Kebahagian di desa

Pagi hari di desa itu terasa begitu sejuk. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah ketika matahari mulai muncul dari balik perbukitan.

Suara ayam berkokok bersahut-sahutan dari kejauhan, bercampur dengan suara para petani yang mulai beraktivitas di ladang mereka.

Di vila, penghuni rumah sudah mulai menjalani kesibukan masing-masing.

Bu Sri masih beristirahat di kamar setelah sarapan pagi. Pak Gunawan duduk di teras belakang sambil menikmati secangkir kopi dan memandang hamparan sawah yang membentang luas di depan vila.

Sementara itu di dapur, Mbok Warsih sedang memeriksa persediaan bahan makanan.

"Sayurnya tinggal sedikit." Gumamnya.

Dia lalu menoleh kepada Sumi dan Lela yang sedang merapikan meja makan.

"Sumi, Lela."

"Iya, Mbok?" jawab keduanya.

"Tolong beli sayur untuk makan siang. Sekalian lihat kebutuhan dapur yang lain."

"Baik, Mbok."

Lela mengangguk.

"Kami berangkat sekarang."

Namun sebelum mereka melangkah keluar, Aji yang baru selesai menyiram tanaman di halaman datang menghampiri.

"Mau ke pasar, Mbak?"

"Iya." Sahut Sumi.

Aji tersenyum.

"Saya antar saja."

"Wah, tidak merepotkan?" Tanya Sumi.

"Tidak. Pasarnya lumayan jauh kalau jalan kaki. Lagi pula saya sekalian mau lihat toko bangunan di desa."

Mendengar itu, Sumi dan Lela langsung setuju.

Beberapa menit kemudian mereka bertiga berangkat menggunakan mobil bak kecil yang biasa dipakai Aji membawa barang-barang.

Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman vila.

Sepanjang perjalanan, Sumi dan Lela menikmati pemandangan desa yang masih asri. Hamparan sawah hijau membentang sejauh mata memandang.

Sesekali mereka berpapasan dengan petani yang sedang berjalan membawa cangkul atau mengendarai sepeda tua.

"Indah sekali ya." k

Kata Lela sambil melihat keluar jendela.

"Iya." Sahut Sumi.

"Baru dua hari di sini rasanya sudah betah."

Aji tertawa kecil.

"Makanya Pak Gunawan memilih tempat ini."

Mobil terus melaju melewati jalan desa yang mulai ramai oleh aktivitas warga. Tak lama kemudian mereka tiba di pusat desa.

Beberapa warung berdiri berjajar di sepanjang jalan utama. Ada yang menjual sembako, ikan, buah-buahan, hingga sayur-mayur segar hasil kebun warga.

"Nah, sudah sampai." Kata Aji yang memarkir mobil di pinggir jalan.

"Saya tunggu di sini saja. Kalian belanja dulu." Katanya.

Sumi dan Lela mengangguk lalu berjalan menuju warung sayur.

Belum lama mereka berada di sana, beberapa warga mulai memperhatikan.

Bukan karena mereka berbuat sesuatu yang aneh, melainkan karena wajah mereka tidak dikenal.

Desa itu tidak terlalu besar. Hampir semua penduduk saling mengenal satu sama lain. Kehadiran orang baru tentu mudah menarik perhatian.

Seorang ibu yang sedang memilih tomat menatap mereka beberapa saat.

"Itu siapa ya?"

"Belum pernah lihat."

"Mungkin penghuni vila baru itu."

Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar. Lela tersenyum kecil kepada Sumi.

"Kayaknya kita jadi pusat perhatian."

"Namanya juga orang baru." Ucap Sumi terkekeh.

Mereka kemudian berhenti di sebuah warung sayur milik seorang perempuan paruh baya yang tampak ramah.

"Pagi, Nak." Sapa perempuan itu.

"Pagi, Bu." Jawab Sumi sopan.

Perempuan itu memperhatikan mereka sejenak.

"Kalian bukan warga sini ya?"

"Iya, Bu."

"Pantas saja saya belum pernah lihat."

Lela mulai memilih beberapa ikat kangkung dan bayam.

Sementara itu sang penjual kembali bertanya.

"Tinggal di mana?"

Sumi menunjuk ke arah jalan yang mereka lalui tadi.

"Di vila besar yang ada di ujung desa itu, Bu."

"Oh..." Perempuan itu tampak terkejut, Karena tahu jika pasti bukan orang sembarang. Vila itu terkenal mewah oleh penduduk desa. Bahkan penduduk desa terkagum-kagum olehnya.

"Jadi memang ada penghuni baru di sana?" tanya seorang ibu paruh baya sambil menggeser keranjang sayur yang dibawanya. Matanya tampak penuh rasa ingin tahu saat menatap kedua perempuan muda yang berdiri di depannya.

"Iya," jawab Sumi sambil menganggukkan kepala pelan. Dia tersenyum sopan kepada para warga yang mulai berkumpul di sekitar mereka.

"Majikan kami tinggal di sana untuk sementara." Lanjutnya dengan nada ramah.

"Begitu," sahut ibu itu sambil mengangguk-angguk. Wajahnya menunjukkan pemahaman, meski rasa penasaran masih terlihat jelas dari sorot matanya.

Tak lama kemudian, beberapa warga lain yang sebelumnya hanya memperhatikan dari kejauhan mulai mendekat.

Seorang bapak tua yang mengenakan caping lusuh melangkah maju. Kerutan di wajahnya memperlihatkan usia yang tidak lagi muda, tetapi senyumnya begitu hangat dan bersahabat.

"Selamat datang di desa kami." Ucapnya dengan suara tenang dan penuh ketulusan. Dia menganggukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.

"Terima kasih, Pak." Jawab Lela dengan senyum lebar.

"Semoga betah tinggal di sini." Lanjut bapak tua tersebut. Tangannya menggenggam tongkat kayu sederhana, sementara tatapannya terlihat tulus.

"Iya, Pak." Sahut Lela dengan ramah. Dia merasa senang melihat sambutan hangat dari warga desa.

Seorang ibu lain yang berdiri di samping bapak tua itu ikut berbicara. Di tangannya tergenggam sebuah kantong berisi hasil kebun yang baru dipetik pagi tadi.

"Kalau butuh apa-apa jangan sungkan bilang." Katanya sambil tersenyum. Nada bicaranya terdengar akrab seolah mereka sudah lama saling mengenal.

"Iya, Bu. Terima kasih banyak." Jawab Sumi dengan tulus. Dia merasa lega karena warga desa tampak menerima kehadiran mereka dengan baik.

Mereka mulai berbincang santai tentang keluarga Pak Gunawan dan alasan kedatangan mereka ke desa tersebut.

"Nyonya kami sedang hamil besar." Jelas Sumi.

"Pak Gunawan ingin beliau lebih tenang sampai waktu melahirkan."

"Keputusan yang bagus." Kata seorang warga.

"Udara di sini memang masih bersih."

"Semoga persalinannya lancar."

"Iya Pak." Sumi tersenyum.

Suasana perlahan menjadi hangat dan penuh keakraban. Obrolan ringan mulai mengalir di antara mereka.

Beberapa warga bertanya dari mana mereka berasal, sementara yang lain bercerita tentang kehidupan desa yang tenang dan damai.

Tawa kecil sesekali terdengar, membuat pertemuan singkat itu terasa begitu menyenangkan. Di bawah hangatnya sinar matahari pagi, hubungan antara penghuni baru vila dan warga desa mulai terjalin dengan baik.

Setelah semua kebutuhan dapur selesai dibeli, mereka membayar belanjaan dan berpamitan.

"Hati-hati di jalan, Nak."

"Terima kasih, Bu."

"Salam untuk keluarga majikannya di vila."

"Iya Bu."

Sumi dan Lela kembali menuju mobil yang sudah menunggu di pinggir jalan.

Aji yang sedang duduk santai langsung berdiri.

"Sudah selesai?"

"Sudah."

"Banyak juga belanjaannya."

"Namanya juga buat satu rumah." Jawab Lela sambil tertawa.

Aji membantu memasukkan kantong-kantong belanja ke dalam mobil.

Tak lama kemudian mereka kembali berangkat menuju vila.

Sementara mobil perlahan menjauh dari pusat desa, beberapa warga masih sempat melambaikan tangan kepada mereka.

Senyuman ramah itu membuat Sumi dan Lela merasa bahwa desa tersebut bukan lagi tempat asing.

Menjelang siang, mobil bak kecil yang dikendarai Aji akhirnya kembali memasuki halaman vila.

Mesin kendaraan itu berhenti tepat di depan teras. Sumi dan Lela turun lebih dulu sambil membawa beberapa kantong berisi sayuran dan kebutuhan dapur lainnya.

Aji segera membantu menurunkan barang-barang yang lebih berat.

Mereka lalu membawa semua barang masuk ke dalam vila.

Dari ruang keluarga terdengar suara alunan musim yang menyala pelan. Sinar matahari masuk melalui jendela-jendela besar, membuat ruangan itu terasa hangat dan nyaman.

Bu Sri sedang duduk di sofa dekat jendela.

Di pangkuannya terdapat sekeranjang benang wol berwarna putih dan biru muda. Kedua tangannya sibuk merajut sesuatu dengan hati-hati.

Sesekali dia tersenyum sendiri sambil memandangi hasil rajutannya yang mulai terbentuk.

Sementara itu, Mbok Warsih duduk di bawah dekat sofa sambil memijit perlahan kaki Bu Sri yang mulai membengkak karena usia kehamilan yang sudah tua.

"Pelan saja, Mbok." Kata Bu Sri.

"Iya, Nyonya."

"Rasanya akhir-akhir ini kakiku cepat pegal."

"Itu wajar. Kandungannya sudah besar."

Bu Sri mengangguk pelan, tangannya kembali melanjutkan rajutan.

"Aku tidak sabar melihat wajah anak ini."

Mbok Warsih tersenyum.

"Sebentar lagi, Nyonya."

Saat itulah suara pintu terbuka terdengar dari arah depan.

Sumi dan Lela masuk sambil membawa beberapa kantong belanja.

"Wah, sudah pulang?" Tanya Bu Sri.

"Iya, Nya." Jawab Sumi ceria.

"Kami dapat banyak sayur segar."

Aji menyusul dari belakang sambil membawa keranjang yang lebih besar.

"Petani di sini baru panen, Nya."

"Pantas masih segar-segar."

Mbok Warsih berdiri lalu membantu menerima barang belanjaan.

"Taruh di dapur saja." Kata Mbok Warsih.

"Baik, Mbok." Sahut Lela.

Setelah semua barang diletakkan, Sumi dan Lela kembali ke ruang keluarga.

Wajah keduanya terlihat bersemangat.

"Nya, penduduk desa di sini baik-baik sekali." Kata Lela.

"Oh ya?" Tanya Bu Sri sambil tetap merajut.

"Iya."

Sumi langsung ikut bercerita.

"Tadi waktu kami ke pasar, hampir semua orang memperhatikan kami."

Bu Sri tertawa kecil.

"Pasti karena kalian orang baru."

"Nah, itu dia."

"Lalu?" Tanya Mbok Warsih penasaran.

"Awalnya kami kira mereka tidak suka ada pendatang."

"Ternyata mereka cuma penasaran."

Lela duduk di kursi dekat sofa.

"Mereka langsung menyapa kami dengan ramah."

"Benarkah?" Tanya Bu Sri.

"Iya, Bu." Sumi mengangguk.

"Ada ibu penjual sayur yang bertanya kami tinggal di mana."

"Lalu?"

"Saya bilang tinggal di vila ujung desa."

"Terus?"

"Dia langsung bilang, Oh, jadi memang ada penghuni baru di sana.'"

Semua tertawa kecil, Lela melanjutkan cerita.

"Terus ada bapak-bapak yang bilang kalau kami butuh bantuan jangan sungkan bertanya."

"Baik sekali."

"Iya, Nya."

"Mereka juga mendoakan agar persalinan Nyonya nanti lancar."

Mendengar itu, senyum Bu Sri melebar.

"Masya Allah."

"Mereka bilang udara desa bagus untuk ibu hamil."

Mbok Warsih mengangguk setuju.

"Orang desa memang biasanya lebih ramah."

Bu Sri tampak senang mendengarnya. Dia meletakkan rajutannya sejenak lalu mengusap perut besarnya perlahan.

"Senang rasanya mengetahui kita diterima dengan baik di sini."

"Iya, Nya."

"Saya juga jadi merasa lebih tenang."

Aji yang sejak tadi berdiri di dekat pintu ikut menimpali.

"Memang warga sini baik-baik."

"Lumayan banyak yang menyapa saya juga."

"Berarti Bapak memang tidak salah memilih tempat." Kata Bu Sri.

Saat itu Pak Gunawan yang baru turun dari lantai atas ikut bergabung.

"Ada apa ini? Ramai sekali."

"Kami sedang cerita soal warga desa, Pak." Sahut Sumi tersenyum.

"Oiya." Ujar Pak Gunawan tampak tertarik dengan pembicaraan itu.

"Mereka ramah sekali." Lanjut Sumi dengan wajah ceria. Dari nada bicaranya terlihat jelas bahwa dia merasa nyaman dengan sambutan yang diberikan warga desa.

Pak Gunawan tersenyum mendengar hal itu. Ada rasa lega di hatinya. Salah satu alasan dia memilih tinggal sementara di desa itu adalah karena suasananya yang tenang dan masyarakatnya yang dikenal baik.

"Syukurlah." katanya pelan. Senyum hangat masih menghiasi wajahnya.

Dia lalu duduk di samping istrinya.

"Bagaimana keadaanmu hari ini?"

Bu Sri menunjukkan rajutan kecil yang sedang dibuatnya.

"Lihat."

Pak Gunawan memperhatikan benda mungil itu.

"Ini apa?"

"Penutup kepala untuk bayi kita."

"Bagus sekali." Ucapnya dengan begitu antusias dengan senyum yang lebar.

"Masih belum selesai." Mendapat ekspresi yang seperti itu dari suaminya, Bu Sri tersenyum malu.

"Anak kita pasti akan menyukainya." Kata Pak Gunawan.

"Kalau dia tidak suka bagaimana?"

Pak Gunawan tertawa kecil.

"Kalau itu dibuat oleh ibunya sendiri, dia pasti suka."

Terpopuler

Comments

Nurr Tika

Nurr Tika

sungguh keluarga yg bahagia

2026-06-27

1

lihat semua
Episodes
1 Di kejar setan!
2 Vila yang indah.
3 Kebahagian di desa
4 Ada apa?
5 Kematian yang memilukan
6 Sadis!
7 Mengorbankan diri
8 Permohonan seorang perempuan!
9 Akhir nafas seorang ibu!
10 Dua puluh tahun kemudian!
11 Desa terkutuk itu!
12 Kekhawatiran Lela
13 Tiba di desa Selogiri
14 Mencari tahu!
15 Penampakan!
16 Hardi dan keluarganya
17 Penampakan hantu tanpa kepala di monitor
18 Kedatangan teman lama!
19 Seperti di ikuti!
20 Kemunculan hantu tanpa kepala!
21 Sosok misterius!
22 Kemana perginya Rasman?
23 Mencari Rasman
24 Pencarian Rasman!
25 Masuk ke hutan!
26 Kembali ke tempat yang sama!
27 Suara yang memanggil!
28 Tersesat!
29 Kehadirannya!
30 Peringatan!
31 Sisah kain yang di temukan
32 Cerita para tetua: Konon katanya!
33 Sebaiknya pulang saja dulu.
34 Teriakan yang tidak akan terdengar!
35 penyiksaan!
36 Si Pemain itu!
37 Bekas di leher Mey!
38 Keputusan yang terasa aneh!
39 Rahasia apa?
40 Jangan mengungkit hal itu lagi!
41 Ketakutan!
42 Ada rahasia apa?
43 Kembali syuting
44 Kebelet buang air
45 Sedingin es!
46 Siapa dia!
47 Hantu itu!
48 Membahas kejadian tadi
49 Bertanya tentang pantang dan larangan
50 Arya dan Mey
51 Suara apa itu!
52 Hembusan nafas!
53 Hantu itu muncul lagi!
54 Suara lain!
55 Hantu perempuan!
56 Dosa yang tidak di mengerti!
57 Menyeret mangsanya!
58 Pagi yang dingin
59 Menunggu Mey.
60 Kerumah Mey
61 Kemana Mey pergi?
62 Dimana Mey?
63 Merasa dongkol!
64 Kesamaan itu!
65 Mengumpulkan warga.
66 Mencoba mengingat apa yang terjadi.
67 Berkumpul
68 Memulai pencarian!
69 Menuju Vila terlarang!
70 Tempat yang terasa tak asing!
71 Vila!
72 Seperti di perhatikan!
73 Masuk kedalam Vila!
74 Gelas yang berbekas!
75 Menemukan ponsel!
76 Kamar itu!
77 Tidak ada Mey maupun Arya!
78 Di tampar!
79 Apakah ini pembalasan dendam?
80 Sadarkan diri!
81 Terbangun dengan rasa sakit
82 Dia kembali!
83 Siapa kau!
84 Perkelahian!
85 Apa yang terjadi?
86 Apakah ada skenario lain?
87 Kalian yang harus menanggung dosa mereka!
88 Mayat yang tergantung di gerbang desa!
89 Ketakutan yang mulai merayap!
90 Ada apa?
91 Penuh tanda tanya?
92 Kematian Rasman yang menakutkan!
93 Tolong cari Mey!
94 Dosa kalian!
95 Apa? Seorang perempuan!
96 Mengintai di tengah gelap!
97 Terus memanggil!
98 Suara apa itu?!
99 Ada yang tidak beres!
100 Kemunculan hantu tanpa kepala!
101 Labirin Tanpa Ujung..
102 Memutuskan untuk kembali
103 Pak! tolong Arya!
104 Satu persatu di menerima balasannya!
105 Semuanya menjadi rumit!
106 Kembali ke kamar itu.
107 Hantu Pak Gunawan!
108 Di seret ke tempat itu juga!
109 Hanya bisa menatap dari kejauhan
110 Semua terasa aneh
111 Mencari lagi!
112 Semoga kita keluar membawa nyawa...
113 Tidak!
114 Akan aku berikan semuanya!
115 Lepaskan, akan aku berikan hartaku!
116 Siapa kau sebenrnya?
117 Ampuni aku!
118 Pencarian di hentikan!
119 Pencarian dihentikan lagi!
120 Satu lagi telah membayar!
121 Tak bernyawa lagi!
122 Pertengkaran
123 Tetua licik!
124 Di Fitnah!
125 Di kambing hitamkan!
126 Kematian sang tetua!
127 Mendobrak pintu!
128 Kebingungan!
129 Lalu siapa pembunuh sebenarnya?
130 Kepulangan Jatmiko
131 tanda tanya?
132 Bawa dia padaku!
133 Sangat mirip!
134 Di tuduh!
135 Membawa ke Vila!
136 Aku akan buat kau menjadi seperti mereka!
137 Hembusan nafas aneh!
138 Apa kau lupa padanya?!
139 Kemunculan Sumi!
140 Kilas balik dua puluh tahun lalu
141 Harus hidup!
142 Pembersih malam itu!
143 Kematian Yanto!
144 Kematian Bahrun!
145 Satu persatu membalas!
146 Kedatangan Lela!
147 Pertemuan itu dan perpisahan.
148 Dendam yang usai
149 Akhir yang bahagia
150 Judul: TEROR!
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Di kejar setan!
2
Vila yang indah.
3
Kebahagian di desa
4
Ada apa?
5
Kematian yang memilukan
6
Sadis!
7
Mengorbankan diri
8
Permohonan seorang perempuan!
9
Akhir nafas seorang ibu!
10
Dua puluh tahun kemudian!
11
Desa terkutuk itu!
12
Kekhawatiran Lela
13
Tiba di desa Selogiri
14
Mencari tahu!
15
Penampakan!
16
Hardi dan keluarganya
17
Penampakan hantu tanpa kepala di monitor
18
Kedatangan teman lama!
19
Seperti di ikuti!
20
Kemunculan hantu tanpa kepala!
21
Sosok misterius!
22
Kemana perginya Rasman?
23
Mencari Rasman
24
Pencarian Rasman!
25
Masuk ke hutan!
26
Kembali ke tempat yang sama!
27
Suara yang memanggil!
28
Tersesat!
29
Kehadirannya!
30
Peringatan!
31
Sisah kain yang di temukan
32
Cerita para tetua: Konon katanya!
33
Sebaiknya pulang saja dulu.
34
Teriakan yang tidak akan terdengar!
35
penyiksaan!
36
Si Pemain itu!
37
Bekas di leher Mey!
38
Keputusan yang terasa aneh!
39
Rahasia apa?
40
Jangan mengungkit hal itu lagi!
41
Ketakutan!
42
Ada rahasia apa?
43
Kembali syuting
44
Kebelet buang air
45
Sedingin es!
46
Siapa dia!
47
Hantu itu!
48
Membahas kejadian tadi
49
Bertanya tentang pantang dan larangan
50
Arya dan Mey
51
Suara apa itu!
52
Hembusan nafas!
53
Hantu itu muncul lagi!
54
Suara lain!
55
Hantu perempuan!
56
Dosa yang tidak di mengerti!
57
Menyeret mangsanya!
58
Pagi yang dingin
59
Menunggu Mey.
60
Kerumah Mey
61
Kemana Mey pergi?
62
Dimana Mey?
63
Merasa dongkol!
64
Kesamaan itu!
65
Mengumpulkan warga.
66
Mencoba mengingat apa yang terjadi.
67
Berkumpul
68
Memulai pencarian!
69
Menuju Vila terlarang!
70
Tempat yang terasa tak asing!
71
Vila!
72
Seperti di perhatikan!
73
Masuk kedalam Vila!
74
Gelas yang berbekas!
75
Menemukan ponsel!
76
Kamar itu!
77
Tidak ada Mey maupun Arya!
78
Di tampar!
79
Apakah ini pembalasan dendam?
80
Sadarkan diri!
81
Terbangun dengan rasa sakit
82
Dia kembali!
83
Siapa kau!
84
Perkelahian!
85
Apa yang terjadi?
86
Apakah ada skenario lain?
87
Kalian yang harus menanggung dosa mereka!
88
Mayat yang tergantung di gerbang desa!
89
Ketakutan yang mulai merayap!
90
Ada apa?
91
Penuh tanda tanya?
92
Kematian Rasman yang menakutkan!
93
Tolong cari Mey!
94
Dosa kalian!
95
Apa? Seorang perempuan!
96
Mengintai di tengah gelap!
97
Terus memanggil!
98
Suara apa itu?!
99
Ada yang tidak beres!
100
Kemunculan hantu tanpa kepala!
101
Labirin Tanpa Ujung..
102
Memutuskan untuk kembali
103
Pak! tolong Arya!
104
Satu persatu di menerima balasannya!
105
Semuanya menjadi rumit!
106
Kembali ke kamar itu.
107
Hantu Pak Gunawan!
108
Di seret ke tempat itu juga!
109
Hanya bisa menatap dari kejauhan
110
Semua terasa aneh
111
Mencari lagi!
112
Semoga kita keluar membawa nyawa...
113
Tidak!
114
Akan aku berikan semuanya!
115
Lepaskan, akan aku berikan hartaku!
116
Siapa kau sebenrnya?
117
Ampuni aku!
118
Pencarian di hentikan!
119
Pencarian dihentikan lagi!
120
Satu lagi telah membayar!
121
Tak bernyawa lagi!
122
Pertengkaran
123
Tetua licik!
124
Di Fitnah!
125
Di kambing hitamkan!
126
Kematian sang tetua!
127
Mendobrak pintu!
128
Kebingungan!
129
Lalu siapa pembunuh sebenarnya?
130
Kepulangan Jatmiko
131
tanda tanya?
132
Bawa dia padaku!
133
Sangat mirip!
134
Di tuduh!
135
Membawa ke Vila!
136
Aku akan buat kau menjadi seperti mereka!
137
Hembusan nafas aneh!
138
Apa kau lupa padanya?!
139
Kemunculan Sumi!
140
Kilas balik dua puluh tahun lalu
141
Harus hidup!
142
Pembersih malam itu!
143
Kematian Yanto!
144
Kematian Bahrun!
145
Satu persatu membalas!
146
Kedatangan Lela!
147
Pertemuan itu dan perpisahan.
148
Dendam yang usai
149
Akhir yang bahagia
150
Judul: TEROR!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!