Bab 02. mencari sang suami

Bu Nur menunggu di depan pintu untuk kepulangan suami dia di pagi hari, sebenarnya sudah sejak tadi malam dia menunggu karena bila hanya mengambil ikan seperti itu maka tidak akan memakan waktu yang sangat lama seperti sekarang ini, namun sampai pagi tak kunjung kembali sehingga hati wanita setengah baya itu menjadi semakin cemas.

Tadi malam dia sempat berpikir bahwa mungkin saja Pak Paimin hanya ingin pergi ke tempat pesta tetangga mereka tersebut, jadi setelah melihat perangkap ikan maka dia pergi ke acara itu untuk mencari hiburan bersama dengan para tetangga lain juga, oleh sebab itu Bu Nur sama sekali tidak mencari keberadaan sang suami.

Namun sampai sekarang di pagi hari dan masih belum juga kembali sehingga perasaan wanita setengah baya ini semakin tidak karuan, takut juga bila ada sesuatu yang telah terjadi dan kemungkinan dia harus meminta bantuan dari para tetangga yang ada di sekitar sini, sebab bila mencari sendiri maka tentu menjadi tambah rumit.

Dengan langkah yang terburu-buru maka wanita ini segera mendatangi rawa yang sudah dia ketahui di mana sang suami sering menaruh umpan di sana, sama sekali dia tidak ada firasat bahwa sang suami sudah meninggal dunia karena dimakan sesuatu yang tak kasat mata di dalam rawan itu.

"Loh sama sekali tidak ada kok di rawa ini." Bu Nur berkata sendirian.

"Jadi Bapak pergi ke mana sih kok sampai sekarang belum pulang juga ke rumah?!" ujar Bu Nur dengan perasaan kesal dan juga cemas.

"Biar aku lihat dulu di tempat pesta itulah kalau begitu." lirih Bu Nur sambil berjalan pergi dari sana.

Bu Nur sama sekali tidak mengetahui bahwa dari dalam air itu muncul sebuah mata yang begitu dingin dan menatap dia yang semakin menjauh, tatapan mata yang begitu haus dengan daging manusia namun dia tidak berani menampakkan diri di siang hari seperti ini dan juga dirinya sedang kenyang.

Paimin sudah menjadi makanan dia tadi malam sehingga untuk sementara tidak akan mencari makanan terlebih dahulu, sampai nanti perut ini lapar lagi baru kemudian dia akan mencari mangsa yang jauh lebih besar serta dagingnya memiliki kelezatan luar biasa sehingga dia tidak sungkan untuk memakan daging tersebut.

"Mas, pulang dari acara pesta pak lurah ya?" Bu Nur menghadang perjalanan Ridwan.

"Iya, Bu." Ridwan mengangguk dengan agak sempoyongan karena dia tadi malam banyak minum.

"Ada lihat suami saya di sana juga tidak, Mas?" Bu Nur reflek agak menjauh Karena dia mencium aroma alkohol yang begitu kuat sekali.

"Enggak ada, Bu! dari tadi malam Pak Paimin tidak ada kok datang ke acara pesta ini." Ridwan menjawab jujur karena dia memang tidak melihat keberadaan pria tua itu.

"Aduh jadi ke mana dia pergi kok sampai sekarang belum juga pulang ke rumah?" Bu Nur mulai cemas namun bercampur dengan rasa kesal juga di dalam hati.

Karena Ridwan mengatakan bahwa tidak ada Pak Paimin di acara pesta itu maka Bu Nur segera pergi menjauh untuk mencari di tempat lain, ini hati sudah berdebar kencang tidak karuan karena takut bila sesuatu terjadi kepada sang suami dan dia tidak tahu harus mencari kemana untuk mencari keberadaan Pak Paimin yang hilang secara mendadak itu.

"Emang Pak Paimin ke mana sih kok sampai dicari seperti itu sama Bu Nur?" Ridwan juga merasa aneh.

"Ah Ya sudahlah karena aku juga mau istirahat dulu, kepala terasa begitu pegar karena terlalu banyak minum alkohol ini." Ridwan segera pergi menuju rumah karena dia membutuhkan waktu untuk istirahat.

Tadi sebenarnya kasihan juga melihat Bu Nur yang begitu sibuk ingin mencari keberadaan suami dia sekarang, namun karena kondisi tubuh yang sedang tidak baik-baik saja ini maka Ridwan memutuskan untuk istirahat saja terlebih dahulu dan berharap Pak Paimin akan segera ketemu dengan sang istri.

"Tapi tadi aku kok sempat melihat perangkap ikan ada di sana ya." Bu Nur menghentikan langkah karena dia baru ingat telah melihat perangkap ikan di rawa itu.

"Eh Bu Nur." Bu Ita yang akan pergi mencari sayur langsung menegur karena dia juga teman dekat.

"Iya, mau ke mana ini pagi-pagi?" Bu Nur masih sempat bertanya walau hati dia sedang gelisah.

"Mau cari sayur, Bu Nur sendiri mau ke mana pagi ini?" Bu Ita datang mendekat untuk berbasa-basi kepada tetangga.

"Saya lagi mencari suami ini yang sejak tadi malam tidak pulang ke rumah, padahal dia berpamitan hanya ingin melihat perangkap ikan saja." ujar Bu Nur.

"Loh ke mana Pak Paimin pergi memangnya? atau dia ikut pesta dengan para pria lain di rumah Pak Lurah." tebak Bu Ita.

"Tadi aku sudah tanya juga sama si Ridwan tapi kata dia tidak ada pak Paimin di sana." jelas Bu Nur dengan perasaan tidak karuan.

Bu Ita juga nampak memikirkan kemana pria tua itu pergi sehingga sampai sekarang istri dia kebingungan untuk mencari, bila hanya berpamitan ingin mencari ikan maka tidak mungkin sampai pagi ini belum juga ada kabar dari dia dan menurut para tetangga tidak ada juga dirinya datang ke pesta malam ini.

"Di sini mencari ikan nya?" Bu Ita menatap rawa yang sangat kecil dan tidak seberapa itu.

"Kemaren sore memang pasang perangkap ikan di sini jadi pasti tadi malam dia datang ke sini juga, Saya mau lihat bagian sana dulu karena tadi seperti melihat perangkat ikan." Bu Nur segera masuk ke dalam rawa itu dan mengambil di dekat pohon Nipah.

"Aih aku kalau sudah berhubungan dengan air begini kok jadi parno saja." Bu Ita merinding sendiri.

Bu Nur sama sekali tidak merinding dan dia tidak merasakan firasat aneh sehingga dia terus saja masuk ke dalam rawa itu untuk mengambil perangkap ikan, cara mendapatkan perangkap itu maka dia segera menyeret untuk keluar dari dalam rawa, mau mengangkat tidak sanggup karena sepertinya perangkap itu penuh dengan lumpur.

"Kalau perangkap ikan saja belum dia ambil maka berarti Pak Paimin tidak datang ke sini tadi malam ya." ujar Bu Ita.

"Lah saya juga berpikir begitu sekarang, ini perangkap ikan juga dalam keadaan penuh." Bu Nur melihat sendiri bahwa perangkap ikan itu penuh sekali.

Jadi sebenarnya ke mana pergi Pak Paimin tadi malam sehingga sang istri begitu kesulitan untuk mencari keberadaan dia, andai saja dia mengetahui bahwa Pak Paimin sudah meninggal dunia karena dimakan oleh penghuni rawa yang sadis itu.

Selamat pagi, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook ya.

Terpopuler

Comments

neni nuraeni

neni nuraeni

udah tanyain aja lngsung ma Nolan yg punya pestanya,,, mungkin dia bisa membantu,, aduh baru baca aj udah tegang gini,, jdi ikutan panik ini🤭🤭,, lnjuttt

2026-06-29

2

jeakawa loving❤️

jeakawa loving❤️

mereka semua jdi parno Ama air karna banyak nya setan yang berasal dari air😃
Kaka Novita kan kemarin Nolan udah nikah tapi sama siapa belum ada cerita nya 🤔

2026-06-29

1

Aditya hp/ bunda Lia

Aditya hp/ bunda Lia

Yang dimakan semuanya yah bukan cuma jeroannya ajah ... kalo gitu susah nyari jejaknya

2026-06-29

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 01. Siluman berduri
2 Bab 02. mencari sang suami
3 Bab 03. langsung mencari
4 Bab 04. Di kejar cegil
5 Bab 05. Main di rawa
6 Bab 06. Hilang lagi
7 Bab 07. Berusaha mencari
8 Bab 08. Terus mencari
9 Bab 09. Melda
10 Bab 10. Curiga Maharani
11 Bab 11. Firasat panglima ular
12 Bab 12. Perasaan sedih
13 Bab 13. Jejak energi ular
14 Bab 14. Korban lagi
15 Bab 15. Mencari Lena
16 Bab 16. Bakul yang tertinggal
17 Bab 17. Mencari lagi
18 Bab 18. Menemukan Lena
19 Bab 19. Tuduhan Ratu ular
20 Bab 20. Luka yang sama
21 Bab 21. Menguburkan Lena
22 Bab 22. Jebakan Kiara
23 Bab. 23 Sosok yang tidak di sangka
24 Bab 24. Bertemu Bagaskara
25 Bab 25. Sandiwara atau bukan
26 Bab 26. Mencari solusi
27 Bab 27. Sedikit perhatian
28 Bab 28. Bertiga
29 Bab 29. Mencari tau
30 Bab 30. tragedi
31 Bab 31. Semua beda
32 Bab 32. Masih menyerupai
33 Bab 33. Nana palsu
34 Bab 34. Bertemu
35 Bab 35. Pertengkaran
36 Bab 36. Tudung hitam
37 Bab 37. Menggelitik ginjal
38 Bab 38. Anak campuran
39 Bab 39. Nolan tersangka
40 Bab 40. Terluka
41 Bab 41. saling tuduh
42 Bab 42. kisah melda
43 Bab 43. Ingin kasih sayang
44 Bab 44. Tetap tidak mengaku
45 Bab 45. Datang lagi
46 Bab 46. Salah paham
47 Bab 47. Arini
48 Bab 48. Malah ribut
49 Bab 49. Ular sungai kematian
50 Bab 50. Batu kencana wungu
51 Bab 51. Salah Purnama
52 Bab 52. Kabur
53 Bab 53. Info dari Aksara
54 Bab 54. hampir jadi korban
55 Bab 55. Bertempur
56 Bab 56. Cinta Jalak
57 Bab 57. Kanigara vs Purnama
58 Bab 58. Kabut hitam
59 Bab 59. Membujuk Jalak
60 Bab 60. Kelabakan
61 Bab 61. Ketakutan bambang
62 Bab 62. Arwah datang
63 Bab 63. Nana datang
64 Bab 64. Hampir celaka
65 Bab 65. Bertempur sengit
66 Bab 66. Penyiksaan
67 Bab 67. Maharani beraksi
68 Bab 68. Siksaan mengerikan
69 Bab 69. Kemarahan Sukma
70 Bab 70. Membawa ke goa es
71 Bab 71. Derita Bambang
72 Bab 72. penderitaan
73 Bab 73. Rasa panik
74 Bab 74. Debat terus
75 Bab 75. Bertata muka
76 Bab 76. Penderitaan besar
77 Bab 77. Bertemu lawan
78 Bab 78. Akan mempertemukan
79 Bab 79. Kesasar
80 Bab 80. Sukma sedih
81 Bab 81. Firasat
82 Bab 82. Penderitaan besar
83 Bab 83. Masih terjebak
84 Bab 84. Bertemu
85 Bab 85. Berhasil keluar
86 Bab 86. Akan segera musnah
87 Bab 87. Pangeran ular
88 Bab 88. ribut
89 Bab 89. keluar
90 Bab 90. Purnama bangga
91 Bab 91. Dendam Arya
92 Bab 92. Sangat kejam
93 Bab 93. Masih ribut
94 Bab 94. Selesai
95 Bab 95. End
96 Bab 96. Sakit Arini
97 Bab 97. Habis
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Bab 01. Siluman berduri
2
Bab 02. mencari sang suami
3
Bab 03. langsung mencari
4
Bab 04. Di kejar cegil
5
Bab 05. Main di rawa
6
Bab 06. Hilang lagi
7
Bab 07. Berusaha mencari
8
Bab 08. Terus mencari
9
Bab 09. Melda
10
Bab 10. Curiga Maharani
11
Bab 11. Firasat panglima ular
12
Bab 12. Perasaan sedih
13
Bab 13. Jejak energi ular
14
Bab 14. Korban lagi
15
Bab 15. Mencari Lena
16
Bab 16. Bakul yang tertinggal
17
Bab 17. Mencari lagi
18
Bab 18. Menemukan Lena
19
Bab 19. Tuduhan Ratu ular
20
Bab 20. Luka yang sama
21
Bab 21. Menguburkan Lena
22
Bab 22. Jebakan Kiara
23
Bab. 23 Sosok yang tidak di sangka
24
Bab 24. Bertemu Bagaskara
25
Bab 25. Sandiwara atau bukan
26
Bab 26. Mencari solusi
27
Bab 27. Sedikit perhatian
28
Bab 28. Bertiga
29
Bab 29. Mencari tau
30
Bab 30. tragedi
31
Bab 31. Semua beda
32
Bab 32. Masih menyerupai
33
Bab 33. Nana palsu
34
Bab 34. Bertemu
35
Bab 35. Pertengkaran
36
Bab 36. Tudung hitam
37
Bab 37. Menggelitik ginjal
38
Bab 38. Anak campuran
39
Bab 39. Nolan tersangka
40
Bab 40. Terluka
41
Bab 41. saling tuduh
42
Bab 42. kisah melda
43
Bab 43. Ingin kasih sayang
44
Bab 44. Tetap tidak mengaku
45
Bab 45. Datang lagi
46
Bab 46. Salah paham
47
Bab 47. Arini
48
Bab 48. Malah ribut
49
Bab 49. Ular sungai kematian
50
Bab 50. Batu kencana wungu
51
Bab 51. Salah Purnama
52
Bab 52. Kabur
53
Bab 53. Info dari Aksara
54
Bab 54. hampir jadi korban
55
Bab 55. Bertempur
56
Bab 56. Cinta Jalak
57
Bab 57. Kanigara vs Purnama
58
Bab 58. Kabut hitam
59
Bab 59. Membujuk Jalak
60
Bab 60. Kelabakan
61
Bab 61. Ketakutan bambang
62
Bab 62. Arwah datang
63
Bab 63. Nana datang
64
Bab 64. Hampir celaka
65
Bab 65. Bertempur sengit
66
Bab 66. Penyiksaan
67
Bab 67. Maharani beraksi
68
Bab 68. Siksaan mengerikan
69
Bab 69. Kemarahan Sukma
70
Bab 70. Membawa ke goa es
71
Bab 71. Derita Bambang
72
Bab 72. penderitaan
73
Bab 73. Rasa panik
74
Bab 74. Debat terus
75
Bab 75. Bertata muka
76
Bab 76. Penderitaan besar
77
Bab 77. Bertemu lawan
78
Bab 78. Akan mempertemukan
79
Bab 79. Kesasar
80
Bab 80. Sukma sedih
81
Bab 81. Firasat
82
Bab 82. Penderitaan besar
83
Bab 83. Masih terjebak
84
Bab 84. Bertemu
85
Bab 85. Berhasil keluar
86
Bab 86. Akan segera musnah
87
Bab 87. Pangeran ular
88
Bab 88. ribut
89
Bab 89. keluar
90
Bab 90. Purnama bangga
91
Bab 91. Dendam Arya
92
Bab 92. Sangat kejam
93
Bab 93. Masih ribut
94
Bab 94. Selesai
95
Bab 95. End
96
Bab 96. Sakit Arini
97
Bab 97. Habis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!