Kematian yang memilukan

Keheningan menyelimuti seluruh vila, lampu-lampu utama sudah dimatikan. Hanya lampu teras dan beberapa lampu dinding yang masih menyala redup, memancarkan cahaya kekuningan yang menciptakan bayangan panjang di lantai marmer.

Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan dari arah persawahan.

Sesekali embusan angin malam menggoyangkan dedaunan pohon besar yang tumbuh di sekitar halaman vila.

Di dalam kamar belakang, Aji yang baru saja terlelap mendadak membuka mata.

Prang!

Suara benda pecah itu terdengar begitu jelas, memecah keheningan malam.

Aji mengangkat kepalanya dari bantal. Dia duduk perlahan sambil mengucek mata yang masih berat.

"Apa itu..." Gumamnya.

Beberapa detik dia hanya diam, mencoba memastikan apakah suara tadi benar-benar nyata atau hanya terbawa mimpi.

Namun setelah suasana kembali sunyi, rasa penasarannya justru semakin besar.

Dia mengenakan sandal, lalu membuka pintu kamar. Koridor belakang tampak kosong, tidak ada siapa pun.

Aji melangkah perlahan menuju ruang depan. Langkahnya bergema pelan di lantai yang dingin.

Begitu sampai di dekat pintu utama, pandangannya langsung tertuju ke arah tangga teras.

Keningnya berkerut.

"Lho..."

Sebuah vas bunga besar dari tanah liat yang sebelumnya menghiasi sisi tangga kini telah pecah berkeping-keping.

Pecahannya berserakan di anak tangga hingga ke halaman.

Tanah hitam dan tanaman hias yang berada di dalamnya ikut berhamburan.

Aji mendekat sambil menghela napas.

"Kenapa bisa pecah begini?"

Dia berjongkok dan mengambil salah satu pecahan vas.

Masih terasa kokoh.

"Mungkin ada kucing..."

Kalimat itu terhenti di bibirnya sendiri. Dia lalu menoleh ke kanan dan kiri, hlaman tampak kosong.

Lagi pula, pikirnya, seekor kucing rasanya tidak mungkin mampu menjatuhkan vas sebesar itu hingga hancur berkeping-keping.

Aji menggeleng pelan.

"Ah... mungkin memang sudah retak dari dulu."

Dia mencoba menerima penjelasan itu, barangkali tanah liatnya sudah rapuh di makan usia.

Dia menarik napas panjang dan hendak berdiri. Namun pada saat yang sama, tanpa dia sadari, ada seseorang yang sedang berjalan perlahan dari balik gelapnya halaman.

Langkah orang itu nyaris tak bersuara. Sedangkan, Aji masih memandangi pecahan vas, sama sekali tidak menyadari kehadiran sosok asing di belakangnya.

Suasana di sekeliling mendadak terasa begitu sunyi. Bahkan suara jangkrik seolah menghilang.

Saat Aji akhirnya berdiri, sebuah suara pelan terdengar tepat di belakang telinganya.

"Jangan berteriak."

Tubuh Aji langsung menegang, dia membeku di tempat. Napasnya tertahan. Sebuah parang sudah berada di lehernya.

Seseorang berdiri sangat dekat di belakangnya. Yang di susuk oleh empat orang lainnya yang juga mendekat.

Dalam cahaya redup lampu teras, hanya siluet tubuh pria itu yang terlihat jelas. Wajahnya sebagian tertutup kain gelap.

Pikirannya mendadak kosong, dia ingin berteriak. Ingin memperingatkan semua penghuni vila.

Namun suaranya seolah hilang, pria itu tetap berbicara dengan nada rendah.

"Tenang."

"Ikuti saja apa yang kami bilang."

Dadanya naik turun menahan napas yang mulai tidak beraturan. Di tengah dinginnya udara malam, dia justru merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Pelan-pelan dia memberanikan diri bertanya.

"Si... siapa kalian?"

Pria yang berdiri paling dekat tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap tertuju ke arah vila yang berdiri megah di hadapan mereka.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam.

Barulah pria itu berkata dengan suara pelan namun tegas,

"Itu bukan urusanmu."

Aji tetap diam.

Pria itu melanjutkan,

"Yang perlu kamu lakukan sekarang hanya satu."

Ia memberi isyarat singkat kepada empat rekannya yang langsung menyebar mengamati halaman vila.

"Bawa kami masuk."

Aji menggeleng pelan. Dia tidak mungkin bisa membawa para mereka masuk kedalam.

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, pria itu mendekat selangkah. Bilah parang yang berada di tangannya tetap terarah ke leher Aji sebagai ancaman agar dia tidak melakukan tindakan nekat.

"Dengarkan baik-baik."

Nada bicaranya tetap rendah, tetapi terdengar penuh tekanan.

"Kami tidak ingin membuat keributan."

"Kalau kamu tetap tenang dan melakukan apa yang kami perintahkan, semuanya akan lebih mudah."

Jantung Aji berdegup semakin keras, pikirannya bercampur aduk.

Dia ingin berteriak memperingatkan Pak Gunawan, ingin berlari masuk ke dalam rumah. Namun ia sadar, gerakan sekecil apa pun bisa memancing reaksi dari orang-orang yang kini mengepungnya.

Salah seorang pria lain melangkah mendekat.

"Cepat." Ucap Pria yang pertama kembali berbicara.

"Masuk ke dalam." Kata pria yang lebih tinggi.

"Berikan semua barang berharga."

Semuanya membawa parang, mereka berdiri tenang, seolah sudah memperhitungkan setiap langkah yang akan dilakukan.

Aji menarik napas panjang.

"Kalau... kalau saya menolak?"

Suasana mendadak menjadi hening, pria itu menatap Aji tanpa berkedip.

"Kami tidak datang ke sini untuk berdebat."

"Jangan mempersulit keadaan." Ucapan itu membuat Aji semakin gugup.

Dia melirik ke arah lantai dua vila. Pak Gunawan, Bu Sri, Mbok Warsih, Sumi, dan Lela kemungkinan besar masih tertidur lelap, sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di luar.

Aji mengepalkan tangannya pelan, dia sadar, apa pun keputusan yang diambilnya dalam beberapa detik ke depan dapat menentukan nasib semua orang yang berada di dalam rumah itu.

Di dalam vila, keheningan malam yang semula menenangkan perlahan terasa berbeda.

Mbok Warsih yang sejak tadi terlelap mulai membuka mata. Entah mengapa, tidurnya terasa tidak nyenyak malam itu.

Dia mengerjapkan mata beberapa kali, dari luar, terdengar suara lirih yang samar-samar seperti orang sedang berbicara.

Mbok Warsih mengernyit.

"Siapa yang masih bangun malam-malam begini?" Gumamnya pelan.

Dia duduk di tepi ranjang, lalu memasang telinga.

Mbok Warsih membuka pintu kamarnya dengan hati-hati.

Koridor vila tampak lengang.

"Aji?" panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban. Mbok Warsih terus berjalan menuju ruang depan. Semakin mendekati pintu utama, suara percakapan itu semakin jelas.

"Aji..?" Panggilnya sekali lagi.

Namun, pemandangan yang di lihatnya, seketika membuat Mbok Warsih tertegun.

Matanya membelalak, dii bawah cahaya lampu teras, dia melihat Aji berdiri kaku.

Beberapa orang yang bertopeng berdiri disana. Salah seorang berdiri dengan tangan yang mengulurkan parang tepat di leher Aji.

Selama beberapa detik Mbok Warsih hanya terpaku.

Otaknya seperti menolak mempercayai apa yang sedang dilihat.

"A... Aji..." Rasa takut yang luar biasa langsung menyergap Mbok Warsih.

Tanpa mampu menahannya lagi, ia menarik napas panjang.

"Tolong...!"

Suara teriakannya memecah kesunyian malam. Teriakan itu menggema hingga ke dalam vila.

Saat perhatian para penyusup terpecah oleh teriakan Mbok Warsih, Aji bergerak secepat mungkin untuk menjauh dari pria yang menahannya.

"Mbok, masuk!" teriak Aji sekuat tenaga.

Teriakan Mbok Warsih yang menggema di halaman vila membuat suasana seketika berubah kacau.

"Tooolooong...!"

Suara itu memecah keheningan malam. Kelima pria bertopeng itu spontan menoleh ke arah pintu utama.

Kesempatan yang hanya berlangsung sepersekian detik itu tidak disia-siakan Aji.

Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, dia berusaha melepaskan diri dari kepungan. Tubuhnya bergerak cepat, memanfaatkan apa yang masih diingatnya dari latihan bela diri yang pernah dia pelajari bertahun-tahun lalu.

Salah satu tangannya menepis orang yang paling dekat dengannya, lalu dia mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak.

"Ayo!" bentak salah seorang pria kepada rekan-rekannya.

Aji memasang kuda-kuda seadanya. Napasnya memburu, dia sadar betul dirinya bukan petarung hebat.

Apa yang dia lakukan sekarang hanyalah naluri untuk bertahan dan memberi kesempatan bagi penghuni vila agar menyadari bahaya yang sedang terjadi. Atau setidaknya mereka bisa melarikan diri.

Dia berusaha menghindari kepungan, bergerak ke kanan lalu ke kiri, mencari celah untuk lolos.

Namun lawan yang dihadapinya bukan hanya satu orang. Mereka berjumlah lima, mereka datang dengan persiapan yang jauh lebih matang.

Aji mulai kewalahan, setiap kali dia berhasil menghindar dari satu orang, yang lain sudah menutup jalannya.

"Tangkap dia!" terdengar salah seorang memberi aba-aba.

Jarak mereka semakin rapat, Aji menggertakkan gigi.

Dalam hati dia hanya memikirkan satu hal. Yang penting mereka jangan sampai masuk ke dalam vila.

Dia kembali mencoba menerobos kepungan.

Saat berpapasan dengan salah satu pria bertopeng, refleks tangannya menyambar bagian penutup kepala orang itu.

Brak!

Kain hitam itu terlepas.

Pria tersebut spontan mundur beberapa langkah sambil berusaha menutupi wajahnya.

Namun semuanya sudah terlambat, dalam cahaya lampu teras yang redup, wajah pria itu terlihat jelas.

Aji membeku.

Matanya membelalak.

"Kamu...?"

Pria itu ikut terdiam sesaat, tatapan mereka saling bertemu.

Ekspresi terkejut muncul di wajah Aji, dia kenal wajah itu, bukan sekali dua kali dia melihatnya, tapi berkali-kali.

Aji masih mematung, mulutnya terbuka sedikit, hendak menyebutkan sebuah nama. Namun, belum sempat suara itu keluar, pria tersebut memberikan isyarat dengan tatapan mata yang mematikan kepada rekan-rekannya.

Tanpa peringatan, salah satunya langsung mengayunkan parangnya keleher Aji.

Srettt.

Aji bahkan tidak sempat merasakan sakit yang hebat. Tubuhnya yang tadi menegang seketika lunglai.

Dalam satu ayunan yang sangat brutal, parang itu memutus hubungan antara leher dan bahunya.

Kepala Aji menggelinding di atas lantai teras, meninggalkan jejak merah yang mulai menggenang di lantai.

Tubuhnya yang tak lagi bernyawa tersungkur tepat di depan pintu utama yang masih terbuka sedikit, seolah menjadi penjaga terakhir yang gagal mempertahankan apa yang ingin di jaganya.

Di dalam, Mbok Warsih yang masih mematung menahan napas. Matanya terbelalak melihat pemandangan mengerikan itu. Suara teriakan yang tersangkut di tenggorokannya lenyap, digantikan oleh kesunyian mematikan.

Terpopuler

Comments

Reksa Nanta

Reksa Nanta

tidak dikunci lagi pintu utamanya ? padahal ada jeda waktu cukup lama yang dihabiskan untuk bengong.

2026-08-21

0

Reksa Nanta

Reksa Nanta

kepanikan yang membawa bencana.

2026-08-21

0

Mega Arum

Mega Arum

kasihan Aji

2026-06-29

1

lihat semua
Episodes
1 Di kejar setan!
2 Vila yang indah.
3 Kebahagian di desa
4 Ada apa?
5 Kematian yang memilukan
6 Sadis!
7 Mengorbankan diri
8 Permohonan seorang perempuan!
9 Akhir nafas seorang ibu!
10 Dua puluh tahun kemudian!
11 Desa terkutuk itu!
12 Kekhawatiran Lela
13 Tiba di desa Selogiri
14 Mencari tahu!
15 Penampakan!
16 Hardi dan keluarganya
17 Penampakan hantu tanpa kepala di monitor
18 Kedatangan teman lama!
19 Seperti di ikuti!
20 Kemunculan hantu tanpa kepala!
21 Sosok misterius!
22 Kemana perginya Rasman?
23 Mencari Rasman
24 Pencarian Rasman!
25 Masuk ke hutan!
26 Kembali ke tempat yang sama!
27 Suara yang memanggil!
28 Tersesat!
29 Kehadirannya!
30 Peringatan!
31 Sisah kain yang di temukan
32 Cerita para tetua: Konon katanya!
33 Sebaiknya pulang saja dulu.
34 Teriakan yang tidak akan terdengar!
35 penyiksaan!
36 Si Pemain itu!
37 Bekas di leher Mey!
38 Keputusan yang terasa aneh!
39 Rahasia apa?
40 Jangan mengungkit hal itu lagi!
41 Ketakutan!
42 Ada rahasia apa?
43 Kembali syuting
44 Kebelet buang air
45 Sedingin es!
46 Siapa dia!
47 Hantu itu!
48 Membahas kejadian tadi
49 Bertanya tentang pantang dan larangan
50 Arya dan Mey
51 Suara apa itu!
52 Hembusan nafas!
53 Hantu itu muncul lagi!
54 Suara lain!
55 Hantu perempuan!
56 Dosa yang tidak di mengerti!
57 Menyeret mangsanya!
58 Pagi yang dingin
59 Menunggu Mey.
60 Kerumah Mey
61 Kemana Mey pergi?
62 Dimana Mey?
63 Merasa dongkol!
64 Kesamaan itu!
65 Mengumpulkan warga.
66 Mencoba mengingat apa yang terjadi.
67 Berkumpul
68 Memulai pencarian!
69 Menuju Vila terlarang!
70 Tempat yang terasa tak asing!
71 Vila!
72 Seperti di perhatikan!
73 Masuk kedalam Vila!
74 Gelas yang berbekas!
75 Menemukan ponsel!
76 Kamar itu!
77 Tidak ada Mey maupun Arya!
78 Di tampar!
79 Apakah ini pembalasan dendam?
80 Sadarkan diri!
81 Terbangun dengan rasa sakit
82 Dia kembali!
83 Siapa kau!
84 Perkelahian!
85 Apa yang terjadi?
86 Apakah ada skenario lain?
87 Kalian yang harus menanggung dosa mereka!
88 Mayat yang tergantung di gerbang desa!
89 Ketakutan yang mulai merayap!
90 Ada apa?
91 Penuh tanda tanya?
92 Kematian Rasman yang menakutkan!
93 Tolong cari Mey!
94 Dosa kalian!
95 Apa? Seorang perempuan!
96 Mengintai di tengah gelap!
97 Terus memanggil!
98 Suara apa itu?!
99 Ada yang tidak beres!
100 Kemunculan hantu tanpa kepala!
101 Labirin Tanpa Ujung..
102 Memutuskan untuk kembali
103 Pak! tolong Arya!
104 Satu persatu di menerima balasannya!
105 Semuanya menjadi rumit!
106 Kembali ke kamar itu.
107 Hantu Pak Gunawan!
108 Di seret ke tempat itu juga!
109 Hanya bisa menatap dari kejauhan
110 Semua terasa aneh
111 Mencari lagi!
112 Semoga kita keluar membawa nyawa...
113 Tidak!
114 Akan aku berikan semuanya!
115 Lepaskan, akan aku berikan hartaku!
116 Siapa kau sebenrnya?
117 Ampuni aku!
118 Pencarian di hentikan!
119 Pencarian dihentikan lagi!
120 Satu lagi telah membayar!
121 Tak bernyawa lagi!
122 Pertengkaran
123 Tetua licik!
124 Di Fitnah!
125 Di kambing hitamkan!
126 Kematian sang tetua!
127 Mendobrak pintu!
128 Kebingungan!
129 Lalu siapa pembunuh sebenarnya?
130 Kepulangan Jatmiko
131 tanda tanya?
132 Bawa dia padaku!
133 Sangat mirip!
134 Di tuduh!
135 Membawa ke Vila!
136 Aku akan buat kau menjadi seperti mereka!
137 Hembusan nafas aneh!
138 Apa kau lupa padanya?!
139 Kemunculan Sumi!
140 Kilas balik dua puluh tahun lalu
141 Harus hidup!
142 Pembersih malam itu!
143 Kematian Yanto!
144 Kematian Bahrun!
145 Satu persatu membalas!
146 Kedatangan Lela!
147 Pertemuan itu dan perpisahan.
148 Dendam yang usai
149 Akhir yang bahagia
150 Judul: TEROR!
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Di kejar setan!
2
Vila yang indah.
3
Kebahagian di desa
4
Ada apa?
5
Kematian yang memilukan
6
Sadis!
7
Mengorbankan diri
8
Permohonan seorang perempuan!
9
Akhir nafas seorang ibu!
10
Dua puluh tahun kemudian!
11
Desa terkutuk itu!
12
Kekhawatiran Lela
13
Tiba di desa Selogiri
14
Mencari tahu!
15
Penampakan!
16
Hardi dan keluarganya
17
Penampakan hantu tanpa kepala di monitor
18
Kedatangan teman lama!
19
Seperti di ikuti!
20
Kemunculan hantu tanpa kepala!
21
Sosok misterius!
22
Kemana perginya Rasman?
23
Mencari Rasman
24
Pencarian Rasman!
25
Masuk ke hutan!
26
Kembali ke tempat yang sama!
27
Suara yang memanggil!
28
Tersesat!
29
Kehadirannya!
30
Peringatan!
31
Sisah kain yang di temukan
32
Cerita para tetua: Konon katanya!
33
Sebaiknya pulang saja dulu.
34
Teriakan yang tidak akan terdengar!
35
penyiksaan!
36
Si Pemain itu!
37
Bekas di leher Mey!
38
Keputusan yang terasa aneh!
39
Rahasia apa?
40
Jangan mengungkit hal itu lagi!
41
Ketakutan!
42
Ada rahasia apa?
43
Kembali syuting
44
Kebelet buang air
45
Sedingin es!
46
Siapa dia!
47
Hantu itu!
48
Membahas kejadian tadi
49
Bertanya tentang pantang dan larangan
50
Arya dan Mey
51
Suara apa itu!
52
Hembusan nafas!
53
Hantu itu muncul lagi!
54
Suara lain!
55
Hantu perempuan!
56
Dosa yang tidak di mengerti!
57
Menyeret mangsanya!
58
Pagi yang dingin
59
Menunggu Mey.
60
Kerumah Mey
61
Kemana Mey pergi?
62
Dimana Mey?
63
Merasa dongkol!
64
Kesamaan itu!
65
Mengumpulkan warga.
66
Mencoba mengingat apa yang terjadi.
67
Berkumpul
68
Memulai pencarian!
69
Menuju Vila terlarang!
70
Tempat yang terasa tak asing!
71
Vila!
72
Seperti di perhatikan!
73
Masuk kedalam Vila!
74
Gelas yang berbekas!
75
Menemukan ponsel!
76
Kamar itu!
77
Tidak ada Mey maupun Arya!
78
Di tampar!
79
Apakah ini pembalasan dendam?
80
Sadarkan diri!
81
Terbangun dengan rasa sakit
82
Dia kembali!
83
Siapa kau!
84
Perkelahian!
85
Apa yang terjadi?
86
Apakah ada skenario lain?
87
Kalian yang harus menanggung dosa mereka!
88
Mayat yang tergantung di gerbang desa!
89
Ketakutan yang mulai merayap!
90
Ada apa?
91
Penuh tanda tanya?
92
Kematian Rasman yang menakutkan!
93
Tolong cari Mey!
94
Dosa kalian!
95
Apa? Seorang perempuan!
96
Mengintai di tengah gelap!
97
Terus memanggil!
98
Suara apa itu?!
99
Ada yang tidak beres!
100
Kemunculan hantu tanpa kepala!
101
Labirin Tanpa Ujung..
102
Memutuskan untuk kembali
103
Pak! tolong Arya!
104
Satu persatu di menerima balasannya!
105
Semuanya menjadi rumit!
106
Kembali ke kamar itu.
107
Hantu Pak Gunawan!
108
Di seret ke tempat itu juga!
109
Hanya bisa menatap dari kejauhan
110
Semua terasa aneh
111
Mencari lagi!
112
Semoga kita keluar membawa nyawa...
113
Tidak!
114
Akan aku berikan semuanya!
115
Lepaskan, akan aku berikan hartaku!
116
Siapa kau sebenrnya?
117
Ampuni aku!
118
Pencarian di hentikan!
119
Pencarian dihentikan lagi!
120
Satu lagi telah membayar!
121
Tak bernyawa lagi!
122
Pertengkaran
123
Tetua licik!
124
Di Fitnah!
125
Di kambing hitamkan!
126
Kematian sang tetua!
127
Mendobrak pintu!
128
Kebingungan!
129
Lalu siapa pembunuh sebenarnya?
130
Kepulangan Jatmiko
131
tanda tanya?
132
Bawa dia padaku!
133
Sangat mirip!
134
Di tuduh!
135
Membawa ke Vila!
136
Aku akan buat kau menjadi seperti mereka!
137
Hembusan nafas aneh!
138
Apa kau lupa padanya?!
139
Kemunculan Sumi!
140
Kilas balik dua puluh tahun lalu
141
Harus hidup!
142
Pembersih malam itu!
143
Kematian Yanto!
144
Kematian Bahrun!
145
Satu persatu membalas!
146
Kedatangan Lela!
147
Pertemuan itu dan perpisahan.
148
Dendam yang usai
149
Akhir yang bahagia
150
Judul: TEROR!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!