Dua—Jamuan Jenderal Gu

Rasa sesak di dadanya seketika tergantikan oleh helaan napas panjang. Dinginnya malam musim dingin perlahan terangkat, berganti kehangatan yang asing. Gu Mingyue tersentak bangun di atas kasur empuknya saat sebuah suara dari luar menginterupsi pelan.

"Nona, matahari sudah lebih tinggi daripada pohon kesemek di sisi timur." Seorang gadis dengan pakaian pelayan melangkah mendekat.

Gu Mingyue segera memeriksa hanfu-nya. Matanya menunduk, mendapati tubuhnya tengah mengenakan baju tidur yang bersih tanpa noda darah. Pandangannya kemudian terkunci lurus ke arah Fan Li'er—pelayan kecilnya yang setia, yang di kehidupan lalu harus mati mengenaskan pada tahun pertama pernikahannya.

Li'er tewas karena dituduh mencuri perhiasan milik Gu Lian.

"Li'er," panggil Gu Mingyue pelan.

Pelayan kecilnya menoleh dengan senyum simpul. "Ayolah, Nona. Kita harus segera bersiap untuk jamuan kepulangan Tuan Besar."

Namun, alih-alih mendengarkan, Gu Mingyue justru menarik dan memeluk erat pelayan kecilnya itu. Tindakan mendadak tersebut membuat Fan Li'er membeku sesaat, sebelum akhirnya berusaha melepaskan diri sambil terkekeh pelan. "Ya ampun, Nona. Ini sesak."

Gu Mingyue melepaskan pelukannya, lalu menatap Li'er dengan nanar. "Aku senang kamu baik-baik saja."

Fan Li'er mengernyit bingung. "Nona, kita benar-benar harus bersiap sekarang."

"Untuk apa?"

"Jamuan kepulangan Jenderal Besar."

Gu Mingyue memutar kembali roda ingatannya. Jamuan kepulangan ayahnya kali ini ... adalah momen krusial saat ide pernikahan antara dirinya dan Zhao Yuchen pertama kali dicetuskan.

Musim semi tujuh tahun lalu, saat ia dengan malu-malu menunjuk Zhao Yuchen yang tampak kaku di antara para tamu. Mengingat hal itu, rasa jijik seketika membuncah di dada Gu Mingyue. Terlebih ketika ia mengingat bagaimana pria licik itu tega menyuguhkan racun bersama si wanita ular.

Kemarahan dalam dirinya seketika naik drastis, membuat wajahnya memerah menahan kesal.

"Nona?" Panggilan Fan Li'er seketika menyadarkannya dari lamunan kelam.

"Li'er, segera siapkan pakaian terbaikku. Kita harus menyambut tamu agung," ucapnya tegas.

Gadis itu langsung turun dari ranjang, melangkah menuju ruang pemandian di sisi samping paviliun kediamannya. Ia harus memulai pembalasan dendamnya, bahkan dari hal paling dasar sekalipun.

Mingyue memutar otak, mencoba menggali lebih dalam memori di kehidupan lalunya tentang hari ini. Ia mengingat sebuah fakta krusial: pada Jamuan Musim Semi ini, Zhao Yuchen dan Gu Lian datang terlambat secara beriringan dengan napas tersengal-sengal. Di kehidupan lalu, ia mengira itu hanya kebetulan. Namun sekarang, ia tahu persis apa yang sebenarnya mereka lakukan di belakangnya.

Sebuah senyum tipis yang sarat akan intrik terangkat di bibir Gu Mingyue. Ia akan memulai permainannya, bahkan sejak detik ini.

...****************...

Aula di paviliun utama kediaman Jenderal Gu terasa begitu luas, dengan suasana yang jauh lebih ramai daripada biasanya. Sorak-sorai dan bisikan rendah dari para pejabat serta tamu undangan yang hadir memenuhi udara.

Di ambang pintu, Gu Mingyue berdiri dengan anggun dalam balutan hanfu berwarna toska. Aksen giok pada tusuk konde dan perhiasan di pergelangan tangannya memantulkan kilau yang lembut. Ia mulai melangkah, berjalan dengan tenang melalui lorong berlantai kayu yang menimbulkan gema kecil di setiap ketukan langkahnya.

Suara riuh dan bisikan rendah di dalam ruangan itu seketika berangsur hening saat putri sulung dari istri sah Jenderal Gu tersebut melangkah memasuki aula paviliun utama. Pesonanya yang murni dan berwibawa langsung mencuri perhatian semua orang.

Dengan gerakan yang sempurna tanpa cela, ia membungkuk hormat. "Salam, Ayahanda."

Salah seorang pejabat berdiri dan membungkuk hormat. "Jenderal Gu, putri sulung Anda sungguh begitu anggun."

"Terima kasih atas pujiannya, Pejabat Wang. Dia memang sangat mirip dengan mendiang istriku," ucap ayahnya sembari menoleh ke arah samping kirinya yang kosong. Tempat Mendiang Nyonya Besar Gu.

Namun, Gu Mingyue tahu persis bahwa itu semua hanyalah sandiwara ayahnya. Di kehidupan lalu, ayahnya bersikap manis sebelum ibunya tewas secara misterius tepat setelah upacara kedewasaan Mingyue—menyebabkan rumor bahwa dirinya adalah bintang kesialan.

Apalagi kini tatapan Jenderal Gu turun ke selirnya, Nyonya Ling yang duduk dengan wajah angkuh. Garis wajahnya yang tajam dengan mata melirik ke arah Mingyue.

Dengan senyum tipis yang tak mencapai mata, Mingyue melangkah maju. "Putri mendengar Ayahanda kembali hari ini, jadi Putri sengaja menyiapkan sebuah hadiah."

"Hadiah apa, Putriku?"

"Fan Li'er," panggil Mingyue lembut.

Pelayan kecilnya segera masuk, membawa nampan berisi dua guci besar arak yang mengepulkan aroma harum.

Gu Mingyue menjelaskan, "Ini adalah arak racikan istimewa dariku. Sangat cocok dinikmati bersama oleh para tamu di sini."

Jenderal Gu tampak senang. "Tentu, silakan sajikan."

"Li'er," perintah Gu Mingyue pelan. Fan Li'er segera bergerak lincah, menuangkan arak racikan itu ke setiap cawan kosong yang ada.

Sementara itu, Gu Mingyue melangkah dengan anggun menuju kursi yang telah disiapkan khusus untuknya di sisi kanan ayahnya, lalu duduk dengan tenang sembari mengamati reaksi para tamu terhadap araknya.

Mata Gu Mingyue menyapu seluruh aula, menyadari ada tiga tempat duduk yang masih kosong. Kursi-kursi itu milik Zhao Yuchen, Gu Lian, dan Shen Mufeng—yang di kehidupan lalu sama sekali tidak menghadiri jamuan ini.

Namun, seolah takdir mulai bergeser, derap langkah pelan yang membawa aura sedingin es terdengar memasuki aula. Seorang pria dalam balutan jubah putih berdiri dengan tegap di ambang pintu. Garis wajahnya tampak tegas dengan mata tajam sewarna elang yang mengintimidasi.

Shen Mufeng—pria yang di kehidupan lalu memilih mangkir, kini justru menampakkan wajahnya.

Seluruh tamu undangan saling pandang, sebelum akhirnya suasana aula berubah menjadi riuh rendah oleh bisikan. Gu Mingyue menatap sosok itu lekat-lekat. Pria di hadapannya seolah langsung memicu jalinan ingatan lain di kepalanya.

Dia ... sang penolong di Jembatan Xue saat perampokan berandal, sekaligus pria di pasar lentera tahun baru.

Mata gadis itu terus menatap lurus ke arah sosok di depannya tanpa berkedip.

"Wah, ternyata Jenderal Mufeng berkenan datang." Salah seorang pejabat berdiri dan segera memberikan penghormatan.

Shen Mufeng tidak membalas sapaan itu, ia hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sinisme.

"Tentu saja. Kudengar Jenderal Gu berhasil menumpas kaum barbar di wilayah barat. Prestasi yang sungguh luar biasa," ucapnya dengan nada suara yang dingin dan rendah.

Namun, Gu Mingyue yang kini dibekali pengetahuan masa depan mulai menyadari makna tersembunyi di balik kalimat itu. Kemenangan ayahnya bukanlah kemenangan mutlak yang bersih. Ada harga dari nyawa ratusan prajurit yang dikorbankan, serta rencana pengkhianatan dari pejabat tinggi yang membawa nama ayahnya kian melambung.

Di kehidupan lalu, nama Perdana Menteri Kiri terseret dalam kasus percobaan melengserkan takhta kaisar. Jenderal Gu mendapat penghargaan besar setelah membuka kedok sang Perdana Menteri Kiri. Kekayaan yang ditimbun cukup banyak setelah penghargaan tersebut. Bahkan dapat membeli sebidang tanah dari provinsi Yuan Tengah—memakai nama asistennya.

Jenderal Gu memaksakan seulas senyum, mencoba mencairkan ketegangan. "Jenderal Mufeng terlalu memujiku."

Tanpa menunggu dipersilakan, Shen Mufeng meraih cawan dan meminum arak racikan Mingyue yang baru saja dituangkan pelayan. "Karena ini sangat menarik. Saya penasaran, bagaimana bisa Anda yang dikabarkan kekurangan prajurit, mendadak mampu memukul mundur kaum barbar barat yang terkenal sangat kuat?"

Mendengar suara yang sarat akan kedinginan dan intimidasi itu, Gu Mingyue melirik ke arah ayahnya. Benar saja, wajah sang Jenderal Besar tampak sedikit membeku dengan rahang mengetat.

Gu Mingyue membatin tajam. Ada yang tidak beres di sini.

...****************...

Episodes
1 Satu — Hari Kematianku
2 Dua—Jamuan Jenderal Gu
3 Tiga—Keterlambatan Tamu Agung
4 Empat—Konfrontasi Shen Mufeng
5 Lima—Negoisasi
6 Enam—Desah Peristirahatan Samping
7 Tujuh—Menyeret Takdir Ke Arah Berbeda
8 Delapan—Bidak Weiqi Berjalan Mengepung
9 Sembilan—Kedai Teh Tuan Kedua Chen
10 Sepuluh—Kantong Wangi Untuk Tuan Shen
11 Sebelas—Harta Ibuku, Milikku!
12 DuaBelas—Kau Harus Mengganti Yang Kau Rusak!
13 TigaBelas—Shen Mufeng, Jenderal Agung!
14 EmpatBelas—Pria Narsistik, Zhao Yuchen!
15 LimaBelas—Aku Calon Nyonya Besar Shen
16 EnamBelas—Satu Suap Akan Ku Balas Dua Suap!
17 TujuhBelas—Marahnya Gu Mingyue!
18 DelapanBelas—Tandu Pernikahan
19 SembilanBelas—Di Balik Teratai
20 DuaPuluh—Kamar Pengantin
21 DuaSatu—Jerat Malam Pengantin!
22 DuaDua—Taktik Menjebak!
23 DuaTiga—Aku Istri Sah!
24 DuaEmpat—Nyonya Besar Shen!
25 DuaLima—Dasar Bibi Liu!
26 DuaEnam—Membiarkanmu Di Atas Angin
27 DuaTujuh—Penjara Shen Mufeng
28 DuaDelapan—Jebakan Licik Untuk Orang Licik!
29 DuaSembilan—Hukuman Untukmu Bibi Liu
30 TigaPuluh—Malam Intim Kedua
31 TigaSatu—Sidang Istana
32 TigaDua—Nyonya Tanpa Pendamping
33 TigaTiga—Dimana Suamimu?
34 TigaEmpat—Kilau Hadiah Para Menantu
35 TigaLima—Pedang Tongkat
36 TigaEnam—Sindiran Jamuan Makan
37 TigaTujuh—Tidak Ada Sepersenpun untukmu
38 TigaDelapan— Rubah Tua
39 TigaSembilan—Pasangan Setara
40 EmpatPuluh—Sidang Di Balai Kota
41 EmpatSatu—Amarah Panglima di Pasar Xue
42 EmpatDua—Di Balik Tirai Kamar
43 EmpatTiga—Pondok Di Desa Jing
44 EmpatEmpat—Teh Dan Teka-teki
45 EmpatLima—Barak Barat yang Hancur
46 EmpatEnam—Nyonya Telah Siuman!
47 EmpatTujuh—Menyingkap Kematian Ibu
48 EmpatDelapan—Menyusun Taktis Baru
49 EmpatSembilan—Senyuman Di Aula Leluhur
50 LimaPuluh—Pria di Pasar Xue
51 LimaSatu—Genderang Pesta Zhao
52 LimaDua—Putra Wei Yang Tak Dikenal
53 LimaTiga—Hadiah Tersembunyi
54 LimaEmpat—Bayangan Di Luar Gerbang
55 LimaLima—Penyergapan
56 LimaEnam—Perbatasan Musuh Barbar
57 LimaTujuh—Mencari Tikus Informasi
58 LimaDelapan—Umpan
59 LimaSembilan—Kekacauan Kediaman Gu
60 EnamPuluh—Mereka Yang Takut
61 EnamSatu—Bayang Kepasrahan
62 EnamDua—Kepemimpinan Dalam Kegelapan
63 EnamTiga—Rumah Di Desa Huo
64 EnamEmpat—Benang Merah Kekaisaran
65 EnamLima—Tabir Di Dalam Penjara
66 EnamEnam—Topeng Wei Wu
67 EnamTujuh—Kehangatan Desa Huo
68 EnamDelapan—Runtuhnya Separuh Jiwa
69 EnamSembilan—Identitas Di Dasar Kotak
70 TujuhPuluh—Jejak Di Hutan
71 TujuhSatu— Suku dibalik Hutan Perbatasan
72 TujuhDua—Stempel Kekaisaran
73 TujuhTiga—Dalam Bayang Balas Dendam
74 TujuhEmpat—Topeng Yang Terbuka
75 TujuhLima—Kepulangan
76 TujuhEnam—Kembalinya Sang Panglima
77 TujuhTujuh—Dalam Rengkuhan Rindu
78 TujuhDelapan—Bisikan Di Rumah Bordil
79 TujuhSembilan—Rahasia di Sel Bawab Tanah
80 DelapanPuluh—Benang Merah Di Balik Jeruji
81 Delapan Satu— Simpul Akhir Benang Merah
82 DelapanDua—Wanita Tua Itu...
83 Prequel
84 DelapanTiga—SaksiTragedi
85 DelapanEmpat—Janji Angin Malam
86 DelapanLima—Pembersihan Barak Barat
87 DelapanEnam—Tabu
88 DelapanTujuh—Runtuhnya Benteng Kebohongan
89 DelapanDelapan—Mereka Yang Mencoba Lepas Tangan
90 DelapanSembilan—Retaknya Persekutuan
91 SembilanPuluh—Percikan Api
92 SembilanSatu—Bayang Kemenangan
93 SembilanDua—Perpacuan Waktu
94 SembilanTiga—Darah
95 SembilanEmpat—Panji Wei Di Sudut Istana
96 SembilanLima—Setiap Perbuatan Ada Balasannya
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Satu — Hari Kematianku
2
Dua—Jamuan Jenderal Gu
3
Tiga—Keterlambatan Tamu Agung
4
Empat—Konfrontasi Shen Mufeng
5
Lima—Negoisasi
6
Enam—Desah Peristirahatan Samping
7
Tujuh—Menyeret Takdir Ke Arah Berbeda
8
Delapan—Bidak Weiqi Berjalan Mengepung
9
Sembilan—Kedai Teh Tuan Kedua Chen
10
Sepuluh—Kantong Wangi Untuk Tuan Shen
11
Sebelas—Harta Ibuku, Milikku!
12
DuaBelas—Kau Harus Mengganti Yang Kau Rusak!
13
TigaBelas—Shen Mufeng, Jenderal Agung!
14
EmpatBelas—Pria Narsistik, Zhao Yuchen!
15
LimaBelas—Aku Calon Nyonya Besar Shen
16
EnamBelas—Satu Suap Akan Ku Balas Dua Suap!
17
TujuhBelas—Marahnya Gu Mingyue!
18
DelapanBelas—Tandu Pernikahan
19
SembilanBelas—Di Balik Teratai
20
DuaPuluh—Kamar Pengantin
21
DuaSatu—Jerat Malam Pengantin!
22
DuaDua—Taktik Menjebak!
23
DuaTiga—Aku Istri Sah!
24
DuaEmpat—Nyonya Besar Shen!
25
DuaLima—Dasar Bibi Liu!
26
DuaEnam—Membiarkanmu Di Atas Angin
27
DuaTujuh—Penjara Shen Mufeng
28
DuaDelapan—Jebakan Licik Untuk Orang Licik!
29
DuaSembilan—Hukuman Untukmu Bibi Liu
30
TigaPuluh—Malam Intim Kedua
31
TigaSatu—Sidang Istana
32
TigaDua—Nyonya Tanpa Pendamping
33
TigaTiga—Dimana Suamimu?
34
TigaEmpat—Kilau Hadiah Para Menantu
35
TigaLima—Pedang Tongkat
36
TigaEnam—Sindiran Jamuan Makan
37
TigaTujuh—Tidak Ada Sepersenpun untukmu
38
TigaDelapan— Rubah Tua
39
TigaSembilan—Pasangan Setara
40
EmpatPuluh—Sidang Di Balai Kota
41
EmpatSatu—Amarah Panglima di Pasar Xue
42
EmpatDua—Di Balik Tirai Kamar
43
EmpatTiga—Pondok Di Desa Jing
44
EmpatEmpat—Teh Dan Teka-teki
45
EmpatLima—Barak Barat yang Hancur
46
EmpatEnam—Nyonya Telah Siuman!
47
EmpatTujuh—Menyingkap Kematian Ibu
48
EmpatDelapan—Menyusun Taktis Baru
49
EmpatSembilan—Senyuman Di Aula Leluhur
50
LimaPuluh—Pria di Pasar Xue
51
LimaSatu—Genderang Pesta Zhao
52
LimaDua—Putra Wei Yang Tak Dikenal
53
LimaTiga—Hadiah Tersembunyi
54
LimaEmpat—Bayangan Di Luar Gerbang
55
LimaLima—Penyergapan
56
LimaEnam—Perbatasan Musuh Barbar
57
LimaTujuh—Mencari Tikus Informasi
58
LimaDelapan—Umpan
59
LimaSembilan—Kekacauan Kediaman Gu
60
EnamPuluh—Mereka Yang Takut
61
EnamSatu—Bayang Kepasrahan
62
EnamDua—Kepemimpinan Dalam Kegelapan
63
EnamTiga—Rumah Di Desa Huo
64
EnamEmpat—Benang Merah Kekaisaran
65
EnamLima—Tabir Di Dalam Penjara
66
EnamEnam—Topeng Wei Wu
67
EnamTujuh—Kehangatan Desa Huo
68
EnamDelapan—Runtuhnya Separuh Jiwa
69
EnamSembilan—Identitas Di Dasar Kotak
70
TujuhPuluh—Jejak Di Hutan
71
TujuhSatu— Suku dibalik Hutan Perbatasan
72
TujuhDua—Stempel Kekaisaran
73
TujuhTiga—Dalam Bayang Balas Dendam
74
TujuhEmpat—Topeng Yang Terbuka
75
TujuhLima—Kepulangan
76
TujuhEnam—Kembalinya Sang Panglima
77
TujuhTujuh—Dalam Rengkuhan Rindu
78
TujuhDelapan—Bisikan Di Rumah Bordil
79
TujuhSembilan—Rahasia di Sel Bawab Tanah
80
DelapanPuluh—Benang Merah Di Balik Jeruji
81
Delapan Satu— Simpul Akhir Benang Merah
82
DelapanDua—Wanita Tua Itu...
83
Prequel
84
DelapanTiga—SaksiTragedi
85
DelapanEmpat—Janji Angin Malam
86
DelapanLima—Pembersihan Barak Barat
87
DelapanEnam—Tabu
88
DelapanTujuh—Runtuhnya Benteng Kebohongan
89
DelapanDelapan—Mereka Yang Mencoba Lepas Tangan
90
DelapanSembilan—Retaknya Persekutuan
91
SembilanPuluh—Percikan Api
92
SembilanSatu—Bayang Kemenangan
93
SembilanDua—Perpacuan Waktu
94
SembilanTiga—Darah
95
SembilanEmpat—Panji Wei Di Sudut Istana
96
SembilanLima—Setiap Perbuatan Ada Balasannya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!