Lima—Negoisasi

Gu Mingyue membalikkan tubuhnya terlebih dahulu, melambaikan tangan memberi isyarat agar Fan Li’er mendekat.

"Siapkan teh krisan terbaik dan kue manis musim semi," perintahnya lembut.

"Baik, Nona."

"Mari, Jenderal Agung Shen."

Derap langkah keduanya membawa mereka menuju area luar paviliun. Di sana berdiri sebuah gazebo kayu yang tenang, dilengkapi dengan satu set meja dan kursi yang tertata rapi.

Tanpa memedulikan formalitas atau rasa sopan, Shen Mufeng langsung mengambil tempat duduk di salah satu kursi. Melihat kelakuan acuh tak acuh sang Jenderal Agung, Gu Mingyue hanya menyunggingkan senyum samar.

"Apakah jamuan di aula tadi terasa melelahkan, Jenderal?" tanya gadis itu pelan sembari ikut mengambil tempat duduk di seberangnya.

Tak lama kemudian, Fan Li'er melangkah mendekat sembari membawa nampan berisi teko teh krisan yang baru dipesan, beberapa cangkir porselen, serta sepiring camilan kue manis khas musim semi.

Gu Mingyue menatap pelayannya. "Apakah suasananya sudah aman, Li'er?"

"Sudah tidak ada siapa-siapa di sekitar lorong setapak, Nona," jawab Fan Li'er pelan dan tanggap, sebelum ia membungkuk hormat dan mundur beberapa langkah untuk berjaga di batas luar gazebo.

Gu Mingyue menuangkan teh dengan gerakan perlahan yang anggun. Aroma lembut dari bunga krisan yang diseduh air panas seketika menyeruak, membawa sensasi menenangkan.

"Kurasa, ini untuk pertama kalinya sebuah jamuan terasa menyenangkan," ucap Shen Mufeng tenang. Ia mengulurkan tangan, mengambil secangkir teh yang baru saja dituangkan untuknya.

Gu Mingyue melirik pria itu dari balik bulu matanya yang lentik. "Tentu saja, karena kediaman kami telah menyiapkan hidangan terbaik untuk menyambut kepulangan Jenderal Besar Gu."

"Bukan karena itu," potong Shen Mufeng telak.

"Lalu, apa maksud Jenderal Agung?"

"Dulu kupikir semua orang di kediaman Gu akan memiliki perangai yang sama saja," ujar Shen Mufeng sembari menatap riak teh di cawannya. "Namun nyatanya, Nona Besar Gu jauh lebih berbeda."

Gu Mingyue menyesap tehnya perlahan. Senyum tipisnya tersembunyi dengan sempurna di balik cawan porselen. "Benarkah begitu? Apa alasan Jenderal Agung Shen sampai memiliki pemikiran semacam itu tentang saya?"

"Karena Anda begitu berani menyeret saya ke dalam skandal di depan para pejabat istana tadi," jawab Shen Mufeng, sepasang matanya kini mengunci pandangan Mingyue dengan kilat menyelidik.

Gu Mingyue meletakkan cawannya kembali ke atas meja tanpa menimbulkan suara. "Saya justru sedang membantu Anda, Jenderal."

Shen Mufeng mengangkat sudut bibirnya. Ia kembali menyesap tehnya perlahan. "Nona Besar Gu tampaknya terlalu besar hati. Seharusnya bantuan semacam ini tidak perlu Anda lakukan."

Gu Mingyue melemparkan senyum yang jauh lebih lembut, namun sorot matanya mengunci pria di hadapannya tanpa ragu. "Saya hanya ingin bernegosiasi dengan Anda, Jenderal."

Sebelah alis Shen Mufeng terangkat, tertarik dengan perubahan arah pembicaraan ini.

"Saya akan memberikan sebuah informasi yang teramat berharga kepada Anda," lanjut Gu Mingyue sengaja menjeda kalimatnya. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata gelap Shen Mufeng, menantang binar ketajaman sang Jenderal Agung yang kini terpancar jelas di bawah sinar rembulan. "Sedangkan sebagai gantinya, Anda ... harus menikahi saya."

Shen Mufeng tertegun sejenak sebelum akhirnya terkekeh pelan. Suara baritonnya yang rendah terdengar mengalun, memecah keheningan di gazebo itu.

"Anda tahu seberapa berbahayanya pernikahan ini jika sampai terjadi?"

"Tentu," jawab Gu Mingyue lebih cepat, tanpa keraguan sedikit pun.

"Penawaran yang luar biasa berani," ucap Shen Mufeng, tubuhnya sedikit condong ke depan untuk mengintimidasi secara halus. "Namun, semua itu tentu saja tergantung pada semenarik apa informasi yang Anda miliki, Nona Gu."

Gu Mingyue menyandarkan tubuhnya dengan santai pada sandaran kursi. "Semenarik informasi mengenai korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh beberapa pejabat penting istana."

Shen Mufeng mendengus pelan, kembali bersandar. "Jika hanya itu, Anda tahu sendiri bahwa urusan audit keuangan pejabat bukanlah bagian dari wewenang militer saya."

"Korupsi dana militer," potong Gu Mingyue telak, membuat udara di gazebo itu mendadak terasa lebih berat. "Bagaimana kalau kita mulai dari hal yang paling mendasar..." Gadis itu sengaja menjeda kalimatnya, berpura-pura berpikir cukup lama sembari mengetuk jemarinya di atas meja.

"Pemotongan gaji pensiun milik ratusan prajurit di perbatasan ibu kota."

Deg.

Seketika itu juga, tubuh Shen Mufeng menegak kaku. Aura santai dan jenaka yang tadi ia tunjukkan lenyap tanpa bekas, tergantikan oleh tatapan sedingin es yang sanggup membunuh lawan bicara biasa. "Apa saja yang Anda ketahui tentang hal itu, Nona Gu?" tuntutnya dengan suara yang merendah berbahaya.

Melihat respons yang persis seperti dugaannya, Gu Mingyue hanya tersenyum tenang. "Jenderal, jangan terburu-buru. Ini baru sekadar hidangan pembuka dari saya."

Shen Mufeng menatap lekat gadis di hadapannya, mencoba mencari celah kebohongan atau keraguan, namun ia tidak menemukan apa pun selain keyakinan mutlak. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk seringai tipis yang sarat akan apresiasi berbahaya. Matanya melirik ke arah jemari Gu Mingyue yang kini dengan santai mengambil sepotong kue manis musim semi, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.

"Anda ... memang teramat menarik, Nona Besar Gu."

"Tentu saja," sahut Gu Mingyue setelah menelan kuenya, menatap balik sang Jenderal Agung tanpa gentar. "Dan Anda tahu persis nilai dari informasi itu."

Shen Mufeng ikut menyandarkan tubuhnya, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil sepotong kue manis musim semi. "Anda tentu tahu bahwa menikah dengan saya..." Pria itu menjeda kalimatnya selama beberapa saat, membiarkan sepoi angin musim semi menerpa wajahnya. "...artinya Anda harus siap dengan segala konsekuensinya."

"Saya siap," sahut Gu Mingyue tanpa keraguan sedikit pun.

"Anda terlalu tergesa-gesa, Nona Gu."

Gu Mingyue terkekeh pelan. "Tentu saja, karena sampai saat ini saya masih mengingat dengan jelas bagaimana kegagahan Anda."

"Anda masih bersikeras menggunakan alasan yang sama seperti saat memercikkan skandal di aula tadi," sindir Shen Mufeng lembut namun tajam.

"Oh, Jenderal Agung Shen. Alasan itu sepenuhnya benar."

"Lalu, apa lagi yang akan saya peroleh selain informasi itu?" tanya Shen Mufeng. Ia menolehkan wajahnya, menatap lekat ke arah Gu Mingyue.

"Saya akan menjadi seorang istri yang sangat lembut kepada Anda."

Shen Mufeng mendengus geli. "Nona, Anda tahu sendiri taktik rayuan seperti itu tidak akan bekerja pada saya."

"Baiklah," Gu Mingyue tersenyum menantang, "saya akan menjadi istri yang lembut di hadapan Anda, namun berubah menjadi sosok yang tegas di hadapan para musuh serta rekan Anda."

"Masih kurang."

"Menjadi wanita yang keji dan tak kenal ampun di hadapan musuh-musuh kita."

"Itu terdengar jauh lebih baik," sahut Shen Mufeng dengan binar kepuasan yang berbahaya di matanya.

Shen Mufeng kemudian bangkit berdiri lebih dulu, mengibaskan mantel putihnya beberapa kali dari kelopak bunga yang menempel. "Saya akan mempertimbangkan tawaran informasi ini."

Pria itu melirik ke arah Gu Mingyue yang masih setia tersenyum tenang. "Dan untuk tawaran pernikahan..."

Shen Mufeng mengalihkan pandangannya ke arah depan, menatap halaman paviliun yang kian meremang diselimuti kegelapan. "...saya akan menilai seberapa pantas Anda untuk menjadi istri seorang Shen Mufeng. Saya pamit undur diri, Nona Besar Gu."

"Saya harap bisa segera mendapatkan jawaban yang baik dari Anda, Jenderal," ucap Gu Mingyue sembari ikut bangkit berdiri dan membungkuk anggun untuk memberi salam perpisahan.

Gu Mingyue melepas pandangannya, menatap lekat derap langkah kaki Shen Mufeng yang perlahan menjauh dari paviliun pribadinya. Saat sosok berwibawa itu melewati pagar pembatas pekarangan, ritme langkahnya tampak begitu tegas dan konstan—sebuah gestur alami yang dengan jelas mempertunjukkan posisi serta wibawa militernya yang tak tergoyahkan.

...----------------...

Episodes
1 Satu — Hari Kematianku
2 Dua—Jamuan Jenderal Gu
3 Tiga—Keterlambatan Tamu Agung
4 Empat—Konfrontasi Shen Mufeng
5 Lima—Negoisasi
6 Enam—Desah Peristirahatan Samping
7 Tujuh—Menyeret Takdir Ke Arah Berbeda
8 Delapan—Bidak Weiqi Berjalan Mengepung
9 Sembilan—Kedai Teh Tuan Kedua Chen
10 Sepuluh—Kantong Wangi Untuk Tuan Shen
11 Sebelas—Harta Ibuku, Milikku!
12 DuaBelas—Kau Harus Mengganti Yang Kau Rusak!
13 TigaBelas—Shen Mufeng, Jenderal Agung!
14 EmpatBelas—Pria Narsistik, Zhao Yuchen!
15 LimaBelas—Aku Calon Nyonya Besar Shen
16 EnamBelas—Satu Suap Akan Ku Balas Dua Suap!
17 TujuhBelas—Marahnya Gu Mingyue!
18 DelapanBelas—Tandu Pernikahan
19 SembilanBelas—Di Balik Teratai
20 DuaPuluh—Kamar Pengantin
21 DuaSatu—Jerat Malam Pengantin!
22 DuaDua—Taktik Menjebak!
23 DuaTiga—Aku Istri Sah!
24 DuaEmpat—Nyonya Besar Shen!
25 DuaLima—Dasar Bibi Liu!
26 DuaEnam—Membiarkanmu Di Atas Angin
27 DuaTujuh—Penjara Shen Mufeng
28 DuaDelapan—Jebakan Licik Untuk Orang Licik!
29 DuaSembilan—Hukuman Untukmu Bibi Liu
30 TigaPuluh—Malam Intim Kedua
31 TigaSatu—Sidang Istana
32 TigaDua—Nyonya Tanpa Pendamping
33 TigaTiga—Dimana Suamimu?
34 TigaEmpat—Kilau Hadiah Para Menantu
35 TigaLima—Pedang Tongkat
36 TigaEnam—Sindiran Jamuan Makan
37 TigaTujuh—Tidak Ada Sepersenpun untukmu
38 TigaDelapan— Rubah Tua
39 TigaSembilan—Pasangan Setara
40 EmpatPuluh—Sidang Di Balai Kota
41 EmpatSatu—Amarah Panglima di Pasar Xue
42 EmpatDua—Di Balik Tirai Kamar
43 EmpatTiga—Pondok Di Desa Jing
44 EmpatEmpat—Teh Dan Teka-teki
45 EmpatLima—Barak Barat yang Hancur
46 EmpatEnam—Nyonya Telah Siuman!
47 EmpatTujuh—Menyingkap Kematian Ibu
48 EmpatDelapan—Menyusun Taktis Baru
49 EmpatSembilan—Senyuman Di Aula Leluhur
50 LimaPuluh—Pria di Pasar Xue
51 LimaSatu—Genderang Pesta Zhao
52 LimaDua—Putra Wei Yang Tak Dikenal
53 LimaTiga—Hadiah Tersembunyi
54 LimaEmpat—Bayangan Di Luar Gerbang
55 LimaLima—Penyergapan
56 LimaEnam—Perbatasan Musuh Barbar
57 LimaTujuh—Mencari Tikus Informasi
58 LimaDelapan—Umpan
59 LimaSembilan—Kekacauan Kediaman Gu
60 EnamPuluh—Mereka Yang Takut
61 EnamSatu—Bayang Kepasrahan
62 EnamDua—Kepemimpinan Dalam Kegelapan
63 EnamTiga—Rumah Di Desa Huo
64 EnamEmpat—Benang Merah Kekaisaran
65 EnamLima—Tabir Di Dalam Penjara
66 EnamEnam—Topeng Wei Wu
67 EnamTujuh—Kehangatan Desa Huo
68 EnamDelapan—Runtuhnya Separuh Jiwa
69 EnamSembilan—Identitas Di Dasar Kotak
70 TujuhPuluh—Jejak Di Hutan
71 TujuhSatu— Suku dibalik Hutan Perbatasan
72 TujuhDua—Stempel Kekaisaran
73 TujuhTiga—Dalam Bayang Balas Dendam
74 TujuhEmpat—Topeng Yang Terbuka
75 TujuhLima—Kepulangan
76 TujuhEnam—Kembalinya Sang Panglima
77 TujuhTujuh—Dalam Rengkuhan Rindu
78 TujuhDelapan—Bisikan Di Rumah Bordil
79 TujuhSembilan—Rahasia di Sel Bawab Tanah
80 DelapanPuluh—Benang Merah Di Balik Jeruji
81 Delapan Satu— Simpul Akhir Benang Merah
82 DelapanDua—Wanita Tua Itu...
83 Prequel
84 DelapanTiga—SaksiTragedi
85 DelapanEmpat—Janji Angin Malam
86 DelapanLima—Pembersihan Barak Barat
87 DelapanEnam—Tabu
88 DelapanTujuh—Runtuhnya Benteng Kebohongan
89 DelapanDelapan—Mereka Yang Mencoba Lepas Tangan
90 DelapanSembilan—Retaknya Persekutuan
91 SembilanPuluh—Percikan Api
92 SembilanSatu—Bayang Kemenangan
93 SembilanDua—Perpacuan Waktu
94 SembilanTiga—Darah
95 SembilanEmpat—Panji Wei Di Sudut Istana
96 SembilanLima—Setiap Perbuatan Ada Balasannya
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Satu — Hari Kematianku
2
Dua—Jamuan Jenderal Gu
3
Tiga—Keterlambatan Tamu Agung
4
Empat—Konfrontasi Shen Mufeng
5
Lima—Negoisasi
6
Enam—Desah Peristirahatan Samping
7
Tujuh—Menyeret Takdir Ke Arah Berbeda
8
Delapan—Bidak Weiqi Berjalan Mengepung
9
Sembilan—Kedai Teh Tuan Kedua Chen
10
Sepuluh—Kantong Wangi Untuk Tuan Shen
11
Sebelas—Harta Ibuku, Milikku!
12
DuaBelas—Kau Harus Mengganti Yang Kau Rusak!
13
TigaBelas—Shen Mufeng, Jenderal Agung!
14
EmpatBelas—Pria Narsistik, Zhao Yuchen!
15
LimaBelas—Aku Calon Nyonya Besar Shen
16
EnamBelas—Satu Suap Akan Ku Balas Dua Suap!
17
TujuhBelas—Marahnya Gu Mingyue!
18
DelapanBelas—Tandu Pernikahan
19
SembilanBelas—Di Balik Teratai
20
DuaPuluh—Kamar Pengantin
21
DuaSatu—Jerat Malam Pengantin!
22
DuaDua—Taktik Menjebak!
23
DuaTiga—Aku Istri Sah!
24
DuaEmpat—Nyonya Besar Shen!
25
DuaLima—Dasar Bibi Liu!
26
DuaEnam—Membiarkanmu Di Atas Angin
27
DuaTujuh—Penjara Shen Mufeng
28
DuaDelapan—Jebakan Licik Untuk Orang Licik!
29
DuaSembilan—Hukuman Untukmu Bibi Liu
30
TigaPuluh—Malam Intim Kedua
31
TigaSatu—Sidang Istana
32
TigaDua—Nyonya Tanpa Pendamping
33
TigaTiga—Dimana Suamimu?
34
TigaEmpat—Kilau Hadiah Para Menantu
35
TigaLima—Pedang Tongkat
36
TigaEnam—Sindiran Jamuan Makan
37
TigaTujuh—Tidak Ada Sepersenpun untukmu
38
TigaDelapan— Rubah Tua
39
TigaSembilan—Pasangan Setara
40
EmpatPuluh—Sidang Di Balai Kota
41
EmpatSatu—Amarah Panglima di Pasar Xue
42
EmpatDua—Di Balik Tirai Kamar
43
EmpatTiga—Pondok Di Desa Jing
44
EmpatEmpat—Teh Dan Teka-teki
45
EmpatLima—Barak Barat yang Hancur
46
EmpatEnam—Nyonya Telah Siuman!
47
EmpatTujuh—Menyingkap Kematian Ibu
48
EmpatDelapan—Menyusun Taktis Baru
49
EmpatSembilan—Senyuman Di Aula Leluhur
50
LimaPuluh—Pria di Pasar Xue
51
LimaSatu—Genderang Pesta Zhao
52
LimaDua—Putra Wei Yang Tak Dikenal
53
LimaTiga—Hadiah Tersembunyi
54
LimaEmpat—Bayangan Di Luar Gerbang
55
LimaLima—Penyergapan
56
LimaEnam—Perbatasan Musuh Barbar
57
LimaTujuh—Mencari Tikus Informasi
58
LimaDelapan—Umpan
59
LimaSembilan—Kekacauan Kediaman Gu
60
EnamPuluh—Mereka Yang Takut
61
EnamSatu—Bayang Kepasrahan
62
EnamDua—Kepemimpinan Dalam Kegelapan
63
EnamTiga—Rumah Di Desa Huo
64
EnamEmpat—Benang Merah Kekaisaran
65
EnamLima—Tabir Di Dalam Penjara
66
EnamEnam—Topeng Wei Wu
67
EnamTujuh—Kehangatan Desa Huo
68
EnamDelapan—Runtuhnya Separuh Jiwa
69
EnamSembilan—Identitas Di Dasar Kotak
70
TujuhPuluh—Jejak Di Hutan
71
TujuhSatu— Suku dibalik Hutan Perbatasan
72
TujuhDua—Stempel Kekaisaran
73
TujuhTiga—Dalam Bayang Balas Dendam
74
TujuhEmpat—Topeng Yang Terbuka
75
TujuhLima—Kepulangan
76
TujuhEnam—Kembalinya Sang Panglima
77
TujuhTujuh—Dalam Rengkuhan Rindu
78
TujuhDelapan—Bisikan Di Rumah Bordil
79
TujuhSembilan—Rahasia di Sel Bawab Tanah
80
DelapanPuluh—Benang Merah Di Balik Jeruji
81
Delapan Satu— Simpul Akhir Benang Merah
82
DelapanDua—Wanita Tua Itu...
83
Prequel
84
DelapanTiga—SaksiTragedi
85
DelapanEmpat—Janji Angin Malam
86
DelapanLima—Pembersihan Barak Barat
87
DelapanEnam—Tabu
88
DelapanTujuh—Runtuhnya Benteng Kebohongan
89
DelapanDelapan—Mereka Yang Mencoba Lepas Tangan
90
DelapanSembilan—Retaknya Persekutuan
91
SembilanPuluh—Percikan Api
92
SembilanSatu—Bayang Kemenangan
93
SembilanDua—Perpacuan Waktu
94
SembilanTiga—Darah
95
SembilanEmpat—Panji Wei Di Sudut Istana
96
SembilanLima—Setiap Perbuatan Ada Balasannya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!