Empat—Konfrontasi Shen Mufeng

Cawan porselen di tangan Shen Mufeng berketuk di atas meja, menimbulkan suara ketukan pelan yang anehnya sanggup menggema dan membungkam seisi ruangan. Pandangan para pejabat yang sempat terfokus padanya langsung tersentak membuang muka, tidak berani menantang aura sang Jenderal Agung.

Pria itu terkekeh pelan sebelum menoleh ke arah Gu Mingyue. Matanya sempat melirik tajam penuh penghinaan ke arah Gu Lian dan Zhao Yuchen yang membeku, sebelum akhirnya netra gelapnya kembali fokus sepenuhnya pada Gu Mingyue.

"Nona Besar Gu ternyata masih mengingat dengan jelas kejadian malam itu," ucapnya dengan nada datar.

Seketika, beberapa tamu undangan kembali saling pandang. Riuh bisik-bisik beralih terdengar pelan di sudut-sudut aula.

"Tentu saja, karena Anda begitu berani," sahut Gu Mingyue tenang.

"Nona Besar Gu, mereka hanyalah segerombolan berandal pasar yang mencoba merebut uang," ucap Shen Mufeng dingin, terdengar sarkas. Ia kemudian mengalihkan pandangannya, menatap Jenderal Gu dalam-dalam untuk waktu yang cukup lama.

"Mereka bukan kelompok pemberontak bertopeng yang berpura-pura setia ... bukankah begitu, Jenderal Besar Gu?" lanjut Shen Mufeng dengan nada suara yang teramat pelan, namun sanggup membuat atmosfer aula seketika merosot hingga ke titik beku.

Gu Mingyue yang menyaksikan riak kepanikan di wajah ayahnya hanya bisa tersenyum samar di balik cawannya. Di kehidupan kedua ini, Shen Mufeng ternyata jauh lebih menarik dan berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.

Tawa pelan tiba-tiba terdengar dari Pejabat Wang. Tawa kikuknya itu sengaja dilemparkan untuk menengahi konfrontasi dingin dari Shen Mufeng. "Saya rasa atmosfer ini terlalu kaku untuk sebuah jamuan kepulangan. Bukankah lebih baik jika kita segera melanjutkan ke acara berikutnya?"

Jenderal Gu yang sempat membeku selama beberapa saat akhirnya menghela napas panjang—perpaduan antara rasa lega sekaligus awal dari otaknya yang mulai berputar keras memikirkan taktik untuk lepas dari jeratan Shen Mufeng.

"Tentu saja, Pejabat Wang. Kali ini koki dapur kediamanku sengaja menyiapkan hidangan musim semi yang istimewa," sahut Jenderal Gu memaksakan keramahan.

Begitu saja, hidangan demi hidangan mulai disajikan ke meja para tamu satu per satu. Suasana mencekam yang sempat membekukan aula kini perlahan tergantikan oleh kepulan aroma makanan yang kaya akan rempah. Wangi semur daging yang gurih, tumis sayur yang segar, sup ayam hangat, serta beberapa camilan manis tradisional mulai tercium samar, membangkitkan selera.

Acara makan berlangsung untuk beberapa lama, hingga akhirnya jamuan formal tersebut tiba pada sesi santai, yaitu acara minum bersama bagi para pria. Memanfaatkan momen itu, Gu Mingyue segera bangkit untuk pamit undur diri lebih dulu. Ia melangkah keluar dari aula dengan ritme kaki yang tenang. Hanfu toskanya tampak melambai, tersapu ringan oleh embusan angin musim semi yang sejuk.

"Nona begitu berani hari ini," bisik Fan Li'er lembut dengan nada penuh semangat di sampingnya.

Gu Mingyue menoleh sekilas lalu menyunggingkan senyum tipis. "Bukankah sesekali seseorang memang harus berani?"

"Tentu saja! Dengan begitu, ibu dan anak yang suka menindas Nona itu pasti akan membisu," sahut Li'er sembari tersenyum puas.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak batu yang melewati paviliun milik Gu Lian. Saat melintasi pagar rendah yang membatasi pekarangan tersebut, sayup-sayup suara yang terbawa oleh embusan angin menghentikan langkah mereka. Gu Lian dan ibu kandungnya—sang selir—ternyata tengah berbincang serius di halaman paviliun.

Gu Mingyue memberi isyarat kepada Li'er untuk diam, lalu berdiri mematung di balik bayangan pagar.

"Mingyue hari ini sudah bertindak terlalu berani," cetus sang selir dengan nada ketus.

"Ibu, bukankah ini terasa sangat aneh?" tanya Gu Lian, suaranya masih menyiratkan sisa kecemasan dari aula tadi.

"Ada apa?"

"Dia selalu mengejar dan menyukai Kakak Zhao. Namun hari ini, di depan semua orang, dia justru terang-terangan mengatakan menyukai Shen Mufeng."

"Memang aneh. Apalagi si kaku Shen Mufeng itu mendadak sudi hadir hari ini," gumam sang selir, terdengar ikut berpikir keras.

Gu Lian meremas saputangannya dengan geram. "Apakah... apakah ini rencana mereka berdua sejak awal untuk mempermalukan Ayah dan Kakak Zhao?"

Gu Mingyue tersenyum samar. Alih-alih bersembunyi, ia kembali melangkah dan sengaja menginjak tumpukan dedaunan kering di bawah kakinya hingga menimbulkan bunyi gemerisik yang kentara. Sentakan suara itu seketika membuat dua perempuan di halaman paviliun menoleh panik ke arah pintu pagar bulat.

Suasana mendadak senyap saat siluet Gu Mingyue tertangkap oleh penglihatan mereka. Mengabaikan ketegangan yang merayap di wajah musuhnya, Gu Mingyue menyunggingkan senyum tipis seraya mengangguk formal.

"Selir Lin," sapanya ringan dengan penekanan posisi yang sengaja ia jatuhkan, sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkah menuju paviliun pribadinya.

Kedua wanita itu buru-buru membalas salam dengan kaku, lalu bergegas masuk ke dalam paviliun mereka dengan wajah pucat menahan malu.

Gu Mingyue terus melangkah hingga tiba di halaman paviliunnya sendiri. Namun, langkahnya seketika melambat saat mendapati seorang pria tengah berdiri tegap di sana, didampingi oleh seorang pengawal pribadi. Jubah putih bersih yang melambai ditiup angin sudah cukup menjelaskan siapa sosok berwibawa tersebut.

"Jenderal Agung Shen," sapa Mingyue sembari membungkuk hormat, menyembunyikan keterkejutannya.

Shen Mufeng menyunggingkan senyum samar yang nyaris tak kentara. "Nona Besar Gu, saya sudah cukup lama menunggu Anda di sini."

"Apakah ada keperluan mendesak, Jenderal?"

Pria itu mengangkat sebelah alisnya dengan gestur jenaka namun mengintimidasi. "Tentu saja. Bukankah di aula tadi Anda baru saja menyeret nama saya dan memicu sebuah skandal besar?"

Gu Mingyue tersenyum lembut, sama sekali tidak gentar dengan tatapan tajam pria di hadapannya. "Jika demikian, silakan masuk dan kita bicarakan hal ini di dalam paviliun saya, Jenderal."

Gadis itu mengedarkan pandangan sekilas di sekitar mereka. "Sebab saya rasa, tempat terbuka seperti ini memiliki jauh lebih banyak telinga dan mulut daripada semestinya."

Shen Mufeng menatap wajah Gu Mingyue selama beberapa saat dalam keheningan. Embusan angin musim semi yang bertiup pelan menerbangkan beberapa kelopak bunga di sekitar mereka, membuat beberapa helai rambut Gu Mingyue mengibas lembut bersama lambaian kain hanfu-nya.

Seulas senyum tipis akhirnya lolos dari bibir tegas Shen Mufeng. "Saya rasa, desas-desus mengenai keanggunan Nona Besar Gu di ibu kota memang benar adanya."

Gu Mingyue tetap menatapnya lurus, tidak membiarkan ketegangan batinnya terbaca. Pandangan keduanya saling mengunci.

"Namun," lanjut Shen Mufeng, suaranya merendah penuh penekanan, "mereka tampaknya lupa untuk menambahkan betapa beraninya Nona Besar Gu."

Gu Mingyue terkekeh pelan, mencairkan suasana dengan keanggunan yang alami. "Jenderal Agung Shen terlalu memuji saya."

"Saya sedang tidak memuji."

...----------------...

Episodes
1 Satu — Hari Kematianku
2 Dua—Jamuan Jenderal Gu
3 Tiga—Keterlambatan Tamu Agung
4 Empat—Konfrontasi Shen Mufeng
5 Lima—Negoisasi
6 Enam—Desah Peristirahatan Samping
7 Tujuh—Menyeret Takdir Ke Arah Berbeda
8 Delapan—Bidak Weiqi Berjalan Mengepung
9 Sembilan—Kedai Teh Tuan Kedua Chen
10 Sepuluh—Kantong Wangi Untuk Tuan Shen
11 Sebelas—Harta Ibuku, Milikku!
12 DuaBelas—Kau Harus Mengganti Yang Kau Rusak!
13 TigaBelas—Shen Mufeng, Jenderal Agung!
14 EmpatBelas—Pria Narsistik, Zhao Yuchen!
15 LimaBelas—Aku Calon Nyonya Besar Shen
16 EnamBelas—Satu Suap Akan Ku Balas Dua Suap!
17 TujuhBelas—Marahnya Gu Mingyue!
18 DelapanBelas—Tandu Pernikahan
19 SembilanBelas—Di Balik Teratai
20 DuaPuluh—Kamar Pengantin
21 DuaSatu—Jerat Malam Pengantin!
22 DuaDua—Taktik Menjebak!
23 DuaTiga—Aku Istri Sah!
24 DuaEmpat—Nyonya Besar Shen!
25 DuaLima—Dasar Bibi Liu!
26 DuaEnam—Membiarkanmu Di Atas Angin
27 DuaTujuh—Penjara Shen Mufeng
28 DuaDelapan—Jebakan Licik Untuk Orang Licik!
29 DuaSembilan—Hukuman Untukmu Bibi Liu
30 TigaPuluh—Malam Intim Kedua
31 TigaSatu—Sidang Istana
32 TigaDua—Nyonya Tanpa Pendamping
33 TigaTiga—Dimana Suamimu?
34 TigaEmpat—Kilau Hadiah Para Menantu
35 TigaLima—Pedang Tongkat
36 TigaEnam—Sindiran Jamuan Makan
37 TigaTujuh—Tidak Ada Sepersenpun untukmu
38 TigaDelapan— Rubah Tua
39 TigaSembilan—Pasangan Setara
40 EmpatPuluh—Sidang Di Balai Kota
41 EmpatSatu—Amarah Panglima di Pasar Xue
42 EmpatDua—Di Balik Tirai Kamar
43 EmpatTiga—Pondok Di Desa Jing
44 EmpatEmpat—Teh Dan Teka-teki
45 EmpatLima—Barak Barat yang Hancur
46 EmpatEnam—Nyonya Telah Siuman!
47 EmpatTujuh—Menyingkap Kematian Ibu
48 EmpatDelapan—Menyusun Taktis Baru
49 EmpatSembilan—Senyuman Di Aula Leluhur
50 LimaPuluh—Pria di Pasar Xue
51 LimaSatu—Genderang Pesta Zhao
52 LimaDua—Putra Wei Yang Tak Dikenal
53 LimaTiga—Hadiah Tersembunyi
54 LimaEmpat—Bayangan Di Luar Gerbang
55 LimaLima—Penyergapan
56 LimaEnam—Perbatasan Musuh Barbar
57 LimaTujuh—Mencari Tikus Informasi
58 LimaDelapan—Umpan
59 LimaSembilan—Kekacauan Kediaman Gu
60 EnamPuluh—Mereka Yang Takut
61 EnamSatu—Bayang Kepasrahan
62 EnamDua—Kepemimpinan Dalam Kegelapan
63 EnamTiga—Rumah Di Desa Huo
64 EnamEmpat—Benang Merah Kekaisaran
65 EnamLima—Tabir Di Dalam Penjara
66 EnamEnam—Topeng Wei Wu
67 EnamTujuh—Kehangatan Desa Huo
68 EnamDelapan—Runtuhnya Separuh Jiwa
69 EnamSembilan—Identitas Di Dasar Kotak
70 TujuhPuluh—Jejak Di Hutan
71 TujuhSatu— Suku dibalik Hutan Perbatasan
72 TujuhDua—Stempel Kekaisaran
73 TujuhTiga—Dalam Bayang Balas Dendam
74 TujuhEmpat—Topeng Yang Terbuka
75 TujuhLima—Kepulangan
76 TujuhEnam—Kembalinya Sang Panglima
77 TujuhTujuh—Dalam Rengkuhan Rindu
78 TujuhDelapan—Bisikan Di Rumah Bordil
79 TujuhSembilan—Rahasia di Sel Bawab Tanah
80 DelapanPuluh—Benang Merah Di Balik Jeruji
81 Delapan Satu— Simpul Akhir Benang Merah
82 DelapanDua—Wanita Tua Itu...
83 Prequel
84 DelapanTiga—SaksiTragedi
85 DelapanEmpat—Janji Angin Malam
86 DelapanLima—Pembersihan Barak Barat
87 DelapanEnam—Tabu
88 DelapanTujuh—Runtuhnya Benteng Kebohongan
89 DelapanDelapan—Mereka Yang Mencoba Lepas Tangan
90 DelapanSembilan—Retaknya Persekutuan
91 SembilanPuluh—Percikan Api
92 SembilanSatu—Bayang Kemenangan
93 SembilanDua—Perpacuan Waktu
94 SembilanTiga—Darah
95 SembilanEmpat—Panji Wei Di Sudut Istana
96 SembilanLima—Setiap Perbuatan Ada Balasannya
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Satu — Hari Kematianku
2
Dua—Jamuan Jenderal Gu
3
Tiga—Keterlambatan Tamu Agung
4
Empat—Konfrontasi Shen Mufeng
5
Lima—Negoisasi
6
Enam—Desah Peristirahatan Samping
7
Tujuh—Menyeret Takdir Ke Arah Berbeda
8
Delapan—Bidak Weiqi Berjalan Mengepung
9
Sembilan—Kedai Teh Tuan Kedua Chen
10
Sepuluh—Kantong Wangi Untuk Tuan Shen
11
Sebelas—Harta Ibuku, Milikku!
12
DuaBelas—Kau Harus Mengganti Yang Kau Rusak!
13
TigaBelas—Shen Mufeng, Jenderal Agung!
14
EmpatBelas—Pria Narsistik, Zhao Yuchen!
15
LimaBelas—Aku Calon Nyonya Besar Shen
16
EnamBelas—Satu Suap Akan Ku Balas Dua Suap!
17
TujuhBelas—Marahnya Gu Mingyue!
18
DelapanBelas—Tandu Pernikahan
19
SembilanBelas—Di Balik Teratai
20
DuaPuluh—Kamar Pengantin
21
DuaSatu—Jerat Malam Pengantin!
22
DuaDua—Taktik Menjebak!
23
DuaTiga—Aku Istri Sah!
24
DuaEmpat—Nyonya Besar Shen!
25
DuaLima—Dasar Bibi Liu!
26
DuaEnam—Membiarkanmu Di Atas Angin
27
DuaTujuh—Penjara Shen Mufeng
28
DuaDelapan—Jebakan Licik Untuk Orang Licik!
29
DuaSembilan—Hukuman Untukmu Bibi Liu
30
TigaPuluh—Malam Intim Kedua
31
TigaSatu—Sidang Istana
32
TigaDua—Nyonya Tanpa Pendamping
33
TigaTiga—Dimana Suamimu?
34
TigaEmpat—Kilau Hadiah Para Menantu
35
TigaLima—Pedang Tongkat
36
TigaEnam—Sindiran Jamuan Makan
37
TigaTujuh—Tidak Ada Sepersenpun untukmu
38
TigaDelapan— Rubah Tua
39
TigaSembilan—Pasangan Setara
40
EmpatPuluh—Sidang Di Balai Kota
41
EmpatSatu—Amarah Panglima di Pasar Xue
42
EmpatDua—Di Balik Tirai Kamar
43
EmpatTiga—Pondok Di Desa Jing
44
EmpatEmpat—Teh Dan Teka-teki
45
EmpatLima—Barak Barat yang Hancur
46
EmpatEnam—Nyonya Telah Siuman!
47
EmpatTujuh—Menyingkap Kematian Ibu
48
EmpatDelapan—Menyusun Taktis Baru
49
EmpatSembilan—Senyuman Di Aula Leluhur
50
LimaPuluh—Pria di Pasar Xue
51
LimaSatu—Genderang Pesta Zhao
52
LimaDua—Putra Wei Yang Tak Dikenal
53
LimaTiga—Hadiah Tersembunyi
54
LimaEmpat—Bayangan Di Luar Gerbang
55
LimaLima—Penyergapan
56
LimaEnam—Perbatasan Musuh Barbar
57
LimaTujuh—Mencari Tikus Informasi
58
LimaDelapan—Umpan
59
LimaSembilan—Kekacauan Kediaman Gu
60
EnamPuluh—Mereka Yang Takut
61
EnamSatu—Bayang Kepasrahan
62
EnamDua—Kepemimpinan Dalam Kegelapan
63
EnamTiga—Rumah Di Desa Huo
64
EnamEmpat—Benang Merah Kekaisaran
65
EnamLima—Tabir Di Dalam Penjara
66
EnamEnam—Topeng Wei Wu
67
EnamTujuh—Kehangatan Desa Huo
68
EnamDelapan—Runtuhnya Separuh Jiwa
69
EnamSembilan—Identitas Di Dasar Kotak
70
TujuhPuluh—Jejak Di Hutan
71
TujuhSatu— Suku dibalik Hutan Perbatasan
72
TujuhDua—Stempel Kekaisaran
73
TujuhTiga—Dalam Bayang Balas Dendam
74
TujuhEmpat—Topeng Yang Terbuka
75
TujuhLima—Kepulangan
76
TujuhEnam—Kembalinya Sang Panglima
77
TujuhTujuh—Dalam Rengkuhan Rindu
78
TujuhDelapan—Bisikan Di Rumah Bordil
79
TujuhSembilan—Rahasia di Sel Bawab Tanah
80
DelapanPuluh—Benang Merah Di Balik Jeruji
81
Delapan Satu— Simpul Akhir Benang Merah
82
DelapanDua—Wanita Tua Itu...
83
Prequel
84
DelapanTiga—SaksiTragedi
85
DelapanEmpat—Janji Angin Malam
86
DelapanLima—Pembersihan Barak Barat
87
DelapanEnam—Tabu
88
DelapanTujuh—Runtuhnya Benteng Kebohongan
89
DelapanDelapan—Mereka Yang Mencoba Lepas Tangan
90
DelapanSembilan—Retaknya Persekutuan
91
SembilanPuluh—Percikan Api
92
SembilanSatu—Bayang Kemenangan
93
SembilanDua—Perpacuan Waktu
94
SembilanTiga—Darah
95
SembilanEmpat—Panji Wei Di Sudut Istana
96
SembilanLima—Setiap Perbuatan Ada Balasannya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!