
105
Semuanya menjadi rumit!
106
Kembali ke kamar itu.
107
Hantu Pak Gunawan!
108
Di seret ke tempat itu juga!
109
Hanya bisa menatap dari kejauhan
110
Semua terasa aneh
111
Mencari lagi!
112
Semoga kita keluar membawa nyawa...
113
Tidak!
114
Akan aku berikan semuanya!
115
Lepaskan, akan aku berikan hartaku!
116
Siapa kau sebenrnya?
117
Ampuni aku!
118
Pencarian di hentikan!
119
Pencarian dihentikan lagi!
120
Satu lagi telah membayar!
121
Tak bernyawa lagi!
122
Pertengkaran
123
Tetua licik!
124
Di Fitnah!
125
Di kambing hitamkan!
126
Kematian sang tetua!
127
Mendobrak pintu!
128
Kebingungan!
129
Lalu siapa pembunuh sebenarnya?
130
Kepulangan Jatmiko
131
tanda tanya?
132
Bawa dia padaku!
133
Sangat mirip!
134
Di tuduh!
135
Membawa ke Vila!
136
Aku akan buat kau menjadi seperti mereka!
137
Hembusan nafas aneh!
138
Apa kau lupa padanya?!
139
Kemunculan Sumi!
140
Kilas balik dua puluh tahun lalu
141
Harus hidup!
142
Pembersih malam itu!
143
Kematian Yanto!
144
Kematian Bahrun!
145
Satu persatu membalas!
146
Kedatangan Lela!
147
Pertemuan itu dan perpisahan.
148
Dendam yang usai
149
Akhir yang bahagia
150
Judul: TEROR!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!